- Para kader Aisyiyah, organisasi perempuan Muhammadiyah, berhasil mengembangkan pengelolaan sampah sampai energi surya berbasis komunitas. Terobosan ini pun melibatkan banyak perempuan.
- Di Banten, Desty Eka Putri Sari bersama Sampah Digital banten memiliki 315 unit bank sampah yang tersebar di Kota Serang, Kabupaten Serang, dan Kota Cilegon. Awal gerakannya bermula dari wilayah RT tempat tinggalnya, 2020 silam.
- Di Sidoarjo, Jawa Timur, Syamsudduha Syahrorini, Ketua Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Aisyiyah Sidoarjo, mengandalkan teknologi dalam transisi energi berbasis komunitas di wilayahnya.
- Di Jepara, Deny Ana I’tikafani, Koordinator Divisi Lingkungan dari LLHPB Aisiyah Jawa Tengah. menginisiasi audit energi berbagai komunitas dan rumah tangga Muhammadiyah. Audit energi ini, terutama, menyasar penggunaan listrik berlebih di lembaga pendidikan, tempat ibadah, hingga majelis pengajian.
Para kader Aisyiyah, organisasi perempuan Muhammadiyah, berhasil mengembangkan pengelolaan sampah sampai energi surya berbasis komunitas. Terobosan ini pun melibatkan banyak perempuan.
Di Banten, Desty Eka Putri Sari bersama Sampah Digital Banten memiliki 315 bank sampah tersebar di Kota Serang, Kabupaten Serang, dan Kota Cilegon. Awal gerakannya bermula dari rukun tetangga (RT) tempat tinggalnya, pada 2020.
“Sampah turut menyumbang emisi karbon apalagi jika tidak dikelola dengan baik,” katanya menerangkan motivasinya.
Platform yang dia kembangkan itu mencatat, mendistribusi, dan mengelola sampah secara digital. Sehingga, pengendalian emisinya optimal dari hulu ke hilir. Dia sebutkan, dengan memaksimalkan pengelolaan sampah organik di unit terkecil, sampah tidak menumpuk di TPA.
Tumpukan sampah organik di TPA membusuk secara anaerob atau tanpa oksigen, yang menghasilkan gas metana lebih besar. Padahal, gas ini merupakan gas rumah kaca yang lebih kuat menangkap panas atmosfer ketimbang karbon dioksida, sehingga memicu krisis iklim lebih jauh.
Dia bilang, total relawan yang terlibat dalam gerakan ini sekitar 6.800 orang, dengan 98% perempuan. Partisipasi ini, menurutnya, efektif dalam mengatasi masalah sampah, sebab, ibu rumah tangga memiliki peran yang signifikan.
Hasil surveynya mendukung hipotesa itu.
“Sebelum memulai platform ini, saya bikin survei kecil-kecilan yang menyasar 100 rumah di lingkup RT tempat tinggal saya. Perempuan terutama ibu rumah tangga jadi pihak yang paling terganggu dengan masalah sampah, mereka juga bersedia berpartisipasi,” katanya.
Saat itu, solusi masalah yang ada hanya menaruh sampah di lahan kosong lalu membakarnya. Bukannya menyasar akar masalah, cara itu justru menimbulkan polusi udara akibat asap pembakaran, juga menambah emisi karbon.
Sampah pun masih banyak menumpuk di pinggir jalan kampung tempat tinggalnya.
“Lalu saya inisiasi di RT sendiri dulu, awalnya ada resistensi terhadap biaya pengelolaan sebesar Rp20.000 per bulan.”
Resistensi itu berkurang karena warga bisa mencicil Rp500 per hari. Inisiasi itu berjalan dan merambang makin banyak tempat, karena terbukti menyelesaikan masalah sampah.
“Setidaknya di lingkungan RT saya sudah tidak ada tumpukan sampah lagi, lalu banyak orang minta dilibatkan dalam platform ini hingga sekarang sampai tiga kabupaten,kota.”

Ekonomi perempuan dan energi surya
Tak hanya selesaikan masalah sampah, Sampah Digital Banten memberdayakan dan meningkatkan ekonomi perempuan. Kini, setidaknya, terkumpul Rp900 juta kas tabungan nasabah dari pengelolaan platform itu.
Dana itu mereka gunakan untuk beragam kegiatan peningkatan kapasitas perempuan dan kebutuhan sosial lainnya. Misal, lumbung pangan dan bantuan modal usaha bergulir.
“Tidak menutup kemungkinan untuk transisi energi kedepannya karena itu isu penting bagi kami dalam mitigasi krisis iklim,” ucapnya.
Desty bilang, keterlibatan perempuan jadi hal penting dalam menjaga lingkungan. Karena, selama ini mereka selalu terpinggirkan. Contoh, dalam forum-forum yang Dinas Lingkungan Hidup bikin, suara perempuan kerap tak terdengar.
Karena itu, dia gunakan pendekatan dari bawah ke atas untuk pengambilan keputusan, perencanaan, hingga evaluasi gerakannya. “Basis kami memang komunitas, jadi harus dari bawah. Cara ini terbukti meningkatkan kesadaran perempuan dalam berpartisipasi sesuai kondisi yang mereka hadapi.”
Sementara teknologi digital, lanjutnya, hanya cara untuk menguatkan prinsip tersebut. Model penanganan sampah berbasis komunitas ini bisa daerah lain replika sesuai kondisi masing-masing.
Cara ini, menurutnya, efektif mendekatkan isu lingkungan ke warga dalam keseharian mereka.
“Terutama untuk mitigasi iklim minimal ada dampak dari gerakan yang dilakukan, apalagi kalau itu meringankan secara ekonomi maka kesadaran mudah terbangun.”
Setelah lebih dari lima tahun fokus pada pengelolaan sampah, Rini kini mengupayakan transisi energi berbasis komunitas dengan pendekatan praktik langsung.
Dia melakukan penelitian hingga pendampingan lapangan, termasuk pemasangan panel surya untuk penerangan jalan kampung.
Pemasangan itu secara perlahan mengubah paradigma warga di sekitar tempat tinggalnya. Yang mulanya menganggap transisi energi hal yang rumit dan mahal, jadi sederhana dan murah karena menghemat pengeluaran kas RT.
Selain panel surya, dia juga mengerjakan aplikasi penghitung beban listrik rumah tangga. Aplikasi ini jadi wahana edukasi yang menyasar ibu rumah tangga untuk hemat dalam mengatur konsumsi energi di rumahnya.
Di Sidoarjo, Jawa Timur, Syamsudduha Syahrorini, Ketua Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Aisyiyah Sidoarjo, menerapkan cara serupa. Perempuan ini telah menjalankan transisi energi berbasis komunitas di wilayahnya.
Dia menginisiasi lampu penerangan jalan berbasis panel surya di Kampung Kopi, Desa Jatiarjo, Kecamatan Prigen. “Upaya itu bagian dari program kampus tempat saya mengajar, upaya lain dengan mengembangkan aplikasi prediksi konsumsi listrik,” kata dosen Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Sidoarjo itu.
Menurut dia, energi fosil yang selama ini masyarakat konsumsi menciptakan ketidakadilan dan pencemaran lingkungan. Karena itu, perlu transisi batubara, ke sumber energi lain yang lebih berkeadilan dan ekologis.
Penggunaan energi fosil yang masif dan berlangsung lama ini, katanya, memicu krisis iklim.
“Yang paling dirugikan dari perubahan iklim ini juga perempuan, makanya kami inisiatif memberdayakan perempuan untuk jadi aktor mitigasi ini.”

Sidoarjo menghadapi masalah sama seperti di Banten. Dari isu ini, Rini pertama kali memulai inisiatifnya mengatasi sampah dengan medium eco-enzyme.
Sampah dapur ibu-ibu Aisyiyah Sidoarjo dia sulap jadi cairan serbaguna hasil fermentasi limbah organik, gula merah, dan air. Dia sadar solusi masalah lingkungan tak harus rumit dan mahal lewat eco-enzyme yang beraroma asam manis, kaya enzim, dan berfungsi sebagai pembersih alami, pupuk organik, serta desinfektan ramah lingkungan.
“Paling tidak sampah organik yang memang jadi penyumbang terbanyak bisa diselesaikan di lingkungan rumah tangga sendiri, tinggal sampah anorganik yang ternyata bisa diolah dengan berbagai cara juga,” katanya.
Di Jepara, Deny Ana I’tikafani, Koordinator Divisi Lingkungan dari LLHPB Aisiyah Jawa Tengah. menginisiasi audit energi berbagai komunitas dan rumah tangga Muhammadiyah. Audit energi ini, terutama, menyasar penggunaan listrik berlebih di lembaga pendidikan, tempat ibadah, hingga majelis pengajian.
Proses itu mereka lakukan berdasarkan kalkulasi khusus yang mereka pelajari. “Kami menggunakan kalkulator jejak karbon yang dibikin 1.000 Cahaya Muhammadiyah juga agar perhitungannya akurat,” katanya.
Dia bilang, audit energi ini berhasil menekan konsumsi energi fosil dan membuat beban biaya listrik berkurang. Hasilnya, biaya listrik berkurang 20% dari bulan sebelumnya.
Pengurangan biaya listrik ini pun bareng dengan minat transisi energi yang meningkat. Tapi, dana jadi kendala, terutama untuk pengadaan perlengkapan, seperti panel surya yang tak murah.
“Harapan kami untuk transisi energi ini mulai diperhatikan pemerintah, terutama pendanaan agar komunitas-komunitas warga dapat menerapkannya. Apalagi kondisi krisis iklim sudah mendesak adanya transisi ini, dengan basis komunitas akan lebih mudah mewujudkan keadilan.”

*****
Ribuan Desa Kembangkan Energi Air di Jawa Tengah, JETP Perlu Fokus ke Komunitas [3]