- Riset DNA yang dipimpin Martin Stervander mematahkan teori lama bahwa burung ini berjalan kaki melintasi benua purba. Studi tersebut membuktikan bahwa nenek moyang mereka sebenarnya terbang sejauh 3.500 km dari Amerika Selatan sekitar 1,5 juta tahun lalu akibat tersapu angin kencang.
- Setelah mendarat di Inaccessible Island yang bebas predator dan berlimpah makanan, burung ini mengalami "Sindrom Pulau". Seleksi alam perlahan menghilangkan kemampuan terbang mereka demi menghemat energi, mengubah fisik mereka menjadi spesies burung tak bisa terbang terkecil di dunia.
- Populasi Mandar Inaccessible kini mencapai 5.600 individu dan hidup mengisi ceruk ekologis layaknya hewan pengerat. Meski aman di benteng alami tersebut, keberadaan mereka sangat rentan punah jika ada satu saja spesies predator invasif (seperti tikus) yang masuk ke pulau itu.
Di kawasan terpencil Samudra Atlantik Selatan, tepatnya di gugusan kepulauan Tristan da Cunha, terdapat sebuah pulau dengan tebing nyaris vertikal setinggi ratusan meter. Wilayah ini dikenal sebagai Inaccessible Island atau Pulau Tidak Dapat Diakses. Sesuai namanya, pulau vulkanik seluas 7,4 kilometer persegi ini hampir tidak pernah dikunjungi manusia karena medannya yang ekstrem dan ombak yang ganas. Namun, di balik benteng alam yang sunyi ini, hidup ribuan spesies burung unik bernama Mandar Inaccessible (Atlantisia rogersi).
Keberadaan burung ini memegang rekor dunia yang unik: mereka adalah burung tak bisa terbang terkecil di dunia. Dengan berat hanya 30 hingga 40 gram (kurang lebih seberat bola pingpong) dan tubuh seukuran kepalan tangan, keberadaan mereka memicu perdebatan ilmiah selama satu abad. Teka-teki utamanya adalah paradoks geografis: bagaimana spesies yang tidak memiliki kemampuan terbang bisa menghuni pulau yang muncul dari dasar laut dan berjarak ribuan kilometer dari benua mana pun?
Riset DNA Mematahkan Teori Lama
Misteri ini akhirnya terpecahkan melalui riset mendalam yang dipimpin oleh ahli biologi evolusi, Martin Stervander. Dalam studinya yang dipublikasikan di jurnal Molecular Phylogenetics and Evolution, tim peneliti menggunakan metode pengurutan DNA (DNA sequencing) modern untuk melacak silsilah genetik burung tersebut. Riset ini menjadi kunci penting karena berhasil mematahkan hipotesis lama yang dicetuskan oleh ahli ornitologi Percy Lowe pada tahun 1920-an.

Yuk, segera followWhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan berita terbaru setiap harinya.
Lowe sebelumnya berspekulasi bahwa nenek moyang burung ini berjalan kaki melintasi “jembatan darat” purba yang menghubungkan benua sebelum akhirnya tenggelam. Namun, data geologi dan DNA membuktikan sebaliknya. Pulau Inaccessible adalah gunung berapi yang muncul dari laut sekitar 3 hingga 6 juta tahun lalu dan tidak pernah menyatu dengan benua mana pun. Selain itu, data genetika menunjukkan burung Mandar baru menghuni pulau itu sekitar 1,5 juta tahun lalu. Periode ini jauh lebih muda dibandingkan waktu perpisahan benua, sehingga mustahil ada jalur darat yang bisa dilalui.
Terbawa Angin dari Amerika Selatan
Hasil analisis filogenetik dalam riset tersebut juga meluruskan kesalahpahaman tentang asal-usul mereka. Meskipun secara geografis pulau ini lebih dekat ke Afrika, kerabat terdekat Mandar Inaccessible justru adalah spesies Dot-winged Crake dan Black Rail yang berhabitat di Benua Amerika. Data ini mengonfirmasi bahwa nenek moyang burung ini melakukan perjalanan epik sejauh 3.500 kilometer dari Amerika Selatan.

Para ilmuwan menyebut fenomena kedatangan mereka sebagai sweepstakes dispersal atau penyebaran undian. Sekitar 1,5 juta tahun lalu, nenek moyang burung ini—yang saat itu masih memiliki sayap normal dan kemampuan terbang; kemungkinan besar tersapu badai atau angin barat (Westerly Winds) yang berhembus sangat kencang di Atlantik Selatan. Dari sekian banyak burung yang tersapu badai, sebagian besar mungkin mati di lautan. Namun, segelintir kelompok yang beruntung berhasil mendarat di Inaccessible Island. Mereka adalah pemenang “lotere” evolusi yang berhasil menemukan satu-satunya titik daratan di tengah samudra luas.
Adaptasi Lingkungan dan Hilangnya Sayap
Perubahan fisik drastis menjadi burung yang tidak bisa terbang terjadi setelah mereka menetap. Fenomena ini dikenal dalam biologi sebagai “Sindrom Pulau”. Inaccessible Island menyediakan ekosistem yang sempurna: hamparan rumput tussock yang lebat untuk bersembunyi, sumber makanan melimpah berupa cacing, ngengat, dan biji-bijian, serta yang terpenting: nihilnya predator. Tidak ada tikus, kucing, atau mamalia pemangsa di pulau tersebut.

Dalam hukum evolusi, mempertahankan kemampuan terbang membutuhkan “biaya” energi yang sangat mahal. Karena tidak ada urgensi untuk melarikan diri dari pemangsa dan makanan mudah didapat di daratan kecil itu, seleksi alam bekerja dengan prinsip efisiensi. Energi yang dulunya dipakai untuk memelihara otot terbang dialihkan untuk fungsi lain, seperti reproduksi dan metabolisme. Akibatnya, sayap mereka memendek, bulu menjadi lebih halus seperti rambut, dan kaki menjadi lebih kekar untuk berlari cepat di sela-sela vegetasi.
Penguasa Pulau yang Rentan
Saat ini, populasi Mandar Inaccessible diperkirakan mencapai 5.600 individu, menjadikan kepadatan populasi mereka sangat tinggi untuk ukuran pulau sekecil itu. Mereka telah beradaptasi sepenuhnya dengan gaya hidup terestrial (di atas tanah). Martin Stervander dan tim peneliti menggambarkan perilaku mereka sangat gesit namun penuh rasa ingin tahu, sering kali mendekat ke arah manusia karena tidak memiliki insting takut terhadap predator.

Meskipun mereka telah bertahan selama jutaan tahun, isolasi ini adalah pedang bermata dua. Nasib tragis menimpa kerabat mereka di pulau tetangga, Gough Island, di mana burung serupa hampir punah akibat serangan tikus yang terbawa kapal manusia. Keterisolasian Inaccessible Island yang sulit didarati kapal justru menjadi penyelamat utama spesies ini. Selama benteng alam itu tetap tak terjamah oleh spesies invasif, burung kecil tak bersayap ini akan tetap menjadi penguasa tunggal di kerajaannya yang terpencil.