Nenek moyangku seorang pelaut Gemar mengarung luas samudra Menerjang ombak, tiada takut Menempuh badai, sudah biasa
Cuplikan lagu “Nenek Moyangku Seorang Pelaut” karya Ibu Sud ini menggambarkan laut yang begitu dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Sebagai negara kepulauan dengan dua per tiga wilayahnya perairan, adalah wajar apabila, manusia Indonesia beradaptasi terhadap lingkungannya. Hidup berdampingan dengan laut.

Selain menguasai lautan, masyarakat dari daerah tertentu di Indonesia juga mahir membuat kapal. Tidak hanya berukuran kecil, bahkan sampai mempunyai kapasitas ribuan ton. Daerah yang dimaksud adalah Desa Sangiang, terletak di Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.
Bagi orang Sangiang Api, perahu adalah alat transportasi paling vital.
“Jadi, karena dulu kami semua ini bermukim di Pulau Sangiang, tentu saja sejak awal adanya manusia, sejak itu pula pembuatan perahu dimulai. Jika ditanya tahun berapa, saya tidak bisa memastikan. Diperkirakan, sebelum bangsa asing datang ke Indonesia” ucap Ayank Syaifullah, tokoh adat Desa Sangiang kepada Mongabay, Jumat (20/2/2026).

Orang Sangiang, dulunya tinggal di Pulau Sangiang Api yang kemudian berpindah ke pulau utama, di Kecamatan Wera, di daratan Pulau Sumbawa. Ini karena, Gunung Sangiang Api yang mempunyai ketinggian 1.949 mdpl merupakan gunung api aktif, sehingga bila erupsi bisa berdampak pada penduduk sekitar.
Kemahiran orang Sangiang membuat kapal, sudah terkenal sampai mancanegara. Kapal berukuran 1.000 sampai 3.000 ton dibuat oleh 4 -6 orang saja, selama kurang lebih 2 tahunan, tergantung bentuk dan ukurannya. Lebih hebat lagi, kapal dibuat tanpa gambar
“Semuanya kami kerjakan berdasarkan ingatan dan apa yang pernah kami buat sebelumnya. Tidak ada gambarnya. Setiap membuat kapal, kami menanamkan emas dan kain putih pada sambungan bagian depan kapal. Kami sangat menghormati kapal, sebagai wujud syukur sekaligus bentuk merawat tradisi yang sudah diturunkan nenek moyang kami,” jelas Haji Mujrin (48), pembuat kapal di Sangiang, Sabtu (21/2/2026).
Kapal tersebut diperuntukkan sebagai kapal kargo, berbahan baku kayu besi yang didatangkan dari Sulawesi dan Maluku. Kapal berukuran raksasa ini difungsikan untuk mengangkut sembako antarpulau. Budaya masyarakat pesisir ini, sangat butuh pengembangan dan kaderisasi generasi muda, agar keahlian membuat kapal tak hilang oleh waktu.
*****
Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa: Tegaskan Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia


