- Rock in Solo 2025 tak hanya ajang konser yang mempertemukan musisi lokal hingga mancanegara dengan para fansnya. Ajang ini sekaligus sebagai bentuk solidaritas warga dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Perlawanan terhadap pengrusak alam dan industri ekstraktif di Indonesia yang kian masif.
- Para musisi menyadari pentingnya mengangkat isu lingkungan ke publik karena berdampak bagi kesejahteraan hidup. Band Sukatani dan Band Gendar Pecel meyakini bahwa musik bisa menyuarakan ketidakadilan, menjadi cara melakukan perlawanan. Parodi dan simbol saat konser sekecil apa pun juga bisa memberi dampak. Musisi memang harus berisik ke pemerintah.
- Citra Aryandari, Pakar Etnomusikologi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta mengatakan sejarah musik metal lahir dari perlawanan. Dipelopori oleh Black Sabbath, band yang terbentuk empat pemuda kelas pekerja pada akhir 1960-an di Birmingham, Inggris. Perlawanan metal ditujukan kepada sistem kapitalis industrial yang mengeksploitasi kelas pekerja dan ketimpangan sosial di kota industri Birmingham yang penuh polusi, kemiskinan, dan kondisi kerja yang buruk.
- Novita Indri, Juru Kampanye Energi Trend Asia mengatakan solar panel di area konser musik tak hanya untuk kebutuhan charging gawai para penonton. Namun juga upaya edukasi bahwa ada sumber listrik terbarukan, berasal dari matahari langsung. Ada alternatif tanpa harus bergantung dengan batubara.
Musik metal menemukan caranya sendiri untuk melawan ekstaktifisme yang kian masif di pelbagai wilayah di Indonesia. Protes tak melulu soal turun ke jalan, membentangkan spanduk, atau orasi juga perlawanan dengan cara apa saja, termasuk musik.
Pemandangan itu terjadi saat gelaran ‘Rock in Solo 2025’ menjelang akhir November 2025. Ribuan orang yang kebanyakan anak muda mendatangi Benteng Vastenburg Solo.
Band-band metal seperti Band Sukatani, Gendar Pecel tampil menyuarakan berbagai persoalan lingkungan sekitar, seperti keresahan warga atas proyek pembangkit panas bumi di Gunung Lawu dan lain-lain.
Kedatangan brotherhood dari berbagai daerah selain menikmati musik juga bentuk solidaritas dan perlawanan terhadap ketidakadilan atas kerusakan lingkungan dan ruang hidup masyarakat.
Izul, pemuda asal Rembang, Jawa Tengah. ini datang ke Solo tidak hanya untuk menikmati musik dan bertemu band favoritnya juga misi solidaritas.
“Di Rembang, sudah terlanjur berdiri pabrik semen, bagi daerah yang belum terlanjur terbangun pabrik semen, jangan sampai putus asa perjuangannya,” katanya.

Dia merujuk atara lain di Wonogiri, juga di Jawa Tengah, juga akan ada tambang dan pabrik semen.
Menurut dia, kehadiran pabrik semen berdampak pada kualitas udara di Rembang yang sebelumnya sudah panas, kini makin pengap.
“Daerah dekat pabrik, kalau mau pakai air bersih harus beli, kalau warga lokal gak pakai galon, karena ada sumber air. Pertanian hasilnya gak sebagus dulu, turun ekonominya warga.”
Bagi dia, ajang konser yang menyuarakan kampanye lingkungan sangat efektif. Penikmat musik metal banyak anak muda yang kelak akan meneruskan masa depan bangsa.
Kalau sudah tahu isu lingkungan yang sedang terjadi, dia meyakini pasti akan tertanam dalam pikiran untuk berjuang dengan cara mereka sendiri.
“Kami ingatkan daerah lain yang belum terjadi jangan sampai kejadian. Teruslah berjuang.”

Sutiagit, warga Kulon Progo, Yogyakarta, datang bersama putranya yang berusia 15 tahun. Mereka mengendarai motor bebek, berangkat sejak pagi dengan misi mengenalkan perlawanan atas ketidakadilan kepada anaknya melalui musik.
“Kita di era gelap, isu perusakan lingkungan. Budaya bergeser, alam kita dirusak langsung dan gak langsung. Musisi metal menyuarakan itu lewat acara ini, mudah dimengerti remaja,” kata pria 46 tahun ini.
Yanto, warga Pracimantoro, Wonogiri, juga turut hadir. Tak pernah ada dalam benaknya akan ada pabrik semen di daerahnya.
Saat ini, warga Pracimantoro sedang berjuang melawan rencana pabrik semen dan tambang batu gamping di wilayah karst Gunung Sewu.
“Dulu, saya hanya melihat isu dan konflik di Kendeng, Wadas, sekarang menjadi warga yang kena, terdampak. Benar-benar gak ngimpi. Gak nyangka sekarang kami warga Pracimantoro sedang dihadapkan dengan itu.”

Suarakan ketidakadilan
Muhammad Syifa Al Ufti, gitaris Band Sukatani mengatakan, pentingnya menyuarakan ketidakadilan dan melakukan perlawanan melalui musik.
Bagi Band Sukatani, dampak kerusakan lingkungan itu multiplier effect. Musik menjadi salah satu medium yang cukup efektif masuk ke ruang berfikir. Sehingga harus terus disuarakan berulang-ulang.
“Musik sangat efektif ya karena semua orang mendengarkan musik. Apalagi jika didengarkan berkali-kali secara gak langsung tertanam di kepala dan akhirnya membangun kesadaran sendiri,” katanya.
Dia bilang, sangat penting membangun kesadaran terlebih dulu, meski output atau tindakan setiap individu dalam merespon bisa berbeda.
Penikmat musik tak harus menjadi korban secara langsung. Sebab kerusakan lingkungan sejatinya berdampak pada banyak aspek kehidupan secara tak langsung.
“Perjuangan itu banyak, ada aksi, advokasi, mengawal langsung, ada juga yang melalui diskusi dan kampanye spesifik. Apa pun yang kita lakukan pasti ada dampak. Kalau kami berkoordinasi dengan teman yang advokasi, maka bentuk solidaritas kami dengan hadirkan di dukungan-dukungan di panggung.”
Panji Sukma, Vokalis Gendar Pecel, mengatakan, grup musik hardcore asal Karanganyar itu turut menyuarakan isu lingkungan, terutama di Gunung Lawu.
Warga meyakini gunung sebagai tempat suci, tempat para dewa, dan harus dijaga dari kerusakan. Naskah abad ke-15, kata dia, menunjukkan hal itu.
“Musisi, apa pun alirannya, menuju ke situ (lingkungan), karena sangat dekat dengan hidup kami,” katanya.
Terlebih, isu geothermal yang mencuat di Gunung Lawu juga sangat meresahkan warga. Dia menegaskan, musisi juga harus jaga Lawu. Musisi harus belajar lingkungan dan politik karena tak bisa dipisahkan. Kemudian mengangkat isu itu di setiap perhelatan musik.
“Gunung lawu itu disakralkan dan terlanjur dibor, kalau nemu situs atau artefak saya yakin dihajar juga.”
Musik menyuarakan ketidakadilan. Parodi dan simbol saat konser sekecil apa pun bisa memberi dampak.
“Kritis gak harus memberi solusi, namanya kritis mempertanyakan kembali, ini ada sesuatu. Siapa yang bikin kebijakan dan aturan. jadi kita bersuara, buat meme, demo.”

Berangkat dari perlawanan
Citra Aryandari, Pakar Etnomusikologi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta mengatakan, musik metal bagian dari rock yang sejarahnya berangkat dari perlawanan.
Black Sabbath, band yang terbentuk oleh empat pemuda kelas pekerja, yakni Ozzy Osbourne, Tony Iommi, Geezer Butler, dan Bill Ward pada 1960-an di Birmingham, Inggris adalah pelopornya.
Dia bilang, mereka terinspirasi oleh suasana kelam lingkungan industri tempat mereka tumbuh maka tercipta musik yang gelap dengan riff gitar berat dan lirik tentang okultisme, perang, kematian, dan kegelisahan sosial.
“Birmingham saat itu adalah kota industri yang penuh polusi, kemiskinan, dan kondisi kerja yang buruk. Jadi, metal bukan lahir dari kehampaan, metal adalah respons langsung terhadap kekerasan struktural yang dialami kelas pekerja Inggris,” katanya.
Citra jelaskan, metal lahir ketika era perlawanan terjadi di Inggris dan Amerika terhadap ketimpangan sosial.
Perlawanan itu merujuk pada sistem kapitalis industrial yang mengeksploitasi kelas pekerja, perang Vietnam dan militerisme yang terlihat dari lirik “War Pigs” dari Black Sabbath, kemunafikan sosial dan agama yang mengontrol kehidupan rakyat biasa dan alienasi dan dehumanisasi di era modern
“Metal tidak sekadar musik keras, ia adalah ekspresi kemarahan terhadap ketidakadilan. Bedanya dengan rock sebelumnya, metal lebih gelap, lebih berat, lebih frontal dalam mengkritik.”
Sedangkan Rock in Solo yang berlangsung sejak 2004 bukanlah produk politik, melainkan hasil dari ekosistem organik yang sudah ada sejak era 1970-an dengan band Terncem, komunitas Adi Metal Rock era 1980-an, dan berbagai band lokal dan komunitas seperti Pasukan Babi Neraka era 1990-2000-an.
“Rock in Solo 2025 adalah bentuk perlawanan ekologis yang eksplisit. Mengkritik industri ekstraktif, kerusakan lingkungan, dan ketidakadilan struktural. Ya, ini jelas bentuk perlawanan,” katanya.
Rock in Solo 2025, sangat eksplisit dalam agenda perlawanannya. Misal, ada talkshow energi bersih, ancaman pabrik semen, kerusakan alam di Papua. Ada simbolisme dan atribut perlawanan terhadap industri ekstraktif.
Dia bilang, Rock in Solo 2025 berpotensi sangat efektif karena beberapa hal. Ada kombinasi seni dan edukasi, jadi tidak hanya konser, ada talkshow dan dialog.
Target anak muda sudah benar karena memang ada demografi yang paling terpengaruh krisis iklim dan paling potensial jadi agen perubahan.
“Ada ajakan bersuara, tidak hanya pasif mendengar, tapi aktif mengajak partisipasi.”
Berdasarkan riset akademis dan praktik di lapangan, ada beberapa hal yang dia temukan menyoal keunggulan musik sebagai medium kampanye. Yakni membangun komunitas, festival seperti Rock in Solo menciptakan solidaritas kolektif.
Ada legitimasi isu, para musisi berperan strategis untuk kebijakan politik, tidak hanya sebagai pembawa berita tetapi bisa mengajak dan merayu elit politik untuk menerbitkan kebijakan.
“Musik adalah bahasa universal yang mudah diterima lintas demografi, daya emosional tinggi, musik menggerakkan perasaan lebih kuat dari data statistik.”
Meski begitu, kata Citra, beberapa catatan atas keterbatasan metode kampanye seperti itu, seperti, risiko komodifikasi isu kritik sosial bisa jadi sekadar komoditas ekonomi jika tidak hati-hati.
Kampanye musik, katanya, sering hanya sampai kepada yang sudah ‘paham,’ belum tentu mengubah yang skeptis. Karena itu, perlu tindak lanjut dengan menggelar lokakarya dan gerakan akar rumput.

Kenalkan energi terbarukan
Salah satu hal menarik lainnya di ajang musik Rock in Solo 2025 ialah adanya solar panel untuk kebutuhan energi gawai para penonton musik. Memang kapasitasnya tak besar, tapi harapannya dapat mengedukasi pengunjung.
Novita Indri, Juru Kampanye Energi Trend Asia mengatakan, sudah dua kali membawa solar panel di acara Rock in Solo. Tak seperti tahun sebelumnya, kali ini solar panel yang dia bawa dari Jakarta cukup besar.
“Kita display sekaligus juga nunjukin ke teman-teman yang datang di acara ini bahwa sebenarnya ada sumber listrik itu yang bisa kita hasilkan dari matahari langsung. Jadi tanpa harus kita bergantung dengan batubara, atau kita bergantung dengan pembangkit gas. Buktinya matahari gitu.”
*****