- Kemunculan macan tutul jawa (Panthera pardus melas) ke permukiman warga tidak jarang berakhir dengan penangkapan.
- Data pemetaan Java-Wide Leopard Survey (JWLS) tahun 2025 menunjukkan, populasi macan tutul sekitar 300–350 individu yang tersebar pada 29 kantong habitat di Jawa.
- Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Cikananga, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, merupakan lembaga konservasi khusus yang merawat macan tutul terdampak konflik. Terbaru, PPS Cikananga merawat macan tutul bernama Saka yang dievakuasi dari kompleks Hotel Anugerah, Jalan Padasaluyu, Kelurahan Isola, Kecamatan Sukasari, Kota Bandung, Jawa Barat, awal Oktober 2025 lalu.
- Sejak 2001, Cikananga telah menampung 15 macan tutul. Dua individu telah dilepasliarkan di Taman Nasional Gunung Halimun Salak dan Taman Nasional Gunung Ciremai.
Kasus kemunculan macan tutul jawa (Panthera pardus melas) ke permukiman warga tidak jarang berakhir dengan penangkapan. Menyempitnya habitat, hingga berkurangnya sumber pakan merupakan masalah utama yang dihadapi satwa liar dilindungi ini.
Data SINTAS Indonesia memperlihatkan, sejak 2015-2020 terjadi 70 konflik di seluruh Jawa yang hampir separuhnya berlangsung di Jawa bagian Barat. Sementara, data hasil pemetaan Java-Wide Leopard Survey (JWLS) tahun 2025 menunjukkan, populasi macan tutul sekitar 300–350 individu yang tersebar pada 29 kantong habitat di Jawa.
“Terbaru, kami menerima seekor macan tutul hasil evakuasi dari hotel kosong di Bandung,” kata Meidi Yanto, Manajer Konservasi In-Situ Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Cikananga, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (12/11/2025).

Di area seluas 15 hektar itu, Cikananga seperti ruang darurat bagi satwa. Tempat bagi individu-individu yang terjebak konflik, perdagangan ilegal, atau kehilangan habitatnya. Saat ini, ada sekitar 400 individu dari 60 spesies yang menjalani perawatan.
Sejak 2001, Cikananga telah merawat 15 macan tutul. Dua individu telah dilepasliarkan di Taman Nasional Gunung Halimun Salak dan Taman Nasional Gunung Ciremai. Sisanya, ada yang mati maupun tidak memungkinkan dikembalikan ke alam karena beragam faktor.
Meidi menuturkan, hampir 80% macan tutul yang dievakuasi merupakan jantan. Sebagian besar remaja/juvenil dengan kemampuan bertahan hidup belum matang. Paling muda, betina berumur tiga bulan, yang kehilangan induk karena perburuan.

Macan tutul terakhir yang diselamatkan itu bernama Saka.
“Tim medis kami masih mengidentifikasi kesehatannya, dengan tetap menjaga perilaku liarnya,” kata dia.
Saka bernasib baik. Tidak ada luka fisik dan ia pandai berkamuflase. Aktivitasnya di kandang habituasi semi alami, panjang 30 meter dan lebar 10 meter, nyaris tidak menunjukan pergerakan. Saat dilihat dari ketinggian 5 meter, tak ada raungan maupun dengusan.
Menurut Meidi, kondisi itu memang yang diharapkan. Pola kandang disesuaikan dengan hidupnya di hutan. Kandang dibuat beberapa zonasi seperti zona berburu, eksplorasi, hingga istirahat.
Meidi percaya, konservasi adalah memberi kesempatan bagi satwa untuk kembali ke alam. Dari kandang yang dibangun pada 2016 itu juga, lahir dua kisah pelepasliaran Wahyu dan Rasi.
“Kami terus belajar dari pengalaman, sehingga berupaya menciptakan fasilitas memadai. Termasuk, vegetasi di kandang.”

Saka muncul di kompleks Hotel Anugerah, Jalan Padasaluyu, Kelurahan Isola, Kecamatan Sukasari, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (6/10/2025). Tim gabungan dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bandung, mengevakuasi satwa liar tersebut hari itu juga. Tidak diketahui pasti, bagaimana satwa dilindungi ini masuk ke bangunan tersebut.
Agung Ganthar Kusumanto, peneliti macan jawa dari formata, kepada Mongabay sebelumnya mengatakan wilayah yang dimasuki macan itu area padat penduduk. Nyaris tidak ada tutupan hutan, hanya ada kebun, villa, dan perumahan.
“Ini menarik diteliti, dari mana individu ini berasal dan bagaimana bisa sampai ke kota,” terangnya, Senin (6/10/2025).
Agung menduga, macan mengikuti alur sungai. Hal yang tidak pernah dilakukan di habitat alaminya. Namun, instingnya menganggap sungai menjadi tempat paling aman untuk berkamuflase hingga berburu mangsa. Menurut Agung, kondisi macan tutul ketika dievakuasi dalam keadaan lapar.
“Di alam, pejantan muda seperti itu sedang belajar berburu sambil mencari teritori baru.”

Merawat kehidupan kedua
Anatasha Reza Widyantoro, Dokter Hewan PPS Cikananga, menjelaskan ketiadaan guideline membuat penanganan macan tutul bergantung pada pengalaman dari tiap kasus. Tim menilai langsung kondisi setiap satwa dan menyesuaikan langkah perawatan sesuai kebutuhan.
Setiap satwa yang dievakuasi, termasuk macan tutul, wajib menjalani karantina ketat sekitar 30 hari. Tahap ini untuk memastikan kondisi awal satwa, sekaligus memeriksa ulang riwayatnya, yang hampir selalu tidak jelas ketika pertama kali tiba.
Untuk macan tutul, pada proses evakuasi diawali dengan tindakan bius (sedasi). Setelah itu, tim medis mengambil sampel darah untuk diuji penyakit dan dikirim ke laboratorium, sambil melakukan pemeriksaan awal di fasilitas klinik internal. Prosedur ini mencakup pemeriksaan parasit luar (ektoparasit) dan parasit dalam (endoparasit) melalui tes feses.
“Kami juga mengukur tubuh, memasang mikrochip, dan memotret pola (pattern) untuk identifikasi,” jelasnya, Kamis (13/11/2025).

Kasus Saka mengungkap persoalan lebih dalam. Ia tiba dalam kondisi tersedasi. Normalnya, akan hilang 1 x 24 jam, namun ini berlangsung dua hari penuh.
“Saka butuh usaha lebih kuat untuk pulih,” terang Reza. Kondisi yang memicu kekhawatiran adanya penyakit internal atau overdose. Seluruh perhatian dipusatkan agar macan 3-4 tahun itu bisa bertahan.
Setelah masa kritis lewat, kondisi fisik Saka menunjukkan perbaikan signifikan. Berat badannya yang saat tiba sekitar 25 kilogram, kini 32 kilogram. Skor kondisi tubuh (Body Condition Score), yang mengukur proporsi tubuh, meningkat dari 2-2,5 ke 3,5 dari skala 5, yang menunjukkan kondisi baik.
“Sebagai pejantan muda, Saka ini kuat. Dia berhak menemukan kehidupan keduanya.”

Patah taring
Berdasarkan pemeriksaan medis, ada potensi yang menghambat pelepasliaran Saka. Kata Reza, nyaris seluruh empat gigi taringnya (kaninus) patah, hingga mengekspos saluran akar (open root canal). Kerusakan ini diduga, terjadi selama transportasi. Saka menggigit jeruji, karena efek sedasi hanya penenang dan bukan bius total.
Gigi taring yang terbuka akarnya, berisiko tinggi menyebabkan infeksi, penyakit, dan menghambat kemampuan berburu.
“Gigi taring sangat strategis bagi pejantan muda seperti Saka,” tutur Reza. Pihaknya juga tengah mencari bantuan untuk prosedur medis lanjutan.
Sejumlah penelitian biomekanik menegaskan bahwa taring merupakan struktur gigi paling vital bagi karnivora besar, termasuk macan tutul. Kajian Van Valkenburgh dan Ruff dalam Journal of Zoology (1987) menunjukkan bahwa kekuatan taring dirancang untuk memberi gigitan dalam pada bagian tubuh yang mematikan, saat menjatuhkan mangsa.
Temuan serupa dikemukakan Anyonge dalam Journal of Mammalogy (1996), yang menyimpulkan bahwa taring pada felidae menjadi alat utama untuk menghasilkan killing bite secara efisien. Kerusakan atau patahnya taring tidak sekadar membuat predator kesulitan makan, tetapi juga meningkatkan risiko infeksi dan menghilangkan kemampuan berburu.

Reza berpendapat, Saka belum fit untuk dirilis. Selama taring belum dipulihkan, potensi kembali ke alam liar minim. Melepasnya dalam kondisi sekarang hanya akan mengulang konflik.
“Kami berupaya dan optimis mulihkan Saka agar kembali ke hutan dan menjadi bagian ekosistem.”
Kisah Saka menuntun kita tentang membangun koridor satwa dan pentingnya mitigasi konflik. Tanpa itu semua, macan tutul akan selalu diposisikan sebagai ancaman di setiap perjumpaan dengan manusia.
Referensi:
Anyonge, W. (1996). Microwear on canines and killing behavior in large carnivores: saber function in Smilodon fatalis. Journal of Mammalogy, 77(4), 1059-1067. https://doi.org/10.2307/1382786
Valkenburgh, B. V., & Ruff, C. B. (1987). Canine tooth strength and killing behaviour in large carnivores. Journal of Zoology, 212(3), 379-397. https://zslpublications.onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1111/j.1469-7998.1987.tb02910.x
*****
Macan Tutul Masuk Hotel di Bandung, Individu yang Lepas dari Lembang Park and Zoo?