- Pencemaran pesisir dan pantai utara Jawa seperti di Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, berdampak multi bagi masyarakat nelayan maupun keanekaragaman hayati. Nelayan makin sulit menghadapi pencemaran laut hingga tangkapan ikan terus merosot. Biota laut seperti hiu paus pun terganggu ketika terdampar di perairan ini, seperti yang terjadi September lalu. Satu hiu paus mati tersangkut.
- Perairan Muara Gembong, tidak pernah luput dari masalah limbah domestik dan industri yang terbawa sungai-sungai besar, terutama Cikarang Bekasi Laut (CBL) dan Banjir Kanal Timur (BKT). Air berwarna hitam pekat, berbau got, dan sudah mencemari hasil laut.
- Andhika Prima Prasetyo, Peneliti Ahli Madya, Pusat Riset Zoologi Terapan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengatakan, kemungkinan besar hiu paus itu terjebak ketika sedang memanfaatkan konsentrasi plankton dan udang kecil yang berkumpul di sekitar alat tangkap nelayan.
- Selama 13 tahun terakhir, catatan kematian hiu paus di Indonesia kerap terpicu tiga faktor utama, yakni, bycatch, pencemaran laut, dan tabrakan kapal.
Pencemaran pesisir dan pantai utara Jawa seperti di Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, berdampak multi bagi masyarakat nelayan maupun keanekaragaman hayati. Nelayan makin sulit menghadapi pencemaran laut hingga tangkapan ikan terus merosot. Biota laut seperti hiu paus pun terganggu ketika terdampar di perairan ini, seperti yang terjadi September lalu. Satu hiu paus mati tersangkut.
Rohani, nelayan Desa Pantai Bahagia, yang tengah menyisir hasil tangkapan dengan alat tradisional, mendapati satwa raksasa itu lalu menarik ke darat.
Peristiwa ini sontak menjadi pusat perhatian warga. Menurut mereka, kejadian serupa sudah tiga kali terjadi dalam 10 tahun terakhir.
Ahmad Qurtubi, Sekretaris Desa Pantai Bahagia, mengatakan, hiu paus (Rhincodon typus) itu memiliki bobot sekitar satu ton dengan panjang empat meter. Kondisi masih utuh, tanpa luka.
“Hiu itu ditemukan saat nelayan selesai melaut. Dalam perjalanan pulang, mereka mendapati jaring tersangkut. Saat ditarik ramai-ramai, ternyata hiu tutul. Posisi memang sudah mati,” katanya, awal Oktober lalu.
Meski penyebab kematian belum pasti, Qurtubi bilang, sehari sebelumnya hiu paus itu tampak lemas di perairan kurang dari satu mil dari pantai.
Dia duga, satwa dilindungi ini tidak kuat berenang di laut yang sudah tercemar limbah dan sampah, hingga mengalami disorientasi.
Perairan Muara Gembong, katanya, tidak pernah luput dari masalah limbah domestik dan industri yang terbawa sungai-sungai besar, terutama Cikarang Bekasi Laut (CBL) dan Banjir Kanal Timur (BKT).
Air berwarna hitam pekat, berbau got, dan sudah mencemari hasil laut.
Bagi nelayan, pencemaran bukan hanya meracuni biota laut, juga menjadi bencana sehari-hari. Saat banjir rob maupun musim hujan, tumpukan sampah bisa mencapai 50–70 cm di sepanjang pantai.
Nelayan pun harus ekstra kerja keras membersihkan jalur perahu sebelum bisa melaut.
Meski berada dalam tekanan ekonomi, warga menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan termasuk satwa. Mereka secara swadaya dan gotong royong menguburkan bangkai hiu paus di pantai.
Setidaknya ada 3.300 keluarga di Desa Pantai Bahagia merupakan nelayan tangkap dengan pendapatan rata-rata hanya Rp50.000 per hari.
“Kami memang menghadapi masalah berat soal penghidupan di laut, tapi bukan berarti kami tidak patuh pada aturan,” katanya.

Indikator lingkungan
Andhika Prima Prasetyo, Peneliti Ahli Madya, Pusat Riset Zoologi Terapan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengatakan, kemungkinan besar hiu paus itu terjebak ketika sedang memanfaatkan konsentrasi plankton dan udang kecil yang berkumpul di sekitar alat tangkap nelayan.
Sebagai penyaring makanan (filter feeder), hiu paus mudah tertarik pada “makanan gratis” yang menumpuk di bawah bagan. Saat mendekat, ia bisa terperangkap dan kesulitan kembali ke laut lepas.
Meski penyebab kematian tidak langsung terkait kondisi kesehatan karena ketiadaan proses nekropsi, berbagai penelitian menunjukkan ancaman serius lain.
Dalam sejumlah kasus, katanya, hiu paus yang terdampar telah menelan sampah plastik dalam jumlah besar.
Plastik itu menimbulkan kondisi “kenyang semu,” dimana satwa merasa kenyang tetapi tidak memperoleh nutrisi dan akhirnya mati karena kelaparan.
Selain plastik, pada beberapa hiu paus juga ada tumor di bagian mulut. Dugaan sementara, tumor berkaitan dengan paparan zat berbahaya dari polusi daratan.
“Boleh jadi ini menunjukkan pencemaran pesisir membawa konsekuensi serius terhadap kesehatan satwa laut,” kata Andhika.
Namun, katanya, penelitian lebih lanjut masih terbatas. Dokter hewan akuatik minim dan prosedur izin rumit untuk melakukan nekropsi membuat banyak kasus hiu paus tidak bisa ada autopsi. Dampaknya, penyebab pasti penyakit maupun kematian sulit dipastikan.
“Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Apakah tumor memengaruhi kemampuan mereka mencari makan, atau bahkan siklus hidupnya secara keseluruhan?”
Andhika juga menyoroti faktor lingkungan lain, seperti, limpahan nutrisi dari tambak kerap menyuburkan perairan dangkal, memancing rebon dan udang kecil dalam jumlah besar.
Kondisi ini, secara tidak langsung memikat hiu paus, yang seharusnya mencari makan di perairan bebas yang miskin nutrien.
Masuknya satwa ini ke pesisir tercemar, menjadi tanda bahwa perubahan ekosistem mendistorsi perilaku alami hiu paus.

Siklus terdampar
Menurut Iqbal Herwata, Focal Species Conservation Senior Manager di Konservasi Indonesia, hiu paus di perairan utara Jawa sebetulnya bukan hal mengejutkan.
Hiu paus merupakan spesies kosmopolitan yang menyebar di berbagai samudra, dan utara Jawa merupakan salah satu koridor pergerakan mereka.
“Melalui penelitian tagging, kami pernah merekam pergerakan hiu paus dari Teluk Saleh, Sumbawa, hingga Selat Sunda. Jadi, bukan hal asing jika mereka muncul di perairan utara Jawa,” katanya.
Hiu paus yang mati di Muara Gembong, termasuk kategori juvenile, berusia sekitar 5–6 tahun. Pada fase remaja, hiu paus lebih eksploratif dengan pola gerak sporadis.
Kondisi ini, katanya, berbeda dengan migrasi paus lain yang berpola tetap, seperti paus Australia yang rutin menuju Laut Banda. Hiu paus yang ditandai di Indonesia justru menunjukkan pola acak. Ada yang bergerak hingga Laut Banda, Arafura, bahkan Madura, lalu kembali, ada pula yang tidak.
Selama 13 tahun terakhir, catatan kematian hiu paus di Indonesia kerap terpicu tiga faktor utama, yakni, bycatch, pencemaran laut, dan tabrakan kapal.
Sebagai satwa penyaring makanan, katanya, hiu paus sangat rentan menelan plastik maupun mikroplastik, logam berat, hingga parasit dari laut yang tercemar.
Pada saat sama, jalur pelayaran yang berimpitan dengan rute mereka menjadikan tabrakan sebagai ancaman paling mematikan.
Selain itu, faktor lingkungan turut memperburuk keadaan. Fenomena upwelling atau pendinginan arus laut mendadak di selatan Jawa diduga memicu syok termal pada hiu paus.
Aktivitas wisata bahari yang tidak beretika—kapal mendekat terlalu agresif atau jumlah wisatawan berlebihan—menambah tekanan. Krisis pakan pun mendorong hiu paus masuk ke perairan dangkal demi mencari zooplankton, yang justru meningkatkan risiko mereka terjerat atau terdampar.

Semua faktor ini, katanya, menunjukkan, kematian hiu paus bukan sekadar insiden terpisah, melainkan cermin nyata dari kondisi laut yang kian tertekan.
Pola kasus terdampar dalam 13 tahun terakhir, katanya, konsisten memperlihatkan dominasi bycatch sebagai penyebab. Banyak hiu paus mati kelelahan setelah terjerat jaring nelayan atau bagan.
Sejumlah penelitian juga menemukan plastik di perut hiu paus terdampar. Di tingkat global, tabrakan kapal bahkan sebagai penyebab kematian paling fatal bagi spesies ini.
Sejak 2013, hiu paus masuk dalam daftar satwa dilindungi penuh di Indonesia. Tiga tahun kemudian, status Endangered oleh IUCN, dengan penurunan populasi hingga 63% dalam tiga generasi terakhir.
Saat ini, pemerintah merancang Rencana Aksi Nasional (RAN) Hiu Paus 2026–2029, yang berfokus pada tiga isu prioritas, penanganan bycatch, pencemaran laut, dan risiko tabrakan kapal.
Sisi lain, data konservasi menunjukkan ada sejumlah titik hiu paus di nusantara. Sejak 2015, tercatat populasi cukup besar di Teluk Saleh (159), Teluk Cenderawasih (159), Kaimana (99), Wakatobi (45), serta Berau dan Talisayan (98).
Tiga hari setelah bangkai hiu paus dikubur, warga kembali menyaksikan kemunculan dua hiu paus berukuran hampir sama di lepas Pantai Muara Gembong. Keduanya tampak berenang di antara tumpukan sampah dan lalu-lalang kapal nelayan.
Qurtubi menaruh harapan pada kemunculan hiu paus. Baginya, kehadiran raksasa laut itu bisa menjadi pertanda baik, seakan memberi isyarat bahwa laut masih menyimpan peluang.
Dia berharap, kehadiran hiu paus ini menjadi dorongan untuk memperbaiki lingkungan pesisir agar laut kembali memberi kehidupan.
*****