- Nelayan gurita Labuan, Pandeglang, Banten, menangkap dengan alat tradisional. Ada yang ‘mancing;’ di tepian pantai, ada yang pakai perahu kecil. Kini, mereka galau karena hasil tangkapan gurita tak seperti dulu lagi.
- Nelayan menduga berbagai penyebab gurita makin sulit, antara lain, eksosistem mangrove rusak, kerusakan terumbu karang sampai perubahan iklim.
- Laporan terbaru menyebutkan, sebagian besar kawasan mangrove di utara Teluk Banten berubah menjadi kawasan industri, menyisakan sedikit ruang hidup bagi biota laut. Penelitian Amalia Narya Saleha dkk’. (2023) dari Universitas Diponegoro mencatat, kurun 2017-2022, sekitar 1,027 hektar ekosistem mangrove di pesisir utara Teluk Banten hilang dari sekitar 39,794 hektar pada 2017.
- Ternyata tak hanya dalam penangkapan gurita nelayan hadapi masalah, pembeli pun sepi sejak setahun ini hingga terdampak ke harga.
Embun belum sepenuhnya kering di Labuan, Banten, akhir Juli lalu. Jam baru menunjukkan pukul 6.00 pagi, ketika Supardi bersiap membawa pancingan dari rotan dan tas selempang dari karung plastik.
Lelaki paruh baya ini menggerakkan tangan dari atas ke bawah, menyusuri perairan Teluk Labuan yang surut. Dia sedang mencari gurita di antara terumbu karang dan pasir di perairan dangkal itu.
“Nelayan gurita di sini biasa nyebutnya ngoclok,” kata Pardi.
Ngoclok adalah teknik menangkap gurita secara tradisional masyarakat pesisir Labuan, Pandeglang, Banten. Nelayan menggoyangkan alat pancing dari rotan ke laut. Gerakan itu meniru mangsa gurita, menggoda hewan bertangan delapan itu keluar dari lubang.
Begitu gurita menempel, Pardi menarik pelan-pelan pancingan, lalu dengan cepat memasukkan ke dalam kantong plastik di pinggang.
Air laut surut Pardi manfatkan untuk mencari gurita. Dia berharap, hari itu tangkapan cukup banyak untuk bawa pulang dan jual.
“Kalau surutnya pas dan cuaca bagus, biasa bisa dapat 10 sampai 20 gurita,” katanya.
Pagi itu, air laut tampak tenang, tak terlalu berlumpur, dan terasa hangat. Kondisi ini membuat gurita cenderung tetap berada di tempat persembunyian. Pada malam hari, gurita biasa keluar mencari makan.
Pada pagi hari, mereka berdiam di lokasi berlumpur, seperti di sekitar pohon bakau, di ekosistem mangrove.
Area berlumpur memberi mereka perlindungan alami dari para pemangsa.
“Biasanya, gurita sembunyi di sekitar pohon bakau,” kata Pardi.
Dia kembali menelusuri pinggiran karang, mengulangi gerakan ngoclok. Di sekitarnya, beberapa nelayan lain tampak melakukan hal serupa, menjaga jarak satu sama lain agar tidak saling berebut wilayah tangkap.
Sudah lima tahun lebih, ngoclok Pardi jalani. Meski hasil tangkapan tak selalu pasti, dia tetap menggantungkan hidup dari laut.

Gurita-gurita yang dia tangkap biasa jual ke restoran atau penjual makanan, termasuk yang mengolah menjadi bakso. Gurita dia jual dengan Rp5.000-Rp10.000 per kepala, tergantung ukuran.
“Kadang kalau musim bagus, bisa bawa pulang sampai Rp300.000 sehari. Kalau lagi sepi, ya paling cuma dapat lima ekor,” katanya.
Musim panen gurita, kata Pardi, biasa antara Juni hingga Agustus, saat cuaca cenderung cerah dan air laut surut lebih lama di pagi hari.
Di luar bulan-bulan itu, hasil tangkapan bisa menurun drastis karena kondisi air tak mendukung atau sulit temukan gurita.
Meski begitu, Pardi tetap menikmati pekerjaan ini. “Udah biasa begini. Asal laut tenang, badan sehat, ya, tetap berangkat.,” katanya, sambil menggoyangkan alat ngoclok ke dalam air.
Selain mencari gurita, dia juga menerima tangkapan gurita para nelayan di Kampung Karet, Desa Teluk, Kecamatan Labuan ini.
Sukri, salah satu nelayan gurita yang menjual hasil tangkapan ke Pardi. Bila hasil tangkapan banyak, lelaki 50 tahun ini menyetor gurita ke Pardi 2-4 kilogram tiap hari.
Ada juga hari di mana tangkapan hanya cukup untuk lauk makan keluarga.
“Sekarang cukup sulit cari gurita di karang dangkal. Karang di sini (Teluk Labuan) udah banyak yang rusak,” katanya.
Dia menduga, kerusakan terumbu karang karena penangkapan ikan merusak, seperti bom dan racun. Cuaca yang berubah pun, katanya, membuat suhu air naik. Akibatnya, gurita yang biasa bersembunyi di sela terumbu karang makin sulit.
Tak hanya karena perubahan iklim, katanya, kerusakan terumbu karang dangkal juga karena ulah manusia. Banyak orang mengambil terumbu karang ilegal untuk jual atau jadi hiasan akuarium.
Sukri pernah memergoki sekelompok orang yang mengambil terumbu karang diam-diam. “Mereka pakai boks besar ngangkut karang-karang ini,” katanya.
“Mereka ngelakuin itu sembunyi-sembunyi karena khawatir ketahuan Syahbandar.”

Abrasi, cuaca tak menentu
Dalam beberapa tahun terakhir, Pardi dan nelayan gurita di sana menghadapi tantangan baru, yakni, makin sulit tebak cuaca. Krisis iklim membuat musim hujan dan kemarau datang tidak menentu.
Kalau dulu, Pardi bisa memperkirakan kapan waktu terbaik melaut, kini pola itu mulai kacau.
“Kadang harusnya sudah kemarau, tapi hujan deras terus. Atau sebaliknya, harusnya hujan malah panas terik,” katanya.
Kondisi ini, katanya, mempengaruhi pasang surut air laut, yang sangat menentukan waktu pencarian gurita. Air yang terlalu tinggi atau terlalu keruh menyulitkan nelayan melihat dasar laut, tempat gurita biasa bersembunyi.
Selain itu, badai kecil atau gelombang mendadak juga membahayakan nelayan yang menggunakan perahu kecil.
“Kalau airnya pasang terus dan cuaca angin kencang, ya, saya nggak bisa berangkat. Kadang seminggu bisa cuma dua kali ke laut,” kata Pardi.
Cuaca tidak menentu membuat musim panen gurita juga ikut berubah. Kalau dulu nelayan bisa memperkirakan kapan masa gurita banyak, kini semua bak taruhan.
Para nelayan harus sering “berjudi” dengan keadaan, menerka-nerka kapan laut akan bersahabat. Tak jarang, mereka pulang dengan tangan kosong.
“Kalo nggak bawa tangkapan, dapur nggak ngebul,” katanya tertawa kecil.
Selain cuaca ekstrem, Pardi juga mencemaskan kondisi pesisir Teluk Labuan yang terus berubah. Garis pantai kian mendekat ke daratan. Pada musim pasang besar, air laut bahkan sampai masuk ke pekarangan warga.
“Dulu, tempat saya ngoclok masih jauh dari rumah warga, sekarang air udah dekat banget. Kadang sampai masuk ke kebun.”

Ekosistem mangrove rusak, rumah gurita hilang
Masalah penting lain yang jadi penyebab gurita makin sulit, katanya, karena bakau di sepanjang pesisir makin berkurang.
Pohon bakau yang dulu tumbuh rapat dan menjadi pelindung alami dari ombak, hanya tersisa di beberapa titik saja.
“Kita para nelayan hidupnya memang bergantung sama laut, tapi kalo nggak ada ekosistem mangrove di pesisir, ya, repot juga. Bukan cuma hasil tangkapan yang keganggu, rumah warga pesisir juga bisa terancam disapu ombak,” katab Pardi.
Dia merasa, kerusakan mangrove terbesar terjadi setelah tsunami Selat Sunda pada akhir 2018. Gelombang tinggi menerjang pantai Teluk Labuan saat itu tak hanya menghancurkan permukiman warga, juga menyapu hamparan bakau di sepanjang garis pantai.
“Setelah tsunami itu, bakau banyak hilang. Nggak tumbuh lagi sampai sekarang.”
Kerusakan ekosistem mangrove itu, katanya, tak hanya oleh bencana seperti tsunami Selat Sunda pada 2018, juga ulah manusia. Penebangan liar, alih fungsi lahan untuk pemukiman dan tambak, hingga pencemaran limbah turut memperparah kondisi mangrove di pesisir ini.
Menurut Pardi, pohon bakau sangat penting, bukan hanya menjaga garis pantai, juga habitat alami gurita dan pelbagai biota laut lain.
Bakau yang membentuk ekosistem mangrove di sepanjang pesisir Teluk Labuan, dulu menjadi rumah dan tempat berkembang biak pelbagai jenis biota laut, termasuk gurita. Habitat berlumpur dan rimbun akar bakau menyediakan tempat yang aman bagi gurita untuk bersembunyi dari predator, terutama saat siang hari atau musim bertelur. Namun, kini keberadaan bakau itu makin langka.

Laporan terbaru menyebutkan, sebagian besar kawasan mangrove di utara Teluk Banten berubah menjadi kawasan industri, menyisakan sedikit ruang hidup bagi biota laut.
Penelitian Amalia Narya Saleha dkk’. (2023) dari Universitas Diponegoro mencatat, kurun 2017-2022, sekitar 1,027 hektar ekosistem mangrove di pesisir utara Teluk Banten hilang dari sekitar 39,794 hektar pada 2017.
Sebagian besar perubahan itu terjadi di Kecamatan Pulo Ampel, Bojonegara, dan Kramatwatu. Kini, hanya Kecamatan Kasemen, Pontang, dan Tirtayasa, masih memiliki sisa ekosistem mangrove.
Melihat kondisi mangrove rusak, para nelayan di Teluk Labuan, bahu-membahu menanam pohon bakau secara swadaya.
“Kita pakai kantong (uang) sendiri buat beli bibit-bibit bakau ini dari hasil urunan para nelayan,” kata Pardi.
Meski begitu, dia berharap pemerintah memperhatikan ekosistem mangrove di pesisir Teluk Labuan ini.
Jangan sampai, katanya, usaha nelayan kecil menanam mangrove jadi tempelan di laporan tanpa ada dukungan nyata di lapangan.
“Jangan cuma datang pas ada proyek terus foto-foto doang. Nelayan butuh bantuan beneran, bukan cuma janji.”

Pasar lesu?
Di tengah persoalan ketika penangkapan gurita, Pardi dan nelayan gurita juga menghadapi tantangan baru. Setahun terakhir ini, permintaan gurita terus menurun.
Dulu, gurita-gurita hasil tangkapan nelayan Teluk Labuan kerap kirim ke Jakarta. Biasa, pembeli dari ibu kota datang langsung ke kampung atau memesan melalui tengkulak yang rutin mengambil hasil laut dari wilayah ini.
Gurita-gurita itu menjadi aneka hidangan laut, termasuk menu-menu khas restoran Jepang dan Korea yang beberapa tahun terakhir sempat populer.
Kini, jalur distribusi itu mulai terputus. Tengkulak jarang datang, bahkan kadang tak kembali sama sekali. Harga gurita pun ikut anjlok karena setok tidak terserap pasar.
“Udah satu tahun ini agak sepi. Yang biasa ngambil ke Jakarta nggak kelihatan lagi,” ujar Pardi.
Dia menduga, tren selera masyarakat di kota besar ikut memengaruhi permintaan gurita. “Mungkin sekarang orang-orang di kota udah jarang makan gurita. Gantian lagi tren makanannya.”
Tren makanan yang cepat berubah, terutama di kota besar seperti Jakarta, membuat produk seperti gurita nelayan rentan kehilangan pasar.
Pardi tak tahu pasti penyebab perubahan tren ini, tetapi dia menyadari betul dampak terhadap penghasilannya. Kalau dulu sebulan bisa menjual hingga ratusan ekor, kini tidak lagi.
“Harapannya sih, permintaan gurita tinggi lagi, jadi nelayan di sini (Teluk Labuan) bisa semangat lagi ngoclok. Soalnya kalo nggak laku, ya, bingung mau jual ke mana lagi.”

*****