- Teknik genomik berbasis DNA (DNA barcoding, PCR, LAMP, dan sequencing) yang dikembangkan oleh Prof Asadatun Abdullah dan koleganya dari IPB University dapat digunakan untuk mendeteksi spesies laut secara akurat, bahkan dalam produk olahan atau ultra-proses.
- Teknologi Hi-Par Meter dan True Portunus yang dikembangkannya berguna untuk mengatasi kesulitan identifikasi spesies dalam produk olahan perikanan, khususnya hiu dan pari yang masuk dalam Appendix II CITES.
- Temuan teknologi ini penting untuk menjamin ketelusuran, keberlanjutan, dan mutu keamanan produk perikanan, serta mendukung konservasi spesies laut dan keberlanjutan ekosistem.
- Inovasi ini menawarkan biaya yang lebih murah dan hasil cepat dibandingkan DNA barcoding konvensional dan secara mudah dapat digunakan di lokasi terpencil dengan pelatihan minimal, sehingga cocok untuk industri dan lapangan.
Di balik sepiring olahan hasil laut yang lezat, tersimpan tantangan besar: apakah kita benar-benar tahu ikan apa yang kita makan? Dalam industri perikanan, khususnya untuk produk olahan seperti abon, ikan kaleng, atau hasil laut beku, sangat sulit memastikan asal-usul spesies yang digunakan.
Masalah ini tak hanya soal kejujuran label, tetapi juga menyangkut kelestarian spesies laut, kepatuhan terhadap regulasi internasional seperti CITES, dan keamanan pangan konsumen.
Melihat tantangan itu, Prof. Asadatun Abdullah, Guru Besar Bidang Ilmu Biomolekuler Hasil Perairan IPB University, dan timnya hadir dengan solusi inovatif berbasis teknologi genomik: Hi-Par Meter dan True Portunus.
Dua alat deteksi cepat ini memungkinkan identifikasi spesies ikan dan hasil laut hanya dalam hitungan menit, bahkan dari produk yang sudah dimasak sekalipun. Mengandalkan metode DNA yang canggih namun praktis, teknologi ini menjadi terobosan penting dalam menjawab kebutuhan industri dan pelestarian laut secara bersamaan.
Dalam diskusi melalui episode Bincang Alam yang dilaksanakan pada 19 Juni 2025, Prof. Sasa, sapaan akrab beliau, menjelaskan latar belakang, proses pengembangan, manfaat, serta tantangan dalam mewujudkan teknologi ini agar dapat digunakan secara luas, mulai dari laboratorium, industry, hingga ke pelabuhan dan pasar tradisional.
Berikut adalah rangkuman diskusi, yang tata bahasanya telah disesuaikan untuk penulisan artikel ini.
Mongabay: Mohon jelaskan mengenai smart detection kit Hi-Par Meter dan True Portunus.
Asadatun Abdullah: Hi-Par Meter dan True Portunus adalah alat (kit) deteksi cepat yang mampu mengidentifikasi dan menentukan spesies atau jenis ikan hiu dan pari Appendix II CITES pada bahan industri hasil perikanan untuk menjadi keterlusuran (traceability), keberlanjutan (sustainability), dan (quality). Kita mengembangkan agar bisa memerangkap DNA dalam strip. Perbedaan antara keduanya adalah target spesies yang dapat dideteksi oleh kit tersebut.


Mongabay: Apa latar belakang masalah yang mendorong pengembangan teknologi seperti Hi‑Par Meter dan True Portunus? Lalu seperti apa proses pengembangannya?
Asadatun Abdullah: Indonesia memiliki kekayaan alam sumber daya perikanan yang berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Komoditas utama meliputi udang, tuna, cakalang, tongkol (TCT), rumput laut, cumi, sotong, gurita, rajungan, dan kepiting. Di antara komoditas tersebut, rajungan menjadi perhatian karena potensinya yang besar.
Namun, ada beberapa tantangan serius dalam identifikasi spesies dalam produk akhir di piring konsumen. Ketika makanan sudah diolah, sulit untuk menemukan sumber spesies bahan baku.
Beberapa produk yang beredar di pasaran diduga mengandung spesies yang tidak seharus dikonsumsi atau dilindungi, seperti hiu dan pari.
Hal ini menimbulkan kekhawatiran, mengingat hiu merupakan predator puncak yang penting bagi keseimbangan ekosistem laut. Oleh karena itu, pemanfaatan hiu dan pari dalam industri harus dilakukan secara bijak dan sustain.
Ketidakjelasan identitas spesies dalam produk olahan, menjadi latar belakang penting bagi tim kami di kampus untuk mengembangkan riset identifikasi spesies berbasis DNA. Hanya melalui analisis DNA, kita dapat memastikan spesies asal dari suatu produk secara akurat.
Penerapan teknik genomik awalnya difokuskan untuk menjamin dan memantau bahan baku dalam industri perikanan, khususnya produk olahan dari hiu dan pari. Produk olahan dari spesies tersebut umumnya memiliki nilai jual tinggi, namun sering kali sulit dilacak asal-usul spesiesnya setelah diolah.


Mongabay: Bagaimana teknologi ini dapat meningkatkan traceability dan kepatuhan terhadap regulasi seperti CITES maupun perdagangan perikanan?
Asadatun Abdullah: Penerapan teknik genomik sangat relevan dalam konteks rantai pasok produk perikanan. Meskipun Indonesia memiliki kekayaan perikanan yang melimpah, proses penangkapan hingga produk akhir melibatkan rantai pasok yang panjang. Dalam proses ini, nilai ekonomis produk tinggi dan risiko pemalsuan atau salah identifikasi cukup besar. Oleh karena itu, penerapan sistem traceability berbasis genomik menjadi sangat penting, baik untuk menjamin mutu maupun memastikan keberlanjutan sumber daya.
Secara umum, teknik genomik dalam teknologi hasil perikanan dibagi menjadi dua fungsi utama; Menjamin kualitas dan keamanan pangan, termasuk deteksi kontaminan dan identifikasi komunitas mikroba yang berpotensi membahayakan kesehatan; dan Manajemen rantai pasok (traceability), yang mencakup autentikasi spesies, deteksi spesies langka atau dilindungi dalam produk olahan, serta penelusuran asal-usul bahan baku dalam sistem distribusi.
Kontribusi utama riset genomik yang kami lakukan berfokus pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDG), terutama SDG 14 (Life Below Water) dan SDG 12 (Responsible Consumption and Production).
Mongabay: Bagaimana metode teknologi genomik yang digunakan untuk mendeteksi spesies laut yang dilindungi?
Asadatun Abdullah: Sebagian besar metode yang kami gunakan berbasis DNA, karena lebih sesuai dengan tujuan riset yang kami lakukan. Inovasi yang dihasilkan tidak dapat dilepaskan dari proses riset jangka panjang yang kami jalankan.
Metode berbasis DNA seperti; PCR Konvensional (DNA Barcoding),untuk mengidentifikasi spesies menggunakan urutan DNA spesifik; PCR-RFLP, teknik yang melibatkan enzim pembatas untuk memunculkan pola unik spesies; High Throughput Sequencing, memungkinkan proses sequencing secara massal; dan Real-Time PCR, baik versi laboratorium maupun versi kecil.
Teknologi tersebut digunakan untuk mendukung autentikasi bahan industri. Dengan DNA barcoding, kita bisa menentukan spesies yang sudah tidak mempunyai ciri morfologi. Kami sudah mengerjakannya dari tahun 2010. Ini adalah standar yang selalu dikerjakan untuk kontrol terhadap metode deteksi tepat.
Melalui riset ini, kami berupaya menjembatani kebutuhan industri akan keaslian bahan baku. Riset lain yang sedang berjalan juga untuk mengembangkan modelnya, ini lebih ke arah sosial ekonomi.
Riset ini pun mendukung konservasi keanekaragaman hayati laut, keamanan pangan serta mendorong praktik produksi dan konsumsi serta pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab dalam industri perikanan.

Mongabay: Apa yang biasa jadi tantangan dalam penerapan metode genomik menggunakan DNA barcoding?
Asadatun Abdullah: Biasanya yang jadi permasalahan adalah biaya. Biaya itu tidak murah. Lalu kemudian juga perlu alat-alat khusus. Untuk bikin laboratorium ternyata alat-alat yang dibutuhkan untuk metode genomik ini khusus dan itu juga mahal. Dan perlu teknisi berpengalaman.
Selain itu juga yang menjadi tantangan, adalah metode berbasis DNA yang berarti kita butuh isolat DNA-nya. Atau kita butuh ekstrak DNA dari suatu produk. Jadi, ada tantangan lain untuk ekstraksi. Di lapangan itu pun sulit, cenderung lama, atau bahan ekstraksinya juga tidak murah.
Dan ini sering juga tidak bisa dilakukan di mungkin lokasi yang remote. Itu yang menjadi challenge untuk kita mengembangkan metode deteksi cepat ini. Dan itu juga yang membuat kami coba kembangkan bagaimana caranya agar bisa semuanya itu dalam satu box, sehingga bisa dapat semua.
Jadi untuk riset yang panjang tadi kita coba rangkum di sini sejak 2019. Jadi di 2019-2020 itu paten LAMP sudah selesai. Mungkin sudah mulai bisa banyak publikasi ataupun riset-riset yang dikerjakan berbasis LAMP ini di tahun 2019-2020 itu. Di tahun 2020 kami daftarkan paten baru granted.
Mongabay: Selain hiu dan pari, apakah ada target spesies lain?
Asadatun Abdullah: Kita memang spesifik targetnya untuk spesies Appendix CITES. Tapi juga bisa untuk berbagai macam spesies yang lain. Termasuk di dalamnya itu ada rajungan.
Mongabay: Lalu apa yang jadi keunggulain lain dari Hi-Par Meter dan True Portunus kit ini dibadingkan dengan proses testing di laboratorium?
Asadatun Abdullah: Ini keunggulannya relatif lebih murah dan mudah dibandingkan metode yang biasa dengan DNA barcoding. Sampel dengan smart detection kit sekitar Rp 200.000,-. Kalau kita menggunakan sampel buat analisis barcoding kan paling murah saja Rp 900.000 – Rp 1.000.000.
Pelatihan untuk penggunaan secara luas tidak terlalu sulit dan lebih efisien serta dapat dilakukan di lokasi manapun. Kami pun sudah coba tes keakuratan karena sudah dikerjakan selama 2 sampai 3 tahun. Dengan sampel dari seluruh Indonesia seharusnya sudah akurat.
Mongabay: Seperti apa cara kerja smart detection kit?
Asadatun Abdullah: Jadi penggunaannya itu mudah hanya dengan dicelup saja dan bisa dilihat dari perubahan warnanya saja, kalau memang mengandung spesies yang sudah menjadi target dari kit.
Kalau sampel diinkubasi atau dipanaskan pada suhu yang tetap dengan suhu tertentu, jika memang betul mengandung hiu yang ditarget, dia akan berubah warnanya. Dapat terlihat karena ini berbasis pH.
Kit bisa memberikan hasil yang positif dia akan berubah warna. Tapi yang menjadi dasar adalah DNA-nya. Jadi kalau yang warnanya kuning ini sebetulnya mengandung DNA hiu yang banyak. Kalau yang lain berarti tidak mengandung DNA.
Selain hiu dan pari, untuk tahun ini kita mengerjakan untuk empat komoditas lain yang merupakan komoditas komersial penting untuk membantu eco-labelling.

Mongabay: Bagaimana jika tes dilakukan pada ultra-processed food yang sudah diolah sedemikian rupa?
Asadatun Abdullah: Kita sudah pernah mengerjakan dan mengidentifikasi yang berasal dari ikan yang ultra-processed food atau ikan kaleng. Alasannya karena sebetulnya DNA ini walaupun dia terfragmentasi dengan suhu tinggi tetap bisa kita gunakan. Mungkin tidak bisa sama seperti yang produk segar.
Jadi harus menggunakan sedikit modifikasi. Tapi bisa, karena DNA memang sifatnya lebih stabil.
Mongabay: Apakah ada tantangan dalam harmonisasi teknologi Hi-par Meter dan True Portunus dengan sistem data nasional atau internasional seperti CITES dan fish base?
Asadatun Abdullah: Jadi, untuk tantangan dan harmonisasi gitu ya, jadi untuk fish-based kan basis data satu CITES kan sudah ditetapkan ya, kita memang memilih spesiesnya itu yang memang ada di CITES Appendix 1 dan 2. Dan untuk fish-based ini kita misalnya menggunakannya untuk melihat spesies apa saja yang ada atau subspesies apa saja yang ada misalnya atau berkerabat dekat untuk nanti terkait dengan validasi dari kitnya.
Mongabay: Apakah ada risiko kontaminasi dalam proses deteksi?
Asadatun Abdullah: Pasti ada saja risiko kontaminasi. Ini memang kalau kerja dengan genomik, ya, harus bersih. Carilah tempat yang tidak terganggu dan bisa mengkontaminasi.
Mongabay: Apakah test kit ini sudah bisa dibeli secara komersil?
Asadatun Abdullah: Kami sedang mencari mitra dan sponsor untuk pembiayaan agar dapat produksi massal. Saya berharap ini bisa memberikan manfaat untuk menyelesaikan permasalahan dengan produksi secara massal.
*****
Foto utama: Hiu martil, salah satu hiu yang dilindungi dan masuk dalam daftar Appendix CITES di salah satu kapal di Pelabuhan Lamongan, Jawa Timur sebelum didaratkan.Foto : A Asnawi/Mongabay Indonesia
Hi-Par & True-Portunus: Cara Cepat Deteksi DNA untuk Produk Spesies Laut Terancam Punah