- Produksi dan konsumsi plastik makin meningkat dalam setiap dekade. Kini, plastik sudah menjadi industri besar, bersamaan dengan muncul masalah besar bagi lingkungan serta bahaya kesehatan kepada manusia di dunia, termasuk Indonesia. Untuk itu, perlu keseriusan menekan penggunaan plastik agar kondisi tak makin buruk.
- Yuyun Ismawati, Pendiri Nexus3 Foundation, mengatakan, Indonesia menduduki peringkat tertinggi dalam mengonsumsi mikro plastik di dunia, sebanyak 15 gram per kapita per bulan. Sisi lain, Pemerintah Indonesia terus-menerus menyampaikan konsumsi plastik per kapita Indonesia masih rendah, 22,5 kg per orang per tahun, jauh dari Amerika yang sampai 200 kg per orang per tahun.
- Bahan-bahan kimia plastik ini mempunyai dampak negatif bagi kesehatan, di antara, pada cara kerja hormon manusia, terutama pada hormon endokrin, berpengaruh negatif pada kesehatan reproduksi, dan pemicu kanker.
- Torry Kuswardono, Direktur Eksekutif PIKUL, menyebutkan, perilaku industri plastik ini punya hubungan langsung dengan krisis iklim karena bahan dasar pembuatan plastik dari fosil. Kontribusi industri plastik terhadap perubahan iklim sekitar 15%.
Produksi dan konsumsi plastik makin meningkat dalam setiap dekade. Kini, plastik sudah menjadi industri besar, bersamaan dengan muncul masalah besar bagi lingkungan serta bahaya kesehatan kepada manusia di dunia, termasuk Indonesia. Untuk itu, perlu keseriusan menekan penggunaan plastik agar kondisi tak makin buruk.
Yuyun Ismawati, Pendiri Nexus3 Foundation, mengatakan, Indonesia menduduki peringkat tertinggi dalam mengonsumsi mikro plastik di dunia, sebanyak 15 gram per kapita per bulan.
Sisi lain, Pemerintah Indonesia terus-menerus menyampaikan konsumsi plastik per kapita Indonesia masih rendah, 22,5 kg per orang per tahun, jauh dari Amerika yang sampai 200 kg per orang per tahun.
“Ini kemudian diandalkan sebagai industri unggulan Indonesia begitu. Ya, supaya kita bisa menyamai konsumsi plastik per kapita dengan negara maju?” katanya dalam webinar bertajuk Plastik Meracuni Bumi dan Manusia, belum lama ini.
Dia bilang, bahan-bahan kimia plastik ini mempunyai dampak negatif bagi kesehatan, di antara, pada cara kerja hormon manusia, terutama pada hormon endokrin, berpengaruh negatif pada kesehatan reproduksi, dan pemicu kanker.
“Pada 50 tahun terakhir sebetulnya ada penurunan tingkat fertilitas laki-laki sehingga dari perhitungan (peneliti), tahun 2045 kesehatan reproduksi laki-laki, fertilitasnya sperma laki-laki, akan menurun mendekati nol,” kata Yuyun.
Usaha-usaha untuk mengurangi sampah plastik, katanya, banyak tidak kalah berbahayanya, seperti pembakaran plastik atau daur ulang plastik sekalipun.
Dalam pembakaran plastik melalui tungku seperti PLTSa, asap yang timbul tidak kalah berbahaya. Asap dari pembakaran plastik itu begitu bahaya bagi kesehatan tubuh manusia, bahkan debu yang mungkin menempel di lantai atau kulit juga berbahaya, apalagi sampai masuk ke tubuh.
Proses daur ulang plastik dengan tambahan beberapa senyawa kimia baru kontradiksinya bisa lebih besar terhadap kesehatan tubuh dan akan terakumulasi terus menerus.
Menurut Yuyun, polusi plastik di daratan terdegradasi lebih lama daripada di lautan.
“Jadi, harus hati-hati. Kita jangan terlalu semangat mendukung ekonomi sirkular tanpa tahu apa itu kimia di dalam plastik.”
Dalam mengatasi masalah plastik ini, Yuyun merekomendasikan ada kontrol global yang mengikat secara hukum.
Dia juga dorong pengendalian dan pengurangan plastik mulai dari tingkat atas sampai bawah, dari produsen sampai konsumen.
Kalau ingin menerapkan ekonomi sirkular dalam industri plastik, katanya, maka harus bebas racun.
“Yang penting lagi adalah ada … transparency and traceability dari kimia di dalam produk, dan kapasitas dari sektor kesehatan ini harus kita tingkatkan.”
Jika tidak demikian, maka akan berdampak pada anggaran BPJS, bisa-bisa jebol.

Bahaya nyata kesehatan
Sejak penggunaan plastik pada pertengahan abad 20 (1950) sampai seperempat pertama abad 21, penggunaan plastik meningkat drastis.
“Sejak 2010, pertumbuhan produksi plastik dan bahan kimia ini naik sangat pesat sampai dengan empat kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, ya, dibandingkan tahun 1950,” kata Yuyun.
Dalam plastik terdapat banyak senyawa kimia berbahaya bagi tubuh, dan senyawa kimia ini selalu bertambah setiap saat.
Setidaknya, terdapat sembilan senyawa kimia paling berbahaya dalam plastik, terutama bagi kesehatan dan lingkungan, yaitu, alkylphenols, benzotriazole ultraviolet (UV), bisphenols, chlorinated paraffins, polyaromatic hydrocarbons (PAHs), phthalates, per- and polyfluoroalkyl substances (PFAS).
Bisphenols disebut-sebut sebagai the everyone’s chemicals karena ada di badan setiap orang. Phthalates disebut sebagai the everywere chemicals karena senyawa ini selalu ada dimana saja.
Sedangkan per- and polyfluoroalkyl substances (PFAS) sebagai the forever chemicals karena merupakan senyawa kimia yang sulit terurai.
“Dalam baju anak-anak, di dalam hijab, ada hijab tahan air gitu, itu PFAS-nya paling tinggi,” jelas Yuyun.
Dia bilang, para ilmuwan memprediksi, penggunaan plastik dalam 50 tahun ke depan akan lebih parah. Sisi lain, senyawa kimia baru selalu bertambah setiap tahun seiring produksi plastik.
Berdasarkan berbagai penelitian yang Yuyun telusuri, dalam setiap tahun terdapat tak kurang 2.000 senyawa kimia baru (novel entity) dalam pembuatan plastik. Studi terbaru menunjukkan, saat ini ada sekitar 16.000 senyawa kimia dalam proses pembuatan plastik.
“Dari sekitar 16.000-an (senyawa kimia) itu, baru 1% saja yang … diperiksa atau diamati tingkat bahayanya. Hanya sekitar 1% yang sudah masuk di dalam konvensi-konvensi yang ada sekarang, mulai dari Montreal Protocol, Minamata Convention, juga Stockholm Convention. Jadi, hanya 1% dari bahan kimia ini sudah diatur dan 99% sebetulnya out of control atau tidak diatur,” kata Yuyun.

Picu krisis iklim
Torry Kuswardono, Direktur Eksekutif PIKUL, menyebutkan, perilaku industri plastik ini punya hubungan langsung dengan krisis iklim karena bahan dasar pembuatan plastik dari fosil.
Dia bilang, kontribusi industri plastik terhadap perubahan iklim sekitar 15%.
“itu diduga akan terus naik,” katany.a
Selama ini, berbagai perjanjian perubahan iklim, upaya-upaya peralihan penggunaan energi fosil ke energi terbarukan, tidak membuat pengurangan konsumsi minyak bumi karena yang terjadi adalah peralihan energi fosil ke barang konsumsi, seperti plastik.
Tambang dari fosil tetap tereksploitasi. Perusahaan-perusahaan minyak tetap beroperasi, namun mengalihkan proyek, bukan lagi untuk bahan bakar tetapi bahan baku produk.
“Proyeksinya memang penggunaan plastik, itu diproyeksikan semakin lama semakin tinggi,” kata Torry.
Sedangkan emisi gas rumah kaca di industri perminyakan, katanya, itu ada di semua titik, mulai fase ekstraksi sampai penyulingan.
“Semua titik penggunaan … plastik mulai dari produksi sampai jadi limbah. Itu semua menghasilkan emisi dan berkontribusi pada pemanasan global.”
Masalah lain, tak semua plastik bisa terdaur ulang untuk jadi barang tertentu karena konstruksi untuk sekali pakai.
Pengurangan penggunaan plastik, kata Torry. harus dari hulu sampai hilir.
“Percuma bila di tingkat konsumen diadakan daur ulang tetapi produksi plastik terus dilakukan.”
Sampah plastik, yang bisa terdaur ulang sejauh ini hanya 9%, 91% tidak bisa. Belum lagi, penguraian tak sempurna dari sampah plastik bisa menjadi racun berbahaya.
Sejauh ini, kecepatan daur ulang plastik tidak berbanding lurus dengan kecepatan konsumsi plastik.
Mau beralih ke bahan baku pembuatan plastik lain pun punya masalah sendiri, semisal beralih ke bahan baku nabati seperti singkong, perlu pasokan sangat banyak untuk memenuhi pola konsumsi.
“Jadi, substitusi bukan jalan. Hanya bisa mengatasi sebagian, tetapi harus ada sebuah sesuatu yang lain.”
Bagi Torry, perlu ada transformasi menyeluruh, baik pola konsumsi maupun pola industri plastik.
Ahmad Arif, jurnalis Kompas yang konsern isu sampah plastik mengatakan, Indonesia berada dalam posisi paradoks. Satu sisi, Indonesia menjadi salah satu penyumbang pencemaran plastik di dunia, terutama di perairan.
Sisi lain, Indonesia juga pengonsumsi mikro plastik tinggi, sampai-sampai mikro plastik ada dalam tubuh ikan laut dan dalam darah manusia. Sayangnya, Indonesia malah punya kecenderungan menjadi produsen plastik.
Dia bilang, dalam melihat masalah plastik bukan hanya polutan terhadap lingkungan dan manusia juga jejak karbon. Sekitar 90% bahan dasar pembuatan plastik dari bahan bakar fosil, minyak bumi, gas, yang diekstraksi.
Makin tinggi produksi plastik, katanya, emisi lepas juga akan makin tinggi hingga berdampak pada iklim.
Arif tidak percaya, pengelolaan sampah mampu menyelesaikan masalah plastik di Indonesia bila produksi makin tinggi. Dia pun pesimis, Indonesia mampu mencapai nol sampah pada 2040 tanpa ada pembatasan jelas produksi plastik.

*****
Sampah Plastik Mencemari Indonesia, Produsen Harus Bertanggung Jawab