<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=ebed-de-rosary-nagekeo&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/ebed-de-rosary-nagekeo/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Sat, 06 Jun 2026 12:10:20 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
				<item>
					<title>Masyarakat Tanah Batak Desak Akui Wilayah Adat Pasca Pencabutan Izin PT TPL</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/06/masyarakat-tanah-batak-desak-akui-wilayah-adat-pasca-pencabutan-izin-pt-tpl/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/06/masyarakat-tanah-batak-desak-akui-wilayah-adat-pasca-pencabutan-izin-pt-tpl/#respond</comments>
					<pubDate>06 Jun 2026 12:10:20 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Donny Iqbal]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunits lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/06120056/Tano-Batak-78-of-155-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128881</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Pada penghujung 2025, kabar pencabutan izin perusahaan kayu, PT Toba Pulp Lestari, Masyarakat Adat Tano Batak dengar dan sempat memberi sedikit rasa lega. Bagi masyarakat adat, pencabutan izin hanyalah urusan administrasi. Yang paling mendasar pengakuan wilayah adat. Mersi Silalahi, perempuan adat Sihaporas mengatakan, selama tidak ada pengakuan negara, ruang hidup mereka tetap tak ada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/06/masyarakat-tanah-batak-desak-akui-wilayah-adat-pasca-pencabutan-izin-pt-tpl/">Masyarakat Tanah Batak Desak Akui Wilayah Adat Pasca Pencabutan Izin PT TPL</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Pada penghujung 2025, kabar pencabutan izin perusahaan kayu, PT Toba Pulp Lestari, Masyarakat Adat Tano Batak dengar dan sempat memberi sedikit rasa lega. Bagi masyarakat adat, pencabutan izin hanyalah urusan administrasi. Yang paling mendasar pengakuan wilayah adat. Mersi Silalahi, perempuan adat Sihaporas mengatakan, selama tidak ada pengakuan negara, ruang hidup mereka tetap tak ada kepastian, tetap akan nelangsa. Bisa jadi eksploitasi terjadi lagi oleh pihak lain di masa depan. Hingga kini, katanya, sekalipun sudah setengah tahun pencabutan izin, beberapa petugas keamanan perusahaan masih berjaga di akses masuk ke kampung. “Satu sisi kami senang karena perjuangan kami ini dihadapkan dengan kemustahilan, tapi ternyata bisa juga perusahan itu ditutup operasinya,” kata perempuan 48 tahun ini saat ditemui beberapa waktu lalu. Meski begitu dia tetap khawatir. Dia ingin memastikan hak masyarakat adat sekaligus tanah mereka segera pemerintah akui. “Hutan dan adat bagi saya segalanya. Kehidupan kami terjamin, tapi jika itu rusak tatanan hidup menjadi kacau.” Dia bilang perjuangan belum selesai. “Kami pastikan terus melawan. Sampai anak-cucu kami dijamin haknya, jangan sampai seperti kami orang tuangnya.” Kondisi serupa juga Komunitas Masyarakat Adat Punduraham Simanjuntak rasakan. Wilayah adat mereka di Desa Natumingka, Kecamatan Borbor, Kabupaten Toba, Sumatra Utara,  dalam klaim  TPL dalam 40 tahun ini. Nelson Simanjuntak,  Ketua Komunitas Adat Punduraham Simanjuntak cerita, berawal dari pengelolaan PT Inti Indorayon Utama pada 1986, lalu berganti nama jadi TPL. Dia bilang, banyak yang hilang dari mereka. Hal paling kentara, katanya, ihwal pengelolaan hutan berbasis adat. Pengetahuan mereka terkait pangan dan obat-obatan terkikis karena ketiadaan akses. “Saat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/06/masyarakat-tanah-batak-desak-akui-wilayah-adat-pasca-pencabutan-izin-pt-tpl/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/06/masyarakat-tanah-batak-desak-akui-wilayah-adat-pasca-pencabutan-izin-pt-tpl/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Penampungan Limbah Batubara di Rantau Bakula Jebol Berulang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/06/ketika-penampungan-limbah-batubara-di-rantau-bakula-jebol-berulang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/06/ketika-penampungan-limbah-batubara-di-rantau-bakula-jebol-berulang/#respond</comments>
					<pubDate>06 Jun 2026 02:00:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/04/21232509/Rantau-Bakula--768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128809</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, bencana, data dan statistik, pencemaran, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kolam pengendapan limbah cair (settling pond) perusahaan pertambangan batubara bawah tanah (underground) PT Merge Mining Industri (MMI), di Desa Rantau Bakula, Kecamatan Sungai Pinang, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, kembali jebol, Selasa (2/6) dini hari. Warga setempat khawatir dampak lingkungan, terutama di Sungai Lancar, tempat mereka mandi dan mencuci. Suyatno, warga Ranuat Bakula, bilang, dinding tanggul [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/06/ketika-penampungan-limbah-batubara-di-rantau-bakula-jebol-berulang/">Ketika Penampungan Limbah Batubara di Rantau Bakula Jebol Berulang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kolam pengendapan limbah cair (settling pond) perusahaan pertambangan batubara bawah tanah (underground) PT Merge Mining Industri (MMI), di Desa Rantau Bakula, Kecamatan Sungai Pinang, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, kembali jebol, Selasa (2/6) dini hari. Warga setempat khawatir dampak lingkungan, terutama di Sungai Lancar, tempat mereka mandi dan mencuci. Suyatno, warga Ranuat Bakula, bilang, dinding tanggul jebol ke samping selebar 30 meter. Air bercampur lumpur pekat meluber hingga menutupi jalan hauling persis di bagian bawah. “Pagi tadi jalan itu tertutup total. Ketinggian lumpurnya bahkan lebih dari satu meter,” kata  pria 39 tahun itu. Raden Rafiq, Direktur Eksekutif Daerah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalimantan Selatan, menyebut,  jebolnya tanggul MMI bukan hanya persoalan teknis sepele. Karena, kejadian serupa terjadi berulang. Pada 2024, saat awal pembangunan settling pond maupun pada 2026 di lokasi sama. Ini menunjukkan lemahnya pengelolaan lingkungan serta belum optimalnya penerapan standar keselamatan dan manajemen risiko lapangan di perusahaan. Karena itu, dia minta pemerintah mengevaluasi menyeluruh aktivitas perusahaan. Mulai dari kepatuhan terhadap dokumen lingkungan, pengelolaan limbah, standar keselamatan fasilitas, hingga kelayakan izin operasi. Dia mendesak Dinas Lingkungan Hidup, Inspektur Tambang, Kementerian Lingkungan Hidup Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), serta aparat penegak hukum melakukan investigasi independen terbuka. Sehingga, publik mengetahui yang sebenarnya terjadi di sana. “Penegakan hukum harus tegas, termasuk kemungkinan penghentian sementara operasional hingga persoalan lingkungan diselesaikan. Jangan sampai minimnya efek jera membuat kejadian serupa terus terulang,” ucapnya. Apalagi, peristiwa tersebut terjadi di tengah belum selesainya berbagai persoalan yang selama ini warga keluhkan. Mulai dari kerusakan rumah dan bangunan,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/06/ketika-penampungan-limbah-batubara-di-rantau-bakula-jebol-berulang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/06/ketika-penampungan-limbah-batubara-di-rantau-bakula-jebol-berulang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Inisiatif Hutan Wakaf, Upaya Konservasi dari Swadaya Warga</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/05/inisiatif-hutan-wakaf-upaya-konservasi-dari-swadaya-warga/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/05/inisiatif-hutan-wakaf-upaya-konservasi-dari-swadaya-warga/#respond</comments>
					<pubDate>05 Jun 2026 23:53:52 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki MuazamJunaidi HanafiahPetrus Riski]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[komunita lokal]]></category>
		<category><![CDATA[p[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/05233339/Hutan-Wakaf-di-Jantho-Kabupaten-Aceh-Besar-3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128845</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[aceh, jawa barat, dan jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Suasana sejuk langsung terasa ketika memasuki lahan seluas 1,6 hektar di Desa Ngembat, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Pepohonan hijau nan rimbun mengelilingi kawasan di lereng Gunung Anjasmoro ini. Lahan itu merupakan hutan wakaf Yayasan Pendidikan dan Sosial Ma’arif (YPM) Sidoarjo. Agus Sugiarto,  Ketua Hutan Wakaf YPM, mengisahkan awal mula hutan wakaf itu. Tanah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/05/inisiatif-hutan-wakaf-upaya-konservasi-dari-swadaya-warga/">Inisiatif Hutan Wakaf, Upaya Konservasi dari Swadaya Warga</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Suasana sejuk langsung terasa ketika memasuki lahan seluas 1,6 hektar di Desa Ngembat, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Pepohonan hijau nan rimbun mengelilingi kawasan di lereng Gunung Anjasmoro ini. Lahan itu merupakan hutan wakaf Yayasan Pendidikan dan Sosial Ma’arif (YPM) Sidoarjo. Agus Sugiarto,  Ketua Hutan Wakaf YPM, mengisahkan awal mula hutan wakaf itu. Tanah semula lahan kering yang ditanami jagung. Guru-guru YPM beli pada 2000 lalu mereka hibahkan kepada yayasan pada 2019. Muncullah istilah, hutan wakaf. Proses itu harus melewati beberapa tahapan mulai dari ikrar wakaf di Kantor Urusan Agama (KUA), hingga pengurusan sertifikat di BPN untuk mengubah status kepemilikan sebagai wakaf atas nama yayasan yang mereka peruntukkan sebagai hutan lindung. “Kita tanda tangan 2023 untuk akad di KUA. Kemudian sambil jalan diurus juga sama notaris ke BPN hingga beralih menjadi tanah wakaf, di sertifikat BPN tertulis peruntukannya untuk hutan lindung, statusnya SHM (sertifikat hak milik),” kata Agus, Senin (1/6/26). Pada model tanah wakaf terdapatada tiga unsur harus terpenuhi, yaitu, wakaf atau pemberi wakaf yakni, guru-guru, nadzir (YPM), serta harta benda wakaf. Tanaman yang ada dilahan Perhutani, berbatasan dengan bagian atas hutan wakaf YPM. Foto: Petrus Riski/Mongabay Indonesia Wakaf pun, katanya, mempunyai tiga prinsip, yaitu, tidak bisa dijual, tak bisa dialihfungsikan, dan tidak bisa diwariskan. Selama ini, peruntukan wakaf hanya untuk masjid, makam, dan madrasah atau tempat pendidikan. Sedangka wakaf untuk hutan belum pernah ada hingga perlu pendekatan ke KUA. Dia bilang, awal mulai hutan wakaf, mereka lakukan pembibitan dan penanaman pada 2020, dengan kondisi awal hanya ada lima&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/05/inisiatif-hutan-wakaf-upaya-konservasi-dari-swadaya-warga/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/05/inisiatif-hutan-wakaf-upaya-konservasi-dari-swadaya-warga/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kucing Kuwuk, Predator Terkecil Sang Penopang Ekosistem yang Terlupakan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kucing-kuwuk-predator-terkecil-sang-penopang-ekosistem-yang-terlupakan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kucing-kuwuk-predator-terkecil-sang-penopang-ekosistem-yang-terlupakan/#respond</comments>
					<pubDate>05 Jun 2026 11:59:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[dunia kucing]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/02/14105748/Kucing-Kuwuk-Dok_-KSDA-Wilayah-III-Lampung1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128844</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>September 2025, tiga anak kucing kuwuk ditemukan warga di Bali Barat dalam kondisi memprihatinkan, hampir menjadi mangsa anjing setelah induknya menghilang. Dua di antaranya masih dirawat intensif di pusat rehabilitasi Umah Lumba, Buleleng. Satu kasus lain di Bogor, seekor kuwuk bernama Chiki, kini dalam perawatan di Cikananga Wildlife Center, Sukabumi. Bagi sebagian orang, ini terdengar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kucing-kuwuk-predator-terkecil-sang-penopang-ekosistem-yang-terlupakan/">Kucing Kuwuk, Predator Terkecil Sang Penopang Ekosistem yang Terlupakan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[September 2025, tiga anak kucing kuwuk ditemukan warga di Bali Barat dalam kondisi memprihatinkan, hampir menjadi mangsa anjing setelah induknya menghilang. Dua di antaranya masih dirawat intensif di pusat rehabilitasi Umah Lumba, Buleleng. Satu kasus lain di Bogor, seekor kuwuk bernama Chiki, kini dalam perawatan di Cikananga Wildlife Center, Sukabumi. Bagi sebagian orang, ini terdengar seperti berita hewan yang diselamatkan. Bagi para ahli, ini adalah gejala dari pola yang jauh lebih besar. Kucing kuwuk (Prionailurus bengalensis), atau kucing akar, adalah jenis kucing liar terkecil sekaligus paling adaptif di Asia. Beratnya hanya 3 hingga 7 kilogram, tubuhnya berbintik, dan kemampuannya berburu tikus serta burung menjadikannya penjaga keseimbangan ekosistem yang sesungguhnya. Persebarannya luas, dari Pakistan, India, Tiongkok, Asia Tenggara, hingga Indonesia, menghuni hutan primer, hutan sekunder, agroforestri, sawah, bahkan perkebunan. Tapi luas sebaran itu menipu. &#8220;Kita mengira populasinya stabil karena masih sering ditemukan, padahal banyak kawasan terjadi penurunan signifikan,&#8221; tulis kajian IUCN Red List 2022 tentang spesies ini. Di berbagai wilayah Asia Tenggara, populasinya menurun akibat kehilangan habitat dan tekanan manusia. Ironisnya, belum ada satu pun survei komprehensif yang mampu memotret jumlah individu secara akurat. &#8220;Dedicated survey untuk kucing kuwuk belum ada sepertinya,&#8221; kata Erwin Wilianto, pendiri Yayasan SINTAS Indonesia dan anggota IUCN-SSC Cat Specialist Group. Sebagian besar data yang ada bersifat anekdot, berasal dari laporan warga atau temuan insidental di lapangan. Ketika survei satwa liar dilakukan, fokusnya hampir selalu pada harimau atau macan tutul. Rekaman kuwuk hanya dianggap data sampingan. Ancaman terhadap spesies ini tidak datang dari satu arah. Deforestasi untuk&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kucing-kuwuk-predator-terkecil-sang-penopang-ekosistem-yang-terlupakan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kucing-kuwuk-predator-terkecil-sang-penopang-ekosistem-yang-terlupakan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Refleksi Hari Lingkungan: Ketika Pengembangan Biodiesel Bisa Ancam Hutan Tersisa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/05/refleksi-hari-lingkungan-ketika-pengembangan-biodiesel-bisa-ancam-hutan-tersisa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/05/refleksi-hari-lingkungan-ketika-pengembangan-biodiesel-bisa-ancam-hutan-tersisa/#respond</comments>
					<pubDate>05 Jun 2026 10:54:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Themmy Doaly]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/10073322/Perluasan-perkebunan-sawit-menjadi-ancaman-menurunnya-produksi-serta-minat-menanam-sayuran-masyarakat-Bangka-Belitung.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128826</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Pusaran Masalah Seputar Industri Sawit]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, politik dan hukum, sawit, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hari Lingkungan Hidup 5 Juni jadi momen untuk merefleksikan kondisi hutan Indonesia yang terus terancam, antara lain atas nama transisi energi melalui pengembangan biodiesel 50% (B50). Biodiesel Indonesia bergantung sawit hingga makin besar penggunaan biodiesel dalam energi, rawan terjadi ekspansi lahan dan hutan tersisa di nusantara ini. Organisasi masyarakat sipil pun memberikan ragam respons kekhawatiran. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/05/refleksi-hari-lingkungan-ketika-pengembangan-biodiesel-bisa-ancam-hutan-tersisa/">Refleksi Hari Lingkungan: Ketika Pengembangan Biodiesel Bisa Ancam Hutan Tersisa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hari Lingkungan Hidup 5 Juni jadi momen untuk merefleksikan kondisi hutan Indonesia yang terus terancam, antara lain atas nama transisi energi melalui pengembangan biodiesel 50% (B50). Biodiesel Indonesia bergantung sawit hingga makin besar penggunaan biodiesel dalam energi, rawan terjadi ekspansi lahan dan hutan tersisa di nusantara ini. Organisasi masyarakat sipil pun memberikan ragam respons kekhawatiran. Mereka takut langkah ini mengancam sisa hutan, juga meminggirkan hak masyarakat dan lingkungan. Sebelumnya, Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, bilang, pemerintah tengah mempercepat implementasi program B50 sebagai bagian dari upaya kemandirian dan efisiensi energi. Kebijakan penerapan B50 ini akan mulai berlaku 1 Juli 2026. “Pertamina telah siap untuk mengimplementasikan blending, dan ini berpotensi mengurangi penggunaan BBM berbasis fosil sebanyak 4 juta kiloliter,” ujarnya di laman Sekretariat Kabinet. Implementasi B50, katanya, juga berdampak signifikan terhadap penghematan anggaran negara. Dalam enam bulan, ada penghematan subsidi dari biodiesel yang berpotensi mencapai Rp48 triliun. Pemerintah yakin, implementasi B50 bisa menunjukkan posisi Indonesia yang melaju ke arah kemandirian energi di tengah ketidakpastian global. Nadia Hadad, Direktur Eksekutif Madani Berkelanjutan bilang, rencana implementasi B50 berisiko meningkatkan kebutuhan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di dalam negeri, yang  akhirnya menimbulkan tekanan pada penggunaan lahan. Koalisi Transisi Bersih (KTB) memperkirakan implementasi B50 perlu tambahan bahan baku fatty acid methyl ester (FAME) hingga 19 juta kiloliter, hingga berisiko memicu kembali kelangkaan minyak goreng seperti tahun 2022. Masalahnya, daya tampung ekosistem sudah tidak memungkinkan untuk perluasan sawit. Kajian Madani Berkelanjutan menunjukkan,  batas atas sawit berdasarkan daya tampung lingkungan hanya sampai angka 18,15 juta hektar.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/05/refleksi-hari-lingkungan-ketika-pengembangan-biodiesel-bisa-ancam-hutan-tersisa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/05/refleksi-hari-lingkungan-ketika-pengembangan-biodiesel-bisa-ancam-hutan-tersisa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: Aceh dan Lahirnya Hutan Wakaf</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/05/opini-aceh-dan-lahirnya-hutan-wakaf/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/05/opini-aceh-dan-lahirnya-hutan-wakaf/#respond</comments>
					<pubDate>05 Jun 2026 07:46:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Azhar *]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[admin]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Opini]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/05073253/Hutan-Wakaf-di-Jantho-Kabupaten-Aceh-Besar-6-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128828</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[aceh]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[gaya hidup, hutan indonesia, komunitas lokal, solusi iklim, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hutan Wakaf Aceh lahir dari gagasan sederhana di Banda Aceh, Provinsi Aceh, tahun 2012. Ide ini muncul dari empat pemuda Aceh -Afrizal Akmal, Azhar, Yoesman Nurzaman Tanjung, dan Alit Ferdian- yang ingin menghadirkan konservasi berbasis spiritual dan kepedulian lingkungan. Gerakan konservasi yang menyatu dengan nilai, budaya, dan keyakinan masyarakat Aceh. Dua dunia yang selama ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/05/opini-aceh-dan-lahirnya-hutan-wakaf/">Opini: Aceh dan Lahirnya Hutan Wakaf</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hutan Wakaf Aceh lahir dari gagasan sederhana di Banda Aceh, Provinsi Aceh, tahun 2012. Ide ini muncul dari empat pemuda Aceh -Afrizal Akmal, Azhar, Yoesman Nurzaman Tanjung, dan Alit Ferdian- yang ingin menghadirkan konservasi berbasis spiritual dan kepedulian lingkungan. Gerakan konservasi yang menyatu dengan nilai, budaya, dan keyakinan masyarakat Aceh. Dua dunia yang selama ini berjalan masing-masing dimunculkan: konservasi hutan dan konsep wakaf dalam Islam. Gagasan ini kemudian berkembang menjadi sebuah pendekatan baru yang disebut “Hutan Wakaf” yaitu sebuah model pelestarian alam yang tidak hanya berbasis ekologi, tetapi juga berlandaskan ibadah dan keberlanjutan manfaat sosial. Aceh merupakan ruang subur bagi lahirnya pendekatan alternatif ini, di tengah meningkatnya kekhawatiran kita terhadap deforestasi, degradasi lahan, krisis iklim, konflik satwa, dan krisis iklim. Data Forest Watch Indonesia (FWI, 2023) menunjukkan bahwa tekanan terhadap kawasan hutan di Sumatera, termasuk Aceh, terus meningkat akibat ekspansi perkebunan, pertambangan, dan pembalakan liar. Dampaknya sudah nyata: banjir lebih sering terjadi, kualitas air menurun, suhu meningkat, dan konflik manusia-satwa kian intens (FWI, 2023; Walhi Aceh, 2022). Hutan Wakaf Jantho di Aceh Besar, merupakan dikembangkan sebagai ruang konservasi, edukasi, dan penelitian berbasis masyarakat. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. Dalam konteks inilah Hutan Wakaf hadir, sebagai respons sosial dan ekologis. Ia memadukan konservasi dengan instrumen wakaf, yaitu tanah yang diikat sebagai sedekah amal jariyah yang tidak boleh dialihkan kepemilikannya. Dari sini, hutan tidak lagi dipandang sebagai sumber daya publik, tapi sebagai amanah bersama yang harus dijaga lintas generasi. Secara konseptual, Hutan Wakaf membuka ruang pemanfaatan yang tetap menjaga ekosistem. Hasil hutan non-kayu,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/05/opini-aceh-dan-lahirnya-hutan-wakaf/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/05/opini-aceh-dan-lahirnya-hutan-wakaf/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Di Lereng Muria, Macan Tutul Dipanggil &#8216;Kyai&#8217;</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/di-lereng-muria-macan-tutul-dipanggil-kyai/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/di-lereng-muria-macan-tutul-dipanggil-kyai/#respond</comments>
					<pubDate>05 Jun 2026 03:49:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[dunia kucing]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/05/21232133/FOTO-PENDUKUNG-4-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128815</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[kucing hutan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Mukadi, petani kopi berusia 46 tahun dari Desa Japan di lereng Gunung Muria, belum pernah melihat langsung macan tutul. Tapi ia pernah menemukan jejaknya di lahan sendiri, bekas kaki dan sisa kijang yang dimangsa. Reaksinya bukan panik atau melapor. &#8220;Hewan sebuas apapun, bila tidak disakiti, tidak akan mengganggu,&#8221; ujarnya. Sikap seperti ini bukan keanehan di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/di-lereng-muria-macan-tutul-dipanggil-kyai/">Di Lereng Muria, Macan Tutul Dipanggil &#8216;Kyai&#8217;</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Mukadi, petani kopi berusia 46 tahun dari Desa Japan di lereng Gunung Muria, belum pernah melihat langsung macan tutul. Tapi ia pernah menemukan jejaknya di lahan sendiri, bekas kaki dan sisa kijang yang dimangsa. Reaksinya bukan panik atau melapor. &#8220;Hewan sebuas apapun, bila tidak disakiti, tidak akan mengganggu,&#8221; ujarnya. Sikap seperti ini bukan keanehan di lereng Muria. Ia adalah bagian dari cara pandang yang sudah lama mengakar di komunitas petani di kawasan pegunungan yang membentang di Kabupaten Kudus, Pati, dan Jepara, Jawa Tengah. Di beberapa desa setempat, macan tutul jawa (Panthera pardus melas) tidak sekadar disebut sebagai predator puncak. Dalam narasi lisan masyarakat, satwa ini disebut kyai, penjaga rimba, sosok yang merepresentasikan keseimbangan antara manusia dan alam. Riman, petani kopi berusia 83 tahun yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya di lereng Muria, pernah merasakan sendiri dampak konflik dengan satwa ini ketika ternaknya diserang macan tutul. Namun alih-alih dendam, kejadian itu justru mempertegas keyakinannya. &#8220;Hubungan manusia dengan satwa harus kita perhatikan,&#8221; katanya. Keyakinan seperti ini, ternyata, punya nilai konservasi yang nyata. Teguh Budi Wiyono, Ketua Yayasan Penggiat Konservasi Muria (PEKA Muria), mencatat bahwa sikap hormat petani lokal terhadap macan tutul menjadi salah satu faktor yang membantu kelangsungan hidup satwa ini di kawasan tersebut. Pada 2018, PEKA Muria bersama sejumlah pihak melakukan pemantauan menggunakan kamera jebak di titik-titik strategis. Hasilnya: sekitar 14 individu dewasa macan tutul terdeteksi di kawasan hutan Muria. Angka itu kecil, tapi signifikan. Macan tutul jawa adalah satu-satunya predator puncak yang tersisa di Pulau Jawa, dan populasinya terus tertekan oleh&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/di-lereng-muria-macan-tutul-dipanggil-kyai/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/di-lereng-muria-macan-tutul-dipanggil-kyai/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ilusi Solusi Gas, Dorong Energi Komunitas di Bali</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/05/ilusi-solusi-gas-dorong-energi-komunitas-di-bali/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/05/ilusi-solusi-gas-dorong-energi-komunitas-di-bali/#respond</comments>
					<pubDate>05 Jun 2026 02:54:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Luh De Suriyani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2016/05/22094859/PLTS-Kubu-Anak-Sekolah-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128816</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pusat wisata di Selatan Bali makin ramai. Distribusi bahan bakar pun makin terfokus ke sana. Di antara akar-akar tanaman pohon pada ekosistem mangrove pipa-pipa distribusi bahan bakar membelah kawasan hutan.  Hutan mangrove Selatan Bali pun sedang tidak baik-baik saja, ruang terbuka hijau satu-satunya kini makin terancam. Belum lagi, pemerintah mencanangkan pengembangan infrastruktur bahan bakar baru [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/05/ilusi-solusi-gas-dorong-energi-komunitas-di-bali/">Ilusi Solusi Gas, Dorong Energi Komunitas di Bali</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pusat wisata di Selatan Bali makin ramai. Distribusi bahan bakar pun makin terfokus ke sana. Di antara akar-akar tanaman pohon pada ekosistem mangrove pipa-pipa distribusi bahan bakar membelah kawasan hutan.  Hutan mangrove Selatan Bali pun sedang tidak baik-baik saja, ruang terbuka hijau satu-satunya kini makin terancam. Belum lagi, pemerintah mencanangkan pengembangan infrastruktur bahan bakar baru dengan pembangunan terminal gas cair atau LNG di perairan Desa Sidakarya. Dengan begitu akan ada jalur distribusi pipa-pipa gas baru yang melewati ekosistem pesisir termasuk mangrove. Kawasan mangrove mulai Pantai Mertasari (Sanur), Pantai Sidakarya, Serangan, sampai Teluk Benoa. Kondisi ini mengkhawatirkan berbagai kalangan. Dalam diskusi tentang energi fosil di Denpasar tahun lalu yang LBH Bali adakan mereka membahas risiko gas yang Pemerintah Bali, gadang-gadang sebagai solusi energi bersih ini.  LNG ini bisa berdampak buruk bagi masyarakat dan lingkungan. Sigit K. Budiono, Juru Kampanye dari Koalisi Rakyat untuk Hak Atas Air (KRuHA)  contohkan,  kasus terminal gas yang berdampak pada kerusakan lingkungan. Floating Storage Regasification Unit Jawa 1 (FSRU Jawa 1), katanya,  berdampak pada nelayan pesisir mengeluhkan pendangkalan parah dan pencemaran laut. Ada juga ekstraksi di Kabupaten Banggai,  berdampak pada maleo, burung endemik Sulawesi. Ekspansi pipa-pipa distribusi gas, katanya,  menyebabkan habitat dan pengembangbiakan burung maleo terhambat. Belum lagi risiko lepasan emisi. Riset Trend Asia berjudul Investasi LNG Jalan Mundur Investasi Iklim, dan analisis Climate Action Tracker (CAT) menemukan,  ekspansi dan pembangunan infrastruktur gas dapat meningkatkan emisi lebih dari 2,9 GtCO2-e setiap tahun pada 2030. Ignatius Rhadite, advokat dari LBH Bali mengatakan, dalam narasi Bali mandiri energi oleh&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/05/ilusi-solusi-gas-dorong-energi-komunitas-di-bali/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/05/ilusi-solusi-gas-dorong-energi-komunitas-di-bali/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Empat Ular Pohon Baru Ditemukan , Salah Satunya Membelit Elang Hidup-hidup</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/empat-ular-pohon-baru-ditemukan-salah-satunya-membelit-elang-hidup-hidup/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/empat-ular-pohon-baru-ditemukan-salah-satunya-membelit-elang-hidup-hidup/#respond</comments>
					<pubDate>05 Jun 2026 01:29:47 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/05/21232246/ezgif.com-webp-to-jpg-converter-3.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128814</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Seorang herpetolog sedang melakukan ekspedisi di hutan tropis Papua Nugini ketika ia menyaksikan sesuatu yang jarang sekali dilihat manusia: seekor ular hitam legam membelit dan melumpuhkan seekor elang hidup-hidup, dengan bentang sayap mangsa mencapai 1,2 meter. Ular itu tidak ia kenali. Dan memang seharusnya begitu, karena ular itu belum pernah ada dalam catatan ilmiah mana [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/empat-ular-pohon-baru-ditemukan-salah-satunya-membelit-elang-hidup-hidup/">Empat Ular Pohon Baru Ditemukan , Salah Satunya Membelit Elang Hidup-hidup</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Seorang herpetolog sedang melakukan ekspedisi di hutan tropis Papua Nugini ketika ia menyaksikan sesuatu yang jarang sekali dilihat manusia: seekor ular hitam legam membelit dan melumpuhkan seekor elang hidup-hidup, dengan bentang sayap mangsa mencapai 1,2 meter. Ular itu tidak ia kenali. Dan memang seharusnya begitu, karena ular itu belum pernah ada dalam catatan ilmiah mana pun. Fred Kraus, herpetolog dari University of Michigan, mempublikasikan temuannya di jurnal Zootaxa pada April 2025. Hasilnya: empat spesies ular pohon baru dari genus Dendrelaphis, semuanya ditemukan di pulau-pulau terpencil dalam gugusan Kepulauan Louisiade dan Woodlark di Provinsi Milne Bay, Papua Nugini. Ular yang membelit elang itu diidentifikasi sebagai Dendrelaphis anthracina, dinamai dari kata Latin untuk &#8220;hitam arang.&#8221; Tubuhnya bisa mencapai 142 cm, berwarna hitam mengkilap dengan dagu putih mencolok. Selain perilakunya yang agresif, spesies ini ditemukan di berbagai tipe habitat, dari hutan hujan primer hingga kebun dan pekarangan yang dikelola manusia. Di Pulau Misima, Kraus menemukan spesies kedua: Dendrelaphis atra, yang juga berwarna hitam namun tanpa kilap, matte black. Individu mudanya berwarna abu-abu kecoklatan yang berubah menjadi hitam solid seiring usia. Sepanjang 125 cm, ular ini ditemukan tidak hanya di hutan, tetapi juga di area pertambangan dan sekitar bangunan. Pulau Rossel menjadi lokasi penemuan ketiga, Dendrelaphis melanarkys, yang paling mudah dikenali secara visual: mata jingga terang, sisik gelap berpola menyerupai jaring, dan lidah berwarna gelap. Namanya diambil dari kata Yunani untuk &#8220;hitam&#8221; dan &#8220;jaring.&#8221; Dengan panjang hampir 150 cm, ia adalah yang terbesar di antara keempat spesies baru ini. Sementara di Pulau Woodlark, ditemukan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/empat-ular-pohon-baru-ditemukan-salah-satunya-membelit-elang-hidup-hidup/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/empat-ular-pohon-baru-ditemukan-salah-satunya-membelit-elang-hidup-hidup/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Elva Gemita, Perempuan &#8216;Harimau&#8217; yang Jejaknya Tak Ikut Pergi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/elva-gemita-perempuan-harimau-yang-jejaknya-tak-ikut-pergi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/elva-gemita-perempuan-harimau-yang-jejaknya-tak-ikut-pergi/#respond</comments>
					<pubDate>05 Jun 2026 01:26:06 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/12/21234906/jambi-hutan--768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128813</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jambi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Hutan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Elva Gemita tidak pernah menyelesaikan sarjana biologi atau kehutanan. Ia lahir dan besar di pinggir Taman Nasional Kerinci Seblat, Jambi, di tengah hutan yang kelak menjadi seluruh hidupnya. Dan ketika ia pergi pada 24 November 2024 di usia 44 tahun karena kanker, dunia konservasi Indonesia kehilangan salah satu suaranya yang paling gigih. Karir Elva dimulai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/elva-gemita-perempuan-harimau-yang-jejaknya-tak-ikut-pergi/">Elva Gemita, Perempuan &#8216;Harimau&#8217; yang Jejaknya Tak Ikut Pergi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Elva Gemita tidak pernah menyelesaikan sarjana biologi atau kehutanan. Ia lahir dan besar di pinggir Taman Nasional Kerinci Seblat, Jambi, di tengah hutan yang kelak menjadi seluruh hidupnya. Dan ketika ia pergi pada 24 November 2024 di usia 44 tahun karena kanker, dunia konservasi Indonesia kehilangan salah satu suaranya yang paling gigih. Karir Elva dimulai bukan dari ruang kuliah, melainkan dari lapangan. Pada 2003, ia bekerja sebagai asisten peneliti di Proyek Harimau Jambi kelolaan Zoological Society of London, memantau satwa liar melalui transek garis, mengumpulkan data jejak kaki dan feses, mengoperasikan jebakan kamera, dan membongkar jerat ilegal yang dipasang di dalam hutan. Ia satu-satunya perempuan dalam banyak proyek yang ia ikuti. &#8220;Mba Elva adalah contoh leader yang sangat berkomitmen terhadap visinya, tidak segan langsung terjun ke lapangan memberikan contoh dan menyemangati anggota timnya,&#8221; kenang Tomi Ariyanto, rekan kerjanya di periode itu. Dari lapangan Kerinci, Elva terus bergerak. Ia menjabat Manajer Lapangan di Durrell Institute of Conservation and Ecology bekerja sama dengan Flora and Fauna International, lalu menjadi Koordinator Tim di Taman Nasional Kerinci Seblat. Pada 2016, ia meraih gelar Magister Manajemen Proyek Konservasi dari University of Kent, Inggris, dengan beasiswa yang ia perjuangkan sendiri. Tesisnya tentang strategi pengelolaan harimau Sumatera di Hutan Harapan didasarkan pada data jebakan kamera yang ia kumpulkan selama enam tahun di lapangan. &#8220;Elva itu bahasa Inggrisnya selayak bangsawan Inggris. Dia yang lahir dan besar di kampung, mampu membuktikan itu bukan halangan meraih mimpi kuliah ke luar negeri,&#8221; kata Iding Haidir, Ketua Forum Harimau Kita, yang mengaku&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/elva-gemita-perempuan-harimau-yang-jejaknya-tak-ikut-pergi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/elva-gemita-perempuan-harimau-yang-jejaknya-tak-ikut-pergi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Terdampak Industri Nikel, Warga Obi Ngadu ke Jakarta  [2]  </title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/04/kala-warga-pulau-obi-gugat-predikat-hijau-harita-nikel/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/04/kala-warga-pulau-obi-gugat-predikat-hijau-harita-nikel/#respond</comments>
					<pubDate>04 Jun 2026 17:15:40 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Mahmud Ichi dan Rabul Sawal]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/12/22020311/Cemaran-tambang-di-kawasi-foto-Walhi-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128614</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[halmahera dan maluku utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, pencemaran, Pertambangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ketika tambang dan kawasan industri nikel masuk Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, masyarakat alami dampak multi. Dari kehilangan sumber pangan, seperti hutan sagu yang tergerus, sampai pencemaran lingkungan. Tak pelak, investasi masuk wilayah mereka, alih-alih warga nikmati kesejahteraan, malah sebaliknya. Akhir Mei lalu, sejumlah perwakilan warga Desa Kawasi, Pulau Obi, datangi sejumlah lembaga negara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/04/kala-warga-pulau-obi-gugat-predikat-hijau-harita-nikel/">Terdampak Industri Nikel, Warga Obi Ngadu ke Jakarta  [2]  </a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ketika tambang dan kawasan industri nikel masuk Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, masyarakat alami dampak multi. Dari kehilangan sumber pangan, seperti hutan sagu yang tergerus, sampai pencemaran lingkungan. Tak pelak, investasi masuk wilayah mereka, alih-alih warga nikmati kesejahteraan, malah sebaliknya. Akhir Mei lalu, sejumlah perwakilan warga Desa Kawasi, Pulau Obi, datangi sejumlah lembaga negara di Jakarta. Kedatangan mereka untuk sampaikan kondisi warga yang kian terdampak aktivitas tambang PT Harita Nikel dan anak perusahaannya. Koalisi Pengacara Lingkungan (Kapal), Wahana Lingkungan Hidup (Walhi)  Nasional dan Walhi Malut turut mendampingi warga. Mereka datang ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM),  Komisi Nasional Anti Kekerasan Perempuan (Komnas Perempuan), Komisi Perlindungan Anak dan Ibu (KPAI), Kementerian Hak Asasi Manusia (Kementerian HAM), maupun  Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). “Tujuan kami menuntut keadilan atas ruang hidup dan penghidupan, wilayah warga yang rusak akibat aktivitas tambang nikel yang menjadi bagian dari proyek strategis nasional,” kata Nurhayati Jumadi,  perwakilan warga Desa Kawasi, di sela kegiatan itu. Bagi Nurhayati, aktivitas Harita Nikel merusak urat nadi kehidupan warga melalui pencemaran sumber air dan ekosistem laut secara sistematis. Situasi itu menunjukkan, agenda transisi energi telah mengorbankan kelestarian lingkungan dan hak-hak dasar komunitas lokal. Perwakilan warga Pulau Obi bersama Walhi saat mendatangi kantor Komnas HAM di Jakarta. Foto: Walhi. Dia bilang  upaya  mereka ini tidak menentang kemajuan tetapi  mendesak pembangunan yang berjalan berlangsung secara adil dan menghormati hak hidup warga. Karena itu, mereka pun berharap lembaga negara yang mereka datangi menindaklanjuti aduan tersebut dan bekerja objektif demi tegaknya kemanusiaan dan kelestarian alam.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/04/kala-warga-pulau-obi-gugat-predikat-hijau-harita-nikel/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/04/kala-warga-pulau-obi-gugat-predikat-hijau-harita-nikel/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Harapan Energi Bersih di Tengah Krisis Iklim Global</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/04/harapan-energi-bersih-di-tengah-krisis-iklim-global/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/04/harapan-energi-bersih-di-tengah-krisis-iklim-global/#respond</comments>
					<pubDate>04 Jun 2026 10:01:05 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/04095347/Foto-Rawa-Singkil-7-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128792</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, jawa, pencemaran, sains dan Teknologi, Satwa, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Laporan terbaru Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebutkan rekor panas hampir pasti terjadi (91 persen) dalam kurun waktu 2026-2030. Ini memecahkan rekor sebelumnya pada 2024, ketika suhu rata-rata global melebihi 1,5°C di atas tingkat rata-rata dari tahun 1850-1900. &#8220;Ada El Nino yang diprediksi akhir 2026, yang meningkat kemungkinan tahun 2027, menjadi tahun pemecahan rekor (panas) berikutnya,&#8221; [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/04/harapan-energi-bersih-di-tengah-krisis-iklim-global/">Harapan Energi Bersih di Tengah Krisis Iklim Global</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Laporan terbaru Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebutkan rekor panas hampir pasti terjadi (91 persen) dalam kurun waktu 2026-2030. Ini memecahkan rekor sebelumnya pada 2024, ketika suhu rata-rata global melebihi 1,5°C di atas tingkat rata-rata dari tahun 1850-1900. &#8220;Ada El Nino yang diprediksi akhir 2026, yang meningkat kemungkinan tahun 2027, menjadi tahun pemecahan rekor (panas) berikutnya,&#8221; ungkap Leon Hermanson, penulis utama laporan tersebut. Ini berarti pemanasan global masih berlanjut. Es di Arktik mencair lebih cepat, curah hujan berubah drastis, kekeringan lebih parah dan berkepanjangan, dan hilangnya spesies karena gagal beradaptasi dengan cepat, menuju kepunahan massal. Pemanasan global tidak hanya mengubah cuaca, tetapi juga mengancam kesehatan manusia dan menambah beban bencana. Pemanasan global memantik gelombang panas yang memicu heat stress, penyakit menyebar dan meluas, menyebabkan gagal panen, hingga memicu kerusakan infrastruktur. Berita baiknya, untuk pertama kalinya dalam sejarah, energi angin dan surya berhasil mengalahkan gas alam dalam produksi listrik secara global pada April 2026. Ini bukti nyata bahwa transisi energi sedang berjalan meski masih harus dikerjakan jauh lebih cepat. “Tonggak sejarah ini terjadi selama bulan pertama krisis energi global terbaru yang dipicu konflik di Timur Tengah, menyoroti betapa cepatnya pertumbuhan pembangkit angin dan surya membentuk kembali bauran daya global. Bahkan, di tengah volatilitas pasar bahan bakar fosil,” tulis laporan dari Ember, think tank energi independen yang berbasis di London, Inggris. Angin dan matahari menghasilkan rekor 531 TWh listrik pada April 2026, 54 TWh lebih banyak dari pembangkit gas pada 477 TWh. Lima tahun lalu, pada April 2021, pembangkit gas berada pada tingkat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/04/harapan-energi-bersih-di-tengah-krisis-iklim-global/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/04/harapan-energi-bersih-di-tengah-krisis-iklim-global/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>King Cobra, Predator Puncak yang Memangsa Sesama Ular Berbisa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/king-cobra-predator-puncak-yang-memangsa-sesama-ular-berbisa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/king-cobra-predator-puncak-yang-memangsa-sesama-ular-berbisa/#respond</comments>
					<pubDate>04 Jun 2026 07:02:45 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/02/21233825/king-cobra-3498625_1280-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128787</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di antara ribuan spesies ular yang hidup di muka bumi, king cobra (Ophiophagus hannah) menempati posisi yang benar-benar berbeda. Bukan hanya karena tubuhnya yang bisa mencapai 5,5 meter, menjadikannya ular berbisa terpanjang di dunia, tetapi karena satu kebiasaan yang nyaris tak dimiliki ular lain: ia berburu dan memakan ular berbisa lainnya. Perilaku ini disebut ophiophagy, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/king-cobra-predator-puncak-yang-memangsa-sesama-ular-berbisa/">King Cobra, Predator Puncak yang Memangsa Sesama Ular Berbisa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di antara ribuan spesies ular yang hidup di muka bumi, king cobra (Ophiophagus hannah) menempati posisi yang benar-benar berbeda. Bukan hanya karena tubuhnya yang bisa mencapai 5,5 meter, menjadikannya ular berbisa terpanjang di dunia, tetapi karena satu kebiasaan yang nyaris tak dimiliki ular lain: ia berburu dan memakan ular berbisa lainnya. Perilaku ini disebut ophiophagy, dan king cobra adalah salah satu contoh paling ekstrem dari adaptasi tersebut. Mangsanya bukan sembarang ular. Ia secara rutin memburu krait (Bungarus sp.) dan kobra sejati (Naja sp.), dua kelompok ular dengan bisa neurotoksik paling mematikan di Asia. Selain keduanya, ular beludak Russell (Daboia russelii), ular tikus, hingga biawak kecil juga sesekali masuk dalam daftarnya, meski lebih bersifat oportunistik. Penelitian menunjukkan bahwa king cobra memiliki ketahanan terhadap racun neurotoksik dari mangsanya sendiri, sebuah adaptasi evolusi yang membuatnya nyaris tak tertandingi di habitatnya. Meski namanya mengandung kata &#8220;kobra,&#8221; king cobra bukan bagian dari genus Naja yang mencakup kobra India maupun kobra Mesir. Ia adalah satu-satunya anggota genus Ophiophagus, sebuah nama Latin yang secara harfiah berarti &#8220;pemakan ular.&#8221; Tudungnya lebih sempit, tubuhnya jauh lebih besar, dan pola makannya jauh lebih terspesialisasi dibanding kobra mana pun. Dalam berburu, king cobra mengandalkan penglihatan tajam dan organ Jacobson di langit-langit mulutnya untuk menganalisis partikel kimia yang ditangkap lidah bercabangnya. Dengan cara ini, ia bisa melacak keberadaan mangsa dengan akurasi tinggi sebelum menyerang dengan kecepatan luar biasa. Satu gigitan bisa menyuntikkan hingga 7 mililiter racun, mengandung neurotoksin yang melumpuhkan sistem saraf serta kardiotoksin yang menyerang jantung, cukup untuk membunuh seekor gajah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/king-cobra-predator-puncak-yang-memangsa-sesama-ular-berbisa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/king-cobra-predator-puncak-yang-memangsa-sesama-ular-berbisa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cinenen Pisang, Burung Mungil Penjahit Daun yang Akrab di Pekarangan Kita</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/cinenen-pisang-burung-mungil-penjahit-daun-yang-akrab-di-pekarangan-kita/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/cinenen-pisang-burung-mungil-penjahit-daun-yang-akrab-di-pekarangan-kita/#respond</comments>
					<pubDate>04 Jun 2026 06:51:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/06/22034527/BURUNG-CINENEN-PISANG-3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128786</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tubuhnya hanya sekitar 10 hingga 11 sentimeter, namun gerakannya tak pernah diam. Ia melompat dari ranting ke ranting, sesekali menyelipkan kepala ke dalam batang bambu untuk mencari makan, lalu muncul kembali seolah tak terjadi apa-apa. Saat tidur, tubuhnya menggulung membulat seperti bola pingpong. Inilah cinenen pisang (Orthotomus sutortus), salah satu burung paling familiar di pekarangan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/cinenen-pisang-burung-mungil-penjahit-daun-yang-akrab-di-pekarangan-kita/">Cinenen Pisang, Burung Mungil Penjahit Daun yang Akrab di Pekarangan Kita</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tubuhnya hanya sekitar 10 hingga 11 sentimeter, namun gerakannya tak pernah diam. Ia melompat dari ranting ke ranting, sesekali menyelipkan kepala ke dalam batang bambu untuk mencari makan, lalu muncul kembali seolah tak terjadi apa-apa. Saat tidur, tubuhnya menggulung membulat seperti bola pingpong. Inilah cinenen pisang (Orthotomus sutortus), salah satu burung paling familiar di pekarangan rumah kita, namun justru paling jarang mendapat perhatian. Nama Inggrisnya, Common Tailorbird, bukan tanpa alasan. Burung ini membangun sarang dengan cara menjahit lembaran daun menggunakan serat alami dan jaring laba-laba, sebuah teknik yang membuat para pengamat burung berdecak kagum. Afinna Aninnas, peneliti dari Kelompok Pengamat Burung Zoothera Andromedae Universitas Brawijaya, bahkan menyebut teknik konstruksi sarang cinenen pisang bisa menjadi inspirasi bagi manusia dalam merancang struktur bangunan. Secara penampilan, cinenen pisang memadukan warna hijau zaitun di punggung dan sayap, putih keabu-abuan di bagian bawah tubuh, serta mahkota merah karat yang menjadi ciri khasnya. Paruhnya sedikit panjang dan meruncing, sangat pas untuk menangkap serangga kecil seperti ulat, jangkrik, dan telur semut. Kicauannya nyaring dan variatif, sehingga keberadaannya mudah dideteksi bahkan tanpa melihat langsung. Cinenen pisang tersebar luas di Pulau Jawa dan berbagai negara Asia, mulai dari India, Sri Lanka, Myanmar, Thailand, hingga Kamboja. Habitatnya beragam: pekarangan rumah, sawah, semak belukar, hingga hutan produksi. Justru karena terlalu umum itulah, burung ini kerap luput dari agenda riset. &#8220;Populasinya masih banyak, sehingga kurang menarik perhatian para peneliti,&#8221; kata Afinna. Padahal menurutnya, perilaku burung ini, terutama respons terhadap berbagai intervensi di habitat yang berbeda, masih sangat layak untuk dikaji lebih dalam.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/cinenen-pisang-burung-mungil-penjahit-daun-yang-akrab-di-pekarangan-kita/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/cinenen-pisang-burung-mungil-penjahit-daun-yang-akrab-di-pekarangan-kita/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Warga Gugat Pemerintah Karena Lamban Tangani Bencana Sumatera</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/04/ketika-warga-gugat-pemerintah-karena-lamban-tangani-bencana-sumatera/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/04/ketika-warga-gugat-pemerintah-karena-lamban-tangani-bencana-sumatera/#respond</comments>
					<pubDate>04 Jun 2026 04:30:52 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/03092224/Bencana-Sumut-Yuni--768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128765</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Belajar dari Bencana Sumatera]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sejumlah organisasi masyarakat sipil dan warga terdampak bencana Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menggugat pemerintah karena lambatnya penanganan bencana banjir dan longsor, akhir November 2025. Sudah lebih lima  bulan, masih banyak masyarakat yang belum mendapat hak dasar di daerah terdampak. Gugatan masuk ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), awal Mei. Tim Advokasi Keadilan untuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/04/ketika-warga-gugat-pemerintah-karena-lamban-tangani-bencana-sumatera/">Ketika Warga Gugat Pemerintah Karena Lamban Tangani Bencana Sumatera</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sejumlah organisasi masyarakat sipil dan warga terdampak bencana Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menggugat pemerintah karena lambatnya penanganan bencana banjir dan longsor, akhir November 2025. Sudah lebih lima  bulan, masih banyak masyarakat yang belum mendapat hak dasar di daerah terdampak. Gugatan masuk ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), awal Mei. Tim Advokasi Keadilan untuk Sumatera yang mendampingi koalisi menggunakan dalil yang didasari perluasan objek sengketa administrasi negara di PTUN berdasarkan Undang-undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan. Edy Kurniawan, Wakil Ketua Advokasi Bidang Ekonomi, Sosial, Budaya (Ekosob) Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) menilai, pemerintah tak mengutamakan pemulihan bencana Sumatera. Dia bilang, pemerintah lebih mementingkan kebijakan populis yang justru menghamburkan anggaran. Misal, program makan bergizi gratis (MBG) yang pos belanjanya mencapai Rp335 triliun, sampai pembelian 65.067 motor listrik Rp3,2 triliun hingga pakaian Rp622,3 miliar hanya untuk kepentingan program itu. Belum lagi, proyek-proyek mercusuar seperti Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Sekolah Rakyat. Sementara, nasib korban bencana Sumatera masih terkatung-katung, tanpa kejelasan pemulihan. Alih-alih mengerahkan seluruh daya dan upaya melakukan tanggap darurat, pemerintah pusat justru banyak melakukan tindakan yang menuai kritik. Seperti pernyataan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) soal situasi mencekam yang hanya ada di media sosial, penolakan bantuan asing, hingga penolakan penetapan status bencana nasional. “Presiden cenderung lambat dan tidak responsif dalam menyikapi desakan untuk meningkatkan status darurat bencana nasional.” Data BNPB menyebut, bencana ini merenggut 1.208 nyawa, 127 orang hilang, 2.578 keluarga mengungsi dan 301.013 rumah rusak. Matinya komunikasi dan listrik kian memperparah situasi, jalan pun&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/04/ketika-warga-gugat-pemerintah-karena-lamban-tangani-bencana-sumatera/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/04/ketika-warga-gugat-pemerintah-karena-lamban-tangani-bencana-sumatera/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sang &#8216;Ikan Hari Kiamat&#8217;: Tubuh Sepanjang 11 Meter, Mangsa Sebesar Kuku Jari</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/04/sang-ikan-hari-kiamat-tubuh-sepanjang-11-meter-mangsa-sebesar-kuku-jari/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/04/sang-ikan-hari-kiamat-tubuh-sepanjang-11-meter-mangsa-sebesar-kuku-jari/#respond</comments>
					<pubDate>04 Jun 2026 04:00:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/08/20130548/download-1-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128779</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Samudera menutupi lebih dari 70 persen permukaan bumi, namun hingga hari ini kurang dari sepertiga dasarnya telah dipetakan secara detail. Di kedalaman yang belum terjamah itulah, jauh dari cahaya matahari dan jangkauan manusia, makhluk-makhluk yang tampak mustahil terus menjalani hidupnya dengan tenang, sampai suatu hari salah satu dari mereka terdampar di pantai dan mengubah semuanya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/04/sang-ikan-hari-kiamat-tubuh-sepanjang-11-meter-mangsa-sebesar-kuku-jari/">Sang &#8216;Ikan Hari Kiamat&#8217;: Tubuh Sepanjang 11 Meter, Mangsa Sebesar Kuku Jari</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Samudera menutupi lebih dari 70 persen permukaan bumi, namun hingga hari ini kurang dari sepertiga dasarnya telah dipetakan secara detail. Di kedalaman yang belum terjamah itulah, jauh dari cahaya matahari dan jangkauan manusia, makhluk-makhluk yang tampak mustahil terus menjalani hidupnya dengan tenang, sampai suatu hari salah satu dari mereka terdampar di pantai dan mengubah semuanya menjadi kehebohan global. Salah satu makhluk itu adalah oarfish, ikan bertulang paling panjang di dunia, dengan catatan spesimen mencapai lebih dari 11 meter, tubuh ramping berwarna perak, dan sirip punggung merah menyala yang membuatnya terlihat seperti naga laut dari dunia mitologi. Namun sering ada pertanyaan yang diajukan ketika oarfish terdampar dan videonya viral: ikan sepanjang 11 meter ini sehari-harinya makan apa? Jawabannya mungkin sedikit mengejutkan. Makanan oarfish bukan ikan besar, bukan paus kecil, bukan pula predator bawah laut yang garang. Oarfish hidup dari plankton, krustasea kecil, dan cumi-cumi mini, mangsa yang ukurannya tidak jauh dari kuku jari manusia. Oarfish terdampar di pantai Queensland, Australia. Sirip punggungnya yang berwarna merah tua masih terlihat jelas di sepanjang tubuh, salah satu ciri khas yang membuatnya dijuluki naga laut. Foto: Gary Dickson/iNaturalist/CC BY 4.0 Dalam bahasa Indonesia ikan ini dikenal sebagai ikan sabuk, karena tubuhnya  panjang dan pipih menyerupai ikat pinggang. Di berbagai belahan dunia, ia dijuluki naga laut karena bentuknya berkilau dan bergerak anggun layaknya ular raksasa yang menari di kedalaman. Di sejumlah budaya Asia, ia mendapat sebutan ikan hari kiamat, sebuah julukan yang lahir dari keyakinan bahwa kemunculannya menandai bencana besar. Oarfish adalah ikan bertulang paling panjang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/04/sang-ikan-hari-kiamat-tubuh-sepanjang-11-meter-mangsa-sebesar-kuku-jari/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/04/sang-ikan-hari-kiamat-tubuh-sepanjang-11-meter-mangsa-sebesar-kuku-jari/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Permintaan Bambu Flores Tinggi, Bagaimana Jaga Keberlanjutan di Alam?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/04/bambu-flores-laku-bagaimana-jaga-stok-di-alam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/04/bambu-flores-laku-bagaimana-jaga-stok-di-alam/#respond</comments>
					<pubDate>04 Jun 2026 01:45:18 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ebed de Rosary]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunita lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/03034226/7B-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128722</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[flores dan nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Valentinus Hendrik begitu bersemangat saat berbincang bambu. Maklum, di desanya di Watu Galang, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, bambu menjadi komoditas paling menghasilkan saat ini. Seorang sepertinya dia  bahkan bisa meraup hingga Rp40 juta dari menjual bambu. Tak mengherankan, banyak warga yang kemudian menjual rumpun bambu di kebun atau lahan miliknya. Menurut Valentinus, sudah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/04/bambu-flores-laku-bagaimana-jaga-stok-di-alam/">Ketika Permintaan Bambu Flores Tinggi, Bagaimana Jaga Keberlanjutan di Alam?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Valentinus Hendrik begitu bersemangat saat berbincang bambu. Maklum, di desanya di Watu Galang, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, bambu menjadi komoditas paling menghasilkan saat ini. Seorang sepertinya dia  bahkan bisa meraup hingga Rp40 juta dari menjual bambu. Tak mengherankan, banyak warga yang kemudian menjual rumpun bambu di kebun atau lahan miliknya. Menurut Valentinus, sudah sejak lama kampung tempatnya lahir terkenal sebagai penghasil bambu. Bambu-bambu itu merupakan hasil penanaman keluarganya terdahulu. Dulu, bambu-bambu itu ditanam untuk menyimpan air, menahan erosi, terasiring, atau bahkan pembatas lahan. Sembari itu, sesekali, warga dapat memanfaatkannya untuk membangun tempat tinggal. Di antara jenis bambu yang ditanam, bambu jenis petung (Dendrocalamus asper) dan peri (Gigantochloa apus) merupakan yang paling banyak. “Paling banyak bambu petung dan bambu peri. Selain di sekitar mata air, juga dipakai untuk batas hutan dan kebun,” ujar Valentinus saat ditemui Mongabay Indonesia, Jumat (8/5/26). Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) paling banyak membeli bambu-bambu dari desa ini untuk dikirim ke pabrik pengolahan di Labuan Bajo. Dengan panjang 2,6 meter dan diameter 8 sentimeter, YBLL mengharga Rp8.000,. Sedangkan diameter 12 sentimeter, Rp10.000. Bersama YBLL, Valentinus yang juga Ketua Kelompok Panen Bambu Wela Nara menentukan lokasi pemanenan bambu. Sekali angkut satu truk bisa memuat 260 batang bambu sesuai ukuran. Biaya transportasi ditanggung YBLL sedang operasional ditanggung pemilik bambu. “Sejak Oktober hingga awal Maret 2026 kami sudah jual 140 truk. Saya dapat uang Rp40 juta, teman yang lainnya pun hampir sama,” katanya. Satu rumpun bambu bisa dapat 40 batang bambu siap panen. Satu batang bambu petung bisa&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/04/bambu-flores-laku-bagaimana-jaga-stok-di-alam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/04/bambu-flores-laku-bagaimana-jaga-stok-di-alam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Apodora papuana: Raksasa Senyap yang Menjaga Hutan Papua</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/apodora-papuana-raksasa-senyap-yang-menjaga-hutan-papua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/apodora-papuana-raksasa-senyap-yang-menjaga-hutan-papua/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jun 2026 22:28:45 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Satwa]]></category>
		<category><![CDATA[satwa liar]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/07/21230025/Ular-papua-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128775</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di lantai hutan hujan Papua, di antara dedaunan lembap dan akar-akar yang meliuk, seekor predator bergerak tanpa suara. Panjangnya bisa mencapai lebih dari empat meter, tubuhnya tebal dan berkilau dalam nuansa hijau keabu-abuan yang menyatu sempurna dengan lingkungan sekitarnya. Ini bukan buaya, bukan biawak. Ini piton zaitun papua, Apodora papuana, satu-satunya spesies dalam genusnya. Nama [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/apodora-papuana-raksasa-senyap-yang-menjaga-hutan-papua/">Apodora papuana: Raksasa Senyap yang Menjaga Hutan Papua</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di lantai hutan hujan Papua, di antara dedaunan lembap dan akar-akar yang meliuk, seekor predator bergerak tanpa suara. Panjangnya bisa mencapai lebih dari empat meter, tubuhnya tebal dan berkilau dalam nuansa hijau keabu-abuan yang menyatu sempurna dengan lingkungan sekitarnya. Ini bukan buaya, bukan biawak. Ini piton zaitun papua, Apodora papuana, satu-satunya spesies dalam genusnya. Nama &#8220;zaitun&#8221; bukan sekadar julukan. Warna dominan tubuhnya memang menyerupai buah atau minyak zaitun, hijau keabu-abuan hingga cokelat kehijauan gelap. Yang lebih mengejutkan, ular ini disebut mampu mengubah warnanya, dari hijau zaitun ke kuning, bahkan ke nuansa hitam, kadang memperlihatkan dua warna sekaligus. Perubahan ini diyakini terkait kondisi stres atau agitasi, semacam bahasa tubuh yang diungkapkan lewat pigmen kulit. Seperti kebanyakan piton, Apodora papuana dilengkapi lubang sensor panas di sekitar mulutnya, adaptasi yang membuatnya menjadi pemburu nokturnal yang sangat efisien. Dalam kegelapan total, ia bisa mendeteksi keberadaan mangsa berdarah panas, lalu menyergap dengan serangan cepat dan lilitan yang tak memberi kesempatan. Menurut Hari Suroto, peneliti dari Pusat Riset Arkeologi Lingkungan BRIN, spesies ini tersebar di Papua dan Papua Nugini, mendiami dataran rendah hingga ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut. Hutan hujan tropis adalah habitatnya yang ideal, menyediakan iklim lembap, dedaunan lebat sebagai kamuflase, dan berlimpahnya mangsa. Beberapa pulau lepas pantai seperti Misool, Biak, Yapen, dan Numfor juga menjadi wilayah sebarannya. Dalam rantai ekosistem, peran piton ini jauh lebih besar dari yang terlihat. Ia mengendalikan populasi hewan pengerat dan marsupial kecil, menjaga keseimbangan rantai makanan. Lebih dari itu, karena ular memiliki daerah jelajah yang lebih&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/apodora-papuana-raksasa-senyap-yang-menjaga-hutan-papua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/apodora-papuana-raksasa-senyap-yang-menjaga-hutan-papua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Ekosistem Gambut Makin Kritis</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/03/ketika-ekosistem-gambut-makin-kritis/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/03/ketika-ekosistem-gambut-makin-kritis/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jun 2026 19:20:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/07/28045823/Ancaman-banjir-juga-mengintai-lanskap-gambut-di-Sumatera-Selatan.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128768</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, dan pencemaran]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ekosistem di Indonesia berada dalam kondisi kritis. Dari tahun ke tahun, terus mengalami penyusutan wilayah yang masif dan terstruktur. Siklus kehancuran dampak ekspansi industri monokultur, ekstraksi lahan besar-besaran, hingga berujung pada degradasi lingkungan. Wahyu Perdana, Manajer Advokasi, Kampanye, dan Komunikasi Pantau Gambut mengatakan, deforestasi dan pengeringan lahan basah ini terjadi sejak era orde baru. “Yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/03/ketika-ekosistem-gambut-makin-kritis/">Ketika Ekosistem Gambut Makin Kritis</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ekosistem di Indonesia berada dalam kondisi kritis. Dari tahun ke tahun, terus mengalami penyusutan wilayah yang masif dan terstruktur. Siklus kehancuran dampak ekspansi industri monokultur, ekstraksi lahan besar-besaran, hingga berujung pada degradasi lingkungan. Wahyu Perdana, Manajer Advokasi, Kampanye, dan Komunikasi Pantau Gambut mengatakan, deforestasi dan pengeringan lahan basah ini terjadi sejak era orde baru. “Yang cukup ironi, pemerintah baik langsung ataupun tidak kerap kali melihat gambut sebagai lahan yang tidak produktif dan tidak punya fungsi ekosistem. Itu berakar cukup lama,” katanya kepada Mongabay, Selasa (2/6/16). Analisis Pantau Gambut dari 13,43 juta luasan lahan gambut di Indonesia, sekitar 5,2 juta hektar menjadi konsesi kehutanan dan perkebunan. Kemudian, 8.23 juta hektar kesatuan kesatuan gambut (KHG) menjadi wilayah usaha non berizin.  Sejak 2011, ekosistem gambut turun 1,5 juta hektar. Wahyu mengatakan, secara keseluruhan, Kesatuan Ekosistem Gambut (KHG) di Indonesia 16 juta hektar. Hasil riset mereka, 25% KHG masuk dalam kategori kerentanan banjir tinggi, 18% rentan sedang, dan 57% dengan kerentanan rendah. Dia bilang, kegagalan terbesar dalam pengelolaan lahan basah mulai ketika terbit kebijakan proyek pembukaan lahan gambut (PLG) 1 juta hektar di Kalimantan Tengah masa pemerintahan Presiden Soeharto 1995. Proyek ambisius itu berujung bencana ekologis berskala internasional karena mengabaikan karakteristik sains gambut. Pasca keruntuhan Orde Baru, alih-alih menghentikan total dan pemulihan gambut, negara justru berulang kali jatuh pada lubang sama. Gambut terkoyak untuk PLG justru jadi program pengembangan pangan skala besar (food estate) dan berbuah kegagalan. Kegagalan proyek yang mengorbankan kawasan gambut juga terjadi di Papua Selatan dalam proyek Merauke Integrated Food and&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/03/ketika-ekosistem-gambut-makin-kritis/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/03/ketika-ekosistem-gambut-makin-kritis/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menyoal Skor &#8220;Hijau&#8217; Alamtri Resources</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/03/menyoal-skor-hijau-alamtri-resources/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/03/menyoal-skor-hijau-alamtri-resources/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jun 2026 15:15:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita Raissa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/31230025/Tambang-Pari-Coal_JATAM-Kaltim_Foto-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128595</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, bencana, ekonomi dan bisnis, pencemaran, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Albed, bersiap menuju kebun karetnya, pagi itu. Kedua tangan membawa perlengkapan buat menyadap. Ada pisau sadap sampai tumpukan ember di tangan kiri. Kebun itu berjarak sekitar lima kilometer dari rumahnya di Kampung Geleo Asa, Kecamatan Barong Tongkok, Kutai Barat, Kalimantan Timur. Dia biasa pakai sepeda motor ke sana. Kebun Albed tak jauh dari lokasi jetty [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/03/menyoal-skor-hijau-alamtri-resources/">Menyoal Skor &#8220;Hijau&#8217; Alamtri Resources</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Albed, bersiap menuju kebun karetnya, pagi itu. Kedua tangan membawa perlengkapan buat menyadap. Ada pisau sadap sampai tumpukan ember di tangan kiri. Kebun itu berjarak sekitar lima kilometer dari rumahnya di Kampung Geleo Asa, Kecamatan Barong Tongkok, Kutai Barat, Kalimantan Timur. Dia biasa pakai sepeda motor ke sana. Kebun Albed tak jauh dari lokasi jetty PT Pari Coal, anak perusahaan tambang batubara PT Adaro Energy Indonesia (ADRO), yang kini berganti nama menjadi PT Alamtri Resources Indonesia,  bagian Grup Adaro. Siang itu,  motor Albed terhenti setelah dia kena hadang sekelompok orang, ada TNI dan Polri serta keamanan Pari Coal. “Saya ingat betul&#8230;. ada 12 orang saat itu. Tiga TNI, tiga polisi, dan lima petugas keamanan yang mengaku dari Pari Coal,” katanya saat Mongabay hubungi, Kamis (21/5/26). Peristiwa pencegatan terjadi pada pertengahan 2024, ketika Pari Coal mulai masuk dan membuka akses menuju lokasi jetty di sekitar Kampung Geleo Asa. Albed sempat kebingungan. Dia merasa tidak melakukan pelanggaran apapun. Jalan itu dia lalui selama ini sebagai akses warga menuju kebun dan sungai. “Mereka bilang saya tidak boleh lewat karena ini area perusahaan. Padahal,  dari dulu masyarakat lewat situ untuk ke kebun,” katanya. Hingga kini, Albed tak bisa masuk ke kebun karet karena aparat jaga ketat. Ketegangan antara warga dan perusahaan, katanya,  mulai meningkat setelah pembukaan lahan untuk bikin jetty batubara. Warga khawatir proyek itu akan mempersempit ruang hidup mereka, termasuk akses menuju kebun dan sumber air. Jetty Pari Coal berada di Sungai Waliwai,  yang selama ini tempat nelayan Geleo Asa cari ikan. Jetty&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/03/menyoal-skor-hijau-alamtri-resources/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/03/menyoal-skor-hijau-alamtri-resources/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>