- Sebagai ikan terbesar di dunia, hiu paus (Rhincodon typus) memiliki banyak keistimewaan yang tak ada pada ikan lain. Sayangnya, di waktu yang sama, biota laut ini semakin rentan.
- Mochamad Iqbal Herwata Putra, Focal Species COnservation Manager Konservasi Indonesia katakan, saat ini, populasi global hiu paus terus menurun hingga 50%. Bahkan, perlu 100 tahun untuk memulihkannya.
- Riset antara tahun 2021-2025, mengidentifikasi lima wilayah populasi hiu paus di Indonesia. Yakni di Derawan dan Talisyan di Kalimantan Timur dengan 98 individu, Botubarani (Gorontalo) 45 individu, Teluk Saleh 159 individu, Teluk Cendrawasih (Papua Barat) 159 individu, dan Kaimana (Papua Barat) 95 individu. Penelitian juga temukan keberadaan paus di perairan Probolinggo di Jawa Timur (Jatim). Berapa jumlahnya belum teridentifikasi.
- Sepanjang 2011- 2023, tercatat ada 115 kejadian paus terdampar dengan melibatkan 127 individu di 23 provinsi. Setiap tahunnya tren kejadian terus meningkat dan tercatat mencapai dua kasus dalam setahun dengan Jawa Barat dan Jawa Timur sebagai lokasi terbanyak.
Sebagai ikan terbesar di dunia, hiu paus (Rhincodon typus) memiliki banyak keistimewaan yang tak ada pada ikan lain. Sayangnya, di waktu yang sama, biota laut ini makin rentan.
Mochamad Iqbal Herwata Putra, Focal Species COnservation Manager Konservasi Indonesia katakan, saat ini, populasi global hiu paus terus menurun hingga 50%. Bahkan, perlu 100 tahun untuk memulihkannya.
Hiu paus, adalah spesies payung (pelindung) dan flagship yang berperan menjaga keseimbangan rantai makanan, siklus nutrien, dan interaksi dengan spesies lain. Indonesia sudah memberikan perlindungan penuh sejak 2013 kepada hewan laut itu.
Keberadaan hiu paus di perairan Indonesia sangat penting karena menjadi simpul konektivitas utama subpopulasi besar Indo-pasifik.
Kawasan itu mencakup perairan Samudera Hindia Barat, Laut Arab, Asia Pasifik, Samudera Pasifik Timur, dan Subpopulasi Atlantik.
“Indonesia sudah memulai upaya konservasi terintegrasi dan terstruktur sejak 2021 melalui rencana aksi nasional,” katanya.
Menurut Iqbal, sejak lama perairan Indonesia menjadi daerah asuhan bagi paus sejak masih berukuran 1,5-3 meter hingga mencapai tahap dewasa dengan ukuran 8-9 meter.
Namun, studi terbaru ungkap ada paus ukuran neonatus (bulan pertama setelah kelahiran) dan juvenil (tahap awal pertumbuhan) kecil berukuran 80 sentimeter di perairan Teluk Saleh, Nusa Tenggara Barat.
Riset antara 2021-2025, mengidentifikasi lima wilayah populasi hiu paus di Indonesia, yakni, di Derawan dan Talisyan, Kalimantan Timur dengan 98 individu. Lalu, Botubarani (Gorontalo) 45 hiu, Teluk Saleh (159) , Teluk Cendrawasih (Papua Barat) ada 159 hiu, dan Kaimana (Papua Barat) 95 individu.
Penelitian juga temukan keberadaan paus di perairan Probolinggo di Jawa Timur (Jatim). Berapa jumlahnya belum teridentifikasi.
Aktivitas penangkapan ikan menjadi ancaman bagi paus karena bisa menjadikannya tangkapan sampingan (bycatch) atau tertabrak kapal. Polusi laut, pengeboran minyak dan gas, serta wisata tidak bertanggung jawab juga jadi ancaman berikutnya.
“Perubahan iklim juga,” tegasnya.

Perubahan iklim
Tingginya ancaman terhadap hiu paus bisa terlihat dari insiden terdampar yang cenderung fluktuatif sejak 2011.
Iqbal menyebut, Jawa Barat (Jabar) dan Jatim menjadi provinsi dengan kejadian hiu paus terdampar paling banyak setiap tahun.
Dalam setahun, kedua provinsi ini bisa terjadi 18 kasus dan berkontribusi paling besar seluruh kasus di Indonesia.
Sepanjang 2011- 2023, tercatat ada 115 kejadian dengan melibatkan 127 di 23 provinsi. Setiap tahun tren kejadian terus meningkat dan tercatat mencapai dua kasus dalam setahun.
“Saat terdampar, 45% masih hidup, sisanya mati segar.”
Iqbal mengatakan, titik utama lokasi tempat hiu paus terdampar ada di pesisir Selatan Jawa, mencakup Jatim, Jateng, Yogyakarta, dan Jabar. Namun, lokasi tempat kejadian massal dengan jumlah signifikan ada di Sulawesi Barat dan Nusa Tenggara Timur.
Di antara semua lokasi yang menjadi tempat kejadian terdampar hiu paus, pada 2023 tercatat berurutan di jalur Jawa Barat-Cilacap-Jawa Timur.
Sedang, lokasi yang tercatat secara sporadis, ada di jalur Cilacap-Parangtritis, dengan titik baru ada di Ngagelan (Banyuwangi, Jawa Timur), dan Yeh Kuning (Bali).
Menurut Iqbal, paus terdampar biasa karena faktor musim dan oseanografi. Termasuk, saat musim tenggara atau musim kemarau akibat angin muson tenggara yang tengah berlangsung. Atau saat peralihan musim yang diikuti perubahan cuaca tidak menentu dan sering kali berangin.
Selain itu, bisa juga terjadi saat upwelling atau fenomena oseanografi di mana air laut yang dingin, kaya nutrisi dari kedalaman naik ke permukaan; klorofil A meningkat; suhu permukaan laut menurun; dan terjadi gelombang tinggi.
Klorofil A adalah pigmen hijau utama pada tumbuhan, alga, dan sianobakteri yang berfungsi langsung dalam fotosintesis, yaitu proses mengubah energi cahaya menjadi energi kimia.
Penyebab lain, bisa juga karena by catch, terjebak di air dangkal, cuaca ekstrem, tertabrak kapal, dan plastik.
Kejadian di Kebumen, katanya, hiu paus yang terdampar terbukti mengalami indikasi keracunan logam berat dan senyawa racun.
Kejadian Kebumen membuktikan bahwa hiu paus terdampar karena air laut tercemar limbah tambak dan vegetasi juga beralih fungsi.
Karena itu, katanya, mitigasi mutlak sangat penting dengan memperketat perizinan, membuat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), hingga memonitor baku mutu.
Soal pariwisata, kata Iqbal juga turut jadi ancaman karena belum ada pengelolaan secara optimal hingga berisiko memicu pelanggaran kode etik wisata dan daya dukung kuota.

Reproduksi rendah
Fitri Hasibuan, Wakil Presiden Program Konservasi Indonesia menekankan pentingnya integrasi ilmu pengetahuan dan keterlibatan masyarakat dalam mendorong pelestarian paus.
Dia katakan, hiu paus di perairan Indonesia memiliki karakteristik biologis berbeda. Pertumbuhan lambat dengan fekunditas rendah, dan umur kematangan yang panjang.
Fekunditas adalah jumlah telur matang yang dihasilkan induk betina pada satu kali pemijahan atau total telur yang ada dalam ovariumnya. Itu berarti, fekunditas rendah adalah kemampuan reproduksi yang rendah.
Beberapa lokasi di Indonesia diakui dunia sudah menjadi titik penting agregasi hiu paus remaja yang bisa bebas melakukan migrasi dan mencari makan.
Lokasi-lokasi itu ada di Teluk Cendrawasih, Kaimana, Teluk Saleh, Gorontalo, Probolinggo, dan Derawan.
Baginya, fakta itu menegaskan bahwa perairan Indonesia sangat strategis sebagai habitat utama paus Indo-pasifik. Studi KI menunjukkan, 71% paus yang terdampar dan masih hidup bisa dilepasliarkan.
Penetapan RAN Konservasi Hiu Paus 2021–2025 melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 16 Tahun 2021. Sedang, Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) menetapkan paus ke dalam kelompok hewan berstatus terancam punah.
Sarmintohadi, Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kelautan dan Perikanan mengatakan, perlu tata kelola konservasi yang tepat dengan strategi yang lebih sistematis untuk selamatkan paus.
“Apalagi, hiu paus termasuk jenis ikan yang statusnya dilindungi penuh secara nasional yang masuk dalam daftar merah IUCN dan appendiks CITES.” .
Ada beberapa catatan sebagai upaya pelestarian paus. Selain penanganan kedaruratan pada paus terdampar, aktivitas wisata yang terus meningkat juga perlu jadi evaluasi. “Karena sampai sekarang aktivitas wisata masih berjalan tanpa dikelola dengan baik,” jelas Sarminto.
Situasi itu, katanya, berpotensi memicu risiko bagi kesehatan paus dan juga pengunjung. Padahal, tata kelola ini sudah diatur dalam Kepdirjen PRL No 20/2020 tentang Petunjuk Teknis Wisata Hiu Paus.
Menurut Sarminto, RAN 2026-2029 agar menjadi acuan standar pengelolaan wisata yang ramah satwa dan berkelanjutan, serta akan memprioritaskan penanganan kejadian terdampar.

Konservasi laut
Konservasi paus merupakan bagian dari konservasi laut secara umum. Indonesia sedang berusaha mewujudkan target perlindungan wilayah laut nasional minimal 30% pada 2045 dengan total luasan 97,5 juta hektar.
Saat ini, total luasan konservasi mencapai 14,4 juta hektar di 57 lokasi yang menjadikan hiu dan pari sebagai spesies kunci.
“Jika lingkungan sehat hiu paus sehat, maka masyarakat juga bisa mendapatkan manfaat dari pariwisata dan perikanan berkelanjutan,” kata Firdaus Agung, Direktur Konservasi Ekosistem KKP.
Selama ini, katanya, upaya mengkonservasi paus sudah selaras dengan komitmen Indonesia melindungi spesies dengan kemampuan migrasi jauh. Upaya itu dia yakini berkontribusi menjaga kesehatan ekosistem laut dan penguatan ekonomi biru.
*****