<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=mufti-f-barri&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/mufti-f-barri/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Sun, 26 Apr 2026 09:15:26 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
				<item>
					<title>Nelayan Bintan Protes Ekspansi Kawasan Ekonomi Khusus</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/26/nelayan-bintan-protes-ekspansi-kawasan-ekonomi-khusus/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/26/nelayan-bintan-protes-ekspansi-kawasan-ekonomi-khusus/#respond</comments>
					<pubDate>26 Apr 2026 02:23:14 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yogi Eka Sahputra]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[perikanan kelautan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/25111048/Foto-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126886</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Bintan dan Kepulauan Riau]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, pencemaran, Perikanan Kelautan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Puluhan nelayan dari berbagai desa di pesisir Bintan, Kepulauan Riau (Kepri) mendatangi kawasan PT Bintan Alumina Industri (BAI), Selasa (21/4/26). Kedatangan mereka untuk menolak rencana perluasan proyek Kawasan Ekonomi Khusus Galang Batang (KEK-GB). Dari atas perahu, nelayan bentangkan spanduk bertuliskan protes.  “Tolak PSN GB-KEK! Selamatkan Laut dan Darat Bintan untuk Nelayan dan Masyarakat.&#8221;  &#8220;Tolak PSN [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/26/nelayan-bintan-protes-ekspansi-kawasan-ekonomi-khusus/">Nelayan Bintan Protes Ekspansi Kawasan Ekonomi Khusus</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Puluhan nelayan dari berbagai desa di pesisir Bintan, Kepulauan Riau (Kepri) mendatangi kawasan PT Bintan Alumina Industri (BAI), Selasa (21/4/26). Kedatangan mereka untuk menolak rencana perluasan proyek Kawasan Ekonomi Khusus Galang Batang (KEK-GB). Dari atas perahu, nelayan bentangkan spanduk bertuliskan protes.  “Tolak PSN GB-KEK! Selamatkan Laut dan Darat Bintan untuk Nelayan dan Masyarakat.&#8221;  &#8220;Tolak PSN GB-KEK! Selamatkan Ruang Hidup Rakyat.” Para nelayan khawatir  dampak buruk PLTU BAI dan menyebut sebagai ancaman bagi masa depan. “Kami berharap aspirasi ini dapat sampai kepada Presiden Prabowo,”  kata Musthofa Bisri, warga Desa Kalong, usai aksi. Dia bilang, kehadiran kawasan industri di Bintan berdampak luas pada lingkungan dan nelayan pesisir, apalagi terus  memperluas cakupan hingga ke Pulau Poto. Sebagai pulau kecil, kata Bisri, Pototak layak menanggung beban sebagai kawasan industri. Selama ini, warga tak mendapat informasi apapun terkait rencana pembangunan kawasan industri di pulau itu. “Kami sering disebut sudah terlibat dalam proses perancangan Amdal, tetapi nyatanya tidak ada. Kami tidak tahu persis informasi terkait pembangunan Pulau Poto,” katanya. Pemandangan di kampung nelayan Pulau Poto, Kepulauan Riau. Foto: Yogi Eka Sahputra/Mongabay Indonesia. &nbsp; Bisri mengaku,  telah berulang kali sampaikan protes. Namun, sampai kini tak mendapat tanggapan berarti. Santoni, Direktur Utama BAI yang pengelola PSN KEK-GB menyebut aksi warga sebagai hal biasa. Dia menduga,  itu terjadi karena mereka belum mendapat informasi  utuh terkait proyek itu. “Jika mereka sudah memahami kajian yang kami miliki, tentu akan berbeda. Kami tidak mungkin merusak mata pencaharian nelayan, karena itu juga menjadi perhatian kami,” katanya saat Mongabay konfirmasi, Rabu (22/4/26). Aksi serupa&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/26/nelayan-bintan-protes-ekspansi-kawasan-ekonomi-khusus/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/26/nelayan-bintan-protes-ekspansi-kawasan-ekonomi-khusus/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kerak Ungu, Spesies Invasif yang Kian Akrab di Jakarta</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/25/kerak-ungu-spesies-invasif-yang-kian-akrab-di-jakarta/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/25/kerak-ungu-spesies-invasif-yang-kian-akrab-di-jakarta/#respond</comments>
					<pubDate>25 Apr 2026 14:01:18 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/25134931/Kerak-ungu-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126902</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tidak banyak yang menyadari kapan pertama kali kerak ungu muncul di Jakarta. Burung itu sudah ada di taman kota, di jalur pedestrian, bahkan di jantung ibu kota. Hadir tanpa gaduh, tapi perlahan jadi biasa. Di kawasan Gelora Bung Karno (GBK) hingga Monumen Nasional, kehadirannya kini nyaris tak lagi mengejutkan. Acridotheres tristis hinggap di dahan yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/25/kerak-ungu-spesies-invasif-yang-kian-akrab-di-jakarta/">Kerak Ungu, Spesies Invasif yang Kian Akrab di Jakarta</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tidak banyak yang menyadari kapan pertama kali kerak ungu muncul di Jakarta. Burung itu sudah ada di taman kota, di jalur pedestrian, bahkan di jantung ibu kota. Hadir tanpa gaduh, tapi perlahan jadi biasa. Di kawasan Gelora Bung Karno (GBK) hingga Monumen Nasional, kehadirannya kini nyaris tak lagi mengejutkan. Acridotheres tristis hinggap di dahan yang sama dengan kerak kerbau, burung lokal yang lebih dulu akrab dengan lanskap kota. Sekilas tak ada yang berbeda. Keduanya nampak berbagi ruang, mencari makan, lalu terbang kembali ke arah yang tak selalu bisa diikuti mata. Bagi Melisa Qonita (26), citizen science pemandangan itu sudah jadi bagian dari rutinitas sejak 2023. Dia kerap menjumpai kerak ungu di pusat kota Jakarta. “Hampir selalu ada. Bahkan dalam satu pohon bisa bareng kerak kerbau,” ujarnya, Senin (20/4/2026). Tetapi, yang nampak biasa ini menyimpan cerita lain. Kerak ungu bukan spesies asli Indonesia. Kehadirannya diduga akibat introduksi manusia dan ia mampu beradaptasi di lingkungan perkotaan. Walau terlihat koeksis, ada potensi persaingan yang tak kasat mata. Misalnya, kompetisi makanan juga ruang hidup. Spesies invasif, jelasnya, cenderung lebih adaptif dan efisien dalam memanfaatkan sumber daya. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran. “Bila dibiarkan, bukan tak mungkin burung lokal akan kehilangan ruangnya sendiri.” Kerak ungu merupakan jenis burung invasif. Foto: Hammas Zia Urrohman Anshari Pola yang konsisten Hammas Zia Urrohman Anshari (26), citizen science lain, menuturkan di Ragunan polanya cukup konsisten. Kerak ungu punya pohon tertentu yang digunakan sebagai tempat bersarang. Dalam satu kali pengamatan, jumlah yang terlihat sekitar 2-3 individu. Namun, menariknya burung asli dari&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/25/kerak-ungu-spesies-invasif-yang-kian-akrab-di-jakarta/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/25/kerak-ungu-spesies-invasif-yang-kian-akrab-di-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nasib Hutan Sagu Ketika Industri Nikel Masuk Pulau Obi [1]</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/25/nasib-hutan-sagu-ketika-industri-nikel-masuk-pulau-obi-1/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/25/nasib-hutan-sagu-ketika-industri-nikel-masuk-pulau-obi-1/#respond</comments>
					<pubDate>25 Apr 2026 11:46:52 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rabul Sawal]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/25110256/1-Dusun-Sagu-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126871</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Demam Nikel]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[halmahera dan maluku utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Junaid Nomor,  hanya bisa menatap hampa menyaksikan hamparan hutan sagu menghitam di sisi kiri jalan ketika perjalanan dari kampung menuju Sungai Akelamo. Hutan sagu itu tergenang sedimentasi lumpur, limbah pengerukan di bukit meluber sampai ke rawa tempat sagu tumbuh. “Sagu-sagu itu so mati samua,” katanya sambil menunjuk ke arah hutan sagu, saat kami pergi ke [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/25/nasib-hutan-sagu-ketika-industri-nikel-masuk-pulau-obi-1/">Nasib Hutan Sagu Ketika Industri Nikel Masuk Pulau Obi [1]</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Junaid Nomor,  hanya bisa menatap hampa menyaksikan hamparan hutan sagu menghitam di sisi kiri jalan ketika perjalanan dari kampung menuju Sungai Akelamo. Hutan sagu itu tergenang sedimentasi lumpur, limbah pengerukan di bukit meluber sampai ke rawa tempat sagu tumbuh. “Sagu-sagu itu so mati samua,” katanya sambil menunjuk ke arah hutan sagu, saat kami pergi ke kebun bersama beberapa warga tahun lalu. “Sagu lain dong gusur, dong timbun bikin perumahan, deng yang sisa ini dong kase mati [perusahaan telah menggusur sagu, menimbun buat perumahan, dan yang tersisa juga dimusnahkan].” Junaid adalah warga Desa Kawasi, Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara. Dulu, dia dan warga biasa olah sagu untuk kebutuhan pangan sehari-hari secara kolektif. Sebagian besar tanaman itu tumbuh liar karena kondisi tanah yang subur. Sekarang, kawasan sagu berubah jadi tandus. Tak ada lagi warga Desa Kawasi yang mengolah sagu untuk kebutuhan pangan sehari-hari. Area pangan terbesar itu sudah pemerintah alokasikan untuk konsesi pertambangan dan perluasan proyek pembangunan kawasan industri nikel Harita Nickel, di bawah naungan group Harita. “Sekarang so tarada orang yang bikin sagu. Samua orang so makan nasi toh,” kata Junaid. “Nanti kalu mo makan sagu baru beli dari kampung tetangga atau pedagang yang jual di warung..Samua so masuk area perusahaan.” Kawasan Industri Harita Nickel sangat dekat dengan pemukiman warga. Jarak kurang dari 100 meter, tepat di halaman belakang rumah-rumah warga. Deretan fasilitas industri terlihat sangat jelas dari rumah Junaid, mencakup kawasan penambangan, infrastruktur pabrik, hingga pembangkit listrik. Perusahaan ini sedang menjalankan proyek hilirisasi nikel, dari penambangan hingga pengolahan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/25/nasib-hutan-sagu-ketika-industri-nikel-masuk-pulau-obi-1/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/25/nasib-hutan-sagu-ketika-industri-nikel-masuk-pulau-obi-1/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Satwa Mati Lagi di Kebun Binatang R Zoo</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/25/ketika-satwa-mati-lagi-di-kebun-binatang-r-zoo/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/25/ketika-satwa-mati-lagi-di-kebun-binatang-r-zoo/#respond</comments>
					<pubDate>25 Apr 2026 04:00:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ayat S Karokaro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Kucin]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/20184839/Harimau-Benggala-dari-Semarang-Zoo-dipindahkan-ke-R-Zoo-di-Serdang-Bedagai-Sumut-namun-hanya-bertahan-beberapa-hari-diapun-mati-Ayat-S-Karokaro-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126643</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, dunia kucing, ekonomi dan bisnis, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kabar duka kembali datang dari Kebun Binatang R Zoo, di Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara (Sumut). Setelah kematian gajah sumatera Ratna, satu harimau benggala betina, usia delapan tahun, bernama Anggun, tergeletak mati dalam kandangnya, akhir Maret. Pakar satwa mendesak evaluasi kebun binatang ini. Anggun merupakan penghuni baru kebun binatang itu, bersama satu harimau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/25/ketika-satwa-mati-lagi-di-kebun-binatang-r-zoo/">Ketika Satwa Mati Lagi di Kebun Binatang R Zoo</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kabar duka kembali datang dari Kebun Binatang R Zoo, di Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara (Sumut). Setelah kematian gajah sumatera Ratna, satu harimau benggala betina, usia delapan tahun, bernama Anggun, tergeletak mati dalam kandangnya, akhir Maret. Pakar satwa mendesak evaluasi kebun binatang ini. Anggun merupakan penghuni baru kebun binatang itu, bersama satu harimau benggala lain bernama Ganza. Predator puncak itu berasal dari Semarang Zoo yang datang ke sana 17 Maret. Rahmat Shah, pemilik R Zoo ketika Mongabay konfirmasi, membenarkan peristiwa itu. Dia tidak mau berkomentar banyak karena,  kondisi kesehatan hewan sudah menurun, dan dalam keadaan sakit. Tim medis, katanya, sudah mengupayakan pertolongan pertama dan berbuat maksimal agar kondisi kesehatan Anggun tidak terus drop. &#8220;Maaf, memang nyampai sudah sakit dan ada lukanya. Semua sudah berusaha untuk penyembuhannya, tetapi tidak tertolong,&#8221; katanya. Informasi yang Mongabay peroleh dari manajemen R Zoo, Anggun mengalami gangguan nafsu makan selama perjalanan. Ia  teramati hanya makan kurang lebih setengah kilogram daging pada 18 Maret. Keduanya tiba di R Zoo pada 21 Maret sekitar pukul 03.00 WIB. Saat kedatangan, harimau benggala ini sudah tidak mau makan. Sehari pasca kedatangan, Anggun masih belum menunjukkan respons makan dan tetap tidak mau mengonsumsi apapun. Selanjutnya, 23 Maret, ada pembengkakan pada bahu kanan Anggun. Setelah observasi tim dokter hewan, pembengkakan itu dugaannya berupa abses, lalu ia mendapat penanganan intensif. Penanganan berupa pemberian antiradang, antibiotik, suportif, dan fluid therapy sesuai kebutuhan Anggun. Berbagai cara untuk membantunya agar mau makan juga tim lakukan, mulai dari variasi pakan dan berbagai metode pemberian pakan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/25/ketika-satwa-mati-lagi-di-kebun-binatang-r-zoo/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/25/ketika-satwa-mati-lagi-di-kebun-binatang-r-zoo/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mustahil tapi Nyata: Kupu-kupu Ini Terbang 4.200 Km melintasi Samudera Atlantik Tanpa Berhenti</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/25/mustahil-tapi-nyata-kupu-kupu-ini-terbang-4-200-km-melintasi-samudera-atlantik-tanpa-berhenti/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/25/mustahil-tapi-nyata-kupu-kupu-ini-terbang-4-200-km-melintasi-samudera-atlantik-tanpa-berhenti/#respond</comments>
					<pubDate>25 Apr 2026 01:45:43 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/25013059/1-ss071e449837large.width-1320-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126862</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Gerard Talavera tidak mempercayai matanya saat menyisir pantai di Guyana Prancis pada Oktober 2013. Talavera adalah seorang ahli biologi evolusioner dari Institut Botani Barcelona dan penjelajah National Geographic yang terbiasa melihat fenomena alam yang unik. Namun, menemukan beberapa individu kupu-kupu Painted Lady (Vanessa cardui) di atas pasir pantai di Amerika Selatan adalah sebuah anomali besar. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/25/mustahil-tapi-nyata-kupu-kupu-ini-terbang-4-200-km-melintasi-samudera-atlantik-tanpa-berhenti/">Mustahil tapi Nyata: Kupu-kupu Ini Terbang 4.200 Km melintasi Samudera Atlantik Tanpa Berhenti</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Gerard Talavera tidak mempercayai matanya saat menyisir pantai di Guyana Prancis pada Oktober 2013. Talavera adalah seorang ahli biologi evolusioner dari Institut Botani Barcelona dan penjelajah National Geographic yang terbiasa melihat fenomena alam yang unik. Namun, menemukan beberapa individu kupu-kupu Painted Lady (Vanessa cardui) di atas pasir pantai di Amerika Selatan adalah sebuah anomali besar. Sayap mereka robek dan tubuh mereka menunjukkan tanda kelelahan yang ekstrem. Spesies ini seharusnya tidak berada di sana karena habitat aslinya terletak ribuan mil jauhnya di Eropa dan Afrika. Perjalanan transatlantik epik kupu-kupu Painted Lady menunjukkan ketahanan luar biasa mereka dan kekuatan penemuan ilmiah dalam mengungkap misteri alam. | foto oleh nottsexminer CC BY-SA 2.0 Penemuan tersebut memicu rasa penasaran Talavera untuk mengungkap bagaimana serangga kecil ini bisa sampai ke benua yang salah. Ia kemudian memimpin tim peneliti internasional untuk melacak asal-usul mereka. Mengingat kupu-kupu tidak mungkin dipasangi pelacak GPS karena berat tubuhnya yang ringan, Talavera menggunakan pendekatan detektif molekuler. Tim peneliti mulai menganalisis DNA serta butiran serbuk sari yang masih menempel pada kaki dan tubuh kupu-kupu tersebut untuk mencari petunjuk lokasi perjalanan mereka. Jejak Forensik dari Afrika Analisis genetik yang dilakukan tim peneliti berhasil mematahkan dugaan awal para ilmuwan. Kupu-kupu ini terbukti bukan berasal dari populasi Amerika Utara meskipun wilayah tersebut secara geografis jauh lebih dekat dengan Guyana Prancis. Data DNA menunjukkan keterikatan garis keturunan yang sangat kuat dengan populasi di Eropa dan Afrika. Bukti paling tak terbantahkan ditemukan melalui analisis mikroskopis pada serbuk sari yang menempel di sela-sela bulu halus tubuh mereka. Talavera&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/25/mustahil-tapi-nyata-kupu-kupu-ini-terbang-4-200-km-melintasi-samudera-atlantik-tanpa-berhenti/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/25/mustahil-tapi-nyata-kupu-kupu-ini-terbang-4-200-km-melintasi-samudera-atlantik-tanpa-berhenti/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Puluhan Perusahaan Kena Sanksi Kasus Banjir Sumatera, Bagaimana Pemulihan?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/24/ketika-puluhan-perusahaan-kena-sanksi-kasus-banjir-sumatera-bagaimana-pemulihan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/24/ketika-puluhan-perusahaan-kena-sanksi-kasus-banjir-sumatera-bagaimana-pemulihan/#respond</comments>
					<pubDate>24 Apr 2026 17:02:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/03/21232926/Banjir-bandang-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126856</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Belajar dari Bencana Sumatera]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengidentifikasi 175 perusahaan yang memperburuk bencana banjir dan longsor di tiga provinsi di Sumatera. Ratusan perusahaan di sektor pertambangan, perkebunan sawit dan perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH) di hutan produksi itu berkontribusi atas deforestasi lebih 1,8 juta hektar. Puluhan perusahaan ini  KLH beri sanksi. Bagaimana pemulihan? Rinciannya, 75 perusahaan di Aceh [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/24/ketika-puluhan-perusahaan-kena-sanksi-kasus-banjir-sumatera-bagaimana-pemulihan/">Ketika Puluhan Perusahaan Kena Sanksi Kasus Banjir Sumatera, Bagaimana Pemulihan?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengidentifikasi 175 perusahaan yang memperburuk bencana banjir dan longsor di tiga provinsi di Sumatera. Ratusan perusahaan di sektor pertambangan, perkebunan sawit dan perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH) di hutan produksi itu berkontribusi atas deforestasi lebih 1,8 juta hektar. Puluhan perusahaan ini  KLH beri sanksi. Bagaimana pemulihan? Rinciannya, 75 perusahaan di Aceh luas bukaan lahan 423.019, 42 perusahaan di Sumatera Utara bukaan 799.119 hektar. Kemudian, 58 perusahaan di Sumatera Barat dengan luas bukaan lahan 583.477  hektar. Berdasarkan hasil rekapitulasi tindak lanjut pengawasan, menjatuhkan sanksi administratif berupa paksaan pemerintah untuk audit lingkungan terhadap 22 perusahaan. Sedangkan 45 perusahaan dalam proses penerbitan surat keterangan sanksi administratif. &#8220;Prosesnya mulai dari penerbitan sanksi administrasi hingga proses pidana,” kata Hanif Faisol Nurofiq, Menteri Lingkungan Hidup saat rapat kerja dengan Komisi XII DPR, 6 April lalu. KLH juga melakukan gugatan perdata dengan lebih Rp4,9 triliun terhadap enam perusahaan dan enam perusahaan sanksi pidana. Hasil rekapitulasi tindak lanjut pengawasan lain, satu perusahaan sanksi ketaatan, tiga dalam proses pelimpahan kehutanaan, satu pelimpahan ke pemerintah daerah dan dua perusahaan tidak beroperasi. KLH juga menemukan gap atau celah serius antara kajian lingkungan hidup strategis (KLHS) dengan rencana tata ruang wilayah (RTRW) yang selama ini pemerintah daerah tetapkan. Ketidaksinkronan inilah yang dia duga menjadi motor utama perparahan dampak bencana. “Kita telah menerbitkan keputusan menteri mengevaluasi gap antara rencana tata ruang wilayah di tiga provinsi , Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat,  terhadap KLHS.” Salah satu titik terdampak banjir dan longsor di Sumatera Utara, pada penghujung Desember lalu. Foto:&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/24/ketika-puluhan-perusahaan-kena-sanksi-kasus-banjir-sumatera-bagaimana-pemulihan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/24/ketika-puluhan-perusahaan-kena-sanksi-kasus-banjir-sumatera-bagaimana-pemulihan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menyoal Masalah Sampah dari Rorotan sampai Bantargebang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/24/menyoal-masalah-sampah-dari-rorotan-sampai-bantargebang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/24/menyoal-masalah-sampah-dari-rorotan-sampai-bantargebang/#respond</comments>
					<pubDate>24 Apr 2026 15:21:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christ J Belseran]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/24141017/Bantargebang-Azam-11-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126816</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Persoalan sampah di Indonesia kembali mengemuka setelah munculnya dampak kesehatan di Rorotan, Jakarta Utara, sampai  longsor di TPST Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat. Kondisi ini memperlihatkan persoalan besar sistem pengelolaan sampah yang bertumpu pada pola kumpul–angkut–buang, tanpa diimbangi pengurangan dari sumber. Di Rorotan, warga mulai merasakan dampak sejak beroperasinya fasilitas pengolahan sampah refuse derived fuel (RDF). [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/24/menyoal-masalah-sampah-dari-rorotan-sampai-bantargebang/">Menyoal Masalah Sampah dari Rorotan sampai Bantargebang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Persoalan sampah di Indonesia kembali mengemuka setelah munculnya dampak kesehatan di Rorotan, Jakarta Utara, sampai  longsor di TPST Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat. Kondisi ini memperlihatkan persoalan besar sistem pengelolaan sampah yang bertumpu pada pola kumpul–angkut–buang, tanpa diimbangi pengurangan dari sumber. Di Rorotan, warga mulai merasakan dampak sejak beroperasinya fasilitas pengolahan sampah refuse derived fuel (RDF). Bau menyengat menjadi keluhan awal, sebelum kemudian berkembang menjadi gangguan kesehatan. “Warga mulai mengalami ISPA dan iritasi mata,” kata Annisa Putri, jurnalis deduktif, saat menjelaskan hasil investigasi dalam diskusi bertajuk Transformasi Pengelolaan Sampah Daerah Menuju Sistem Zero Waste pada Pesta Media AJI Jakarta 2026  di Taman Ismail Marzuki, pekan lalu. Dari  temuannya, sedikitnya 30 warga alami gangguan kesehatan. Sangat mungkin angka itu belum merepresentasikan situasi di lapangan, tetapi,  cukup  menunjukkan  ada sesuatu yang tidak berjalan semestinya. Apalagi, akses terhadap data resmi juga sangat terbatas. Para narasumber yang hadir dalam diskusi bertajuk Transformasi Pengelolaan Sampah Daerah Menuju Sistem Zero Waste pada Pesta Media AJI Jakarta 2026. Foto: Christ Belseran/Mongabay Indonesia. Respons pemerintah Pemerintah mengakui besarnya persoalan sampah. Yogi Ikhwan, Kepala Seksi Humas Dinas Lingkungan Hidup Jakarta, menyebut,  produksi sampah Jakarta mencapai sekitar 7.500 ton per hari. Pada waktu tertentu bahkan bisa 8.000 ton. Dia telah melakukan sejumlah langkah untuk mengatasi persoalan sampah di Jakarta. Saat ini, mereka  berfokus pada pengurangan sampah langsung dari sumbernya karena TPA  yang saat ini sudah kritis. “Bantargebang sudah overload. Bahkan bisa dibilang sudah ‘sekarat’,” katanya. “Pada 1 Agustus 2026 , TPST Bantargebang sudah tidak boleh lagi menerima sampah selain residu. Regulasi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/24/menyoal-masalah-sampah-dari-rorotan-sampai-bantargebang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/24/menyoal-masalah-sampah-dari-rorotan-sampai-bantargebang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Inilah Sidewinder, Ular Tercepat di Dunia yang Bisa Melesat hingga 29 km per Jam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/24/inilah-sidewinder-ular-tercepat-di-dunia-yang-bisa-melesat-hingga-29-km-per-jam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/24/inilah-sidewinder-ular-tercepat-di-dunia-yang-bisa-melesat-hingga-29-km-per-jam/#respond</comments>
					<pubDate>24 Apr 2026 07:25:02 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/24071806/vipre-cornes-chott-djeridjpg-768x512.webp" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126844</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dunia reptil terus mengejutkan para peneliti dengan kemampuan adaptasi yang melampaui imajinasi manusia. Di hamparan pasir gersang Amerika Serikat bagian barat daya dan Meksiko utara, hidup seekor predator yang telah menyempurnakan seni bergerak di atas permukaan tidak stabil. Crotalus cerastes, atau yang lebih dikenal sebagai Sidewinder, bukan sekadar ular derik biasa. Ia adalah pemegang rekor [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/24/inilah-sidewinder-ular-tercepat-di-dunia-yang-bisa-melesat-hingga-29-km-per-jam/">Inilah Sidewinder, Ular Tercepat di Dunia yang Bisa Melesat hingga 29 km per Jam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dunia reptil terus mengejutkan para peneliti dengan kemampuan adaptasi yang melampaui imajinasi manusia. Di hamparan pasir gersang Amerika Serikat bagian barat daya dan Meksiko utara, hidup seekor predator yang telah menyempurnakan seni bergerak di atas permukaan tidak stabil. Crotalus cerastes, atau yang lebih dikenal sebagai Sidewinder, bukan sekadar ular derik biasa. Ia adalah pemegang rekor kecepatan darat yang mampu menembus angka 29 kilometer per jam. Angka ini jauh melampaui rata-rata kecepatan ular lain yang biasanya hanya berkisar di angka 3 hingga 8 kilometer per jam. Kecepatan luar biasa Sidewinder tidak dihasilkan dari gerakan melata konvensional. Penggunaan teknologi Atomic Force Microscopy (AFM) telah membuka tabir rahasia yang selama ini tersembunyi di balik sisik perut ular ini. Jika kita melihat ular pada umumnya, sisik perut mereka dilengkapi dengan struktur mikroskopis serupa duri yang menghadap ke belakang. Struktur ini berfungsi seperti traksi pada sepatu lari untuk memberikan daya cengkeram saat ular mendorong tubuhnya ke depan. Namun, bagi Sidewinder yang hidup di pasir yang bersifat granular dan mudah bergeser, cengkeraman berlebih justru akan menghambat kecepatan. Teknik gerak sidewinding yang digunakan oleh Ular Derik Sidewinder (Crotalus cerastes) memungkinkan ular ini bergerak dengan efisien di atas pasir longgar | Gambar : Victorrocha~commonswiki. Hasil pemindaian AFM menunjukkan bahwa Sidewinder secara evolusioner telah mereduksi duri-duri tersebut menjadi pola lubang-lubang mikroskopis yang seragam atau isotropic. Penemuan ini mematahkan anggapan lama bahwa semua ular membutuhkan gesekan besar untuk bergerak cepat. Sebaliknya, bagi Sidewinder, kondisi licin adalah kunci utama. Dengan meminimalkan hambatan kinetik ke segala arah, mereka mampu meluncur di atas&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/24/inilah-sidewinder-ular-tercepat-di-dunia-yang-bisa-melesat-hingga-29-km-per-jam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/24/inilah-sidewinder-ular-tercepat-di-dunia-yang-bisa-melesat-hingga-29-km-per-jam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: Di Balik Penangkapan Ikan Sapu-sapu: Antara Intervensi dan Pemulihan Sungai</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/24/opini-di-balik-penangkapan-ikan-sapu-sapu-antara-intervensi-dan-pemulihan-sungai/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/24/opini-di-balik-penangkapan-ikan-sapu-sapu-antara-intervensi-dan-pemulihan-sungai/#respond</comments>
					<pubDate>24 Apr 2026 05:00:27 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ulfa Sevia Azni*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[admin]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Opini]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/24032238/Pterygoplichthys_sp-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126839</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, jawa, pencemaran, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Beberapa waktu terakhir, pemberitaan di televisi maupun media sosial seperti TikTok dan Instagram ramai menyoroti kondisi sungai-sungai di Jakarta. Dalam operasi serentak di lima wilayah Provinsi DKI Jakarta, jumlah tangkapan ikan sapu-sapu dilaporkan mencapai 68.880 ekor dengan total berat sekitar 6.979,5 kilogram, atau hampir 7 ton (Dinas KPKP Provinsi DKI Jakarta, 2026). Penangkapan ini dipahami [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/24/opini-di-balik-penangkapan-ikan-sapu-sapu-antara-intervensi-dan-pemulihan-sungai/">Opini: Di Balik Penangkapan Ikan Sapu-sapu: Antara Intervensi dan Pemulihan Sungai</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Beberapa waktu terakhir, pemberitaan di televisi maupun media sosial seperti TikTok dan Instagram ramai menyoroti kondisi sungai-sungai di Jakarta. Dalam operasi serentak di lima wilayah Provinsi DKI Jakarta, jumlah tangkapan ikan sapu-sapu dilaporkan mencapai 68.880 ekor dengan total berat sekitar 6.979,5 kilogram, atau hampir 7 ton (Dinas KPKP Provinsi DKI Jakarta, 2026). Penangkapan ini dipahami sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem perairan, sekaligus mengendalikan populasi ikan invasif yang dinilai berpotensi merusak habitat alami sungai. Angka-angka tersebut cepat beredar dan mudah dibaca sebagai capaian. Ada sesuatu yang bisa dihitung, dilaporkan, dan dijadikan indikator bahwa intervensi sedang berlangsung. Dalam batas tertentu, kesan itu memang terbentuk. Namun, ketika perhatian tidak berhenti pada capaian tersebut, melainkan bergeser pada kondisi sungai itu sendiri, gambaran yang muncul menjadi lebih kompleks. Air tetap keruh, bau yang sama masih hadir, dan aliran dari hulu ke hilir terus membawa material yang tidak tersentuh oleh intervensi tersebut. Di titik inilah tampak jarak antara apa yang diangkat dan apa yang selalu tetap tertinggal. Ikan sapu-sapu, yang umumnya merujuk pada Pterygoplichthys spp. (famili Loricariidae) dan dalam penggunaan populer sering disamakan dengan Hypostomus plecostomus, dengan cepat menjadi pusat perhatian. Kelimpahannya tinggi, visibilitasnya kuat, dan ia mudah dijadikan representasi masalah (Armbruster &amp; Page, 2021).  Dalam banyak percakapan publik, ia kemudian diposisikan sebagai penyebab utama gangguan ekosistem sungai. Namun, dalam kerangka sosial-ekologis yang lebih luas, penempatan tersebut tidak sepenuhnya memadai. Perubahan pada sungai-sungai di Jakarta merupakan hasil dari proses jangka panjang. Masuknya limbah domestik secara terus-menerus (Rachmawati et al., 2020), peningkatan beban nutrien (Suryono&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/24/opini-di-balik-penangkapan-ikan-sapu-sapu-antara-intervensi-dan-pemulihan-sungai/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/24/opini-di-balik-penangkapan-ikan-sapu-sapu-antara-intervensi-dan-pemulihan-sungai/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Eks Kadis Lingkungan Jakarta jadi Tersangka Kasus Longsor Sampah Bantargebang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/24/eks-kadis-lingkungan-jakarta-jadi-tersangka-kasus-longsor-sampah-bantargebang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/24/eks-kadis-lingkungan-jakarta-jadi-tersangka-kasus-longsor-sampah-bantargebang/#respond</comments>
					<pubDate>24 Apr 2026 02:30:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/23060339/DSCF3188-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126803</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Asep Kuswanto, mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta, jadi tersangka kasus longsor di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Atas hal ini, masyarakat sipil mendesak penyidikan hingga kepala daerah, karena Undang-undang 18/2008 menekankan tanggung jawab pucuk pimpinan di daerah sebagai penanggung jawab pengelolaan sampah. Insiden di Bantargebang terjadi pada Maret dan merenggut tujuh korban [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/24/eks-kadis-lingkungan-jakarta-jadi-tersangka-kasus-longsor-sampah-bantargebang/">Eks Kadis Lingkungan Jakarta jadi Tersangka Kasus Longsor Sampah Bantargebang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Asep Kuswanto, mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta, jadi tersangka kasus longsor di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Atas hal ini, masyarakat sipil mendesak penyidikan hingga kepala daerah, karena Undang-undang 18/2008 menekankan tanggung jawab pucuk pimpinan di daerah sebagai penanggung jawab pengelolaan sampah. Insiden di Bantargebang terjadi pada Maret dan merenggut tujuh korban jiwa. Hanif Faisol Nurofiq, Menteri Lingkungan Hidup  menjelaskan, pengelolaan sampah di Bantargebang open dumping dan tidak taat prosedur instalasi pengelolaan air limbah. Penetapan tersangka tidak sembarangan. KLH melakukan pengawasan, pembinaan, dan pemberian sanksi administratif terlebih dahulu, bahkan meminta DLH Jakarta memperbaiki tata kelola TPST Bantargebang. “Berdasarkan evaluasi ternyata tidak dipenuhi semua. Akhirnya kami lakukan audit lingkungan. Di audit lingkungan, ternyata, semua yang disyaratkan tidak bisa dipenuhi,” kata Hanif kepada Mongabay  di Jakarta, Selasa (21/4/26). Longsor gunungan sampah menjadi titik balik penegakan hukum, hingga menambah keyakinan penyidik lingkungan hidup untuk menetapkan Asep sebagai tersangka. Menurut dia, pengelola sampah yang dengan sengaja tidak taat UU 18/2008 dapat ancaman penjara lima tahun. Penjara menjadi maksimal 15 tahun dan denda Rp5 miliar- Rp15 miliar jika ada korban jiwa. Dia pun memastikan penyidik lingkungan hidup terus mendalami kasus Bantargebang, bahkan tidak menutup kemungkinan muncul tersangka baru. “Tidak mungkin Pak Kadis (Asep) bekerja sendiri. Tentu ada atas, ada bawah, yang terorganisasi dalam pelaksanaan tata kelola sampah pemerintah Jakarta.” Hanif Faisol Nurofiq, Menteri Lingkungan Hidup (tengah) bersama Asep Kuswanto (kanan Hanif) pada agenda tahun 2025 lalu. Foto: Achmad Rizki Muazam/Mongabay Indonesia. Kronologi perkara Rizal Irawan, Deputi Bidang Penegakan Hukum Lingkungan Hidup KLH&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/24/eks-kadis-lingkungan-jakarta-jadi-tersangka-kasus-longsor-sampah-bantargebang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/24/eks-kadis-lingkungan-jakarta-jadi-tersangka-kasus-longsor-sampah-bantargebang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Seribu Luka di Hari Bumi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/04/seribu-luka-di-hari-bumi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/04/seribu-luka-di-hari-bumi/#respond</comments>
					<pubDate>24 Apr 2026 01:11:27 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/10/22010657/Deforestasi--768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=126828</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Seribu Luka di Hari Bumi]]>
						</reporting-project>
					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Setiap tanggal 22 April, dunia berhenti sejenak; menanam pohon, membentangkan spanduk, mengucapkan janji. Namun ketika perayaan usai, bumi tetap menanggung luka yang sama: hutan-hutan Kalimantan yang diratakan, pesisir Makassar yang terkikis, perairan NTB yang meluap, burung laut yang perutnya penuh plastik, dan pari gergaji yang hampir punah sebelum kebanyakan orang tahu ia pernah ada. Dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/04/seribu-luka-di-hari-bumi/">Seribu Luka di Hari Bumi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Setiap tanggal 22 April, dunia berhenti sejenak; menanam pohon, membentangkan spanduk, mengucapkan janji. Namun ketika perayaan usai, bumi tetap menanggung luka yang sama: hutan-hutan Kalimantan yang diratakan, pesisir Makassar yang terkikis, perairan NTB yang meluap, burung laut yang perutnya penuh plastik, dan pari gergaji yang hampir punah sebelum kebanyakan orang tahu ia pernah ada. Dari ujung Sulawesi hingga Bali, hingga hari ini, krisis lingkungan Nusantara bukan sekadar angka dalam laporan, melainkan kehidupan sehari-hari jutaan orang di pesisir, di hutan, dan di kampung-kampung yang namanya jarang masuk halaman depan. Di tengah semua itu, selalu ada tangan-tangan yang tidak menyerah; yang memilih untuk menanam ketika yang lain menebang, memungut ketika yang lain membuang, dan bersuara ketika yang lain berpaling. Catatan-catatan dari penjuru Nusantara ini bukan hanya kesaksian atas luka, tetapi juga pengingat bahwa merawat bumi adalah pilihan yang harus dibuat setiap hari. The post Seribu Luka di Hari Bumi appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/04/seribu-luka-di-hari-bumi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/04/seribu-luka-di-hari-bumi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Desakan Pemulihan Pasca Satgas Segel Kawasan Hutan Lindung di PIK 2</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/23/desakan-pemulihan-pasca-satgas-segel-kawasan-hutan-lindung-di-pik-2/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/23/desakan-pemulihan-pasca-satgas-segel-kawasan-hutan-lindung-di-pik-2/#respond</comments>
					<pubDate>23 Apr 2026 18:11:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Muhammad Ikbal]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/23180347/PIK-II-Satgas-PKH.-3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126819</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[banten dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>“Kawasan Hutan Lindung Eks Program Strategis Nasional PIK 2 yang telah dicabut dan dikerjakan PT Mutiara Intan Permai Seluas 1.601 hektar ini dalam pengawasan Pemerintah Indonesia. C.Q Satgas Penertiban Kawasan Hutan. Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 5 Tahun 2025 Tentang Penertiban Kawasan Hutan. ” Begitu bunyi plang Satgas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) saat menyegel kawasan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/23/desakan-pemulihan-pasca-satgas-segel-kawasan-hutan-lindung-di-pik-2/">Desakan Pemulihan Pasca Satgas Segel Kawasan Hutan Lindung di PIK 2</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[“Kawasan Hutan Lindung Eks Program Strategis Nasional PIK 2 yang telah dicabut dan dikerjakan PT Mutiara Intan Permai Seluas 1.601 hektar ini dalam pengawasan Pemerintah Indonesia. C.Q Satgas Penertiban Kawasan Hutan. Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 5 Tahun 2025 Tentang Penertiban Kawasan Hutan. ” Begitu bunyi plang Satgas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) saat menyegel kawasan hutan lindung Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Banten, seluas 1.601 hektar ini dengan pengembang PT Mutiara Intan Permai (PIM). Pada 13 Maret lalu, pemerintah menyita hutan lindung dalam kawasan yang pernah jadi bagian proyek strategis nasional pemukiman mewah Pantai Indah Kapuk 2. Febrie Adriansah, Ketua Pelaksana Satgas PKH juga Jampidsus Kejaksaan Agung  mengatakan, tengah melakukan langkah – langkah mengevaluasi secara menyeluruh guna pengelolaan lahan sesuai aturan. ‘’Lahan ini resmi sepenuhnya kembali ke tangan negara. Kami memastikan tidak ada lagi penguasaan lahan yang menabrak aturan hukum,’’ katanya keterangan resmi. Plang penyegelan oleh Satgas PKH di area PIK 2 Tangerang, Banten.Foto: M Ikbal/Mongabay Indonesia Ahmed Zaki Iskandar, Bupati Tangerang diketahui PJ Gubernur Banten Al Muktabar pernah mengajukan penurunan status hutan lindung Pakuhaji&#8211; masuk pengembangan PIK 2&#8212; jadi hutan produksi. Permintaan perubahan kawasan hutan lindung ini ditandatangani Gubernur Banten 18 Desember 2023 dalam surat yang ditujukan kepada Muktabar,  Direktur Utama Perum Perhutani. Surat itu menjelaskan beberapa poin. Pertama,  di pesisir utara Kabupaten Tangerang terdapat peruntukan hutan lindung yang sebagian besar berubah fungsi jadi lahan budidaya. Terutama, tambak ikan, lahan terlantar, terkena abrasi, dan sebagian kecil hutan mangrove. Kedua,  menyebut, Surat Bupati Tangerang Nomor 650/2243-DTRB tertanggal 3 Juli 2023 perihal penatagunaan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/23/desakan-pemulihan-pasca-satgas-segel-kawasan-hutan-lindung-di-pik-2/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/23/desakan-pemulihan-pasca-satgas-segel-kawasan-hutan-lindung-di-pik-2/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: Nasib Pari Gergaji di Hari Bumi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/23/opini-nasib-pari-gergaji-di-hari-bumi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/23/opini-nasib-pari-gergaji-di-hari-bumi/#respond</comments>
					<pubDate>23 Apr 2026 08:22:27 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Benaya Simeon dan Junaidi Ismail *]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[admin]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/23081221/Pari-gergaji1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126808</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Seribu Luka di Hari Bumi]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, Lahan Basah, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pari gergaji (Sawfishes), famili Pristidae merupakan pari yang menyerupai hiu dan memiliki moncong panjang berbentuk gergaji. Dua sirip punggung besar membuatnya sering dianggap hiu dan disebut “hiu gergaji” oleh masyarakat. Moncong panjang berbentuk gergaji adalah hasil evolusi panjang untuk mendeteksi mangsa, terutama saat ikan ini berada di perairan keruh. Pari gergaji mulai mengalami kepunahan bertahap [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/23/opini-nasib-pari-gergaji-di-hari-bumi/">Opini: Nasib Pari Gergaji di Hari Bumi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pari gergaji (Sawfishes), famili Pristidae merupakan pari yang menyerupai hiu dan memiliki moncong panjang berbentuk gergaji. Dua sirip punggung besar membuatnya sering dianggap hiu dan disebut “hiu gergaji” oleh masyarakat. Moncong panjang berbentuk gergaji adalah hasil evolusi panjang untuk mendeteksi mangsa, terutama saat ikan ini berada di perairan keruh. Pari gergaji mulai mengalami kepunahan bertahap secara global, termasuk di perairan Indonesia. Nusantara dengan kekayaan ekosistemnya merupakan habitat yang sesuai untuk pari gergaji, sekaligus pemilik jenis yang tinggi di masa silam. Tercatat, Indonesia memiliki empat dari lima spesies pari gergaji di dunia. Jenis tersebut adalah pari gergaji gigi besar (Largetooth Sawfish; Pristis pristis), pari kerdil (Dwarf Sawfish; Pristis clavata), pari gergaji hijau (Green Sawfish; Pristis zisjron), dan pari gergaji pendek (Narrow sawfish; Anoxypristis clavata). Pari gergaji ini tertangkap nelayan di Tebing Tinggi Barat, Riau, Jumat (19/1/2018) lalu. Foto: Dok. BPSPL Padang Cerita pari gergaji saat ini hanya banyak didengar dari para tetua masyarakat dan nelayan berpengalaman. Informasi dari sejumlah nelayan mengatakan, pari gergaji sering terlihat pada 1990-an. Artinya, hampir 30 tahun pari ini mengalami penurunan populasi di perairan Indonesia. Harapan muncul dari Semenanjung Malaka, ketika pari gergaji gigi besar ditemukan di Provinsi Riau tahun 2018. Temuan ini menunjukkan bahwa jenis yang disebut “hiu parang” oleh masyarakat Semenanjung Malaka, bukan legenda. Semenanjung Malaka menjadi lokasi kunci untuk menguak fakta menarik, juga menelisik relasi manusia dengan pari gergaji sebelumnya. Berdasarkan keterangan nelayan di sejumlah desa di Riau dan Kepulauan Riau, pari ini pernah menjadi makhluk yang ditakuti. Pari gergaji sering berkamuflase di dasar&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/23/opini-nasib-pari-gergaji-di-hari-bumi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/23/opini-nasib-pari-gergaji-di-hari-bumi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nasib Kepiting Bakau Lombok di Tengah Himpitan Tambak</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/23/nasib-kepiting-bakau-lombok-di-tengah-himpitan-tambak/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/23/nasib-kepiting-bakau-lombok-di-tengah-himpitan-tambak/#respond</comments>
					<pubDate>23 Apr 2026 04:09:48 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ahmad H Ramdhani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[produk laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/22032006/DSC03490-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126742</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[lombok dan nusa tenggara barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, politik dan hukum, dan produk laut]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Suara azan subuh sayup terdengar bercampur deburan ombak pesisir Kokoq Pedeq, Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB),  Rabu (15/4/26). Sofian dan Alihanafi bergegas memasang sepatu karet dengan senter di kepala. Segera setelah memanasi mesin motor pagi itu, mereka berangkat untuk mengangkat kodong, perangkap kepiting yang mereka pasang sore sebelumnya. Sesampainya di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/23/nasib-kepiting-bakau-lombok-di-tengah-himpitan-tambak/">Nasib Kepiting Bakau Lombok di Tengah Himpitan Tambak</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Suara azan subuh sayup terdengar bercampur deburan ombak pesisir Kokoq Pedeq, Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB),  Rabu (15/4/26). Sofian dan Alihanafi bergegas memasang sepatu karet dengan senter di kepala. Segera setelah memanasi mesin motor pagi itu, mereka berangkat untuk mengangkat kodong, perangkap kepiting yang mereka pasang sore sebelumnya. Sesampainya di lokasi, bayangan ekosistem mangrove terlihat seperti tembok yang mengelilingi muara Pantai Keramat. Satu per satu tali nilon yang terikat di dahan pohon mereka tarik, diikuti kodong yang muncul ke permukaan. Beberapa  terisi kepiting bakau berbagai ukuran dan jenis. “Lumayan pagi ini, bisa dapat banyak,” kata Sofian sambil angkat  kepiting jantan berukuran besar. Capitnya bergerak liar, sesekali menjepit kawat perangkap. Pekerjaan itu mereka lakukan hampir setiap hari. Selepas subuh, ketika sebagian warga masih tertidur atau baru bersiap ke sawah, dua nelayan ini sudah menelusuri lumpur muara untuk menangkap komoditas bernama latin Scylla serrata itu. Sekali angkat, jika sedang beruntung, mereka bisa membawa pulang 4-6 kilogram. “Pernah sampai 18 kilogram dalam dua hari. Dulu kan sebelum sering ditangkap besar-besar ketenggenya,” cerita Alihanafi. Bagi masyarakat pesisir Sugian dan desa-desa sekitar, kepiting bakau bukan sekadar tangkapan sampingan tetapi jadi sumber penghasilan penting ketika kondisi laut buruk atau sulit dapat ikan. Harga jualnya lebih tinggi dibanding jenis ikan tangkapan harian. Untuk yang premium, harga di pengepul bisa mencapai Rp300.000 per kilogram. Permintaan datang dari restoran seafood di Lombok, hotel-hotel di kawasan wisata, hingga pasar luar daerah seperti Surabaya dan Batam. Kepiting berukuran besar paling dicari. Kawasan mangrove di P Sugian,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/23/nasib-kepiting-bakau-lombok-di-tengah-himpitan-tambak/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/23/nasib-kepiting-bakau-lombok-di-tengah-himpitan-tambak/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Breugnathair: &#8216;Ular Palsu&#8217; yang Mengungkap Misteri Hubungan Tersembunyi Ular dan Biawak</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/23/breugnathair-ular-palsu-yang-mengungkap-misteri-hubungan-tersembunyi-ular-dan-biawak/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/23/breugnathair-ular-palsu-yang-mengungkap-misteri-hubungan-tersembunyi-ular-dan-biawak/#respond</comments>
					<pubDate>23 Apr 2026 01:35:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/11/02234200/breugnathair-elgolensis-l-768x512.webp" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126778</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Selama puluhan tahun, ilmuwan kesulitan menjelaskan bagaimana ular muncul dari nenek moyang berkaki karena adanya celah besar dalam catatan fosil yang sering disebut sebagai kekosongan data transisi. Hambatan utama ini terjadi karena tulang belulang reptil kecil dari periode Jurassic sangat rapuh dan sulit terawetkan dalam tanah, sehingga proses perubahan dari kadal berkaki empat menjadi makhluk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/23/breugnathair-ular-palsu-yang-mengungkap-misteri-hubungan-tersembunyi-ular-dan-biawak/">Breugnathair: &#8216;Ular Palsu&#8217; yang Mengungkap Misteri Hubungan Tersembunyi Ular dan Biawak</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Selama puluhan tahun, ilmuwan kesulitan menjelaskan bagaimana ular muncul dari nenek moyang berkaki karena adanya celah besar dalam catatan fosil yang sering disebut sebagai kekosongan data transisi. Hambatan utama ini terjadi karena tulang belulang reptil kecil dari periode Jurassic sangat rapuh dan sulit terawetkan dalam tanah, sehingga proses perubahan dari kadal berkaki empat menjadi makhluk melata sering kali terlihat meloncat tanpa bukti fisik yang jelas. Namun, temuan dari Isle of Skye di Skotlandia mulai membuka tabir kegelapan tersebut melalui fosil berusia 167 juta tahun yang diberi nama Breugnathair elgolensis. Sosok ini menjadi bukti nyata bahwa evolusi kepala ular sebenarnya terjadi lebih dahulu jauh sebelum kaki mereka menghilang. Temuan ini membuktikan bahwa perubahan fisik tersebut berlangsung secara bertahap melalui eksperimen alam yang sangat kompleks selama jutaan tahun. Rekonstruksi Breugnathair elgolensis dan susunan tulang aslinya yang ditemukan di Isle of Skye, Skotlandia. Fosil ini menunjukkan campuran unik antara ciri ular dan kadal. Kredit gambar: Mick Ellison © American Museum of Natural History / Nature Fosil langka ini pertama kali ditemukan pada 2016 oleh Dr. Stig Walsh dari National Museums Scotland dalam sebuah ekspedisi yang awalnya terlihat kurang menjanjikan. Setelah melalui penelitian intensif selama hampir satu dekade yang melibatkan pemindaian CT serta sinar X berkekuatan tinggi di fasilitas sinkrotron di Prancis, ilmuwan berhasil membedah anatomi makhluk sepanjang 40 sentimeter ini. Breugnathair memiliki tubuh yang masih berkaki layaknya kadal, namun rahang dan giginya sangat mirip dengan ular piton modern. Giginya yang melengkung ke belakang dirancang secara khusus sebagai senjata predator aktif untuk mencengkeram mamalia&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/23/breugnathair-ular-palsu-yang-mengungkap-misteri-hubungan-tersembunyi-ular-dan-biawak/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/23/breugnathair-ular-palsu-yang-mengungkap-misteri-hubungan-tersembunyi-ular-dan-biawak/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Solusi Hadapi Krisis Bumi Malah Berisiko</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/22/ketika-solusi-hadapi-krisis-bumi-malah-berisiko/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/22/ketika-solusi-hadapi-krisis-bumi-malah-berisiko/#respond</comments>
					<pubDate>22 Apr 2026 23:44:06 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Niken D Sitoningrum]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/10/21235901/03-scaled-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126770</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Seribu Luka di Hari Bumi]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, Masyarakat Adat, pangan, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ayu sedang membuat adonan kue tradisional seperti biasa untuk dia jual, siang itu. Namun, panggilan dari grup pesan singkat bertajuk ‘Kartini Torobulu’ itu tak bisa menunggu. “Apapun pekerjaannya, sebisa mungkin kalau tidak bisa diselesaikan, ditahan dulu, ke lokasi lagi. Setiap ada pergerakan (aktivitas perusahaan). Itu kami diinfokan lewat grup itu,”  katanya ditemui Mongabay, akhir tahun [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/22/ketika-solusi-hadapi-krisis-bumi-malah-berisiko/">Ketika Solusi Hadapi Krisis Bumi Malah Berisiko</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ayu sedang membuat adonan kue tradisional seperti biasa untuk dia jual, siang itu. Namun, panggilan dari grup pesan singkat bertajuk ‘Kartini Torobulu’ itu tak bisa menunggu. “Apapun pekerjaannya, sebisa mungkin kalau tidak bisa diselesaikan, ditahan dulu, ke lokasi lagi. Setiap ada pergerakan (aktivitas perusahaan). Itu kami diinfokan lewat grup itu,”  katanya ditemui Mongabay, akhir tahun lalu. Ayunia Muis, lahir dan tumbuh di Torobulu, Kecamatan Laeya, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Sehari-harinya, perempuan 30 tahun ini berjualan kue tradisional seperti bolu, nona manis, gorengan dan lain sebagainya. Dia sekaligus mengurus tambak peninggalan ayahnya. Sejak tambang nikel masuk, Torobulu, kini berubah wajah. Tak seperti kenangan Ayu di masa lalu. Bahkan kejayaan Torobulu sebagai penghasil rumput laut dan perikanan berkualitas tinggi, sudah hilang karena ambisi korporasi membangun ekosistem industri yang dilabeli sebagai energi hijau. Dulu, Desa Torobulu, pernah dikenal dengan sebutan ‘Desa Dollar’. Dengan dominan masyarakat sebagai nelayan, hasil laut yang melimpah menjadi sumber penghidupan masyarakat di sana. “Tapi itu dulu, jauh sebelum tambang menggerogoti sebagian Torobulu,” kenang Ayu. Pesisir pantai yang dulu indah dengan hamparan pasir putih dan arena bermain anak-anak ketika air laut surut, berubah menjadi coklat dan cenderung kemerahan akibat sedimentasi. Serta mengandung senyawa beracun. Air laut yang mulanya tampak jernih dan bening, menjadi keruh. Air Dasar laut yang dulu bisa dilihat dari atas, kini tak lagi kelihatan. “Katanya, ketika ada perusahaan yang masuk ke suatu daerah itu mensejahterakan, tetapi kami yang terdampak, betul-betul hampir tidak bisa merasakan kesejahteraan itu.” Hasilin dan Andi Firmasyah, usai persidangan dengan vonis bebas untuk&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/22/ketika-solusi-hadapi-krisis-bumi-malah-berisiko/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/22/ketika-solusi-hadapi-krisis-bumi-malah-berisiko/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Merawat Laut, Menjaga Bumi Tetap Layak Huni</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/22/merawat-laut-menjaga-bumi-tetap-layak-huni/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/22/merawat-laut-menjaga-bumi-tetap-layak-huni/#respond</comments>
					<pubDate>22 Apr 2026 18:01:35 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[perikanan kelautan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/08/22011734/Pencemaran-Laut-Wawonii-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126763</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Seribu Luka di Hari Bumi]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan pencemaran]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bumi terus menghadapi berbagai tekanan karena aktivitas manusia. Ekosistem pesisir dan laut yang seharusnya menjadi penopang kehidupan manusia pun turut terancam. Padahal, laut tak sekadar menyediakan makanan,  juga sumber kehidupan. Yonvitner, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University mengatakan, sangat penting menjaga kelestarian laut demi kelangsungan hidup manusia. Tanpa laut yang sehat, sulit [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/22/merawat-laut-menjaga-bumi-tetap-layak-huni/">Merawat Laut, Menjaga Bumi Tetap Layak Huni</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bumi terus menghadapi berbagai tekanan karena aktivitas manusia. Ekosistem pesisir dan laut yang seharusnya menjadi penopang kehidupan manusia pun turut terancam. Padahal, laut tak sekadar menyediakan makanan,  juga sumber kehidupan. Yonvitner, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University mengatakan, sangat penting menjaga kelestarian laut demi kelangsungan hidup manusia. Tanpa laut yang sehat, sulit bagi manusia  bertahan hidup. Sayangnya, di tengah kebutuhan untuk melestarikan laut, yang terjadi justru sebaliknya. Laut, kata Yonvitner, tak ubahnya komoditas yang terus tereksploitasi tanpa batas dan tanpa memberikannya jeda. Dampaknya, laut menjadi makin tidak sehat dan terdegradasi. “Padahal, laut juga perlu jeda untuk pulih. Ini yang tidak diperhatikan,” kata  Kepala Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPKL) IPB University itu kepada Mongabay, Senin (20/4/26). Di banyak wilayah perairan, penangkapan ikan berlangsung secara massif, bahkan cenderung berlebih (overfishing). Dampaknya, ikan-ikan di laut tidak memiliki kesempatan untuk  berkembang biak. Begitu pula pesisir. Area mangrove banyak beralih fungsi demi pembukaan tambak. Yonvitner soroti kuatnya pendekatan kapital dalam memanfaatkan sumber data laut.  Pendekatan ini cenderung eksploitatif dan mengabaikan prinsip keseimbangan. Dalam konteks perikanan tangkap misalnya, hampir wilayah perairan Indonesia berstatus overfishing. Begitu juga dengan pemanfaatan ruang pesisir dan pulau-pulau kecil. Demi memberi jalan pada investasi, izin pemanfaatan ruang begitu leluasa pemerintah berikan hingga tak jarang memicu konflik dengan masyarakat akibat perebutan ruang hidup. Aktivitas bongkar muatan di kawasan Pelabuhan Perikanan Pantai Tegalsari, Kota Tegal, Jawa Tengah. Foto : A. Asnawi/Mongabay Indonesia Laut bukan komoditas Sebagai negara maritim, kekayaan laut Indonesia menyimpan potensi yang begitu besar. Sayangnya, para kritikus&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/22/merawat-laut-menjaga-bumi-tetap-layak-huni/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/22/merawat-laut-menjaga-bumi-tetap-layak-huni/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Warga Waswas  Ekosistem Gumuk Jember Tergerus  Tambang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/22/kala-ekosistem-gumuk-tdi-jember-erancam-tambang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/22/kala-ekosistem-gumuk-tdi-jember-erancam-tambang/#respond</comments>
					<pubDate>22 Apr 2026 07:16:16 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[RZ. Hakim dan Zuhana A. Zuhro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/21120029/Alat-berat-dan-sisa-sisa-kerukan-gumok-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126696</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Gumuk banyak ditemui di Kabupaten Jember, Jawa timur. Bagi masyarakat di  sana, gumuk tak sekadar bentang alam biasa. Ia memiliki hubungan panjang dengan sejarah keluarga, kepemilikan tanah, hingga praktik sosial dan keagamaan masyarakat. Sayangnya,  aktivitas tambang pasir dan batu belakangan mengancam kelestarian bukit-buklt kecil ini. Padahal, keberadaan gumuk berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, penangan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/22/kala-ekosistem-gumuk-tdi-jember-erancam-tambang/">Warga Waswas  Ekosistem Gumuk Jember Tergerus  Tambang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Gumuk banyak ditemui di Kabupaten Jember, Jawa timur. Bagi masyarakat di  sana, gumuk tak sekadar bentang alam biasa. Ia memiliki hubungan panjang dengan sejarah keluarga, kepemilikan tanah, hingga praktik sosial dan keagamaan masyarakat. Sayangnya,  aktivitas tambang pasir dan batu belakangan mengancam kelestarian bukit-buklt kecil ini. Padahal, keberadaan gumuk berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, penangan angin, hingga sumber mata air. Di Desa Ajung, sejumlah makam terpaksa pindah demi membuka jalan bagi tambang. “Total ada sekitar 80 makam yang ditemukan. Dari jumlah itu ada sekitar 12 yang tidak ditemukan sisa tulangnya,” kata  Dara Quthni, pemilik gumuk kepada Mongabay, Rabu (18/2/26). Dia bilang, ada sekitar 4-5  keluarga dia ketahui memiliki hubungan dengan makam itu. Sebagian besar makam, katanya, sudah tidak terawat  bahkan tak memiliki penanda. “Banyak yang sudah rusak. Tidak ada patoknya lagi.” Sumiati, warga yang makam keluarganya kena relokasi mengatakan, tidak tahu soal pemindahan makam. Dia baru tahu saat makam keluarganya sudah dikeruk. “Pertama kaget waktu ibu cerita, pas ngecek sudah dikeruk gumuknya. Ya mau gimana lagi, sudah tidak ada,” katanya, Jumat (20/2/26). Dia kaget dengan pemindahan makam itu. Apalagi, makam-makam itu  tidak berada di atas tanah sengketa. Di belakang Pondok Pesantren Miftahul Ulum Kalisat,   juga terdapat gumuk. Warga sekitar menyebut dengan Gumuk Taman. Kepemilikan lahan gumuk itu terbagi dalam beberapa bagian keluarga. Pesantren memiliki bagian sisi barat dan selatan. Bagi Ahmad, salah satu pengasuh pondok tersebut mengatakan, gumuk adalah warisan keluarga yang sarat nilai ekologis dan sosial. “Warisan dari orang tua. Tanah turun temurun yang harus dijaga,” katanya. Pada bagian&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/22/kala-ekosistem-gumuk-tdi-jember-erancam-tambang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/22/kala-ekosistem-gumuk-tdi-jember-erancam-tambang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Refleksi di Hari Bumi, Meratapi Nasib Hutan Indonesia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/22/refleksi-di-hari-bumi-meratapi-nasib-hutan-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/22/refleksi-di-hari-bumi-meratapi-nasib-hutan-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>22 Apr 2026 04:00:46 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/22035343/Papua-food-estate-Pusaka-5-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126713</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Seribu Luka di Hari Bumi]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, hutan indonesia, Masyarakat Adat, pangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hari bumi jadi perayaan seremoni tiap tahun, tetapi nasib hutan Indonesia kian memprihatinkan di tengah nafsu menggenjot pertumbuhan ekonomi dan menciptakan cadangan pangan, energi, serta air dengan mengikis hutan. Kondisi ini yang terjadi di lapangan, malah masyarakat makin terhimpit,  dan lingkungan rusak, hanya segelintir orang rasakan ini sebagai manfaat. Pemerintah mencadangkan 20,6 juta hektar kawasan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/22/refleksi-di-hari-bumi-meratapi-nasib-hutan-indonesia/">Refleksi di Hari Bumi, Meratapi Nasib Hutan Indonesia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hari bumi jadi perayaan seremoni tiap tahun, tetapi nasib hutan Indonesia kian memprihatinkan di tengah nafsu menggenjot pertumbuhan ekonomi dan menciptakan cadangan pangan, energi, serta air dengan mengikis hutan. Kondisi ini yang terjadi di lapangan, malah masyarakat makin terhimpit,  dan lingkungan rusak, hanya segelintir orang rasakan ini sebagai manfaat. Pemerintah mencadangkan 20,6 juta hektar kawasan hutan untuk  pangan, energi dan air pada akhir 2024. Sekitar 15,53 juta hektar berada dari kawasan hutan lindung dan produksi yang belum terbebani izin. Rinciannya, 2,29 juta hektar hutan lindung dan 13,24 juta hektare hutan produksi. Sekitar 3,17 juta hektar dari kawasan hutan yang terbebani perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH)  tidak aktif dan potensial dicabut, serta 1,9 juta hektar  dari kawasan perhutanan sosial. Raja Juli Antoni, Menteri Kehutanan, menjamin program itu tidak akan menambah deforestasi. Justru, katanya, pengelolaan lahan-lahan itu  akan menggabungkan pertanian dan kehutanan (agroforestri). Berbanding terbalik dengan  temuan Yayasan Auriga Nusantara dalam Status Deforestasi Indonesia (STADI) 2025 menunjukkan, 18% dari  luas deforestasi 2025, atau 79.408 hektar, terjadi di area pencadangan pangan, energi, dan air. Tertinggi di Kalimantan Tengah dengan 13.439 hektar, kemudian Sumatera Barat 8.273 hektar, Kalimantan Barat 6.281 hektar, Aceh 6.086 hektar, dan Kalimantan Timur 5.040 hektar. Walhi menilai rencana hutan untuk pangan dan energi akan menjadi proyek legalisasi deforestasi terbesar dalam sejarah. Proyek ini berbasis lahan yang tidak hanya mengancam hutan-hutan di Indonesia, melainkan ekosistem seperti satwa dan masyarakat, terutama masyarakat adat. Terlebih, paradigma yang pemerintah pakai  masih berorientasi bisnis, bukan kebutuhan masyarakat. Programnya, pengembangan  pangan skala besar (food estate) dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/22/refleksi-di-hari-bumi-meratapi-nasib-hutan-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/22/refleksi-di-hari-bumi-meratapi-nasib-hutan-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kesempatan Hidup Kedua Bayi Orangutan Tanpa Induk</title>
					<link>https://mongabay.co.id/video/2026/04/kesempatan-hidup-kedua-bayi-orangutan-tanpa-induk/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/video/2026/04/kesempatan-hidup-kedua-bayi-orangutan-tanpa-induk/#respond</comments>
					<pubDate>22 Apr 2026 01:31:27 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Niko Wicaksana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/22012507/Bayi-orangutan-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=videos&#038;p=126731</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Masa Depan Orangutan]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Kalimantan Timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kalimantan, kera besar, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Di hutan, bayi orangutan tidak pernah hidup sendiri. Sejak lahir, mereka selalu bersama induknya. Dari situlah mereka belajar semuanya. Cara makan, memanjat, mengenali makanan, sampai bagaimana bertahan hidup di antara pepohonan. Semua dipelajari perlahan, dari hari ke hari. Tanpa induk, mereka bukan hanya kehilangan perlindungan. Mereka kehilangan satu-satunya tempat belajar tentang hidup. Di usia [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/video/2026/04/kesempatan-hidup-kedua-bayi-orangutan-tanpa-induk/">Kesempatan Hidup Kedua Bayi Orangutan Tanpa Induk</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Di hutan, bayi orangutan tidak pernah hidup sendiri. Sejak lahir, mereka selalu bersama induknya. Dari situlah mereka belajar semuanya. Cara makan, memanjat, mengenali makanan, sampai bagaimana bertahan hidup di antara pepohonan. Semua dipelajari perlahan, dari hari ke hari. Tanpa induk, mereka bukan hanya kehilangan perlindungan. Mereka kehilangan satu-satunya tempat belajar tentang hidup. Di usia yang masih sangat kecil, mereka bahkan belum tahu apa yang bisa dimakan, ke mana harus pergi, atau bagaimana bergerak dengan aman di hutan. Dan ketika itu terjadi, peluang mereka untuk bertahan hidup sendirian sangat kecil. Sepanjang 2025, Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam CAN Borneo bersama BKSDA Kalimantan Timur menyelamatkan tiga bayi orangutan kalimantan tanpa induki. Mereka adalah Lucas, Hannes, dan Jack. Ketiganya ditemukan di tempat dan waktu berbeda. Tapi, mereka punya satu kesamaan. Mereka belum siap hidup sendiri di alam. Lucas yang pertama datang. Ia ditemukan di Desa Miau Baru, Kutai Timur, dalam kondisi  sangat kecil. Usianya diperkirakan dua hingga tiga bulan. Bahkan, giginya belum tumbuh. Setiap bangun tidur, ia menangis jika tidak ada yang menggendong atau menenangkannya. Perawat harus benar-benar menggantikan peran induknya, meski hanya sementara. Hannes datang dengan kondisi berbeda. Ia ditemukan di Bengalon pada Agustus 2025. Meski usianya sekitar satu tahun, Hannes sudah menunjukkan perilaku liar cukup kuat. Ia lebih sering berada di pohon, bisa membuat sarang, dan mencari makan sendiri. Ia juga tidak terlalu nyaman dekat manusia. Perilaku ini menunjukkan bahwa ia sempat belajar langsung dari induknya di alam. Di sekolah hutan, Hannes sering terlihat seperti “kakak” bagi Lucas. Ia&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/video/2026/04/kesempatan-hidup-kedua-bayi-orangutan-tanpa-induk/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/video/2026/04/kesempatan-hidup-kedua-bayi-orangutan-tanpa-induk/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>