<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=la-ode-muhlas&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/la-ode-muhlas/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Sun, 05 Apr 2026 09:46:39 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
				<item>
					<title>Bukan Hanya Simbol Konservasi, Parijoto Sumber Daya Genetik Gunung Muria</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/05/bukan-hanya-simbol-konservasi-parijoto-sumber-daya-genetik-gunung-muria/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/05/bukan-hanya-simbol-konservasi-parijoto-sumber-daya-genetik-gunung-muria/#respond</comments>
					<pubDate>05 Apr 2026 09:46:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/05093443/Parijoto3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126156</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa tengah]]>
						</locations>
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sudah hampir tiga dekade, Mashuri (62) membudidayakan parijoto di lereng Gunung Muria, Kudus, Jawa Tengah. Dari kebun seluas 1,4 hektar, lelaki asal Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, kini bisa meraup penghasilan harian dari buah yang dulu jarang dilirik sebagai komoditas ekonomi. Di bawah naungan pepohonan hutan, Medinilla speciosa ini tumbuh berdampingan dengan kopi dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/05/bukan-hanya-simbol-konservasi-parijoto-sumber-daya-genetik-gunung-muria/">Bukan Hanya Simbol Konservasi, Parijoto Sumber Daya Genetik Gunung Muria</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sudah hampir tiga dekade, Mashuri (62) membudidayakan parijoto di lereng Gunung Muria, Kudus, Jawa Tengah. Dari kebun seluas 1,4 hektar, lelaki asal Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, kini bisa meraup penghasilan harian dari buah yang dulu jarang dilirik sebagai komoditas ekonomi. Di bawah naungan pepohonan hutan, Medinilla speciosa ini tumbuh berdampingan dengan kopi dan tanaman lain, membentuk lanskap kebun tetap teduh yang produktif. “Dulu, buah khas Muria ini belum banyak dibudidayakan,” ujar Huri, yang mulai menanam parijoto sejak 1996, Selasa (31/4/2026). Seringnya, warga memetik langsung di hutan, tanpa ada upaya serius untuk menanam atau mengelolanya sebagai sumber penghasilan. Seiring waktu, situasi berubah. Parijoto dikenal luas, terutama oleh para peziarah yang datang ke kawasan Gunung Muria. Buah kecil berwarna ungu kemerahan ini dipercaya punya nilai simbolik, bahkan dikaitkan dengan kisah Sunan Muria. Dari sini, permintaan mulai tumbuh. Melihat peluang itu, Huri bersama sejumlah petani mulai membudidayakan parijoto di kebun mereka. Menanamnya tak menebang pohon-pohon besar, melainkan memanfaatkan naungan alami yang ada. “Harus di bawah pohon, tidak bisa kena sinar matahari langsung.” Tumbuhan parijoto yang menjadi simbol konservasi Gunung Muria. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia Pola tanam ini menjadikan kebun parijoto tetap menyerupai hutan. Pepohonan seperti alpukat dan berbagai jenis kayu hutan dibiarkan tumbuh, menciptakan ekosistem yang mendukung keberlangsungan tanaman. Selain menjaga kesuburan tanah, cara ini juga membantu mempertahankan keseimbangan lingkungan di lereng Muria. Berbeda dengan kopi yang hanya panen setahun sekali, parijoto fleksibel. Pada musim hujan, Huri bisa memetik buahnya hampir setiap hari. Hasil panen juga bisa langsung dijual pada wisatawan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/05/bukan-hanya-simbol-konservasi-parijoto-sumber-daya-genetik-gunung-muria/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/05/bukan-hanya-simbol-konservasi-parijoto-sumber-daya-genetik-gunung-muria/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Akankah Perlindungan Masyarakat Adat di Nusantara Ini Terwujud?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/05/ketika-perlindungan-masyarakat-adat-semakin-jauh/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/05/ketika-perlindungan-masyarakat-adat-semakin-jauh/#respond</comments>
					<pubDate>05 Apr 2026 08:29:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Niken D Sitoningrum]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/03/21232853/Pulau-Seram-HUtan-adat-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125954</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, Masyarakat Adat, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Konflik agraria antara  masyarakat adat dan perusahaan bahkan pemerintah terjadi di berbagai penjuru negeri. Salah satu, kojnflik lahan Masyarakat Adat Bahau Umaq Telivaq dengan perusahaan perkebunan sawit di Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur (Kaltim). Hingga kini, perusahaan tak juga penuhi tuntutan warga. Warga mendesak agar perusahaan mengembalikan lahan adat yang sebelumnya masuk dalam konsesi perusahaan. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/05/ketika-perlindungan-masyarakat-adat-semakin-jauh/">Akankah Perlindungan Masyarakat Adat di Nusantara Ini Terwujud?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Konflik agraria antara  masyarakat adat dan perusahaan bahkan pemerintah terjadi di berbagai penjuru negeri. Salah satu, kojnflik lahan Masyarakat Adat Bahau Umaq Telivaq dengan perusahaan perkebunan sawit di Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur (Kaltim). Hingga kini, perusahaan tak juga penuhi tuntutan warga. Warga mendesak agar perusahaan mengembalikan lahan adat yang sebelumnya masuk dalam konsesi perusahaan. Mereka juga menuntut perusahaan melakukan pemulihan lingkungan. Januarius Kayah, tokoh adat Bahau Umaq mengatakan, meski sudah satu dekade beroperasi, kehadiran  perusahaan tak bawa kebaikan pada masyarakat. Alih-alih, kesepakatan kerjasama dengan petani lokal melalui sistem inti plasma tak pernah terwujud. Warga juga mengeluhkan bau menyengat yang kerap kali menyeruak dari tepi sungai. Bahkan, tak sedikit warga yang menderita penyakit kulit. Sejak 2015, warga berulangkali mengeluhkan kondisi itu. Sejauh ini, belum mendapat tanggapan berarti. Padahal, gangguan kesehatan itu hampir semua lapisan usia alami. Termasuk mereka yang usia lanjut, dengan kulit mengelupas. “Kalau dulu kan, karena belum ada perusahaan ini, jernihnya (air). Kita ambil air minum dari situ. Kalau sekarang ini, jangankan untuk diminum, mandi saja nggak bisa (gatal-gatal),” katanya. Pemerintah  Mahulu, katanya, belum pernah berdialog dengan warga. Bahkan, untuk hadir menginisiasi mediasi antara perusahaan dengan masyarakat pun belum pernah pemerintah lakukan. Konflik di Kampung Matalibaq, hanyalah satu dari ratusan bahkan ribuan kasus serupa yang menimpa  masyarakat adat di nusantara ini. Jalan yang terbangun dengan membersihkan hutan dan lahan masyarakat adat Papua. Foto: Yayasan Pusaka Konflik tenurial Catatan Akhir Tahun 2025 Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), menyebutkan, konflik berupa perampasan wilayah adat, kriminalisasi, dan kekerasan terus terjadi di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/05/ketika-perlindungan-masyarakat-adat-semakin-jauh/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/05/ketika-perlindungan-masyarakat-adat-semakin-jauh/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Temuan Langka, Ilmuwan Ungkap Spesies Katak yang Menjaga Anaknya dalam Kantong Rahasia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/05/temuan-langka-ilmuwan-ungkap-spesies-katak-yang-menjaga-anaknya-dalam-kantong-rahasia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/05/temuan-langka-ilmuwan-ungkap-spesies-katak-yang-menjaga-anaknya-dalam-kantong-rahasia/#respond</comments>
					<pubDate>05 Apr 2026 02:44:57 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/05024209/the-new-amphibian-spec-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126150</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jauh di dalam hutan hujan pegunungan Amazon di Peru, para peneliti berhasil mengidentifikasi seekor katak mungil berwarna hijau cerah yang memiliki ciri biologis luar biasa untuk membedakannya dari hampir semua amfibi lain yang dikenal sains selama ini. Keunikan utama spesies ini terletak pada strategi reproduksinya yang sangat spesifik, terutama dalam cara ia menjaga anak-anaknya di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/05/temuan-langka-ilmuwan-ungkap-spesies-katak-yang-menjaga-anaknya-dalam-kantong-rahasia/">Temuan Langka, Ilmuwan Ungkap Spesies Katak yang Menjaga Anaknya dalam Kantong Rahasia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jauh di dalam hutan hujan pegunungan Amazon di Peru, para peneliti berhasil mengidentifikasi seekor katak mungil berwarna hijau cerah yang memiliki ciri biologis luar biasa untuk membedakannya dari hampir semua amfibi lain yang dikenal sains selama ini. Keunikan utama spesies ini terletak pada strategi reproduksinya yang sangat spesifik, terutama dalam cara ia menjaga anak-anaknya di lingkungan yang ekstrem. Penemuan yang diumumkan pada awal April 2026 ini merupakan hasil kolaborasi internasional antara Ceja de Selva Research Institute for Sustainable Development, Florida International University, dan University of Seville di Spanyol. Seluruh hasil studi tersebut kini telah diterbitkan secara resmi dalam jurnal ilmiah internasional, Zootaxa, sebagai kontribusi penting bagi keanekaragaman hayati global. Spesies baru yang diberi nama ilmiah Gastrotheca mittaliiti ini memiliki tubuh berukuran sangat kecil dengan panjang hanya berkisar antara 2,7 hingga 3,3 sentimeter. Selain ukurannya yang mungil, kulit punggungnya yang berwarna hijau terang dipenuhi dengan bintil-bintil bulat yang menonjol secara khas sebagai penanda identitas fisiknya. Hal yang membuatnya sangat istimewa di dunia amfibi adalah metode reproduksinya yang tidak biasa karena ia tidak terlalu bergantung pada badan air untuk perkembangan telur. Jika mayoritas katak membutuhkan genangan atau aliran air, Gastrotheca mittaliiti justru menggunakan kantong khusus di punggungnya untuk membawa sekaligus membesarkan anak-anaknya hingga siap mandiri. Ciri khas ini merupakan karakteristik utama dari genus Gastrotheca, sebuah kelompok katak marsupial yang memang merupakan satwa asli dari kawasan Amerika Tengah dan Selatan. Melalui analisis filogenetik yang mendalam, para peneliti sepakat menempatkan spesies baru ini ke dalam kelompok spesies Gastrotheca marsupiata. Detail Fisik dan Identifikasi Spesies&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/05/temuan-langka-ilmuwan-ungkap-spesies-katak-yang-menjaga-anaknya-dalam-kantong-rahasia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/05/temuan-langka-ilmuwan-ungkap-spesies-katak-yang-menjaga-anaknya-dalam-kantong-rahasia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Chandra Sembiring, Ketika Kemanusiaan Bertemu Sinema Alam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/05/chandra-sembiring-ketika-kemanusiaan-bertemu-sinema-alam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/05/chandra-sembiring-ketika-kemanusiaan-bertemu-sinema-alam/#respond</comments>
					<pubDate>05 Apr 2026 00:29:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Sri Wahyuni]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Profil]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/05002141/Chandra-Sembiring-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126143</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Chandra Sembiring, bukan dokter biasa. Ketika dokter biasa hanya berkutat merawat dan mengobati pasien, dokter yang satu ini juga menangani pembuatan film. Beberapa film sudah dia bidani  bahkan menyabet pengakuan internasional. Sejak awal kariernya dia terlibat dalam berbagai misi tanggap darurat di daerah-daerah krisis. Dari tsunami Mentawai, Banten juga gempa di Lombok dan Palu maupun [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/05/chandra-sembiring-ketika-kemanusiaan-bertemu-sinema-alam/">Chandra Sembiring, Ketika Kemanusiaan Bertemu Sinema Alam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Chandra Sembiring, bukan dokter biasa. Ketika dokter biasa hanya berkutat merawat dan mengobati pasien, dokter yang satu ini juga menangani pembuatan film. Beberapa film sudah dia bidani  bahkan menyabet pengakuan internasional. Sejak awal kariernya dia terlibat dalam berbagai misi tanggap darurat di daerah-daerah krisis. Dari tsunami Mentawai, Banten juga gempa di Lombok dan Palu maupun Cianjur. Juga, tsunami Banten, kebakaran hutan,  sampai konflik di Nusa Tenggara Timur. Dia juga pernah enam bulan bertugas di kawasan Everest bersama Himalayan Rescue Association, menangani penyakit ketinggian, bidang medis yang jarang dikuasai. “Ribuan orang mungkin merasa saya yang membantu mereka, padahal sebenarnya saya yang diisi oleh mereka,” katanya. Bencana dan alam membentuk cara berpikir Chandra. Dia terbiasa merancang operasi darurat secara taktis dan strategis, mulai dari evakuasi medis, logistik obat-obatan, hingga masuk ke wilayah yang hanya bisa terjangkau perahu atau berjalan kaki berhari-hari. “Gaya saya memang gaya emergency. Kalau agak ngegas, maklumi.” Pengalamannya berada di berbagai medan dari perang sampai bencana, memunculkan gagasan bikin film sebagai medium membicarakan relasi manusia dan alam. Ia terwujud lewat “Maira, ” film anak berlatar hutan Papua. Pohon yang ditebang di Papua, dan jadi dalam salah satu adegan film Maira. Foto: Dokumen Chandra Sembiring &nbsp; *** Salah satu adegan kunci dalam film itu merekam tumbangnya sebuah pohon raksasa di tengah hutan. Adegan itu bukan hasil rekayasa, melainkan peristiwa nyata saat proses pengambilan gambar. Bagi Chandra, momen itu merangkum ironi yang ingin disampaikan Maira, yakni, kerusakan hutan di hadapan mata, kerap dianggap biasa. Dalam skenario awal, katanya, tidak ada adegan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/05/chandra-sembiring-ketika-kemanusiaan-bertemu-sinema-alam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/05/chandra-sembiring-ketika-kemanusiaan-bertemu-sinema-alam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Studi Terbaru Ungkap Keterancaman Keanekaragaman Hayati Papua</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/04/studi-terbaru-ungkap-keterancaman-keanekaragaman-hayati-papua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/04/studi-terbaru-ungkap-keterancaman-keanekaragaman-hayati-papua/#respond</comments>
					<pubDate>04 Apr 2026 14:00:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Zulkifli Mangkau]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2013/09/22113715/tim-laman88888-BOP-101002-123-Version-2-1-600x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126118</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, hutan indonesia, politik dan hukum, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tanah Papua merupakan salah satu kawasan vital burung air dan burung migraine yang melintasi jalur Asia dan Australia. Namun, pembangunan yang masif menyebabkan fragmentasi ekosistem dan mengancam kekayaan keanekaragaman hayati bumi cendrawasih. Hasil studi Burung Indonesia menyebutkan, dari  641 spesies burung Papua  14 terancam punah secara global karena  perburuan, perubahan iklim dan perubahan lanskap. Adi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/04/studi-terbaru-ungkap-keterancaman-keanekaragaman-hayati-papua/">Studi Terbaru Ungkap Keterancaman Keanekaragaman Hayati Papua</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tanah Papua merupakan salah satu kawasan vital burung air dan burung migraine yang melintasi jalur Asia dan Australia. Namun, pembangunan yang masif menyebabkan fragmentasi ekosistem dan mengancam kekayaan keanekaragaman hayati bumi cendrawasih. Hasil studi Burung Indonesia menyebutkan, dari  641 spesies burung Papua  14 terancam punah secara global karena  perburuan, perubahan iklim dan perubahan lanskap. Adi Widyanto, Head of Conservation and Development Burung Indonesia, mengatakan, dari 641 spesies itu, 252 merupakan endemik Papua, 75 spesies endemik Indonesia, dan 94 merupakan spesies sebaran terbatas. Dalam studi yang menggunakan pendekatan Important Bird and Biodiversity Area (IBA) ini juga menyebutkan, selain  burung, mamalia endemik seperti echidna paruh panjang dan kanguru pohon Wondiwoi juga dalam status terancam punah. Jika ancaman ini terus berlanjut, menandakan keruntuhan integritas ekosistem papua. Karena, banyak spesies endemik memiliki ketergantungan ekologis yang sangat kuat pada habitat aslinya. Pemilihan burung sebagai komponen utama IBA, katanya,  karena alasan ekologis yang kuat. Burung merupakan indikator alami yang sangat baik untuk menilai kesehatan suatu ekosistem. “Karena itu, upaya menjaga kawasan IBA tidak hanya berdampak pada burung, tetapi juga secara otomatis melindungi spesies lain, seperti mamalia dan amfibi, yang berbagi ruang hidup di wilayah tersebut,” kata Adi pada Mongabay. IBA, merupakan instrumen ilmiah inisiasi kemitraan konservasi global, BirdLife International. Program ini bertujuan mengidentifikasi, melindungi, dan mengelola berbagai habitat yang paling krusial bagi kelangsungan hidup populasi burung di seluruh dunia. Hingga kini, terdapat lebih 10.000 lokasi IBA  tersebar di dunia. Di Indonesia, penambahan kawasan baru di Papua meningkatkan lokasi IBA yang teridentifikasi dari 228 menjadi 287 titik. Dalam&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/04/studi-terbaru-ungkap-keterancaman-keanekaragaman-hayati-papua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/04/studi-terbaru-ungkap-keterancaman-keanekaragaman-hayati-papua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Alih Fungsi Hutan Perparah Banjir Pasuruan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/04/alih-fungsi-hutan-perparah-banjir-pasuruan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/04/alih-fungsi-hutan-perparah-banjir-pasuruan/#respond</comments>
					<pubDate>04 Apr 2026 04:31:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Eko Widianto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/03151458/banjir-pasuruan-3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126113</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan surabaya]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sekitar seribuan warga berdemonstrasi di Kelurahan Tretes, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Minggu (29/3/26). Mereka membentangkan poster dan spanduk yang menolak alih fungsi hutan di Kaki Gunung Arjuno-Welirang menjadi perumahan elit. Warga yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Peduli Hutan (Gema Duta) ini  khawatir alih fungsi hutan akan membawa petaka, bencana banjir dan longsor. Priya Kusuma, Ketua [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/04/alih-fungsi-hutan-perparah-banjir-pasuruan/">Alih Fungsi Hutan Perparah Banjir Pasuruan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sekitar seribuan warga berdemonstrasi di Kelurahan Tretes, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Minggu (29/3/26). Mereka membentangkan poster dan spanduk yang menolak alih fungsi hutan di Kaki Gunung Arjuno-Welirang menjadi perumahan elit. Warga yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Peduli Hutan (Gema Duta) ini  khawatir alih fungsi hutan akan membawa petaka, bencana banjir dan longsor. Priya Kusuma, Ketua Aliansi Gema Duta, menuturkan eksploitasi alam berlebihan akan mengundang bahaya. Banjir yang menerjang 11 Kecamatan di Pasuruan sejak Selasa (24/3/26) malam tak lepas dari kerusakan hutan di lereng Gunung Arjuno-Welirang. Selama 14 tahun, katanya, hutan lindung di Lereng Gunung Arjuno-Welirang terbakar, ribuan hektar rusak. Sedangkan proses reboisasi belum sepenuhnya tuntas di kawasan hutan yang terdiri atas beragam jenis pohon rimba. “Baru bisa berapa persen yang pulih,” katanya. Dia pun makin khawatir bila rencana  mengalihfungsikan hutan seluas 22,5 hektar untuk perumahan elit terus berlanjut. Aksi ribuan warga di Tretes, Pasuruan menolak rencana pembangunan perumahan elit di lereng Gunung Arjuno-Welirang. Foto: Gema Duta. Priya katakan, semula, hutan itu berstatus hutan produksi kelolaan Perum Perhutani. Hutan produksi terdiri atas pohon mahoni (Swietenia macrophylla) dan pinus (Pinus merkusii). Kini, berubah jadi alokasi penggunaan lain di bawah  Badan Pertanahan Nasional (BPN), dan akan jadi  area permukiman. Para peserta aksi tak hanya berasal dari desa/kelurahan di Kecamatan Prigen yang memang berada di Kaki Arjuno-Welirang, seperti Desa Dayurejo, Kelurahan Pecalukan, Ledug, Prigen. Tetapi, juga warga desa yang selama ini menjadi langganan banjir. Seperti Beji. Para mahasiswa, pegiat lingkungan, dan pecinta alam juga bergabung untuk suarakan tuntutan sama. Menurut Priya, aksi itu sekaligus&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/04/alih-fungsi-hutan-perparah-banjir-pasuruan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/04/alih-fungsi-hutan-perparah-banjir-pasuruan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Harus Berpisah, Dua Anakan Kucing Kuwuk Korban Perdagangan Ilegal di Sumatera Selatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/04/harus-berpisah-dua-anakan-kucing-kuwuk-korban-perdagangan-ilegal-di-sumatera-selatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/04/harus-berpisah-dua-anakan-kucing-kuwuk-korban-perdagangan-ilegal-di-sumatera-selatan/#respond</comments>
					<pubDate>04 Apr 2026 00:49:35 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nopri Ismi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/04003957/Anakan-kucing-kuwuk-ini-diselamatkan-dari-upaya-perdagangan-satwa-liar-dilindungi-di-Palembang.-Foto-Humas-BKSDA-Sumsel-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126126</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Kucing Kuwuk]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Layaknya manusia, kehidupan anak kucing hutan juga sangat rentan bila terpisah dari induknya. Dampaknya, dapat berujung kematian. Hal ini dialami satu dari dua individu kucing kuwuk (Prionailurus bengalensis) yang menjadi korban perburuan dan perdagangan ilegal di Sumatera Selatan. Sempat menjalani perawatan intensif di Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) Punti Kayu Palembang, keduanya harus berpisah. “Satu individu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/04/harus-berpisah-dua-anakan-kucing-kuwuk-korban-perdagangan-ilegal-di-sumatera-selatan/">Harus Berpisah, Dua Anakan Kucing Kuwuk Korban Perdagangan Ilegal di Sumatera Selatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Layaknya manusia, kehidupan anak kucing hutan juga sangat rentan bila terpisah dari induknya. Dampaknya, dapat berujung kematian. Hal ini dialami satu dari dua individu kucing kuwuk (Prionailurus bengalensis) yang menjadi korban perburuan dan perdagangan ilegal di Sumatera Selatan. Sempat menjalani perawatan intensif di Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) Punti Kayu Palembang, keduanya harus berpisah. “Satu individu yang usianya satu minggu tidak selamat. Ia mati saat menjalani perawatan, tidak lama setelah diamankan dari pelaku,” kata Andre, Humas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan, saat ditemui di kantornya, Rabu (1/4/2026). Sementara itu, satu individu yang berusia tiga bulan lebih beruntung. Setelah menjalani perawatan sekitar satu bulan dan dinilai layak untuk dilepasliarkan, pada Februari lalu, ia kembali ke habitatnya di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Padang Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. “Keduanya berasal dari induk berbeda.” Bagi anakan kucing kuwuk, usia satu minggu adalah kondisi ia masih menerima asupan susu dan mendapat perawatan intensif dari sang induk. “Jika terpisah dari induknya, sangat rentan mati,” tuturnya. Anakan kucing kuwuk ini diselamatkan dari upaya perdagangan satwa liar dilindungi di Palembang. Foto: Dok. Humas BKSDA Sumsel Erwin Wilianto, peneliti konservasi independen yang fokus pada pelestarian kucing liar di Indonesia, mengatakan, berdasarkan pengalamannya di rescue center, survival rate anak kucing hutan cukup kecil. “Stres bisa jadi faktor utama. Selain itu, faktor nutrisi juga berpengaruh, karena kami menggunakan susu substitusi yang kurang sesuai. Namun, tidak menutup kemungkinan ada beberapa individu bisa selamat,” katanya, kepada Mongabay Indonesia, Jumat (3/4/2026). Untuk usia tiga bulan, biasanya sudah lepas sapih&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/04/harus-berpisah-dua-anakan-kucing-kuwuk-korban-perdagangan-ilegal-di-sumatera-selatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/04/harus-berpisah-dua-anakan-kucing-kuwuk-korban-perdagangan-ilegal-di-sumatera-selatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ikan Endemik: Krisis Habitat di Perairan Nusantara</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/04/ikan-endemik-krisis-habitat-di-perairan-nusantara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/04/ikan-endemik-krisis-habitat-di-perairan-nusantara/#respond</comments>
					<pubDate>04 Apr 2026 00:41:39 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/12/22031901/Wild-Betta-Schalleri-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=126127</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Ikan Endemik: Krisis Habitat di Perairan Nusantara]]>
						</reporting-project>
					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ekosistem perairan tawar dan pesisir Indonesia sedang berada di titik kritis akibat himpitan limbah industri, sampah domestik, dan invasi spesies asing yang mengancam keberadaan ikan endemik di habitat aslinya. Dari Sungai Mahakam hingga Danau Sentani, terungkap realitas pahit mengenai penyusutan populasi spesies unik seperti ikan bilih, lempuk, hingga banggai cardinal yang kian terdesak ke ambang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/04/ikan-endemik-krisis-habitat-di-perairan-nusantara/">Ikan Endemik: Krisis Habitat di Perairan Nusantara</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ekosistem perairan tawar dan pesisir Indonesia sedang berada di titik kritis akibat himpitan limbah industri, sampah domestik, dan invasi spesies asing yang mengancam keberadaan ikan endemik di habitat aslinya. Dari Sungai Mahakam hingga Danau Sentani, terungkap realitas pahit mengenai penyusutan populasi spesies unik seperti ikan bilih, lempuk, hingga banggai cardinal yang kian terdesak ke ambang kepunahan. Fenomena sedimentasi, polusi berat di sungai-sungai Jawa, serta dominasi predator introduksi seperti arapaima menjadi tantangan berat bagi upaya konservasi yang sedang dipacu. Penyelamatan identitas ekologis nusantara bukan sekadar urusan teknis perikanan, melainkan perjuangan kolektif untuk memulihkan nadi kehidupan di dasar sungai dan danau sebelum seluruh kekayaan hayati tersebut benar-benar menjadi riwayat yang hilang. The post Ikan Endemik: Krisis Habitat di Perairan Nusantara appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/04/ikan-endemik-krisis-habitat-di-perairan-nusantara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/04/ikan-endemik-krisis-habitat-di-perairan-nusantara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Misteri Pulau Culasawani. Awalnya Diduga Endapan Tsunami, Ternyata Pulau Hasil Sisa Makan Manusia 1.200 Tahun Silam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/03/misteri-pulau-culasawani-awalnya-diduga-endapan-tsunami-ternyata-pulau-hasil-sisa-makan-manusia-1-200-tahun-silam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/03/misteri-pulau-culasawani-awalnya-diduga-endapan-tsunami-ternyata-pulau-hasil-sisa-makan-manusia-1-200-tahun-silam/#respond</comments>
					<pubDate>03 Apr 2026 23:27:02 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/03232615/new-island-off-the-coast-of-fiji-l-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126122</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di balik rimbunnya hutan mangrove di lepas pantai Pulau Vanua Levu, negara Fiji, terdapat sebuah daratan kecil seluas 3.000 meter persegi yang ternyata menyimpan rahasia ribuan tahun. Selama ini, para peneliti menduga pulau rendah tersebut hanyalah tumpukan sedimen sisa terjangan tsunami purba yang membeku oleh waktu. Namun, sebuah studi terbaru yang terbit di jurnal Geoarchaeology [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/03/misteri-pulau-culasawani-awalnya-diduga-endapan-tsunami-ternyata-pulau-hasil-sisa-makan-manusia-1-200-tahun-silam/">Misteri Pulau Culasawani. Awalnya Diduga Endapan Tsunami, Ternyata Pulau Hasil Sisa Makan Manusia 1.200 Tahun Silam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di balik rimbunnya hutan mangrove di lepas pantai Pulau Vanua Levu, negara Fiji, terdapat sebuah daratan kecil seluas 3.000 meter persegi yang ternyata menyimpan rahasia ribuan tahun. Selama ini, para peneliti menduga pulau rendah tersebut hanyalah tumpukan sedimen sisa terjangan tsunami purba yang membeku oleh waktu. Namun, sebuah studi terbaru yang terbit di jurnal Geoarchaeology pada Maret 2026 justru mengungkap fakta yang jauh lebih mengejutkan. Daratan ini ternyata bukan terbentuk oleh amukan alam. Ia adalah sebuah &#8220;pulau sampah&#8221; raksasa yang lahir secara tidak sengaja dari sisa-sisa jamuan makan malam manusia sejak 1.200 tahun silam. Awalnya, para ilmuwan menduga kuat bahwa pulau ini terbentuk akibat amukan geologi dari Fiji Fracture Zone, sebuah zona sesar transformasi aktif di dasar samudra yang mempertemukan Lempeng Pasifik dan Lempeng Australia, di mana pergeseran tektoniknya sering memicu gempa dangkal serta tsunami dahsyat yang mampu menghempaskan material laut jauh ke daratan Vanua Levu. Namun, saat tim peneliti pimpinan Patrick D. Nunn mulai melakukan penggalian dan survei geoarkeologi yang lebih teliti, teori bencana alam tersebut perlahan runtuh. Hasil analisis menunjukkan bahwa sekitar 70 hingga 90 persen material pembentuk pulau ini terdiri dari cangkang kerang yang bisa dimakan. Jenisnya sangat spesifik, didominasi oleh kerang darah (Anadara antiquata) dan berbagai spesies kerang bakau. Para peneliti tidak menemukan campuran pasir laut acak atau fragmen terumbu karang mati yang biasanya menjadi ciri khas deposit tsunami. Menariknya, kepiting bakau (Scylla serrata) yang membuat lubang di sana tanpa sengaja membantu kerja para ilmuwan. Hewan ini mendorong material dari kedalaman 50 sentimeter ke permukaan tanah.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/03/misteri-pulau-culasawani-awalnya-diduga-endapan-tsunami-ternyata-pulau-hasil-sisa-makan-manusia-1-200-tahun-silam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/03/misteri-pulau-culasawani-awalnya-diduga-endapan-tsunami-ternyata-pulau-hasil-sisa-makan-manusia-1-200-tahun-silam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Keong Darat Endemik Sumatera Selatan, Spesies Baru yang Terabaikan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/03/keong-darat-endemik-sumatera-selatan-spesies-baru-yang-terabaikan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/03/keong-darat-endemik-sumatera-selatan-spesies-baru-yang-terabaikan/#respond</comments>
					<pubDate>03 Apr 2026 10:14:27 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nopri Ismi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/03100827/Chamalycaeus-dayangmerindu-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126106</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ekosistem karst merupakan wilayah penting sekaligus rapuh. Ia terkenal karena kemampuannya menyediakan air minum bagi lebih 20 persen populasi global, serta menjadi rumah sejumlah spesies unik dan penting, yang menjaga ekosistem tetap sehat. Awal Maret 2026, sekelompok peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil menemukan serta mendeskripsikan satu spesies baru keong darat, yang sejauh [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/03/keong-darat-endemik-sumatera-selatan-spesies-baru-yang-terabaikan/">Keong Darat Endemik Sumatera Selatan, Spesies Baru yang Terabaikan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ekosistem karst merupakan wilayah penting sekaligus rapuh. Ia terkenal karena kemampuannya menyediakan air minum bagi lebih 20 persen populasi global, serta menjadi rumah sejumlah spesies unik dan penting, yang menjaga ekosistem tetap sehat. Awal Maret 2026, sekelompok peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil menemukan serta mendeskripsikan satu spesies baru keong darat, yang sejauh ini hanya tercatat di Sumatera Selatan. Ia dinamakan Chamalycaeus dayangmerindu, termasuk kelompok keong Caenogastropoda yang memiliki tutup cangkang (aperture). Dari namanya, keong ini ditemukan di kawasan Karst Padang Bindu, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan –yang terkait cerita legenda Putri Dayang Merindu. Dalam publikasi di jurnal ZooKeys, dayangmerindu menambah keanekaragaman Cyclophoroidea yang awalnya memiliki 90 spesies. Dari jumlah tersebut, 29 spesies (termasuk 9 subspesies) sudah lebih dulu dianggap endemik. “Temuan ini menekankan keanekaragaman hayati unik di wilayah tersebut,” tulis Aulia dan kolega (2026), dalam laporan berjudul “Operculate land snails (Gastropoda, Caenogastropoda, Cyclophoroidea) from Padang Bindu Karst, South Sumatra, Indonesia with the description of a new species, Chamalycaeus dayangmerindu.” Selama penelitian, sebanyak 3.780 spesimen Cyclophoroidea dikumpulkan dari karst Padang Bindu yang terdiri tiga gua, yakni Gua Harimau, Gua Putri dan Gua Selabe. Selain dayangmerindu, para peneliti juga menemukan empat spesies endemik Sumatera, yakni Diplommatina liwaensis Aldrich, 1898; Diplommatina wilhelminae Maassen, 2002; Plectostoma kitteli Maassen, 2002 (subfamili Diplommatininae); serta Chamalycaeus dayangmerindu sp. nov. (subfamili Alycaeninae). Ayu Savitri Nurinsiyah, salah satu penulis sekaligus peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN mengatakan, seperti spesies keong darat lainnya, dayangmerindu termasuk kelompok &#8220;neglected species&#8221; atau spesies terabaikan yang jarang diteliti, namun&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/03/keong-darat-endemik-sumatera-selatan-spesies-baru-yang-terabaikan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/03/keong-darat-endemik-sumatera-selatan-spesies-baru-yang-terabaikan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hari ini adalah Hari Jane Goodall. Gerakannya Terus Berlanjut</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/03/hari-ini-adalah-hari-jane-goodall-gerakannya-terus-berlanjut/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/03/hari-ini-adalah-hari-jane-goodall-gerakannya-terus-berlanjut/#respond</comments>
					<pubDate>03 Apr 2026 07:32:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rhett A. Butler]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Profil]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/03072845/Jane-goodall-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126099</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[tokoh]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tanggal 3 April kini memiliki makna yang berbeda. Selama ini dikenal sebagai hari ulang tahun Jane Goodall. Kini, tanggal ini juga menjadi momen untuk mengajak orang tidak hanya mengenangnya, tetapi melakukan sesuatu dari apa yang telah ia mulai. Gagasan di balik Hari Jane Goodall sederhana: lakukan satu tindakan. Bisa kecil, tetapi harus nyata. Tujuannya adalah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/03/hari-ini-adalah-hari-jane-goodall-gerakannya-terus-berlanjut/">Hari ini adalah Hari Jane Goodall. Gerakannya Terus Berlanjut</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tanggal 3 April kini memiliki makna yang berbeda. Selama ini dikenal sebagai hari ulang tahun Jane Goodall. Kini, tanggal ini juga menjadi momen untuk mengajak orang tidak hanya mengenangnya, tetapi melakukan sesuatu dari apa yang telah ia mulai. Gagasan di balik Hari Jane Goodall sederhana: lakukan satu tindakan. Bisa kecil, tetapi harus nyata. Tujuannya adalah melihat kehidupan dan warisan Goodall sebagai sesuatu yang masih berjalan, serta menguji apakah kebiasaan yang ia dorong dapat terus hidup melalui orang lain. Pendekatan ini terasa tepat. Goodall menolak anggapan bahwa karyanya hanya miliknya sendiri. Bahkan di puncak pengakuan, ia mengarahkan perhatian ke luar—ke hutan yang ia teliti, simpanse yang ia bantu perlihatkan kehidupannya, dan orang-orang yang akan menentukan langkah selanjutnya. Di kemudian hari, ketika ditanya bagaimana ia ingin dikenang, ia kembali pada dua hal: mengubah cara kita memandang hewan dan mendirikan Roots &amp; Shoots. Hal kedua ini lebih penting daripada yang terlihat. Roots &amp; Shoots dirancang sebagai cara untuk membagi tanggung jawab. Program ini mendorong anak muda—dan kemudian orang dewasa—untuk melihat lingkungan sekitar dan bertindak berdasarkan apa yang mereka temukan. Tidak memerlukan izin dan dapat dimulai dari skala apa pun. Premisnya sederhana: kemampuan untuk bertindak dimulai dari tingkat lokal dan berkembang melalui pengulangan. Jane Goodall | Foto oleh Moby Anna Rathmann, Direktur Jane Goodall Institute di Amerika Serikat, menggambarkan Hari Jane Goodall dengan cara serupa. Tujuannya, katanya, adalah “mewujudkan” keyakinan bahwa setiap orang dapat membuat perbedaan, dengan mengajak orang melakukan satu tindakan yang bermanfaat bagi manusia, satwa, dan lingkungan. Ini berfungsi sebagai pembuktian bahwa&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/03/hari-ini-adalah-hari-jane-goodall-gerakannya-terus-berlanjut/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/03/hari-ini-adalah-hari-jane-goodall-gerakannya-terus-berlanjut/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Laporan Ungkap Jaringan Kejahatan Satwa Kian Massif</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/03/jaringan-kejahatan-satwa-kian-massif-dari-hiu-hingga-serangga/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/03/jaringan-kejahatan-satwa-kian-massif-dari-hiu-hingga-serangga/#respond</comments>
					<pubDate>03 Apr 2026 04:30:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[A. Asnawi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[satwa liar]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/02164537/WhatsApp-Image-2026-04-02-at-09.43.55-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126085</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan surabaya]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, politik dan hukum, dan satwa liar]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Perdagangan satwa dan tumbunan ilegal terus meningkat, meski “Operasi Thunder 2025” yang secara global untuk memerangi kejahatan ini kian gencar dilakukan di banyak negara. Hasil penyitaan  otoritas keamanan bahkan mencapai rekor terbarunya dengan lebih dari 30.000 hewan hidup dan 1.100 tersangka. Interpol dalam siaran persnya menyebut, selama September-Oktober 2025, lembaga penegak hukum yang terdiri dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/03/jaringan-kejahatan-satwa-kian-massif-dari-hiu-hingga-serangga/">Laporan Ungkap Jaringan Kejahatan Satwa Kian Massif</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Perdagangan satwa dan tumbunan ilegal terus meningkat, meski “Operasi Thunder 2025” yang secara global untuk memerangi kejahatan ini kian gencar dilakukan di banyak negara. Hasil penyitaan  otoritas keamanan bahkan mencapai rekor terbarunya dengan lebih dari 30.000 hewan hidup dan 1.100 tersangka. Interpol dalam siaran persnya menyebut, selama September-Oktober 2025, lembaga penegak hukum yang terdiri dari polisi, bea cukai, keamanan perbatasan dan kehutanan di 134 negara telah melakukan 4.640 penyitaan. Jumlah itu termasuk puluhan ribu hewan dan tumbuhan lindung, serta puluhan ribu meter kubik kayu ilegal dan 30 ton spesies terancam punah. “Sebagian besar perdagangan satwa liar melibatkan sisa-sisa, bagian dan turunan hewan yang sering digunakan dalam pengobatan tradisional atau makanan khusus,” tulis Interpol dalam keterangannya,  belum lama ini. Perhitungan sementara Interpol memperkirakan, nilai perdagangan satwa liar ini mencapai US$20 miliar. Namun, karena sifat kejahatan ini yang berlangsung rahasia dan sembunyi-sembunyi, Interpol meyakini angka itu  tidak mencerminkan nilai yang sebenarnya. Seekor laba-laba Mexico yang diselundupkan ke Thailand. Foto: Interpol/WCO. Laporan itu  mengungkap beberapa pencapaian dari operasi atas koordinasi Interpol dan Organisasi Bea Cukai Dunia (World Custom Organization/WCO). Secara global, operasi yang mendapat dukungan dari Konsorsium Internasional untuk Memerangi Kejahatan Satwa Liar (The International Consortium on Combating Wildlife Crime/ICCWC) ini berhasil mencegat 5,8 ton daging satwa liar dengan peningkatan kasus signifikan di Afrika ke Eropa. Operasi juga menyasar perdagangan spesies laut dengan lebih dari 245 ton satwa liar laut berstatus lindung. Termasuk, 4.000 potong sirip hiu. Hal lain yang mendapat perhatian Interpol adalah tren perdagangan spesies kecil yang cenderung meningkat. Misal, perdagangan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/03/jaringan-kejahatan-satwa-kian-massif-dari-hiu-hingga-serangga/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/03/jaringan-kejahatan-satwa-kian-massif-dari-hiu-hingga-serangga/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Antara Ritual dan Perubahan: Kisah Sikerei dan Masa Depan Bilou di Siberut</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/03/antara-ritual-dan-perubahan-kisah-sikerei-dan-masa-depan-bilou-di-siberut/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/03/antara-ritual-dan-perubahan-kisah-sikerei-dan-masa-depan-bilou-di-siberut/#respond</comments>
					<pubDate>03 Apr 2026 02:58:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Jaka Hendra Baittri]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[ridzki.sigit]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/03023908/Hylobates_klossii_B-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126094</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan Indoesia, kera besar, Masyarakat Adat, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Mantaola Siritoitet, adalah seorang sikerei di Desa Matotonan, Siberut Selatan, Sumatera Barat. Sebagai seorang sikerei atau penyembuh di dalam alam spritual Mentawai, dia dipercaya menjaga keseimbangan dan perantara antara dua alam, yaitu dunia manusia, dan dunia roh. Dalam menjalankan peran yang tidak sembarang orang bisa lakukan ini, seorang sikerei juga memiliki pantangan yang harus dilaksanakan. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/03/antara-ritual-dan-perubahan-kisah-sikerei-dan-masa-depan-bilou-di-siberut/">Antara Ritual dan Perubahan: Kisah Sikerei dan Masa Depan Bilou di Siberut</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Mantaola Siritoitet, adalah seorang sikerei di Desa Matotonan, Siberut Selatan, Sumatera Barat. Sebagai seorang sikerei atau penyembuh di dalam alam spritual Mentawai, dia dipercaya menjaga keseimbangan dan perantara antara dua alam, yaitu dunia manusia, dan dunia roh. Dalam menjalankan peran yang tidak sembarang orang bisa lakukan ini, seorang sikerei juga memiliki pantangan yang harus dilaksanakan. &#8220;Ada tiga pantangan yang selalu diturunkan ketika orang menjadi sikerei. Yaitu, pantang makan daging bilou, sayur paku (pakis), dan belut,&#8221; sebutnya kepada Mongabay Indonesia dalam bahasa Mentawai. &#8220;Kalau kami makan [ketiga pantang tadi], kami bisa meninggal.&#8221; Bilou (Hylobates klossii) sendiri adalah primata endemik Mentawai, yang memiliki ciri tubuh kecil berbulu gelap, tidak berekor, serta bergerak berayun di pepohonan dan bersuara nyaring. Dalam status daftar merah dari International Union for Conservation of Nature (IUCN), satwa ini dikategorikan terancam punah (Endangered), akibat deforestasi dan perburuan. Mantaola tidak memungkiri jika dalam beberapa praktik ritual adat, perburuan adat tetap dilakukan untuk menandai siklus hidup. Meski demikian, Mantaola menyebut perburuan liar dilarang secara adat, karena manusia tidak bisa berbuat seenaknya yang dapat mengganggu keseimbangan antar unsur alam. Mantaola sendiri masih mempertahankan cara berburu tradisionalnya, yaitu panah yang diolesi dengan racun di ujung busurnya. Dia sendiri menyebut metode berburu lama lebih baik daripada yang saat ini banyak dilakukan banyak orang. “Menurut saya, cara yang lama lebih bagus daripada yang sekarang,” katanya. Semakin berkurangnya bilou juga dikonfirmasi oleh seorang sikerei lain, Walter Samelelu, asal Desa Rogdok. “Dulu masih mudah mendapatkan hasil buruan. Tapi kalau sekarang sudah sulit,” sebut Walter. “Ditambah sekarang kami&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/03/antara-ritual-dan-perubahan-kisah-sikerei-dan-masa-depan-bilou-di-siberut/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/03/antara-ritual-dan-perubahan-kisah-sikerei-dan-masa-depan-bilou-di-siberut/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Pohon Tertua di Dunia Berusia Lebih dari 5.000 Tahun Ini Terancam Kehausan di Habitatnya Sendiri</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/03/pohon-tertua-di-dunia-berusia-lebih-dari-5-000-tahun-ini-terancam-kehausan-di-habitatnya-sendiri/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/03/pohon-tertua-di-dunia-berusia-lebih-dari-5-000-tahun-ini-terancam-kehausan-di-habitatnya-sendiri/#respond</comments>
					<pubDate>03 Apr 2026 01:19:02 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/03010921/647d26b0850286fdbc_IMG_5252-crop-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126090</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di balik rimbunnya hutan hujan beriklim sedang di Taman Nasional Alerce Costero, Chile, berdiri sebuah organisme tunggal yang telah bertahan hidup selama lebih dari lima milenia. Pohon alerce (Fitzroya cupressoides) yang secara lokal dikenal sebagai Gran Abuelo (secara harfiah berarti Kakek Tua) atau Alerce Milenario (Alerce Seribu Tahun), saat ini sedang menjadi perhatian utama dalam [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/03/pohon-tertua-di-dunia-berusia-lebih-dari-5-000-tahun-ini-terancam-kehausan-di-habitatnya-sendiri/">Pohon Tertua di Dunia Berusia Lebih dari 5.000 Tahun Ini Terancam Kehausan di Habitatnya Sendiri</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di balik rimbunnya hutan hujan beriklim sedang di Taman Nasional Alerce Costero, Chile, berdiri sebuah organisme tunggal yang telah bertahan hidup selama lebih dari lima milenia. Pohon alerce (Fitzroya cupressoides) yang secara lokal dikenal sebagai Gran Abuelo (secara harfiah berarti Kakek Tua) atau Alerce Milenario (Alerce Seribu Tahun), saat ini sedang menjadi perhatian utama dalam komunitas sains internasional.  Pohon alerce adalah spesies konifer raksasa dari famili Cupressaceae yang memiliki pertumbuhan sangat lambat dan kayu kaya tanin sehingga sangat resistan terhadap pembusukan selama ribuan tahun. Raksasa purba ini bukan sekadar vegetasi tua, melainkan penyintas dari era ketika peradaban manusia baru mulai mengenal tulisan di Mesopotamia. Namun, meski telah melewati ribuan tahun sejarah bumi, kondisi kesehatan pohon ini dilaporkan kian kritis di tengah habitat aslinya akibat tekanan lingkungan yang meningkat. Jonathan Barichivich, seorang peneliti lingkungan dari Laboratorium Ilmu Iklim dan Lingkungan di Paris, mengungkapkan bahwa pohon ini kemungkinan besar memegang rekor sebagai organisme tunggal tertua yang masih hidup di planet ini. Berdasarkan pemodelan statistik yang menggabungkan data cincin pertumbuhan parsial dengan faktor lingkungan, Barichivich mengestimasi usia Gran Abuelo telah mencapai 5.484 tahun. Jika angka ini tervalidasi secara penuh melalui konsensus ilmiah, ia akan secara resmi melampaui rekor pinus bristlecone bernama &#8220;Methuselah&#8221; di California yang saat ini tercatat berusia 4.853 tahun. Meskipun memiliki fisik yang masif dengan diameter batang mencapai lebih dari empat meter, pohon ini menyimpan kerentanan yang serius. Penemuan ilmiah terbaru menunjukkan bahwa sang raksasa sedang berjuang melawan dehidrasi kronis yang tidak terjadi secara alami. Masalah kesehatan ini dipicu langsung oleh aktivitas&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/03/pohon-tertua-di-dunia-berusia-lebih-dari-5-000-tahun-ini-terancam-kehausan-di-habitatnya-sendiri/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/03/pohon-tertua-di-dunia-berusia-lebih-dari-5-000-tahun-ini-terancam-kehausan-di-habitatnya-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jalan Terjal Desa Tepal Wujudkan Kemandirian Energi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/02/jalan-terjal-desa-tepal-wujudkan-kemandirian-energi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/02/jalan-terjal-desa-tepal-wujudkan-kemandirian-energi/#respond</comments>
					<pubDate>02 Apr 2026 13:16:43 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ahmad H Ramdhani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/02052245/Salinan-Suasana-malam-di-Desa-Tepal-yang-sudah-teraliri-listrik-PLTMH-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126065</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara barat dan sumbawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hujan turun deras di lereng pegunungan Batu Lanteh malam itu, Selasa (10/3/26) yang membuat listrik tiba-tiba padam. Jalan setapak yang menghubungkan rumah-rumah warga Desa Tepal berubah licin. Berbekal lampu senter, Jupri melangkah cepat menyusuri hutan menuju rumah turbin Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH). Bagi Jupri, ini bukan hal baru. Ketika listrik mati, dia harus memastikan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/02/jalan-terjal-desa-tepal-wujudkan-kemandirian-energi/">Jalan Terjal Desa Tepal Wujudkan Kemandirian Energi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hujan turun deras di lereng pegunungan Batu Lanteh malam itu, Selasa (10/3/26) yang membuat listrik tiba-tiba padam. Jalan setapak yang menghubungkan rumah-rumah warga Desa Tepal berubah licin. Berbekal lampu senter, Jupri melangkah cepat menyusuri hutan menuju rumah turbin Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH). Bagi Jupri, ini bukan hal baru. Ketika listrik mati, dia harus memastikan turbin tetap berputar agar ratusan rumah di desa itu kembali terang. Dia melewati semak dan sungai yang meluap akibat hujan. Dari kejauhan, suara gemuruh air bercampur derit mesin turbin yang mulai melemah. Jarak antara perkampungan dengan rumah turbin sekitar 2,5 kilometer. Beberapa menit kemudian, dia tiba di bangunan kecil yang menjadi jantung listrik desa. Di dalamnya berdiri generator dan turbin yang selama 18 tahun menyuplai energi bagi 270 dari 345 keluarga di Desa Tepal. Dia memeriksa saluran air dan sistem turbin yang tersumbat ranting dan sampah. “Kalau hujan begini biasanya ada sampah masuk ke turbin. Kalau tidak cepat dibersihkan, listrik bisa mati lama,” katanya sambil membuka rumah mesin. Pembangunan PLTMH ini pada 2009, berawal dari inisiatif warga yang mengajukan permohonan listrik, bertepatan dengan program Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. PLTMH pertama beroperasi. Keberhasilan itu mendorong  PLTMH kedua pada 2013 dengan dukungan Kementerian Koperasi. Pengelolaannya oleh koperasi, membuat operasional lebih stabil. Iuran listrik berdasarkan beban pemakaian, rata-rata berkisar Rp60.000–Rp70.000 per bulan. Sebagian teralokasi untuk perawatan, meski kerap belum mencukupi. Namun, melalui gotong royong, warga tetap menjaga sistem ini tetap berjalan dan terus memberi terang bagi desa. Sebelum ada listrik, warga mengandalkan lampu minyak tanah. Malam&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/02/jalan-terjal-desa-tepal-wujudkan-kemandirian-energi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/02/jalan-terjal-desa-tepal-wujudkan-kemandirian-energi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Fenomena langka dan Menyeramkan saat langit berwarna merah darah: &#8220;Kiamat&#8221; Debu Australia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/02/fenomena-langka-dan-menyeramkan-saat-langit-berwarna-merah-darah-kiamat-debu-australia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/02/fenomena-langka-dan-menyeramkan-saat-langit-berwarna-merah-darah-kiamat-debu-australia/#respond</comments>
					<pubDate>02 Apr 2026 11:24:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/02111720/57c10ffecf5e756e3cf1c96e1cbde3dc-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126078</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pemandangan langit berwarna merah darah yang menyelimuti wilayah Shark Bay, Australia Barat, mendadak viral di jagat maya dan mendominasi pemberitaan media internasional. Fenomena yang tampak seperti adegan film apokaliptik ini memicu perbincangan global serta kekhawatiran mengenai kondisi lingkungan di wilayah gersang yang semakin ekstrem. Warga setempat menggambarkan suasana tersebut sebagai momen yang mencekam, di mana [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/02/fenomena-langka-dan-menyeramkan-saat-langit-berwarna-merah-darah-kiamat-debu-australia/">Fenomena langka dan Menyeramkan saat langit berwarna merah darah: &#8220;Kiamat&#8221; Debu Australia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pemandangan langit berwarna merah darah yang menyelimuti wilayah Shark Bay, Australia Barat, mendadak viral di jagat maya dan mendominasi pemberitaan media internasional. Fenomena yang tampak seperti adegan film apokaliptik ini memicu perbincangan global serta kekhawatiran mengenai kondisi lingkungan di wilayah gersang yang semakin ekstrem. Warga setempat menggambarkan suasana tersebut sebagai momen yang mencekam, di mana udara terasa penuh dengan butiran pasir yang masuk ke mata dan tenggorokan. Meskipun pemandangan ini terlihat menyeramkan dan seolah menjadi pertanda buruk, para ahli meteorologi memastikan bahwa fenomena ini murni merupakan hasil interaksi sains atmosfer yang dipicu oleh aktivitas Siklon Tropis Narelle. Kombinasi antara kekuatan angin badai dan karakteristik geologi unik Benua Kanguru telah menciptakan pemandangan alam paling dramatis sekaligus menyeramkan yang pernah terekam kamera. Badai Debu Berwarna Merah Fenomena langka ini terjadi akibat kombinasi unik antara geografi Australia yang kaya mineral dan dinamika cuaca ekstrem. Wilayah utara Australia Barat dikenal memiliki tanah yang sangat kaya akan oksida besi atau karat alami. Selama jutaan tahun, proses oksidasi telah mengubah tanah di Pilbara dan Gascoyne menjadi merah pekat. Saat Siklon Narelle mendekati daratan, angin kencang di bagian luar sistem badai tersebut mulai menyapu permukaan tanah yang kering. Kecepatan angin yang tinggi secara literal mengikis partikel karat dari butiran pasir gurun dan mengangkatnya ke atmosfer. Pakar debu dari University of Texas, Tom Gill, mencatat bahwa konsentrasi debu ini termasuk yang paling ekstrem yang pernah terpantau secara ilmiah. Lampu jalan yang menyala di siang hari menunjukkan betapa pekatnya debu merah yang menyelimuti kota pesisir Australia Barat. Partikel tanah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/02/fenomena-langka-dan-menyeramkan-saat-langit-berwarna-merah-darah-kiamat-debu-australia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/02/fenomena-langka-dan-menyeramkan-saat-langit-berwarna-merah-darah-kiamat-debu-australia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Adakah Wilayah Bebas Konflik Buaya Muara di Bangka Belitung?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/02/adakah-wilayah-bebas-konflik-buaya-muara-di-bangka-belitung/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/02/adakah-wilayah-bebas-konflik-buaya-muara-di-bangka-belitung/#respond</comments>
					<pubDate>02 Apr 2026 09:30:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Taufik Wijaya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/02061934/Hampir-semua-wilayah-lahan-basah-di-Kepulauan-Bangka-Belitung-terjadi-konflik-manusia-dengan-buaya-muara.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126072</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Jejak Buaya Muara dan Habitat yang Terkikis]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[bangka belitung]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Lahan Basah, Pertambangan, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Selama tiga tahun terakhir, konflik manusia dengan buaya muara (Crocodylus porosus) terjadi di semua kabupaten dan kota di Kepulauan Bangka Belitung. Apakah ini salah satu tanda puncak kerusakan bentang alam di kepulauan yang luas daratannya 1,6 juta hektar? Berdasarkan data Alobi Foundation, dari 2024, 2025, dan awal 2026, tercatat Kabupaten Bangka dengan jumlah konflik tertinggi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/02/adakah-wilayah-bebas-konflik-buaya-muara-di-bangka-belitung/">Adakah Wilayah Bebas Konflik Buaya Muara di Bangka Belitung?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Selama tiga tahun terakhir, konflik manusia dengan buaya muara (Crocodylus porosus) terjadi di semua kabupaten dan kota di Kepulauan Bangka Belitung. Apakah ini salah satu tanda puncak kerusakan bentang alam di kepulauan yang luas daratannya 1,6 juta hektar? Berdasarkan data Alobi Foundation, dari 2024, 2025, dan awal 2026, tercatat Kabupaten Bangka dengan jumlah konflik tertinggi (24 kasus). Berikutnya, Kabupaten Bangka Selatan (16 kasus), Kota Pangkalpinang (12 kasus), Kabupaten Bangka Barat (7 kasus), Kabupaten Bangka Tengah (5 kasus), Kabupaten Belitung (4 kasus), dan Kabupaten Belitung Timur (3 kasus). Merawang di Kabupaten Bangka merupakan kecamatan dengan konfli tertinggi (10 kasus), diikuti Kecamatan Toboali di Kabupaten Bangka Selatan (6 kasus), dan Kecamatan Mendo Barat di Kabupaten Bangka (5 kasus). Sedangkan desa yang sering mengalami konflik adalah Desa Serdang dan Desa Sungaiselan di Kabupaten Bangka Selatan serta Desa Menduk di Kabupaten Bangka. “Konflik manusia dengan buaya muara terjadi di semua kabupaten dan kota di Kepulauan Bangka Belitung. Sejak 2008, konflik terjadi setiap tahun. Ini menunjukkan konflik manusia dengan buaya muara di provinsi ini sangat serius untuk diatasi. Sebab, bukan hanya memakan korban jiwa manusia, juga kematian beberapa individu buaya muara,” terang Endi R Yusuf, Manager PPS (Pusat Penyelamatan Satwa) Alobi Foundation, Kamis (23/3/2026). Tercatat, 12 buaya muara mati dan 21 manusia meninggal dunia. Puluhan manusia dan buaya muara mengalami luka-luka. Hampir semua wilayah lahan basah di Kepulauan Bangka Belitung terjadi konflik manusia dengan buaya muara. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia Merawang adalah wilayah yang sebagian besar berupa lahan basah dan perbukitan. Lahan basah di Merawang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/02/adakah-wilayah-bebas-konflik-buaya-muara-di-bangka-belitung/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/02/adakah-wilayah-bebas-konflik-buaya-muara-di-bangka-belitung/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Industri Nikel Indonesia Harus Berbenah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/02/industri-nikel-indonesia-harus-berbenah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/02/industri-nikel-indonesia-harus-berbenah/#respond</comments>
					<pubDate>02 Apr 2026 06:20:02 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/11/05020323/FOTO-IQBAL-LUBIS_Pabrik-nikel-dalam-KIBA-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126071</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pencemaran, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Di tengah ambisi global menuju dekarbonisasi melalui kendaraan listrik, wajah industri nikel Indonesia justru menampilkan potret kontras. Sebagai produsen nikel dunia, Indonesia kini terjebak dalam pusaran produksi berlebih (oversupply) dan harus bayar mahal dengan kerusakan lingkungan,  lepasan emisi karbon sampai kesusahan masyarakat bahkan bencana. Arianto Sangadji, peneliti dari Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat (AEER), [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/02/industri-nikel-indonesia-harus-berbenah/">Industri Nikel Indonesia Harus Berbenah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Di tengah ambisi global menuju dekarbonisasi melalui kendaraan listrik, wajah industri nikel Indonesia justru menampilkan potret kontras. Sebagai produsen nikel dunia, Indonesia kini terjebak dalam pusaran produksi berlebih (oversupply) dan harus bayar mahal dengan kerusakan lingkungan,  lepasan emisi karbon sampai kesusahan masyarakat bahkan bencana. Arianto Sangadji, peneliti dari Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat (AEER), mengatakan, dominasi Indonesia dalam pasar nikel dunia mencapai titik yang mengkhawatirkan. Pada 2025, Indonesia berkontribusi sekitar 64% dari total produksi nikel olahan dunia. Angka ini akan terus merangkak naik. “Intinya, Indonesia hari ini adalah produsen utama nikel di dunia. Namun, statistik menunjukkan adanya kondisi oversupply di pasar global,” katanya dalam media briefing AEER. Menurut data International Nickel Studies Group, surplus nikel dunia bakal meningkat dari 209.000 ton pada 2025 jadi 261.000 ton dalam 2026. Pasokan melimpah ini, berimbas langsung pada jatuhnya harga nikel di pasar internasional hingga menyentuh angka US$14.125 per ton akhir tahun lalu.  Meskipun berangsur ada kenaikan fluktuatif dalam 2026,  kini pada kisaran US$17.000 per ton. Paradoks terbesar muncul dari sektor hulu. Teknologi high pressure acid leaching (HPAL) yang dielu-elukan sebagai kunci pemrosesan bijih nikel limonite menjadi bahan baku baterai kendaraan listrik (MHP), ternyata menyisakan jejak karbon yang sangat dalam. Arianto memaparkan,  betapa polutifnya proses ini. Untuk memproduksi satu ton nikel pig iron (NPI) dengan teknologi rotary kiln electric furnace (RKEF), emisi mencapai 40-120 ton CO2. Dengan teknologi HPAL, meski lebih hemat energi, tetap menghasilkan 18-33 ton CO2 untuk setiap ton mixed hydroxide precipitate (MHP) atau produk antara nikel-kobalt hasil pengolahan bijih laterit.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/02/industri-nikel-indonesia-harus-berbenah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/02/industri-nikel-indonesia-harus-berbenah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>BRIN Ingatkan Ancaman El Nino &#8216;Godzilla&#8217;  di Indonesia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/02/brin-ingatkan-ancaman-elnino-godzilla-apa-dampaknya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/02/brin-ingatkan-ancaman-elnino-godzilla-apa-dampaknya/#respond</comments>
					<pubDate>02 Apr 2026 02:31:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Luh De Suriyani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/03/22003922/Pertanian-5-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126046</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bali dan Denpasar]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan pencemaran]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Putu Winarta dan Nengah Sinreg sibuk di tengah pematang. Di bawah cuaca yang begitu terik, pasangan suami istri tengah memanen bayam di pinggiran utara Kota Denpasar, Bali,  Senin (30/3/26) sekitar pukul 08.00. Sayur-sayur mereka ikat seukuran kepalan tangan dan mencucinya di saluran irigasi. Hasil panen ini mereka jual di Pasar Badung. Walau panen bayam dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/02/brin-ingatkan-ancaman-elnino-godzilla-apa-dampaknya/">BRIN Ingatkan Ancaman El Nino &#8216;Godzilla&#8217;  di Indonesia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Putu Winarta dan Nengah Sinreg sibuk di tengah pematang. Di bawah cuaca yang begitu terik, pasangan suami istri tengah memanen bayam di pinggiran utara Kota Denpasar, Bali,  Senin (30/3/26) sekitar pukul 08.00. Sayur-sayur mereka ikat seukuran kepalan tangan dan mencucinya di saluran irigasi. Hasil panen ini mereka jual di Pasar Badung. Walau panen bayam dari lahan seluas dua are ini tak banyak, namun cukup untuk menghidupi mereka. Winarta mengatakan, belakangan, cuaca di Bali cukup panas lantaran tak ada hujan dalam beberapa hari terakhir. Bahkan, tinggi muka air di saluran irigasi pun sudah menunjukkan penurunan. Bagi Winarta, kemarau yang akan segera tiba membuatnya khawatir. “Sebentar lagi musim panas, pasti air makin sedikit. Kami akan sulit bertani,” katanya dalam Bahasa Bali. Sayuran perlu banyak air setiap hari dan baru bisa panen enam minggu setelah penyemaian. Selama ini,  mereka hanya mengandalkan saluran irigasi di hilir yang makin menipis saat kemarau. BRIN memprediksi munculnya fenomena El Nino Godzilla yang berdampak pada cuaca panas ekstrem. Konsumsi air yang cukup sangat penting untuk mencegah dehidrasi. Foto: Asad Asnawi/Mongabay Indonesia. Panas ekstrem Petani merupakan salah satu pihak yang terdampak langsung perubahan iklim. Terlalu basah, tanaman rusak. Sebaliknya, tanpa air atau kurang air sayuran juga mati. Kedua cuaca itu sudah makin terbiasa dialami pasangan petani ini. Perkiraan cuaca, panas ekstrem akan mulai di Pulau Jawa, Bali, dan NTT pada tahun ini. Melalui pengumuman publik dan peringatan cuaca di media sosialnya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan, potensi fenomena variasi kuat El Niño &#8220;Godzilla&#8221; yang akan melanda Indonesia&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/02/brin-ingatkan-ancaman-elnino-godzilla-apa-dampaknya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/02/brin-ingatkan-ancaman-elnino-godzilla-apa-dampaknya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nasib Hutan dan Masyarakat Adat Papua</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/04/nasib-hutan-dan-masyarakat-adat-papua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/04/nasib-hutan-dan-masyarakat-adat-papua/#respond</comments>
					<pubDate>02 Apr 2026 00:19:53 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/08/22045048/BOVEN-6-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=126063</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Nasib Hutan dan Masyarakat Adat Papua]]>
						</reporting-project>
					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hutan dan alam Papua jadi sasaran berbagai proyek skala besar. Kini, yang sedang berlangsung proyek pangan, energi dan air berlabel proyek strategis nasional (PSN). Hutan di Merauke dan Boven Digoel, Papua Selatan,  pun mulai terbuka. Proyek dengan gaung untuk mewujudkan ‘ketahanan’ pangan dan energi itu meresahkan masyarakat adat karena hutan dan wilayah mereka perlahan hilang. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/04/nasib-hutan-dan-masyarakat-adat-papua/">Nasib Hutan dan Masyarakat Adat Papua</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hutan dan alam Papua jadi sasaran berbagai proyek skala besar. Kini, yang sedang berlangsung proyek pangan, energi dan air berlabel proyek strategis nasional (PSN). Hutan di Merauke dan Boven Digoel, Papua Selatan,  pun mulai terbuka. Proyek dengan gaung untuk mewujudkan ‘ketahanan’ pangan dan energi itu meresahkan masyarakat adat karena hutan dan wilayah mereka perlahan hilang. Proyek ini pun rawan menghancurkan sumber pangan, ekonomi, sumber budaya masyarakat adat Papua. Di belahan Papua yang lain sedang tercabik untuk industri nikel. Pulau-pulau dengan surga bawah laut yang jadi tujuan wisata dunia, Raja Ampat,  sedang jadi target industri nikel. Hutan tempat berburu, meramu, dan tempat merawat tradisi berganti bentuk. Bagi masyarakat adat, hutan dan alam bukan sekadar pohon atau hamparan kawasan, ia adalah bagian dari hidup dan tempat mereka bergantung segala.  Begitu juga investasi di pulau-pulau kecil, kehadiran nikel, bisa mengikis hutan dan mencemari perairan dari sungai sampai laut Raja Ampat.  Belum lagi kalau bicara krisis iklim dan ancaman bencana. Apakah atas nama pembangunan atau investasi akan mempertaruhkan segala keanekaragaman hayati tak ternilai dan kehidupan masyarakatnya? The post Nasib Hutan dan Masyarakat Adat Papua appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/04/nasib-hutan-dan-masyarakat-adat-papua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/04/nasib-hutan-dan-masyarakat-adat-papua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>