- Yayasan Binaya mendata sebanyak 30 indukan Keruing Bunga (Dipterocarpus hasseltii) tersebar di hutan Gunung Kawi. Pohon indukan berdiamater 200 centimeter, ketinggian sekitar 30 meter, diperkirakan berumur lebih dari 100 tahun.
- Yayasan Binaya berkomitmen melakukan konservasi ex situ, dengan melakukan pembenihan atau pembibitan untuk memperbanyak tanaman Keruing Bunga. Binaya akan melakukan aksi diawali dengan sosialisasi kepada masyarakat setempat untuk menjaga dan merawat pohon endemik tersebut.
- Forum Pohon Langka Indonesia menetapkan 12 jenis pohon langka prioritas nasional. Prioritas utama antara lain Resak Brebes (Vatica javanica) endemik Jawa bagian barat, Pelahlar (Dipterocarpus littoralis) endemik Nusakambangan, Kokoleceran (Vatica bantamensis) endemik Jawa bagian barat, dan Keruing (Dipterocarpus cinereus).
- International Union for Conservation of Nature (IUCN) menempatkan Keruing Beras (Dipterocarpus cinereus Sloota) pohon punah dan dua jenis punah di alam yakni Mangga Kasturi (Mangifera casturi Kosterm) dan Mangifera rubropetala Kosterm.
Gerimis tak menyurutkan Mudjiati, Kepala Desa Kebobang, Wonosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, menanam bibit keruing bunga (Dipterocarpus hasseltii) endemik Gunung Kawi di kawasan Coban Baung.
Cekatan, tangannya mengeluarkan bibit dari polybag dan memasukkan ke lubang tanam dan menaburinya dengan kompos.
“Saya baru pertama kali mendengar dan melihat pohon Keruing Bunga Gunung Kawi,” kata perempuan paruh baya ini.
Bersama belasan pemuda dan mahasiswa, Mudjiati turut berpartisipasi dalam Tanam Pohon Langka Serentak 2025, 28 November lalu.
Dia pun ingin melestarikan tanaman khas Gunung Kawi itu. Usai menanam, dia segera berburu biji pohon keruing bunga yang bertebaran di tanah dan menyimpannya dalam wadah plastik.
“Untuk bibit,” katanya.
Mudjiati bilang, Pemerintah Desa Kebobong berkomitmen terhadap upaya konservasi lingkungan. Sejak 2009, desa ini bahkan sudah ada peraturan desa (perdes) tentang kewajiban menanam 10 bibit pohon bagi warga yang menebang pohon sejenis.
Dia bilang, warga yang tergabung dalam Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPPAM) rutin dua bulan sekali menanam pohon di sekitar sumber mata air.
Selain untuk menjaga pasokan air tetap ada, juga mencegah banjir dan longsor di kawasan itu.
“Sebagai jasa lingkungan. Warga memanfaatkan lima titik sumber mata air dari sini,” katanya.
Ada riban warga dari dua desa manfaatkan air dari sumber-sumber tersebut. Mereka mengalokasikan anggaran khusus untuk menanam pohon. Hingga kelompok tani dan penduduk setempat bereaksi menolak ketika sebuah perusahaan melakukan penebangan dan membuka lahan seluas lima hektar untuk wisata Coban Baung.
Warga khawatir aktivitas perusahaan tersebut bakan mengancam cadangan air minum warga. “Ini kan kawasan lindung ya, jangan ditebang,” katanya.
Warga laporkan kasus pembukaan lahan itu ke polisi.
Faldy Devalen Fehabtara, Ketua Bhakti Bhumi Naraya (Binaya)menjelaskan sebaran Keruing Bunga mulai Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan hingga Filipina. Pohon ini menjadi langka karena penebangan secara masif, sehingga populasi di alam semakin menyusut.
Berdasar data Binaya, saat ini tercatat ada 30 indukan keruing bunga berdiamater 200 sentimeter, ketinggian sekitar 30 meter di Gunung Kawi. Perkiraan umurnya lebih dari 100 tahun.
Tanaman khas yang biasa tumbuh di ketinggian 600-700 meter di atas permukaan laut. “Kayunya keras, harganya mahal. Biasa digunakan mebel,” katanya.
Keruing bunga masuk dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) dengan status terancam punah.
Binaya mengeksplorasi kawasan hutan di Gunung Kawi, lantaran belum banyak penelitian di kawasan hutan rimba itu.
Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan berita terbaru setiap harinya.

Terancam punah
Pohon keruing banyak tumbuh di hutan produksi Perum Perhutani, dekat objek wisata Coban Baung. Kondisi vegetasi tergolong rapat dengan tanaman pasang balung(Lithocarpus indutus) dengan status konservasi juga terancam.
Selain itu, ada juga pohon bendo (Artocarpus elasticus) dan ara bulu (Ficus villosa) yang status konservasinya berisiko rendah.
Binaya berkomitmen untuk melakukan konservasi ex situ, dengan pembenihan atau pembibitan untuk memperbanyak tanaman. Binaya mengawali aksi konservasi dengan menggelar sosialisasi kepada masyarakat. Ke depan, Binaya ingin jadikan kawasan itu sebagai bank benih.
“Penanaman atau memperbanyak dilakukan di kawasan hutan lain,” katanya.
Setelah penanaman, Binaya juga lakukan monitoring untuk pastikan pertumbuhan tanaman ini.
Faldy ingin jadikan kawasan itu sebagai arboretum dengan koleksi aneka pohon langka yang bisa termanfaatkan untuk edu-ekowisata.
Apalagi, kawasan tersebut menjadi habitat aneka jenis satwa langka seperti lutung Jawa (Trachypithecus auratus), dan elang Jawa (Nisaetus bartelsi).
Selain keruing bunga, beberapa pohon langka dari Forum Pohon Langka Indonesia juga peserta tanam, seperti resak Jawa (Vatica javanica), sarangan (Castanopsis argentea), dan keruing gunung (Dipterocarpus retusus).
Rifqi Rahmad Hidayatullah, dosen Prodi Kehutanan Universitas Brawijaya (UB) menjelaskan, keruing bunga langka karena tingkat adaptasinya rendah dan aksi penebangan.
“Nah, pohon-pohon langka ini tingkat adaptasinya rendah. Hanya di tempat-tempat tertentu dan bentuk pohonnya bagus,” katanya.
Usaha konservasi, katanya, merupakan tanggung jawab moral untuk membantu agar keberadaannya tak punah.
Rifqi yang juga pembina Yayasan Binaya merencanakan mendirikan Kawi Conservation Initiative, meliputi seluruh area hutan lindung dan penyangganya. Juga mengidentifikasi potensi floral faunanya.
Dia ingin meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui program-program pemberdayaan.
Selain Coban Baung, aksi tanam pohon langka di Malang juga berlangsung di Pujon Hill, Kabupaten Malang. Mereka tanam 1.018 pohon. Terdiri dari 18 jenis pohon langka dan 1.000 bibit pohon pinus (Pinus merkusii Jungh. Et deVries), jabon (Anthocephalus cadamba Miq.), dan Eucalyptus.
Febri Arif Cahyo Wibowo, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) kawasan hutan pendidikan Pujon Hill Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sekaligus Kaprodi Kehutanan UMM menuturkan, mereka akan memantau setiap pekan dua kali. Setelah stabil, pengecekan berlangsung sebulan dua kali.
Pujon Hill seluas 80 hektar sejak 2014, dan aktif sejak lima tahun lalu. Pujon Hill menjaga plasma nutfa dan melakukan konservasi pohon langka serta edukasi. Sekaligus mendukung usaha konservasi air, seperti menanam bambu di dekat sumber air.
“Menjadi tempat praktikum konservasi hutan, penelitian, pengabdian masyarakat dan jasa lingkungan,” katanya.

Prioritas utama
Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI) menginisiasi pelestarian pohon langka sejak 2017. Mereka aktif berdiskusi, meneliti, mendata, dan mengeksplorasi pohon langka terkini.
Mokhamad Nur Zaman, Sekretaris FPLI sekaligus koordinator program menanam pohon langka menjelaskan pada 2019, FPLI menetapkan 12 jenis pohon langka prioritas nasional.
Prioritas utama antara lain resak Brebes (Vatica javanica subsp. javanica) endemik Jawa bagian barat, pelahlar (Dipterocarpus littoralis) endemik Nusakambangan, kokoleceran (Vatica bantamensis) endemik Jawa bagian barat, dan lagan bras (Dipterocarpus cinereus).
Zaman menyebut, faktor penyebab pohon langka, terjadi karena gangguan alam, dan aktivitas manusia.
Secara alamiah beberapa pohon mengalami regenerasi yang lambat. Saat penyemaian gagal tumbuh. “Seleksi alam, kompetisi, dan sebagainya,” katanya.
Sedangkan beberapa jenis menjadi target penebangan, misal, untuk perahu, bahan bangunan, dan mebeler karena berkualitas baik. Selain itu, sekitar 71% ancaman berasal dari alih fungsi lahan, dan deforestasi.
FPLI juga melakukan konservasi pohon langka di kawasan atau habitat asli atau in situ dan di luar habitat atau ex situ. FPLI banyak bermitra dengan perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, kelompok tani dan komunitas untuk membuat pembibitan pohon langka.
“Jadi lokasi yang dipilih memang yang memungkinkan bisa merawatnya,” katanya.
Gerakan menanam pohon langka ini melibatkan 58 lembaga kolaborator dan menanam di 48 titik. Ditanam sekitar 35 jenis pohon langka, sebanyak 960 individu bibit. Kegiatan untuk peringati Hari Pohon Sedunia pada 21 November dan Hari Menanam Nasional 28 November.
FPLI mendorong aktivitas dan gerakan menanam pohon memprioritaskan jenis pohon lokal dan asli Indonesia. Kehilangan varietas pohon, katanya, akan berdampak berkurangnya keberagaman.

Pada 2025, sebanyak 7.144 jenis tumbuhan yang dinilai, 1.576 tumbuhan terancam punah. Sebaran tumbuhan dengan ancaman kepunahan tertinggi berada di Kalimantan, kemudian Sumatera, Papua, Sulawesi, Maluku dan Jawa.
Setiap tahun, pohon terancam punah terus bertambah. Bahkan pada 2007, IUCN menempatkan lagan bras (Dipterocarpus cinereus Sloota) pohon punah dan dua jenis punah di alam yakni mangga kasturi (Mangifera casturi Kosterm) dan Amomum sumatranum.
“Jenis pohon yang terancam punah mencapai 22%. Angka ini menyedihkan kami.”
*****