Manusia sudah pernah mendaki puncak tertinggi di Bumi, menyelami palung terdalam di samudra, dan mengirim wahana ke tepi tata surya. Tapi satu eksplorasi yang paling mendasar justru selalu gagal: menggali ke dalam planet yang kita pijak sendiri. Lapisan mantel Bumi, yang mencakup 84 persen volume planet dan menjadi mesin penggerak lempeng tektonik, gempa bumi, dan gunung berapi, sampai kini hampir tidak pernah bisa disentuh secara langsung.
Pada Mei 2023, sebuah tim ilmuwan dari International Ocean Discovery Program (IODP) mengubah itu.
Menggunakan kapal riset JOIDES Resolution, mereka mengebor dari atas laut di kawasan Punggungan Tengah Atlantik dan berhasil mengangkat inti batuan berbentuk silinder sepanjang 1.268 meter dari mantel atas Bumi. Sampel ini, yang penelitian awalnya diterbitkan di jurnal Science, adalah yang terdalam dan paling utuh yang pernah diperoleh manusia dari lapisan mantel.
Lokasi pengeboran dipilih dengan cermat. Di Punggungan Tengah Atlantik, aktivitas tektonik telah menyingkap batuan mantel yang biasanya tersembunyi di bawah kerak setebal hingga 70 kilometer. Di dekat gunung bawah laut Atlantis Massif, terdapat kawasan hidrotermal yang dijuluki “Kota yang Hilang” atau Lost City, di mana cairan basa kaya hidrogen dan metana keluar dari dasar laut. Ini adalah salah satu lokasi yang diduga menjadi tempat kehidupan pertama di Bumi bermula, dan juga tempat batuan mantel bertemu langsung dengan air laut melalui proses yang disebut serpentinisasi.
Hasil analisis awal mengejutkan para peneliti sendiri. Profesor Johan Lissenberg dari Universitas Cardiff menyatakan, “Hasil kami berbeda dari yang kami perkirakan. Kadar mineral piroksen di dalam batuan ini jauh lebih sedikit, dan konsentrasi magnesiumnya sangat tinggi, yang keduanya menunjukkan tingkat pelelehan yang jauh lebih tinggi dari prediksi kami.” Tim juga menemukan saluran-saluran kuno tempat magma pernah mengalir menuju permukaan, memberi gambaran baru tentang bagaimana aktivitas vulkanik di permukaan Bumi dipicu oleh proses jauh di dalam mantel.
Yang paling menarik dari ekspedisi ini adalah kaitannya dengan pertanyaan paling tua dalam sains: dari mana kehidupan berasal? Interaksi antara olivin, mineral utama dalam batuan mantel, dengan air laut memicu reaksi kimia yang menghasilkan hidrogen, sumber energi vital bagi kehidupan. Dr. Susan Q Lang, salah satu kepala ilmuwan ekspedisi, menjelaskan bahwa batuan yang mereka ambil menyerupai batuan yang ada di awal sejarah Bumi. “Menganalisisnya memberi kami gambaran penting tentang lingkungan kimia dan fisika di masa lalu, yang bisa menjadi tempat bernaung bagi bentuk kehidupan paling awal,” ujarnya.
Perlu dicatat, ini bukan lubang terdalam yang pernah dibuat manusia. Rekor itu masih dipegang Kola Superdeep Borehole di Rusia yang mencapai 12.263 meter pada 1980-an, tapi karena tebalnya kerak di lokasi tersebut, pengeboran itu tidak pernah menyentuh mantel. Yang membuat pencapaian IODP istimewa bukan kedalamannya, melainkan apa yang berhasil diangkat ke permukaan.
Sayangnya, masa depan ekspedisi serupa kini tidak pasti. JOIDES Resolution, kapal riset yang menjadi tulang punggung misi ini, akan dipensiunkan akibat pemotongan dana. Saat sains baru saja membuka pintu menuju salah satu misteri terbesar planet kita, pintu itu terancam ditutup kembali oleh anggaran.