- Kabupaten Berau memiliki salah satu bentang mangrove terluas di Kalimantan Timur. Hutan bakau yang membentang di sepanjang pesisir bukan hanya melindungi daratan dari abrasi, tetapi juga sumber pangan masyarakat pesisir.
- Sayangnya, meski memiliki peran penting, mangroce di Berau terus tergerus. Data menunjukkan, pada 2019 sekitar 11.237 hektar atau sekitar 13% kawasan mangrove di Berau telah terkonversi menjadi tambak udang dan ikan bandeng.
- Kini berbagai upaya dilakukan untuk mencari jalan tengah antara ekonomi dan konservasi. Melalui pendekatan budidaya berkelanjutan dan restorasi mangrove, sebagian lahan tambak yang ada dikembalikan menjadi kawasan mangrove alami, sementara sebagian lainnya tetap termanfaatkan untuk budidaya dengan metode yang lebih ramah lingkungan.
- Abdul Majid, Kepala Dinas Perikanan Berau menekankan bahwa penguatan kapasitas kelompok masyarakat menjadi bagian penting dalam pembangunan sektor perikanan yang berkelanjutan. Dalam praktiknya harus bisa memastikan praktiknya ramah lingkungan, produknya memenuhi standar mutu, dan kelompoknya memiliki manajemen yang kuat.
Kawasan mangrove membentang di pesisir Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (Kaltim). Akarnya yang menjulur ke air payau bukan sekadar lanskap pesisir, juga menjadi tempat ikan, udang, dan berbagai biota laut berkembang sebelum akhirnya menjadi sumber pangan masyarakat.
Dari sembilan kabupaten dan kota di Kaltim, Kabupaten Berau memiliki sekitar 86.000 hektar hutan mangrove, terluas dibandingkan daerah lain di provinsi ini. Luasan itu menjadikan Berau sebagai salah satu benteng ekosistem mangrove penting di Bumi Mulawarman.
Namun, dalam beberapa dekade terakhir, sebagian hutan mangrove itu berubah menjadi tambak dan kawasan permukiman. Dorongan ekonomi membuat warga membuka lahan demi budidaya udang dan ikan bandeng, meski perlahan mereka menyadari bahwa hilangnya mangrove juga berarti hilangnya penyangga kehidupan pesisir.
Salah satu wilayah yang mengalami perubahan tersebut berada di Kampung Pegat Betumbuk. Sejak 1998, sebagian kawasan mangrove di kampung ini telah terbuka untuk tambak.
“Pegat Batumbuk ini dikenal sebagai salah satu kampung penghasil udang di Kabupaten Berau,” ucap Abdurahman, salah satu petambak dari Kampung Pegat Betumbuk akhir Februari.
Data menunjukkan, pada 2019 sekitar 11.237 hektar atau sekitar 13% kawasan mangrove di Berau telah terkonversi menjadi tambak udang dan ikan bandeng.
Seiring waktu, warga mulai menyadari bahwa perubahan tersebut juga membawa dampak bagi lingkungan sekitar. Sebagian tambak menjadi kurang produktif, sementara ekosistem pesisir ikut rusak.
Kondisi itu mendorong sebagian masyarakat untuk mulai memikirkan cara lain dalam memanfaatkan lahan tanpa harus terus membuka hutan mangrove. Mereka menjaga mangrove, apalagi, secara ekologis, memiliki fungsi penting sebagai habitat berbagai jenis ikan, udang, dan kepiting.
Ekosistem ini juga menjadi tempat perlindungan keanekaragaman hayati sekaligus berperan sebagai penyerap karbon yang membantu mengurangi dampak perubahan iklim. Tanpa harus membabat mangrove besar-besaran, masyarakat tetap memperoleh hasil laut dari ekosistem pesisir yang terjaga.

Upaya konservasi
Begitu tingginya nilai ekonomi mangrove, berbagai inisiatif terus dilakukan untuk menjaga keberlanjutan mangrove di Berau. Salah satunya melalui program Shrimp-Carbon Aquaculture (Secure) yang mendapat dukungan dari Darwin Initiative Pemerintah Inggris Raya.
Selain Kampung Pegat Batumbuk, program yang Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) gagas bersama sejumlah mitra menyasar beberapa kampung pesisir lain, seperti Teluk Semanting, Suaran, Karangan, dan Tabalar Muara.
Program ini mendorong pendekatan baru dalam pengelolaan tambak. Sebagian lahan tambak yang ada dikembalikan menjadi kawasan mangrove alami, sementara sebagian lain tetap untuk budidaya dengan metode yang lebih ramah lingkungan.
“Pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan ketahanan pesisir dengan mengembalikan ekosistem mangrove hingga 50-80% dari total area tambak,” kata Gunawan Wibisono, Policy and External Affairs Senior Specialist YKAN.
Dia menjelaskan, budidaya udang tambak tradisional hingga kini masih menjadi mata pencaharian utama masyarakat di Kampung Pegat Betumbuk. Karena itu, dalam pendekatannya, YKAN tidak meminta masyarakat berhenti menjalankan kegiatan akuakultur. “Hanya saja tujuannya yang bergeser, berkelanjutan dan menjaga lingkungan mangrove.”
Inovasi lain dalam program ini adalah penggunaan metode pembenihan udang yang lebih baik untuk meningkatkan kualitas benih serta mengurangi risiko kematian pada tahap awal budidaya.
“Pada akhirnya produktivitas dan masa kelangsungan hidup benih pun ikut meningkat.”
Dengan pendekatan itu, para petambak di Pegat Batumbuk dan Tabalar Muara dapat memperoleh hasil panen yang relatif sama meskipun dari tambak yang lebih kecil. Hal ini secara tidak langsung membantu mengurangi kebutuhan membuka hutan mangrove baru untuk memperluas tambak.
Selama 2022-2025, rata-rata pendapatan rumah tangga di desa-desa yang terlibat program ini meningkat hampir 50%. Pendapatan petambak juga meningkat sekitar 12% pada periode yang sama.
Peningkatan tersebut terjadi karena sejumlah tambak yang sebelumnya tidak produktif kembali diaktifkan menggunakan pendekatan Secure. Selain itu, masyarakat juga mulai mengembangkan sumber pendapatan baru seperti ekowisata dan produk olahan hasil budidaya perairan.

Kedaulatan pangan
Berbagai penelitian membuktikan peran mangrove dalam mendukung ketahanan pangan masyarakat pesisir. Salah satunya oleh tim peneliti tiga negara, yakni Center for International Forestry Research and World Agroforestry (CIFOR-ICRAF) Indonesia, University of Kent di Inggris, serta Charles Darwin University dari Australia.
Jurnal The Lancet Planetary Health pada 2023 mempublikasikan hasil riset tersebut dengan judul Quantifying the contribution of mangroves to local fish consumption in Indonesia: a cross sectional spatial analysis.
Dalam risetnya, para peneliti temukan bahwa rumah tangga pesisir yang tinggal dekat kawasan mangrove dengan kepadatan sedang hingga tinggi mengonsumsi 19–28% lebih banyak ikan segar ketimbang yang tinggal jauh dari hutan mangrove.
“Secara total, rumah tangga yang tinggal dekat hutan mangrove ini 13–22% lebih banyak mengonsumsi protein hewani dibandingkan rumah tangga yang tak tinggal dekat hutan mangrove,” ujar Mulia Nurhasan, salah satu peneliti dalam riset tersebut.
Penelitian mencakup 6.741 desa dengan 107.486 rumah tangga yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Mulai dari Sumatera, Jawa, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, Papua hingga sebagian Jawa Barat.
Dengan menggunakan model regresi efek campuran, para peneliti mengestimasi hubungan antara lokasi tempat tinggal rumah tangga pesisir dengan tingkat konsumsi ikan segar masyarakat.
“Hutan bakau memainkan peran penting dalam ketahanan pangan dan gizi masyarakat yang tinggal di dekatnya,” kata peneliti dari CIFOR-ICRAF ini.
Michael Brown, peneliti lain katakan, masyarakat yang tinggal dekat mangrove sering kali menjadi pihak pertama yang menjaga keberadaan ekosistem tersebut.
Namun begitu, perlindungan mangrove tidak bisa hanya dibebankan kepada masyarakat lokal saja. Dukungan dari pemerintah serta para pemangku kepentingan lain tetap diperlukan.
“Hutan bakau memainkan peran penting dalam ketahanan pangan dan gizi masyarakat yang tinggal di dekatnya.”
Selain berperan penting bagi ekologi dan ketahanan pangan, mangrove juga memiliki nilai ekonomi yang besar bagi sektor perikanan. Penelitian lain di tahun yang sama menegaskan besarnya nilai ekonomi dari kelestarian hutan mangrove bagi produksi perikanan.
Penelitian oleh Yuki Yamamoto dari Nagasaki University dengan judul Living under ecosystem degradation: Evidence from the mangrove–fishery linkage in Indonesia temukan nilai potensial dari konservasi mangrove di Indonesia bagi produksi perikanan dapat mencapai US$22.861 atau sekitar Rp363 juta per hektar per tahun.
“Hal ini membuat konservasi jauh lebih hemat biaya daripada penggunaan lahan alternatif, seperti akuakultur dan perkebunan kelapa sawit,” tulis Yuki dalam risetnya yang terbit di Journal of Environmental Economics and Management.
Temuan itu menunjukkan, menjaga mangrove bukan hanya penting dari sisi lingkungan, tetapi juga menguntungkan secara ekonomi dalam jangka panjang.

Diseminasi pengetahuan
Pengetahuan mengenai metode akuakultur berkelanjutan juga terus disebarkan kepada masyarakat pesisir. Bersama pemerintah daerah, YKAN menggelar pelatihan yang mencakup 15 modul pembelajaran, mulai dari pemetaan ekosistem hingga perencanaan usaha akuakultur.
Pelatihan ini kemudian berlanjut melalui kegiatan training-of-trainers (ToT) agar pengetahuan tersebut dapat diteruskan kembali kepada masyarakat di tingkat komunitas.
Program ini merupakan bagian dari Solutions for Marine and Coastal Resilience in the Coral Triangle (Somacore) yang bertujuan mendorong pengelolaan pesisir secara berkelanjutan dengan mengintegrasikan aspek ekologi dan ekonomi masyarakat.
Peserta pelatihan berasal dari perwakilan kelompok perempuan di sejumlah desa pesisir seperti Kampung Tabalar Muara, Pegat Batumbuk, Tubaan, Semurut, Buyung-Buyung, dan Pilanjau.
Kiki Anggraini, Manajer Senior Ekonomi Biru YKAN, mengatakan pendekatan mangrove to market memastikan pemanfaatan sumber daya alam berjalan seiring dengan upaya konservasi.
“Masyarakat tidak hanya memahami pentingnya konservasi mangrove, tetapi juga memperoleh keterampilan praktis dalam mengembangkan usaha berbasis mangrove secara berkelanjutan.”
“Maka usaha yang dibangun akan lebih berkelanjutan dan berdampak langsung pada kesejahteraan keluarga dan lingkungan,” ujarnya.
Abdul Majid, Kepala Dinas Perikanan Berau menekankan, penguatan kapasitas kelompok masyarakat menjadi bagian penting dalam pembangunan sektor perikanan yang berkelanjutan.
“Dalam praktiknya harus bisa memastikan praktiknya ramah lingkungan, produknya memenuhi standar mutu, dan kelompoknya memiliki manajemen yang kuat,” katanya.
Dengan pengelolaan yang baik, hasil perikanan dan produk olahan berbasis mangrove dapat memiliki nilai tambah serta daya saing di pasar.
Wilayah pesisir Berau memang memiliki potensi sumber daya alam yang besar, terutama ekosistem mangrove yang berperan penting sebagai pelindung pesisir sekaligus sumber penghidupan masyarakat.
“Pemerintah Kabupaten Berau sangat mendukung inisiatif yang mendorong ekonomi pesisir berbasis sumber daya lokal, terutama yang melibatkan kelompok perempuan dan UMKM.”
Pada 2025, tercatat 55,9 ton produk perikanan udang beku, kepiting bakau, dan ikan bawal beku dikirim ke luar negeri. Kampung Pegat Betumbuk, salah satu penyumbang ikan dan udang ini.
Selain itu, ekspor ikan kerapu hidup juga menjadi andalan, sepanjang 2024, sebanyak 120 ton kerapu hidup Berau berhasil dikirim ke Hongkong melalui jalur laut.
“Pasar utama kami itu ke Singapura, Thailand, dan Shanghai.”
*****