- Genus begonia (Begoniaceae) saat ini memiliki 2.184 spesies yang telah diterima secara ilmiah. Menjadikannya salah satu genus tumbuhan berpembuluh terbesar di dunia. Tanaman ini tersebar luas di wilayah tropis dan subtropis.
- Begonia antoi merupakan begonia spesies baru dari dataran tinggi Gayo. Nama Anto disematkan sebagai penghargaan atas sumbangan informasi penting dalam penelitian. Anto adalah seorang pemerhati keanekaragaman tumbuhan dan konservasi dari Takengon, Aceh.
- B. antoi memiliki kemiripan dengan dua spesies lain, yaitu Begonia yenyeniae dari Johor, Malaysia dan B. olivacea dari Sumatera. Namun perbedaan detil pada bentuk stipula, ukuran daun, struktur bunga, serta rambut-rambut khas pada petal menunjukkan bahwa ini adalah spesies yang benar-benar berbeda.
- Di alam, begonia memainkan peran penting dalam ekosistem hutan sebagai penjaga kelembapan tanah, menyediakan mikrohabitat bagi serangga kecil yang menjadi bagian dari rantai makanan. Kehilangannya berpotensi memicu dampak ekologis yang lebih luas.
Bagi pencinta tanaman hias, begonia memberikan segalanya. Daun cantik dan mewah, juga bunga yang indah. Daunnya punya bentuk unik, dengan permukaan mengkilat, dan berbulu halus. Ada yang berbentuk hati, sayap malaikat, oval, bahkan memanjang seperti rumput. Warna daunnya pun beragam. Ada yang hijau, pink, hitam, sampai polkadot. Ada pula yang berubah warna karena sudut pantulan sinar yang berbeda.
Bunganya warna warni, mulai putih, pink, oranye, hingga merah menyala. Ada yang tunggal, ada pula berkelompok. Kecil sederhana, atau merekah bak mawar anggun.
Genus begonia (Begoniaceae) saat ini memiliki 2.184 spesies yang telah diterima secara ilmiah. Menjadikannya salah satu genus tumbuhan berpembuluh terbesar di dunia. Tanaman ini tersebar luas di wilayah tropis dan subtropis. Indonesia merupakan hotspot begonia di dunia, selain China.
“Sumatera menjadi pusat keanekaragaman begonia di Indonesia, dengan 78 spesies asli yang telah diketahui, banyak di antaranya baru dideskripsikan dalam beberapa tahun terakhir,” tulis Rezeki, mewakili tim peneliti, dalam laporan yang dimuat di jurnal internasional biodiversitas Taiwania (2025).

Peneliti yang berasal dari Universitas Samudra, Aceh, ini bersama peneliti dari BRIN, dan Royal Botanic Garden Edinburg, Inggris, berhasil mendeskripsikan begonia spesies baru dari dataran tinggi Gayo. Sebuah jenis tumbuhan langka yang belum pernah tercatat ilmu pengetahuan.
Spesies baru itu diberi nama Begonia antoi. Nama Anto disematkan sebagai penghargaan atas sumbangan informasi penting dalam penelitian. Anto adalah seorang pemerhati keanekaragaman tumbuhan dan konservasi dari Takengon, Aceh.
“Spesies ini hanya diketahui dari satu populasi kecil yang berjumlah kurang 10 individu. Lokasinya terancam alih fungsi lahan untuk pertanian dan kemungkinan perluasan permukiman, sehingga populasi yang ada dalam risiko kepunahan sangat tinggi,” ungkap peneliti.
Mereka menemukannya dalam eksplorasi di wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah, namun belum menemukan spesies ini di tempat lain. Dari informasi yang didapat, tanaman ini sempat diperdagangkan sebagai tanaman hias. Namun karena keberadaannya semakin langka, maka semakin sulit dicari di pasaran.
Berdasarkan kriteria IUCN, para peneliti mengusulkan begonia spesies baru ini berstatus kritis atau Critically Endanger (CR). Satu langkah menuju kepunahan di alam liar atau Extinct in the Wild (EW).

Berbeda
Indonesia dikenal sebagai negara megabiodiversitas dunia. Salah satu kawasan tersebut adalah Dataran Tinggi Gayo, yang membentang di Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues. Wilayah ini memiliki perbukitan berhutan lebat, aliran sungai alami, serta iklim yang lembap, yang menjadi kondisi ideal bagi tumbuhan seperti begonia.
Eksplorasi botani di kawasan ini terbilang masih terbatas. Banyak area belum pernah disurvei secara ilmiah. Hingga setiap perjalanan lapangan berpotensi membuka tabir spesies baru.
“Karena masih minim eksplorasi botani, setiap ekspedisi di wilayah ini berpotensi menghasilkan catatan baru maupun takson baru,” tulis mereka.
Di sinilah para peneliti menemukan populasi begonia yang tampak berbeda dari jenis-jenis yang sudah dikenal. B. antoi dideskripsikan sebagai tumbuhan herba (tak berkayu) kecil yang berumah satu. Jadi bunga jantan dan betina ada dalam satu tanaman. Tingginya antara 11-13 cm. Batangnya berupa rimpang berdiameter 1 cm, berwarna hijau, tidak berbulu.
Tangkai daun berwarna merah tua. Permukaan atas daunnya sendiri berwarna hijau tua keunguan, sedangkan bagian bawah berwarna merah dan berbulu. Bentuknya nyaris bulat. Paduan warna ini pasti membuat penggemar tanaman hias kesengsem.
Bunga muncul di ketiak daun dan bercabang 2-3 cabang. Bunganya –rsifat biseksual, muncul sebanyak 6–7 bunga, dengan tangkai sepanjang 8,5 cm-10 cm. Baik bunga jantan dan betina berwarna putih kemerahan. Buah belum diketahui.
Masih mengutip laporan di jurnal, B. antoi endemik Sumatera bagian utara dan hanya diketahui dari lokasi di Samar Kilang, Bener Meriah, Aceh. Habitat berupa dataran rendah di tepi sungai sekitar 180 meter di atas permukaan laut.
Dalam dunia botani, menemukan spesies baru bukan sekadar tanaman yang terlihat berbeda. Para peneliti harus membandingkannya dengan ratusan spesimen herbarium, literatur ilmiah, serta basis data global.
Hasilnya, B. antoi memiliki kemiripan dengan dua spesies lain, yaitu Begonia yenyeniae dari Johor, Malaysia dan B. olivacea dari Sumatera. Namun perbedaan detil pada bentuk stipula, ukuran daun, struktur bunga, serta rambut-rambut khas pada petal menunjukkan bahwa ini adalah spesies yang benar-benar berbeda.
“Penambahan Begonia antoi meningkatkan jumlah spesies begonia di Aceh menjadi lima spesies, dan di seluruh Sumatera menjadi 34 spesies,” ungkap laporan itu.
Ironisnya, B. antoi menjadi salah satu spesies yang paling cepat menyandang status terancam punah setelah ditemukan. Tanaman ini hanya diketahui dari satu lokasi dengan jumlah individu kurang dari sepuluh. Habitat aslinya telah banyak berubah akibat pembukaan lahan pertanian, perluasan permukiman, degradasi hutan dataran rendah.
Di alam, begonia memainkan peran penting dalam ekosistem hutan sebagai penjaga kelembapan tanah, menyediakan mikrohabitat bagi serangga kecil yang menjadi bagian dari rantai makanan. Kehilangannya berpotensi memicu dampak ekologis yang lebih luas.

Spesies baru sepanjang 2025
Sepanjang 2025, peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), berhasil mengidentifikasi 51 spesies baru, yang terdiri 32 spesies fauna, 16 spesies flora, dan 3 spesies mikroba.
Spesies-spesies baru tersebut mencakup beragam kelompok organisme, antara lain serangga, ikan, amfibi, reptil, moluska, serta tumbuhan berbunga dan anggrek. Spesimen diperoleh dari berbagai wilayah di Indonesia, mulai Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Sebagian besar temuan tersebut merupakan spesies endemik yang hanya dijumpai di lokasi tertentu.
Arif Nurkanto, Kepala PRBE BRIN, menyatakan Indonesia menyimpan keanekaragaman hayati yang belum banyak diungkap.
“Di tengah laju kepunahan yang terus berpacu dengan waktu, penemuan ilmiah menjadi harapan agar kekayaan alam Indonesia tidak hilang sebelum sempat dikenal,” ujarnya, Senin (2/2/2026), dikutip dari situs BRIN.
Dengan capaian ini, BRIN menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan serta pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia.
“Temuan ini memiliki nilai strategis dalam mendukung upaya konservasi keanekaragaman hayati Indonesia,” jelasnya.
Referensi:
Rezeki, J. T., Arico, Z., Mustaqim, W. A., Girmansyah, D., Ardi, W. H., & Hughes, M. (2025). A new species of Begonia (Begoniaceae) from the Gayo Plateau area, Northern Sumatra. Taiwania, 70(3), 470-473. https://www.researchgate.net/publication/394524741_A_new_species_of_Begonia_Begoniaceae_from_the_Gayo_Plateau_area_Northern_Sumatra
*****