Kasuari berjalan di lantai hutan, memakan buah, lalu membawa bijinya ke tempat lain. Burung besar yang tidak bisa terbang ini membantu tumbuhan menyebar dan hutan memperbarui dirinya. Namun, perannya sebagai penebar biji menghadapi ancaman perburuan. Pada Agustus 2026, pasangan warga Tiongkok dideportasi setelah petugas menemukan foto dan video perburuan satwa dilindungi di Papua, termasuk kasuari. Kegiatan itu juga disiarkan melalui platform Douyin. Perkara ditangani sebagai pelanggaran izin tinggal, sementara jumlah satwa yang ditangkap atau dibunuh tidak dirinci.
Di balik tubuh besar dan cakar tajamnya, kasuari memiliki hubungan erat dengan kehidupan tumbuhan. Penelitian Anderson dan kolega dalam jurnal Ecology and Evolution menjelaskan bahwa burung pemakan buah ini berperan penting dalam menyebarkan biji berukuran besar. “Penyebaran tumbuhan berbiji besar oleh kasuari adalah interaksi spesies kunci yang menopang regenerasi hutan,” tulis mereka.
Kasuari dapat membawa biji hingga sekitar 1,5 kilometer dari pohon induk, membantu menghubungkan tumbuhan di antara petak-petak hutan. Saluran pencernaannya memungkinkan biji tetap utuh dan siap berkecambah. Meski dilakukan di Australia, penelitian tersebut memberikan prinsip ekologis yang dapat menjadi acuan studi di Papua.
Hubungan manusia dengan kasuari memiliki sejarah panjang. Penelitian Kristina Douglass dan kolega pada situs Yuku dan Kiowa, Papua Nugini, menunjukkan pemanfaatannya sejak lebih dari 18.000 tahun lalu. Analisis cangkang telur menemukan pola pengambilan pada tahap perkembangan embrio akhir, mendekati penetasan. Temuan itu mendukung dugaan bahwa manusia mengumpulkan telur untuk ditetaskan dan membesarkan anak kasuari.
Kini, pemanfaatan satwa tersebut menghadapi tekanan tambahan berupa kerusakan serta fragmentasi habitat, perburuan tidak terkendali, dan predator introduksi seperti babi atau anjing. Pengeraman panjang oleh jantan dan produktivitas tahunan rendah membuat populasinya rentan terhadap gangguan.
Perburuan tradisional juga memiliki pembatasan yang penting dipahami. Penelitian Freddy Pattiselanno dan kolega terhadap enam kelompok etnis di Papua dan Papua Barat mengidentifikasi aturan mengenai target, alat, kepemilikan wilayah, dan waktu berburu. Larangan memasuki hutan keramat, pembatasan jenis satwa, penggunaan alat tradisional, serta pengaturan musim membantu membatasi tekanan perburuan.
“Sanksi sosial dan budaya yang diwariskan turun-temurun terbukti sangat kuat menjaga kelestarian lingkungan,” ungkap para peneliti. Kasuari dimanfaatkan untuk pangan keluarga maupun keperluan upacara adat.
Namun, pergeseran menuju perburuan komersial dan penggunaan teknologi modern dapat melemahkan pembatasan tersebut. Para peneliti menyarankan penggabungan tata kelola kampung dan praktik adat dengan hukum daerah serta nasional, sambil menghormati pengetahuan ekologi lokal. Perlindungan kasuari berkaitan langsung dengan keberlanjutan hutan: berkurangnya burung ini dapat mengganggu penyebaran biji dan pemulihan tumbuhan. Menjaga habitat serta membatasi tekanan perburuan berarti mempertahankan hubungan antara satwa, tumbuhan, dan masyarakat yang hidup bergantung pada hutan Papua.
Foto utama: Kasuari, spesies endemik Papua yang hidup di lantai hutan dan menjadi penyebar buah yang penting bagi regenerasi hutan. Foto: Faizal Abdul Aziz/Rekam Nusantara Foundation.