- Banyak kejadian hiu paus terdampar mendorong pembentukan jejaring penyelamatan ikan raksasa ini.
- Data Yayasan Sealife Indonesia, tahun 2022 saja, ada 3 kejadian penemuan spesies ikan terbesar itu, melengkapi total 8 kejadian sepanjang 2015-2025. Karena itu, perlu edukasi penanganan hiu paus terdampar yang tepat.
- Dwi Suprapti, Founder Yayasan Sealife Indonesia, menyebut hewan pemakan plankton ini banyak terdampar di pesisir Jawa, utamanya di pesisir selatan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain Jember, kejadian di Jatim juga banyak di Lumajang.
- Suwardi, Koordinator Balai Pengelolaan Kelautan Denpasar (Balai PK Denpasar), menyebut, sumber daya manusia, serta sarana dan prasarana yang minim menjadi masalah utama penanganan hiu paus atau biota laut terdampar lainnya.
Kejadian hiu paus (Rhincodon typus) terdampar di pesisir Jember, Jawa Timur (Jatim), cukup sering. Data Yayasan Sealife Indonesia, tahun 2022, ada tiga kejadian penemuan spesies ikan terbesar itu, melengkapi total delapan kejadian sepanjang 2015-2025. Untuk itu, perlu edukasi dan para pihak berjejaring untuk membantu penanganan yang tepat.
Dwi Suprapti, Founder Yayasan Sealife Indonesia, menyebut, hewan pemakan plankton ini banyak terdampar di pesisir Jawa, utamanya di pesisir selatan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain Jember, kejadian di Jatim juga banyak di Lumajang.
“Biasanya banyak ditemukan dalam kondisi mati,” katanya dalam Sarasehan Pemetaan Partisipatif dan Pembentukan Jejaring Penanganan Biota Laut Terdampar di Pesisir Jember, Senin (9/3/26).
Meski begitu tidak sedikit yang ditemukan dalam kondisi hidup tetapi pengetahuan minim dan keterlambatan penanganan menyebabkan hiu paus tak terselamatkan.

Salah satunya terjadi pada 4-5 Juli 2020. Ada tiga hiu paus terdampar di Pantai Nyamplung Kobong, Desa Kepanjen, Kecamatan Gumuk Mas, Jember. Dua berhasil diselamatkan, satu mati terpotong-potong.
Sayangnya, dari banyak kasus, hiu paus yang terdampar langsung warga kubur. Padahal, perlu nekropsi untuk memastikan apa penyebab hewan soliter ini terdampar.
Seperti yang pernah terjadi pada 2020. Saat itu sebuah video memperlihatkan sejumlah warga memotong hiu paus.
“Nekropsi penting. Karena hius paus terdampar itu biasanya disebabkan banyak faktor.”
Karena itu, dia mendorong lintas sektor berkolaborasi dalam menangani kasus terdamparnya hiu paus dengan membentuk jejaring. Dari warga atau nelayan, aparat, pemerintah, hingga media.
Pembentukan jejaring ini, katanya, akan ada tindak lanjut berupa pelatihan dalam beberapa bulan ke depan. Untuk menguatkan pengetahuan bagaimana cara penanganan penemuan hiu paus terdampar.

Dia berharap, jejaring ini bisa jadi simpul penguatan kolaborasi dan edukasi antar pihak. Sehingga, semua akan siap jika ada kejadian hewan raksasa ini saat terdampar di pesisir Jember.
Suwardi, Koordinator Balai Pengelolaan Kelautan Denpasar (Balai PK Denpasar), menyebut, sumber daya manusia, sarana dan prasarana minim menjadi masalah utama penanganan hiu paus atau biota laut terdampar lainnya.
Juga, lokasi terdampar dengan akses sulit. “Makanya kita butuh program untuk atasi masalah tersebut,” terangnya dalam kesempatan sama.
Program itu, katanya, meliputi peningkatan kapasitas SDM dengan kegiatan bimbingan teknis, pembentukan jejaring penanganan hewan laut terdampar dengan instansi terkait, hingga perlunya pelibatan masyarakat dan edukasinya dalam membantu penanganan.
Sementara jangka panjang, dengan program modelling pembangunan sarpras. Mulai dari pusat informasi, pusat penanganan hewan terdampar, hingga rehabilitasi.
“Karena itu perlu jejaring dan komitmen berbagai pihak. Karena fenomena hewan laut terdampar ini makin meningkat.”

Menjaga ekosistem
Suwardi bilang, hiu paus bukanlah mamalia laut. Ia masih masuk keluarga ikan dan memiliki peran dalam menjaga ekosistem laut. Statusnya saat ini terancam punah, berdasarkan data IUCN.
Hewan ini berukuran besar, bahkan bisa mencapai 12 meter. Secara nasional, katanya, status ikan totol ini dilindungi berdasarkan Keputusan Menteri KP 18/2013. Ikan ini pun bisa menjadi ikon wisata bahari, seperti di Teluk Cendrawasih dan Pantai Bentar Probolinggo.
“Hiu Paus termasuk salah satu prioritas jenis ikan Balai PK Denpasar yang masuk dalam upaya perlindungan dan pelestarian.”

*****