- Seekor lumba-lumba bongkok Indo-Pasifik (Sousa chinensis), terpantau di perairan Desa Tanjung Lajau, Kecamatan Kuala Indragiri, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, pada 26 November 2025. Lumba-lumba itu terlihat beberapa kali muncul di perairan yang dikelilingi hutan mangrove.
- Lokasi pengamatan ini berada di Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Indragiri Hilir yang dikelola Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Riau, yang berperan penting menjaga keseimbangan dan kesehatan ekosistem pesisir.
- Sebagai mamalia laut yang sangat bergantung pada habitat estuari dan muara sungai, S. chinensis memanfaatkan perairan dangkal kaya nutrien yang didukung ekosistem mangrove, sebagai wilayah jelajah sekaligus tempat mencari makan.
- Lumba-lumba bongkok Indo-Pasifik dan pesut Irrawaddy kerap disamakan, karena keduanya sering muncul di perairan keruh. Namun, secara ekologi, keduanya memiliki perbedaan mendasar.
Seekor lumba-lumba merah muda menyita perhatian warga di perairan Desa Tanjung Lajau, Kecamatan Kuala Indragiri, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, pada 26 November 2025, sekitar pukul 16:44 WIB. Dalam rekaman video yang diambil oleh Irpan Siringoringo dari Yakopi (Yayasan Konservasi Pesisir Indonesia) bersama nelayan setempat dari YHB (Yayasan Hutan Biru), terlihat lumba-lumba itu beberapa kali muncul di perairan yang dikelilingi hutan mangrove.
Lokasi pengamatan ini berada di Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Indragiri Hilir yang dikelola Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Riau, yang berperan penting menjaga keseimbangan dan kesehatan ekosistem pesisir. Kemunculannya menjadi sorotan, karena warna tersebut merupakan ciri khas utama lumba-lumba bongkok Indo-Pasifik (Sousa chinensis), spesies pesisir dengan populasi terbatas dilindungi di Indonesia. Merah muda pada tubuhnya bukanlah pigmen permanen, melainkan pembuluh darah di bawah kulit yang tampak jelas ketika aliran darah meningkat. Mekanisme ini berfungsi membantu pengaturan suhu tubuh, terutama saat berada di perairan dangkal dan keruh (Li et al., 2019).
Sebagai mamalia laut yang sangat bergantung pada habitat estuari dan muara sungai, S. chinensis memanfaatkan perairan dangkal kaya nutrien yang didukung ekosistem mangrove, sebagai wilayah jelajah sekaligus tempat mencari makan. Keberadaan spesies ini pernah dilaporkan di Langkat, Sumatera Utara, yang hidup berdampingan dengan pesut pada kawasan mangrove produktif (Harahap et al., 2021).

Secara ekologis, lumba-lumba ini berperan sebagai predator puncak yang membantu mengendalikan rantai makanan pesisir, dengan ketergantungan tinggi pada kelimpahan ikan dan udang sebagai mangsa utama (Wan et al., 2025). Namun demikian, berbagai kajian menunjukkan, habitat estuari mengalami tekanan akibat aktivitas manusia, seperti pembangunan pesisir, pencemaran dari daratan, serta interaksi dengan alat tangkap seperti gillnet yang dapat menyebabkan luka fisik, stres akustik, hingga kematian pada cetacea pesisir (Pan et al., 2016; Fauziyah et al., 2022).
Tantangan serupa juga terjadi di Indragiri Hilir, Riau, yaitu hamparan mangrove luas mengalami tekanan penebangan, alih fungsi lahan, pencemaran sampah, kenaikan muka laut yang berpotensi menurunkan kualitas habitat penyangga kehidupan mamalia laut (YHB, 2023).

Karakter perairan Desa Tanjung Lajau yang dangkal, relatif tenang, dan kaya nutrien menunjukkan kemiripan dengan habitat utama S. chinensis di kawasan estuari pesisir Asia. Kondisi ini sebanding dengan Pearl River Estuary di Tiongkok, yang dikenal sebagai lokasi populasi S. chinensis terbesar di dunia (Wan et al., 2025). Kemunculan “Si Pinky” di Indragiri Hilir, merupakan indikasi kuat bahwa kawasan ini koridor habitat penting lumba-lumba pesisir di Sumatera bagian timur, yang perlu dijaga keberlanjutannya.
Penetapan zonasi kawasan konservasi memiliki peran strategis dalam menjamin keberlanjutan populasi S. chinensis. Zona inti berfungsi sebagai area perlindungan ketat yang meminimalkan gangguan antropogenik. Sebut saja, lalu lintas kapal, kebisingan bawah air, dan aktivitas penangkapan. Zona pemanfaatan terbatas berperan sebagai wilayah penyangga yang mengatur intensitas aktivitas manusia agar selaras kebutuhan ekologis spesies ini, khususnya menjaga kualitas habitat dan sumber pakan. Keseluruhan, pengaturan zonasi kawasan konservasi berkontribusi dalam mempertahankan konektivitas habitat estuary-pesisir yang esensial bagi pergerakan dan penggunaan ruang S. chinensis.

Persebaran dan status konservasi
Lumba-lumba bongkok Indo-Pasifik bukanlah spesies yang mengembara jauh dari laut lepas. Satwa ini dikenal setia menghuni pesisir dangkal, muara sungai, dan estuari keruh. Jefferson dan Smith (2016) mencatat, hampir seluruh rekaman kehadiran S. chinensis berada di perairan dengan kedalaman kurang dari dua puluh meter. Ketergantungan yang tinggi terhadap ekosistem pesisir produktif menjadikannya sangat peka terhadap perubahan lingkungan (Lin et al., 2021).
Secara global, sebarannya terbentang secara terputus dari Afrika Timur hingga Pasifik barat. Namun, luasnya wilayah sebaran tidak sejalan dengan ukuran populasi. Jefferson dan Smith menegaskan, di hampir semua wilayah, lumba-lumba bongkok hidup dalam kelompok kecil terpisah. Wu et al. (2017) menunjukkan, fragmentasi populasi ini berkaitan erat dengan keterbatasan habitat estuari yang layak, serta tekanan aktivitas manusia di wilayah pesisir.
Populasi terbesar S. chinensis tercatat di Pearl River Estuary, Tiongkok. Stefanidis et al. (2019) menjelaskan, kawasan estuari besar mampu menyediakan ruang jelajah luas, sumber pakan melimpah, serta kondisi lingkungan relatif stabil. Pola serupa terlihat di Asia Tenggara. Pan et al. (2016) menemukan, kehadiran lumba-lumba bongkok berkorelasi kuat dengan kawasan pesisir yang dipengaruhi aliran sungai dan tingginya produktivitas mangrove, sehingga estuari berfungsi sebagai habitat inti spesies ini.

Berbeda dengan pesut air tawar
Lumba-lumba bongkok Indo-Pasifik dan pesut Irrawaddy kerap disamakan, karena keduanya sering muncul di perairan keruh. Namun, secara ekologi, keduanya memiliki perbedaan mendasar. S. chinensis adalah lumba-lumba yang menghuni perairan pesisir dangkal dan terlindungi, termasuk muara sungai, estuari, dan teluk (coastal and estuarine waters), serta cenderung tetap dekat dengan pantai. Sementara, pesut Irrawaddy (Orcaella brevirostris) dikenal sebagai cetacea fakultatif air tawar. Pesut ini mampu menghuni sungai besar, estuari, dan perairan pesisir, sebuah kemampuan adaptif yang relatif jarang dimiliki lumba-lumba di Asia (Todd et al., 2022).
Perbedaan mendasar juga tercermin pada morfologi tubuh. Pesut Irrawaddy memiliki kepala membulat tanpa moncong panjang serta sirip punggung kecil. Ciri-ciri ini mendukung pergerakan di perairan sempit dengan visibilitas rendah. Sebaliknya, S. chinensis memiliki moncong lebih jelas dan bentuk tubuh khas lumba-lumba pesisir. Adaptasi morfologi pesut mencerminkan proses evolusi menuju kehidupan sungai yang menuntut kelincahan tinggi dan toleransi terhadap kondisi perairan yang dinamis.
Meski lebih fleksibel secara habitat, pesut sungai justru menghadapi tingkat kerentanan lebih tinggi. Studi di Kalimantan Timur menunjukkan bahwa pesut mahakam hidup dalam ruang jelajah sangat terbatas. Kreb dan Rahadi (2004) mencatat, adanya respons penghindaran yang kuat terhadap lalu lintas kapal. Smith et al. (2023) menegaskan, populasi cetacea air tawar umumnya berukuran kecil dan terisolasi. Jika pesut kerap disebut sebagai penjaga sungai, maka lumba-lumba bongkok lebih tepat dipandang sebagai penjaga estuari yang merupakan wilayah peralihan luas, namun kini semakin tertekan.

Masa depan lumba-lumba bongkok
Pertanyaan ini muncul terkait kepentingan pembangunan dan upaya konservasi. Kondisi pesut mahakam memberikan pelajaran penting. Kreb et al. (2020) menjelaskan, peningkatan aktivitas pelayaran dan pembangunan pesisir berkorelasi dengan pergeseran distribusi pesut yang menjauhi jalur sungai utama. Kehadiran pesut yang semakin jarang di segmen perairan dengan tingkat gangguan manusia yang tinggi, mengindikasikan bahwa tekanan antropogenik dapat mendorong cetacea menuju kondisi kritis.
Tekanan ini tidak berdiri sendiri. Laporan lapangan terbaru menunjukkan, keberadaan ponton dan speedboat menjadi sumber kebisingan bawah air sekaligus menghadirkan risiko tabrakan signifikan. Kreb dan Budiono (2023) mencatat bahwa aktivitas ini menyempitkan ruang jelajah efektif pesut mahakam. Sementara, Smith dan Hobbs (2002) menjelaskan bahwa pesut cenderung terkonsentrasi di tikungan dan pertemuan sungai yang lokasinya justru menjadi pusat aktivitas transportasi dan perikanan, sehingga tekanan ekologis yang dihadapi berlipat ganda.
Lumba-lumba bongkok Indo-Pasifik kini berada pada lintasan risiko sebanding. Kajian Fang et al. (2025) menunjukkan, pembangunan berskala besar di kawasan estuari dapat mengubah pola kehadiran Sousa chinensis. He et al. (2025) menjelaskan, aktivitas pengerukan dapat meningkatkan kekeruhan perairan yang menyebabkan menurunnya kualitas habitat pesisir dan menjadikannya dangkal.
* Mujiyanto, Peneliti Bidang Kepakaran Konservasi Sumber Daya Hayati Laut, Pusat Riset Sistem Biota BRIN.
Referensi:
Agustriani, F., Mustopa, A. Z., Gozali, I. C., Iqbal, M., & Ningsih, E. N. (2022). Historical and new records of the Irrawaddy Dolphins, Orcaella brevirostris (Owen in Gray, 1866) (Cetacea, Delphinidae) from the East Coast of South Sumatra, Indonesia. Check List, 18(1), 219-225. https://doi.org/10.15560/18.1.219
Durante, C. A., Cunha, H. A., Crespo, E. A., & Loizaga, R. (2020). Coming to light: First insight into the genetic diversity of Peale’s dolphins at a Patagonian MPA. Marine Mammal Science, 36(3), 972-980. https://doi.org/10.1111/mms.12671.
Fang, L., Wu, Y., Pine, M. K., Wang, X., & Chen, T. (2025) Temporal presence of Indo-Pacic humpback dolphins to the piling during the first offshore wind farm construction in the Pearl River Estuary, China. Front. Mar. Sci. 12:1578855. https://doi.org/10.3389/fmars.2025.1578855.
Harahap, Z. A., Nasution, Z., Husada, I., & Ifanda, D. (2021). Diversity and distribution of dolphin in Langkat Water, North Sumatera. JECE-Journal of Empowerment Community and Education, 1(3), 235-242.
He, C., Stocchino, A., Yin, Z. Y., De Leo, F., Jin, Y. F., & Chen, X. (2025). Risk assessment of coastal dredging sediment plumes on the habitat of Indo-Pacific humpback dolphin (Sousa chinensis). Frontiers in Marine Science, 12, 1617954. https://doi.org/10.3389/fmars.2025.1617954.
Jefferson, T. A., & Smith, B. D. (2016). Re-assessment of the conservation status of the Indo-Pacific humpback dolphin (Sousa chinensis) using the IUCN Red List criteria. Advances in Marine Biology, 73, 1-26. https://doi.org/10.1016/bs.amb.2015.04.002.
Kreb, D., & Budiono. (2023). Laporan teknis akhir survei monitoring pesut Mahakam dan kualitas air: Periode Maret-November 2022. Yayasan Konservasi RASI (Rare Aquatic Species of Indonesia). URL https://www.ykrasi.org/wp-content/uploads/2023/06/laporan-teknis-monitoring-pesut-kualitas-air-2022.pdf.
Kreb, D., & Rahadi, K. D. (2004). Living under an aquatic freeway: effects of boats on Irrawaddy dolphins (Orcaella brevirostris) in a coastal and riverine environment in Indonesia. Aquatic Mammals, 30(3), 363-375. URL https://www.aquaticmammalsjournal.org/article/vol-30-iss-3-kreb_rahadi/.
Kreb, D., Lhota, S., Porter, L., Redman, A., Susanti, I., & Lazecky, M. (2020). Long-term population and distribution dynamics of an endangered Irrawaddy dolphin population in Balikpapan Bay, Indonesia in response to coastal development. Frontiers in Marine Science, 7, 533197. https://doi.org/10.3389/fmars.2020.533197.
Kurniawan, S., Darlis, A., & Boy, T. (2024). Laporan hasil asesmen mangrove di Kabupaten Indragiri Hilir (Mei 2024). Perkumpulan Elang & Paradigma. URL https://paradigmasosialekologi.or.id/wp-content/uploads/2025/04/LAPORAN-NARASI-HASIL-ASESMEN-DAN-ANALISIS-KONDISI-HUTAN-MANGROVE-DI-INHIL.pdf.
Li, M., Wang, X., Hung, S. K., Xu, Y., & Chen, T. (2019). Indo‐Pacific humpback dolphins (Sousa chinensis) in the Moyang River Estuary: The western part of the world’s largest population of humpback dolphins. Aquatic Conservation: Marine and Freshwater Ecosystems, 29(5), 798-808. https://doi.org/10.1002/aqc.3055.
Lin, C.-H., Lin, H.-J., Suen, J.-P., & Chou, L.-S. (2021). Association between estuary characteristics and activities of the critically endangered Indo-Pacific humpback dolphin (Sousa chinensis). Frontiers in Marine Science, 8, 577976. https://doi.org/10.3389/fmars.2021.577976.
Pan, C. W., Chen, M. H., Chou, L. S., & Lin, H. J. (2016). The trophic significance of the Indo-Pacific humpback dolphin, Sousa chinensis, in Western Taiwan. PloS ONE, 11(10), e0165283. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0165283.
Pan, C. W., Chen, M. H., Chou, L. S., & Lin, H. J. (2016). The trophic significance of the Indo-Pacific humpback dolphin, Sousa chinensis, in Western Taiwan. PloS ONE, 11(10), e0165283. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0165283.
Smith, B. D., & Hobbs, L. (2002). Status of Irrawaddy dolphins Orcaella brevirostris in the upper reaches of the Ayeyarwady River, Myanmar. Raffles Bulletin of Zoology, 50, 67-74. URL https://lkcnhm.nus.edu.sg/wp-content/uploads/sites/10/2020/12/s10rbz067-073.pdf.
Smith, D. R., Brockmann, H. J., Carmichael, R. H., Hallerman, E. M., Watson, W., & Zaldivar‐Rae, J. (2023). Assessment of recovery potential for the American horseshoe crab (Limulus polyphemus): An application of the IUCN green status process. Aquatic Conservation: Marine and Freshwater Ecosystems, 33(11), 1175-1199. https://doi.org/10.1002/aqc.3990.
Stefanidis, K., Sarika, M., & Papastegiadou, E. (2019). Exploring environmental predictors of aquatic macrophytes in water‐dependent Natura 2000 sites of high conservation value: Results from a long‐term study of macrophytes in Greek lakes. Aquatic Conservation: Marine and Freshwater Ecosystems, 29(7), 1133-1148. https://doi.org/10.1002/aqc.3036.
Todd, N. R., Jessopp, M., Rogan, E., & Kavanagh, A. S. (2022). Extracting foraging behavior from passive acoustic monitoring data to better understand harbor porpoise (Phocoena phocoena) foraging habitat use. Marine Mammal Science, 38(4), 1623-1642. https://doi.org/10.1111/mms.12951.
Tubbs, S. E., Keen, E., Jones, A., & Thap, R. (2020). On the distribution, behaviour and seasonal variation of Irrawaddy dolphins (Orcaella brevirostris) in the Kep Archipelago, Cambodia. Raffles Bulletin of zoology, 68, 137-149. https://doi.org/10.26107/RBZ-2020-0015.
Wan, S., Li, G., Zhang, Y., Cheng, J., & Yang, H. (2025). Interannual variability of Indo-Pacific humpback dolphin (Sousa chinensis) habitats in the Eastern Pearl River Estuary, China. Frontiers in Marine Science, 12, 1566086. https://doi.org/10.3389/fmars.2025.1566086.
World Wide Fund for Nature. (2019). Irrawaddy river dolphins: River dolphins at risk (Briefing report). WWF International. URL https://wwfasia.awsassets.panda.org/downloads/irrawaddy_river_dolphin_2019.pdf.
Wu, H., Jefferson, T. A., Peng, C., Liao, Y., Huang, Hu., Lin, M., Cheng, Z., Liu, M., Zhang, J., Li, S., Wang, D., Xu, Y., & Huang, S.-L. (2017). Distribution and habitat characteristics of the Indo-Pacific humpback dolphin (Sousa chinensis) in the northern Beibu Gulf, China. Aquatic Mammals, 43(2), 219-229. https://doi.org/10.1578/AM.43.2.2017.219.
YHB (Yayasan Hutan Biru). (2023). Poster infografis KKD Indragiri Hilir dan ekosistem mangrove–perikanan Indragiri Hilir [Infographic poster]. Yayasan Hutan Biru. URL. https://blue-forests.org/wp-content/uploads/2023/10/Poster-Infografis-KKD-InHil.pdf
*****
Pesut Mahakam, Yang Perlu Diketahui dari Ancaman Ruang Hidup hingga Upaya Konservasinya