- Gunung Slamet di Jawa Tengah (Jateng) ‘mengamuk’. Hujan deras pada Sabtu (24/1/26) beserta kondisi hulu yang rusak telah mengakibatkan sungai-sungai meluap hingga sebabkan banjir bandang di lima kabupaten di bawahnya, yakni Tegal, Brebes, Pemalang, Banyumas dan Purbalingga.
- Selain curah hujan tinggi, rusaknya ekosistem di hulu Gunung Slamet turut memperparah dampak banjir bandang. Beberapa area yang berfungsi sebagai daerah resapan banyak beralih fungsi untuk kegiatan pertanian.
- Sungging Septiwiantio, Pendamping Perhutanan Sosial Jateng sekaligus pegiat lingkungan menyebut cuaca ekstrem di daerah puncak bukan satu-satunya penyebab utama banjir kali ini. Namun, yang tidak boleh dilupakan adalah adanya alih fungsi lahan hutan yang berubah menjadi tanaman non kehutanan seperti sayuran dan sejenisnya.
- Andi Rustono, Ketua Presidium Gunung Slamet Menuju Taman Nasional, menyoroti lemahnya tata kelola hutan di kawasan Gunung Slamet yang akhirnya meningkatnya bencana banjir dan longsor di wilayah sekitarnya. Terlebih, kerusakan hutan lindung sudah sangat mengkhawatirkan.
Gunung Slamet di Jawa Tengah (Jateng) ‘mengamuk’. Hujan deras pada Sabtu (24/1/26) beserta kondisi hulu yang rusak telah mengakibatkan sungai-sungai meluap hingga sebabkan banjir bandang di lima kabupaten di bawahnya, yakni Tegal, Brebes, Pemalang, Banyumas dan Purbalingga.
Di Tegal, material kayu yang terbawa air bah memporak-porandakan kawasan wisata pemandian Guci yang ada di lereng gunung. Sementara di Pemalang, Brebes, Purbalingga dan Banyumas, banjir kiriman itu sebabkan kawasan permukiman rusak. Bahlkan, seorang warga meninggal dunia.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tegal menyebut, bencana di Kawasan Wisata Guci, Kecamatan Bumijawa, ini merupakan kali kedua dalam sebulan terakhir. Sebelumnya, pada Desember 2025, bencana serupa juga terjadi meski tak separah ini.
Di kawasan wisata pemandian air panas Guci, kerusakan paling parah terjadi di Pancuran 13 dan Curug Jedor. Tiga jembatan utama yang menjadi akses dari area parkir menuju lokasi pemandian putus. Selain itu, satu eksavator, lapak pedagang, pagar pembatas sungai, serta jaringan pipa air bersih warga juga hanyut terbawa banjir.
Dalam pernyataan tertulisnya, Ahmad Kholid, Pelaksana Harian (Plh) Bupati Tegal memutuskan menutup sementara Pancuran 13 dan Pancuran 5 serta menggratiskan tiket masuk kawasan wisata Guci selama masa pemulihan.
“Keselamatan menjadi prioritas utama. Untuk sementara kawasan ini kami tutup sampai benar-benar aman,” katanya.
Di Purbalingga, banjir bandang yang terjadi menyebabkan seorang warga meninggal dunia dan satu warga lainnya luka berat.

Bawa material kayu dan batu
BPBD Purbalingga mencatat, material banjir berupa batu, kayu, batang pohon, dan lumpur menghantam permukiman warga di Kecamatan Mrebet.
Di Desa Sangkanayu misal, sebanyak 78 rumah terdampak, tujuh hanyut, dan tiga rumah lainnya rusak berat. Puluhan ternak mati dan sejumlah kendaraan hanyut terbawa arus.
Kerusakan parah juga terjadi di Kecamatan Karangreja, khususnya di Desa Kutabawa dan Desa Serang. Di Dusun Kaliurip, Desa Serang, enam rumah rata dengan tanah dan 36 rumah lainnya rusak berat, memaksa sekitar 500 warga mengungsi.
Infrastruktur publik turut terdampak, termasuk jembatan penghubung desa dan ruas jalan kabupaten yang tertutup material longsor.
Fahmi Muhammad Hanif, Bupati Purbalingga mengatakan tengah melakukan penanganan darurat bertahap mengingat luasnya wilayah terdampak dan keterbatasan alat berat.
Sedangkan di Brebes, banjir bandang melanda sejumlah desa di Kecamatan Bumiayu,, sejak Jumat malam (23/1/26). Luapan Sungai Keruh menjadi pemicu utama bencana yang merusak permukiman warga dan fasilitas umum.
BPBD Brebes melaporkan sedikitnya 11 rumah warga hanyut, puluhan bangunan rusak, serta fasilitas pendidikan dan rumah ibadah terdampak. Desa Dukuhturi, Kalierang, Adisana, dan Penggarutan menjadi wilayah dengan dampak cukup signifikan.
Tahroni, Sekretaris Daerah Brebes mengatakan, pemerintah daerah bergerak cepat sejak malam kejadian. Mereka telah mengerahkan tim gabungan untuk evakuasi, mendata kerusakan, serta memastikan kebutuhan dasar warga terdampak terpenuhi.
“Penanganan darurat sudah kami lakukan sejak awal. Pemerintah hadir langsung untuk memastikan warga tidak menghadapi musibah ini sendirian,” kata Tahroni melalui pernyataan tertulis kepada Mongabay.
Pemerintah Brebes menyoroti kondisi hulu Sungai Keruh di Lereng Gunung Slamet yang kian terdegradasi. Pemerintah Brebes akan berkoordinasi dengan pemerintah provinsi untuk menormalisasi sungai dan penataan daerah aliran sungai (DAS) secara menyeluruh.

Empat desa terdampak
Kondisi serupa terjadi di Pemalang. Banjir bandang menerjang wilayah Kecamatan Pulosari dan Kecamatan Moga pada Jumat hingga Sabtu dini hari (23–24/1/26). Bencana tersebut menelan satu korban jiwa, sementara puluhan warga lainnya mengalami luka-luka.
Catatan BPBD Pemalang, empat desa paling terdampak bencana ini, yakni Desa Gunungsari, Penakir, Jurangmangu, dan Desa Sima.
Sedikitnya empat rumah warga dan satu fasilitas ibadah rusak, dua jembatan penghubung desa terputus, serta ratusan warga terpaksa mengungsi ke lokasi aman.
BPBD mengimbau masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem yang berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi.
Di Banyumas, sungai-sungai yang berhulu di Gunung Slamet seperti Kali Mengaji, Kali Logawa dan Kali Pelus airnya keruh karena ada sedimen dan pasir.
Di Sungai Pelus, misalnya, sejumlah warga terlihat mencari ikan karena air bercampur lumpur dan pasir itu sebabkan ikan-ikan “mabuk” dan memudahkan untuk ditangkap.
Tidak hanya itu, beberapa wisata air di Baturraden seperti Telaga Sunyi, Curug Tirta Sela, Curug Gomblang, dan Curug Cipendok ditutup sementara. Keputusan itu pengelola ambil sebagai upaya mitigasi risiko, menyusul hujan dengan intensitas tinggi di kawasan puncak gunung.
Dwi Irawan Sukma, Kepala Pelaksana BPBD Banyumas Dwi Irawan Sukma meminta seluruh masyarakat untuk sementara waktu mengurangi bahkan menghentikan aktivitas di sungai dan bantaran sungai. Hal itu untuk mengantisipasi kemungkinan kenaikan debit air secara tiba-tiba, arus deras, serta material bawaan dari hulu.
“Perubahan kondisi sungai bisa terjadi sangat cepat ketika hujan deras turun di wilayah hulu. Oleh karena itu, masyarakat kami minta tidak memaksakan diri beraktivitas di sungai,” katanya.
BPBD ingatkan potensi ancaman lain seperti erosi, longsor, serta hanyutan kayu dan batu yang dapat membahayakan warga yang berada di sekitar sungai.
“Adanya pasir yang terbawa arus sungai kemungkinan besar merupakan sisa-sisa aktivitas Gunung Slamet tahun 2014 atau longsor di bagian atas di bawah puncak.”

Curah hujan ekstrem
Indra Permanajati, Koordinator Bidang Geologi, Hidrogeologi, dan Geologi Tata Lingkungan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto mengatakan curah hujan ekstrem di kawasan puncak Gunung Slamet menjadi salah satu pemicu banjir bandang.
“Kemungkinan ada sumber-sumber longsor juga di bagian hulu. Apakah longsor tersebut terjadi di hutan yang masih rimbun atau di lahan-lahan pertanian. Yang pasti, memang sudah ada prediksi dari BMKG dengan curah hujan yang tinggi,” katanya.
Sungging Septiwiantio, Pendamping Perhutanan Sosial Jateng sekaligus pegiat lingkungan akui, menyebut cuaca ekstrem di daerah puncak bukan satu-satunya penyebab utama banjir kali ini.
Namun, yang tidak boleh dilupakan adalah adanya alih fungsi lahan hutan yang berubah menjadi tanaman non kehutanan seperti sayuran dan sejenisnya.
“Hutan rusak, sementara sungai tidak lagi mampu menampung, sehingga meluap dan berdampak pada pemukiman warga. Kalau di Banyumas, banjir bandang terjadi di sungai-sungai yang memiliki hulu di Gunung Slamet.”
Andi Rustono, Ketua Presidium Gunung Slamet Menuju Taman Nasional, menyoroti lemahnya tata kelola hutan di kawasan Gunung Slamet yang akhirnya meningkatnya bencana banjir dan longsor di wilayah sekitarnya.
Data yang presidium himpun, kawasan hutan Gunung Slamet 31.376 hektar. Rinciannya, hutan produksi (Perhutani) 10.000 hektar, Kawasan Hutan Dengan Pengelolaan Khusus (KHDPK) atau perhutanan sosial sekitar 30.000 hektar, serta kawasan cagar alam seluas 56 hektar dan kawasan lindung sekitar 30 hektar.
Andi menyebut, kerusakan hutan lindung di sejumlah wilayah sudah sangat mengkhawatirkan. Data Dinas Kehutanan mencatat, kerusakan seluas 48 hektar di Tegal dan 120 hektar di Brebes. Bahkan, di wilayah Capit Urang–Igir Klanceng, Brebes, kerusakan hutan tercatat 25 hektar.
“Ada kesan pembiaran negara atau pemerintah terhadap kondisi hutan di Gunung Slamet,” katanya.

Ekosistem rusak
Tri Agus Triono, pegiat lingkungan dari Banyumas Outdoor Center (BOC) menegaskan, banjir bandang yang terjadi secara serentak di kawasan lingkar Gunung Slamet terpicu oleh kerusakan ekosistem di wilayah hulu.
Menurut dia, di lereng selatan Gunung Slamet, selain keruh, beberapa sungai seperti Sungai Banjaran dan Pelus juga membawa material lumpur dan kayu. Banyak ikan mati. Di kabupaten lain, banjir bandang berdampak pada kerusakan infrastruktur, seperti rumah warga dan jembatan.
Tri menilai, banjir bandang kali ini merupakan yang terparah dari tahun-tahun sebelumnya. Hal itu terjadi karena masifnya alih fungsi lahan di seluruh Lereng Gunung Slamet.
Hutan lindung yang seharusnya berfungsi sebagai kanopi dan area resapan air saat hujan, kini banyak berubah menjadi lahan pertanian kentang dan sayuran.
Dia juga soroti dampak pengeboran panas bumi di lereng selatan Gunung Slamet yang hingga kini meninggalkan lahan terbuka tanpa reklamasi dan reboisasi.
“Deforestasi akibat pembukaan akses dan aktivitas tambang panas bumi belum dipulihkan. Lereng menjadi gundul, tanah telanjang tanpa pengikat akar pohon besar.”
Kondisi ini membuat tanah tidak mampu menahan debit air saat hujan turun dengan durasi panjang.
Aliran air dari hulu mengalir deras tanpa hambatan, memicu banjir bandang yang menerjang wilayah hilir dan membawa material apa pun yang dilalui.
“Aktivitas tambang batu dan pasir yang masih diberi izin oleh pemerintah turut memperparah kerusakan ekologi di kawasan Gunung Slamet.”
*****