- Tanaman nyamplung jadi salah satu komoditas yang dikembangan di Gunungkidul, Yogyakarta. Hal ini karena khasiatnya dapat menghasilkan minyak untuk bioenergi, hingga memastikan ketersediaan air di tanah.
- Pondok Pesantren Al-Hadid, menyulap 3 hektar lahannya jadi pusat budidaya nyamplung. Penanamannya diselingi tanaman buah dan pangan, sehingga tidak bersifat monokultur.
- Hasil penelitian di BRIN menunjukkan kemampuan penyerapan karbon tanaman ini yang berada di atas permukaan tanah dan di bawahnya berbeda. Simpanan karbon pada di atas permukaan tanah menunjukkan kisaran 1,3-33,5 ton karbon untuk satu hektar, sedangkan di bawah tanah berkisar 0,2 sampai 5,2 ton untuk satu hektar.
- Riza Egi Arizona, Plt Lead Program Transisi Energi dari Madani Berkelanjutan, menyebut pengembangan bioenergi oleh pemerintah selama ini salah kaprah. Menurutnya, kesalahan utamanya adalah sistem monokultur dan skalanya yang memakai lahan luas.
Bibit pohon nyamplung (Calophyllum inophyllum) berjejer rapi di tiga hektar lahan Pondok Pesantren Al-Hadid, Desa Karangmojo, Gunungkidul, Yogyakarta. Jarak antar pohon sekitar tiga meter, ruang di tengahnya berisi jagung yang baru berumur dua minggu. Di petak lain, nyamplung berbaris lurus tetapi dengan kacang tanah di selanya.
Pengasuh dan santri di pesantren sengaja membudidaya pohon-pohon itu. Ratna Diah Aziyah, pengurus pesantren, menceritakan awal mula pemilihan tanaman bioenergi itu. terutama, karena karakter lahan karst di lingkungan pesantren.
Dia bilang, tanaman yang buahnya menghasilkan minyak ini cocok dengan karakter tanah itu. Sifatnya ramah dengan tanaman pangan di sekelilingnya jadi nilai tambah.
Kebetulan juga, saat hendak menanam nyamplung, terdapat rumah bibit yang bersedia memberikannya secara gratis.
Buah hasil panen, katanya, mereka jual ke penyedia bibit.
Dari 400 bibit yang mereka tanam pada 2024, semua tumbuh. Sebagian sudah berbunga dengan motif putih di kuncup dan kuning mekar pada serbuk sarinya.
Tidak butuh teknik khusus untuk merawatnya. Hanya memberikan pupuk organik dan pemotongan rumput liar yang tumbuh di sekitarnya.
“Tidak ada yang mati, hanya satu atau dua saja yang pertumbuhannya kurang dibanding yang lain.”
Jagung dan kacang tanah yang mereka tanam di sekitarnya menghasilkan panen dengan maksimal, tanpa terganggu nyamplung. Kuncinya, memastikan dahan dan ranting rapi supaya tidak mengganggu proses tumbuh dan panen.
Sifat tanaman ini yang mampu menyimpan air juga jadi harapan di tengah ancaman kekeringan Gunungkidul.
“Supaya sumur pesantren ini terus hidup mencukupi air santri kami.”
Selain itu, pesantren yang memiliki usaha peternakan ini juga menarget cangkang nyamplung untuk jadi pakan kambing di sana.
Ahmad Hasan Roja, Pengasuh Pesantren, menyebut, kulit buah itu memiliki kandungan nutrisi lebih tinggi dari konsentrat yang umum untuk pakan tambahan.
Penelitian Universitas Gadjah Mada (UGM), menerangkan cangkang atau bungkil nyamplung memiliki kandungan protein kasar sekitar 20%, lemak kasar 15,3%, total phenol 6,47% dan total flavonoid 1,70%.
“Cangkangnya itu dijemur lalu dicampur dalam minuman atau bisa langsung diberikan ke kambingnya.”

Meningkatkan ekonomi
Bukan sekadar menanam, Pondok Pesantren Al-Hadid berencana untuk memproduksi biodiesel dari pekarangannya. Ahmad menjelaskan, komunitasnya ini sudah mulai menjual minyak nyamplung dan terbukti banyak peminatnya.
Lebih 10 liter minyak nyamplung mereka jual tiap bulan.
“Sementara baru menjual belum produksi, dapat suplainya dari tempat lain. Rencananya nanti juga produksi sendiri dari pohon yang sudah ditanam itu.”
Jenis minyak nyamplung yang mereka jual sudah memiliki pasar yang berhubungan dengan kesehatan. Karena, tanaman ini mengandung methyl linoleate, asam lemak esensial, hingga omega-6. Manfaat utamanya terkait erat dengan peran asam linoleat dalam kesehatan, terutama untuk kulit.
Laporan hasil uji dari Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu UGM dengan nomor 3266/UN1/LPPT/TR/2025 juga menunjukan nyamplung mengandung methyl palmitate 14,88% dan methyl arachidate 26,09%. Dua senyawa ini jadi bahan baku utama industri kecantikan seperti skincare dan parfum.
PT Pandu Wijaya Negara, rumah bibit yang bermitra dengan pesantren, yang melakukan pengujian itu. Edi Supriyanto, direktur perusahaan tersebut menjelaskan pembibitannya hanya untuk nyamplung varietas unggul.
Varietasnya telah mendapat sertifikasi dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY. “Saya dapat jenis nyamplung unggul ini dari Prof Budi Laksono yang dulu peneliti di BRIN.”
Jenis ini unggul karena usia mulai berbuahnya lebih muda pada usia dua tahun dan kandungan minyaknya lebih banyak sekitar 75%. Keunggulan itu membuat petani lebih untung.
Dia berani berikan harga Rp20.000 untuk tiap kilogram buah nyamplung dari petani yang bermitra bibit dengan mereka. Sedangkan satu pohon bisa menghasilkan lebih 50 kilogram dalam semusim panen.
Sementara harga pasaran buah nyamplung, hanya di bawah Rp5.000 tiap kilogram. Dari pasokan itu, dia akan mengelolanya jadi beragam produk.
“Ada biodiesel jadi bahan energi, minyak nyamplung untuk industri kosmetik, dan lainnya.”
Perhitungannya, dua kilogram nyamplung varietas unggul ini mampu menghasilkan satu liter minyak. Sedangkan jenis biasa butuh 10 kilogram untuk hasil minyak yang sama.
Sistem kemitraan yang Edi bangun dengan pemberian bibit gratis bertujuan meningkatkan minat petani lokal.
“Kalau beli bibit varietas unggul bisa sampai Rp50.000 per pohon, makanya saya dorong kemitraan agar lebih menguntungkan komunitas warga. Nyamplung ini juga minim perawatan jadi tak merepotkan mereka.”

Mitigasi krisis iklim
Tak hanya bernilai ekonomi lewat minyak dan kemampuannya sebagai konservasi air, Edi menyebut nyamplung memiliki kemampuan penyerapan karbon yang tinggi. Hal itu dia buktikan dengan penelitian bersama BRIN, pada 2023.
Hasil penelitian menunjukan kemampuan penyerapan karbon antara tanaman ini yang berada di atas permukaan tanah dan di bawahnya berbeda.
Simpanan karbon pada di atas permukaan tanah menunjukkan kisaran 1,3-33,5 ton karbon untuk satu hektar, sedangkan di bawah tanah berkisar 0,2 sampai 5,2 ton untuk satu hektar.
Perhitungan dengan rumus allometrik ini menemukan total kemampuan 1,5 -38,7 ton karbon tergantung pertumbuhan dan ukuran pohon. Secara agregat 10,46 ton mempunyai simpanan karbon sebesar 5,23 ton dengan serapan karbon dioksida 19,19 ton.
Kemampuan penyerapan karbon itu belum menghitung pengurangan energi fosil yang diproduksi jika diganti oleh minyak nyamplung.
“Berapa minyak fosil yang bisa digantikan dengan biodiesel nyamplung mestinya dapat mengurangi secara langsung karbon, substitusi itu berdampak langsung,” katanya.
Mitigasi krisis iklim dengan nyamplung ini terus dia dorong, terutama yang orientasinya komunitas warga. Selain di pondok pesantren, kelompok petani hutan juga dia ajak, salah satunya di Semin, Gunungkidul.
Slamet Riyadi, petani hutan di Kalurahan Bendung, Semin telah lebih dari setahun menanamnya. Dia bahkan melakukan pembibitan mandiri karena baginya nyamplung sudah berdampak pada penyegaran udara di lingkungannya.
“Di sini makin panas, kadang saya merasa kekurangan oksigen. Sampai saya menanam nyamplung di depan rumah biar lebih segar udaranya.”
Makin banyaknya pabrik yang terbangun di wilayahnya jadi salah satu alasan suhu di sana memanas. Wilayah di utara Gunungkidul yang berbatasan dengan Klaten itu memang diperuntukan untuk kawasan industri.
Keunggulan nyamplung yang menawarkan nilai ekologi sekaligus ekonomi, menurutnya, jadi solusi penting menghadapi krisis iklim.
“Selama ini kami swadaya, mestinya pemerintah mulai memberikan fasilitasi terutama akses bibit dan lahan.”

Negara keliru kelola bioenergi
Riza Egi Arizona, Plt Lead Program Transisi Energi dari Madani Berkelanjutan, menyebut, pengembangan bioenergi oleh pemerintah selama ini salah kaprah. Menurutnya, kesalahan utamanya adalah sistem monokultur dan skalanya yang memakai lahan luas.
Orientasi utama pengelolaan bioenergi oleh negara, katanya, hanya untuk keuntungan dan akumulasi kapital. Bukan pemenuhan energi berbasis komunitas, hingga dampaknya kerap menggusur ruang hidup warga, menghancurkan keanekaragaman hayati, hingga malah meningkatkan krisis iklim karena deforestasi.
“Contoh aktual di Papua yang tengah dibangun industri kebun tebu untuk bioetanol, termasuk rencana perluasan sawit disana,” katanya.
Sawit dan tebu yang tergolong bioenergi-1 sifatnya tanaman pangan yang sarat kepentingan. Hal ini, lanjutnya, perlu pembatasan karena berdampak negatif besar.
Dia mendorong bioenergi generasi dua yang sifatnya non-pangan sehingga tak perlu lahan luas dan pengelolaanya oleh komunitas. Nyamplung, katanya, tergolong bioenergi potensial.
“Terpenting mesti dikelola komunitas, sehingga mampu menyuplai energi ke warga dan keuntungannya dapat dinikmati secara adil.”

*****