Fakta dan Keunikan Biologi Kakapo
Karena tidak bisa terbang, kakapo mengandalkan kaki yang kuat untuk berjalan jauh dan memanjat pohon, lalu meluncur turun dengan bantuan sayapnya yang pendek layaknya parasut. Bulunya berwarna hijau lumut berbintik kuning dan cokelat, corak yang berfungsi sebagai kamuflase sempurna di lantai hutan Selandia Baru pada masa ketika predator alaminya hanya berupa burung pemangsa dari udara. Kakapo juga memiliki wajah menyerupai burung hantu lengkap dengan kumis sensorik di sekitar paruh, sehingga kadang dijuluki owl parrot. Indra penciumannya termasuk yang paling tajam di antara jenis burung, kemampuan yang digunakan untuk melacak sumber pangan di kegelapan malam.
Kakapo termasuk burung dengan usia hidup terpanjang di dunia. Umurnya diperkirakan bisa mencapai 60 hingga 80 tahun, jauh melampaui rata-rata umur burung pada umumnya. Sebagai herbivora, kakapo memakan berbagai jenis buah, biji, akar, kulit kayu, lumut, dan tunas tumbuhan asli Selandia Baru, dengan buah pohon rimu sebagai salah satu sumber pangan terpentingnya, terutama menjelang musim kawin.

Pola reproduksi kakapo tergolong tidak biasa di dunia burung. Kakapo hanya berkembang biak setiap dua hingga empat tahun, mengikuti siklus pembuahan buah rimu yang hanya berbuah lebat pada tahun-tahun tertentu, sebuah fenomena yang dikenal sebagai masting. Di luar musim itu, kakapo praktis tidak kawin sama sekali, sehingga populasinya sangat sulit bertambah cepat dibandingkan spesies burung lain yang bisa berkembang biak setiap tahun.
Saat musim kawin tiba, burung jantan berkumpul di area yang disebut lek untuk menarik perhatian betina. Mereka duduk di cekungan tanah yang digali sendiri, lalu mengeluarkan suara dengungan khas dari kantung udara di dada yang dapat terdengar hingga jarak 5 kilometer, mirip suara senar cello yang dipetik lembut. Proses ini bisa berlangsung berjam-jam setiap malam selama berminggu-minggu. Setelah memilih pasangan dan kawin, betina bertelur satu hingga empat butir yang dierami selama sekitar 30 hari, dan sepenuhnya bertanggung jawab merawat telur maupun anak yang menetas selama sekitar enam bulan tanpa bantuan jantan sama sekali. Jantan tidak terlibat dalam pengasuhan anak setelah proses perkawinan selesai.
Hampir Punah dan Upaya Pemulihan yang Masih Berlangsung
Kakapo dulunya tersebar luas hampir di seluruh daratan Selandia Baru dan hidup tanpa ancaman berarti, karena negara itu pada awalnya tidak memiliki mamalia darat asli. Keadaan berubah drastis setelah manusia membawa predator seperti kucing dan cerpelai (stoat) ke Selandia Baru, mengikuti gelombang migrasi manusia dan kolonisasi Eropa. Kakapo yang tidak bisa terbang dan cenderung diam saat merasa terancam, alih-alih melarikan diri, menjadi target mudah bagi predator baru tersebut. Populasinya anjlok begitu cepat sehingga pada awal abad ke-20 spesies ini nyaris punah, dan sempat dikira telah lenyap sepenuhnya dari alam liar sebelum sejumlah individu ditemukan kembali di kawasan terpencil Fiordland dan Pulau Stewart pada pertengahan abad ke-20.
Program penyelamatan kakapo baru dimulai secara serius pada 1995, ketika jumlah burung yang tersisa hanya 51 ekor. Sejak saat itu, seluruh individu kakapo yang berhasil ditemukan dipindahkan ke pulau-pulau kecil bebas predator, tempat mereka dijaga ketat oleh Departemen Konservasi Selandia Baru (Department of Conservation/DOC). Salah satu pulau utama dalam program ini adalah Whenua Hou (Codfish Island), pulau seluas 14 kilometer persegi di lepas pantai Pulau Selatan yang dinyatakan bebas dari posum dan tikus sejak 1998 dan kini menjadi rumah bagi sebagian besar populasi pembiakan kakapo. Setiap kakapo dilengkapi alat pelacak radio, dipantau secara individual, dan mendapat pakan tambahan pada musim kawin untuk meningkatkan peluang bertelur dan kelangsungan hidup anak burung.

Kecilnya populasi yang tersisa sejak 1995 turut meninggalkan warisan berupa keragaman genetik yang terbatas, sehingga sebuah penelitian genom yang dipublikasikan di jurnal Nature Ecology & Evolution menjadi penting. Studi ini memetakan genom hampir seluruh individu kakapo yang hidup dan menunjukkan bahwa pengelolaan aktif selama lebih dari 45 tahun berhasil mempertahankan keragaman genetik populasi, sekaligus mengidentifikasi penanda genetik yang berkaitan dengan pertumbuhan, kerentanan penyakit, dan kesuburan. Data ini kini digunakan tim DOC untuk memandu keputusan translokasi antar-pulau dan pemilihan pasangan kawin yang paling sesuai secara genetik.
Salah satu individu kakapo yang paling dikenal luas adalah Sirocco, jantan kelahiran 1997 di Codfish Island yang dibesarkan oleh manusia setelah sempat sakit saat masih anakan. Proses pembesaran ini membuat Sirocco mengalami gangguan pengenalan pasangan (imprinting) dan lebih tertarik pada manusia dibandingkan sesama kakapo, sehingga ia tidak pernah berhasil kawin secara alami. Namun kepribadiannya yang jinak membuat Sirocco populer di media, bahkan pada 2010 Perdana Menteri Selandia Baru saat itu, John Key, secara resmi menunjuknya sebagai “Juru Bicara Konservasi” untuk meningkatkan kesadaran publik tentang upaya penyelamatan kakapo. Kasus Sirocco juga menjadi salah satu dasar penelitian lain di jurnal PeerJ, yang menemukan bahwa pembesaran anak burung oleh manusia dapat menurunkan kesuburan kakapo jantan di kemudian hari akibat gangguan perilaku kawin serupa.
Perjuangan panjang inilah yang membuat rekor musim kawin 2026 terasa signifikan. Setelah jeda empat tahun tanpa musim kawin, panen buah rimu yang melimpah tahun ini memicu musim kawin terbaik sepanjang sejarah program pemulihan. DOC mengumumkan pada 1 September 2026 bahwa 90 anak burung resmi ditambahkan ke populasi kakapo, sehingga total populasi kini mencapai 325 ekor, jumlah tertinggi dalam sekitar 75 tahun terakhir. Manajer operasi pemulihan kakapo DOC, Deidre Vercoe, mengatakan capaian ini terasa istimewa setelah penantian panjang tersebut. “Kami mengalami jeda empat tahun antar-musim kawin, jadi sungguh menyenangkan akhirnya melihat populasi bertambah setelah penantian selama itu,” katanya. Anak burung termuda pada musim ini, seekor betina bernama Awarua-A3, menetas pada 30 Maret dan baru dimasukkan ke hitungan populasi setelah mencapai usia 150 hari, saat dianggap sudah mandiri.
Vercoe menambahkan bahwa musim kawin berikutnya kemungkinan baru terjadi pada 2028, mengikuti siklus pembuahan pohon rimu yang tidak menentu. Sambil menanti musim kawin berikutnya, tim DOC tetap menjalankan pemantauan harian, pengendalian predator di pulau-pulau suaka, serta program pemuliaan berbasis data genetik untuk memastikan setiap kesempatan berkembang biak dimanfaatkan sebaik mungkin. Rekor populasi tahun ini menjadi penanda penting bagi salah satu program konservasi burung paling lama di dunia, sekaligus pengingat bahwa pemulihan spesies yang nyaris punah membutuhkan waktu puluhan tahun, pengelolaan genetik yang cermat, dan pemahaman mendalam atas biologi reproduksi spesies tersebut.
**
Referensi
Dearden, P. K., Zhang, D., Guhlin, J., et al. (2023). Species-wide genomics of kākāpō provides tools to accelerate recovery. Nature Ecology & Evolution. https://www.nature.com/articles/s41559-023-02165-y