- Kekah (Presbytis natunae) adalah primata endemik Natuna yang jarang dikenal. Penampilannya mirip lutung, pemalu, dan berperan penting sebagai penyebar biji alami. Populasi spesies ini makin terdesak akibat alih fungsi hutan, konflik dengan warga, hingga ancaman perdagangan gelap.
- Komunitas Mantau Kekah di Natuna berdiri sejak 2020 dengan semangat sukarela, dipimpin Ahdiani, seorang kepala sekolah dasar yang rela sebagian lahan kebun karetnya digunakan untuk pusat belajar “Umah Kekah.”
- Telah banyak para peneliti dan mahasiswa berbagai kampus yang meneliti perilaku kekah di Umah Kekah. Data terbaru memperlihatkan perkiraan populasi di Hutan Mekar Jaya sekitar 928 individu.
- Komunitas menolak wacana menjadikan kekah sebagai tontonan wisata. Bagi mereka, kunci perlindungan satwa bukan proyek besar, melainkan keterlibatan masyarakat dalam menjaga habitatnya.
Di teras rumah kayu nan asri di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Bunguran Barat, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, tergantung foto-foto hutan dan coretan catatan lapangan. Meja kayunya dipenuhi buku-buku biologi, laporan penelitian, dan beberapa peta hutan.
Rumah itu disebut “Umah Kekah”, tempat orang-orang yang tertarik dengan kekah sering berkumpul. Ahdiani (44), pendiri Komunitas Mantau Kekah saat itu sedang menyambut beberapa tamu yang ingin mengetahui tentang kekah natuna (Presbytis natunae), jenis primata surili endemik Natuna.
“Kalau hutan hilang, kekah hilang. Kalau kekah hilang, kita juga kehilangan identitas sebagai orang Natuna,” kata Ahdiani menyebut apa tujuannya mendirikan komunitas ini. Sorot matanya menembus ke arah hamparan kebun karet yang membatasi hutan dan desa.
Kekah bukanlah primata kharismatik seperti orangutan atau bekantan. Ia tak pernah populer menjadi simbol provinsi. Penampilannya sekilas mirip lutung: berbulu gelap, bermata teduh, dan tubuh yang lincah. Sifatnya pun lebih pemalu, begitu melihat manusia, ia memilih kabur, — bersembunyi di tajuk pepohonan.
Ahdiani bukan ilmuwan, bukan pula aktivis yang lahir dari ruang kuliah biologi. Ia hanyalah seorang anak kampung yang sejak kecil akrab dengan hutan dan laut Natuna.
Diantara waktunya memantau kekah, Ahdiani sejatinya menjabat sebagai Kepala Sekolah SDN 004 Pian Tengah. Di ruang kelas, dia juga kerap memberikan edukasi bagi anak-anak untuk mencintai Kekah dan hutan lingkungan hidupnya.
Saat Pandemi COVID berlangsung, pada 2020, ia bersama beberapa kawan mendirikan Komunitas Mantau Kekah, komunitas kecil yang didedikasikan untuk melindungi satwa endemik itu.
“Awalnya kami hanya ingin tahu lebih banyak tentang kekah. Kenapa satwa ini makin jarang terlihat? Bagaimana hidupnya di hutan? Dari situ kami sadar, tidak cukup hanya ingin tahu. Harus ada yang menjaganya,” ujar Ahdiani.
Mantau Kekah berdiri dengan semangat kemandirian. Anggotanya tak lebih dari sepuluh orang yang aktif. Mereka terdiri dari anak muda desa, guru, hingga warga biasa simpatisan. Tak ada gaji, tak ada insentif. Semuanya berbasis sukarela, berbekal cinta pada alam.

Rumah Kecil, Mimpi Besar
Ahdiani tidak hanya mendirikan komunitas, dia juga mengorbankan kurang dari setengah hektar lahannya untuk mendirikan Umah Kekah, ada bangunan kayu berukuran 7×8 meter persegi di atasnya. Dia pun membiarkan beberapa pohon karet tua yang memang menjadi rumah satu kelompok kekah yang berjumlah sekitar 20 ekor.
Rumah ini pun difungsikan sebagai pusat belajar, pos pengamatan, dan tempat singgah peneliti.Mahasiswa dari berbagai kampus pernah tinggal di sini: IPB University, Universitas Bung Hatta, Tanjung Pura, hingga Gadjah Mada.
Mereka meneliti perilaku kekah, distribusi habitat, dan pola pakan. Selama mereka meneliti, Ahdiani dan kawan-kawan membantu menyediakan transportasi, pemandu, hingga tempat tinggal.
“Mereka butuh data untuk skripsi, kami butuh pengetahuan untuk konservasi. Jadi saling mengisi,” katanya.
Kolaborasi itu membuahkan pengetahuan baru. Dari pengamatan mahasiswa, terungkap bahwa kekah bukan hanya pemakan pucuk daun, tapi juga biji karet, melinjo, hingga buah-buah hutan lain. Menariknya, kebun karet justru menjadi habitat penting.
“Walaupun karet bukan tanaman asli sini, kekah sudah beradaptasi. Mereka bisa bertahan karena sepanjang tahun ada pakan,” jelas Ahdiani.
Peran mereka di alam begitu penting. Sebagai makhluk arboreal, kekah adalah penyebar biji alami yang menjaga regenerasi hutan, memastikan pepohonan baru terus tumbuh.
Kebutuhan mencari pakan ini pula, yang membuat kekah sering tampak di kebun karet warga dan pinggir hutan. Saat kekah masuk ke kebun warga, masih terdapat warga yang tidak senang.
“Banyak orang yang marah, ada juga yang ingin mengusir dengan cara-cara kasar. Padahal, habitat alami mereka sudah makin sempit. Alih fungsi hutan menjadi kebun dan permukiman membuat habitat kekah terfragmentasi,” kata Ahdiani.

Ancaman Perdagangan Ilegal
Mengacu kepada status Daftar Merah IUCN kekah dimasukkan dalam daftar Vulnerable (rentan). Di seluruh Natuna sendiri, jumlah seluruh populasi kekah belum bisa dihitung secara pasti, belum ada survey menyeluruh tentang hal ini.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Fahsyuliardi, Prayogo, dan Erianto (2022) secara jalur transek di Hutan Mekar Jaya yang luasnya 1.236,17 hektar, didapatkan bahwa kepadatan populasinya kekah adalah 0.75 individu/hektar. Sehingga perkiraan populasinya terdapat 928 individu kekah di lokasi ini.
Jika ada hal yang menambah keprihatinan Ahdiani adalah semakin maraknya perburuan dan perdagangan gelap kekah. Dia pernah mendapat laporan kekah dijual dengan harga murah, bahkan menyeberang hingga ke Singapura.
“Harga di luar negeri bisa berkali-kali lipat. Ada mafia satwa liar yang mengincar. Itu ancaman nyata kelestarian kekah,” ujarnya.
Ahdiani bercerita tentang pengalamannya sendiri. Ia pernah menerima seekor kekah hasil sitaan aparat. Awalnya ia bingung: karena tidak ada keahlian merawat satwa. Namun, dengan naluri, ia memutuskan melepasnya kembali ke alam.
Ahdiani mengaku saat itu ia pasrah jika individu jantan yang dilepasnya ke alam mati karena tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya. Hingga beberapa minggu kemudian, ia dapat bernafas lega, saat kekah itu sudah punya pasangan betina.
“Kami lega sekali. Artinya ia bisa bertahan.”
Di sisi lain, muncul pula rencana kebijakan yang diusulkan oleh Pemerintah Daerah, yang hendak mendorong agar kekah dijadikan obyek wisata. Bagi Ahdiani, ini keputusan yang berbahaya.
“Kalau kekah jadi tontonan massal, perilakunya akan rusak. Mereka bukan monyet pengemis di pinggir jalan yang bisa diberi makan sembarangan,” ungkap Ahdiani.
Ia menolak keras konsep wisata massal. Menurutnya, konservasi harus berpihak pada satwa, bukan hanya pada kepentingan ekonomi. Ahdiani dan Mantau Kekah lebih mendukung pengembangan wisata yang berbasis pengamatan primata di habitatnya.
“Kekah terlalu berharga untuk dijadikan hiburan. Lebih baik dijaga habitatnya, biar mereka tetap liar dan alami,” katanya.

Masyarakat sebagai Kunci Konservasi
Bagi Ahdiani, kunci konservasi bukanlah proyek besar atau kebijakan rumit. Kuncinya adalah masyarakat lokal. “Pemerintah bisa bikin kawasan konservasi, tapi siapa yang jaga 24 jam? Tetap masyarakat yang tinggal di sini,” katanya.
Strateginya sederhana: membangun kesadaran pelan-pelan. Seperti misalnya, masyarakat diajak melapor ke Umah Kekah jika melihat satwa turun ke desa. Anak-anak muda dilibatkan dalam pengamatan. Bahkan, tamu dari luar daerah diundang untuk belajar dan berbagi cerita.
“Kalau orang luar yang ngomong, biasanya pejabat lebih percaya. Jadi kami sengaja undang mereka,” ujarnya sambil tersenyum.
Kini, Komunitas Mantau Kekah sudah berusia lebih dari lima tahun. Perjalanannya penuh keterbatasan: dana minim, tenaga sedikit, dan tantangan besar. Namun, semangat mereka tidak padam.
Bagi masyarakat Natuna, meski kekah tidak pernah menjadi bagian kental dari mitologi atau adat. Namun, di situlah keberadaannya jadi penting, yaitu merepresentasikan kekayaan alam Natuna yang unik. Dalam menjembatani hal tersebut maka peran komunitas seperti Mantau Kekah menjadi penting.
“Natuna itu jauh dari mana-mana. Justru karena jauh, setiap satwa di sini punya keunikan. Kalau kita biarkan hilang, dunia akan kehilangan bagian penting dari warisan alamnya,” pungkasnya.
Referensi:
Nofly Fahsyuliardi, Hari Prayogo, Erianto. 2022. Kepadatan Populasi Kekah Natuna (Presbytis natunae) di Hutan Masyarakat Desa Mekar Jaya Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. Jurnal Hutan Lestari Vol. 10 (2): 283 – 291. Universitas Tanjungpura, Pontianak.
*****