- Penyu terus hidup dalam keterancaman, dari jadi target buruan sampai habitat rusak atau terganggu. Daerah jelasah penyu yang begitu luas menuntut upaya penyelamatan (konservasi) tak cukup berada di satu negara tetapi perlu lintas wilayah administrasi.
- International Union for Conservation of Nature (IUCN) Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) juga memberikan label penyu sebagai spesies yang terancam punah dan memasukkannya ke dalam kelompok Apendiks 1. Label itu mengartikan kalau penyu masuk ke dalam daftar seluruh spesies tumbuhan dan satwa liar yang terlarang perdagangannya secara global.
- Beginer Subhan, Pakar Biologi Laut IPB University katakan, selama ini, upaya konservasi penyu jamak bergantung pada pendekatan visual seperti menghitung jumlah sarang, memantau lokasi pendaratan untuk memperkirakan populasinya. Metode itu tak maksimal karena memiliki banyak keterbatasan.
- Beginer Subhan, Pakar Biologi Laut IPB University katakan, pemetaan genetika bisa menjadi pintu untuk masuk dan menelusuri silsilah penyu dengan sangat lengkap, sekaligus melihat hubungan erat antar kelompok dari pulau ke pulau. Pemetaan genetik ini akan mampu menyambungkan kembali simpul-simpul kehidupan penyu yang selama ini tersebar dan terputus.
Penyu terus hidup dalam keterancaman, dari jadi target buruan sampai habitat rusak atau terganggu. Daerah jelasah penyu yang begitu luas menuntut upaya penyelamatan (konservasi) tak cukup berada di satu negara tetapi perlu lintas wilayah administrasi.
Pemerintah Indonesia sudah memberikan status perlindungan penuh sejak 1999 melalui Peraturan Pemerintah Nomor 7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. International Union for Conservation of Nature (IUCN) pun sudah menempatkan penyu sebagai spesies terancam punah.
Begitu juga Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) juga memberikan label penyu ke dalam kelompok Apendiks 1. Label itu mengartikan kalau penyu masuk ke dalam daftar seluruh spesies tumbuhan dan satwa liar yang terlarang perdagangannya secara global.
Beginer Subhan, Pakar Biologi Laut IPB University mengatakan, penyu tidak mengenal batas negara, namun bergerak mengikuti arus, suhu, dan insting leluhurnya.
“Perjanjian konservasi internasional harus mempertimbangkan konektivitas genetik,” katanya.
Selama ini, katanya, upaya konservasi penyu jamak bergantung pada pendekatan visual seperti menghitung jumlah sarang, memantau lokasi pendaratan untuk memperkirakan populasi. Metode itu tak maksimal karena memiliki banyak keterbatasan.
Pertanyaan tentang asal-usul dan hubungan antar populasi yang terpencar jauh oleh jarak, waktu, bahkan arus laut masih belum ada jawabannya. Padahal, penjelasan yang rinci akan membantu upaya konservasi yang tepat.
“Penyu itu ternyata punya sidik jari genetik yang berbeda. Ini bisa menjadi kunci penting untuk melindungi penyu dari kepunahan,” katanya.
Strategi konservasi yang tepat dan tidak asal, katanya, menjadi kunci perlindungan penyu. Terlebih, karena daya jelajah penyu sangat jauh hingga lintas samudera.
Pemetaan genetika bisa menjadi pintu untuk masuk dan menelusuri silsilah penyu dengan sangat lengkap, sekaligus melihat hubungan erat antar kelompok dari pulau ke pulau. Dia yakin, pemetaan genetik ini akan mampu menyambungkan kembali simpul-simpul kehidupan penyu yang selama ini tersebar dan terputus.
IPB University tercatat dua kali melakukan pemetaan genetik penyu di perairan Indonesia. Pertama, pada 2020 melalui riset terhadap penyu lekang (Lepidochelys olivacea) di Teluk Cendrawasih, Teluk Wondama, Papua Barat, dan Nabire, Papua Tengah.Kedua, pada 2024 dengan fokus pada penyu sisik (Eretmochelys imbricata) di Laut Jawa.

Serupa, tetapi tak sama
Beginer menjelaskan, pada riset pertama, mereka menemukan perbedaan komposisi genetik pada populasi penyu di Kwatisore dan Pulau Yapen. Padahal, secara geografis kedua kawasan ini cukup berdekatan. “Kenapa bisa berbeda? Ternyata itu karena arus laut,” katanya.
Musim angin barat laut menjadikan arus laut seperti pagar alami karena menghalangi pertukaran genetik antar populasi. Kondisi itu membuat setiap individu penyu berkembang melalui jalur evolusi masing-masing. Kesimpulannya, walau bertetangga, namun penyu di Teluk Cendrawasih hidup dan berkembang dengan caranya sendiri.
Dalam penelitiannya, tim juga memetakan kelompok penyu lekang ke dalam beberapa klad.Klad adalah kelompok taksonomi yang memiliki satu leluhur/nenek moyang untuk semua keturunan. Kelompok semacam itu bisa disebut monofiletik, yang tergambar melalui analisis filogenetika, seperti dalam diagram pohon atau suatu kladogram.
Penelitian di Teluk Cendrawasih juga mengungkap fakta lain bahwa penyu di perairan Australia juga terkoneksi langsung dengan Indonesia melalui sebagian besar genetiknya. Berarti, penyu di pesisir Papua masih bersaudara secara genetik di pesisir barat India.
Pada penelitian kedua di Laut Jawa, Beginer bersama tim menganalisis 152 penyu untuk meneliti asam deoksiribonukleat (DNA) spesifik yang disebut d-loop. Ratusan penyu itu bertelur di lokasi berbeda.
Dalam risetnya, Beginer temukan 13 haplotipe atau sidik jari genetik baru. Temuan itu menegaskan kembali bahwa Indonesia memiliki kekayaan genetika penyu sisik yang sangat besar. Dia juga dapati temuan yang sama di perairan Malaysia dan Australia. Jadi, selama ini penyu di Indonesia sudah memiliki hubungan genetik yang kuat antar negara.
“Itu menjelaskan kalau penyu selama ini memang bergerak dengan daya jelajah skala besar. Ribuan kilometer ditempuh, dan kembali lagi ke tempat asal untuk bertelur. Itu luar biasa.”

Kerjasama lintas negara
Beginer tegaskan, temuan riset ini sangat penting dalam upaya konservasi penyu dan menjadi pintu gerbang kerjasama lintas negara.
Temuan sidik jari penyu, juga memperlihatkan, model umum untuk konservasi penyu tak lagi relevan. Harus ada pembaruan dengan mempertimbangkan keragaman genetik antara lokasi. Pada keragaman tinggi, katanya, strategi dengan menjaga variasi agar tidak hilang.
“Perlu pendekatan yang bisa menjaga populasi agar tak menyusut akibat perkawinan sedarah atau jumlah individu yang terlalu sedikit.”
Beginer katakan, keberhasilan menemukan genetik penyu menjadi bentuk peringatan dini kepada semua pihak terkait untuk tidak lagi memperlakukan penyu sebagai reptil yang masuk kelompok populasi tunggal.
“Mereka unik. Mereka punya identitas genetik masing-masing.”
Dia menyimpulkan, pengetahuan tentang struktur genetika tak hanya akan menjaga lingkungan, tapi turut memberdayakan ekonomi lokal, budaya pesisir, atau industri pariwisata laut.
“Konservasi tak lagi sekadar menjaga agar penyu tetap hidup, tetapi memastikan mereka tetap menjadi bagian dari simfoni laut tropis yang utuh, lestari, dan diwariskan hingga generasi mendatang.”

Tangkapan sampingan
Firdaus Agung Kurniawan, Direktur Konservasi Ekosistem dan Biota Perairan Kementerian Kelautan dan Perikanan Firdaus katakan, ancaman kelestarian penyu tak hanya terjadi di Indonesia. Tetapi, juga di di negara yang wilayah lautnya menjadi jalur migrasi penyu seperti Amerika Serikat (AS).
Beberapa penyebabnya antara lain, tangkapan sampingan (bycatch). “Walau dilepaskan, penyu rentan mati karena terjebak di dalam jaring milik nelayan,” katanya kepada Mongabay, beberapa waktu lalu.
Penyu merupakan reptil yang harus bernapas dengan paru-paru dengan muncul ke permukaan air jadi rawan mati jika terjerat jaring.
Untuk itu, penting pengaturan penggunaan Alat Penangkapan Ikan (API). Ancaman lainnya datang dari praktik perdagangan telur penyu yang cukup marak juga mangsa para predator seperti babi, biawak dan lainnya.
Di Pulau Durai, lokasi penting peneluran penyu di Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau, KKP bersama Kepolisian Resor Kab Kep Anambas menggagalkan perdagangan ilegal 671 telur penyu. Begitu juga di Pelabuhan Kapet Semparuk, Sambas, petugas sita 5.400 telur penyu.
Sarmintohadi, Direktur Konservasi Spesies dan Genetik KKP Sarmintohadi memastikan proses hukum terhadap para pelaku yang terlibat perdagangan itu.
“Karena statusnya kan sudah masuk Apendik I CITES.”
KKP sudah menyusun dokumen Rencana Aksi Nasional (RAN) Konservasi Penyu sejak 2016. Upaya itu berlanjut dengan penetapan kawasan konservasi baru di Perairan Bintan II 843.609,30 hektar dan 5,5 juta hektar pada 44 kawasan lain.
*****
Kisah Inspiratif Pak Bujang: Dedikasi Konservasi Penyu Sisik di Batam