- Peternakan ayam petelur tanpa sangkar sedang ramai peminat. Selain ramah lingkungan karena tidak hasilkan limbah dan kotoran pencemar, harga telurnya pun lebih tinggi daripada dari yang ayam kandang baterai hasilkan.
- Agung Setyoleksono, ketua kelompok ternak itu menyebut peternakannya dapat sertifikasi dari Humane Farm Animal Care (HFAC). HFAC adalah lembaga yang berkantor pusat di Amerika Serikat. Sertifikasi dari lembaga terkemuka kelas dunia itu juga menguji sistem pangan dan kesehatan Kelompok Ternak Tri Manunggal. “Termasuk pengelolaan limbahnya juga diatur dalam sertifikasi ini, kami untuk mendapatkannya juga perlu asesmen lapangan langsung sehingga semuanya sudah teruji.”
- Siti Sugiarti, Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Jaya Mandiri Abadi, menyebut kelompoknya hijrah dari peternakan ayam kandang baterai yang membuatnya merugi. “Pengeluaran untuk pakan, operasional pembersihan kandang tidak sebanding dengan pemasukan dari penjualan telur,” ungkapnya.
- Sumi Murniati, Ketua KWT Rejo Arum menyebut ketertarikan untuk menggunakan model cage free karena menguntungkan dan ramah lingkungan. “Sebelum kami memutuskan pakai model ini, kami survei dulu ke berbagai tempat hasilnya memang tidak ada polusi bau bahkan tidak ada lalat lalu ternyata lebih menguntungkan,” jelasnya.
Kelompok Ternak Tri Manunggal Bakti, di Kalurahan Argomulyo, Kapanewon Cangkringan, Yogyakarta, boleh berbangga diri. Pasalnya, mereka menjadi yang pertama menerapkan peternakan ayam petelur tanpa sangkar di Indonesia.
Umumnya, jenis ternak ini menggunakan kandang baterai dengan panjang 21 centimeter dan lebar 33 centimeter. Namun, Tri Manunggal Bakti justru membebaskan gerak ayam petelur di lantai dengan alas sekam.
Kotoran dan limbah lebih terkendali dan tak menimbulkan bau menyengat dan cemaran lain ke lingkungan sekitar. Itu sebabnya, meski berada di pinggir sawah dan berseberangan dengan pemukiman–hanya terpisah jalan–peternakan ini tidak mengganggu warga sekitar.
Peternakan yang pertama beroperasi tahun 2022 ini menggunakan bangunan semi permanen di atas lahan sekitar 250 meter persegi. Total, ada 700 ayam petelur, terbagi dalam tiga kelompok umur. Masing-masing kelompok umur berada dalam blok tersendiri berukuran sekitar 60 meter persegi.
Tiap blok ayam, terdapat tempat makan dan minum yang merata tersebar. Sekitarnya ada tempat bertengger ayam. Sedangkan tempat bertelur di depan tiap blok, menggunakan lemari terbuka dengan jerami di dalamnya.
Tata ruang peternakan itu sudah sesuai aturan Animal Welfare Certification atau sertifikasi kesejahteraan hewan. Agung Setyoleksono, Ketua kelompok ternak itu menyebut mereka dapatkan sertifikat itu dari Humane Farm Animal Care (HFAC).
HFAC adalah lembaga yang berkantor pusat di Amerika Serikat. Sertifikasi dari lembaga terkemuka kelas dunia itu juga menguji sistem pangan dan kesehatan Kelompok Ternak Tri Manunggal.
“Termasuk pengelolaan limbahnya juga diatur dalam sertifikasi ini, kami untuk mendapatkannya juga perlu asesmen lapangan langsung sehingga semuanya sudah teruji,” katanya.
Kotoran ayam tak menimbulkan kerumunan lalat karena sekam menyerapnya dengan baik. Sekam juga rutin mereka ganti minimal tiga bulan sekali. Dia bilang, akan ada yang membeli sekam bekas ini untuk pupuk.
Residu limbah cair sampai obat-obatan untuk penanganan ayam, juga hampir sedikit dan tak sampai meluber ke area lain.
“Hampir tidak ada limbah bahkan, obat-obatan juga kami pakai secara terbatasi itu pun atas perintah dokter hewan yang kerja sama.”
Kebersihan jadi prioritas utama Kelompok Ternak Tri Manunggal Bakti, karena itu kunci pengendalian penyakit dan pencegahan pencemaran lingkungan. Tiap hari, terdapat anggota kelompok yang piket, memastikan semua terkondisi dengan baik.
Dalam beberapa kasus, penggunaan antibiotik agar hewan tak mudah sakit memperparah cemaran di peternakan. Antibiotik ini kerap bocor dan mencemari lingkungan sekitarnya yang dapat menyebabkan resistensi tubuh manusia. Akibat fatalnya, terjadi kematian karena infeksi bakteri yang tak mempan lagi dengan antibiotik, kasus di Indonesia sudah ada 1,2 juta kematian. Ketentuan lain dalam sertifikasi ini membatasi populasi ayam dalam luasan tertentu.
Agung menyebut, satu meter persegi lahan budidaya maksimal berisi tujuh ayam. “Ada juga ruang khusus untuk ayam yang sakit, jadi kalau ada yang terindikasi kena virus atau bakteri langsung kami pisahkan dan dilakukan isolasi.”
Awal Agustus lalu, dari 700 ayam petelur hanya ada satu yang berada di ruang isolasi ini. Lokasinya terpisah dengan bangunan utama, tepat di pintu masuk area peternakan. Pemisahan ayam sakit ini untuk mencegah penularan.
Model tanpa sangkar membuat ayam memiliki kekebalan tubuh lebih tinggi ketimbang kandang baterai. Sebab dengan kandang yang menghampar, ayam bebas bergerak dan menunjukan perilaku alaminya. Sehingga tidak mudah stres seperti dalam sangkar yang membatasi ruangnya.
Dia bilang, umur ayam petelur juga lebih panjang ketimbang ternak yang sama di kandang baterai. “Bisa sampai 120 hari bertelur terus tiap hari karena lebih sehat, kalau kandang baterai paling mentok cuma bisa 90 hari,” katanya.
Harga pun lebih tinggi. Agung bilang, ada segmen khusus telur ini hingga harga tidak ikut pasar. Saking untungnya, dia dan 20 warga yang tergabung dalam kelompok ini mengembangkannya di dua lokasi lain.
“Model cage free jadi modal utama kami karena membuat ayam lebih sehat serta sejahtera dan lingkungan lebih bersih, berkat sistem ini juga usaha kami meningkat secara ekonomi.”

Tak ikut harga pasar
Selepas menunaikan salat ashar, Nani Kusuma segera bergegas menuju peternakan Tri Manunggal Bakti. Sore itu jadwalnya piket memberikan makan ratusan ayam petelur. Perempuan ini salah satu anggota kelompoknya.
Nani berpartisipasi sejak awal peternakan ini berdiri. “Awalnya buat menambah kegiatan saja, karena ini juga enggak setiap hari hanya seminggu sekali. Ternyata, menguntungkan juga dapat pemasukan tambahan.”
Hari itu, Nani menata dan membersihkan 40 kilogram telur. Tiap hari, telur hasil peternakan itu selalu terserap pembeli.
“Bahkan kami sebagai anggota yang juga bertugas menjualkan kadang kehabisan setok.”
Harga telur dari ayam tanpa sangkar ini di atas Rp32.000 perkilogram, lebih tinggi dari telur ayam biasa, berkisar Rp25.000. Saat harga telur di pasaran turun, produksi tanpa sangkar tetap stabil.
Harga telur ayam bebas sangkar ini lebih tinggi karena memiliki segmen konsumen khusus. Terutama bagi mereka yang sudah sadar akan pentingnya kesejahteraan hewan.
“Selain perorangan, pembeli telur kami ada yang dari dunia usaha terutama kuliner yang skalanya sudah restoran. Mereka memang hanya menggunakan telur bebas sangkar.”
Dari pengalamannya, tidak ada kesulitan memasarkan telur ayam bebas sangkar. Menurut dia, banyak teman dari kelompok ibu-ibu senam, arisan, dan lainnya yang sangat tertarik, meski harga mahal karena kualitas yang lebih baik.

Kisah sukses peternakan lebih ramah lingkungan dan menjunjung kesejahteraan hewan ini menginspirasi Kelompok Wanita Tani (KWT) Jaya Mandiri Abadi di Kalurahan Tridadi, Sleman. Mereka belajar dari praktik beternak dengan model tersebut dan sudah menerapkannya.
Siti Sugiarti, Ketua KWT Jaya Mandiri Abadi menyebut kelompoknya sudah menjalankan peternakan ayam petelur bebas sangkar selama setahun. Mulai September 2024, dengan modal awal 30 ayam, kini usaha berkembang jadi 400 ayam tanpa kandang baterai.
Kelompok tani khusus perempuan ini terjun ke sektor peternakan karena mendapat bantuan kandang baterai dan ayam petelur dari Pemerintah Yogyakarta dalam program ketahanan pangan. Dalam praktiknya, program itu tak bisa maksimal.
Peternakan model kandang baterai yang KWT Jaya Mandiri Abadi jalankan pada 2023 itu membuat anggotanya merugi. “Pengeluaran untuk pakan, operasional pembersihan kandang tidak sebanding dengan pemasukan dari penjualan telur.”
Akhirnya, anggota kelompok mengakhiri model peternakan itu. Giarti, panggilan akrabnya, mengaku kasihan dengan ayam yang terkurung kandang sempit itu.
“Kasihan sama ayamnya, kayak dieksploitasi tiap hari hidupnya cuman makan lalu bertelur. Kalau enggak bertelur kami yang jadi stres.”
Setahun menjalankan peternakan bebas sangkar, katanya, jadi makin memberdayakan anggotanya. Selain pemasukan tambahan, telur juga mereka konsumsi untuk keluarga.
“Tidak ada polusi bau atau pencemaran limbah juga, kebersihan dan kesehatan lingkungan terjamin.”

Ramai peminat
Tren peternakan tanpa sangkar sedang meningkat. Di Yogyakarta saja, setidaknya ada lima titik. Selain KWT Jaya Mandiri Abadi, terdapat KWT Rejo Arum di Kalurahan Pandowoharjo. Mereka saling berkolaborasi terutama untuk pemasaran telurnya.
Sumi Murniati, Ketua KWT Rejo Arum menyebut ketertarikan untuk menggunakan model cage free karena menguntungkan dan ramah lingkungan.
“Sebelum kami memutuskan pakai model ini, kami survei dulu ke berbagai tempat hasilnya memang tidak ada polusi bau bahkan tidak ada lalat lalu ternyata lebih menguntungkan.”
Kini, KWT Rejo Arum sudah mengelola 300 ekor ayam petelur tanpa sangkar. Mereka membuktikan sendiri betapa model ini tidak bikin bau dan menguntungkan.
“Targetnya, akan terus menambah populasi ayam agar makin meningkatkan penambahan keuangan anggota kami.”
Dia bilang, tantangan sistem cage free terdapat pada kebutuhan lahan yang lebih luas. Tapi, itu dapat dia atasi karena lahan KWT Rejo Arum cukup luas.
“Dibanding kandang baterai bagi kami yang menjalankan bebas sangak ini ternyata lebih mudah dan cepat balik modalnya, harapan kami pemerintah dapat memfasilitasi kedepannya karena terbukti memberdayakan warga,” katanya.
Ramainya peminat dan praktisi peternakan sistem bebas sangkar, kini ada Indonesian Cage-Free Association (ICFA), yang sementara jadi satu-satunya asosiasi yang berdiri sejak 2024. Anggotanya ada 22 dari perusahaan, individu, hingga kelompok peternak.
Kelompok Ternak Tri Manunggal Bakti, KWT Jaya Mandiri Abadi, dan KWT Rejo Arum termasuk anggota ICFA. Kristina Yolanda, Ketu ICFA menyebut, dari tiga kelompok itu, baru satu yang sudah mendapat sertifikasi cage free, dua KWT masih dalam proses.
Sebagai asosiasi peternak, jelas Yolanda, ICFA terus berupaya memfasilitasi anggotanya sesuai kebutuhan masing-masing.
“Kami menyediakan dokter hewan untuk anggota kami juga, termasuk layanan pakan, dan terutama sertifikasinya itu sendiri,” katanya.
Terbaru, ICFA melakukan pelatihan bagi peternak konvensional yang tertarik dengan sistem bebas sangkar. Berlangsung di Yogyakarta, puluhan peternak dari berbagai daerah terutama luar Jawa mengikuti pelatihan ini.
“Visi kami meningkatkan jumlah peternak yang menggunakan sistem bebas sangkar, kemudian mengedukasi konsumen agar turut mendukung telur jenis ini juga.”
Yolanda menilai, akan lebih baik jika peternak memiliki lebih banyak pilihan sistem usaha.
“Begitu juga untuk konsumen, agar lebih memiliki pilihan lebih banyak. Terutama yang peduli akan kesejahteraan hewan karena ini isu penting juga yang perlu terus didorong.”

*****
Buntut Kasus Peternakan Ayam, Warga Padarincang Gugat Polisi