Ekosistem mangrove tidak sekadar benteng alami abrasi dan gelombang di pesisir. Di tengah eskalasi krisis iklim global, ia menjadi solusi berbasis ekosistem yang efektif.
Sistem akarnya yang kokoh membuat mangrove bisa meredam dampak cuaca ekstrem. Juga, kemampuan uniknya dalam menyerap dan menyimpan karbon—baik di biomassa maupun dalam lapisan tanah yang dalam—, menjadikannya penyerap karbon (carbon sink) yang jauh lebih unggul dibanding banyak ekosistem daratan.
Data Kementerian Kehutanan tahun 2024, Indonesia memiliki sekitar 3,4 juta hektar hutan mangrove. Angka itu merupakan 23% total mangrove dunia, terbesar di antara negara lain.
Namun, keberadaan mangrove terus terancam. Dalam beberapa dekade terakhir, tekanan terhadap kawasan pesisir makin meningkat akibat ekspansi tambak intensif, alih fungsi lahan untuk infrastruktur pesisir, dan aktivitas manusia lainnya seperti produksi arang dari kayu tanaman ini.
Pemerintah Indonesia menyatakan komitmennya untuk mempercepat rehabilitasi ekosistem lahan basah ini 18.100 hektar untuk lima tahun ke depan sebagai bagian dari strategi mitigasi perubahan iklim dan perlindungan pesisir.

Studi menunjukkan, mencegah konversi mangrove dapat berkontribusi pada penurunan emisi gas rumah kaca dari sektor penggunaan lahan hingga 30%—potensi signifikan dalam mendukung pencapaian target iklim nasional.
Banyak pihak mulai memberi perhatian terhadap upaya perlindungan dan rehabilitasi mangrove, dari pemerintah, swasta, pemuka agama dan adat, hingga masyarakat lokal. Salah satu pendekatan paling populer adalah melalui penanaman di area pesisir. Namun, aksi ini kerap gagal akibat metode yang kurang efektif.
Metode penanaman sering melupakan pengenalan detail pada ekosistem mangrove yang akan direhabilitasi. Lanskap, pasang-surut, peta angin, kondisi substrat, dan salinitas kerap tidak cocok dengan jenis yang akan ditanam. Inilah mengapa upaya rehabilitasi ekosistem mangrove sering dianggap investasi berbiaya tinggi dengan resiko kegagalan tinggi.
Analisis Bank Dunia tahun 2022 mengungkap, biaya rehabilitasi mangrove di Indonesia mencapai sekitar Rp63 juta per hektar, lebih tinggi ketimbang rata-rata global Rp57 juta. Namun, tingkat keberhasilan rehabilitasi yang bergantung pada metode penanaman renah.
Situasi ini menandakan perlu pendekatan alternatif lebih efisien dan berkelanjutan, termasuk restorasi berbasis alam dan pemulihan kondisi ekologis.
Salah satu tantangan utama dalam rehabilitasi salah satu ekosistem pesisir ini adalah praktik penanaman di lokasi yang tidak sesuai secara ekologis, seperti di wilayah yang berada di bawah permukaan laut rata-rata dan bukan merupakan habitat alami mangrove. Selain aspek biofisik, faktor sosio-ekonomi juga menentukan keberhasilan.
Kegagalan juga sering terjadi ketika tidak melibatkan masyarakat lokal secara aktif, tidak memiliki pemahaman atau dukungan terhadap konservasi, atau tidak tersedia alternatif mata pencaharian yang memadai. Misal, di wilayah yang masyarakatnya sangat bergantung pada tambak, mangrove yang baru ditanam sangat rentan untuk kembali dikonversi.

Dari rehabilitasi ke restorasi
Meskipun penanaman dapat berperan dalam mempercepat atau memperkaya proses regenerasi alami pada kondisi tertentu, pendekatan ini tidak seharusnya dilakukan di habitat yang bukan kawasan aslinya atau di area yang menunjukkan potensi regenerasi alami.
Dalam konteks ini, pendekatan yang lebih efektif adalah melalui Restorasi Mangrove Ekologis (Ecological Mangrove Restoration/EMR), metode yang berfokus pada pemulihan fungsi ekosistem dan kondisi hidrologi agar mangrove dapat tumbuh secara alami tanpa intervensi penanaman langsung.
Dengan menciptakan kembali kondisi lingkungan yang mendukung, mangrove dapat melakukan regenerasi tanpa memerlukan penanaman langsung.
Pendekatan ini diakui sebagai salah satu praktik terbaik dalam rehabilitasi ekosistem pesisir yang berorientasi pada keberlanjutan dan efektivitas jangka panjang.
Proses regenerasi alami umumnya membutuhkan waktu lebih lama ketimbang metode penanaman, tapi tingkat keberhasilannya terbukti lebih tinggi.
Keberhasilan restorasi ini tidak hanya bergantung pada pendekatan teknis, tetapi juga pada kolaborasi lintas sektor dan partisipasi aktif masyarakat lokal—terutama yang hidup berdampingan langsung dengan ekosistem mangrove.
Keterlibatan kelompok perempuan, misalnya, sangat krusial. Sebagai pewaris pengetahuan lokal yang diperoleh sejak kecil melalui praktik pemanfaatan tanaman ini untuk pangan dan kebutuhan sehari-hari, mereka juga memiliki pengalaman langsung dalam mengelola sumber daya perikanan seperti kepiting dan udang yang berkembang biak di kawasan mangrove.
Salah satu inovasi yang mendukung sinergi antara konservasi dan penghidupan adalah Associated Mangrove Aquaculture (AMA), yaitu sistem tambak yang terkoneksi dengan kawasan mangrove.
Dalam pendekatan ini, sebagian area tambak dialokasikan untuk menumbuhkan mangrove di sepanjang tepi sungai, sehingga berfungsi sebagai sabuk hijau alami yang melindungi perairan darat dan memperkuat ketahanan tambak terhadap banjir dan intrusi air laut.
Ini saatnya kebijakan rehabilitasi mangrove nasional beralih ke arah yang lebih transformatif dengan menempatkan solusi berbasis alam sebagai pendekatan utama yang tidak hanya efektif secara ilmiah, tetapi juga inklusif dan berkelanjutan bagi masa depan Indonesia.
Penulis: Teguh Prio Adi Sulistyo, ahli restorasi mangrove dan mantan Kepala Kelompok Kerja Program dan Anggaran Badan Restorasi Gambut dan Mangrove.

*****
Aturan Baru Mangrove dan Lingkungan, Kuatkan Perlindungan atau Sebaliknya?