<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=christopel-paino-jayapura&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/christopel-paino-jayapura/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Thu, 13 Aug 2026 10:49:13 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.3</generator>
				<item>
					<title>Api Membara di Gunung Gede Pangrango, Warga Berjibaku Angkut Air</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/api-membara-di-gunung-gede-pangrango-warga-berjibaku-angkut-air/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/api-membara-di-gunung-gede-pangrango-warga-berjibaku-angkut-air/#respond</comments>
					<pubDate>13 Agu 2026 10:48:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/13054443/IMG_20260813_104318_644-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131902</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Data dan Statisik, hutan indonesia, jawa, dan Jawa Barat]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jumat, 7 Agustus 2026, sekitar pukul 04.00 WIB, Acep melihat cahaya merah dari belakang rumahnya di Kampung Ading, Desa Sindangjaya, Kecamatan Cipanas, Cianjur, Jawa Barat. Kepulan asap membubung dari arah Kawah Wadon di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Warga segera berkumpul dan bergerak menuju sumber api. Sebagian berangkat sekitar pukul 07.00 dan 09.00 WIB, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/api-membara-di-gunung-gede-pangrango-warga-berjibaku-angkut-air/">Api Membara di Gunung Gede Pangrango, Warga Berjibaku Angkut Air</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jumat, 7 Agustus 2026, sekitar pukul 04.00 WIB, Acep melihat cahaya merah dari belakang rumahnya di Kampung Ading, Desa Sindangjaya, Kecamatan Cipanas, Cianjur, Jawa Barat. Kepulan asap membubung dari arah Kawah Wadon di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Warga segera berkumpul dan bergerak menuju sumber api. Sebagian berangkat sekitar pukul 07.00 dan 09.00 WIB, sementara Acep bersama warga lainnya berangkat selepas salat Jumat. Kampung Ading merupakan permukiman tertinggi di kaki Gunung Gede. Dari sana, Kawah Wadon dapat dicapai dengan berjalan kaki sekitar dua jam. Rombongan Acep yang terdiri dari 15 orang tiba menjelang sore. Mereka menemukan warga lain sudah berusaha memadamkan api menggunakan peralatan sederhana, seperti pacul, cangkul, dan air. Sumber air yang jauh menyulitkan pemadaman. Warga harus berjalan sekitar satu jam ke Kandang Badak dan mengangkut air dengan botol lima liter. Api sempat padam, tetapi kembali membesar pada Sabtu, 8 Agustus 2026, pukul 02.00 WIB. Sebagian warga bermalam di lokasi, bahkan ada yang membutuhkan oksigen karena kelelahan. Warga lain membantu dengan mengirim tenda, makanan, obat-obatan, dan perlengkapan pemadam. Hingga Rabu malam, 12 Agustus 2026, api masih ditangani. Kobaran dan bau terbakar tercium hingga permukiman, memicu kekhawatiran api menjalar ke perkebunan warga. Penyebab kebakaran di Kawah Wadon masih diselidiki. Dalam keterangan tertulis pada Rabu, 12 Agustus 2026, Kepala Balai Besar TNGGP, Sadtata Noor Adirahmanta, mengatakan pemantauan awal mengarah pada faktor alam. Kawah Wadon berada di zona inti yang tidak digunakan untuk kegiatan wisata maupun pendakian sehingga aktivitas manusia sangat minim. Kamera pengawas milik Pos Pengamatan Gunung Api Gede di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/api-membara-di-gunung-gede-pangrango-warga-berjibaku-angkut-air/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/api-membara-di-gunung-gede-pangrango-warga-berjibaku-angkut-air/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Kebakaran Landa Taman Nasional Gunung Gede Pangrango</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/13/ketika-kebakaran-landa-taman-nasional-gunung-gede-pangrango/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/13/ketika-kebakaran-landa-taman-nasional-gunung-gede-pangrango/#respond</comments>
					<pubDate>13 Agu 2026 09:00:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/13054443/IMG_20260813_104318_644-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131892</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, dan hutan indonesia]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Acep kaget melihat cahaya merah dari belakang rumahnya di Kampung Ading, Desa Sindangjaya, Kecamatan Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, Jumat (7/8/26) sekitar pukul 04.00 WIB. Kepulan asap pun terlihat membumbung. Dia langsung menduga ada kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar Kawah Wadon, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Sontak, warga Kampung Ading subuh itu pada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/13/ketika-kebakaran-landa-taman-nasional-gunung-gede-pangrango/">Ketika Kebakaran Landa Taman Nasional Gunung Gede Pangrango</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Acep kaget melihat cahaya merah dari belakang rumahnya di Kampung Ading, Desa Sindangjaya, Kecamatan Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, Jumat (7/8/26) sekitar pukul 04.00 WIB. Kepulan asap pun terlihat membumbung. Dia langsung menduga ada kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar Kawah Wadon, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Sontak, warga Kampung Ading subuh itu pada berkumpul. Mereka bergerak cepat ke atas gunung untuk mengecek sumber api. Dia bilang, sebagian warga berangkat pagi, lainnya selepas salat Jumat. “Ada yang jalan jam 7.00, jam 9.00 pagi. Kalau saya, mah, jalan abis jumatan,” katanya, kepada Mongabay. Kampung Ading merupakan pemukiman tertinggi di kaki Gunung Gede. Hanya butuh dua jam jalan kaki untuk mencapai Kawah Wadon. Rombongan Acep berjumlah 15 orang itu sampai menjelang sore. Di sana, dia melihat warga lain sudah berjibaku memadamkan api di sekitar kawah. “Warga padamkan pakai alat seadanya. Ada yang bawa pacul, cangkul, ada yang pakai air.” Sumber air yang jauh membuat warga kesulitan menjangkau air saat memadamkan api. Mereka mesti berjalan kaki hingga satu jam ke Kandang Badak untuk mengambil air. Dia mengatakan, warga hanya bisa mengangkut air dengan wadah botol mineral lima liter bekas. Mereka bergantian memikul air dari Kandang Badak hingga ke titik api. Perlu waktu berjam-jam hingga api padam. Namun, api kembali berkobar pukul 02.00 WIB. Akibatnya, sebagian warga bermalam di sekitar lokasi sambil terus berusaha padamkan api. “Nyala lebih besar. Makanya pas malam itu (warga) enggak ada yang tidur. Ada juga yang mungkin enggak kuat, alhamdulillah dikasih oksigen,” ujarnya. Warga Kampung Gunung Putri juga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/13/ketika-kebakaran-landa-taman-nasional-gunung-gede-pangrango/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/13/ketika-kebakaran-landa-taman-nasional-gunung-gede-pangrango/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa &#8216;Motif&#8217; Kucing Ada yang Bergaris dan Berbintik?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/mengapa-motif-kucing-ada-yang-bergaris-dan-berbintik/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/mengapa-motif-kucing-ada-yang-bergaris-dan-berbintik/#respond</comments>
					<pubDate>13 Agu 2026 06:00:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/12/21234456/Serval_3077007722-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131865</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Macan tutul memiliki bintik, harimau tampil dengan garis-garis, sedangkan singa terlihat polos. Pola serupa juga ditemukan pada kucing domestik dan berbagai kucing liar Indonesia, seperti kucing kuwuk, macan dahan, dan kucing emas. Namun, bagaimana pola tersebut terbentuk? Para ilmuwan belum menemukan jawaban lengkapnya. Meski begitu, penelitian telah mengidentifikasi dua gen penting yang memengaruhi bentuk dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/mengapa-motif-kucing-ada-yang-bergaris-dan-berbintik/">Mengapa &#8216;Motif&#8217; Kucing Ada yang Bergaris dan Berbintik?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Macan tutul memiliki bintik, harimau tampil dengan garis-garis, sedangkan singa terlihat polos. Pola serupa juga ditemukan pada kucing domestik dan berbagai kucing liar Indonesia, seperti kucing kuwuk, macan dahan, dan kucing emas. Namun, bagaimana pola tersebut terbentuk? Para ilmuwan belum menemukan jawaban lengkapnya. Meski begitu, penelitian telah mengidentifikasi dua gen penting yang memengaruhi bentuk dan ukuran pola pada bulu kucing, yaitu Taqpep dan Dkk4. Gen Taqpep berperan besar dalam pembentukan garis dan bercak. Kucing domestik yang memiliki satu atau dua salinan normal gen ini cenderung mempunyai bulu bergaris. Namun, jika kedua salinannya mengalami mutasi—satu diwarisi dari induk betina dan satu dari induk jantan, pola bulunya dapat berubah menjadi bercak atau pusaran. Pengaruh mutasi tersebut juga terlihat pada “king citah”. Citah umumnya mempunyai bintik-bintik hitam dengan latar bulu kuning kecokelatan. Namun, king citah yang mengalami mutasi pada kedua salinan gen Taqpep memiliki bercak lebih besar serta pola menyerupai garis di sepanjang tulang belakangnya. Meski demikian, Taqpep bukan satu-satunya penentu pola. Egyptian mau, ras kucing domestik berbintik, ternyata memiliki gen Taqpep normal. Dalam sebuah penelitian, Egyptian mau dikawinkan dengan kucing bercak. Beberapa keturunannya justru memiliki garis-garis. Temuan itu menunjukkan kemungkinan adanya satu atau lebih gen lain yang mengubah pola garis menjadi bintik. Namun, gen tambahan tersebut belum berhasil dikenali. Gen kedua yang diketahui berperan adalah Dkk4. Pengaruhnya dapat diamati pada kucing Abyssinian. Sekilas, bulu ras ini tampak berwarna cokelat atau kayu manis. Jika diperhatikan lebih dekat, permukaannya dipenuhi bintik-bintik hitam berukuran kecil. Abyssinian memiliki satu atau dua salinan gen Dkk4 yang mengalami&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/mengapa-motif-kucing-ada-yang-bergaris-dan-berbintik/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/mengapa-motif-kucing-ada-yang-bergaris-dan-berbintik/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ikan Laut Dalam Ini Berevolusi jadi Berkulit Ultra-Hitam untuk Bersembunyi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/13/ikan-laut-dalam-ini-berevolusi-jadi-berkulit-ultra-hitam-untuk-bersembunyi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/13/ikan-laut-dalam-ini-berevolusi-jadi-berkulit-ultra-hitam-untuk-bersembunyi/#respond</comments>
					<pubDate>13 Agu 2026 05:30:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/13052451/071520_eg_ultrablackfish_feat_rev-768x512.webp" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131887</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sejumlah spesies ikan yang hidup di kedalaman laut telah berevolusi memiliki kulit yang disebut ultra-black, sebuah adaptasi yang membantu mereka menghindari predator sekaligus menyergap mangsa tanpa terdeteksi. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Current Biology mengidentifikasi setidaknya 16 spesies ikan laut dalam dengan tingkat kegelapan kulit yang menyerap lebih dari 99,5 persen cahaya yang mengenainya. Penelitian ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/13/ikan-laut-dalam-ini-berevolusi-jadi-berkulit-ultra-hitam-untuk-bersembunyi/">Ikan Laut Dalam Ini Berevolusi jadi Berkulit Ultra-Hitam untuk Bersembunyi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sejumlah spesies ikan yang hidup di kedalaman laut telah berevolusi memiliki kulit yang disebut ultra-black, sebuah adaptasi yang membantu mereka menghindari predator sekaligus menyergap mangsa tanpa terdeteksi. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Current Biology mengidentifikasi setidaknya 16 spesies ikan laut dalam dengan tingkat kegelapan kulit yang menyerap lebih dari 99,5 persen cahaya yang mengenainya. Penelitian ini dipimpin oleh Alexander Davis, mahasiswa doktoral biologi di Duke University, bersama Karen Osborn, zoolog peneliti di Smithsonian National Museum of Natural History. Tim peneliti mengumpulkan sampel ikan menggunakan jaring trawl dan kendaraan bawah air di perairan Gulf of Mexico dan Monterey Bay, California, pada kedalaman hingga sekitar 1.000 kaki saat malam hari, dan lebih dari satu mil saat siang hari, ketika ikan-ikan tersebut cenderung berada lebih dalam. Ketertarikan pada topik ini bermula dari kesulitan Osborn saat mencoba memotret salah satu ikan hitam yang ditangkap timnya. Menurut Osborn, tidak peduli bagaimana kamera atau pencahayaan diatur, ikan tersebut tetap menyerap seluruh cahaya yang diarahkan padanya. Pengamatan inilah yang mendorong analisis lebih lanjut terhadap struktur kulit ikan-ikan tersebut. Kulit yang Menyerap Hampir Semua Cahaya Berdasarkan hasil analisis, seluruh sampel yang diperiksa memiliki kulit yang memantulkan kurang dari 0,6 persen cahaya, dan 16 spesies di antaranya memantulkan kurang dari 0,5 persen, ambang batas yang digunakan peneliti untuk mengklasifikasikan kulit sebagai ultra-black . Sebagai perbandingan, kertas hitam biasa memantulkan sekitar 10 persen cahaya, sehingga kulit ikan-ikan ini sekitar 20 kali lebih gelap. Spesies paling gelap yang ditemukan dalam penelitian ini adalah sejenis anglerfish kecil yang disebut dreamer, dengan panjang tidak&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/13/ikan-laut-dalam-ini-berevolusi-jadi-berkulit-ultra-hitam-untuk-bersembunyi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/13/ikan-laut-dalam-ini-berevolusi-jadi-berkulit-ultra-hitam-untuk-bersembunyi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Lutung Jawa di Muara Gembong, Minim Data dan Bertahan di Hutan Mangrove</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/13/lutung-jawa-di-muara-gembong-minim-data-dan-bertahan-di-hutan-mangrove/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/13/lutung-jawa-di-muara-gembong-minim-data-dan-bertahan-di-hutan-mangrove/#respond</comments>
					<pubDate>13 Agu 2026 04:32:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/13042546/Lutung-jawa-Falahi-Mubarok-Mongabay-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131882</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, infrastruktur, Lahan Basah, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kemana lutung jawa akan pergi saat hutan tempat mereka hidup menyusut? Pertanyaan ini jadi kegelisahan masyarakat di Desa Pantai Ceria, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Bagi mereka, Trachypithecus auratus bukan hanya satwa liar yang terlihat di hutan mangrove. Melainkan, bagian sejarah panjang bentang alam tersisa di pesisir utara Jawa. Beberapa tahun terakhir, isu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/13/lutung-jawa-di-muara-gembong-minim-data-dan-bertahan-di-hutan-mangrove/">Lutung Jawa di Muara Gembong, Minim Data dan Bertahan di Hutan Mangrove</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kemana lutung jawa akan pergi saat hutan tempat mereka hidup menyusut? Pertanyaan ini jadi kegelisahan masyarakat di Desa Pantai Ceria, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Bagi mereka, Trachypithecus auratus bukan hanya satwa liar yang terlihat di hutan mangrove. Melainkan, bagian sejarah panjang bentang alam tersisa di pesisir utara Jawa. Beberapa tahun terakhir, isu perburuan primata ini juga mencuat. Ahmad Qurtubi (48), Sekretaris Desa Pantai Ceria, mengatakan perburuan secara khusus menyasar lutung jawa sudah tak ditemukan lagi. “Hal yang kami ketahui sejak 10 tahun terakhir sudah tidak ada perburuan. Namun, bukan berarti aman. Eksistensi mereka sekarang terganggu aktivitas manusia,” katanya, Sabtu (1/8/26). Ancaman terbesar datang dari menyempitnya habitat. Kawasan mangrove yang dulu jadi rumah berbagai satwa perlahan menjadi tambak. Sementara, bantaran Sungai Citarum di kawasan muara mulai disesaki permukiman. “Lutung biasanya mencari air tawar di lantai hutan atau sungai. Disaat kemarau sumber air mengering sehingga beberapa kali mereka masuk ke permukiman warga untuk mengambil air. Sebagian masyarakat membantu ketimbang mengusir budeng ini, agar tidak terjadi konflik.” Lutung jawa yang hanya hidup di Jawa, memerlukan hutan sebagai habitat hidupnya. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Praktik perburuan Sekitar dua tahun lalu, warga memergoki sekelompok pemburu menggunakan perahu dan kendaraan patroli. Mereka mengaku berburu biawak (Varanus). Namun, setelah diperiksa, karung yang mereka bawa berisi berbagai jenis Aves, termasuk jenis yang dilindungi seperti elang bondol (Haliastur indus). “Warga menghalau mereka, karena curiga yang diburu bukan hanya burung biasa.” Bagi masyarakat Muara Gembong, primata yang dilindungi undang-undang ini hanyalah satu dari sekian banyak satwa yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/13/lutung-jawa-di-muara-gembong-minim-data-dan-bertahan-di-hutan-mangrove/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/13/lutung-jawa-di-muara-gembong-minim-data-dan-bertahan-di-hutan-mangrove/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Korupsi Dana Pakan, Bagaimana Kondisi Satwa di Kebun Binatang Surabaya?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/13/korupsi-dana-pakan-bagaimana-kondisi-satwa-di-kebun-binatang-surabaya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/13/korupsi-dana-pakan-bagaimana-kondisi-satwa-di-kebun-binatang-surabaya/#respond</comments>
					<pubDate>13 Agu 2026 02:26:31 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Petrus Riski]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/12042840/Harimau-sumatera-koleksi-KBS-saat-berada-di-kandang-luar-dengan-parit-Foto-Petrus-Riski-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131842</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan surabaya]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[politik dan hukum dan satwa liar]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur (Jatim) menetapkan Choirul Anwar, mantan direktur Kebun Binatang Surabaya (KBS) sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengadaan pakan satwa selama periode 2016-2024. Total perkiraan kerugian negara dalam kasus ini capai Rp10,2 miliar. I Gede Punia Atmaja, Asisten Tindak Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Jatim, katakan, dugaan atas tersangka menggunakan anggaran pakan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/13/korupsi-dana-pakan-bagaimana-kondisi-satwa-di-kebun-binatang-surabaya/">Korupsi Dana Pakan, Bagaimana Kondisi Satwa di Kebun Binatang Surabaya?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur (Jatim) menetapkan Choirul Anwar, mantan direktur Kebun Binatang Surabaya (KBS) sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengadaan pakan satwa selama periode 2016-2024. Total perkiraan kerugian negara dalam kasus ini capai Rp10,2 miliar. I Gede Punia Atmaja, Asisten Tindak Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Jatim, katakan, dugaan atas tersangka menggunakan anggaran pakan KBS untuk kepentingan pribadi dan hal lain yang tak sesuai peruntukan. “Bahwa CA secara melawan hukum atau menyalahgunakan kewenangan telah menggunakan uang anggaran PD TS KBS guna pengeluaran yang tidak sesuai dengan peruntukannya dan,atau fiktif, serta kepentingan pribadi saudara CA,” kata Gede, mengutip CNN Indonesia, Selasa (11/8/26). Atta Verin, pegiat satwa dari Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia (FOKSI) menilai, mencuatnya kasus ini mencerminkan ada kesalahan dalam pengelolaan dan manajemen KBS. Seharusnya  kasus itu  tak  terjadi jika monitoring dalam pengadaan pakan berjalan maksimal. “Jika secara kasat mata satwa-satwa mereka tampak baik-baik saja, maka sistem monev mereka yang bermasalah. Sekelas KBS seharusnya lebih baik lagi melakukan monitoring dan evaluasi,” kata  Atta. Sebagai pemilik KBS, Pemerintah Kota  Surabaya,  perlu memperbaiki sistem perekrutan dan pengawasan. Hal itu agar pandangan sebagian masyarakat yang menganggap kebun binatang hanya menjadi tempat eksploitasi satwa tidak terbukti. Satwa watusi koleksi KBS. Foto: Petrus Riski/Mongabay Indonesia. Paham konservasi satwa Tony Sumampau, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI), mengatakan,  kesejahteraan satwa bukan hanya dari kecukupan pakan juga memastikan kandungan gizi di dalammya. “Karnivora seperti harimau, singa, dan macan tutul, kalau setiap hari diberi daging ayam, karena murah, akibatnya kurang baik karena pakan mereka di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/13/korupsi-dana-pakan-bagaimana-kondisi-satwa-di-kebun-binatang-surabaya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/13/korupsi-dana-pakan-bagaimana-kondisi-satwa-di-kebun-binatang-surabaya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Kita Dilarang Konsumsi Satwa Liar? Ini Alasan Ilmiahnya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/mengapa-kita-dilarang-konsumsi-satwa-liar-ini-alasan-ilmiahnya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/mengapa-kita-dilarang-konsumsi-satwa-liar-ini-alasan-ilmiahnya/#respond</comments>
					<pubDate>13 Agu 2026 01:09:53 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/07/22012304/Monyet2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131837</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Mengonsumsi satwa liar mungkin dianggap sebagian orang sebagai pengalaman kuliner yang tidak biasa. Namun, di baliknya terdapat ancaman serius bagi kesehatan manusia, kelestarian satwa, dan keseimbangan alam. Seperti sebuah video berjudul “Cara Buat Rendang Monyet” sempat beredar dan menjadi perbincangan di media sosial. Meski pertama kali diunggah pada 29 Oktober 2024, video berdurasi 16 detik [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/mengapa-kita-dilarang-konsumsi-satwa-liar-ini-alasan-ilmiahnya/">Mengapa Kita Dilarang Konsumsi Satwa Liar? Ini Alasan Ilmiahnya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Mengonsumsi satwa liar mungkin dianggap sebagian orang sebagai pengalaman kuliner yang tidak biasa. Namun, di baliknya terdapat ancaman serius bagi kesehatan manusia, kelestarian satwa, dan keseimbangan alam. Seperti sebuah video berjudul “Cara Buat Rendang Monyet” sempat beredar dan menjadi perbincangan di media sosial. Meski pertama kali diunggah pada 29 Oktober 2024, video berdurasi 16 detik itu hingga kini telah mengumpulkan 118 ribu tanda suka dan 13,3 ribu komentar. Karena menampilkan konten yang mengganggu, pembaca yang sensitif disarankan untuk tidak menontonnya. Monyet ekor panjang memang berstatus tidak dilindungi. Namun, mengambil satwa liar dari kawasan hutan tanpa izin tetap dilarang. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan melarang orang mengeluarkan, membawa, dan mengangkut tumbuhan maupun satwa liar yang tidak dilindungi dari kawasan hutan tanpa izin. Ketentuan ini dikecualikan bagi masyarakat adat atau mereka yang secara turun-temurun tinggal di hutan. Masalah lainnya adalah risiko penularan penyakit dari satwa kepada manusia atau zoonosis. Penularan tidak hanya dapat terjadi ketika daging satwa liar dimakan. Manusia bisa terpapar sejak proses memburu, memegang, memotong, mengolah, hingga mengkonsumsinya. Risiko tersebut semakin besar pada primata karena secara biologis kelompok satwa ini sangat dekat dengan manusia. Sejumlah penyakit dan parasit dapat berpindah dari monyet kepada manusia. Seperti Ebola yang berkaitan dengan kebiasaan mengkonsumsi daging satwa liar atau bushmeat. Bakteri Salmonella dan cacar monyet juga perlu diwaspadai. Ketika penyakit dari satwa berhasil menular dan menyebar antarmanusia, dampaknya dapat berkembang lebih luas. Perilaku mengkonsumsi daging atau produk satwa liar bukan hanya menempatkan satu orang dalam bahaya, tetapi juga berpotensi memicu wabah yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/mengapa-kita-dilarang-konsumsi-satwa-liar-ini-alasan-ilmiahnya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/mengapa-kita-dilarang-konsumsi-satwa-liar-ini-alasan-ilmiahnya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Gajah Sumatera Jantan Ditemukan Mati di Aceh Tamiang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/12/gajah-sumatera-jantan-ditemukan-mati-di-aceh-tamiang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/12/gajah-sumatera-jantan-ditemukan-mati-di-aceh-tamiang/#respond</comments>
					<pubDate>12 Agu 2026 14:05:55 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/12135909/Gajah-mati-di-Tamiang-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131871</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Gajah Sumatera di Ujung Senja]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, sains dan Teknologi, Satwa, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Satu individu gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) ditemukan mati di area kebun sawit PT Mestika Prima Lestari Indah (MPLI), Kampung Kaloy, Kecamatan Tamiang Hulu, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Minggu (9/8/26). Andi Syahputra, Datuk Penghulu atau Kepala Desa Kaloy, mengatakan gajah itu ditemukan warga yang hendak melintasi jalan kebun sawit itu. Tepatnya, di Afdeling B Blok [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/12/gajah-sumatera-jantan-ditemukan-mati-di-aceh-tamiang/">Gajah Sumatera Jantan Ditemukan Mati di Aceh Tamiang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Satu individu gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) ditemukan mati di area kebun sawit PT Mestika Prima Lestari Indah (MPLI), Kampung Kaloy, Kecamatan Tamiang Hulu, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Minggu (9/8/26). Andi Syahputra, Datuk Penghulu atau Kepala Desa Kaloy, mengatakan gajah itu ditemukan warga yang hendak melintasi jalan kebun sawit itu. Tepatnya, di Afdeling B Blok 34. “Warga melaporkan ke perangkat desa dan kami meneruskan ke pihak berwenang,” ujarnya, Minggu (9/8/26). Pada hari yang sama, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh bersama kepolisian, pihak perusahaan dan mitra konservasi Forum Konservasi Leuser (FKL), melakukan pemeriksaan awal di lokasi kejadian. Ujang Wisnu Barata, Kepala BKSDA Aceh, mengatakan hasil identifikasi awal menunjukkan gajah jantan tersebut tidak mengalami luka. “Kedua gadingnya utuh,” jelasnya dalam keterangan tertulis, Senin (10/8/26). BKSDA Aceh belum menyimpulkan penyebab kematiannya. “Penanganan dilakukan tim medis untuk dilakukan bedah bangkai (nekropsi) guna memastikan penyebab kematian.” Tim juga akan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Langkah ini diperlukan untuk mengumpulkan informasi dan bukti yang berkaitan dengan kematian satwa tersebut. “Informasi resmi hasil pemeriksaan dan tindak lanjut akan disampaikan pada kesempatan berikutnya.” BKSDA Aceh mengimbau seluruh pihak ikut menjaga kelestarian satwa liar dan mendukung upaya pelestarian lingkungan. “Gajah sumatera merupakan satwa dilindungi yang populasinya menghadapi berbagai ancaman, antara lain kehilangan habitat, konflik dengan manusia, serta perburuan.” Gajah sumatera jantan ini ditemukan warga dalam kondisi tidak bernyawa di Aceh Tamiang, Aceh, Minggu (9/8/26). Foto: Dok. Muhammad Syah. Kematian sebelumnya Sebelumnya, satu individu gajah sumatera juga ditemukan mati di areal perkebunan warga, Desa Karang Ampar, Kecamatan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/12/gajah-sumatera-jantan-ditemukan-mati-di-aceh-tamiang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/12/gajah-sumatera-jantan-ditemukan-mati-di-aceh-tamiang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tapir, Satwa Terancam Punah yang Terabaikan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/12/tapir-satwa-terancam-punah-yang-terabaikan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/12/tapir-satwa-terancam-punah-yang-terabaikan/#respond</comments>
					<pubDate>12 Agu 2026 10:00:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Fachri Hamzah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/04/22003207/tapir-malaya-rhett-butler.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131841</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, hutan indonesia, politik dan hukum, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kasus penyembelihan tapir (Tapirus indicus) di Register 45, Mesuji, Lampung, yang sempat viral awal Juli menunjukkan lemahnya perlindungan hewan bermoncong pendek ini. Padahal, tapir merupakan hewan dilindungi dengan status terancam punah dalam daftar International Union for Conservation of Nature (IUCN). Dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) satwa ini pun sudah kedaluwarsa sejak 2022. Sebelumnya, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/12/tapir-satwa-terancam-punah-yang-terabaikan/">Tapir, Satwa Terancam Punah yang Terabaikan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kasus penyembelihan tapir (Tapirus indicus) di Register 45, Mesuji, Lampung, yang sempat viral awal Juli menunjukkan lemahnya perlindungan hewan bermoncong pendek ini. Padahal, tapir merupakan hewan dilindungi dengan status terancam punah dalam daftar International Union for Conservation of Nature (IUCN). Dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) satwa ini pun sudah kedaluwarsa sejak 2022. Sebelumnya, video viral yang berdurasi 42 detik itu memperlihatkan seekor tapir sendirian dan linglung di salah satu ruas Jalan Lintas Timur Sumatera, bergerak ke pinggir jalan menjauhi raungan mesin yang menderu. Di ujung video, seorang pria bertelanjang dada berlari ke arah binatang malang itu sambil menghunus tombak. Tak lama setelah rekaman itu berhenti, satwa itu  tewas. Polisi menangkap empat dari enam terduga pelaku, dua masih buron. Keempatnya terjerat Undang-undang 32/2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Apalagi, tapir asia adalah satwa yang negara lindungi berdasarkan Peraturan Menteri LHK No. P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018. “Tapir ini merupakan satwa dilindungi dan terancam punah namun terlupakan,” ucap Supintri Yohar, Direktur Kehutanan Yayasan Auriga Nusantara, menanggapi kasus ini, 20 Juli. Selain itu, riset soal hewan berwarna hitam-putih ini minim. Sehingga, data tentang jumlah populasi, maupuns ebaran kantong habitatnya masih tidak lengkap. Dari titik-titik yang Auriga ketahui, hewan yang memiliki nama lain tenuk ini masih cukup sering muncul di Lampung dan Bengkulu, serta di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat. “Alasannya kenapa Tapir bisa sampai keluar tentu karena terfragmentasinya habitat karena deforestasi.” Tapir di Kabupaten Labuhan Batu Selatan. Foto: Ayat S Karokaro/ Mongabay Indonesia Laporan Yayasan Auriga dalam Status Deforestasi Indonesia 2025 (STADI&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/12/tapir-satwa-terancam-punah-yang-terabaikan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/12/tapir-satwa-terancam-punah-yang-terabaikan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tiga Ngengat Baru: Dua dari Papua, Satu Berpotensi Hama</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/tiga-ngengat-baru-dua-dari-papua-satu-berpotensi-hama/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/tiga-ngengat-baru-dua-dari-papua-satu-berpotensi-hama/#respond</comments>
					<pubDate>12 Agu 2026 07:16:45 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/04/22003242/Ngengat-baru-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131776</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Indonesia kembali mencatat kekayaan hayati baru. Para peneliti menemukan tiga spesies ngengat yang sebelumnya belum pernah dideskripsikan secara ilmiah. Satu spesies berasal dari Pulau Sangihe, Sulawesi Utara, sedangkan dua lainnya ditemukan di Papua. Penemuan tersebut dilakukan oleh peneliti dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN bersama tim Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi, Manado. Hasil penelitiannya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/tiga-ngengat-baru-dua-dari-papua-satu-berpotensi-hama/">Tiga Ngengat Baru: Dua dari Papua, Satu Berpotensi Hama</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Indonesia kembali mencatat kekayaan hayati baru. Para peneliti menemukan tiga spesies ngengat yang sebelumnya belum pernah dideskripsikan secara ilmiah. Satu spesies berasal dari Pulau Sangihe, Sulawesi Utara, sedangkan dua lainnya ditemukan di Papua. Penemuan tersebut dilakukan oleh peneliti dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN bersama tim Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi, Manado. Hasil penelitiannya diterbitkan dalam jurnal Zootaxa pada Januari 2024. Spesies pertama diberi nama Cryptophasa warouwi. Ngengat berwarna cokelat tua ini merupakan spesies endemik Pulau Sangihe. Namun, kehadirannya bukan hanya menambah daftar keanekaragaman hayati Indonesia. Larvanya juga berpotensi menjadi hama bagi tanaman cengkih. Larva dari kelompok Cryptophasa dikenal sebagai penggerek cabang dan batang. Hewan yang aktif pada malam hari ini memotong daun untuk dimakan, lalu membuat terowongan pada bagian tanaman. Lubang tersebut kemudian ditutup menggunakan anyaman sutra dan kotoran. Gangguan larva ini sebenarnya telah terpantau pada tanaman cengkih di Pulau Sangihe sejak 2016. Pada 2023, wilayah persebarannya semakin luas. Petani cengkih di lima kecamatan bahkan mengalami kerugian karena cabang dan ranting tanaman mereka rusak. Selain cengkih, larva Cryptophasa warouwi diketahui menyerang jambu air dan jambu biji. Karena mampu memakan beberapa jenis tanaman, para peneliti menilai diperlukan strategi pengendalian dan analisis risiko. Spesies ini juga perlu diperhatikan dalam penyusunan daftar hama karantina dan pengelolaan pertanian. Dua spesies baru lainnya bernama Glyphodes nurfitriae dan Glyphodes ahsanae. Keduanya berasal dari Papua dan dinyatakan sebagai taksa baru berdasarkan analisis bentuk tubuh atau morfologi. Penemuan ini membuat jumlah spesies Glyphodes yang tercatat di Indonesia menjadi 48. Sebelumnya, publikasi terakhir mengenai kelompok tersebut dari&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/tiga-ngengat-baru-dua-dari-papua-satu-berpotensi-hama/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/tiga-ngengat-baru-dua-dari-papua-satu-berpotensi-hama/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengenal Pare, Salah Satu Buah Paling Pahit di Dunia yang Punya Sejarah Panjang sebagai Obat Tradisional</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/12/mengenal-pare-salah-satu-buah-paling-pahit-di-dunia-yang-punya-sejarah-panjang-sebagai-obat-tradisional/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/12/mengenal-pare-salah-satu-buah-paling-pahit-di-dunia-yang-punya-sejarah-panjang-sebagai-obat-tradisional/#respond</comments>
					<pubDate>12 Agu 2026 05:24:06 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/12051836/momordica-charantia-vegetable-natural-foods-local-food-food-plant-1629025-pxhere.com_-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131852</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di antara aneka tanaman yang dimanfaatkan sebagai sumber pangan harian, pare (Momordica charantia) punya posisi yang khas. Tanaman merambat dari suku labu-labuan (Cucurbitaceae) ini tumbuh subur di daerah tropis dan subtropis, dan sudah menjadi bahan pangan sekaligus ramuan herbal di berbagai kawasan selama ratusan tahun, dari Asia Selatan dan Asia Timur, Afrika, hingga Karibia. Ciri [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/12/mengenal-pare-salah-satu-buah-paling-pahit-di-dunia-yang-punya-sejarah-panjang-sebagai-obat-tradisional/">Mengenal Pare, Salah Satu Buah Paling Pahit di Dunia yang Punya Sejarah Panjang sebagai Obat Tradisional</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di antara aneka tanaman yang dimanfaatkan sebagai sumber pangan harian, pare (Momordica charantia) punya posisi yang khas. Tanaman merambat dari suku labu-labuan (Cucurbitaceae) ini tumbuh subur di daerah tropis dan subtropis, dan sudah menjadi bahan pangan sekaligus ramuan herbal di berbagai kawasan selama ratusan tahun, dari Asia Selatan dan Asia Timur, Afrika, hingga Karibia. Ciri paling menonjol dari pare tentu saja rasanya. Sebagai catatan, secara botani pare tergolong buah karena berkembang dari bunga dan mengandung biji di dalamnya, meski dalam praktik kuliner sehari-hari ia diperlakukan sebagai sayur, sama seperti tomat, mentimun, dan terong yang juga secara botani buah namun umum disebut sayur di dapur. Buah ini kerap disebut sebagai salah satu yang paling pahit di dunia, sebuah predikat yang lebih tepat dipahami sebagai reputasi yang luas beredar di berbagai sumber populer maupun ulasan botani, bukan hasil pengukuran ilmiah yang membandingkan tingkat kepahitan seluruh jenis buah dan sayur secara sistematis. Tidak ada studi yang menyusun peringkat baku semacam itu. Yang bisa dipastikan secara ilmiah adalah bahwa pare mengandung konsentrasi senyawa pahit dalam jumlah yang jauh lebih tinggi dibanding kebanyakan bahan pangan lain, sehingga rasa pahitnya konsisten dianggap sebagai salah satu yang paling ekstrem di antara tumbuhan yang lazim dikonsumsi manusia. Meski rasanya sering dihindari, keberadaan pare tetap bertahan lintas generasi dan lintas budaya, dari dapur rumah tangga hingga ramuan pengobatan tradisional. Perjalanan Pare, dari India hingga Dapur Nusantara Asal-usul pare masih menjadi bahan diskusi di kalangan peneliti botani. Sebagian ahli menduga pusat domestikasinya berada di Asia timur, kemungkinan di wilayah timur&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/12/mengenal-pare-salah-satu-buah-paling-pahit-di-dunia-yang-punya-sejarah-panjang-sebagai-obat-tradisional/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/12/mengenal-pare-salah-satu-buah-paling-pahit-di-dunia-yang-punya-sejarah-panjang-sebagai-obat-tradisional/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Anak Muda di Jember Suarakan Penyelamatan Gumuk</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/12/ketika-anak-muda-di-jember-suarakan-penyelamatan-gumuk/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/12/ketika-anak-muda-di-jember-suarakan-penyelamatan-gumuk/#respond</comments>
					<pubDate>12 Agu 2026 04:09:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Zuhana A. Zuhro dan RZ. Hakim]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/10052053/1-7-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131764</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan Pertambangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Prihatin dengan kondisi gumuk di Jember yang kian terancam, Sudut Kalisat, komunitas anak muda tergerak untuk melakukan kampanye penyelamatan. Bagi mereka, menyelamatkan gumuk bukan sekadar menjaga bukit-bukit kecil, tetapi merawat ingatan ekologis dan identitas sebuah daerah. Muhammad Iqbal, Direktur Program Sudut Kalisat, gumuk bukan hanya bentang alam, melainkan ruang hidup yang membentuk hubungan manusia dengan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/12/ketika-anak-muda-di-jember-suarakan-penyelamatan-gumuk/">Ketika Anak Muda di Jember Suarakan Penyelamatan Gumuk</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Prihatin dengan kondisi gumuk di Jember yang kian terancam, Sudut Kalisat, komunitas anak muda tergerak untuk melakukan kampanye penyelamatan. Bagi mereka, menyelamatkan gumuk bukan sekadar menjaga bukit-bukit kecil, tetapi merawat ingatan ekologis dan identitas sebuah daerah. Muhammad Iqbal, Direktur Program Sudut Kalisat, gumuk bukan hanya bentang alam, melainkan ruang hidup yang membentuk hubungan manusia dengan lingkungannya. &#8220;Gumuk dulu menjadi ruang bermain kami. Ruang bertemu dengan teman-teman, mencari buah-buahan, mencari kayu bakar. Sekarang yang lebih sering terlihat justru truk yang mengangkut batu dan pasir dari gumok,&#8221; katanya, Kamis (30/7/26). Kegelisahan itulah yang melatari Sudut Kalisat riset, berburu arsip, hingga pameran seni yang berkaitan dengan gumuk. Makin  dalam mereka menelusuri arsip, semakin jelas bahwa sejarah daerah tidak pernah bisa terpisah dari lanskapnya. &#8220;Mustahil memahami sejarah tanpa memahami ruang tempat sejarah itu berlangsung. Alam bukan sekadar latar, tetapi bagian dari sejarah itu sendiri,&#8221; ujarnya. Melalui berbagai pameran, Sudut Kalisat berupaya menghadirkan ruang dialog antara manusia dengan bentang alam yang selama ini kerap hanya sebagai objek eksploitasi. Secara geologi, gumuk merupakan bukit-bukit kecil yang terbentuk melalui proses alam selama jutaan tahun. Bentuknya yang khas menjadikan Jember sering dijuluki sebagai Kota Seribu Gumuk. Bagi masyarakat, gumuk tidak sekadar menjadi penanda geografis. Bukit-bukit kecil itu berfungsi sebagai daerah resapan air, penahan angin, habitat berbagai jenis tumbuhan dan satwa, sekaligus penanda arah bagi warga yang tinggal di sekitarnya. Iqbal mengatakan, masyarakat sebenarnya memahami manfaat tersebut. Banyak mata air muncul di sekitar gumuk. Lahan pertanian di sekitarnya pun memperoleh manfaat dari keberadaan bukit-bukit kecil itu. Namun, dalam beberapa&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/12/ketika-anak-muda-di-jember-suarakan-penyelamatan-gumuk/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/12/ketika-anak-muda-di-jember-suarakan-penyelamatan-gumuk/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jaga Kedaulatan Pangan Kasepuhan Perlu Kepastian Wilayah Adat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/11/jaga-kedaulatan-pangan-kasepuhan-perlu-kepastian-wilayah-adat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/11/jaga-kedaulatan-pangan-kasepuhan-perlu-kepastian-wilayah-adat/#respond</comments>
					<pubDate>11 Agu 2026 23:59:23 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita Raissa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/11235736/Kasepuhan-Citorek_Foto-2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131818</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[banten dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan Indonsia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Keberlangsungan pangan Kasepuhan Banten Kidul, bergantung perempuan adat. Sebelum mulai tanam,  perempuan lebih dulu menentukan benih yang akan mereka tanam. Perempuan tahu benih mana yang paling sesuai dengan musim, dan menjaga proses tanam. Mereka juga memastikan hasil tersimpan aman di leuit, lumbung pangan adat yang jadi simbol kedaulatan pangan masyarakat kasepuhan. Untuk memastikan lumbung [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/11/jaga-kedaulatan-pangan-kasepuhan-perlu-kepastian-wilayah-adat/">Jaga Kedaulatan Pangan Kasepuhan Perlu Kepastian Wilayah Adat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Keberlangsungan pangan Kasepuhan Banten Kidul, bergantung perempuan adat. Sebelum mulai tanam,  perempuan lebih dulu menentukan benih yang akan mereka tanam. Perempuan tahu benih mana yang paling sesuai dengan musim, dan menjaga proses tanam. Mereka juga memastikan hasil tersimpan aman di leuit, lumbung pangan adat yang jadi simbol kedaulatan pangan masyarakat kasepuhan. Untuk memastikan lumbung pangan  terjaga, masyarakat kesepuhan perlu kepastian wilayah adat. Bagi Een Suryani, perempuan adat Kasepuhan Karang, seluruh proses itu tak hanya sebagai pekerjaan domestik ataupun aktivitas bertani semata. Proses itu merupakan warisan pengetahuan leluhur agar masyarakat tetap mampu memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri. “Perempuan adat memulai semua dari memilih benih. Kami ikut menanam, memanen, menyimpan padi di leuit, lalu mengolahnya menjadi beras yang dimakan setiap hari ataupun digunakan saat Seren Taun,” kata Een dalam Diskusi Publik dan Konsolidasi RUU Masyarakat Adat di Kasepuhan Citorek, Lebak, Banten. Perempuan, katanya,  menjadi penjaga pengetahuan yang paling dekat dengan keberlangsungan sistem pangan. Melalui praktik turun-temurun, mereka mempertahankan benih lokal, mengelola cadangan pangan, sekaligus memastikan tradisi pertanian tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bagi masyarakat kasepuhan di Banten Kidul, pengetahuan berkembang bersamaan dengan cara mereka mengelola alam. Hutan mereka jaga sebagai kawasan penyangga kehidupan, mata air terlindungi agar sawah tetap produktif. Sedang, leuit memastikan hasil panen tak habis sekaligus agar menjadi cadangan ketika musim paceklik datang. Karena itu, kata Rosmawati, perwakilan Dewan Pemuda Adat Nusantara Region Jawa, bilang, pengetahuan adat tak mungkin terpisah dari wilayah adat sebagai ruang hidup dan ruang praktik. “Yang kami jaga bukan hanya sawah atau&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/11/jaga-kedaulatan-pangan-kasepuhan-perlu-kepastian-wilayah-adat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/11/jaga-kedaulatan-pangan-kasepuhan-perlu-kepastian-wilayah-adat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Perempuan Paling Terdampak Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalsel</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/11/ketika-perempuan-paling-terdampak-kebakaran-hutan-dan-lahan-di-kalsel/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/11/ketika-perempuan-paling-terdampak-kebakaran-hutan-dan-lahan-di-kalsel/#respond</comments>
					<pubDate>11 Agu 2026 15:00:52 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Riyad Dafhi Rizki]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[lahan basah]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/11142609/karhutla-Kalsel-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131792</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, Lahan Basah, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Marlina harus menghentikan tabuhan rebananya dalam gelaran majelis taklim di Jalan Purnawirawan, Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel), Minggu (19/7/26) siang. Pasalnya, telepon genggamnya tidak kunjung berhenti berdering. Sontak, perempuan 37 tahun itu panik saat mendengar suara dari seberang sambungan: api mengepung rumahnya. Buru-buru dia pulang ke keidamannya di kawasan Transad RT24 Guntung Manggis, sekitar empat kilometer [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/11/ketika-perempuan-paling-terdampak-kebakaran-hutan-dan-lahan-di-kalsel/">Ketika Perempuan Paling Terdampak Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalsel</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Marlina harus menghentikan tabuhan rebananya dalam gelaran majelis taklim di Jalan Purnawirawan, Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel), Minggu (19/7/26) siang. Pasalnya, telepon genggamnya tidak kunjung berhenti berdering. Sontak, perempuan 37 tahun itu panik saat mendengar suara dari seberang sambungan: api mengepung rumahnya. Buru-buru dia pulang ke keidamannya di kawasan Transad RT24 Guntung Manggis, sekitar empat kilometer dari lokasi pengajian. Di sana, jalanan sudah penuh petugas yang sedang berjibaku memadamkan api. Dia pun hanya bisa menyaksikan kejadian itu dari jauh karena tidak boleh mendekat. &#8220;Gemetar badan ulun (saya) waktu itu. Ada beberapa titik api yang mengelilingi rumah. Rumah ulun sudah tidak kelihatan, tertutup asap,&#8221; katanya, Rabu (22/7/26). Kebakaran terjadi di lahan yang rimbun purun dengan lapisan gambut tipis. Rumah Marlina di tengah hamparan itu. Bangunan yang baru dia tempati sekitar dua tahun terpisah dari pemukiman warga lain. Sebenarnya dia sempat melihat titik api sebelum meninggalkan rumah. Jaraknya sekitar dua kilometer. Tidak dia sangka, kebakaran tiba-tiba muncul di sebelah tempat tinggalnya. Relawan pemadam kebakaran bilang padanya, sekitar empat titik api muncul hampir bersamaan di sekitar lokasi. Paling parah di dekat rumahnya. &#8220;Hari itu angin kencang, Mungkin ada bara yang terbang, sehingga tiba-tiba api muncul 10 meter di sebelah rumah.&#8221; Tidak ada anggota keluarga yang tinggal di rumah saat kejadian. Suaminya sedang kerja, dua anaknya, usia dua tahun dan satu tahun sedang bersamanya. Dua anak yang lain, usia 17 tahun dan delapan tahun, sedang di rumah mertua. Tak sanggup hanya jadi penonton, dia pun memilih menjauh dari lokasi, mendatangi pengajian lain tak jauh dari&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/11/ketika-perempuan-paling-terdampak-kebakaran-hutan-dan-lahan-di-kalsel/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/11/ketika-perempuan-paling-terdampak-kebakaran-hutan-dan-lahan-di-kalsel/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Patroli Senyap Jumawan demi Penyu di Cilacap</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/patroli-senyap-jumawan-demi-penyu-di-cilacap/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/patroli-senyap-jumawan-demi-penyu-di-cilacap/#respond</comments>
					<pubDate>11 Agu 2026 13:00:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/30015112/Jumawan-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131775</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[komunitas lokal, sains dan Teknologi, Satwa, dan tokoh]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Saat sebagian besar warga terlelap, Jumawan justru menyusuri pantai. Lelaki berusia 33 tahun itu mencari jejak penyu yang naik ke daratan untuk bertelur. Sejak 2019, kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmennya menjaga penyu di pesisir Cilacap, Jawa Tengah. Jumawan kini memimpin Kelompok Konservasi Penyu Nagaraja. Dalam patroli malam dan pagi hari, dia menemukan tiga titik [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/patroli-senyap-jumawan-demi-penyu-di-cilacap/">Patroli Senyap Jumawan demi Penyu di Cilacap</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Saat sebagian besar warga terlelap, Jumawan justru menyusuri pantai. Lelaki berusia 33 tahun itu mencari jejak penyu yang naik ke daratan untuk bertelur. Sejak 2019, kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmennya menjaga penyu di pesisir Cilacap, Jawa Tengah. Jumawan kini memimpin Kelompok Konservasi Penyu Nagaraja. Dalam patroli malam dan pagi hari, dia menemukan tiga titik di sekitar Pantai Sodong yang kerap menjadi tempat penyu lekang bertelur. Jika sarang berada di lokasi berbahaya, telur-telur dipindahkan ke tempat penetasan yang lebih aman. Sekali bertelur, seekor penyu rata-rata menghasilkan sekitar 116 butir. Namun, tidak semuanya berhasil menetas. Tingkat keberhasilan penetasan umumnya sekitar 70 persen. Suhu pasir yang tidak sesuai, mikroorganisme, predator, dan gangguan manusia dapat menyebabkan telur gagal berkembang. Musim penyu bertelur di Cilacap berlangsung antara April hingga September. Puncaknya terjadi pada Juni dan Juli, ketika musim kemarau berlangsung dan gelombang laut relatif lebih stabil. Penyu biasanya naik saat air pasang tertinggi, mulai sore hingga malam, lalu membutuhkan waktu sekitar 45–70 menit untuk menggali sarang dan meletakkan telur. Vegetasi pantai ikut menentukan keselamatan telur dan tukik. Pandan laut memberi keteduhan, sementara rumput lari dapat menjadi tempat berlindung tukik dari predator. Katang-katang dan pohon kelapa juga menjadi bagian penting dari habitat alami penyu di pantai. Perjalanan Jumawan tidak selalu mudah. Pada 2019, pengambilan telur penyu masih dilakukan warga. Telur dijual seharga Rp3-5 ribu per butir karena dipercaya dapat meningkatkan stamina orang dewasa. Banyak warga ketika itu belum memahami bahwa penyu merupakan satwa yang dilindungi. Jumawan bahkan pernah membeli 50 telur penyu yang ditawarkan melalui&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/patroli-senyap-jumawan-demi-penyu-di-cilacap/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/patroli-senyap-jumawan-demi-penyu-di-cilacap/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sorgum, Pangan Lokal Potensial yang Bisa Diolah Jadi Mie dan Roti Kaya Serat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/sorgum-pangan-lokal-potensial-yang-bisa-diolah-jadi-mie-dan-roti-kaya-serat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/sorgum-pangan-lokal-potensial-yang-bisa-diolah-jadi-mie-dan-roti-kaya-serat/#respond</comments>
					<pubDate>11 Agu 2026 11:00:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/02/22015042/Sorgum1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131723</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sorgum bukan tanaman baru bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur. Tanaman pangan ini telah lama dibudidayakan petani setempat, terutama di daerah kering dan berbatu. Di tengah ancaman iklim dan krisis pangan, sorgum kembali dilihat sebagai bahan pangan yang berpotensi dikembangkan. Pegiat sorgum asal Flores Timur, Maria Loretha, menyebut tanaman ini lebih tahan menghadapi krisis iklim dibandingkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/sorgum-pangan-lokal-potensial-yang-bisa-diolah-jadi-mie-dan-roti-kaya-serat/">Sorgum, Pangan Lokal Potensial yang Bisa Diolah Jadi Mie dan Roti Kaya Serat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sorgum bukan tanaman baru bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur. Tanaman pangan ini telah lama dibudidayakan petani setempat, terutama di daerah kering dan berbatu. Di tengah ancaman iklim dan krisis pangan, sorgum kembali dilihat sebagai bahan pangan yang berpotensi dikembangkan. Pegiat sorgum asal Flores Timur, Maria Loretha, menyebut tanaman ini lebih tahan menghadapi krisis iklim dibandingkan padi dan jagung. Ketika terkena banjir atau angin kencang, batang jagung dapat patah. Sementara batang sorgum yang patah masih dapat tumbuh kembali. Kemampuan tersebut membuat sorgum cocok dengan kondisi alam di sejumlah wilayah NTT. Meski demikian, pengembangannya tetap perlu dilakukan secara terarah. Menurut Maria, tidak seluruh wilayah NTT harus ditanami sorgum. Pemerintah perlu menentukan kawasan yang menjadi prioritas. Sorgum juga memiliki nilai ekonomi bagi petani. Harga jualnya dapat mencapai hampir dua kali lipat harga jagung. Namun, pengembangan komoditas ini membutuhkan dukungan berupa mesin perontok, mesin sosoh, serta pihak yang menjamin hasil panen dapat diserap pasar. Selain tahan tumbuh di lahan kering, sorgum memiliki potensi sebagai sumber pangan. Koalisi Pangan BAIK yang bekerja di Manggarai Timur, Flores Timur, dan Lembata menyebut tanaman ini memiliki struktur kompleks seperti pati, asam fenolat, dan antioksidan. Berdasarkan uji laboratorium yang mereka lakukan, sorgum juga kaya serat dan bebas gluten. Sorgum juga ramah dikonsumsi penyintas diabetes. Potensi sorgum tidak hanya terbatas sebagai makanan lokal. Tanaman ini juga dipandang dapat menjadi pengganti gandum untuk industri mie dan roti. Pemerintah mendorong pengembangannya jika Indonesia terdampak kebijakan larangan ekspor gandum dari sejumlah negara produsen. Sorgum disebut secara genetik masih satu keluarga dengan gandum. Karena&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/sorgum-pangan-lokal-potensial-yang-bisa-diolah-jadi-mie-dan-roti-kaya-serat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/sorgum-pangan-lokal-potensial-yang-bisa-diolah-jadi-mie-dan-roti-kaya-serat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kucing Bakau, Penghuni Misterius Hutan Mangrove</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/11/kucing-bakau-penghuni-misterius-hutan-mangrove/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/11/kucing-bakau-penghuni-misterius-hutan-mangrove/#respond</comments>
					<pubDate>11 Agu 2026 09:27:30 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christopel Paino]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/02/21233523/fishing-cat-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131806</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo dan sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, Lahan Basah, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tubuhnya sebesar anjing kecil, bulunya kuning keabu-abuan dengan bercak hitam, dan cakarnya sedikit berselaput. Ia adalah ciri khas satwa yang lahir untuk berburu di air, meskipun selaput ini tidak menutupi seluruh bagian kaki seperti pada beberapa spesies lainnya. Itulah kucing bakau (Prionailurus viverrinus), jenis kucing liar paling langka di dunia yang keberadaannya nyaris tak disadari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/11/kucing-bakau-penghuni-misterius-hutan-mangrove/">Kucing Bakau, Penghuni Misterius Hutan Mangrove</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tubuhnya sebesar anjing kecil, bulunya kuning keabu-abuan dengan bercak hitam, dan cakarnya sedikit berselaput. Ia adalah ciri khas satwa yang lahir untuk berburu di air, meskipun selaput ini tidak menutupi seluruh bagian kaki seperti pada beberapa spesies lainnya. Itulah kucing bakau (Prionailurus viverrinus), jenis kucing liar paling langka di dunia yang keberadaannya nyaris tak disadari banyak orang. Bahkan, oleh masyarakat yang tinggal berdekatan dengannya. Secara umum, selaput pada kaki kucing bakau berfungsi membantu mereka saat berenang dan mencegah tenggelam ketika berjalan di atas lumpur atau tanah lunak di habitat lahan basah seperti hutan mangrove. Hal ini berkaitan dengan perilaku mereka sebagai fishing cat atau “kucing pemancing&#8221; yang sering berinteraksi dengan lingkungan perairan. &#8220;Kucing bakau adalah kucing terbesar di antara jenis-jenis Prionailurus, dengan wajah lonjong bercirikan hidung khas, bagian bawah tubuh putih, dan telinga belakang berwarna hitam dengan totol putih di tengahnya,&#8221; tulis Kuncoro, dkk, peneliti dari Universitas Negeri Surabaya dalam laporan identifikasi morfologi dan genetik mereka. Penelitian yang dipublikasikan tahun 2023 tersebut dengan judul, “The vulnerable fishing cat Prionailurus viverrinus from Wonorejo Mangroves, Surabaya, Indonesia based on morphology and molecular data”, berhasil mengonfirmasi kehadiran spesies ini di Jawa Timur berdasarkan analisis gen Cytochrome b. Temuan ini penting, karena data populasi kucing bakau di Indonesia, khususnya di luar Sumatera dan Jawa Barat, masih sangat minim. Nama belakang yang disematkan padanya; bakau, merujuk pada habitatnya di lahan basah, yakni hutan mangrove, rawa dan juga sungai. Sayangnya, rumah kucing ini sedang runtuh pelan-pelan. Setiap hektar mangrove yang berubah jadi tambak, kompleks perumahan, atau&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/11/kucing-bakau-penghuni-misterius-hutan-mangrove/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/11/kucing-bakau-penghuni-misterius-hutan-mangrove/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Riset Danau Purba Ungkap Erupsi Supervolcano Toba 74.000 Tahun Lalu Ternyata Tak Seganas yang Dikira</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/11/riset-danau-purba-ungkap-erupsi-supervolcano-toba-74-000-tahun-lalu-ternyata-tak-seganas-yang-dikira/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/11/riset-danau-purba-ungkap-erupsi-supervolcano-toba-74-000-tahun-lalu-ternyata-tak-seganas-yang-dikira/#respond</comments>
					<pubDate>11 Agu 2026 07:49:42 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/11073951/pinatubo-1991-06-29-pyroclastic-flow-deposits-of-marella-river-valley-a3ba81-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131799</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Erupsi dahsyat Gunung Toba sekitar 74.000 tahun lalu kerap disebut sebagai salah satu bencana terbesar dalam sejarah manusia purba. Letusan supervolcano di Sumatra ini melontarkan ribuan kilometer kubik magma ke atmosfer dalam waktu sekitar dua minggu saja, jauh lebih besar dibanding letusan Gunung Pinatubo pada 1991. Skala letusan yang luar biasa ini membuat banyak ilmuwan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/11/riset-danau-purba-ungkap-erupsi-supervolcano-toba-74-000-tahun-lalu-ternyata-tak-seganas-yang-dikira/">Riset Danau Purba Ungkap Erupsi Supervolcano Toba 74.000 Tahun Lalu Ternyata Tak Seganas yang Dikira</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Erupsi dahsyat Gunung Toba sekitar 74.000 tahun lalu kerap disebut sebagai salah satu bencana terbesar dalam sejarah manusia purba. Letusan supervolcano di Sumatra ini melontarkan ribuan kilometer kubik magma ke atmosfer dalam waktu sekitar dua minggu saja, jauh lebih besar dibanding letusan Gunung Pinatubo pada 1991. Skala letusan yang luar biasa ini membuat banyak ilmuwan menduga Toba memicu musim dingin vulkanik berkepanjangan, bahkan sampai membawa nenek moyang manusia ke ambang kepunahan. Dugaan itu kini mulai terbantahkan. Penelitian terbaru yang dipimpin Jinheum Park, geosaintis dari Johannes Gutenberg University di Mainz, Jerman, menunjukkan bahwa dampak iklim dari erupsi Toba jauh lebih ringan dari yang selama ini dibayangkan. Buktinya ditemukan bukan di Sumatra, melainkan ribuan kilometer jauhnya, di dasar sebuah danau kecil di Afrika Timur. Sedimen Danau yang Tersusun Seperti Kalender Selama ini, para peneliti kesulitan memastikan seberapa parah dampak Toba karena sedimen laut atau danau pada umumnya bercampur dari tahun ke tahun. Mengukur perubahan iklim yang hanya berlangsung satu atau dua tahun dari sedimen semacam ini ibarat mencoba mengukur waktu lari cepat seratus meter menggunakan kalender dinding. Danau Chala, danau kawah kecil di lereng Gunung Kilimanjaro, Kenya-Tanzania, menawarkan solusi. Danau ini cukup dalam, sekitar 90 meter, dan airnya tidak pernah berputar total sampai ke dasar. Kondisi ini membuat dasar danau minim oksigen dan bebas arus, sehingga sedimen yang mengendap tidak terganggu dan terbentuk sangat teratur setiap tahun, mirip cincin tahunan pada batang pohon, tetapi tersimpan di dasar danau. Gambar mikroskopis lapisan sedimen Danau Chala yang memuat lapisan abu vulkanik Toba (ditandai YTT).&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/11/riset-danau-purba-ungkap-erupsi-supervolcano-toba-74-000-tahun-lalu-ternyata-tak-seganas-yang-dikira/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/11/riset-danau-purba-ungkap-erupsi-supervolcano-toba-74-000-tahun-lalu-ternyata-tak-seganas-yang-dikira/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Kebakaran Bromo Kian Meluas</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/11/ketika-kebakaran-bromo-kian-meluas/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/11/ketika-kebakaran-bromo-kian-meluas/#respond</comments>
					<pubDate>11 Agu 2026 03:42:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Eko Widianto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/10174156/TNBTS-3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131782</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana dan hutan indonesia]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) kian meluas. Minggu (9/8/26), akun Instagram hamdaaa14_membagikan video hamparan rerumputan di Gunung Bromo yang biasa hijau bak bermadani, kini berubah menjadi hitam kelam. Nyaris semua tutupan padang sabana terbakar, dengan sebagian kecil yang tampak menguning. Sampai pukul 17.00, unggahan  yang dibagikan  166 akun [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/11/ketika-kebakaran-bromo-kian-meluas/">Ketika Kebakaran Bromo Kian Meluas</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) kian meluas. Minggu (9/8/26), akun Instagram hamdaaa14_membagikan video hamparan rerumputan di Gunung Bromo yang biasa hijau bak bermadani, kini berubah menjadi hitam kelam. Nyaris semua tutupan padang sabana terbakar, dengan sebagian kecil yang tampak menguning. Sampai pukul 17.00, unggahan  yang dibagikan  166 akun dan disukai 4.419 akun serta mendapat komentar dari 130 orang. “Ini sisa-sisa kebakaran kemarin yang melahap semuanya,”kata Hamda. Data TNBTS menyebut, karhutla  melahap 176 hektar, titik api pertama kali berada di Blok Bantengan, Senin (3/8/26) pukul 17.00. Guna memadamkan api, ratusan personel terdiri atas petugas Balai Besar TNBTS dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta relawan berjibaku. Rudijanta Tjahja Nugraha, Kepala Balai Besar TNBTS, menduga kebakaran karena  faktor manusia, bukan alam. Pasalnya, awal titik api berada di Blok Bantengan,  merupakan jalur tradisional perlintasan warga yang menghubungkan Desa Argosari-Desa Ranupani, Kecamatan Senduro,  Kabupaten Lumajang. “Nah, kemungkinan saat melintas malam hari saat udara dingin membuat perapian. Mungkin lupa mematikan sehingga menjadi pemicu kebakaran,” katanya kepada jurnalis. Menurut dia, tak ada unsur kesengajaan dalam karhutla kali ini tetapi murni faktor kelalaian manusia. Karhutla di  TNBTS berdampak langsung terhadap aktivitas wisata gunung api Gunung Bromo. Mobil tangki juga dikerahkan untuk membantu memadamkan api di kawasan TNBTS. Foto: Dokumen TNBTS. Wisata tutup total  TNBTS putuskan menutup total seluruh akses wisata ke Gunung Bromo sejak Minggu (9/8/26). Sebelumnya, penutupan hanya  dua pintu masuk, yakni,  Jemplang di Kabupaten Malang dan Senduro, Lumajang. Sedangkan akses dari Cemoro Lawang, Probolinggo dan Wonokitri Pasuruan masih&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/11/ketika-kebakaran-bromo-kian-meluas/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/11/ketika-kebakaran-bromo-kian-meluas/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Masyarakat Adat Pesisir Tomini Waswas Terhimpit Kawasan Konservasi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/10/masyarakat-adat-pesisir-tomini-waswas-terhimpit-kawasan-konservasi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/10/masyarakat-adat-pesisir-tomini-waswas-terhimpit-kawasan-konservasi/#respond</comments>
					<pubDate>10 Agu 2026 16:10:31 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Sarjan Lahay]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/10065053/thumbnail-1-1-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131751</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hari belum terang betul saat Ramsa menurunkan perahu di bibir Teluk Tomini, Desa Bolano Barat, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah (Sulteng). Air laut pun masih terlihat tenang dengan warna kebiruan dengan hamparan hutan bakau di tepian. Perlahan, perahu  Ramsa meluncur membelah permukaan Laut Kecil atau Dagat Dede, salah satu wilayah  adat Lipu Boano. Bagi nelayan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/10/masyarakat-adat-pesisir-tomini-waswas-terhimpit-kawasan-konservasi/">Masyarakat Adat Pesisir Tomini Waswas Terhimpit Kawasan Konservasi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hari belum terang betul saat Ramsa menurunkan perahu di bibir Teluk Tomini, Desa Bolano Barat, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah (Sulteng). Air laut pun masih terlihat tenang dengan warna kebiruan dengan hamparan hutan bakau di tepian. Perlahan, perahu  Ramsa meluncur membelah permukaan Laut Kecil atau Dagat Dede, salah satu wilayah  adat Lipu Boano. Bagi nelayan 52 tahun itu, Dagat Dede bukan sekadar tempat untuk mencari ikan, juga menjadi “dapur” bagi keluarganya dan Masyarakat Adat Boano (MAB). Dia berangkat saban pagi dan kembali pulang saat sore menjelang. Jika sedang beruntung, hasil tangkapannya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya hari itu dan sisanya dia jual ke pasar kampung. Ramsa tidak memerlukan kompas untuk melaut. Dia bisa menemukan ikan hanya dengan membaca tanda alam, seperti arah arus, hembusan angin, perubahan warna air, hingga gugusan mangrove di pesisir. Dia merasa lebih akrab dengan penanda itu ketimbang alat navigasi modern karena sudah mengenalnya dari ayah dan kakeknya. “Pengetahuan tersebut bukan sekadar pengalaman pribadi, melainkan warisan leluhur Masyarakat Adat Boano yang terus diwariskan dari generasi ke generasi, termasuk Laut Kecil,” ujar Ramsa saat Mongabay temui di pondoknya di pesisir Laut Kecil, tengah Juli. Ramsa, satu dari ratusan nelayan kecil MAB yang gantungkan hidup dari laut di  Boano. Bagi dia dan nelayan lain, bentang pesisir Dagat Dede yang meliputi muara sungai, hingga hutan mangrove bukan sekadar sumber pangan, melainkan ruang hidup yang menopang penghidupan, tradisi. Bahkan, keberlangsungan komunitas. Keterikatan itu berakar pada sejarah panjang MAB yang meyakini diri sebagai penerus Kerajaan Boano -kerajaan yang pernah berdiri di pesisir&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/10/masyarakat-adat-pesisir-tomini-waswas-terhimpit-kawasan-konservasi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/10/masyarakat-adat-pesisir-tomini-waswas-terhimpit-kawasan-konservasi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>