<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=junaidi-hanafiah-gayo-lues&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/junaidi-hanafiah-gayo-lues/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Sun, 21 Jun 2026 08:01:43 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
				<item>
					<title>Cerita Masyarakat Bali Lestarikan Bambu</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/21/cerita-masyarakat-bali-melestarikan-bambu/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/21/cerita-masyarakat-bali-melestarikan-bambu/#respond</comments>
					<pubDate>21 Jun 2026 08:01:43 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Luh De Suriyani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2016/11/22091752/Pengunjung-memotret-hutan-bambu-di-Desa-Penglipuran-Bangli-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129499</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, dan komunita lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Berbagai lokasi terlihat porak-poranda setelah banjir bandang menerjang Kota Denpasar, Bali menjelang akhir 2025. Dari jejak sampah yang tersangkut di pohon, tinggi genangan mencapai 3-5 meter di atas permukaan sungai. Puluhan rumah roboh, talud beton ambrol, dan belasan orang meninggal dunia. Di tengah kerusakan itu, ada satu vegetasi yang tetap bertahan: rumpun bambu. Ketangguhan bambu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/21/cerita-masyarakat-bali-melestarikan-bambu/">Cerita Masyarakat Bali Lestarikan Bambu</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Berbagai lokasi terlihat porak-poranda setelah banjir bandang menerjang Kota Denpasar, Bali menjelang akhir 2025. Dari jejak sampah yang tersangkut di pohon, tinggi genangan mencapai 3-5 meter di atas permukaan sungai. Puluhan rumah roboh, talud beton ambrol, dan belasan orang meninggal dunia. Di tengah kerusakan itu, ada satu vegetasi yang tetap bertahan: rumpun bambu. Ketangguhan bambu dalam menghadapi bencana bukanlah kebetulan. Selain mampu menyimpan cadangan air hingga sekitar 3.500 liter dalam satu rumpun, sistem perakaran bambu yang rapat juga efektif menahan tanah di sempadan sungai sehingga mengurangi risiko erosi dan longsor. Cerita bambu dalam menjaga ketersedian air juga terlihat di Desa Sandan, Kabupaten Tabanan. Dua dekade lalu, sebagian warga desa itu harus membeli air lantaran sumber-sumber air mengering. Hingga pada 2004, warga berinisiatif menanam bambu di kawasan perbukitan dan lahan-lahan kritis. Upaya itu  terus berlanjut hingga membentuk hutan bambu seluas sekitar 100 hektar dengan lebih dari 50 jenis bambu. Setelah lebih 20 tahun, warga mulai merasakan hasilnya. Mata air kembali mengalir dan menyuplai kebutuhan masyarakat, tidak hanya di Desa Sandan  juga wilayah hilir di sekitarnya. Untuk menjaga keberlanjutan hutan bambu, masyarakat  menerapkan aturan adat atau awig-awig yang melarang penebangan bambu tanpa persetujuan komunitas. Pameran produk olahan bambu di Festival Bambu Samsara, Bali. Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia. *** Dalam kehidupan masyarakat Bali, bambu hampir selalu hadir dalam berbagai ritual dan tradisi. Ironisnya, makin sedikit generasi muda yang memahami peran bambu sebagai penjaga sumber air, bahan kerajinan, elemen seni pertunjukan, hingga bagian penting dari identitas budaya masyarakat. Persoalan inilah yang menjadi salah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/21/cerita-masyarakat-bali-melestarikan-bambu/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/21/cerita-masyarakat-bali-melestarikan-bambu/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Negara Sawit Terbesar di Dunia Impor Benih dari Afrika, dan Petani Kecil yang Paling Dirugikan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/negara-sawit-terbesar-di-dunia-impor-benih-dari-afrika-dan-petani-kecil-yang-paling-dirugikan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/negara-sawit-terbesar-di-dunia-impor-benih-dari-afrika-dan-petani-kecil-yang-paling-dirugikan/#respond</comments>
					<pubDate>21 Jun 2026 07:56:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/02/21233504/Brondolan-sawit-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129525</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[kelapa sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Indonesia menguasai lebih dari separuh produksi minyak sawit dunia, dengan puluhan juta hektar kebun sawit dan puluhan lembaga riset perbenihan yang sudah beroperasi bertahun-tahun. Tapi pada April 2025, Indonesia mengimpor 82.000 benih sawit dari Tanzania, Afrika. Dan yang paling merasakan dampaknya bukan perusahaan besar yang mendorong kebijakan ini, melainkan petani kecil yang selama ini menopang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/negara-sawit-terbesar-di-dunia-impor-benih-dari-afrika-dan-petani-kecil-yang-paling-dirugikan/">Negara Sawit Terbesar di Dunia Impor Benih dari Afrika, dan Petani Kecil yang Paling Dirugikan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Indonesia menguasai lebih dari separuh produksi minyak sawit dunia, dengan puluhan juta hektar kebun sawit dan puluhan lembaga riset perbenihan yang sudah beroperasi bertahun-tahun. Tapi pada April 2025, Indonesia mengimpor 82.000 benih sawit dari Tanzania, Afrika. Dan yang paling merasakan dampaknya bukan perusahaan besar yang mendorong kebijakan ini, melainkan petani kecil yang selama ini menopang industri dari bawah. Penjelasan resminya adalah keragaman genetik. GAPKI bersama Konsorsium Plasma Nutfah Kelapa Sawit menyebut langkah ini sebagai upaya memperkaya varietas dan mendongkrak produktivitas yang stagnan. Para petani dan organisasi masyarakat sipil tidak meyakini penjelasan itu. Gunawan dari Dewan Nasional Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) menunjuk akar masalah yang berbeda. Data Kementerian Pertanian Oktober 2025 menunjukkan 40 hingga 70 persen benih sawit yang beredar belum bersertifikat. Benih ilegal dan pengawasan yang lemah itulah yang membuat produktivitas stagnan, bukan kurangnya varietas dari Afrika. &#8220;Jika produktivitas sawit stagnan, persoalannya bukan semata genetika tanaman, melainkan tata kelola yang sejak lama dibiarkan bocor di banyak sisi,&#8221; katanya. Bagi petani kecil, masuknya benih impor bisa mendistorsi harga benih lokal. Perusahaan besar bisa menyesuaikan diri dengan varietas baru, petani kecil tidak punya kemewahan itu. Benih dari Afrika belum terbukti cocok dengan kondisi tanah, iklim, dan penyakit lokal Indonesia. Risiko gagal panen ditanggung petani sendiri. &#8220;Realitasnya adalah petani kecil berada dalam posisi yang lebih rentan,&#8221; kata Gunawan. Marselinus Andri dari SPKS menambahkan bahwa masalah produktivitas sawit jauh lebih kompleks dari sekadar soal bibit. Keterbatasan akses pupuk, realisasi program peremajaan sawit rakyat yang rendah, dan infrastruktur yang tidak memadai adalah hambatan nyata&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/negara-sawit-terbesar-di-dunia-impor-benih-dari-afrika-dan-petani-kecil-yang-paling-dirugikan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/negara-sawit-terbesar-di-dunia-impor-benih-dari-afrika-dan-petani-kecil-yang-paling-dirugikan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Deforestasi di Kalimantan Picu Bencana dan Konflik Agraria</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/21/deforestasi-di-kalimantan-picu-bencana-dan-konflik-agraria/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/21/deforestasi-di-kalimantan-picu-bencana-dan-konflik-agraria/#respond</comments>
					<pubDate>21 Jun 2026 05:00:43 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Riyad Dafhi Rizki]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/20132109/Foto-bencana-Riyad-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129502</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, Pertambangan, politik dan hukum, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hutan Kalimantan terus tergerus bisnis yang mengeksploitasi bumi, mulai dari perkebunan sawit, perkebunan kayu, pertambangan, hingga pembangunan infrastruktur. Akibatnya, bencana dan konflik agraria pun bermunculan. Eskalasinya meningkat setiap tahun. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Regional Kalimantan mencatat, sepanjang satu dekade terakhir, sekitar 33,59% lanskap ekologis wilayah ini mengalami kerusakan. Dengan kehilangan rata-rata 412.790 hektar hutan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/21/deforestasi-di-kalimantan-picu-bencana-dan-konflik-agraria/">Deforestasi di Kalimantan Picu Bencana dan Konflik Agraria</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hutan Kalimantan terus tergerus bisnis yang mengeksploitasi bumi, mulai dari perkebunan sawit, perkebunan kayu, pertambangan, hingga pembangunan infrastruktur. Akibatnya, bencana dan konflik agraria pun bermunculan. Eskalasinya meningkat setiap tahun. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Regional Kalimantan mencatat, sepanjang satu dekade terakhir, sekitar 33,59% lanskap ekologis wilayah ini mengalami kerusakan. Dengan kehilangan rata-rata 412.790 hektar hutan tropis setiap tahunnya. Berbagai kebijakan investasi yang memberikan akses besar-besaran ke kawasan hutan menjadi pemicunya. Meliputi 4.110 izin hak guna usaha (HGU) untuk perkebunan terutama  sawit, 1.717 izin pertambangan, dan 330 perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH) untuk kebun kayu serta aktivitas pemanfaatan lain. Kalimantan Timur (Kaltim) menjadi satu wilayah yang laju kehilangan hutan terbesar akibat aktivitas industri. Dari luas wilayah 12,7 juta hektar, 10,740 juta hektar atau 84,36% telah terbebani izin konsesi. “Mencakup PBPH seluas 5,571 juta hektar, IUP pertambangan 4,131 juta hektar, dan perkebunan sawit 1,037 juta hektar,&#8221; kata Yudi Saputra, Deputi Eksekutif Walhi Kaltim, Rabu (10/6/26). Periode 2001-2025, Walhi Kaltim mencatat, deforestasi di provinsi ini mencapai sekitar 5,2 juta hektar. Kehilangan hutan paling masif terjadi di Kutai Timur dengan estimasi 1,4 juta hektar, lalu Kutai Kartanegara 920.000 hektar, Berau 760.000 hektar, Paser 620.000 hektar dan Kutai Barat sekitar 580.000 hektar. Terjadi lompatan kerusakan dua tahun terakhir. Pada 2023, hutan hilang seluas 28.633 hektar, melonjak jadi 44.483 hektar pada 2024–setara 55% hanya dalam satu tahun. Kondisi serupa di Kalimantan Tengah (Kalteng). &#8220;Pada 2025 saja, luas deforestasi di Kalteng mencapai 56.900 hektar,&#8221; kata Janang Firman, Direktur Eksekutif Walhi Kalteng. Temuan Walhi Kalteng pada  2023, dari &hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/21/deforestasi-di-kalimantan-picu-bencana-dan-konflik-agraria/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/21/deforestasi-di-kalimantan-picu-bencana-dan-konflik-agraria/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Hutan Mangrove Teluk Youtefa Terus Tergerus</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/21/ketika-hutan-mangrove-teluk-youtefa-terus-tergerus/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/21/ketika-hutan-mangrove-teluk-youtefa-terus-tergerus/#respond</comments>
					<pubDate>21 Jun 2026 03:02:23 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Larius Kogoya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/17034035/WhatsApp-Image-2026-06-17-at-5.49.32-AM-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129360</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, Lahan Basah, Masyarakat Adat, dan pencemaran]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kafe, restoran, kios-kios dan penginapan berjejer di sepanjang bibir hutan mangrove dari Pantai Hamadi, Pantai Cibery hingga Pantai Holtekamp antara Kampung Enggros dan Tobati, Kota Jayapura, Papua. Letaknya berada di Teluk Youtefa, kawasan yang dulu memiliki hutan mangrove yang lebat. Namun, alih fungsi lahan, penimbunan lahan dan pembangunan infrastruktur terus menggerus mangrove di wilayah ini. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/21/ketika-hutan-mangrove-teluk-youtefa-terus-tergerus/">Ketika Hutan Mangrove Teluk Youtefa Terus Tergerus</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kafe, restoran, kios-kios dan penginapan berjejer di sepanjang bibir hutan mangrove dari Pantai Hamadi, Pantai Cibery hingga Pantai Holtekamp antara Kampung Enggros dan Tobati, Kota Jayapura, Papua. Letaknya berada di Teluk Youtefa, kawasan yang dulu memiliki hutan mangrove yang lebat. Namun, alih fungsi lahan, penimbunan lahan dan pembangunan infrastruktur terus menggerus mangrove di wilayah ini. Sampah plastik memenuhi akar-akar mangrove di Teluk Youtefa. Warna air pun keruh. Kawasan Teluk Youtefa adalah wilayah adat tiga kampung, yaitu Tobati, Enggros, dan Nafri. Sebagian masyarakat menggantungkan hidup pada hutan mangrove sebagai sumber penghidupan. “Sampah sudah banyak di dalam (mangrove). Kadang-kadang mama pergi cari bia, pulang badan gatal-gatal dan kita harus garuk sekalipun sudah mandi di rumah,” kata Persila Sanyi, perempuan dari Kampung Enggros, Distrik Abepura, Jayapura, Papua saat bertemu di rumahnya pada Kamis (14/5/26). Mama Persila, panggilan akrabnya biasa mencari bahan makanan di hutan mangrove. Seperti kerang (bia), kepiting dan lain-lain. Perempuan 70 tahun itu ingat, dulu hutan mangrove punya air yang bersih dan tempat banyak kerang (bia), ikan, kepiting, udang dan lainnya berkembang biak. Namun ingatannya hilang setelah masifnya pembangunan di hutan mangrove Teluk Youtefa. Tampak bangunan kafe di pinggiran jalan yang berdekatan dengan hutan mangrove Teluk Youtefa di Holtekam Kota Jayapura, Papua pada Kamis (14/5/26). Foto: Larius Kogoya/Mongabay Indonesia Sejak Juni 1978, melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian No.372/Kpts/UM/6/1978, hutan mangrove Teluk Youtefa jadi  Taman Wisata Alam. Selanjutnya pada 1996, status kawasan ini diperkuat melalui SK Menteri Kehutanan Nomor 714/Kpts/1996 tentang Penetapan Kawasan Teluk Youtefa sebagai Kawasan Konservasi dengan peruntukan sebagai Taman&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/21/ketika-hutan-mangrove-teluk-youtefa-terus-tergerus/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/21/ketika-hutan-mangrove-teluk-youtefa-terus-tergerus/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menyoal Bank Tanah di Wilayah Adat Pekurehua</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/20/menyoal-bank-tanah-di-wilayah-adat-pekurehua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/20/menyoal-bank-tanah-di-wilayah-adat-pekurehua/#respond</comments>
					<pubDate>20 Jun 2026 23:28:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Sarjan Lahay]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/07083913/petani-DPR-2-Irfan-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129508</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan Sulawesi Tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Masyarakat adat Pekurehua di Poso, Sulawesi Tengah, hadapi persoalan agraria bertubi-tubi. Sebelumnya, mereka bermasalah tanah dengan perkebunan PT Sandabi Indah Lestari di Kecamatan Lore Timur dan Lore Peore. Ketika hak guna perusahaan habis,  persoalan baru muncul, ketika bank tanah hadir melalui skema hak pengelolaan (HPL). Skema itu merupakan turunan dari UU Cipta Kerja melalui [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/20/menyoal-bank-tanah-di-wilayah-adat-pekurehua/">Menyoal Bank Tanah di Wilayah Adat Pekurehua</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Masyarakat adat Pekurehua di Poso, Sulawesi Tengah, hadapi persoalan agraria bertubi-tubi. Sebelumnya, mereka bermasalah tanah dengan perkebunan PT Sandabi Indah Lestari di Kecamatan Lore Timur dan Lore Peore. Ketika hak guna perusahaan habis,  persoalan baru muncul, ketika bank tanah hadir melalui skema hak pengelolaan (HPL). Skema itu merupakan turunan dari UU Cipta Kerja melalui Peraturan Pemerintah Nomor 64/2021 tentang Bank Tanah. Sejak awal, sejumlah organisasi masyarakat sipil yang tergabung dalam Koalisi Kawal Pekurehua menilai,  bank tanah berisiko jadi instrumen negara yang bisa memperpanjang konflik agraria yang sudah berlangsung lama. Dana Prima Tarigan, Kepala Departemen Komunikasi Strategis dan Jaringan Walhi Nasional, menegaskan, kehadiran bank tanah yang mengambil lahan eks HGU SIL menunjukkan tidak ada itikad baik negara, dalam menyelesaikan konflik agraria dan memulihkan ruang hidup masyarakat adat yang hilang dampak ekspansi perkebunan monokultur. “Jika,  negara benar-benar berpihak kepada rakyat, maka sudah seharusnya bank tanah dihapus karena hanya akan memperpanjang konflik agraria,” katanya. Negara, katanya,  melalui KATR/BPN harus segera menjalankan reforma agraria bagi komunitas adat di wilayah tersebut serta menjamin pemulihan ruang hidup mereka,” kata Dana. Padahal, wilayah itu merupakan tanah adat sebelum perusahaan maupun bank tanah ada di sana. Masyarakat Adat Pekurehua yang memperjuangkan hak hidupnya berulang kali hadapi tekanan terkait keberadaan bank tanah  ini. Perwakilan perempuan adat Pekurehua dari Desa Watutau mengatakan, tanah mereka manfaatkan untuk menanam sayuran, cabai, dan berbagai kebutuhan pangan lain untuk penuhi kebutuhan sehari-hari. Sejak Mei 2026, dia datang ke Jakarta mewakili perempuan adat Pekurehua dari Tanah Napu, Sulawesi Tengah, untuk memperjuangkan kembali tanah mereka&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/20/menyoal-bank-tanah-di-wilayah-adat-pekurehua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/20/menyoal-bank-tanah-di-wilayah-adat-pekurehua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sekolah Rakyat Picu Sengketa Lahan di Rempang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/20/kala-pembangunan-sekolah-rakyat-di-rempang-picu-sengketa-lahan-baru/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/20/kala-pembangunan-sekolah-rakyat-di-rempang-picu-sengketa-lahan-baru/#respond</comments>
					<pubDate>20 Jun 2026 07:12:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yogi Eka Sahputra]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/17025003/foto-amar-gb-2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129354</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[batam dan Kepulauan Riau]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ketegangan kembali terjadi di Pulau Rempang, Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri), Selasa (9/6/26). Kali ini, buntut aktivitas pematokan lahan untuk pembangunan Sekolah Rakyat atau Sekolah Merah Putih  di  Simpang Pantai Melayu. Peristiwa bermula ketika warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Rempang Galang Bersatu (Amar-GB) memperoleh informasi ada pengukuran dan pemasangan patok di area pembangunan sekolah, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/20/kala-pembangunan-sekolah-rakyat-di-rempang-picu-sengketa-lahan-baru/">Sekolah Rakyat Picu Sengketa Lahan di Rempang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ketegangan kembali terjadi di Pulau Rempang, Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri), Selasa (9/6/26). Kali ini, buntut aktivitas pematokan lahan untuk pembangunan Sekolah Rakyat atau Sekolah Merah Putih  di  Simpang Pantai Melayu. Peristiwa bermula ketika warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Rempang Galang Bersatu (Amar-GB) memperoleh informasi ada pengukuran dan pemasangan patok di area pembangunan sekolah, Selasa pagi. Informasi itu juga menyebut ada alat berat dan ratusan personel aparat. Kabar itu pun dengan cepat menyebar ke sejumlah kampung di Rempang. Warga dari berbagai kampung seperti di Sembulang, Sungai Raya, hingga Pantai Melayu  berdatangan ke lokasi dan berkumpul di sekitar Simpang Pantai Melayu. Di sana, sejumlah personel pengamanan dari Ditpam BP Batam dan kepolisian bersiaga di lokasi. Cekcok pun tak terelakkan setelah warga mendapati salah satu patok yang  BP Batam pasang berada di lahan keluarga Gerisman Ahmad, tokoh masyarakat Rempang. “Kami lihat patoknya sudah masuk ke wilayah lahan warga. Karena itu kami datang ramai-ramai,” kata Miswadi,  warga Rempang. Bersama warga lain, dia mempertanyakan pemasangan patok itu. “Jangan sampai lahan warga diambil. Kami menilai BP Batam mencaplok tanah kami,” kata Miswandi,  warga  lokasi kejadian. Kejadian serupa juga pernah terjadi  9 Maret 2026. Keributan terjadi di lokasi  proyek Sekolah Rakyat dengan pemilik lahan. Sopia, pengurus Amar-GB, mengatakan, pengukuran seharusnya melibatkan pemilik lahan yang berbatasan langsung dengan lokasi proyek. “Harusnya saat pengukuran memanggil pemilik lahan yang berbatasan. Izin melalui RT saja tidak ada,” katanya. Kamsiah, Ketua RT Kampung Pantai Melayu, juga ada di lokasi mengaku tak tahu menahu perihal aktivitas pengukuranitu. Dia menyebut apa yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/20/kala-pembangunan-sekolah-rakyat-di-rempang-picu-sengketa-lahan-baru/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/20/kala-pembangunan-sekolah-rakyat-di-rempang-picu-sengketa-lahan-baru/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Buntut Bencana Sumatera, LBH Padang Surati PBB</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/20/buntut-bencana-di-sumatera-lbh-padang-surati-pbb/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/20/buntut-bencana-di-sumatera-lbh-padang-surati-pbb/#respond</comments>
					<pubDate>20 Jun 2026 04:29:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Jaka Hendra Baittri]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/03080821/1-Kayu-yang-memenuhi-sungai-mati-Desa-Geudumbak-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129436</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang mengirimkan special report kepada Kantor Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR), awal Juni. Laporan bertajuk “Dismantling State-Engineered Eco-Catastrophes: The Sumatran Citizen Lawsuit (CLS) as Strategic Litigation Against Environmental Governance Failure” itu LBH kirimkan jelang sidang Dewan HAM PBB. Dalam laporannya, LBH Padang menyampaikan fakta lapangan dan analisis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/20/buntut-bencana-di-sumatera-lbh-padang-surati-pbb/">Buntut Bencana Sumatera, LBH Padang Surati PBB</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang mengirimkan special report kepada Kantor Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR), awal Juni. Laporan bertajuk “Dismantling State-Engineered Eco-Catastrophes: The Sumatran Citizen Lawsuit (CLS) as Strategic Litigation Against Environmental Governance Failure” itu LBH kirimkan jelang sidang Dewan HAM PBB. Dalam laporannya, LBH Padang menyampaikan fakta lapangan dan analisis spasial mendalam terkait bencana banjir dan tanah longsor masif yang melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akhir 2025. LBH menyebut, bencana yang renggut 1.207 nyawa, 137 orang hilang, dan merusak lebih dari 184.000 rumah itu bukan semata akibat cuaca ekstrem. “Malapetaka ekologis ini adalah buah dari pembiaran terstruktur dan kegagalan tata kelola lingkungan oleh pemerintah (state omission)” tulis LBH dalam laporan yang mereka serahkan awal Juni itu. Habieb Aulia Sufi, Bidang Ruang Hidup dan Gerakan Rakyat LBH Padang menyebut, pemerintah acapkali berlindung di balik narasi cuaca ekstrem dan perubahan iklim global untuk menghindari tanggung jawab hukum atas dampak bencana yang terjadi. Namun, analisis spasial dan data riil dia lakukan membuktikan sebaliknya. “Krisis ini adalah bencana yang diproduksi oleh kebijakan negara yang eksploitatif di wilayah hulu,” katanya. Kehancuran rumah di Aek Parira, Sibolga, Sumatera Utara karena banjir dan longsor. Foto: Sri Wahyuni/Mongabay Indonesia. Dokumen yang dia serahkan ke PBB memuat sejumlah bukti ilmiah dan kuantitatif atas tudingannya itu. 1. Deforestasi masif berkedok izin negara. Sejak 1990, Pulau Sumatera telah kehilangan sedikitnya 9.190.618 hektar tutupan hutan alam akibat konversi lahan legal yang direstui oleh otoritas penerbit izin. 2. Monopoli korporasi  sawit. Kerusakan hutan berjalan beriringan dengan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/20/buntut-bencana-di-sumatera-lbh-padang-surati-pbb/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/20/buntut-bencana-di-sumatera-lbh-padang-surati-pbb/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menguak Perburuan Sadis Siamang di Sumatera [1]</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/20/menguak-perburuan-sadis-siamang-di-sumatera-1/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/20/menguak-perburuan-sadis-siamang-di-sumatera-1/#respond</comments>
					<pubDate>20 Jun 2026 01:39:43 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/15014547/Anak-siamang-yang-disita-dari-penyeludup-di-Tanjung-Balai-Asahan-Sumatera-Utara-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129230</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Kidung Siamang Sang Penjaga Rimba Sumatra]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[kera besar, politik dan hukum, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Rusli, bukan nama sebenarnya,  baru selesai membersihkan kebun kemiri miliknya. Tangan masih kotor, namun hidupnya kini jauh lebih tenang dibanding masa lalu. Lima tahun terakhir, dia memutuskan menjadi petani, meninggalkan pekerjaan lama  sebagai pemburu satwa liar. Pria asal Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, itu pernah menjadi bagian rantai perburuan satwa di Kawasan Ekosistem Leuser [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/20/menguak-perburuan-sadis-siamang-di-sumatera-1/">Menguak Perburuan Sadis Siamang di Sumatera [1]</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Rusli, bukan nama sebenarnya,  baru selesai membersihkan kebun kemiri miliknya. Tangan masih kotor, namun hidupnya kini jauh lebih tenang dibanding masa lalu. Lima tahun terakhir, dia memutuskan menjadi petani, meninggalkan pekerjaan lama  sebagai pemburu satwa liar. Pria asal Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, itu pernah menjadi bagian rantai perburuan satwa di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Bentang hutan tropis terakhir di Asia Tenggara, yang menjadi habitat penting siamang dan orangutan sumatera. Siamang, primata berwarna hitam dengan kantung suara khas di leher, merupakan spesies dilindungi di Indonesia. Populasinya terancam akibat kehilangan habitat dan perburuan liar. Di Leuser dan hutan hujan Sumatera, siamang memiliki peran penting menebar biji dan membantu meregenerasi hutan secara alami. Hilangnya siamang bukan hanya soal berkurangnya satu spesies, tetapi juga ancaman bagi keseimbangan ekosistem. Di tingkat tapak, perburuan yang terjadi, dipicu persoalan ekonomi, minimnya alternatif pekerjaan, serta lemahnya pengawasan. “Kebutuhan hidup bertambah, setelah saya memiliki dua anak. Saat itu, umur saya 30 tahun dan tidak punya pilihan. Bertani terasa tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga,” ucapnya, mengenang awal mula terjerumus perburuan satwa liar, Minggu (10/8/25). Sekitar  2004, Rusli kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga. Dia merantau ke Kota Langsa dan Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, untuk mencari pekerjaan. Namun, keterampilan terbatas membuatnya tersisih dari pasar kerja. “Tidak ada yang mau mempekerjakan. Saya hanya bisa berkebun atau jadi buruh bangunan.” Di Kota Langsa, awalnya dia bekerja sebagai buruh bangunan. Beberapa bulan kemudian, menjadi sopir becak penumpang. “Ternyata, semua tidak cukup untuk kebutuhan rumah.” Dua tahun bekerja tanpa hasil berarti, Rusli&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/20/menguak-perburuan-sadis-siamang-di-sumatera-1/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/20/menguak-perburuan-sadis-siamang-di-sumatera-1/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sudah Dicoba Berabad-abad, Zebra Tidak Bisa Dijinakkan Seperti Kuda. Ini Alasannya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/sudah-dicoba-berabad-abad-zebra-tidak-bisa-dijinakkan-seperti-kuda-ini-alasannya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/sudah-dicoba-berabad-abad-zebra-tidak-bisa-dijinakkan-seperti-kuda-ini-alasannya/#respond</comments>
					<pubDate>20 Jun 2026 01:20:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/10/22023945/zebra-hewan-tunggangan-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129483</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pada akhir abad ke-19, Lord Walter Rothschild, bangsawan eksentrik dan kolektor satwa dari Inggris, melatih enam zebra untuk menarik keretanya dan memamerkannya di jalanan London. Pemandangan itu menjadi sensasi. Rothschild ingin membuktikan bahwa zebra bisa dijinakkan seperti kuda. Ia gagal, tapi bukan karena kurang berusaha. Beberapa dekade kemudian, pemerintah kolonial Jerman di Tanganyika mencoba hal [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/sudah-dicoba-berabad-abad-zebra-tidak-bisa-dijinakkan-seperti-kuda-ini-alasannya/">Sudah Dicoba Berabad-abad, Zebra Tidak Bisa Dijinakkan Seperti Kuda. Ini Alasannya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pada akhir abad ke-19, Lord Walter Rothschild, bangsawan eksentrik dan kolektor satwa dari Inggris, melatih enam zebra untuk menarik keretanya dan memamerkannya di jalanan London. Pemandangan itu menjadi sensasi. Rothschild ingin membuktikan bahwa zebra bisa dijinakkan seperti kuda. Ia gagal, tapi bukan karena kurang berusaha. Beberapa dekade kemudian, pemerintah kolonial Jerman di Tanganyika mencoba hal yang sama dengan motivasi yang lebih praktis: zebra tahan terhadap lalat tsetse yang mematikan bagi kuda, sehingga ideal untuk mengangkut beban di wilayah pedalaman Afrika. Mereka menangkap zebra liar, melatihnya untuk menarik gerobak, dan menghadapi kenyataan yang sama: zebra yang agresif, mudah panik, dan tingkat kematian tinggi di penangkaran akibat stres. Proyek itu dihentikan. Dua eksperimen terpisah, dua abad berbeda, satu kesimpulan yang sama. Zebra tidak bisa didomestikasi secara massal. Pertanyaannya bukan lagi apakah sudah cukup dicoba, melainkan mengapa secara biologis hal itu hampir mustahil dilakukan. Jawabannya ada pada kombinasi tiga faktor yang bekerja bersamaan. Pertama, temperamen. Zebra memiliki insting &#8220;kabur dulu, pikir kemudian&#8221; yang sangat kuat, hasil adaptasi jutaan tahun hidup berdampingan dengan predator di savana Afrika. Penelitian yang membandingkan flight initiation distance antara kuda dan zebra dataran menunjukkan bahwa zebra secara konsisten menjaga jarak lebih jauh dari manusia dan lebih sulit terbiasa dengan kehadiran manusia. Ini adalah hambatan mendasar bahkan sebelum pelatihan dimulai. Kedua, fisiologi. Zebra sangat rentan terhadap capture myopathy, kondisi mematikan yang dipicu oleh stres ekstrem saat hewan ditangkap atau dipindahkan dari lingkungan alaminya. Studi makroevolusi menunjukkan bahwa kerentanan terhadap kondisi ini adalah salah satu penghalang terbesar dalam domestikasi mamalia berkuku.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/sudah-dicoba-berabad-abad-zebra-tidak-bisa-dijinakkan-seperti-kuda-ini-alasannya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/sudah-dicoba-berabad-abad-zebra-tidak-bisa-dijinakkan-seperti-kuda-ini-alasannya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dua Dekade Konflik Agraria Sinar Mas di Jambi, Akankah Ada Penyelesaian?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/19/dua-dekade-konflik-agraria-sinar-mas-di-jambi-akankah-ada-penyelesaian/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/19/dua-dekade-konflik-agraria-sinar-mas-di-jambi-akankah-ada-penyelesaian/#respond</comments>
					<pubDate>19 Jun 2026 23:33:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Teguh Suprayitno]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/19232557/Jalan-yang-diputus-WKS-di-Desa-Bukit-Bakar.dok_.Suwarno.1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129467</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jambi dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan poliitk dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sadili kesal lantaran harus mutar jauh ke Dusun Tanjung Beringin untuk mengeluarkan hasil kebunnya. Bukan karena jalan rusak, banjir atau longsor, tetapi jalan itu sengaja PT Wirakarya Sakti (WKS), putus. Sejak 20 April 2025, alat berat anak perusahaan Asia Pulp &#38; Paper (APP), Sinarmas Grup ini sudah memutus 10 titik jalan di Desa Bukit Bakar, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/19/dua-dekade-konflik-agraria-sinar-mas-di-jambi-akankah-ada-penyelesaian/">Dua Dekade Konflik Agraria Sinar Mas di Jambi, Akankah Ada Penyelesaian?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sadili kesal lantaran harus mutar jauh ke Dusun Tanjung Beringin untuk mengeluarkan hasil kebunnya. Bukan karena jalan rusak, banjir atau longsor, tetapi jalan itu sengaja PT Wirakarya Sakti (WKS), putus. Sejak 20 April 2025, alat berat anak perusahaan Asia Pulp &amp; Paper (APP), Sinarmas Grup ini sudah memutus 10 titik jalan di Desa Bukit Bakar, Kecamatan Renah Mendaluh, Tanjung Jabung Barat, Jambi. Dua titik di RT05, satu di RT06, lima di RT07, dan dua di RT09. Jalan itu merupakan akses penting bagi warga, menuju ke Puskesmas, rumah sakit, sekolah hingga pasar. Sejak itu, lebih dari 830 warga praktis terisolasi. Dampaknya,  harga-harga mulai merayap naik karena kebutuhan pokok sulit masuk. Setidaknya,  66 anak kehilangan akses ke sekolah dan terpaksa pindah. Pemutusan jalan itu tidak hanya mengisolasi warga Bukit Bakar, juga berdampak pada 80-an keluarga di Dusun Tanjung Beringin, Desa Lubuk Mandarsah Ulu, Kecamatan Tengah Ilir, Kabupaten Tebo. “Jalan itu nyambung dari RT08, RT09 Dusun Tanjung Beringin, terus ke Desa Bukit Bakar RT08 dan RT09,” kata Sadili, warga Lubuk Mandarsah Ulu. Pemutusan jalan desa di Desa Bukti Bakar, Jambi. Foto: Suwarno Hasil kebun sulit akses jalan Mereka kesulitan mengeluarkan hasil kebun. Buah sawit menumpuk. Tengkulak tak bisa masuk. Warga terpaksa memutar jauh melewati jalan Dusun Tanjung Beringin menuju jalan poros WKS untuk bisa mengeluarkan sawit. “Tapi jalan itu buruk, kalau musim hujan nggak bisa lewat.” Upah angkut sawit yang dulu Rp200 per kilogram melonjak menjadi Rp300-Rp350 per kilogram. Kenaikan itu datang tepat ketika harga sawit di pasaran sedang anjlok. “Harga sawit turun,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/19/dua-dekade-konflik-agraria-sinar-mas-di-jambi-akankah-ada-penyelesaian/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/19/dua-dekade-konflik-agraria-sinar-mas-di-jambi-akankah-ada-penyelesaian/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Warga Dairi Layangkan Surat Protes Izin Baru Tambang Seng  ke Kementerian Lingkungan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/19/warga-dairi-layangkan-surat-protes-izin-baru-tambang-seng-ke-kementerian-lingkungan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/19/warga-dairi-layangkan-surat-protes-izin-baru-tambang-seng-ke-kementerian-lingkungan/#respond</comments>
					<pubDate>19 Jun 2026 10:44:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ayat S Karokaro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/19104230/WhatsApp-Image-2026-06-19-at-16.54.57-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129449</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Masyarakat Adat, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Warga Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, menyerahkan surat keberatan kepada Menteri Lingkungan Hidup (LH), 5 Juni lalu, ihwal penerbitan izin Surat Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup (SKKLH) Nomor 1437/2026 kepada PT Dairi Prima Mineral (DPM) tertanggal 13 Maret 2026. Masyarakat menolak izin lingkungan baru dan menilai SKKLH itu lahir dari prosedur yang cacat hukum, mengabaikan rekomendasi pengadilan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/19/warga-dairi-layangkan-surat-protes-izin-baru-tambang-seng-ke-kementerian-lingkungan/">Warga Dairi Layangkan Surat Protes Izin Baru Tambang Seng  ke Kementerian Lingkungan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Warga Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, menyerahkan surat keberatan kepada Menteri Lingkungan Hidup (LH), 5 Juni lalu, ihwal penerbitan izin Surat Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup (SKKLH) Nomor 1437/2026 kepada PT Dairi Prima Mineral (DPM) tertanggal 13 Maret 2026. Masyarakat menolak izin lingkungan baru dan menilai SKKLH itu lahir dari prosedur yang cacat hukum, mengabaikan rekomendasi pengadilan tertinggi negeri ini, serta mengancam keselamatan ribuan jiwa di kawasan rawan bencana. Judianto Simanjuntak, kuasa hukum warga, melontarkan kritik pedas atas legitimasi SKKLH itu. Dia bilang, ini bentuk pengangkangan hukum langsung terhadap putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Dia dan warga Dairi mengancam akan menempuh jalur hukum, yaitu gugatan kembali ke Pengadilan Tata Usaha Negara. Sebelumnya, putusan PTUN Jakarta Nomor 59-G-LH-2023, 24 Juli 2023, yang Mahkamah Agung perkuat lewat putusan 277-K-TUN-LH-2024, secara tegas menyatakan Kabupaten Dairi, khususnya wilayah operasional DPM, masuk kategori rawan bencana. &#8220;Sehingga tidak layak untuk dieksploitasi pertambangan,&#8221; katanya pada Mongabay, dua hari sebelum mengirimkan surat itu. Kedua putusan itu, merujuk Pasal 53 ayat (3) Peraturan Daerah Kabupaten Dairi 7/2014 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah periode 2014–2034, yang menetapkan Kecamatan Silima Pungga-Pungga berstatus kawasan lahan sawah fungsional yang rentan menghadapi alih fungsi. Secara legal spasial, wilayah itu sama sekali bukan untuk aktivitas pertambangan skala industri. Karena itu, baginya, KLH bukan sekadar melakukan kesalahan administratif, melainkan bentuk pengkhianatan supremasi hukum. &#8220;Cacat substansinya fatal. SKKLH ini mengabaikan sepenuhnya ancaman dan risiko bencana yang pasti menghantui apabila tambang beroperasi di zona merah rawan bencana.&#8221; Rainim Purba, warga Dairi, menyebut, pemberian izin yang tidak transparan ini akan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/19/warga-dairi-layangkan-surat-protes-izin-baru-tambang-seng-ke-kementerian-lingkungan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/19/warga-dairi-layangkan-surat-protes-izin-baru-tambang-seng-ke-kementerian-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kucing Tandang Ditemukan Lagi di Thailand, Bagaimana Kondisinya di Indonesia?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/19/kucing-tandang-ditemukan-lagi-di-thailand-bagaimana-kondisinya-di-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/19/kucing-tandang-ditemukan-lagi-di-thailand-bagaimana-kondisinya-di-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>19 Jun 2026 09:17:16 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christopel Paino]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/19090827/Kucing-tandang2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129454</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, kalimantan, sains dan Teknologi, Satwa, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Akhir 2025 lalu, di hutan rawa gambut yang lembap di Suaka Margasatwa Putri Sirindhorn, Thailand Selatan, sebuah kamera jebak berhasil menangkap sesuatu yang selama tiga dekade dianggap mustahil. Seekor kucing tandang betina berjalan pelan malam hari, dengan anak kecilnya mengikuti di belakang. Momen itu menjadi pengumuman konservasi yang sangat penting di Asia Tenggara. Kucing tandang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/19/kucing-tandang-ditemukan-lagi-di-thailand-bagaimana-kondisinya-di-indonesia/">Kucing Tandang Ditemukan Lagi di Thailand, Bagaimana Kondisinya di Indonesia?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Akhir 2025 lalu, di hutan rawa gambut yang lembap di Suaka Margasatwa Putri Sirindhorn, Thailand Selatan, sebuah kamera jebak berhasil menangkap sesuatu yang selama tiga dekade dianggap mustahil. Seekor kucing tandang betina berjalan pelan malam hari, dengan anak kecilnya mengikuti di belakang. Momen itu menjadi pengumuman konservasi yang sangat penting di Asia Tenggara. Kucing tandang (Prionailurus planiceps) adalah jenis kucing liar semiakuatik paling misterius, yang secara resmi dinyatakan hadir kembali di Thailand setelah 30 tahun menghilang sejak rekaman terakhir pada 1995. Bagi para konservasionis, ini bukan hanya berita baik, namun juga sebagai pengingat bahwa satwa yang tak pernah dicari bisa saja masih ada, menunggu untuk ditemukan. Penemuan ini bukan kebetulan. Departemen Taman Nasional, Satwa Liar, dan Konservasi Tanaman Thailand, bekerja sama dengan organisasi konservasi kucing liar internasional Panthera, melakukan survei terstruktur di kawasan-kawasan terpencil Thailand. Survei yang oleh Panthera disebut sebagai yang terbesar dalam sejarah penelitian kucing tandang. Hasilnya adalah 13 rekaman terdeteksi sepanjang 2024 dan 16 rekaman tambahan pada 2025, semuanya di Suaka Margasatwa Putri Sirindhorn. Di antara rekaman itu, seekor kucing tandang betina tampak bersama anaknya. Ini seolah menjadi bukti bahwa spesies ini tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang biak di hutan gambut Thailand selatan. &#8220;Penemuan kembali ini menunjukkan apa yang mungkin terjadi ketika sains dan perlindungan kuat berpadu. Habitat-habitat ini termasuk yang paling kaya keanekaragaman hayati sekaligus paling terancam di negara ini, namun mereka terus mengejutkan kita dengan ketangguhannya,&#8221; kata Kritsana Kaewplang, Panthera Thailand Country Director, dikutip dari Panthera.org. Inilah kucing tandang yang ditemukan kembali keberadaannya di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/19/kucing-tandang-ditemukan-lagi-di-thailand-bagaimana-kondisinya-di-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/19/kucing-tandang-ditemukan-lagi-di-thailand-bagaimana-kondisinya-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Disebut Ular Bodoh karena Tidak Mau Kabur, Padahal Serangannya Lebih Cepat dari Kedipan Mata</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/disebut-ular-bodoh-karena-tidak-mau-kabur-padahal-serangannya-lebih-cepat-dari-kedipan-mata/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/disebut-ular-bodoh-karena-tidak-mau-kabur-padahal-serangannya-lebih-cepat-dari-kedipan-mata/#respond</comments>
					<pubDate>19 Jun 2026 04:29:42 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/05/21231724/Death_Adder-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129446</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Hutan dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di hutan Papua, jika seseorang melihat ular berbahaya di jalur yang dilalui rombongan, ia tidak akan berteriak &#8220;awas ada ular.&#8221; Ia akan berkata dengan tenang kepada orang di sampingnya: &#8220;hati-hati, ada tali.&#8221; Tujuannya agar rombongan tidak panik. Sebab panik, dalam kasus ini, bisa berakibat fatal. Ular yang dimaksud adalah Death Adder, atau yang oleh masyarakat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/disebut-ular-bodoh-karena-tidak-mau-kabur-padahal-serangannya-lebih-cepat-dari-kedipan-mata/">Disebut Ular Bodoh karena Tidak Mau Kabur, Padahal Serangannya Lebih Cepat dari Kedipan Mata</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di hutan Papua, jika seseorang melihat ular berbahaya di jalur yang dilalui rombongan, ia tidak akan berteriak &#8220;awas ada ular.&#8221; Ia akan berkata dengan tenang kepada orang di sampingnya: &#8220;hati-hati, ada tali.&#8221; Tujuannya agar rombongan tidak panik. Sebab panik, dalam kasus ini, bisa berakibat fatal. Ular yang dimaksud adalah Death Adder, atau yang oleh masyarakat Papua disebut ular bodoh. Nama itu muncul bukan karena ularnya tidak berbahaya, melainkan karena perilakunya yang tampak pasif: ketika disentuh dengan kayu atau benda lain, ia memilih diam. Tidak kabur, tidak menyerang, hanya diam. &#8220;Itulah alasan dinamakan ular bodoh,&#8221; kata Hari Suroto, peneliti dari Pusat Riset Arkeologi Lingkungan BRIN. Tapi diam itu menipu. Death Adder (Acanthophis sp.) adalah salah satu ular paling berbisa di dunia, dengan kecepatan serangan yang belum tertandingi oleh ular mana pun: kurang dari 0,13 detik. Lebih cepat dari kedipan mata manusia. Dan gerakannya hampir tidak bisa diprediksi. Strategi berburunya adalah kebalikan dari hampir semua ular berbisa lain. Alih-alih aktif mencari mangsa, Death Adder memilih satu posisi dan menunggu mangsa datang sendiri. Ia bersembunyi di bawah tumpukan daun lembap, serasah, atau potongan ranting, dengan tubuh melingkar dan hampir tidak terlihat karena warnanya yang menyatu dengan lingkungan. Ekornya berbentuk seperti cacing kecil yang digerakkan sebagai umpan. Ketika seekor hewan mendekat untuk menyelidiki gerakan ekor itu, serangan terjadi dalam sepersekian detik. Tubuhnya pendek dan gemuk, panjangnya hanya 40 hingga 70 sentimeter, dengan kepala berbentuk kapak, pupil vertikal, dan taring yang panjang. Secara taksonomi ia masuk keluarga Elapidae, satu keluarga dengan kobra dan welang, tapi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/disebut-ular-bodoh-karena-tidak-mau-kabur-padahal-serangannya-lebih-cepat-dari-kedipan-mata/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/disebut-ular-bodoh-karena-tidak-mau-kabur-padahal-serangannya-lebih-cepat-dari-kedipan-mata/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Perempuan Adat Balik, Korban Sunyi Pembangunan IKN</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/19/perempuan-adat-balik-korban-sunyi-pembangunan-ikn/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/19/perempuan-adat-balik-korban-sunyi-pembangunan-ikn/#respond</comments>
					<pubDate>19 Jun 2026 02:58:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Niken Sitoningrum]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/18123014/8-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129427</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hamparan padi di lahan Syamsiah dan keluarganya  di Kampung Sepaku Lama, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur (Kaltim) mulai menguning.  Luas  lebih satu hektar. Oktober 2025, Syamsiah menghabiskan dua setengah kaleng benih padi untuk menanam di lahan pada Oktober 2025. Lahan itu  pemerintah klaim masuk delineasi Ibu Kota Nusantara (IKN). Di tepian lahan,  [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/19/perempuan-adat-balik-korban-sunyi-pembangunan-ikn/">Perempuan Adat Balik, Korban Sunyi Pembangunan IKN</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hamparan padi di lahan Syamsiah dan keluarganya  di Kampung Sepaku Lama, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur (Kaltim) mulai menguning.  Luas  lebih satu hektar. Oktober 2025, Syamsiah menghabiskan dua setengah kaleng benih padi untuk menanam di lahan pada Oktober 2025. Lahan itu  pemerintah klaim masuk delineasi Ibu Kota Nusantara (IKN). Di tepian lahan,  beragam tanaman pangan  dan sayuran, lengkap dengan kandang bebek dan ayam. Dulu, dari hanya dua setengah kaleng padi itu, Syamsiah bisa panen padi hingga 200 kaleng. Satu kaleng , dia perkirakan seberat 6-7 kilogram, totak setara  1,2 ton. Apa yang terjadi kini justru sebaliknya. Dengan 15 kilogram benih, dia hanya mendapat 1,2 kwintal, jauh merosot. Kondisi itu, katanya,  terjadi setelah ada larangan membakar lahan untuk menanam. Padahal, bagi Masyarakat Adat Suku Balik, bersih-bersih lahan dengan membakar sudah menjadi teknik bercocok tanam secara turun temurun. “Kalau kayak dulu, kita bakar, lumayan sebenarnya [hasil panennya]. Subur memang [tanahnya] kita bakar. Kalau ini, ndak bisa, orang kebunnya ndak dibakar,” katanya. Dulu, Syamsiah  tak pernah beli beras saat lahan masih produktif. Kini, hasil panen tiap tahun tak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan.  Selain lahan makin tak produktif, Syamsiah juga warga lain terancam tergusur lantaran tanah masuk dalam &#8216;aset dalam penguasaan&#8217; Otorita IKN. Padahal, tempat itu tak hanya menjadi sumber kehidupan,  juga identitas Masyarakat Adat Balik. Dia memang tak memiliki legalitas formal atas lahan itu tetapi sudah sejak lamasecara turun menurun  mereka bercocok tanam. “Sebenarnya takut (digusur), itu kan sudah pasti akan terjadi nanti, pasti diambil punya kita (lahan kebun).”&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/19/perempuan-adat-balik-korban-sunyi-pembangunan-ikn/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/19/perempuan-adat-balik-korban-sunyi-pembangunan-ikn/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Apakah Harimau Sumatera Baik-baik Saja di Hutan Leuser?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/18/apakah-harimau-sumatera-baik-baik-saja-di-hutan-leuser/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/18/apakah-harimau-sumatera-baik-baik-saja-di-hutan-leuser/#respond</comments>
					<pubDate>18 Jun 2026 11:00:30 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok dan Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/11/22043343/Malelang1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129421</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Ketika Hutan Sumatra Kehilangan Rajanya]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, komunitas lokal, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kawasan Ekosistem Leuser merupakan habitat harimau sumatera (Panthera tigiris sumatrae) yang berstatus Kritis. Di hutan yang membentang dari Aceh hingga Sumatera Utara ini, sang kucing besar masih berkeliaran sebagai penguasa puncak rantai makanan. Populasinya diperkirakan masih stabi. Namun, fragmentasi habitat, tekanan hutan, dan meningkatnya interaksi dengan manusia merupakan ancaman yang terus membayangi masa depan penguasa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/18/apakah-harimau-sumatera-baik-baik-saja-di-hutan-leuser/">Apakah Harimau Sumatera Baik-baik Saja di Hutan Leuser?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kawasan Ekosistem Leuser merupakan habitat harimau sumatera (Panthera tigiris sumatrae) yang berstatus Kritis. Di hutan yang membentang dari Aceh hingga Sumatera Utara ini, sang kucing besar masih berkeliaran sebagai penguasa puncak rantai makanan. Populasinya diperkirakan masih stabi. Namun, fragmentasi habitat, tekanan hutan, dan meningkatnya interaksi dengan manusia merupakan ancaman yang terus membayangi masa depan penguasa hutan ini. Ujang Wisnu Barata, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, menjelaskan populasi harimau sumatera di Aceh saat ini diperkirakan berada pada kisaran 150-170 individu yang tersebar di dua lanskap utama, yakni Leuser dan Ulu Masen. Hasil tersebut berdasarkan pemantauan lanskap Leuser pada 2021 serta periode 2023-2024. Jumlah ini relatif stabil dibanding beberapa tahun sebelumnya, meski pemantauan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan kondisi terkini di lapangan. “Namun, angka ini tetap perlu diversifikasi melalui monitoring lanjutan,” jelasnya, Selasa (16/6/2026). Leuser bukan hanya habitat penting harimau tetapi di sini juga hidup gajah sumatera, orangutan sumatera, dan badak sumatera yang semuanya berstatus Critically Endangered berdasarkan IUCN. Stabilnya populasi harimau, tidak serta-merta menunjukkan kondisi habitatnya baik-baik saja. Dalam beberapa tahun terakhir, laporan mengenai kemunculan harimau di sekitar kebun dan permukiman warga semakin terdengar. Di sejumlah wilayah seperti Aceh Selatan, Aceh Timur, dan Aceh Tenggara, masyarakat kerap berhadapan dengan jejak, suara, bahkan penampakan langsung harimau. “Interaksi yang meningkat, tidak selalu menunjukkan populasi harimau bertambah. Banyak kasus terjadi karena tekanan terhadap habitat yang membuat satwa bergerak lebih dekat ke wilayah aktivitas manusia,” jelas Ujang. Dia mencontohkan sejumlah kejadian di kawasan Simpur dan Ketambe yang berada di sekitar Taman Nasional&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/18/apakah-harimau-sumatera-baik-baik-saja-di-hutan-leuser/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/18/apakah-harimau-sumatera-baik-baik-saja-di-hutan-leuser/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hotel Ramah Energi Masih Minim di Yogyakarta</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/18/hotel-ramah-energi-masih-minim-di-yogyakarta/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/18/hotel-ramah-energi-masih-minim-di-yogyakarta/#respond</comments>
					<pubDate>18 Jun 2026 10:00:43 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Triyo Handoko]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[infrastruktur]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[solusi iklim]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/17235517/IMG_8396-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129385</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, infrastruktur, politik dan hukum, sains dan Teknologi, solusi iklim, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Yogyakarta merupakan salah satu destinasi wisata favorit di Indonesia. Hotel di provinsi ini terus tumbuh, namun, hanya hitungan jari yang memiliki sertifikasi bangunan ramah energi. Padahal, bangunan ramah energi dan berkelanjutan memainkan peranan dalam adaptasi krisis iklim. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ledakan hotel terjadi pada 2016-2019 yang semula hanya 1.370 menjadi 1.980 atau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/18/hotel-ramah-energi-masih-minim-di-yogyakarta/">Hotel Ramah Energi Masih Minim di Yogyakarta</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Yogyakarta merupakan salah satu destinasi wisata favorit di Indonesia. Hotel di provinsi ini terus tumbuh, namun, hanya hitungan jari yang memiliki sertifikasi bangunan ramah energi. Padahal, bangunan ramah energi dan berkelanjutan memainkan peranan dalam adaptasi krisis iklim. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ledakan hotel terjadi pada 2016-2019 yang semula hanya 1.370 menjadi 1.980 atau naik lebih dari 50%. Saat pandemi COVID-19 sempat stagnan tetapi sejak 2024 meningkat lagi yang kini ada 2.291. Sedang daerah istimewa ini tak punya regulasi khusus untuk mengatur hotel ramah energi. Selama ini, aturan masih berdasarkan Permen PUPR 21/2021 yang mengatur tentang Penilaian Kinerja Bangunan Gedung Hijau (BGH). Penelitian di Kelurahan Sosromenduran, di jantung wisata Malioboro, menyebut, kenaikan jumlah hotel di sana menyebabkan meningkatnya suhu mikroklimat perkotaan akibat kepadatan bangunan. Pembangunan hotel-hotel di sana dengan gaya modern yang cenderung menjadi bangunan intensif energi yang bergantung pada pendingin ruangan, pencahayaan buatan, dan konsumsi air dalam jumlah besar. Akibatnya, terjadi tekanan ekologis yang menyebabkan peningkatan suhu mikroklimat perkotaan akibat kepadatan bangunan. Penelitian ini menawarkan solusi green architecture yang bukan sekadar estetika bangunan hijau, melainkan pendekatan menyeluruh yang mengintegrasikan efisiensi energi, konservasi air, penggunaan energi terbarukan, ventilasi alami, dan pengelolaan ruang hijau dalam hotel. Dalam Peta Jalan Penyelenggaraan dan Pembinaan Bangunan Gedung Hijau, hotel masuk kategori bangunan komersil yang signifikan dalam menekan emisi karbon. Padahal,  sumbangan gas rumah kaca (GRK) dari bangunan terbesar di sektor energi dengan rata-rata kontribusi sekitar 33% sepanjang 2011–2021. Sekitar 90% emisi itu berasal dari penggunaan listrik bangunan, terutama untuk pendingin udara, pencahayaan, dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/18/hotel-ramah-energi-masih-minim-di-yogyakarta/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/18/hotel-ramah-energi-masih-minim-di-yogyakarta/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hutan Hilang dan Ancaman Bencana Dampak Tambang Emas Ilegal di Sumbar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/18/hutan-hilang-dan-ancaman-bencana-dampak-tambang-emas-ilegal-di-sumbar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/18/hutan-hilang-dan-ancaman-bencana-dampak-tambang-emas-ilegal-di-sumbar/#respond</comments>
					<pubDate>18 Jun 2026 04:58:58 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Novia Harlina]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indionesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/02/08013550/PETITRIBATANEWS-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129374</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ketika banjir bandang dan longsor menerjang sejumlah wilayah di Sumatera Barat (Sumbar) pada November 2025, ratusan orang menjadi korban. Lebih dari 200 jiwa meninggal dunia, ribuan warga terdampak, sementara rumah, sawah, dan infrastruktur rusak akibat terjangan material dari hulu. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) meyakini, kerusakan lingkungan di Sumbar berkontribusi terhadap bencana yang terjadi, salah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/18/hutan-hilang-dan-ancaman-bencana-dampak-tambang-emas-ilegal-di-sumbar/">Hutan Hilang dan Ancaman Bencana Dampak Tambang Emas Ilegal di Sumbar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ketika banjir bandang dan longsor menerjang sejumlah wilayah di Sumatera Barat (Sumbar) pada November 2025, ratusan orang menjadi korban. Lebih dari 200 jiwa meninggal dunia, ribuan warga terdampak, sementara rumah, sawah, dan infrastruktur rusak akibat terjangan material dari hulu. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) meyakini, kerusakan lingkungan di Sumbar berkontribusi terhadap bencana yang terjadi, salah satu karena maraknya pertambangan emas tanpa izin (peti) atau pertambangan emas ilegal. “Bencana ekologis yang terjadi tidak bisa lepas dari buruknya tata kelola sumber daya alam selama bertahun-tahun,” kata Tommy Adam, Direktur Walhi Sumbar dalam konferensi pers &#8220;Ketika Tambang Dibiarkan, Siapa yang Melindungi Warga?&#8221; di Jakarta, Jumat (12/6/26). Catatan Walhi,  Sumbar memiliki sekitar 2,2 juta hektar kawasan hutan.  Kurun 2001-2025, provinsi ini kehilangan sekitar 320.000 hektar hutan primer. Pada 2025 saja, hutan di Sumbar yang hilang capai 15.000 hektar. Secara geografis, Sumbar merupakan hulu dari tiga sungai besar, yakni Batanghari, Indragiri, dan Kampar. Kerusakan  di  pegunungan dan hutan Sumbar tidak hanya berdampak pada masyarakat,  juga wilayah hilir di Jambi dan Riau. Di antara berbagai faktor yang menyebabkan degradasi lingkungan itu, Walhi menempatkan tambang emas ilegal sebagai salah satu ancaman paling serius. Setidaknya, ada sembilan kabupaten/kota di Sumbar marak dengan aktivitas ini. Mulai dari Pasaman, Pasaman Barat, Limapuluh Kota, Sawahlunto, Dharmasraya, Solok Selatan, Solok, Sijunjung hingga Pesisir Selatan. Berdasarkan analisis citra satelit oleh Walhi, lebih dari 10.000 hektar hutan dan lahan rusak akibat peti. Dalam rentang 2012-2026, sedikitnya 50 orang meninggal dunia akibat kecelakaan yang berkaitan dengan aktivitas tambang ilegal. Ancaman kesehatan Jejak kerusakan tak hanya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/18/hutan-hilang-dan-ancaman-bencana-dampak-tambang-emas-ilegal-di-sumbar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/18/hutan-hilang-dan-ancaman-bencana-dampak-tambang-emas-ilegal-di-sumbar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dilarang Dikunjungi Manusia, Pulau Ini Dihuni Ribuan Ular yang Bisanya Bisa Jadi Obat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/dilarang-dikunjungi-manusia-pulau-ini-dihuni-ribuan-ular-yang-bisanya-bisa-jadi-obat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/dilarang-dikunjungi-manusia-pulau-ini-dihuni-ribuan-ular-yang-bisanya-bisa-jadi-obat/#respond</comments>
					<pubDate>18 Jun 2026 04:01:32 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/07/22115647/Bothrops_insularis_Instituto_Butanta_2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129391</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dari jauh, Ilha da Queimada Grande tampak seperti pulau tropis biasa di lepas pantai Brasil: hutan lebat, pantai berbatu, dan deburan ombak Atlantik Selatan. Tidak ada bangunan, tidak ada sinyal ponsel, tidak ada jejak manusia. Pemerintah Brasil melarang siapa pun masuk ke sana, kecuali ilmuwan berlisensi yang didampingi dokter. Tapi larangan itu bukan karena pulau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/dilarang-dikunjungi-manusia-pulau-ini-dihuni-ribuan-ular-yang-bisanya-bisa-jadi-obat/">Dilarang Dikunjungi Manusia, Pulau Ini Dihuni Ribuan Ular yang Bisanya Bisa Jadi Obat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dari jauh, Ilha da Queimada Grande tampak seperti pulau tropis biasa di lepas pantai Brasil: hutan lebat, pantai berbatu, dan deburan ombak Atlantik Selatan. Tidak ada bangunan, tidak ada sinyal ponsel, tidak ada jejak manusia. Pemerintah Brasil melarang siapa pun masuk ke sana, kecuali ilmuwan berlisensi yang didampingi dokter. Tapi larangan itu bukan karena pulau ini tidak menarik. Justru sebaliknya. Di pulau seluas 44 hektare ini hidup antara 2.000 hingga 4.000 ekor Bothrops insularis, ular lancehead emas dengan racun yang bisa membunuh dalam hitungan jam. Dan racun itulah yang kini menjadi incaran para ilmuwan karena menyimpan potensi medis yang sangat besar. Peneliti dari Instituto Butantan Brasil menemukan bahwa senyawa aktif dalam racun B. insularis memiliki karakteristik unik yang bisa dimanfaatkan untuk mengobati gangguan pembekuan darah, penyakit jantung, dan berpotensi dikembangkan sebagai terapi kanker. Komponen racunnya mampu memengaruhi sistem peredaran darah dan enzim vital tubuh secara sangat spesifik, menjadikannya bahan penting dalam pengembangan farmasi modern. Tapi untuk mempelajarinya, ilmuwan harus masuk ke pulau yang dilarang, dengan pengawalan dokter, dan risiko kematian yang nyata. Bagaimana pulau sekecil ini bisa menjadi habitat dengan konsentrasi ular berbisa tertinggi di dunia? Ribuan tahun lalu, naiknya permukaan laut memutus hubungan darat antara Queimada Grande dan daratan utama Brasil. Ular-ular yang tadinya bagian dari populasi Bothrops jararaca terjebak di ekosistem pulau yang sempit, tanpa predator alami dan tanpa mamalia darat sebagai mangsa. Satu-satunya sumber makanan yang tersedia adalah burung-burung migran yang hinggap sejenak di pepohonan. Tantangannya: burung bisa terbang dan tidak bisa dikejar. Untuk bertahan, ular-ular ini&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/dilarang-dikunjungi-manusia-pulau-ini-dihuni-ribuan-ular-yang-bisanya-bisa-jadi-obat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/dilarang-dikunjungi-manusia-pulau-ini-dihuni-ribuan-ular-yang-bisanya-bisa-jadi-obat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: Kesepakatan Dagang Timbal Balik atau Pesta Mineral Kritis Amerika Serikat?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/18/opini-kesepakatan-dagang-timbal-balik-atau-pesta-mineral-kritis-amerika-serikat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/18/opini-kesepakatan-dagang-timbal-balik-atau-pesta-mineral-kritis-amerika-serikat/#respond</comments>
					<pubDate>18 Jun 2026 01:28:34 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Muhamad Karim*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Opini]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/29034410/image-04-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129392</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, Pertambangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Indonesia dan Amerika Serikat (AS) tandatangani kesepakatan dagang timbal balik (agreement on reciprocal trade/ART),  pada 19 Februari 2026. Kesepakatan ini tak hanya menimbulkan konsekuensi kelembagaan (hukum bisnis internasional) bagi Indonesia juga berimplikasi secara ekonomi politik dan geopolitik. Pasalnya, isi kesepakatan itu justru memproduksi ketidaksetaraan (inequality), ketidakadilan (injustice) dan ketidak-fair-an (unfairness) dalam perdagangan itu. Tulisan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/18/opini-kesepakatan-dagang-timbal-balik-atau-pesta-mineral-kritis-amerika-serikat/">Opini: Kesepakatan Dagang Timbal Balik atau Pesta Mineral Kritis Amerika Serikat?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Indonesia dan Amerika Serikat (AS) tandatangani kesepakatan dagang timbal balik (agreement on reciprocal trade/ART),  pada 19 Februari 2026. Kesepakatan ini tak hanya menimbulkan konsekuensi kelembagaan (hukum bisnis internasional) bagi Indonesia juga berimplikasi secara ekonomi politik dan geopolitik. Pasalnya, isi kesepakatan itu justru memproduksi ketidaksetaraan (inequality), ketidakadilan (injustice) dan ketidak-fair-an (unfairness) dalam perdagangan itu. Tulisan ini akan menyoroti imbas kesepakatan ini terhadap aktivitas pertambangan khusus mineral kritis di Indonesia. Jika dicermati, ada klausal kontroversial. Pertama, Pasal 6.1 menghapus hambatan ekspor mineral kritis. Pasal ini bertentangan dengan kebijakan larangan ekspor bijih mineral kritis mentah (hilirisasi). Kedua, absennya klausal free, prior and informed consent (FPIC) untuk melindungi hak-hak masyarakat adat. Ketiga, perusahaan-perusahaan tambang Amerika Serikat memperoleh akses terbuka di Indonesia. Artinya,  operasi mereka setara dengan BUMN, seperti PT Aneka Tambang (Antam) tanpa disertai kewajiban transfer teknologi yang mengikat. Keempat,  Indonesia juga memilik kewajiban yang bersifat mandatory untuk mengimpor energi fosil dari AS US$15 miliar per tahun. Angka ini lima kali lipat lebih besar dari impor Indonesia dari AS pada 2025. Bukankah kesepakatan ini membuat AS pesta mineral kritis? Ironisnya, Pemerintah Indonesia tak menggubris kritik dan penolakan kesepakatan itu yang datang dari akademisi, organisasi masyarakat sipil hingga pakar ekonomi. Organisasi masyarakat sipil antara lain, Indonesia for Global Justice (IGJ) mengajukan 33 poin keberatan, juga Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) menilai,  kesepakatan ini sebagai penguatan ekstraktivisme dan mengabaikan kedaulatan negara atas sumber daya alam termasuk mineral emas di Papua. Bahkan koalisi masyarakat sipil juga menggugat kesepakatan dagang ART ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Mengapa&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/18/opini-kesepakatan-dagang-timbal-balik-atau-pesta-mineral-kritis-amerika-serikat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/18/opini-kesepakatan-dagang-timbal-balik-atau-pesta-mineral-kritis-amerika-serikat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Koloni Laba-laba Terbesar di Dunia Ditemukan di Tempat yang Tidak Pernah Kena Sinar Matahari</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/koloni-laba-laba-terbesar-di-dunia-ditemukan-di-tempat-yang-tidak-pernah-kena-sinar-matahari/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/koloni-laba-laba-terbesar-di-dunia-ditemukan-di-tempat-yang-tidak-pernah-kena-sinar-matahari/#respond</comments>
					<pubDate>18 Jun 2026 00:58:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/11/11115555/screenshot_2025-11-06_at_105053am-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129390</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di bawah perbatasan Albania dan Yunani, di dalam gua yang tidak pernah mendapat sinar matahari dan dipenuhi gas belerang beracun, para peneliti menemukan koloni laba-laba terbesar yang pernah tercatat di alam: sekitar 111 ribu individu dari dua spesies berbeda, membangun jaring bersama seluas 106 meter persegi di dinding batu yang lembap. Temuan ini diterbitkan di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/koloni-laba-laba-terbesar-di-dunia-ditemukan-di-tempat-yang-tidak-pernah-kena-sinar-matahari/">Koloni Laba-laba Terbesar di Dunia Ditemukan di Tempat yang Tidak Pernah Kena Sinar Matahari</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di bawah perbatasan Albania dan Yunani, di dalam gua yang tidak pernah mendapat sinar matahari dan dipenuhi gas belerang beracun, para peneliti menemukan koloni laba-laba terbesar yang pernah tercatat di alam: sekitar 111 ribu individu dari dua spesies berbeda, membangun jaring bersama seluas 106 meter persegi di dinding batu yang lembap. Temuan ini diterbitkan di jurnal Subterranean Biology tahun 2025 oleh tim yang dipimpin István Urák dari Sapientia Hungarian University of Transylvania. Gua itu bernama Sulfur Cave, bagian dari sistem gua bawah tanah di Lembah Sarandaporo. Di dalamnya, air panas kaya belerang terus keluar dari dasar bumi. Gas hidrogen sulfida yang memenuhi udara gua bersifat beracun bagi manusia, kadar oksigennya rendah, dan tidak ada cahaya sama sekali. Tapi justru kondisi itulah yang menopang seluruh ekosistem di dalamnya. Rantai makanannya dimulai dari bakteri pengoksidasi sulfur yang memanfaatkan gas H₂S sebagai sumber energi, membentuk lapisan biofilm di dinding dan dasar sungai gua. Lapisan ini dimakan larva lalat kecil dari keluarga chironomid. Ketika dewasa, lalat-lalat itu beterbangan dalam kawanan padat di atas aliran air belerang yang hangat, menyediakan sumber makanan konstan bagi laba-laba yang menempel di dinding. Tidak ada bahan organik dari luar yang masuk dalam jumlah berarti. Ekosistem ini sepenuhnya mandiri dari sinar matahari. Dua spesies yang membangun koloni ini, Tegenaria domestica dan Prinerigone vagans, umumnya hidup soliter. Di Sulfur Cave, keduanya hidup berdampingan tanpa konflik, berbagi ruang dan mangsa. Kepadatan mencapai rata-rata 650 individu T. domestica dan 800 individu P. vagans per meter persegi. Peneliti menyebut fenomena ini sebagai &#8220;kolonialitas fakultatif&#8221;,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/koloni-laba-laba-terbesar-di-dunia-ditemukan-di-tempat-yang-tidak-pernah-kena-sinar-matahari/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/koloni-laba-laba-terbesar-di-dunia-ditemukan-di-tempat-yang-tidak-pernah-kena-sinar-matahari/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>