- Perjalanan dua ekspedisi ilmiah di laut lepas sudah diselesaikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama OceanX. Leg pertama dilaksanakan di pantai Barat Sumatera, dan kedua di Laut Sulawesi Utara.
- Pada leg kedua yang baru berakhir pada Januari 2026, tim periset mengonfirmasi temuan 14 megafauna yang mencakup 10 mamalia laut, dua spesies hiu, dan dua spesies penyu. Jumlah itu berpotensi akan bertambah, karena ada residu genetik yang sedang dianalisis.
- Sementara, penelitian leg pertama yang hasilnya sudah dipublikasikan pada jurnal ilmiah, disimpulkan bahwa pantai Barat Sumatera menjadi lokasi favorit paus dan lumba-lumba. Bahkan, 93 persen dari perairan itu adalah hotspot kedua spesies tersebut.
- Namun, ada temuan bahwa hotspot itu mengalami tumpang tindih dengan area perikanan dan jalur pelayaran, sehingga memicu risiko tabrakan dengan cetacean di sana. Bahkan, ada ancaman punah pada paus pembunuh, paus Omura, dan paus sperma.
Tim ekspedisi bersama Ocean-X dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) baru saja menuntaskan ekspedisi kelautan akhir Januari lalu. Hasilnya, tim menemukan 14 spesies megafauna di perairan Laut Sulawesi, satu berpotensi menjadi catatan baru (new cover) daftar biodiversitas Indonesia.
Secara taksonomi, spesies itu merujuk pada paus hidung botol tropis (Indopacetus pacificus) yang terkenal juga dengan sebutan paus paruh longman. Secara resmi, mamalia ini masuk dalam kelompok cetacea bersama lumba-lumba dan pesut.
Sekar Mira, peneliti mamalia laut dari Pusat Riset Sistem Biota BRIN katakan, 13 megafauna lain yang juga tim temukan mencakup sembilan spesies mamalia laut, dua spesies hiu, dan dua spesies penyu. Belasan megafauna itu mereka dapat dari analisa dan identifikasi gambar dan video yang mereka ambil dari udara.
Selain paus hidung botol tropis, dua megafauna lain teridentifikasi adalah paus sperma (Physeter macrocephalus) yang populer dengan sebutan paus kepala kotak atau paus berparuh (beaked whales).
Kedua paus itu mereka temukan berkelompok saat berenang di laut Sulawesi. Termasuk paus sperma yang terdiri dari indukan dan anak-anak. Bagi Mira, pemandangan itu sangat langka, mengingat jumlah yang sangat banyak.
“Bersyukur bisa melihat mereka, karena tidak setiap ke lapangan itu bisa bertemu,” katanya.
Mira sempat merasakan hal unik sekaligus lucu ketika mendapati kelompok ibu dan anak paus sperma itu berenang. Seperti perilaku anak-anak pada manusia yang cenderung lincah dan sembarangan, dia pun menemukan hal serupa pada paus sperma.
“Jadi, anak-anaknya pecicilan. Loncat-loncat kayak lumba-lumba. Sementara ibunya hanya diam mengamati anak-anaknya. Lucu.”
Pemantauan menggunakan helikopter itu berlangsung dua kali sehari. Masing-masing penerbangan menghabiskan durasi waktu hingga 2,5 jam, dengan menyisir wilayah perairan yang diduga kuat ada banyak biodiversitas di dalamnya.
Sepanjang ekspedisi, dia melakukan 25 penerbangan selama 61,5 jam mencakup area observasi 38.850 kilometer persegi (km2), dengan total mencapai 10.017 km lintasan. Bersamaan dengan itu, tim juga mengamati rumpon yang berada sekitar 200 km dari pantai.

Terobosan, data genetik dari bawah laut
Selain pengamatan dari atas laut, tim juga berhasil mengumpulkan residu genetik yang diambil dari kedalaman bervariasi di bawah laut. Metode itu tergolong revolusioner, karena menggunakan teknologi environmental DNA (eDNA) metabarcoding.
Melalui metode itu, tim periset memungkinkan untuk mengambil residu genetik yang tertinggal di air dan membawanya ke darat untuk menganalisanya lebih lanjut. Cara itu memungkinkan periset mendeteksi keberadaan megafauna lain tanpa harus berkontak fisik secara langsung.
“Jadi, ada potensi jumlah megafauna akan bertambah lagi, namun tidak bisa dipastikan berapa jumlahnya. Tergantung hasil analisis.”
Mira jelaskan, penelusuran jejak residu genetik tim lakukan dengan menurunkan alat ke kedalaman hingga 4.000 meter di bawah permukaan laut. Pada kedalaman tertentu alat akan mengambil sampel residu dan berulang pada kedalaman berikutnya. Semua proses itu berlangsung bertahap.
Teknologi lain yang mendampingi perjalanan ekspedisi adalah dua kapal selam berawak (submersible) yaitu Nadir dan Neptune yang memiliki peran spesifik berbeda.
Nadir berperan mendukung aspek media dan dokumentasi visual untuk merekam struktur komunitas di gunung bawah laut (seamounti) Sulawesi Utara. Sementara Neptune yang dilengkapi Niskin bottle berguna untuk mengoleksi sampel air, sampel biota laut, untuk dianalisis lebih lanjut di laboratorium kapal.

Andhika Prima Prasetyo, Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN menyebut,penggunaan teknologi eDNA menjadi terobosan dalam penelitian, khusus bagi periset Indonesia. Dia berharap, metode ini dapat membantu mempelajari distribusi, baik secara horizontal dan vertikal.
“Kira-kira kalau bisa cerita cepat, kita, tuh, kayak lagi berburu paus tanpa membunuh paus, whaling tanpa harpoon,” katanya menyebut whaling harpoon yang dikenal sebagai tombak perburuan paus.
Ekspedisi di Laut Sulawesi menjadi bagian dari misi penelitian laut “Ocean-X–BRIN Collaborative Deep-sea Research and Capacity Building Program 2025 – Mission Leg 2”. Perjalanan itu berlangsung 5-24 Januari 2026.
Nugroho Dwi Hananto, Direktur Pengelolaan Armada Kapal Riset BRIN mengatakan, ekspedisi berfokus pada penelitian biodiversitas oseanografi, juga pengamatan laut, dan rumpon.
Pipit Pitriana, Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN menjelaskan, ekspedisi leg II merupakan lanjutan dari ekspedisi leg I yang berhasil memetakan gunung bawah laut. Pada leg II, ekspedisi berlanjut dengan fokus pada gunung laut A dengan kedalaman elevasi mencapai 4.363,11 meter.
Selain ekplorasi megafauna di permukaan dan bawah laut melalui eDNA, tim juga mengeksplorasi makro makroinvertebrata, yaitu, hewan air tidak bertulang belakang yang hidup dan menetap di dasar perairan (bentik).
Proses penelitian juga fokus pada nutrien dan oseanografi secara umum untuk mengetahui hubungan antara biota yang ditemukan dengan bagaimana kondisi fisik, kimia, nutrien, dan lain-lain.
“Jadi, di leg II juga ada beberapa riset yang selain biodiversitas, tapi berhubungan dengan biotanya itu sendiri. Lalu, ada juga tentang rumpon,” kata Pipit yang juga Lead Scientist Ekspedisi ini kepada Mongabay.
Lokasi penelitian berlangsung di perairan lepas pantai atau zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia di 15 mil laut atau sekitar 28 km dari pesisir Sulawesi Utara. Sepanjang ekspedisi, tim makrobentik mengambil sampel di dasar laut dengan teknologi.
“Biota yang bisa di-sampling, adalah yang di dasar, bentik. Ada yang di kolam air juga. Total kami berhasil mengumpulkan sekitar 400 sampel.”
Keberhasilan tim mengumpulkan sampel di kedalaman 4.000 meter itu merupakan capaian tersendiri, mengingat besarnya tantangan. Salah satu temuan menarik adalah keberadaan teripang dengan ukuran hingga 30 sentimeter (cm). Hal ini berbeda dengan temuan teripang di perairan barat Sumatera pada leg I dengan ukuran yang lebih kecil.
Saat ini, sampel teripang telah dibawa ke BRIN untuk proses analisa. Selain itu, ada juga bulu babi dan udang-udangan yang diperoleh dari dasar laut. Kedua sampel itu juga turut dibawa untuk penelitian lebih lanjut.

Ekspedisi pertama
Selain temuan 14 megafauna pada leg kedua, ekspedisi leg pertama juga menjadi rujukan baru pengetahuan tentang paus dan lumba-lumba yang selama ini masih terbatas penelitiannya dan ketersediaan data ilmiah.
Ekspedisi itu berlangsung pada pertengahan 2024 di pantai Barat Sumatera dan menjadi survei transek udara khusus mamalia laut (cetacean) pertama. Walau memiliki nilai keanekaragaman hayati laut yang tinggi, namun perairan yang terletak di Samudra Hindia masih jarang dipelajari.
Survei yang berlangsung dari Mei sampai Juli 2024 itu, mencakup 15.043-kilometer atau setara jarak dari Bali ke Kanada, dengan melakukan pengamatan dan mencatat 77 sighting dari 10 spesies cetacean, termasuk konfirmasi udara pertama paus pembunuh (killer whale) dan paus pembunuh kerdil (pygmy killer whale) di wilayah barat Indonesia.
“Dengan mengintegrasikan data historis, jumlah spesies cetacean yang terdokumentasi di kawasan ini kini mencapai 23 spesies, atau 68 persen dari total cetacean yang diketahui di Indonesia,” jelas Iqbal Herwata, Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia yang terlibat dalam ekspedisi langsung.
Seluruh hasil penelitian juga sudah resmi dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Marine Science. Selain dia, terdapat 15 peneliti lain yang terlibat dalam penulisan jurnal hasil ekspedisi leg pertama itu.
Berdasarkan analisis pola sebaran cetacean, katanya, ada tujuh klaster habitat berbeda yang terbentuk akibat perbedaan bentuk dasar laut dan tingkat produktivitas perairan. Itu menegaskan bahwa dinamika oseanografi berperan sangat penting di sana.
Dia menjelaskan, dinamika oseanografi merujuk pada interaksi proses fisik dan biologis laut, seperti upwelling musiman, arus laut, anomali muka laut, dan distribusi zooplankton.
Iqbal bilang, survei itu mampu mengisi kekosongan data yang membuat pengelolaan cetacean di laut lepas Indonesia menjadi terbatas. Skala dan kualitas data memungkinkan perencanaan konservasi yang benar-benar berbasis bukti.
Kekosongan itu bisa berlangsung lama, karena survei sebelumnya lebih banyak di wilayah pesisir atau berbasis kejadian terdampar. Biaya tinggi, keterbatasan infrastruktur, dan luasnya wilayah laut Indonesia membuat populasi lumba-lumba dan paus di habitat lepas pantai seperti basin dalam, slope curam, dan canyon hampir tidak terdokumentasikan.
Fakta bahwa survei baru pertama kali secara sistematis mengungkap komunitas cetacean di barat Sumatera menunjukkan betapa besarnya kesenjangan pengetahuan dalam pengelolaan mamalia laut di perairan nasional dan ZEE Indonesia.

Iqbal menjelaskan kenapa pantai Barat Sumatera memiliki kepadatan hotspot yang tinggi dengan dominasi spinner dolphin (Stenella longirostris) dan striped dolphin (Stenella coeruleoalba), baik dari sisi frekuensi kemunculan, ukuran kelompok, maupun kelimpahan relatif.
Dominasi itu menunjukkan bahwa perairan menyediakan habitat yang produktif, terutama di zona shelf–slope (landasan dan lereng) dan canyon, yang mendukung agregasi mangsa dalam jumlah besar.
Secara ekologis, keberadaan dua spesies itu juga menjadi indikator kuat bahwa wilayah perairan tersebut merupakan pusat produktivitas laut lepas yang penting bagi ekosistem cetacean Indonesia.
Temuan hotspot yang jumlahnya mencapai 93% di perairan Barat Sumatera, menjelaskan bahwa sebagian besar titik ada di luar kawasan konservasi dan banyak tumpang tindih dengan area perikanan intensif dan jalur pelayaran.
Menurut dia, mengatasi persoalan itu tak cukup hanya dengan memperluas kawasan konservasi laut (MPA). Juga, pengelolaan spasial adaptif mencakup penyesuaian kecepatan kapal di area berisiko tinggi tabrakan dengan cetacean, pengaturan aktivitas perikanan di zona hotspot tertentu, dan integrasi habitat cetacean ke dalam zonasi MPA multiguna
Pendekatan itu dia nilai realistis untuk konteks Indonesia, karena tetap mengakomodasi aktivitas ekonomi, namun menurunkan risiko bagi spesies sensitif yang memiliki kedekatan tinggi dengan jalur pelayaran maupun perikanan.
Cara itu, katanya, bisa menurunkan risiko terhadap spesies tertentu seperti paus pembunuh, paus omura, dan paus sperma, yang masuk dalam kategori spesies terancam punah.
*****
Eksplorasi Laut Dalam Indonesia: Potensi Besar, Tantangan Besar