- Mayoritas masyarakat adat Kaluppini, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, tanam jagung pakan sebagai sumber penghasilan. Sekitar satu dekade ini, pengelolaan kebun jagung mereka tersandera penggunaan agrokimia. Saat ini, mulai kembali inisiasi pertanian dengan cara-cara alami oleh generasi muda di sana.
- Masyarakat Kaluppini gunakan bahan kimia pada pertanian sejak satu dekade lampau. Abdul Halim, pemangku adat Kaluppini mengatakan, semula masyarakat tak pakai bahan kimia semua organik (bahan alami). Sejak 2015, warga mulai mencoba bahan kimia. Ketika itu ada perusahaan pupuk menyosialisasikan penggunaan pupuk pabrik di desanya.
- Penggunaan bahan-bahan kimia pertanian bisa ganggu kesehatan. Menurut riset, cemaran pestisida terdeteksi di beberapa daerah pertanian di Indonesia. Brebes, misal, anak-anak di daerah penghasil bawang merah ini terpapar pestisida.
- Kini, Muslimin Lancong, pemuda Kaluppini kembali menginisiasi pertanian organik lewat organisasi Sulawesi Cipta Forum (SCF). Di sana, mendorong masyarakat dirikan Sekolah Lapang Hortikultura dengan materi pertama budidaya cabai.
Mayoritas masyarakat adat Kaluppini, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, tanam jagung pakan sebagai sumber penghasilan. Sekitar satu dekade ini, pengelolaan kebun jagung mereka tersandera penggunaan agrokimia. Saat ini, mulai kembali inisiasi pertanian dengan cara-cara alami oleh generasi muda di sana.
Sutira, warga Kaluppini, gunakan herbisida untuk basmi gulma di kebun jagung. Biasa dia semprotkan herbisida dua kali. Pertama, saat sebelum menebar benih. Kedua, ketika gulam kembali tumbuh di sekitar tanaman jagung.
“Saat rumput (gulma) kering mati, baru tanam jagung. Seiring dengan tumbuhnya jagung, tumbuh lagi ini rumputnya. Kasih herbisida lagi,” katanya, kepada Mongabay, akhir Mei lalu.
Sutira beli herbisida di toko Rp260.000 untuk empat liter. Serupa dengan Abdul Halim. Dia bilang, lahan seluas satu hektar perlu 5-10 liter herbisida.
Herbisida merupakan bahan kimia untuk mengendalikan atau membasmi tumbuhan liar atau gulma. Ada berbagai jenis herbisida, termasuk herbisida selektif (membunuh jenis gulma tertentu) dan non-selektif (membunuh semua jenis tanaman).
Abdul Halim juga gunakan pupuk urea campur phonska. Takarannya, satu hektar lahan pakai masing-masing 150 kilogram urea dan phonska.
“Ini sudah diirit-irit sekali. Kebutuhan herbisida dan pupuk yang paling mahal modalnya,” katanya saat Mongabay termui di rumahnya.
Dia bilang, penggunaan pupuk urea dan phonska untuk meningkatkan jagung jadi lebih besar. Juga membuat tanaman tahan serangan hama, penyakit, dan kekurangan air.
Masyarakat Kaluppini gunakan bahan kimia pada pertanian sejak satu dekade lampau. Halim juga pemangku adat mengatakan, semula masyarakat tak pakai bahan kimia semua organik (bahan alami).
Sejak 2015, warga mulai mencoba bahan kimia. Dia ingat betul, ketika itu ada perusahaan pupuk menyosialisasikan penggunaan pupuk pabrik di desanya.
Mulanya, menurut Halim, perusahaan memberikan pupuk cuma-cuma. Mereka mengeklaim pupuk pabrik bisa meningkatkan produktivitas pertanian.
“Sekarang kami beli pupuk, meski pemerintah kasih subsidi lewat kelompok tani.”

Kembali ke pertanian organik
Abdul Halim, pemangku adat Kaluppini, sadar betul bahwa pertanian dalam bayang-bayang agrokimia. Dia juga mafhum kalau penggunaan bahan kimia dapat mengancam lingkungan.
“Dosisnya akan naik terus (penggunaan pupuk kimia dan pestisida). Hari ini enam sak, besok bisa tambah 10, dan sampai udah gak bisa nampung lagi, tanah akan berubah kayak pasir,” ujar Halim.
Dia dilema. Satu sisi, kerap melakukan ritual adat untuk jaga alam sisi lain turut mengamini penggunaan bahan kimia yang dapat merusak lingkungan.
Halim khawatir kesuburan tanah di Kaluppini berkurang akibat penggunaan bahan kimia. Dia tak mau nasib desanya seperti kecamatan lain di Kabupaten Enrekang yang kesuburan tanahnya berkurang.
“Ada beberapa kecamatan yang berbatasan dengan Tana Toraja, tanam bawang, sekarang sama sekali tanaman tidak mau tumbuh,” ujar Halim.
Halim pun bersama warga lain sempat menginisiasi kelompok petani organik di Kaluppini. Dia bereksperimen membuat pupuk organik untuk jagung dari campuran gula merah dan cuka.
Inisiasi itu tidak bertahan lama. Usaha Halim untuk mengembalikan pertanian organik mendapat cemoohan warga.
Kini, Muslimin Lancong, pemuda Kaluppini kembali menginisiasi pertanian organik lewat organisasi Sulawesi Cipta Forum (SCF). Dia mendorong masyarakat dirikan Sekolah Lapang Hortikultura dengan materi pertama budidaya cabai.
Menurut Muslimin, budidaya cabai akan mengusung konsep pertanian organik dengan memanfaatkan kotoran kambing sebagai pupuk utama. Itu juga sejalan dengan rencana BumDes untuk mengembangkan usaha peternakan kambing.
“Harapannya, akan tercipta pertanian terintegrasi antara pertanian dan peternakan.”
Seorang warga telah menyiapkan lahan di samping rumah sebagai demplot percontohan budidaya cabai.
Mei lalu, Muslimin mengadakan diskusi dan praktik cara tanam cabai salo dua–varietas cabai lokal unggulan Enrekang.
Pasca diskusi ini, katanya, animo masyarakat Kaluppini terhadap budidaya cabai melonjak drastis. Per Juli, tercatat 60 petani menyemai benih cabai jenis ini.
Muhammad Ikbar, Plh Dinas Pertanian Enrekang mengatakan, sering melakukan penguatan kapasitas pertanian. Dia mendorong masyarakat mulai menggunakan limbah jagung sebagai pupuk.
“Juga penguatan kapasitas bagaimana mengolah pupuk, dan bagaimana menggunakan limbah organik menjadi pupuk,” katanya saat Mongabay temui.
Ikbar bilang, tidak mudah mengembalikan pertanian organik di Kaluppini. Hal pertama harus mereka lakukan, katanya, mengubah pola pikir petani agar berpihak pada pertanian organik.
“Mengubah mindset petani ini harus dengan bukti. Petani percaya ketika di depan matanya,” ujar Ikbar.

Terdampak ke kesehatan dan lingkungan
Rossana Dewi, Direktur Yayasan Gita Pertiwi mengatakan, ketergantungan bahan kimia pada pertanian jagung pakan sulit dihindari. Jagung yang banyak Masyarakat Kaluppini merupakan jenis hibrida buatan pabrik.
Jagung hibrida tercipta untuk bergantung pada pupuk kimia dalam jumlah banyak dan rentan terkena hama serta penyakit, hingga perlu pestisida.
Dewi bilang, penggunaan bahan kimia biasa terjadi ketika mengubah pola pertanian dari tanaman hortikultura jadi monokultur.
“Kalau jagung itu, biasa serangan ulat grayak, pasti akan butuh disemprot dengan insektisida. Kalau kemudian kena jamur, akan membutuhkan racun-racun pestisida,” katanya.
“Kemudian kalau mereka menanam dalam jumlah besar, karena tenaga kerja terbatas, maka pakai racun-racun pestisida, racun rumput. Jadi lengkaplah racun di dalam sebuah jagung.”
Penggunaan pestisida, kata Dewi, dapat meracuni lingkungan. Residu pestisida akan terakumulasi pada tanah, air, udara atau bahkan pada produk jagung itu sendiri.
Studi menunjukkan, penggunaan pestisida berdampak buruk pada kesuburan tanah. Pestisida tak hanya membunuh hama, juga organisme tanah yang bermanfaat seperti bakteri, jamur, dan cacing tanah. Mikroorganisme tanah berperan dalam dekomposisi bahan organik dan siklus nutrisi.
Penggunaan pestisida terus-menerus, katanya, dapat mengurangi ketersediaan unsur hara penting seperti nitrogen, fosfor, dan kalium. “Itu mengakibatkan penurunan produktivitas tanaman.”
Dewi mengatakan, residu pestisida dapat bertahan puluhan tahun, bahkan pernah ada residu usia ratusan tahun. “Ditemukan dalam air susu ibu, dalam darah manusia.”
Penggunaan bahan-bahan kimia pertanian juga bisa ganggu kesehatan. Menurut riset cemaran pestisida terdeteksi di beberapa daerah pertanian di Indonesia. Brebes, misal, anak-anak di daerah penghasil bawang merah ini terpapar pestisida.
Mereka terkena gangguan kelenjar tiroid yang menyebabkan berbagai masalah kesehatan, baik produksi hormon yang terlalu banyak (hipertiroidisme) maupun terlalu sedikit (hipotiroidisme).
Disfungsi tiroid pada anak-anak—terutama hipotiroidisme—dapat menyebabkan gangguan fungsi metabolisme yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan.
Jangka pendek menyebabkan kepala pusing, mual, kulit gatal-gatal, hingga pingsan. Efek jangka panjang: gangguan saraf tepi, perubahan tekanan darah, dan linu-linu pada tubuh.
“Orang Indonesia ini karena jangka panjang, seringkali kesulitan menemukan apakah ini betul-betul efek dari pestisida atau efek yang lain?”

*****
Pasar Kalimu, Pasar Tradisional di Kaluppini yang Terancam Hilang