- Perairan Teluk Doreri, teluk di Manokwari, Papua Barat adalah surga penyelaman yang letaknya tepat di depan Kota. Perairan ini menyimpan potensi wisata bawah laut lengkap: terumbu karang sehat, hiu berjalan, wobbegong (hiu karpet), penyu, biota, hingga situs ikonik tinggalan Perang Dunia II seperti Kapal Shinwa Maru dan berbagai pesawat.
- Ketapang Dive Center bermula pada 2020 saat pandemi COVID-19, ketika Alexander Sitanala mengajak pemuda Kampung Kwawi belajar menyelam dan merehabilitasi karang sebagai kegiatan positif berbasis pesisir.
- Selain kekayaan ragam hayati, Teluk Doreri menawarkan beragam historical dive site seperti kapal dan pesawat era Perang Pasifik; menjadikannya kombinasi unik antara konservasi laut dan wisata minat khusus menyelam berbasis sejarah bernilai global.
- Potensi laut Manokwari dinilai masih belum optimal karena minimnya orientasi kebijakan ke sektor bahari. Pemda dan dunia kampus diharapkan dapat mendukung serta menyiapkan SDM muda Papua yang sadar konservasi, melakukan riset, dan mampu mengembangkan potensi wisata bahari yang ada.
Di pesisir Manokwari, Provinsi Papua Barat, bentang biru Teluk Doreri menyimpan potensi wisata bawah laut yang belum banyak diangkat. Jika Raja Ampat telah lama dikenal dunia, Manokwari sesungguhnya memiliki lanskap selam yang tak kalah menarik—mulai dari terumbu karang yang sehat, biota endemik, hingga reruntuhan kapal tinggalan Perang Dunia II yang kini menjadi habitat baru bagi kehidupan laut.
Keunggulan Teluk Doreri terletak pada aksesibilitasnya: lokasi penyelaman berada tepat di depan kota. Namun, potensi besar ini masih menghadapi tantangan, mulai dari minimnya promosi dan infrastruktur hingga belum kuatnya orientasi kebijakan daerah terhadap wisata bahari.
Di tengah situasi itu, Alexander Richardzon Sinatala (49), pria kelahiran Jayapura yang kerap dipanggil Ejon,—pendiri Ketapang Dive Center—hadir sebagai penggerak komunitas. Dia melatih anak-anak muda setempat menyelam, merehabilitasi karang, dan memperkenalkan potensi Teluk Doreri kepada dunia.
Berikut cuplikan wawancaranya dengan Mongabay Indonesia, yang tata bahasanya telah disunting untuk keperluan penulisan artikel ini.

Mongabay Indonesia: Bisa Anda ceritakan bagaimana awal mula berdirinya Ketapang Dive Center?
Alexander Sitanala: Awalnya di tahun 2020, saat masa pandemi COVID, saat itu ada aturan larangan untuk bisa berkumpul. Banyak anak-anak muda di Kampung Kwawi (Distrik Manokwari Barat), –tempat saya tinggal, yang tidak bisa beraktivitas. Bahkan ada yang stress karena diam saja di rumah.
Lalu saya berpikir, kalau kita tidak bisa leluasa beraktivitas di darat, mungkin kita bisa beraktivitas di laut karena kampung kita ada di pesisir laut. Ajakan saya diterima oleh anak-anak muda. Dari situ, mulailah saya melatih mereka untuk menyelam.
Karena kami waktu itu tidak punya alat selam, saya pinjam dive gear ke beberapa instansi yang saya kenal. Kami diizinkan untuk pakai alat mereka.
Ketika anak-anak itu mulai mahir menyelam, saya ajak mereka merehabilitasi karang yang ada di pesisir. Dari situ perlahan berdirilah komunitas selam, itu jadi awal berdirinya Ketapang Dive Center ini.
Kami juga pernah melakukan aksi bersih kampung, yaitu mengangkat sampah-sampah dari pesisir dan perairan bawah laut. Hasilnya, sampah yang berhasil diangkut sampai beberapa truk.

Mongabay Indonesia: Darimana Anda memiliki skill untuk diving? Apakah dulu pernah bekerja di dive center?
Alexander Sitanala: Tidak. Saya dulu bekerja di sebuah organisasi pendamping masyarakat di Sorong: Belantara Papua bekerja bersama (Alm) Max Binur. Bersama dengan Conservation International (CI), kami ada program kerja bersama di Raja Ampat. CI untuk konservasinya, sedangkan Belantara pendamping masyarakatnya. Dari rekan-rekan di sana, saya ada kesempatan belajar menyelam.
Tapi saya tidak lama tinggal di Sorong, kurang dari setahun. Suatu hari istri saya telepon, bilang kalau ibu mertua saya sakit keras, jadi saya harus pulang. Ketika beliau meninggal dunia, istri saya yang orang Manokwari memutuskan untuk pulang kampung, saya ikut.
Sesampainya di Manokwari saya harus mulai menata hidup baru. Saat itu, saya tidak punya relasi atau kenalan sama sekali. Aktivitas saya lebih banyak ke laut.
Mongabay Indonesia: Saat Dive Center ini mulai beroperasi, bagaimana Anda mempromosikannya? Darimana saja tamu-tamu yang datang ke sini?
Alexander Sinatala: Tamu saya kebanyakan mengetahui kami dari sosial media, yaitu Instagram, selain mereka mendengar dari mulut ke mulut, dan rekomendasi teman. Seperti dari rekan-rekan saya yang ada di Bali dan di Jakarta. Saat ini ada satu travel agent di Singapura yang bantu kami menjual paket penyelaman kepada wisatawan luar negeri.
Selama tahun 2025 sampai Februari 2026 ini, memang tamu saya lebih banyak dari mancanegara. Ada yang datang dari negara-negara Eropa; seperti Jerman, Swiss, Belanda, Perancis, Serbia, Slovakia, ada pula yang dari Jepang dan Amerika Serikat. Selama tahun 2025, saya catat ada 87 tamu mancanegara.
Kalau yang dari dalam Indonesia juga ada, tapi tidak sebanyak mancanegara. Kebanyakan mereka malah baru tahu kalau di Manokwari ada lokasi penyelaman yang tidak kalah menarik dari Raja Ampat. Bahkan beberapa, ada yang mengaku baru pertama kali datang ke Manokwari.

Mongabay Indonesia: Apa potensi pariwisata bawah laut yang bisa ditawarkan di Teluk Doreri (Teluk Manokwari) ini?
Alexander Sinatala: Potensi underwater di Teluk Manokwari ini lengkap. Kalau mau drift diving bisa, deep diving bisa, night diving bisa, ada juga gua bawah laut di perairan Pulau Kaki, Teluk Doreri.
Keragaman hayati bawah lautnya juga banyak, ada satwa endemik seperti hiu berjalan (walking shark; Hemiscyllium sp.), wobbegong (hiu karpet; Orectolobus sp.), juga ada penyu hijau dan sisik, mandarin fish (dragonet). Saya pernah jumpa napoleon fish, dan tentu masih banyak lagi biota yang lain.
Untuk jenis karangnya ada dijumpai Acropora branching dan Montipora. Di dekat dive site Pilboks, ada karang Porites yang besar, di area perairan Pulau Lemon juga ada yang besar.
Untuk historical diving ada berbagai peninggalan kapal dan pesawat yang tenggelam saat Perang Dunia II (Perang Pasifik), yang terbesar Shinwa Maru, sebuah kapal kargo Jepang yang karam di Teluk Doreri.
Di perairan [dekat bandara] Rendani ada wreck pesawat Zero Jepang, di Amban ada bangkai pesawat baling-baling RAAF Kittyhawk (Curtis P-40). Sejauh ini ada 5 kapal patroli peninggalan Jepang yang sudah berhasil kami temukan. Ada 2 kapal besar yang masih kami coba eksplorasi keberadaannya.
Selain itu ada juga satu wreck pesawat Sikorsky S-38 milik perusahaan Amerika SC Johnson “Carnauba” yang tenggelam di akhir tahun 1930-an; saat lakukan sebuah ekspedisi.
Catatan redaksi: Pada era Perang Dunia II, Kota Manokwari menjadi salah satu basis penting militer Jepang yang menjadi sasaran serangan udara Sekutu. Kapal karam terbesar di wilayah ini adalah Shinwa Maru, sebuah kapal kargo yang diperbantukan oleh AD Jepang. Kapal memiliki panjang 104 meter dan lebar 14 meter.
Kapal ini tenggelam pada pukul 12.20 tanggal 21 November 1943, setelah terkena 7 bom dari 4 pesawat B24 milik AS. Kapal kargo ini dimiliki oleh Kuribayashi Shipping, sekarang berada di kedalaman 30-35 meter di bawah laut. Bagian atasnya sekarang ditumbuhi karang dan jadi habitat beragam biota laut.

Mongabay Indonesia: Apa yang membuat Anda tampak tidak pernah lelah melakukan eksplorasi dasar laut di perairan Teluk Manokwari, apa yang menjadi motivasi Anda ini?
Alexander Sinatala: Saya merasa hidup saya terikat dengan laut. Jadi, kalau saya tidak menyelam satu hari saja, saya merasa ada yang aneh. Satu motivasi terbesar saya adalah mengangkat potensi bawah laut Teluk Manokwari dan Papua Barat.
Di Teluk Manokwari ini ada Pulau Mansinam, –lokasi tempat Injil pertama disebarkan di Tanah Papua pada tahun 1855, ini jadi tempat wisata religi. Juga ada Pulau Lemon yang bisa dikembangkan sebagai destinasi pariwisata karena ada kerajinan tangan, kreatifitas dan budaya masyarakat yang mendukung.
Di bawah perairan Pulau Mansinam dan Pulau Lemon ini, dunia bawah lautnya kaya. Kita punya potensi pariwisata underwater, tapi belum termanfaatkan secara optimal.

Mongabay Indonesia: Manokwari ini kota yang berada di pesisir laut, tapi ironisnya masih banyak warganya yang belum tahu tentang kekayaan dalam lautnya. Bagaimana potensi ini dapat berkembang ke depannya?
Alexander Sitanala: Tentu aktor utamanya adalah dukungan Pemerintah, tanpa ada peran Pemda untuk bantu promosikan dan bangun sarananya, ini tidak mungkin bisa optimal.
Raja Ampat bisa berkembang sebagai destinasi pariwisata bahari dan amat terkenal kekayaan bawah lautnya sampai ke tingkat dunia, karena Pemda dan masyarakat di sana saling mendukung.
Selama 4 tahun terakhir ini saya coba dorong Pemda untuk lihat potensi ini, Bapak Bupati Manokwari amat mendukung, ke depan saya berharap pihak Provinsi Papua Barat juga dapat turut mendukung.
Keuntungan pariwisata bawah laut Manokwari ini adalah tamu yang datang tidak perlu pergi jauh, di depan kota sudah bisa menyelam. Amat dekat, ada di depan mata. Rute penerbangan ke Manokwari juga sudah reguler; ini bisa jadi kombinasi wisata laut bersama yang menghubungkan Manokwari dengan Sorong dan Raja Ampat.
Hal ini belum tergali, –kalau mau jujur, mungkin karena keterbatasan pengetahuan dan cara pandang dari pihak Pemda. Sekarang kalau ditanya, ada berapa banyak orang di Dinas Pariwisata yang bisa diving, misalnya. Jadi, mereka belum banyak tahu dan paham perihal keindahan dunia bawah laut. Jadi orientasi programnya masih melulu ke darat, belum ke laut.
Sehingga jika selama ini kita banyak lihat potensi pariwisata di darat terus dikembangkan seperti ekowisata di Pegunungan Arfak. Saya berharap besar ke depan, potensi bawah laut yang ada di Papua Barat ini juga dapat dikembangkan.

Mongabay Indonesia: Jika tadi dengan Pemda, bagaimana dengan peran dunia pendidikan?
Alexander Sitanala: Saat ini, kami memiliki kerjasama dengan Universitas Papua (UNIPA), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Saya melihat ini kesempatan untuk menyiapkan sumber daya manusia, anak-anak muda Papua untuk cinta laut.
Saya pernah diundang oleh pihak UNIPA dalam sebuah focus group discussion, saya beri masukan agar perlu banyak mahasiswa UNIPA yang bisa menyelam. Dari sana, akan banyak riset-riset yang dapat dilakukan tentang dunia bawah laut, tidak saja penelitian kelautan yang ada di pesisir.
Saya juga terkadang diminta untuk memberi kuliah umum terkait potensi yang ada di Teluk Doreri. Lalu juga dilibatkan dalam mata kuliah: renang dan selam ilmiah. Oleh dosen pengampu mata kuliah itu, saya diminta untuk mengajar mahasiswa menyelam.
Nah, sambil mengajar selam itu, mahasiswa saya juga ajak untuk lakukan transplantasi dan rehabilitasi karang.

Mongabay Indonesia: Apa pesan dan harapan Anda untuk anak-anak muda di Papua?
Alexander Sitanala: Di akun Instagram, saya suka dapat pesan dari anak-anak muda, “om, kalau saya mau belajar selam, apa bisa?”
Saya bilang kalau kamu anak Papua, silakan kapan saja kamu mau belajar datang saja ke tempat saya. Silakan datang jam berapa saja, selain malam. Saya siap ajar dan tidak perlu bayar. Demikian saya sampaikan ke mereka, dan benar besoknya mereka betul datang ke tempat saya.
Sampai sekarang sudah ada beberapa dari mereka yang belajar menyelam, bahkan sampai mendapat sertifikat. Tahun lalu, saya melatih anak-anak muda dari berbagai tempat, seperti Manokwari, Pantai Utara, sampai Teluk Wondama.
Di Ketapang Dive Center saya banyak dibantu oleh anak-anak muda. Ada Martin, Kafiar, Mikael. Ada juga beberapa mahasiswa yang sedang Praktik Kerja Lapang (PKL); dan yang sedang lakukan penelitian untuk skripsi.
Misi saya saat ini adalah memperkenalkan kekayaan laut yang ada di Papua Barat. Dengan mereka bisa menyelam, saya berharap mereka makin dapat mencintai kekayaan laut yang ada. Pesan saya kepada anak-anak muda ini: mari kita jaga dan jangan rusak laut, karena laut ini sumber kehidupan kita bersama.
Artikel ini adalah hasil kerjasama Mongabay Indonesia dengan REKAM Dive Academy (RDA).
*****
Ekowisata Ekidna Kampung Klalik, Inisiatif Warga Lestarikan Satwa Terancam Punah Papua