- Persoalan kehidupan gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) tidak hanya berkutat pada perburuan, hilangnya habitat, dan deforestasi, tetapi juga penyakit mematikan yang menyerang gajah muda.
- Elephant Endotheliotropic Herpes Virus-Hemorrhagic Diseases (EEHV-HD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus herpes, yang sejauh ini merenggut nyawa 13 anak gajah.
- Para peneliti berupaya mengembangkan vaksin untuk virus ini, dan uji coba pada gajah dewasa menunjukkan hasil yang dinginkan dengan tidak ada efek samping.
- Membentuk Satuan Tugas EEHV-HD penting untuk merumuskan peta jalan dan perencanaan perawatan darurat, serta mendeteksi kondisi kesehatan gajah sumatera keseluruhan.
Upaya konservasi gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang masih bergelut dengan perburuan, hilangnya habitat, dan deforestasi, mendapat tekanan baru dari penyakit mematikan yang menyerang gajah muda.
Para peneliti menyebutnya Elephant Endotheliotropic Herpes Virus-Hemorrhagic Diseases (EEHV-HD). Penyakit ini disebabkan virus herpes, yang dapat merenggut nyawa gajah usia 1-8 tahun.
“Setelah gejala awal, kematian dapat terjadi dalam waktu 12 jam hingga 4 hari,” kata Christopher Stremme, dokter hewan dari Komunitas Hutan untuk Sumatera (KHS), dalam webinar “Menggali Potensi Vaksin EEHV di Indonesia: Landasan Ilmiah dan Strategi Kesiapan Masa Depan untuk Gajah Sumatera”, kolaborasi Mongabay Indonesia dan For Gajah Rahman, Rabu (3/12/2025).
Ada kemungkinan, populasi gajah membawa infeksi laten. Sebab, EEHV secara alami sudah berevolusi sejak jutaan tahun lalu pada populasi gajah liar dan di penangkaran. Sejauh ini, delapan jenis telah diidentifikasi. Empat (sub) tipe secara alami telah menjangkiti gajah Asia, sementara jenis lainnya menginfeksi gajah Afrika.
Christopher mengatakan, terkadang penyakit ini sulit dideteksi. Pada gajah dewasa, gejala klinis atau subklinis sangat ringan dan tidak spesifik. Seperti lesi/benjolan kecil dan lepuh pada mukosa mulut dan vulva.
“Diagnosis laboratorium (PCR/qPCR) sangat penting dilakukan untuk membedakannya dari penyakit hemoragik (pendarahan) lainnya.”
Penyakit ini dapat sangat mematikan pada gajah muda, termasuk kerusakan pada lapisan pembuluh darah kecil (endotelium), terutama kapiler. Dampaknya, menyebabkan kebocoran pembuluh darah yang berujung pada menurunnya kinerja jantung.
“Gajah akhirnya mati karena syok,” lanjut Christopher.

Pembicara lain, Adin Priadi memaparkan, dari 58 sampel yang diterima sepanjang 2015-2025, total kematian anak gajah yang terkonfirmasi positif EEHV–HD di Indonesia sebanyak 13 kasus. Semuanya, berasal dari penangkaran.
“Kasus positif terbanyak dari Sumatera (10 kasus) dan 3 kasus di Jawa (semuanya dari kebun binatang di Jawa Timur),” kata Adin Priadi, peneliti sekaligus Quality Assurance Official di Laboratorium Medika Satwa–leading laboratory (rujukan utama) untuk diagnosis EEHV–HD di Indonesia.
EEHV hanya dapat ditularkan antar-gajah jika virus diaktifkan (viremia) dan dilepaskan (shed) selama atau segera setelah viremia. Virus menyebar melalui sekresi mukosa yang meliputi air liur, ASI, serta sekresi hidung dan vagina.
“Viremia (aktivasi virus) EEHV dapat disebabkan stres, sakit, kelelahan, dan peristiwa apa pun yang berpotensi menantang sistem kekebalan gajah,” lanjut Christopher.
Penting untuk dicatat, sejauh ini belum ada bukti gajah liar yang terkena penyakit ini, sehingga manajemen kesehatan gajah di penangkaran sangat penting.
“Data menunjukkan, penurunan populasi gajah penangkaran yang signifikan terus terjadi akibat masalah kesehatan non-EEHV seperti sepsis, gagal ginjal kronis, infestasi parasit, serta kualitas pakan dan air yang buruk.”
Untuk penanganan, respons secepat mungkin (infus cairan, terapi suportif, dan pemberian antivirus) merupakan kunci keberhasilan.
Paling krusial adalah pencegahan melalui latihan terstruktur pada anak gajah sejak usia dini (3-4 bulan) agar mereka terbiasa dengan prosedur medis rutin, seperti pengambilan darah, auskultasi jantung, dan pemeriksaan mukosa.
“Tanpa kesiapan ini, deteksi dini oleh mahout/keeper, serta pelaksanaan pengobatan tidak akan efektif,” kata Christopher.
Pengembangan vaksin
Para peneliti terus berupaya mengembangkan vaksin untuk penyakit ini. Bukan untuk membasmi, tapi mengendalikan.
“Vaksin bukanlah solusi utama untuk masalah penyakit menular. Vaksin adalah alat pelengkap untuk mengendalikan,” kata Falko Steinbach, Profesor Imunilogi Veteriner, UK Animal and Plant Health Agency (APHA), Universitas Surrey.
Pengendalian EEHV dibagi tiga pilar, yakni diagnosis, penanggulangan infeksi, dan pengendalian wabah. Saat ini, opsi untuk mengelola penyakit klinis (pengobatan) sangat terbatas, karena sebagian besar antivirus yang ada tidak efektif melawan EEHV.
Tujuan utama vaksin untuk meningkatkan sistem imun, sehingga dapat mencegah penyakit parah dan kematian gajah muda. Ini termasuk meningkatkan kekebalan tubuh bawaan, serta melindungi sel di sekitarnya dari infeksi.
“Waktu adalah segalanya di sini. Interferon ini perlu diberikan lebih awal pada gejala klinis pertama dan tidak setelahnya,” kata Falko.

Dalam proses pengembangan vaksin ini, para peneliti ingin mendapatkan apa yang secara teknis disebut sebagai kekebalan tipe TH1.
“Ini adalah jenis kekebalan yang menghasilkan sel T, mereka membunuh sel yang terinfeksi secara langsung. Kami tahu bahwa sel ini sangat penting untuk infeksi virus herpes.”
Sejauh ini, uji coba awal pada gajah dewasa menunjukkan profil keamanan sangat baik, dengan zero side effect baik lokal maupun umum (fase satu). Namun, masih membutuhkan kerja lebih lanjut.
“Fase dua dan tiga akan menguji vaksin ini pada gajah lebih muda, yang dapat dilakukan paralel untuk menyediakannya di negara jangkauan. Terutama, wilayah paling penting seperti Sumatera,” kata Falko.
Adin Priadi mengatakan, meskipun fasilitas dan laboratorium siap untuk kolaborasi diagnostik dan penelitian, namun ada dua tantangan besar terkait pengembangan vaksin.
Ini termasuk, sulitnya memastikan kondisi lapangan steril untuk uji coba klinis, serta kebutuhan mematuhi peraturan etik ketat dari Departemen Pertanian Indonesia. Terutama, jika vaksin tersebut merupakan virus rekombinan.
“Untuk non-komersil, kami melakukan pemeriksaan gratis, misalnya bagi gajah di penangkaran,” kata Adin.

Harapan dan tantangan
Muhammad Wahyu, menyuarakan perlunya membentuk EEHV Taskforce (Satuan Tugas EEHV-HD) di Sumatera, yang mirip di Thailand, untuk merumuskan peta jalan dan perencanaan perawatan darurat.
“Satgas itu merupakan impian kita bersama,” terang dokter hewan dari Yayasan Ganesha Aksara; Veterinary Society for Sumatran Wildlife Conservation (VESSWIC).
Satgas dapat dibentuk dengan memberdayakan dokter hewan (gajah) yang bekerja di pusat latihan gajah (PLG) di Sumatera, guna memastikan penanganan kasus yang intensif dan kolaboratif.
Para dokter dikelompokkan menjadi tiga zona pengelolaan, yakni (1) Aceh dan Sumut, (2) Riau, Jambi, dan Sumatera Barat, dan (3) Lampung, Sumatera Selatan, dan Bengkulu.
Namun dalam praktiknya, upaya ini memliki sejumlah tantangan. Misal, akses ke lokasi gajah yang tersebar di Sumatera membutuhkan waktu 3 hingga 8 jam, sementara kematian EEHV-HD sering terjadi dalam rentang 7 hingga 36 jam setelah onset.
“Keahlian, peralatan, dan perawatan menjadi harga yang mahal,” terang Wahyu.
Perawatan yang efektif bergantung pada deteksi dini dan tindakan cepat. Sejauh ini (hingga 2025), kasus yang terkonfirmasi Laboratorium Medika Satwa merupakan sampel gajah mati. Selain itu, data viremia awal yang penting untuk memandu perawatan intensif (seperti menyesuaikan dosis plasma konvalesen dan asiklovir), masih belum tersedia.
Perawatan EEHV juga membutuhkan biaya sangat tinggi, diperkirakan mencapai Rp150 juta per kasus gajah, hanya untuk obat-obatan. Untuk itu, pemberdayaan mahout sangat penting karena mereka yang pertama melihat sekaligus melaporkan perubahan perilaku dan gejala awal gajah.
“Initinya, siap siaga untuk protokol dan deteksi dini. Ini tidak hanya untuk mendeteksi EEHV, tetapi juga penting untuk memantau kondisi kesehatan gajah keseluruhan. Semuanya, harus dibarengai data yang mendukung,” tegas Wahyu.
Sebagai informasi, mengutip Daftar Merah IUCN, sejak 2011, gajah sumatera berstatus Kritis (Critically Endangered). Populasinya diperkirakan 1.700–2.400 individu. Lebih dari 69 persen habitat potensialnya hilang akibat deforestasi, perkebunan, dan pembangunan infrastruktur.
*****
Kisah Gajah Sumatera: Liputan Jurnalistik Mongabay Indonesia