Buku : Kisah Gajah Sumatera: Liputan Jurnalistik Mongabay Indonesia Penulis : Mongabay Indonesia Tebal : 295 + X Halaman Romawi Penerbit : Yayasan Rekam Jejak Alam Nusantara – Mongabay Indonesia Tahun Terbit : Januari 2025 ISBN : ISBN 978-623-94909-7-3
Hubungan gajah dengan masyarakat Indonesia, sudah berlangsung sejak ribuan tahun lalu. Diperkirakan sejak masa prasejarah. Gajah yang hidup di Nusantara adalah gajah asia, satu spesies gajah yang tersisa di Bumi, selain gajah afrika.
Awalnya, di masa zaman es terakhir atau saat daratan Sundaland masih menyatu, gajah menyebar di Asia Tenggara. Tapi ketika air laut naik (kisaran 40 meter), gajah bergerak ke dataran tinggi yang membentuk pulau, seperti Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, dan Pulau Jawa. Selanjutnya, hadirlah subspesies gajah asia, yakni gajah sumatera, gajah borneo, dan gajah jawa, meskipun hingga saat ini keberadaan gajah jawa masih “diperdebatkan” para peneliti.

Bagaimana hubungan atau relasi selama ribuan tahun antara manusia dengan gajah di Indonesia?
Buku berjudul “Kisah Gajah Sumatera: Liputan Jurnalistik Mongabay Indonesia” yang diterbitkan Yayasan Rekam Jejak Alam Nusantara dengan Mongabay Indonesia, coba menjawab pertanyaan tersebut.
Secara garis besar, beranjak dari 44 artikel yang ditulis 13 jurnalis dengan beragam tema, mulai sosial, antropologi, sejarah, arkeologi, biologi, kehutanan, pengelolaan tata ruang, menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan gajah mengalami tiga fase.
Pertama, saling menghormati. Ini berlangsung pada masa prasejarah. Kedua, saling menguntungkan, berlangsung di masa klasik. Ketiga, saling meniadakan, terjadi mulai abad pertengahan hingga hari ini.
Gambaran tersebut tentu saja butuh kajian mendalam. Akan tetapi, buku ini telah memberi gambaran seperti yang dikatakan Yusuf Bahtimi, kandidat doktor di The Queen’s College, University of Oxford, Inggris, yang tengah menyelesaikan kajian mengenai koeksistensi manusia dan gajah di Sumatera Selatan.
“Sejarah peradaban manusia di Pulau Sumatera, tidak terlepas dengan keberadaan gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus). Beberapa literasi dari masa lalu membuktikan hal tersebut,” terang Yusuf.

Para jurnalis melalui artikelnya di buku ini, berupaya mengungkap fakta-fakta yang ada. Setiap pembaca bebas menarik benang merah dan membuat simpulan dari fakta-fakta tersebut.
“Buku ini bukanlah buku sains dan literasi an sich tentang gajah yang telah banyak diurai dan ditulis para pakar. Namun, mencoba lebih berorientasi ontologis, tentang apa dan arti penting keberadaan spesies gajah dalam ekosistem,” tulis Ridzki R Sigit, Direktur Program Mongabay Indonesia, dalam pengantar buku.
Dijelaskan Ridzki, para jurnalis penulis buku berangkat dari pemahaman multidimensi tentang keberadaan gajah, serta arti penting eksistensinya dalam kehidupan manusia. Dalam praktiknya, para penulis turun lapangan, melakukan observasi, hingga wawancara dengan orang-orang yang bersentuhan dengan keberadaan gajah, lalu menulisnya.

Buku setebal 295 halaman ini bukan hanya mengisahkan gajah sumatera, tapi juga gajah borneo dan gajah jawa. Khusus kisah gajah sumatera, dimulai dari Aceh, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Lampung. Lokusnya, dari dataran tinggi hingga dataran rendah, serta bukan hanya wilayah konservasi, juga kawasan hutan industri, perkebunan dan permukiman masyarakat, situs arkeologi, kebun binatang, dan lainnya.
Tercatat puluhan narasumber sebagai sumber informasi. Mulai petani, tokoh adat, peneliti gajah, pegiat lingkungan hidup, arkeolog, antropolog, sejarawan, akademisi, pawang gajah, balai konservasi, aparat penegak hukum, kepala daerah, dan lainnya. Serta, kutipan hasil penelitian atau jurnal, buku, maupun arsip sejarah, sebagai rujukan.
Akankah gajah kembali menjadi bagian dalam kehidupan kita? Sebagaimana banyak wilayah di Sumatera yang ada nama gajahnya. Di Pidie, Aceh, ada nama Desa Pulo Gajah Mate. Di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, ada wilayah bernama Desa Lebung Gajah. Di Riau, ada Desa Gajah Sakti dan Desa Lubuk Mandian Gajah. Di Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, ada Desa Pematang Gajah. Di Bengkulu, ada Desa Gajah Makmur dan Desa Renah Gajah Mati. Sementara di Lampung, ada Desa Kota Gajah.
Atau, sebagaimana pada masa Kerajaan Aceh, gajah yang begitu dimuliakan sebagai kendaraan dan simbol kebesaran kerajaan. Gajah Po Meurah, sebagai kendaraan kebanggaan Sultan Iskandar Muda. Juga, pada masa Kerajaan Sriwijaya yang menjadikan gajah sebagai simbol kekuasaan seorang raja atau kerajaan.

Harapannya, buku ini dapat menjadi album nilai-nilai luhur dan cakrawala berpikir kita tentang hubungan manusia dengan satwa, khususnya gajah. Menjadi bahan renungan dan diskusi berkualitas, sebagai upaya pemajuan ilmu pengetahuan dan dunia konservasi Indonesia yang berkelanjutan.
Silakan unduh buku “Kisah Gajah Sumatera” di tautan ini.
*****
Lampung dan Masa Depan Sumatera: Catatan Menjaga “Kemerdekaan” Alam Indonesia