<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=awaluddin-jalil-kutai-timur&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/awaluddin-jalil-kutai-timur/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Sat, 11 Jul 2026 10:06:07 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>
				<item>
					<title>Kisah Tapir di Mesuji, Muncul di Jalan Lintas Sumatera Berakhir Jadi Rica-rica</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/11/kisah-tapir-di-mesuji-muncul-di-jalan-lintas-sumatera-berakhir-jadi-rica-rica/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/11/kisah-tapir-di-mesuji-muncul-di-jalan-lintas-sumatera-berakhir-jadi-rica-rica/#respond</comments>
					<pubDate>11 Jul 2026 10:06:07 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/11095550/Tapirus-indicus-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130439</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tangkapan video viral memperlihatkan seekor tapir tampak kebingungan di Jalan Lintas Sumatera, pada Kamis sore (2/7/26). Beberapa jam lagi, malam tiba. Waktu bagi tapir ini mencari makan karena sifatnya nokturnal/aktif malam hari. Beberapa orang terlihat mengelilinginya. Mereka berusaha menghalau satwa liar dilindungi itu ke pinggir. Jalan Lintas Sumatera di wilayah Register 45, Mesuji, Lampung, sore [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/11/kisah-tapir-di-mesuji-muncul-di-jalan-lintas-sumatera-berakhir-jadi-rica-rica/">Kisah Tapir di Mesuji, Muncul di Jalan Lintas Sumatera Berakhir Jadi Rica-rica</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tangkapan video viral memperlihatkan seekor tapir tampak kebingungan di Jalan Lintas Sumatera, pada Kamis sore (2/7/26). Beberapa jam lagi, malam tiba. Waktu bagi tapir ini mencari makan karena sifatnya nokturnal/aktif malam hari. Beberapa orang terlihat mengelilinginya. Mereka berusaha menghalau satwa liar dilindungi itu ke pinggir. Jalan Lintas Sumatera di wilayah Register 45, Mesuji, Lampung, sore itu ramai kendaraan lalu lalang. Sejurus kemudian tapir menepi dan berlari mencoba menemukan jalan pulang. Di ujung video sepanjang 42 detik itu, terekam seorang pria bertelanjang dada berlari ke arah tapir yang malang sambil membawa tombak. Aparat keamanan yang mendapat laporan segera menuju lokasi. Tapi polisi mendapati tapir yang melintasi kawasan permukiman warga itu telah mati. Kepalanya dipenggal, dagingnya dibagikan ke sejumlah warga, ada yang dimasak rica-rica. Polisi menangkap empat dari enam tersangka. Dua orang masih buron. Sontak peristiwa itu mengundang keprihatinan banyak pihak. Di antaranya dari Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI). Budi Setiadi Daryono, Ketua KOBI. Mengutuk keras dan menyatakan keprihatinan mendalam atas peristiwa pembunuhan tapir (Tapirus indicus) yang terjadi di wilayah Lampung. “Tapirus indicus merupakan satu-satunya spesies tapir di Asia yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri LHK No. P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018. Pembunuhan tapir adalah pelanggaran hukum sekaligus kemunduran upaya konservasi keanekaragaman hayati Indonesia. Tindakan ini tidak dapat dibenarkan dengan alasan apapun,&#8221; tegas Budi, yang juga Dekan Fakultas Biologi UGM itu, Rabu (8/7/26). Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan dan Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, menyatakan keprihatinan mendalam. Hilangnya satu individu tapir merupakan kerugian besar bagi kekayaan biodiversitas dan keseimbangan ekosistem. “Kementerian Kehutanan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/11/kisah-tapir-di-mesuji-muncul-di-jalan-lintas-sumatera-berakhir-jadi-rica-rica/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/11/kisah-tapir-di-mesuji-muncul-di-jalan-lintas-sumatera-berakhir-jadi-rica-rica/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bencana Terus Datang Ketika Hutan Siberut Hilang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/11/bencana-terus-datang-ketika-hutan-siberut-hilang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/11/bencana-terus-datang-ketika-hutan-siberut-hilang/#respond</comments>
					<pubDate>11 Jul 2026 07:46:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Novia Harlina]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/05/22051254/Banjir-Siberut-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130393</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kepulauan Mentawai dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tiga jam setelah hujan turun, air Sungai Sirilanggai mulai meluap hingga menggenangi jalan dan halaman rumah warga Desa Malancan, Kecamatan Siberut Utara, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar). Menjelang siang, banjir sudah lebih dari satu meter. Dapur dan kamar mandi rumah Barnabas Saerejen, tokoh masyarakat Siberut  tak luput dari banjir hari itu. &#8220;Nanti kalau hujannya berhenti, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/11/bencana-terus-datang-ketika-hutan-siberut-hilang/">Bencana Terus Datang Ketika Hutan Siberut Hilang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tiga jam setelah hujan turun, air Sungai Sirilanggai mulai meluap hingga menggenangi jalan dan halaman rumah warga Desa Malancan, Kecamatan Siberut Utara, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar). Menjelang siang, banjir sudah lebih dari satu meter. Dapur dan kamar mandi rumah Barnabas Saerejen, tokoh masyarakat Siberut  tak luput dari banjir hari itu. &#8220;Nanti kalau hujannya berhenti, baru airnya pelan-pelan surut,&#8221; katanya, awal Juli. Meski banjir terus meninggi, sebagian warga tetap beraktivitas ke ladang. Mereka melewati banjir dengan berjalan kaki sambil menyandang orek (tas tradisional Suku Mentawai untuk membawa hasil ladang), sedang  anak-anak bermain bola di lapangan sekitar kampung.  Barnabas bilang, banjir  bukan hal baru bagi warga sekitar. Kampung mereka berada di dataran rendah hingga kerap kebanjiran saat sungai meluap. Namun, beberapa tahun terakhir, frekuensi makin meningkat. Dulu,  banjir besar hanya terjadi sekali dalam setahun,  kini, setiap kali hujan turun dalam dua jam, hampir pasti kebanjiran.  Menurut dia, banjir makin sering terjadi sejak hutan di hulu mulai terbuka untuk aktivitas penebangan kayu. Dia tidak bisa memastikan secara ilmiah bahwa pembalakan menjadi penyebab banjir yang semakin sering terjadi. Namun sebagai orang yang lahir dan besar di kampung itu, dia merasakan sendiri perubahan aliran sungai dan kondisi hutan yang berbeda ketimbang puluhan tahun lalu. &#8220;Kalau hujan lebih dari dua jam saja, apalagi cukup lebat, kami pasti kebanjiran,&#8221; katanya. Banjir besar pada akhir November 2025 menjadi peristiwa yang paling membekas dalam ingatan warga. Selama hampir tiga pekan, banjir merendam sebagian besar Kecamatan Siberut Utara. Rumah-rumah warga terendam, lahan pertanian rusak, dan aktivitas masyarakat lumpuh. Pada&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/11/bencana-terus-datang-ketika-hutan-siberut-hilang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/11/bencana-terus-datang-ketika-hutan-siberut-hilang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kasus Gigitan Komodo, Apakah Satwa Purba Ini Menyerang Manusia?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kasus-gigitan-komodo-apakah-satwa-purba-ini-menyerang-manusia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kasus-gigitan-komodo-apakah-satwa-purba-ini-menyerang-manusia/#respond</comments>
					<pubDate>11 Jul 2026 07:19:23 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/04/22003449/indonesia-komodo-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130432</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Setiap kali muncul kabar warga atau wisatawan digigit komodo, pertanyaan yang sama selalu mengemuka: mengapa satwa purba ini menyerang manusia? Banyak orang menganggap komodo (Varanus komodoensis) sebagai predator yang agresif. Padahal, para peneliti menyebut anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Sebagian besar kasus justru terjadi karena manusia dan komodo bertemu dalam situasi yang memicu respons alami [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kasus-gigitan-komodo-apakah-satwa-purba-ini-menyerang-manusia/">Kasus Gigitan Komodo, Apakah Satwa Purba Ini Menyerang Manusia?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Setiap kali muncul kabar warga atau wisatawan digigit komodo, pertanyaan yang sama selalu mengemuka: mengapa satwa purba ini menyerang manusia? Banyak orang menganggap komodo (Varanus komodoensis) sebagai predator yang agresif. Padahal, para peneliti menyebut anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Sebagian besar kasus justru terjadi karena manusia dan komodo bertemu dalam situasi yang memicu respons alami satwa tersebut. Komodo merupakan predator puncak yang telah hidup di Kepulauan Komodo, Rinca, Gili Motang, Gili Dasami, dan sebagian Flores selama jutaan tahun. Mangsa alaminya adalah rusa, babi hutan, monyet, hingga kerbau. Manusia bukan bagian dari menu utama maupun target buruannya. Lalu, mengapa gigitan ke manusia dapat terjadi? Menurut para peneliti, komodo umumnya menyerang ketika merasa terganggu, terkejut, atau ketika akses menuju sumber makanannya terhalang. Sebagai predator, mereka tidak menghabiskan energi mengejar sesuatu tanpa alasan. Respons menggigit lebih sering muncul sebagai bagian dari naluri mempertahankan diri atau mempertahankan sumber daya yang dianggap penting. Sejumlah kasus yang pernah terjadi menunjukkan pola yang serupa. Ada warga yang digigit saat mencari madu di kawasan hutan Pulau Rinca, wilayah yang relatif jarang dilalui manusia. Komodo di lokasi seperti ini cenderung lebih liar dibandingkan individu yang terbiasa melihat wisatawan. Kasus lain terjadi ketika seseorang duduk di atas batu yang ternyata menutupi bangkai rusa. Tanpa disadari, orang tersebut menghalangi jalan komodo menuju makanannya. Dalam peristiwa berbeda, seekor komodo yang sedang mengejar kambing justru menggigit manusia yang berada paling dekat setelah mangsanya berhasil lolos. Rangkaian kejadian tersebut menunjukkan bahwa komodo tidak secara aktif memburu manusia. Sebaliknya, sebagian besar insiden dipicu oleh interaksi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kasus-gigitan-komodo-apakah-satwa-purba-ini-menyerang-manusia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kasus-gigitan-komodo-apakah-satwa-purba-ini-menyerang-manusia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kisah Indah Bulan, Orangutan Korban Perdagangan yang Menjadi Induk di Alam Liar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kisah-indah-bulan-orangutan-korban-perdagangan-yang-menjadi-induk-di-alam-liar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kisah-indah-bulan-orangutan-korban-perdagangan-yang-menjadi-induk-di-alam-liar/#respond</comments>
					<pubDate>11 Jul 2026 04:31:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/08184821/Habitatnya-hancur-Orangutan-Sumatera-betina-ini-terjebak-dalam-kawasan-perkebunan-sawit-di-Langkat-Ayat-S-Karokaro-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130426</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Setelah lebih satu dekade sejak diselamatkan dari perdagangan satwa liar, Bulan akhirnya menorehkan kisah yang menjadi harapan baru bagi konservasi orangutan sumatera. Orangutan betina yang pernah menjalani rehabilitasi panjang ini melahirkan seekor bayi di habitat alaminya di Cagar Alam Jantho, Aceh Besar. Bayi jantan yang kemudian diberi nama Badar itu, menandai sebuah tonggak penting bahwa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kisah-indah-bulan-orangutan-korban-perdagangan-yang-menjadi-induk-di-alam-liar/">Kisah Indah Bulan, Orangutan Korban Perdagangan yang Menjadi Induk di Alam Liar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Setelah lebih satu dekade sejak diselamatkan dari perdagangan satwa liar, Bulan akhirnya menorehkan kisah yang menjadi harapan baru bagi konservasi orangutan sumatera. Orangutan betina yang pernah menjalani rehabilitasi panjang ini melahirkan seekor bayi di habitat alaminya di Cagar Alam Jantho, Aceh Besar. Bayi jantan yang kemudian diberi nama Badar itu, menandai sebuah tonggak penting bahwa individu hasil rehabilitasi tidak hanya mampu bertahan hidup di alam liar, tetapi juga berkembang biak secara alami. Kelahiran Badar merupakan ke-10 yang terkonfirmasi di kawasan Pelepasliaran Orangutan Jantho sejak program itu mulai pada 2011. Hal ini menunjukkan, orangutan yang berhasil selamat dari konflik dengan manusia, perdagangan ilegal, maupun kepemilikan ilegal dapat melewati rehabilitasi, dan berkembang biak secara alami di habitatnya. Kelahiran Badar pertama kali dikonfirmasi oleh tim Post Release Monitoring Yayasan Ekosistem Lestari (YEL)–Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP) pada 22 Mei 2026. Saat itu, Bulan terlihat lincah berpindah dari satu pohon ke pohon lain sambil menggendong bayinya yang diperkirakan baru berusia sekitar satu bulan. Bayi tersebut tampak sehat dan terus menempel pada tubuh induknya, sementara Bulan memperlihatkan naluri keibuan yang kuat dengan melindungi anaknya selama beraktivitas di kanopi hutan. Perjalanan Bulan hingga kembali menjadi induk di alam liar bukanlah hal yang singkat. Ia diselamatkan pada 2014 ketika masih berusia sekitar dua tahun setelah menjadi korban perdagangan ilegal. Selama lebih dari sepuluh tahun, Bulan menjalani berbagai tahap rehabilitasi untuk mempelajari kembali keterampilan yang dibutuhkan agar dapat hidup mandiri di hutan, mulai dari mencari makan, membangun sarang, hingga menghindari ancaman. Setelah dinilai siap, ia dilepasliarkan ke Cagar&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kisah-indah-bulan-orangutan-korban-perdagangan-yang-menjadi-induk-di-alam-liar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kisah-indah-bulan-orangutan-korban-perdagangan-yang-menjadi-induk-di-alam-liar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jejak Kehidupan Ular di Hutan Papua</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/07/jejak-kehidupan-ular-di-hutan-papua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/07/jejak-kehidupan-ular-di-hutan-papua/#respond</comments>
					<pubDate>11 Jul 2026 01:58:13 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/28044044/Morelia-azurea-Foto_-Imam-Ramdhani-3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=130411</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Jejak Kehidupan Ular di Hutan Papua]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bentang alam Papua menyimpan kekayaan herpetofauna luar biasa yang menjadi rumah bagi berbagai jenis ular endemik unik, mulai dari perilaku sanca hijau utara dengan kemampuan kamuflase tingkat tinggi hingga spesies berbisa seperti ular putih yang hingga kini belum memiliki antivenom. Dinamika kehidupan para penguasa rimba ini menghadapi tantangan besar seiring meningkatnya ancaman perburuan liar untuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/07/jejak-kehidupan-ular-di-hutan-papua/">Jejak Kehidupan Ular di Hutan Papua</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bentang alam Papua menyimpan kekayaan herpetofauna luar biasa yang menjadi rumah bagi berbagai jenis ular endemik unik, mulai dari perilaku sanca hijau utara dengan kemampuan kamuflase tingkat tinggi hingga spesies berbisa seperti ular putih yang hingga kini belum memiliki antivenom. Dinamika kehidupan para penguasa rimba ini menghadapi tantangan besar seiring meningkatnya ancaman perburuan liar untuk perdagangan satwa ilegal serta dampak pemanasan global yang mulai menggeser ruang hidup ular berbisa ke dekat pemukiman manusia. Selain itu, gangguan keseimbangan ekosistem akibat invasi spesies asing di pulau-pulau kecil turut memperparah status keberadaan mereka. Seluruh ancaman ekologis serta keunikan karakteristik satwa tersebut menjadi potret penting mengenai kondisi riil ekosistem pedalaman saat ini sekaligus menjadi alarm bagi masa depan konservasi satwa liar di tanah Papua. The post Jejak Kehidupan Ular di Hutan Papua appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/07/jejak-kehidupan-ular-di-hutan-papua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/07/jejak-kehidupan-ular-di-hutan-papua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menyoal Mandatori Biodiesel B50</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/11/menyoal-mandatori-biodiesel-b50/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/11/menyoal-mandatori-biodiesel-b50/#respond</comments>
					<pubDate>11 Jul 2026 01:43:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/10073322/Perluasan-perkebunan-sawit-menjadi-ancaman-menurunnya-produksi-serta-minat-menanam-sayuran-masyarakat-Bangka-Belitung.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130407</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, Masyarakat Adat, pangan, politik dan hukum, sawit, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Mulai Juli ini, Pemerintah Indonesia mulai jalankan program biodiesel 50% (B50). Sejumlah pihak mengkritik kebijakan mandatori B50  dan menguji klaim pemerintah yang menyebut program ini dapat menghemat devisa negara mencapai Rp157,28 triliun pada 2026. Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) mengklaim kebijakan B50 dapat mengurangi kebutuhan impor solar jauh lebih besar dari tahun [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/11/menyoal-mandatori-biodiesel-b50/">Menyoal Mandatori Biodiesel B50</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Mulai Juli ini, Pemerintah Indonesia mulai jalankan program biodiesel 50% (B50). Sejumlah pihak mengkritik kebijakan mandatori B50  dan menguji klaim pemerintah yang menyebut program ini dapat menghemat devisa negara mencapai Rp157,28 triliun pada 2026. Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) mengklaim kebijakan B50 dapat mengurangi kebutuhan impor solar jauh lebih besar dari tahun lalu ketika pemerintah masih mandatori B40. “Penghematan devisa Rp133,3 triliun  tahun lalu, maka penghematan devisa dari penurunan impor solar melalui kebijakan B50 pada tahun ini meningkat sekitar 17,9%,” ujar Dwi Anggia, Juru Bicara KESDM dari Antara. Pernyataan Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, penghematan lebih tinggi lagi. Saat peluncuran program ini 9 Juli lalu,  dia  mengatakan, mandatori biodiesel B50 berpotensi menghemat devisa negara sekitar Rp170 triliun. Mengutip IDN, dia bilang,  penghematan terjadi karena kebijakan ini mampu mengurangi kebutuhan Indonesia terhadap impor solar. “Jadi,  dari B40 ke B50, kita bisa menahan devisa kita Rp170 T,” kata Bahlil masih dari IDN. Benarkah dapat menghemat devisa negara? Yayan Satyakti, Dosen Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran mengkaji klaim pemerintah ini. Dia bilang, penghematan devisa lewat program B50 memang terjadi, tetapi tidak otomatis berarti menghemat anggaran negara. Biodiesel, sumber energi di Indonesia dominan berasal dari sawit. Subsidi-subsidi untuk biodiesel sawit pun banyak mengalir ke perusahaan-perusahaan. Foto: dari laporan Koalisi Transisi Bersih Benarkah penghematan? Sebaliknya, menurut Yayan, B50 berpotensi menimbulkan biaya fiskal, tekanan terhadap pasar minyak goreng, risiko pembukaan lahan sawit baru, dan utang karbon hingga seabad lebih. Dia bilang, program B50 memang bisa gantikan impor solar&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/11/menyoal-mandatori-biodiesel-b50/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/11/menyoal-mandatori-biodiesel-b50/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tawa Kera Besar Bantu Ungkap Asal-usul Bahasa Manusia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tawa-kera-besar-bantu-ungkap-asal-usul-bahasa-manusia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tawa-kera-besar-bantu-ungkap-asal-usul-bahasa-manusia/#respond</comments>
					<pubDate>10 Jul 2026 10:00:47 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/04/22035733/Gorilla4-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130391</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, hutan indonesia, kera besar, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Penelitian terbaru mengungkap bahwa manusia dan kera besar memiliki pola tawa yang sangat mirip. Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan menghasilkan tawa ritmis bukanlah ciri khas manusia semata, melainkan telah diwariskan dari nenek moyang bersama sekitar 15 juta tahun lalu. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Commonications Biology pada Juni 2026 ini memberi petunjuk baru tentang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tawa-kera-besar-bantu-ungkap-asal-usul-bahasa-manusia/">Tawa Kera Besar Bantu Ungkap Asal-usul Bahasa Manusia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Penelitian terbaru mengungkap bahwa manusia dan kera besar memiliki pola tawa yang sangat mirip. Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan menghasilkan tawa ritmis bukanlah ciri khas manusia semata, melainkan telah diwariskan dari nenek moyang bersama sekitar 15 juta tahun lalu. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Commonications Biology pada Juni 2026 ini memberi petunjuk baru tentang bagaimana kemampuan vokal manusia, termasuk bahasa, berevolusi. Baik manusia maupun kera besar seperti orangutan, gorila, bonobo, dan simpanse menghasilkan tawa melalui siklus napas pendek yang memicu getaran pita suara. Pola tersebut membentuk ritme vokal khas, seperti &#8220;ha-ha-ha&#8221;, dengan struktur waktu yang serupa di seluruh spesies. Selain sebagai ekspresi emosi, tawa juga berfungsi memperkuat ikatan sosial dan dapat menular kepada individu lain. Menurut tim peneliti dari Universitas Warwick, Inggris, mempelajari perilaku kera besar merupakan salah satu cara terbaik untuk memahami asal-usul kemampuan vokal manusia. Berbeda dengan bentuk tubuh yang dapat ditelusuri melalui fosil, evolusi suara dan bahasa tidak meninggalkan jejak fisik sehingga perilaku vokal kera besar menjadi petunjuk penting untuk merekonstruksi kemampuan komunikasi nenek moyang manusia. Tim peneliti berpandangan, perilaku tawa kera besar merupakan fosil dalam bentuk lain. Tawa bukan hanya luapan emosi spontan. Tawa merupakan jejak biologis yang menyimpan rahasia asal-usul bahasa manusia. Untuk menguji hipotesis tersebut, peneliti menganalisis rekaman tawa empat orangutan, dua gorila, tiga bonobo, empat simpanse, dan empat anak manusia berusia enam bulan hingga tujuh tahun. Hasil analisis menunjukkan seluruh spesies memiliki interval ritmis yang relatif konsisten, memperkuat dugaan bahwa pola dasar tawa diwarisi dari nenek moyang bersama sekitar 15 juta tahun&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tawa-kera-besar-bantu-ungkap-asal-usul-bahasa-manusia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tawa-kera-besar-bantu-ungkap-asal-usul-bahasa-manusia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kisah Garangan yang Gagal Membasmi Hama Tikus di Perkebunan Tebu</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/10/kisah-garangan-yang-gagal-membasmi-hama-tikus-di-perkebunan-tebu/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/10/kisah-garangan-yang-gagal-membasmi-hama-tikus-di-perkebunan-tebu/#respond</comments>
					<pubDate>10 Jul 2026 09:19:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/15015651/9145959089_d5326d5a35_k-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130380</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sejak akhir abad ke-19, manusia kerap mendatangkan satu spesies untuk mengendalikan spesies lain yang dianggap hama. Salah satu contohnya adalah introduksi atau pelepasan garangan kecil India ke sejumlah perkebunan tebu di Jamaika, Hawaii, dan Fiji, antara 1870-an hingga awal 1880-an, dengan tujuan menekan populasi tikus (didominasi Rattus rattus) yang merusak tanaman. Rencana ini terdengar sederhana [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/10/kisah-garangan-yang-gagal-membasmi-hama-tikus-di-perkebunan-tebu/">Kisah Garangan yang Gagal Membasmi Hama Tikus di Perkebunan Tebu</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sejak akhir abad ke-19, manusia kerap mendatangkan satu spesies untuk mengendalikan spesies lain yang dianggap hama. Salah satu contohnya adalah introduksi atau pelepasan garangan kecil India ke sejumlah perkebunan tebu di Jamaika, Hawaii, dan Fiji, antara 1870-an hingga awal 1880-an, dengan tujuan menekan populasi tikus (didominasi Rattus rattus) yang merusak tanaman. Rencana ini terdengar sederhana di atas kertas; garangan adalah predator, tikus adalah mangsa, jadi tinggal melepas garangan dan tikus akan berkurang karena dimangsa garangan. Tapi ternyata, hasilnya jauh dari harapan, dan bahkan sebagian dampaknya masih terasa sampai sekarang. Garangan kecil India (Herpestes auropunctatus), spesies yang didatangkan ke perkebunan tebu di Jamaika, Hawaii, dan Fiji pada abad ke-19 untuk mengendalikan hama tikus. Foto: Kementerian Lingkungan Hidup Jepang (Government of Japan Standard Terms of Use, kompatibel dengan CC BY 4.0) Perkebunan tebu di pulau-pulau tropis kala itu menghadapi kerugian besar akibat serangan tikus. Sebagai jalan keluar, para pemilik lahan mendatangkan garangan kecil India, yang kini lebih tepat disebut Herpestes auropunctatus, dari wilayah Calcutta, India. W.B. Espeut, pemilik perkebunan di Jamaika, tercatat sebagai orang pertama yang mendatangkannya pada 1872. Hawaii dan Fiji kemudian mendapat garangan dari Jamaika, bukan impor baru dari Asia. Spesies ini sempat dikenal luas dengan nama ilmiah Herpestes javanicus, yang mengandung kata &#8220;javanicus&#8221; merujuk ke Jawa, meski spesimen introduksi tidak pernah berasal dari Indonesia. Nama itu adalah hasil kekeliruan taksonomi awal yang menganggap garangan Asia Selatan sama dengan garangan Jawa, sebelum keduanya belakangan dipisahkan sebagai dua spesies berbeda. Pada masa introduksi itu, pengetahuan soal perilaku predator masih sangat terbatas,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/10/kisah-garangan-yang-gagal-membasmi-hama-tikus-di-perkebunan-tebu/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/10/kisah-garangan-yang-gagal-membasmi-hama-tikus-di-perkebunan-tebu/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jejak Penyelundupan Siamang dari Sumatera ke Luar Negeri  [2]</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/10/jejak-penyelundupan-siamang-dari-sumatera-ke-luar-negeri-2/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/10/jejak-penyelundupan-siamang-dari-sumatera-ke-luar-negeri-2/#respond</comments>
					<pubDate>10 Jul 2026 09:00:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/07132113/Bayi-siamang-yang-diselamatkan-dari-rencana-penyeludupan-di-Tanjung-Balai-Asahan-Sumatera-Utara-6-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130244</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Kidung Siamang Sang Penjaga Rimba Sumatra]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, kera besar, politik dan hukum, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Safri, nama samaran, masih mendekam di lembaga pemasyarakatan di  Aceh. Dia kena bui  karena memperdagangkan  orangutan sumatera. Bahkan, dia pernah mengantar langsung orangutan sumatera dari Kabupaten Aceh Tamiang ke Provinsi Satun, Thailand, menggunakan speedboat selama delapan jam. Bukan hanya orangutan, burung, dan siamang juga dia bawa. “Biasanya, toke dari Indonesia dan Thailand berkomunikasi mengatur jadwal [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/10/jejak-penyelundupan-siamang-dari-sumatera-ke-luar-negeri-2/">Jejak Penyelundupan Siamang dari Sumatera ke Luar Negeri  [2]</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Safri, nama samaran, masih mendekam di lembaga pemasyarakatan di  Aceh. Dia kena bui  karena memperdagangkan  orangutan sumatera. Bahkan, dia pernah mengantar langsung orangutan sumatera dari Kabupaten Aceh Tamiang ke Provinsi Satun, Thailand, menggunakan speedboat selama delapan jam. Bukan hanya orangutan, burung, dan siamang juga dia bawa. “Biasanya, toke dari Indonesia dan Thailand berkomunikasi mengatur jadwal pesanan,” katanya, 27 Oktober 2025 lalu. Pengiriman lancar karena pimpinan mereka di Surabaya, sudah menyiasati agar aman melintasi Selat Malaka. Para penyelundup merasa aman setelah meninggalkan daratan. Alasannya, mereka memiliki mesin kapal bertenaga kuat untuk menghindari kejaran aparat penegak hukum. “Jika keadaan aman, yang dipakai hanya satu atau dua mesin. Tapi, jika ada patroli maka semua mesin dihidupkan.” Safri mengaku, ketika di Thailand mereka tidak bisa turun dari speedboat, karena sudah ada tim yang menunggu. Setelah satwa berpindah tangan, mereka segera pulang ke Aceh. “Di laut tidak banyak yang memantau.” Mongabay Indonesia berkunjung ke Pelabuhan Kota Langsa,  Aceh, untuk melihat langsung speedboat maupun kapal yang pelaku penyeludupan gunakan.  Bea dan Cukai Kota Langsa sita kapal  yang terbuat dari fiber itu. Kapal gunakan tiga bahkan lima mesin 200 PK. Dari situs penjualan, harga mesin tempel  sekitar Rp200 juta per unit. Konsumsi bahan bakar mencapai 81 liter per jam untuk setiap mesin. Mengapa Thailand? Jarak dari Aceh maupun Sumatera Utara, ke provinsi di Thailand lebih dekat ketimbang daerah lain di Indonesia. “Selat Malaka terlalu gampang dilewati para penyelundup. Pengamanan tidak ketat. Saya melaut hingga tiga minggu dan jarang melihat kapal patroli penegak hukum,” kata Sulaiman, nelayan di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/10/jejak-penyelundupan-siamang-dari-sumatera-ke-luar-negeri-2/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/10/jejak-penyelundupan-siamang-dari-sumatera-ke-luar-negeri-2/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dari Elang Jawa hingga Burung Hantu, Masa Depan Raptor Indonesia Kian Rentan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/dari-elang-jawa-hingga-burung-hantu-masa-depan-raptor-indonesia-kian-rentan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/dari-elang-jawa-hingga-burung-hantu-masa-depan-raptor-indonesia-kian-rentan/#respond</comments>
					<pubDate>10 Jul 2026 04:24:40 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/02/27035907/Photo2-Juvenile-Perching-1536x1024-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130373</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keragaman burung pemangsa (raptor) tertinggi di dunia. Kelompok ini mencakup elang, alap-alap, rajawali, hingga burung hantu yang berperan penting sebagai predator puncak dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Selain menjadi habitat bagi banyak spesies menetap (resident), Indonesia juga menjadi jalur migrasi dan wilayah persinggahan penting bagi raptor dari Asia Timur [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/dari-elang-jawa-hingga-burung-hantu-masa-depan-raptor-indonesia-kian-rentan/">Dari Elang Jawa hingga Burung Hantu, Masa Depan Raptor Indonesia Kian Rentan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keragaman burung pemangsa (raptor) tertinggi di dunia. Kelompok ini mencakup elang, alap-alap, rajawali, hingga burung hantu yang berperan penting sebagai predator puncak dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Selain menjadi habitat bagi banyak spesies menetap (resident), Indonesia juga menjadi jalur migrasi dan wilayah persinggahan penting bagi raptor dari Asia Timur dan Asia Utara, seperti Siberia, Mongolia, Jepang, Korea, Taiwan, dan Tiongkok. Kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan turut mendorong tingginya tingkat endemisitas, menghasilkan sejumlah spesies unik yang hanya ditemukan di wilayah tertentu. Tedi Setiadi, Sekretaris Jenderal Raptor Indonesia (RAIN), menjelaskan bahwa raptor di Indonesia terbagi ke dalam tiga ordo utama, yakni Accipitriformes, Falconiformes, dan Strigiformes. Dua ordo pertama merupakan burung pemangsa yang aktif siang hari (diurnal), sementara Strigiformes atau burung hantu aktif malam hari (nokturnal). Perkembangan penelitian raptor di Indonesia mengalami kemajuan signifikan dalam tiga dekade terakhir. Pada awal abad ke-20, kajian masih terbatas pada pencatatan spesimen dan klasifikasi taksonomi oleh para naturalis Eropa. Memasuki pertengahan 1980-an, penelitian mulai menghubungkan keberadaan raptor dengan kondisi habitat serta dampak fragmentasi hutan. Titik balik terjadi pada 1990-an ketika kondisi kritis elang jawa (Nisaetus bartelsi) mendapat perhatian luas. Sejak saat itu, elang jawa menjadi spesies raptor yang paling banyak diteliti di Indonesia dan menjadi fondasi berkembangnya riset terhadap spesies lain. Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian ilmiah juga meningkat terhadap elang flores (Nisaetus floris), yang menghadapi ancaman konservasi serupa. Meski penelitian terus berkembang, status konservasi banyak raptor belum menunjukkan perubahan berarti. Elang jawa, misalnya, masih berstatus Genting (Endangered) secara global.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/dari-elang-jawa-hingga-burung-hantu-masa-depan-raptor-indonesia-kian-rentan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/dari-elang-jawa-hingga-burung-hantu-masa-depan-raptor-indonesia-kian-rentan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tambang Emas Ilegal Jambi Jarah Hutan Warisan Dunia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/10/tambang-emas-ilegal-jambi-jarah-hutan-warisan-dunia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/10/tambang-emas-ilegal-jambi-jarah-hutan-warisan-dunia/#respond</comments>
					<pubDate>10 Jul 2026 01:00:34 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Teguh Suprayitno]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/30135301/Kerusakan-di-dalam-kawasan-TNKS-akibat-tambang-emas-ilegal-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129948</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jambi dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, Masyarakat Adat, dan Pertambangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Lima ekskavator bergerak cepat di tengah hutan nan lebat. Lengan besinya mengaduk tanah, mengangkat, lalu menumpahkan ke atas bok penyaringan. Air kecoklatan menyembur dari ujung pipa sebesar betis, menghantam gumpalan tanah hingga jadi lumpur, menyisakan butiran emas dan pasir yang terperangkap dalam asbuk. Sekitar 100 meter dari sana, seorang lelaki menggenggam gergaji mesin. Dentuman pohon [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/10/tambang-emas-ilegal-jambi-jarah-hutan-warisan-dunia/">Tambang Emas Ilegal Jambi Jarah Hutan Warisan Dunia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Lima ekskavator bergerak cepat di tengah hutan nan lebat. Lengan besinya mengaduk tanah, mengangkat, lalu menumpahkan ke atas bok penyaringan. Air kecoklatan menyembur dari ujung pipa sebesar betis, menghantam gumpalan tanah hingga jadi lumpur, menyisakan butiran emas dan pasir yang terperangkap dalam asbuk. Sekitar 100 meter dari sana, seorang lelaki menggenggam gergaji mesin. Dentuman pohon tumbang bergemuruh. Batang-batang besar berusia ratusan tahun rebah dalam hitungan menit. Beberapa lelaki tampak duduk santai di bawah tenda biru. Mereka tertawa, merokok, sesekali melihat ekskavator bekerja, seolah menonton hiburan. Persis di samping tenda, berjejer puluhan drum berisi solar. Siang dan malam solar-solar itu mengalir tanpa putus, memaksa mesin terus bekerja. Mereka terus bergerak ke hulu sungai, mengikuti urat emas yang tersembunyi dalam perut bumi. Mereka adalah para penambang  emas ilegal di jantung situs warisan dunia di Sumatera, Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Kerusakan di batang air Sungai Penetai akibat tambang emas ilegal di dalam kawasan TNKS. Foto: Teguh Suprayitno/Mongabay Indonesia. Bersama warga lokal, Mongabay menempuh perjalanan lima hari menembus hutan, 16 Agustus 2025. Mendaki Bukit Punggung Parang dari wilayah Tamiai hingga lokasi tambang emas ilegal di Sungai Penetai—sekitar 20 kilometer masuk dalam kawasan taman nasional. Seorang penambang yang kami temui mengaku sudah dua pekan berada di dalam TNKS. Dia datang dari Kabupaten Merangin. Menempuh perjalanan puluhan kilometer, mengikuti batang air Sungai Penetai. “Kalau yang tenda oranye itu sudah sebulan di sini (TNKS),” katanya santai, sembari menunjuk tenda di tepi hutan. Seminggu sebelumnya, sekitar 30-an alat berat berebut emas di sana, sebagian bergeser ke Kecamatan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/10/tambang-emas-ilegal-jambi-jarah-hutan-warisan-dunia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/10/tambang-emas-ilegal-jambi-jarah-hutan-warisan-dunia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Konservasi Negara Kerap Tabrak Wilayah Adat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/09/ketika-konservasi-negara-tabrak-ruang-hidup-masyarakat-adat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/09/ketika-konservasi-negara-tabrak-ruang-hidup-masyarakat-adat/#respond</comments>
					<pubDate>09 Jul 2026 18:43:43 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christ J Belseran]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/08/23085918/Dalam-kawasan-Hutan-Adat-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130334</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p> Konservasi negara kerap bertabrakan dengan Ruang masyarakat adat adalah jaringan kehidupan, sebagai tempat tinggal, kebun, sumber air, hutan, wilayah jelajah, tempat ritual dan relasi sosial. Ia tidak bisa disederhanakan hanya menjadi bidang administratif  semata atau penetapan status sepihak negara. Begitu ungkapan Geger Rianto, akademisi antropologi sosial Universitas Indonesia,  dalam peluncuran Data Nasional Indigenous Peoples and [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/09/ketika-konservasi-negara-tabrak-ruang-hidup-masyarakat-adat/">Ketika Konservasi Negara Kerap Tabrak Wilayah Adat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[ Konservasi negara kerap bertabrakan dengan Ruang masyarakat adat adalah jaringan kehidupan, sebagai tempat tinggal, kebun, sumber air, hutan, wilayah jelajah, tempat ritual dan relasi sosial. Ia tidak bisa disederhanakan hanya menjadi bidang administratif  semata atau penetapan status sepihak negara. Begitu ungkapan Geger Rianto, akademisi antropologi sosial Universitas Indonesia,  dalam peluncuran Data Nasional Indigenous Peoples and Local Communities Conserved Areas and Territories (ICCAs) 2026  di Fakultas Hukum Universitas Pancasila, Jakarta Selatan, Jumat (5/6/26). Baginya,  salah satu persoalan mendasar dalam pengelolaan sumber daya alam di Indonesia adalah perbedaan cara pandang antara negara dan masyarakat adat dalam memahami ruang. Jika negara melihat ruang melalui garis-garis administratif dalam peta, masyarakat adat justru memahami sebagai jaringan kehidupan yang terbentuk dari hubungan antara manusia, hutan, sungai, kebun, sumber air, tempat-tempat ritual, hingga relasi sosial yang berkembang lintas generasi. Dalam banyak kasus, katanya,  masyarakat adat baru menyadari keberadaan peta ketika tiba-tiba mereka tidak boleh lagi masuk ke kebun sendiri. &#8220;Atau ketika wilayah yang selama ini mereka kelola masuk ke kawasan tertentu,&#8221; katanya. Masyarakat adat, katanya,  tidak tumbuh dengan cara pandang ruang yang terpetakan dari atas. Mereka hidup bersama ruang itu sendiri. Sebab itu, ketika negara menetapkan kawasan konservasi tertentu, sering kali masyarakat justru menjadi pihak yang pertama kali merasakan pembatasan akses atas ruang hidup mereka. Dalam banyak kasus, kataya, masyarakat adat baru menyadari bahwa wilayah mereka telah masuk  ke dalam kawasan tertentu setelah akses terhadap ruang hidup mulai terbatas. Karena itu, gerakan pemetaan partisipatif yang Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif (JKPP) menjadi penting agar masyarakat dapat mendokumentasikan sendiri&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/09/ketika-konservasi-negara-tabrak-ruang-hidup-masyarakat-adat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/09/ketika-konservasi-negara-tabrak-ruang-hidup-masyarakat-adat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Nasib Ikan Kecil Endemik Indonesia?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/09/bagaimana-nasib-ikan-kecil-endemik-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/09/bagaimana-nasib-ikan-kecil-endemik-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>09 Jul 2026 13:06:06 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/09130042/Ikan-Wader-Pari-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130353</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, dan Lahan Basah]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ikan air tawar kecil yang merupakan bagian ekosistem sungai dan danau, terus menghadapi tantangan. Dua jenis di antaranya adalah ikan bilih (Mystacoleucus padangensis Bleeker) di Danau Singkarak, Sumatera Barat, dan ikan wader pari (Rasbora Argyrotaenia). International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkan kedua ikan endemik asli Indonesia ini berstatus Rentan (Vulnerable/VU). Perlu penanganan ekstra [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/09/bagaimana-nasib-ikan-kecil-endemik-indonesia/">Bagaimana Nasib Ikan Kecil Endemik Indonesia?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ikan air tawar kecil yang merupakan bagian ekosistem sungai dan danau, terus menghadapi tantangan. Dua jenis di antaranya adalah ikan bilih (Mystacoleucus padangensis Bleeker) di Danau Singkarak, Sumatera Barat, dan ikan wader pari (Rasbora Argyrotaenia). International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkan kedua ikan endemik asli Indonesia ini berstatus Rentan (Vulnerable/VU). Perlu penanganan ekstra untuk memulihkan kondisi keduanya, termasuk melakukan restocking atau menebar dan melepasliarkan benih ke habitat asli. Syahril Abdul Raup, Direktur Sumber Daya Ikan Kementerian Kelautan dan Perikanan, mengatakan restocking jalan terbaik mengembalikan populasi ikan kecil endemik. “Indikasinya terlihat pada menurunnya hasil tangkapan nelayan lokal, serta berkurangnya distribusi ikan spesifik di pasaran, seperti rumah makan padang,” ungkapnya kepada Mongabay, Kamis (11/6/2026). Namun, kebijakan restocking tidak mudah dilakukan, karena harus menyesuaikan masing-asing ekosistem atau habitat. Ancaman utama keberadaan ikan kecil endemik adalah penangkapan berlebihan (overfishing), berkurangnya populasi, juga pendangkalan habitat. “Selain itu, dampak pencemaran dan alat tangkap yang tidak terkontrol.” Dokumen “Pedoman Teknis Restocking Ikan Kecil Berbasis Kajian Efektivitas Restocking: Pengelolaan Berkelanjutan Perikanan Darat” diluncurkan KKP dengan melibatkan perguruan tinggi. Dua lokasi dipilih untuk percontohan, yaitu Danau Singkarak dan Daerah Istimewa Yogyakarta, yang keduanya habitat ikan bilih dan wader pari. “Restocking berhasil jika diikuti pengaturan wilayah tangkap, termasuk jumlah alat tangkap dan musim penangkapan, serta pengawasan penangkapan lebih terukur.” Syahril menjelaskan, restocking pada ekosistem sungai dan danau dilaksanakan merujuk Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 19 Tahun 2021 tentang Penebaran Kembali dan Penangkapan Ikan Berbasis Budidaya. “Sebagai proses terintegrasi, upaya rehabilitasi dan peningkatan sumber daya ikan serta lingkungannya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/09/bagaimana-nasib-ikan-kecil-endemik-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/09/bagaimana-nasib-ikan-kecil-endemik-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ilmuwan Gaza yang Meneliti Pari Manta dari Zona Perang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/ilmuwan-gaza-yang-meneliti-pari-manta-dari-zona-perang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/ilmuwan-gaza-yang-meneliti-pari-manta-dari-zona-perang/#respond</comments>
					<pubDate>09 Jul 2026 08:12:47 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/09080559/Mohammed-Abu-Daya-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130345</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, Satwa, dan tokoh]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Mohammed Abu Daya adalah seorang ahli ekologi laut asal Gaza. Penelitiannya berfokus pada pari spinetail devil ray, atau dikenal juga sebagai giant devil ray, spesies yang berstatus Kritis (Critically Endangered/CR) dan bermigrasi melintasi Laut Mediterania hingga perairan sekitarnya. Hanya sedikit ilmuwan yang mengkhususkan diri pada satwa ini, dan lebih sedikit lagi yang menelitinya dari Gaza, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/ilmuwan-gaza-yang-meneliti-pari-manta-dari-zona-perang/">Ilmuwan Gaza yang Meneliti Pari Manta dari Zona Perang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Mohammed Abu Daya adalah seorang ahli ekologi laut asal Gaza. Penelitiannya berfokus pada pari spinetail devil ray, atau dikenal juga sebagai giant devil ray, spesies yang berstatus Kritis (Critically Endangered/CR) dan bermigrasi melintasi Laut Mediterania hingga perairan sekitarnya. Hanya sedikit ilmuwan yang mengkhususkan diri pada satwa ini, dan lebih sedikit lagi yang menelitinya dari Gaza, yang perairannya bagian dari jalur migrasi spesies tersebut. Sebelum perang, Abu Daya mengajar di sejumlah universitas Palestina dan bekerja di Pusat Penelitian Nasional Gaza. Dia rutin melaut bersama para nelayan, mengukur pari spinetail devil ray (Mobula mobular) yang dibawa ke darat, memantau pasar ikan, serta mengumpulkan data mengenai spesies yang lebih sering diteliti di kawasan Mediterania bagian barat. Penelitiannya membantu menunjukkan bahwa perairan Gaza merupakan bagian penting dari wilayah jelajah satwa migran yang terancam ini. Bahkan sebelum perang, tekanan terhadap ekosistem laut Gaza sudah sangat berat. Pembatasan yang diberlakukan Israel membatasi area penangkapan ikan. Stok ikan terus menurun. Kemiskinan dan tingginya biaya bahan bakar memaksa masyarakat menangkap apa pun yang dapat diperoleh di dekat pantai. Pada 2013, ketika sekelompok besar pari setan mendekati pesisir Gaza, ratusan ekor berhasil ditangkap nelayan. Abu Daya tidak semata-mata melihat peristiwa itu sebagai kegagalan konservasi. Dia berusaha memahami penyebabnya, mulai dari minimnya sistem konservasi lokal hingga tekanan hidup yang dihadapi masyarakat yang sangat sedikit memiliki pilihan. Lalu perang berkecamuk. Abu Daya kehilangan rumah, kantor, dan akses rutin ke laut. Universitas, perpustakaan, kapal nelayan, lokasi pendaratan ikan, hingga infrastruktur pelabuhan hancur. Dia telah beberapa kali mengungsi dan kini hidup, seperti banyak&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/ilmuwan-gaza-yang-meneliti-pari-manta-dari-zona-perang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/ilmuwan-gaza-yang-meneliti-pari-manta-dari-zona-perang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Orangutan dari Rehabilitasi Melahirkan di Alam Liar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/09/orangutan-dari-rehabilitasi-melahirkan-di-alam-liar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/09/orangutan-dari-rehabilitasi-melahirkan-di-alam-liar/#respond</comments>
					<pubDate>09 Jul 2026 02:04:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ayat S Karokaro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kera besar]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/08184937/Bulan-and-Badar1_YEL-SOCP-Andi-Saputra-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130317</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tim pemantau lapangan Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP) menemukan kehadiran bayi orangutan sumatera (Pongo abelii) jantan dari Bulan, betina yang sempat jadi korban perdagangan satwa ilegal yang melewati proses rehabilitasi, lalu lepasliar pada 2018, di Cagar Alam Jantho, Aceh, akhir Mei. Temuan ini menunjukkan keberhasilan reintroduksi satwa endemik, meski, perlindungan di luar kawasan konservasi masih [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/09/orangutan-dari-rehabilitasi-melahirkan-di-alam-liar/">Orangutan dari Rehabilitasi Melahirkan di Alam Liar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tim pemantau lapangan Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP) menemukan kehadiran bayi orangutan sumatera (Pongo abelii) jantan dari Bulan, betina yang sempat jadi korban perdagangan satwa ilegal yang melewati proses rehabilitasi, lalu lepasliar pada 2018, di Cagar Alam Jantho, Aceh, akhir Mei. Temuan ini menunjukkan keberhasilan reintroduksi satwa endemik, meski, perlindungan di luar kawasan konservasi masih jadi pekerjaan besar. Bulan merupakan orangutan yang petugas selamatkan dari perdagangan di Kutacane, Kabupaten Aceh Tenggara, saat masih berusia dua tahun. Sejak saat itu, ia melewati rangkaian proses pemulihan selama empat tahun berikutnya di pusat karantina SOCP Sibolangit, Sumut. Tahun 2018, Bulan kembali ke ekosistem aslinya hingga  petugas temukan bersama anaknya. Raja Juli Antoni, Menteri Kehutanan, memberi nama si anak, Badar. Dalam kosakata lokal, merujuk pada fenomena bulan purnama. M. Yakob Ishadamy, Direktur Konservasi Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), mengatakan,  kasus Bulan contoh nyata keberhasilan reintroduksi satwa endemik. Namun, keberhasilan ini harus bareng dengan penguatan perlindungan tempat hidup orangutan lainnya. &#8220;Dari korban perdagangan hewan ilegal menjadi seorang ibu di alam liar, perjalanan Bulan menunjukkan nilai jangka panjang dari rehabilitasi dan reintroduksi orangutan. Keberhasilan seperti ini hanya dapat berlanjut jika hutan tempat orangutan bergantung tetap terlindungi,&#8221; katanya. Dia juga menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran komunitas adat di sekitar zona penyangga agar berperan menjaga kekayaan alam. Perlindungan habitat menjadi kunci utama memastikan orangutan dapat bertahan hidup dan mempertahankan populasi yang sehat. Kelahiran Badar, katanya, jadi pencapaian penting penyelamatan spesies. Namun, realita lapangan menunjukkan masih ada tantangan. Tekanan antropogenik meningkat drastis selama dekade terakhir menyebabkan fragmentasi lahan yang menciptakan pulau-pulau&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/09/orangutan-dari-rehabilitasi-melahirkan-di-alam-liar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/09/orangutan-dari-rehabilitasi-melahirkan-di-alam-liar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tradisi Ume dan Varietas Padi Lokal Masyarakat Tempirai</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/08/tradisi-ume-dan-varietas-padi-lokal-masyarakat-tempirai/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/08/tradisi-ume-dan-varietas-padi-lokal-masyarakat-tempirai/#respond</comments>
					<pubDate>08 Jul 2026 10:57:05 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Taufik Wijaya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/08105137/Padi-lokal-yang-ditanam-di-ume-di-Tempirai.-Terdapat-beberapa-jenis-padi-lokal-yang-ditanam.-Foto-Ariadi-Damara-Mongabay-Indonesia-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130291</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Lahan Basah, Masyarakat Adat, pangan, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ume atau menanam padi di ladang adalah budaya masyarakat lahan basah Sungai Musi, Sumatera Selatan. Sebelum menanam padi atau tanaman lainnya, dilakukan pembersihan lahan yang dilanjutkan dengan pembakaran. Tradisi membakar lahan diperkirakan sudah dilakukan masyarakat sebelum kehadiran Hindu Buddha atau di masa Kedatuan Sriwijaya. Berdasarkan penelitian di Percandian Bumiayu, yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/08/tradisi-ume-dan-varietas-padi-lokal-masyarakat-tempirai/">Tradisi Ume dan Varietas Padi Lokal Masyarakat Tempirai</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ume atau menanam padi di ladang adalah budaya masyarakat lahan basah Sungai Musi, Sumatera Selatan. Sebelum menanam padi atau tanaman lainnya, dilakukan pembersihan lahan yang dilanjutkan dengan pembakaran. Tradisi membakar lahan diperkirakan sudah dilakukan masyarakat sebelum kehadiran Hindu Buddha atau di masa Kedatuan Sriwijaya. Berdasarkan penelitian di Percandian Bumiayu, yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Ecole Francaise d’Extreme Orient (EFEO) pada 2024, ditemukan lapisan arang hasil pembakaran lahan di bawah struktur bata candi Bumiayu. “Hasil uji pertanggalan absolutnya sekitar abad ke-6 Masehi,” kata Sondang M Siregar, arkeolog dari Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan BRIN, di sela Festival Lahan Basah Tempirai di Turunan Gajah, Desa Tempirai Selatan, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Kamis (18/6/26). Selain itu, ditemukan sekam padi pada sejumlah batu bata bangunan candi Bumiayu. “Jadi diperkirakan pembakaran lahan tersebut diperuntukan untuk menanam padi,” kata Sondang. Percandian Bumiayu dikelilingi lahan basah, baik yang terhubung dengan Sungai Lematang, Sungai Penukal, dan Sungai Abab, yang masuk Kabupaten PALI. Masyarakat yang menetap di lahan basah tersebut selama ratusan tahun mengenal budaya ume, beserta tradisi membakar lahannya. Padi lokal yang ditanam di ume di Tempirai. Foto: Ariadi Damara/Mongabay Indonesia. Tradisi membakar lahan ini berhenti atau berkurang pada pertengahan tahun 2000-an. Pemerintah melarang siapa pun membakar lahan untuk aktivitas pertanian dan perkebunan. Larangan ini menyusul bencana kebakaran lahan dan hutan di Indonesia yang menyebabkan bencana kabut asap, sejak 1997-1998. “Kemarau tahun ini lama, sehingga pengawasan pembakaran lahan sangat ketat. Banyak warga takut dan tidak membuka ume,” kata Asrina&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/08/tradisi-ume-dan-varietas-padi-lokal-masyarakat-tempirai/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/08/tradisi-ume-dan-varietas-padi-lokal-masyarakat-tempirai/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bisnis Karbon Ajang Cuci Dosa Korporasi Perusak Alam?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/08/bisnis-karbon-ajang-cuci-dosa-korporasi-perusak-alam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/08/bisnis-karbon-ajang-cuci-dosa-korporasi-perusak-alam/#respond</comments>
					<pubDate>08 Jul 2026 08:25:30 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2016/12/22091255/serampas3-Persawahan-dengan-latar-belakang-Hutan-Adat-Rantau-Kermas.-Foto-Elviza-Diana-709x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130282</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hutan di Indonesia terus tergerus. Deforestasi terus terjadi. Satu sisi, pemerintah sedang gencarkan bisnis karbon atau nilai ekonomi karbon (NEK) dengan narasi sebagai solusi krisis iklim. Berbagai kalangan menilai, bisnis karbon rentan jadi ajang cuci dosa atau greenwashing bagi korporasi ekstraktif, bahkan bisa mengancam keberadaan masyarakat adat. Data Forest Watch Indonesia (FWI), Indonesia kehilangan 2,7 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/08/bisnis-karbon-ajang-cuci-dosa-korporasi-perusak-alam/">Bisnis Karbon Ajang Cuci Dosa Korporasi Perusak Alam?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hutan di Indonesia terus tergerus. Deforestasi terus terjadi. Satu sisi, pemerintah sedang gencarkan bisnis karbon atau nilai ekonomi karbon (NEK) dengan narasi sebagai solusi krisis iklim. Berbagai kalangan menilai, bisnis karbon rentan jadi ajang cuci dosa atau greenwashing bagi korporasi ekstraktif, bahkan bisa mengancam keberadaan masyarakat adat. Data Forest Watch Indonesia (FWI), Indonesia kehilangan 2,7 juta hektar hutan alam periode 2020-2024. Hingga 2024, tutupan hutan alam Indonesia tersisa sekitar 89,52 juta hektar, setara 47% dari luas daratan. Deforestasi ini menjadi rapor merah pemerintah untuk mencapai target FOLU Net Sink dan  Enhanced Nationally Determined Contribution (E-NDC). Tsabit Khairul Auni, Manager Kampanye dan Advokasi FWI mengatakan, dari pendataan hingga November 2025, terdapat 145 perusahaan tercatat memiliki izin perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH) dalam skema bisnis karbon. Namun, mayoritas dari mereka adalah pemain lama yang memiliki rekam jejak buruk terhadap lingkungan. Dari 145 perusahaan yang dipetakan FWI, 87 perusahaan berstatus izin lama dan 59 perusahaan izin baru. Dari 87 perusahaan lama yang sekarang memiliki izin untuk berdagang karbon, 67 semula beroperasional sebagai IUPHHK hutan alam dan hutan tanaman industri. Temuan FWI, korporasi yang memiliki izin lama itu sudah menyebabkan deforestasi  seluas 464.578.90 hektar (2017-2021) dan 89.526,54 hektar (2021-2024). “Sekarang, mereka tiba-tiba shifting atau ikut-ikutan jualan karbon karena fenomena fomo (fear of missing out) setelah melihat peluang bisnis di pasar karbon,&#8221; ujar Tsabit dalam paparan usai pemutaran film bertajuk “Hutan Indonesia di Tangan Masyarakat di Jakarta, belum lama ini. Dia bilang, masuknya para taipan dalam skema bisnis karbon ini tak lepas dari peran Hanif&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/08/bisnis-karbon-ajang-cuci-dosa-korporasi-perusak-alam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/08/bisnis-karbon-ajang-cuci-dosa-korporasi-perusak-alam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Ular Kobra Dijuluki Ular Sendok?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-ular-kobra-dijuluki-ular-sendok/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-ular-kobra-dijuluki-ular-sendok/#respond</comments>
					<pubDate>08 Jul 2026 08:20:57 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2018/07/22073542/Kobra.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130285</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ular kobra merupakan jenis ular berbisa dari Suku Elapidae. Ular ini disebut juga ular sendok, karena ia dapat menegakkan sekaligus memipihkan lehernya hingga melengkung seperti sendok. Bentuk seperti sendok ini akan ia tampilkan saat merasa terganggu atau terintimidasi dengan kehadiran musuh. Di Indonesia terdapat dua jenis kobra yaitu kobra jawa (Naja sputarix) dan kobra sumatera [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-ular-kobra-dijuluki-ular-sendok/">Mengapa Ular Kobra Dijuluki Ular Sendok?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ular kobra merupakan jenis ular berbisa dari Suku Elapidae. Ular ini disebut juga ular sendok, karena ia dapat menegakkan sekaligus memipihkan lehernya hingga melengkung seperti sendok. Bentuk seperti sendok ini akan ia tampilkan saat merasa terganggu atau terintimidasi dengan kehadiran musuh. Di Indonesia terdapat dua jenis kobra yaitu kobra jawa (Naja sputarix) dan kobra sumatera (Naja sumatrana). Kobra sumatera persebarannya hanya di Sumatera dan Kalimantan. Kobra jawa tersebar di Jawa, Bali, Lombok, Komodo, Rinca, Sumbawa, dan Flores. Jenis ini menyukai bentang alam berupa hutan terbuka, savana, persawahan, hingga pekarangan. Ukuran tubuhnya, rata-rata sekitar 1,3-1,8 meter. Saat bertelur, sang betina dapat menghasilkan 10-20 butir yang akan menetas 3-4 bulan. Biasanya, telu-telur tersebut diletakkan di lubang tanah atau di daun kering lembab. Hampir semua jenis ular, termasuk induk kobra pada periode tertentu, akan meninggalkan telur-telurnya, hingga menetas sendiri. Begitu menetas, anakan kobra ini segera menyebar. Biasanya, telur akan menetas saat awal musim penghujan, yang merupakan siklus alami. Kobra akan melumpuhkan mangsa dengan cara menggigit dan menyuntikkan bisa (venom) melalui taringnya. Racun ini dapat melumpuhkan saraf dan otot mangsanya hanya dalam hitungan menit. Mangsanya adalah tikus, kadal, katak dan ular. Kobra jawa sangat agresif, sedikit gangguan langsung membuat postur waspada yaitu menegakkan kepala dan mengembangkan tudung. Jenis ini aktif siang maupun malam hari dan dapat menyemburkan racun sejauh dua meter. Memahami karakter ular Harus kita pahami, ular merupakan satwa melata (reptilia) yang sangat umum di sekitar kita. Sejauh ini, belum ada cara sederhana untuk mengenali ular berbisa maupun tidak. Beberapa jenis ular tidak&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-ular-kobra-dijuluki-ular-sendok/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-ular-kobra-dijuluki-ular-sendok/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Meski Terpisah di Darat dan Laut, Ternyata Paus dan Kuda Nil Satu Garis Keturunan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/08/meski-terpisah-di-darat-dan-laut-ternyata-paus-dan-kuda-nil-satu-garis-keturunan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/08/meski-terpisah-di-darat-dan-laut-ternyata-paus-dan-kuda-nil-satu-garis-keturunan/#respond</comments>
					<pubDate>08 Jul 2026 04:32:57 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/08041514/pexels-tkirkgoz-5329063-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130274</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Paus, lumba-lumba, dan pesut adalah mamalia laut yang seluruh hidupnya dihabiskan di air. Namun penelitian genetik dan fosil selama beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa kerabat terdekat mereka yang masih hidup bukanlah hewan laut lain, melainkan kuda nil, mamalia darat yang menghabiskan sebagian besar waktunya di sungai dan danau Afrika. Temuan ini mengubah pemahaman tentang asal [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/08/meski-terpisah-di-darat-dan-laut-ternyata-paus-dan-kuda-nil-satu-garis-keturunan/">Meski Terpisah di Darat dan Laut, Ternyata Paus dan Kuda Nil Satu Garis Keturunan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Paus, lumba-lumba, dan pesut adalah mamalia laut yang seluruh hidupnya dihabiskan di air. Namun penelitian genetik dan fosil selama beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa kerabat terdekat mereka yang masih hidup bukanlah hewan laut lain, melainkan kuda nil, mamalia darat yang menghabiskan sebagian besar waktunya di sungai dan danau Afrika. Temuan ini mengubah pemahaman tentang asal usul cetacea, kelompok paus dan kerabatnya, dalam pohon evolusi mamalia. Sebelum bukti genetik berkembang, banyak ilmuwan menempatkan cetacea dekat dengan kelompok mesonychia, mamalia karnivora darat yang telah punah. Analisis molekuler kemudian membalik pandangan tersebut, dan bukti fosil yang ditemukan setelahnya memperkuat kesimpulan itu. Bukti Genetik dan Fosil Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature, berjudul &#8220;Whales originated from aquatic artiodactyls in the Eocene epoch of India&#8220;, menjadi salah satu tonggak penting dalam mengungkap hubungan ini. Tim tersebut meneliti fosil Indohyus, mamalia kecil mirip rusa yang hidup sekitar 48 juta tahun lalu di wilayah yang kini menjadi Kashmir, India. Indohyus termasuk dalam famili raoellid, kelompok artiodaktil atau mamalia berkuku genap yang telah punah. Analisis struktur tulang telinga bagian dalam pada fosil Indohyus menunjukkan kemiripan dengan struktur yang ditemukan pada paus purba, sebuah ciri anatomi yang disebut involucrum. Struktur ini tidak ditemukan pada mamalia darat lain, sehingga menjadi penanda kuat hubungan kekerabatan. Rekonstruksi Indohyus, mamalia mirip rusa dari famili raoellid yang hidup sekitar 48 juta tahun lalu di wilayah Kashmir, India. Fosil hewan ini menjadi salah satu bukti kunci yang menghubungkan garis keturunan paus dengan artiodaktil. Ilustrasi: Nobu Tamura (spinops.blogspot.com), Own work / CC BY-SA, via Wikimedia Commons&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/08/meski-terpisah-di-darat-dan-laut-ternyata-paus-dan-kuda-nil-satu-garis-keturunan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/08/meski-terpisah-di-darat-dan-laut-ternyata-paus-dan-kuda-nil-satu-garis-keturunan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kebakaran TPA Jatiwaringin, Walhi Ingatkan Pengelolaan Sampah Hulu-Hilir</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/07/kebakaran-tpa-jatiwaringin-walhi-ingatkan-pengelolaan-sampah-hulu-hilir/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/07/kebakaran-tpa-jatiwaringin-walhi-ingatkan-pengelolaan-sampah-hulu-hilir/#respond</comments>
					<pubDate>07 Jul 2026 11:30:18 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Muhammad Ikbal]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/07084941/WhatsApp-Image-2026-07-06-at-16.51.40-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130220</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[banten dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten,  ludes terbakar, 30 Juni lalu. Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) mendesak pengelolaan sampah seharusnya dari hulu hingga hilir hingga tak menyebabkan sampah menunpuk di  TPA. TPA dengan pengelolaan open dumping ini rencananya jadi salah satu lokasi Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL).  Warga khawatir, kebakaran di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/07/kebakaran-tpa-jatiwaringin-walhi-ingatkan-pengelolaan-sampah-hulu-hilir/">Kebakaran TPA Jatiwaringin, Walhi Ingatkan Pengelolaan Sampah Hulu-Hilir</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten,  ludes terbakar, 30 Juni lalu. Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) mendesak pengelolaan sampah seharusnya dari hulu hingga hilir hingga tak menyebabkan sampah menunpuk di  TPA. TPA dengan pengelolaan open dumping ini rencananya jadi salah satu lokasi Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL).  Warga khawatir, kebakaran di lahan luas dengan tumpukan sampah kering ini bakal bertahan dan sulit padam. &#8220;Warga sekitar takutnya kayak TPA yang di Kota Tangerang kebakar sampai berhari-hari,&#8221; kata  Candra, warga sekitar, saat Mongabay hubungi. Dia khawatir kepulan asap pekat yang membumbung tinggi berdampak buruk bagi kesehatan warga sekitar. Apalagi, material di TPA ini bukan hanya satu jenis. &#8220;Kalau lama takutnya ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Saya ada anak kecil juga makanya mau diungsikan dulu sebelum padam.&#8221; Pemerintah Kabupaten Tangerang menurunkan 30 personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Ahmad Ruslan, Kepala Bidang Pemadaman dan Penyelamatan BPBD, bilang,   setidaknya enam unit awal armada kebakaran ke lokasi. Api di TPA katanya, masih cukup besar berkobar di area gunungan sampah. Petugas berupaya menembus titik api di tengah tumpukan sampah. &#8220;Kondisi lokasi menyulitkan proses pemadaman,&#8221; katanya, 30 Juni. Ujat Sudrajat, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Tangerang, Banten, menyebut luasan kebakaran di TPA sekitar dua hektar. Dugaan awal, titik kemunculan api dari sebelah utara lokasi penimbunan sampah. Kondisi kebakaran, katanya, makin parah karena  cuaca ekstrem dengan suhu panas matahari dan angin kencang yang memperluas rambatan api. &#8220;Angin hembusannya cukup kencang, sehingga  menyulitkan berkejaran dengan petugas untuk dalam proses pemadaman,&#8221; katanya. Situasi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/07/kebakaran-tpa-jatiwaringin-walhi-ingatkan-pengelolaan-sampah-hulu-hilir/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/07/kebakaran-tpa-jatiwaringin-walhi-ingatkan-pengelolaan-sampah-hulu-hilir/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>