- Awal harus menelan kenyataan pahit tatkala mendapati 50-an ekor kepiting bakau yang dia budidayakan di tambak teronggok kaku di dasar air, malam di pertengahan 2025. Padahal, seminggu lagi,kepiting-kepiting itu bakal dia panen. Lebih nelangsa lagi, beberapa dari kepiting itu bernilai satu juta rupiah per ekornya karena bobotnya lebih dari satu kilogram.
- Selain Awal, ada ribuan warga di Kecamatan Kapoiala selama satu dekade terakhir bertahan hidup menanggung dampak buruk industri smelter PT VDNI dan PT OSS. Kecamatan ini merupakan satu dari empat kecamatan di dua kabupaten sebagai kawasan inti industri pengolahan dan peleburan nikel berlabel Proyek Strategis Nasional (PSN) tersebut.
- Jauh sebelum kehadiran smelter, Awal dan warga lainnya hidup tentram dengan penghasilan utama dari nelayan dan pembudidaya kepiting bakau. Dari pekerjaan ini, mereka bisa mendulang rupiah puluhan hingga ratusan juta sekali panen. Rata-rata, hasil panen untuk pasar ekspor.
- Pasca smelter beroperasi rentang waktu 2015-2018, produktivitas hasil tambak merosot drastis akibat pencemaran. Sebagian dari mereka terpaksa menutup tambaknya dan beralih membuka jenis usaha lain atau menjadi pekerja industri. Tidak sedikit pula yang akhirnya menjual tambaknya kepada perusahaan karena tak punya pilihan. Dugaan kuat, cemaran itu berasal dari limbah perusahaan yang dibuang ke badan sungai dan polusi debu batubara dari cerobong asap PLTU batubara perusahaan.
Awal harus menelan kenyataan pahit tatkala mendapati 50-an kepiting bakau yang dia budidayakan di tambak teronggok kaku di dasar air, malam pertengahan 2025. Padahal, seminggu lagi, spesies dengan nama latin Scylla serrata itu bakal panen.
Lebih nelangsa lagi, beberapa dari kepiting seharga Rp1 juta per ekor karena bobot lebih dari satu kilogram. “Ruginya bisa sampai Rp20 jutaan karena ukurannya sudah besar-besar. Padahal seminggu lagi mau dipanen,” katanya di rumahnya, di Desa Kapoiala Baru, Kecamatan Kapoiala, Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra), Oktober lalu.
Malam itu, sekitar pukul 23.00, Awal sengaja ke tambak untuk melihat budidaya kepiting yang memasuki usia tiga bulan. Dia menjejak pelan menyusuri pematang disertai gemuruh mobil dump truck di jalan hauling yang hanya berjarak dua langkah dari bibir tambak dan hanya bersekat tumpukan memanjang limbah bekas pembakaran batubara setinggi lutut orang dewasa.
Gerak kakinya seketika terhenti saat lampu senter menyorot seekor kepiting terbujur tak bergerak di dalam air. Sejurus kemudian, dia menuruni tambak yang lantas terhenyak setelah mendapati kepiting yang mati jumlahnya lebih banyak, mencapai puluhan ekor.
Dengan raut kecewa, dia memungut satu demi satu bangkai kepiting dari bawah air lalu menghamparnya di pematang. Lewat aplikasi perpesanan, dia mencoba mengeluh.
“KO semua. Gagal cair kebanyakan makan batubara mungkin kau,” tulisnya dalam unggahan story Whatsapp berlatar gambar kumpulan bangkai kepiting bakau bercangkang hijau tua kehitaman yang mati.

Air tambak memburuk
Awal memang cukup sering mendapati kepiting bakau budidayanya mati belakangan ini. Dia menduga, komoditas bernilai ekonomi tinggi itu mati karena kualitas air tambak yang semakin memburuk, lebih keruh dengan warna kehitam-hitaman.
“Terlalu banyak debu mungkin. Malam begini saja kalau disenter kelihatan debu batubara mengkilat di permukaan air,” katanya sambil memandang lahan tambak di depan rumah yang ditinggali bersama istri dan anak perempuannya.
Debu batubara yang Awal maksud adalah debu terbang (fly ash) dari dari cerobong Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang jadi sumber energi operasional smelter PT Obsidian Stainless Steel (OSS). Lokasinya sekitar dua kilometer ke arah timur tambak miliknya.
Pria berusia 31 tahun ini mengelola tambak pemberian ayahnya seluas empat hektar di Desa Kapoiala Baru. Posisi tambak yang terbagi dua petak itu berdampingan dengan jalan hauling yang menjadi akses truk 10 roda pengangkut material batubara dan ore nikel dari pelabuhan jetty ke smelter PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI).
Dia katakan, kepiting bakau budidaya di tambak kerap tidak sanggup bertahan hidup sampai bulan ketiga saat waktu panen tiba. Tak jarang, kepiting-kepiting itu dia temukan mati selang dua bulan sesudah penebaran benih.
“Kejadian waktu itu (kepiting mati) yang paling banyak dibanding sebelum-sebelumnya,” katanya.
Awal merupakan satu dari ribuan warga di Kecamatan Kapoiala selama satu dekade terakhir bertahan hidup menanggung dampak buruk industri smelter VDNI dan OSS. Kecamatan ini merupakan satu dari empat kecamatan di dua kabupaten sebagai kawasan inti industri pengolahan dan peleburan nikel berlabel proyek strategis nasional (PSN).
Jauh sebelum kehadiran smelter, Awal dan warga di sana hidup tentram dengan penghasilan utama dari nelayan dan pembudidaya kepiting bakau. Dari pekerjaan ini, mereka bisa mendulang rupiah puluhan hingga ratusan juta sekali panen. Rata-rata, hasil panen untuk pasar ekspor.
Pasca smelter beroperasi rentang waktu 2015-2018, produktivitas hasil tambak merosot drastis. Sebagian dari mereka terpaksa menutup tambak dan beralih membuka jenis usaha lain atau menjadi pekerja industri. Tidak sedikit pula yang akhirnya menjual tambak kepada perusahaan karena tak punya pilihan.
Hasil riset oleh Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sultra mengungkap faktor yang kuat dugaan menjadi penyebab turunnya tangkapan dan budidaya kepiting para nelayan. Penelitian yang berlangsung tahun 2024 itu menemukan konsentrasi logam barat pada Sungai Motai yang menjadi sumber air utama ke tambak warga melebihi batas aman.
Lahan tambak menampung beban pencemaran berlipat akibat paparan polusi debu batubara terutama berasal dari aktivitas PLTU captive.
Hasil panen terus menurun
Pencemaran sungai dan paparan debu batubara turut mengancam kelangsungan usaha penangkapan kepiting bakau. Hasil tangkapan nelayan konsisten berkurang, selain karena area tangkap kian menyempit imbas ekspansi lahan guna penyediaan fasilitas pendukung operasi smelter.
“Sebelum ada perusahaan…ooo…. jadi itu kepiting. Sering menimbang karena tiada penyakitnya. Sejak datang perusahaan begitu mi mati-matian kepiting,” kata Tajuddin sambil berjalan menyusuri pematang tambak, November lalu.
Warga Desa Kapoiala Baru ini katakan, terakhir kali menikmati jual kepiting akhir Juli 2025. Kala itu, dia dapat Rp3 juta dari hasil menjual 10 kilogram kepiting tambaknya.
Hari itu, Tajuddin merasa seolah ketiban durian dari langit. Pasalnya, sekian tahun tak merasakan panen dari tambak. Demikian pula kegiatan menangkap kepiting, kerap pulang dengan tangan hampa.
Dia adalah petani tambak dan nelayan tangkap kepiting bakau generasi pemula di Kapoiala. Dia melakoni pekerjaan itu sejak 1991 setelah bermigrasi dari tanah kelahirannya di Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Saat itu, dia datang sekalian memboyong istri dan dua anaknya. Mereka tinggal di rumah panggung di pinggir pematang tambak menghadap matahari terbenam dan membelakangi aliran Sungai Motui.
Daya ingatnya masih bugar menyimpan potret topografi di kawasan industri smelter, termasuk tempat tinggalnya yangdominan vegetasi hutan rawa dan hamparan tambak. Lahan tambak terletak berpetak-petak dengan luasan bervariasi tersebar sepenjuru mata memandang.
Kegiatan bertambak turut menjadi identitas mereka yang terkenal di banyak kalangan.
Sehari-hari, orang-orang bekerja di tambak memelihara ikan bandeng, udang dan kepiting bakau. Sebagian kepiting bakau di tambak merupakan hasil tangkapan yang mereka lepaskan untuk proses penggemukan agar memenuhi ukuran standar pasar ekspor.
Merujuk data Map Biomas Auriga Nusantara terhitung hingga 2010, lahan tambak di empat kecamatan kawasan smelter mencapai 3.033 hektar, naik jadi 3.129 hektar pada 2015 saat tahun pertama smelter beroperasi.
Lahan tambak di Kecamatan Kapoiala sendiri mencakup 12 desa dan satu kelurahan konsisten 1.000 hektar sepanjang 2010-2015.
Ribuan hektar lahan tambak menerima sumber air salah satunya dari sungai Motui yang memiliki daerah aliran seluas 16.252 hektar. Di samping itu, sungai Motui berperan vital sebagai jalur transportasi nelayan tangkap yang menyambungkan antar kawasan permukiman dan lokasi penangkapan kepiting.
Di sungai itu pula, lalu lalang nelayan mendayung sampan atau perahu ketinting sembari membawa alat perangkap bubu dan mengangkut kepiting tangkapan. Perahu-perahu berkelok, membelah rimbunnya pepohonan.
Tajuddin sendiri pernah punya perahu bermesin ketinting kapasitas 5,5 PK. Perahu itu dia beli dari uang hasil panen di tambak dan menangkap kepiting. Dia kerap memakai perahu itu untuk menjual kepiting hasil tangkapannya ke pengepul di muara.
Semasa awal dia mengelola tambak seluas tiga hektar usai membeli lahan rawa gambut seharga Rp150 ribu per hektar. Berbekal sebilang parang dan kampak, dia menumbangkan bermacam jenis pohon, antara lain nipah dan mangrove.
Seperti petambak lain, Tajuddin kemudian mengganti pohon mangrove yang dia tebang dengan bibit baru di sepanjang pinggir pematang supaya melindungi tambak dari abrasi, sekaligus menjadi habitat menjadi habitat kepiting bakau kelak.
Selama tiga tahun Tajuddin menembus waktu, mengayuh tenaga membangun area tambak. Di saat bersamaan dia mesti banting tulang bekerja serabutan demi mendulang nafkah buat keluarganya.
“Kita itu pertama datang ya menderita betul. Saya itu kadang pergi ambil gaji kerjakan tambaknya orang. Kadang harus ngutang sama orang, uuh dulu itu.”
Semula, Tajuddin hanya membudidaya bandeng dan udang. Kemudian dia ikut membudidayakan kepiting bakau. Apalagi, harga komoditas ini cukup baik. Karena itu, dia pun memulai budidaya dan menangkap kepiting hampir setiap hari.

Populasi melimpah
Sebagaimana kebanyakan nelayan, dia menangkap kepiting menggunakan alat tangkap tradisional bubu. Alat itu dia pasang di banyak tempat di area sungai dan kawasan hutan mangrove.
Sejak rutin menangkap kepiting Tajuddin tak pernah gusar dalam memenuhi berbagai kebutuhan hidup. Ketika itu, dia terkadang bisa membawa pulang kepiting puluhan kilogram walau hanya sehari penangkapan.
“Kalau dulu eii jangan mi bilang banyaknya (kepiting).”
“Kadang-kadang pergi satu kali menimbang ta satu karung lima puluh kilo saya bawa.”
Taraf ekonomi pun stabil seturut mata pencaharian bergerak naik. Frekuensi penjualan tak jarang bisa sampai belasan kali dalam sebulan. Setidaknya uang hampir sejutaan diraup untuk sekali menjual puluhan kilogram kepiting.
Ppopulasi kepiting melimpah hingga tidak begitu sulit didapatkan dari ruang habitatnya meski tanpa bantuan alat tangkap.
“Dulu itu, biar tidak ada penangkapnya langsung saja dicari di bawah kayu woo sudah banyak mi di situ kepiting.”
“Ada ta dua puluh ekor di dalam, itu cuma disendok tidak pake bubu.”
Kepiting bakau baik hasil budidaya maupun tangkapan berasal dari genus Scylla serrata berciri identik karapas oval hijau tua hingga cokelat kehitaman. Ia dikenal sebagai kepiting lumpur raksasa dengan ukuran maksimal seberat 3,5 kg.
Di usia dewasa, ukuran lebar karapas kepiting jantan bisa mencapai 80-112 mm. Sedangkan ukuran lebar karapas kepiting betina 80-120 mm.
Jenis kepiting bakau lain yang juga ditemukan di sana adalah spesies Scylla olivacea. Kepiting bercorak warna jingga kemerahan memiliki karakter proses reproduksi lebih singkat dan dapat bertahan hidup dalam kondisi ekstrem.
Kepiting bakau merupakan biota krustasea tergolong rumpun dekapoda alias binatang beruas memiliki sepuluh kaki. Struktur anatomi kaki kepiting melekat di sisi tubuh dengan sendi menekuk ke luar sehingga membuatnya lebih efektif bergerak menyamping.

Ekosistem mangrove
Populasi kepiting bakau berkembang biak menyebar di ekosistem mangrove di tengah vegetasi dominan lumpur bercampur sedikit pasir. Selain juga hidup di kawasan estuari atau di lingkungan air tawar bercampur asin dengan kadar salinitas maksimum 30 ppt (parts per thousand).
Waktu itu, keberlangsungan populasi kepiting relatif terjaga mengingat nelayan tangkap dan petambak hanya mengambil kepiting berukuran minimal 200 gram untuk mereka jual. Sedangkan ukuran di bawah itu, nelayan biasanya melepaskannya kembali atau membesarkannya di tambak sampai memenuhi kriteria layak jual.
Tajuddin sendiri membudidaya kepiting bersamaan udang dan ikan bandeng dalam satu area tambak. Selain hasil tangkap, dia membudidaya benih kepiting yang diambil di sungai persis di sebelah tambaknya.
Seperti pada lazimnya, masa budidaya benih kepiting berlangsung selama 3-4 bulan. Sedangkan kepiting pembesaran dia panen paling lambat sebulan pasca pelepasan di tambak.
Jumlah kepiting terlihat melimpah saat proses pengairan tambak. Rombongan kepiting beragam ukuran saling bersesakan di pintu air terbawa arus air yang mengalir ke dalam tambak.
Di banyak waktu Tajuddin menangkap kepiting di tambak bersamaan memanen bandeng dan udang. Total penjualan terhitung timbangan jumlah ton mencapai hingga seratusan juta rupiah.
“Kadang Rp100 juta, 70 juta, 50 juta juga. Dari situ kita bisa beli rumah.”
Jumlah kepiting melimpah di tambak membuat penangkapan bisa berulang kali. Alhasil tidak ada aktivitas penangkapan di sungai sehingga menyediakan kesempatan bagi populasi kepiting berkembang biak.
Keuntungan bertambak sekaligus menangkap kepiting membantu Tajudin membeli tanah untuk menambah petakan tambak. Seiring waktu lahan tambaknya makin meluas mencapai belasan hektar.
Namun pada akhirnya dia harus menghadapi realita pahit tatkala daerah tempatnya tinggal menjadi pusat kegiatan industri smelter. Tak ayal, sumber penghidupannya meredup.

Dampak berlipat
Kedua pabrik pengolahan dan peleburan nikel membangun sejumlah fasilitas penunjang kebutuhan operasional di wilayah Kapoiala. Salah satu di antaranya adalah PLTU captive yang bersumber dari batubara guna menopang listrik smelter OSS. Fasilitas ini berdiri di bantaran Sungai Motui yang secara administrasi masuk Desa Tani Indah.
PLTU OSS mengonsumsi batubara sebesar 53,8 ton/jam atau 522.936 ton/bulan untuk memproduksi daya listrik berkapasitas 1.620 megawatt.
Kapasitas daya di PLTU OSS turut berperan menyuplai tambahan daya listrik pabrik peleburan nikel VDNI sebesar 64,47 megawatt. Kekuatan pembangkit listrik VDNI sebesar 480 megawatt lebih kecil dibanding total kebutuhan operasional sebesar 544,47 megawatt. Suplai bantuan daya listrik dialirkan menuju pusat gardu listrik melalui transmisi Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) berjarak 14 km ke arah barat.
Kegiatan produksi energi listrik berbahan batubara ini menghasilkan limbah cair yang tergolong zat pencemar karena mengandung logam berat dan minyak. Limbah bersifat fisika dan kimia itu perusahaan buang ke badan sungai melalui beberapa saluran pipa besi.
Pada November 2025, Mongabay mendapati aktivitas pembuangan berlangsung selama tiga hari berturut-turut dalam rentang pukul 15.00-18.00 Wita. Limbah berbentuk cairan hitam pekat beraroma batubara dan berasap mengalir keluar dari dua moncong pipa berdiameter tiga inci di bibir sungai.
Lokasi lain pembuangan limbah cair berada sekitar 200 meter di sisi utara saluran pertama dengan diameter 12 inci. Posisinya melintang di bawah jalan menuju dermaga penyeberangan perahu.
Kegiatan pembakaran batubara di PLTU juga menghasilkan limbah air bahang—mengandung kadar garam tinggi dan bahan-bahan kimia digunakan untuk pengolahan air sirkulasi. Limbah air panas tersebut terbuang menjurus ke muara laut melintasi aliran sungai.
Menilik dokumen analisis dampak lingkungan (Amdal) perusahaan, pembuangan limbah air bahang lebih dulu melewati proses pengolahan dengan alat blow down menara pendingin. Air keluaran dari menara pendingin dialirkan dalam kolam pengumpul.
Tahapan berikutnya, air dari kolam pengumpul berguna untuk keperluan pemindahan batubara dari sumber seperti kapal pemuat hingga siap dibakar di boiler. Selain itu, juga perusahaan gunakan untuk kepentingan sistem pembangkit listrik yang berfungsi mengolah limbah abu sisa pembakaran batubara dari boiler ke tempat pembuangan akhir.
Sisa keseluruhan air kemudian akan dibuang dalam saluran yang tersedia setelah dipastikan kenaikan suhu buangan kurang dari 2ºC melebihi suhu badan air penerima.

Residu PLTU
Selain itu, produksi energi listrik di PLTU menghasilkan residu padat fly ash dan bottom ash (FABA) atau bubuk halus terbang dan abu dasar bekas pembakaran batu bara. Limbah FABA pernah tergolong sebagai limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) sebelum pemerintah menghapusnya melalui Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Limbah berupa jelaga hitam itu keluar menyembul lewat cerobong pembuangan. Lantas menyebar ke mana arah angin berhembus hingga mendarat di lingkungan termasuk di ekosistem air dan berakhir mengendap di dasar sedimen.
Dalam dokumen kajian kmdal, perusahaan menghitung pengeluaran limbah FABA dengan mengkalkulasi kapasitas kedua pembangkit listrik VDNI sebesar 480 MW ditambah OSS 1.620 MW menghasilkan total daya 2.100 MW.
Mengacu total daya kedua pembangkit listrik maka perhitungan kebutuhan batubara per jam menghasilkan limbah abu dasar (bottom ash) sebanyak 6.778 ton/bulan. Sedangkan limbah abu terbang (fly ash) mencapai 16.399,94 ton/bulan.
Paparan debu batubara dan aktivitas pembuangan limbah cair memicu perubahan kondisi aliran sungai menjadi keruh coklat kehitaman. Di beberapa titik area lintasan jalan hauling tampak aliran air bercampur lumuran minyak.
Pemandangan serupa terjadi di lahan tambak dan wilayah penangkapan kepiting. Genangan air tambak kabur menghitam berbaur kumpulan butiran debu batubara yang menghampar di permukaan. Demikian pula di vegetasi lumpur yang menjadi habitat kepiting bakau. Hal itu terlihat dari garis hitam cemaran debu batubara yang melekat pada karapas kepiting tangkapan.
Mongabay berusaha meminta tanggapan kepada kedua perusahaan terkait persoalan ini. Bahar, Humas OSS yang dihubungi melalui telepon pada 26 Desember 2025 meminta Mongabay melakukan wawancara langsung setelah tahun baru.
Ketika Mongabay hubungi ulang pada 16 dan 17 Januari, yang bersangkutan tidak merespons.
Demikian pula dengan Ihsan Amar, humas VDN. Upaya untuk mendapat penjelasan perusahaan terkait keluhan para nelayan pada 24 dan 26 Desember 2025 tidak mendapat jawaban. Begitu juga dengan email yang Mongabay kirim pada 12 Januari, tak juga mendapat respons.
*****