- Masyarakat Desa Tanjung Kukuh, Kecamatan Semendawai Barat, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (OKU Timur), pernah menjadikan ubi kayu atau singkong sebagai makanan pokok selama 40 tahun.
- Selama 40 tahun mengonsumsi ubi kayu, mereka menghasilkan beragam jenis makanan, baik sebagai makanan pokok maupun penganan.
- Masyarakat Komering menjadikan lahan basah sebagai sumber pangan dan ekonomi. Mulai dari perikanan, persawahan, hingga perkebunan buah dan palawija.
- Masyarakat Komering di Kabupaten OKU Timur pada saat ini menghadapi masalah kekeringan dan banjir. Diduga, persoalan ini muncul sejak hadirnya Upper Komering atau Bendungan Perjaya.
Ternyata, di era moderen ini, tidak semua masyarakat Sumatera Selatan menjadikan beras sebagai makanan pokok. Warga Desa Tanjung Kukuh, Kecamatan Semendawai Barat, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, pernah menjadikan ubi kayu atau singkong (Manihot esculenta) sebagai makanan pokok selama 40 tahun (1938-1977). Mereka selamat dari krisis pangan akibat kemarau panjang di Sumatera Selatan pada 1961, 1963, dan 1967.
“Selama 40 tahun mengonsumsi ubi kayu, kami melahirkan beragam jenis makanan, dari makanan pokok hingga penganan,” kata Hasanudin, pengurus Majelis Adat Kumoring Tanjung Kukuh (Makutan), kepada Mongabay Indonesia, Senin (23/2/2026).
Ubi kayu yang diolah menjadi makanan pokok, antara lain nasi ubi (kan kikim), nasi kunyit ubi (kan kinunyir), nasi tumis ubi (kikim ting numis), serta sup ubi (sop kikim). Ubi kayu yang diolah langsung menjadi penganan adalah martabak, abuk, tumpi manis, tumpi asin, lambang sari, gomak, klepon (kalopun), getuk, opak, kolak (pojam), ubi rebus (kikim ginajak), ubi goreng (kikim ginuring), bolu kukus, kripik manis, kripik pedas, kripik asin, tiwul, dan lapis ubi.
Sementara makanan dari tapioka atau tepung ubi kayu, yakni lakso, burgo, mie, bolu kembang, kerupuk kemplang (kampolang golpung), ingkuk, klanting, dan donat. Makanan dari aci atau sagu dari ubi kayu, antara lain bingka sagu, kemplang (kampolang borak), kemplang (kampolang bata), dan lainnya.
“Semua makanan itu selain hasil cipta leluhur kami, juga adaptasi dari makanan tradisional orang Komering seperti lakso dan burgo. Juga, makanan yang berkembang di Jawa dan Sumatera, serta adaptasi makanan kekinian seperti bolu,” jelasnya.

Mengapa memilih ubi kayu sebagai makanan pokok?
Dijelaskan Kyai Tuan Rizal Muda, tokoh adat Desa Tanjung Lubuk, keputusan masyarakat Desa Tanjung Kukuh mengonsumsi ubi kayu sebagai makanan pokok, didasarkan amanah leluhurnya Syeikh Sulthon Syah Alam, selaku pemimpin agama masyarakat Tanjung Kukuh, pada 1938.
“Amanahnya selain tidak makan nasi dari beras selama 40 tahun, juga dilarang merokok, tidak minum susu dan makan ikan pada hari-hari tertentu,” katanya.
Awalnya masyarakat Tanjung Kukuh coba menanam jagung sebagai pengganti beras. Tapi akhirnya, masyarakat memilih ubi kayu karena mudah ditanam dan gampang diolah menjadi beragam jenis makanan tradisional, termasuk makanan moderen.
Tapi, setelah 40 tahun, tepatnya 1977, masyarakat kembali mengonsumsi beras. Namun, beragam jenis makanan dari ubi kayu masih bertahan hingga saat ini. Pada hari-hari besar atau perayaan pernikahan, makanan tersebut masih disajikan.
“Hikmah dari larangan tersebut, masyarakat Desa Tanjung Kukuh terbebas dari kelaparan atau krisis pangan yang melanda Sumatera Selatan, khususnya di Komering, yang menyebabkan banyak sawah padi gagal panen,” ujarnya.
Sementara, larangan merokok itu untuk menjaga kesehatan masyarakat di Tanjung Kukuh. Adapun Larangan minum susu dan makan ikan pada hari tertentu, untuk menjaga keberlanjutan pangan yang berasal rawa, sungai dan kerbau. “Rawa dan sungai, serta kerbau diberi waktu istirahat untuk menjaga dirinya, sehingga ketersediaan ikan dan susu terus terjamin,” katanya.
Desa Tanjung Kukuh berada di kawasan lahan basah yang luasnya sekitar 2.670 hektar, dengan penduduk sekitar 2.844 jiwa. Seperti umumnya masyarakat Komering, masyarakat Tanjung Kukuh hidup dengan memanfaatkan daratan seperti berkebun karet, menanam buah dan palawija, serta mencari ikan di rawa dan sungai.

Pangan masyarakat Komering
Masyarakat Komering hidup di lahan basah Sungai Komering. Tersebar mulai dari Kabupaten OKU Selatan, Kabupaten OKU Induk, Kabupaten OKU Timur, serta Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Tapi, sebagian besar masyarakat Komering berada di Kabupaten OKU Timur.
Komering terdiri atau terbentuk dari tujuh kepuyangan. Antara lain Kepuhyangan Gunung Batu, Kepuhyangan Maluway, Kepuhyangan Minanga, Kepuhyangan Gunung Terang (Madang), Kepuhyangan Bunga Mayang, Kepuhyangan Mahanggin, serta Kepuhyangan Pemuka Peliuang (Peliyung).
Tujuh kepuyangan tersebut membentuk marga-marga, seperti Marga Paku Sengkunyit, Marga Madang, Marga Peliyung, Marga Semendawai, dan Marga Sosoh Buay Rayap.
Masyarakat Komering tidak menggunakan Bahasa Melayu, seperti umumnya digunakan berbagai suku lainnya di Sumatera Selatan. Mereka menggunakan Bahasa Komering dan menulis dengan aksara ka-ga-nga atau aksara ulu.
Masyarakat Komering yang dikenal banyak melahirkan tokoh di Sumatera Selatan dan nasional, dari masa pemerintahan Hindia Belanda hingga sekarang, hidup di wilayah lahan basah selama ratusan tahun. Mereka menjadikan lahan basah sebagai sumber penghidupan, baik sebagai sumber pangan maupun ekonomi.
“Pangan yang dihasilkan masyarakat Komering adalah pangan berkualitas. Dari karbohidrat, protein, hingga vitamin,” kata Ahmad Rapanie Igama, peneliti budaya dan aksara ulu di Palembang, Selasa (24/2/2026).

Dijelaskan Rapanie, setiap keluarga besar di Komering dipastikan memiliki sawah, kebun palawija, dan kebun buah, sebagai sumber pangan. Sementara sumber protein dari ikan air tawar, telur dan daging ayam atau bebek, serta susu dan daging dari kambing dan kerbau.
Semua sumber pangan tersebut, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, juga sebagai sumber ekonomi, di luar perkebunan karet.
Hingga saat ini buah yang dihasilkan dari Komering, setiap hari dijual ke Palembang dan Lampung, antara lain pisang dan pepaya.
“Sementara buah tahunan yang dikenal dari Komering adalah duku Komering (Lansium domesticum). Langsat yang rasanya manis, dan hanya didapatkan di lahan basah Sungai Komering. Durian dari Komering juga ada, tapi duku memang lebih dikenal,” kata Rapanie.
Dari beragam sumber pangan tersebut, Komering menghasilkan berbagai jenis makanan yang dipercaya memengaruhi kuliner pada masyarakat lahan basah lainnya di Sumatera Selatan. Misalnya pindang ikan, pepes tempoyak (kirok), bingko, sambal jok-jok, sambal tempoyak, sam-sam (fermentasi ikan), rimpi pisang, lempok durian, kolak durian, sambal terasi, lopot, jorok ikan (fermentasi ikan), dan lainnya.

Kekeringan dan banjir
Masyarakat Komering yang berada di Kabupaten OKU Timur, saat ini menghadapi masalah kekeringan dan banjir. Diperkirakan, persoalan ini muncul sejak hadirnya Upper Komering atau Bendungan Perjaya. Yakni saluran irigasi dari Sungai Komering ke wilayah Belitang.
Dikutip dari pemberitaan Spora Institute, sebuah lembaga riset dan pemberdayaan masyarakat pedesaan di Sumatera Selatan, yang berjudul “Bendungan Perjaya Rugikan Masyarakat di Hilirnya”, mengutip pendapat Nukmal Hakim, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, bahwa keberadaan Upper Komering menyebabkan kekeringan pada Sungai Komering di bagian hilir, terutama saat musim kemarau. Desa-desa yang terkena dampak adalah Desa Adu Manis, Desa Campang Tiga, Desa Cempaka, serta lainnya.
Dikutip dari berita “Banjir OKU Timur Meluas ke 23 Desa, 1.359 Rumah Terendam” yang dipublikasikan detikcom, pada Januari 2026, banjir melanda kawasan masyarakat Komering. Tepatnya di Semendawai Suku III, yang merendam ratusan rumah di empat desa.
“Upper Komering memberikan dampak buruk bagi dusun-dusun tua Komering. Saat musim kemarau, Sungai Komering kering. Anak-anak bisa bermain sepakbola di sungai. Dan saat musim penghujan, air naik cukup tinggi,” kata Amiruddin, warga Desa Adu Manis, Kecamatan Semendawai Barat, Kabupaten OKU Timur.

Guna mengatasi kekeringan dan banjir, Desa Tanjung Kukuh membangun kanal sepanjang 8 kilometer di rawa seluas 560 hektar. Kanal selebar enam meter dengan kedalaman 4-5 meter, selain sebagai penampung air saat musim kemarau, penangkaran atau habitat ikan, juga tanah galiannya menjadi tanggul penahan banjir dari luapan Sungai Komering.
“Pembuatan kanal dilakukan sejak tujuh tahun lalu. Dampaknya memang terasa. Desa kami bebas dari ancaman kekeringan dan banjir, dan ikan kembali melimpah,” jelas Hasanudin.
*****