- Dua individu macan tutul jawa (Panthera pardus melas) terpantau kamera jebak di wilayah Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), yang diperiksa pada 30 April 2025. Satwa ini teridentifikasi pertama kali seminggu setelah perangkat tersebut dipasang tim survei Kontigensi Balai TNGHS, pada 23 Februari 2025.
- Hasil identifikasi visual awal mengindikasikan dua individu top predator tersebut dengan pola warna berbeda. Satu individu hitam pekat (morf hitam/kumbang) dan satu lagi berbintik khas (morf tutul).
- Erwin Wilianto, Founder Yayasan SINTAS Indonesia dan anggota Cat Specialist Group IUCN SSC mengatakan, pada 2018 pihaknya telah memetakan distribusi habitat potensial macan tutul jawa.
- Edukasi dan publikasi ilmiah sebagai bagian dari upaya konservasi macan tutul jawa penting dilakukan. Tanpa literasi publik yang baik, sulit berharap ada dukungan jangka panjang dari masyarakat dan pemerintah.
Dua individu macan tutul jawa (Panthera pardus melas) terpantau kamera jebak di wilayah Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), yang diperiksa pada 30 April 2025.
Satwa endemik Pulau Jawa ini, teridentifikasi pertama kali seminggu setelah perangkat tersebut dipasang tim survei Kontigensi Balai TNGHS, pada 23 Februari 2025.
Hasil identifikasi visual awal mengindikasikan dua individu top predator tersebut dengan pola warna berbeda. Satu individu hitam pekat (morf hitam/kumbang) dan satu lagi berbintik khas (morf tutul).
Dari dua unit kamera itu, terekam sebanyak 28 bingkai menampilkan keberadaan macan tutul, serta lebih dari 5.000 bingkai lain mendokumentasikan aktivitas pengunjung wisata.
Budhi Chandra, Kepala Balai TNGHS, dalam pernyataan resminya menegaskan pentingnya menjaga kawasan ini sebagai rumah alami sang kucing besar.
“TNGHS merupakan rumahnya macan tutul yang statusnya terancam punah,” jelasnya, Minggu (18/5/2025).

Ikhwal Riza Ardiansyah, mahasiswa Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) University, juga menjumpai satwa langka tersebut saat melakukan penelitian di koridor kawasan TNGHS, tahun 2020.
Berdasarkan hasil survei, dia mendapati 26 titik indikasi keberadaan macan tutul jawa yang tersebar hampir merata di area koridor. Indikasi keberadaan ini juga terdeteksi melalui berbagai tanda fisik di lapangan, seperti jejak kaki, bekas tempat beristirahat, feses, urin, serta cakaran di tanah maupun pada batang pohon.
“Dari seluruh temuan, jenis tanda yang paling doninan yaitu cakaran di permukaan tanah, mencakup sekitar 70 persen dari total bukti yang terkumpul,” terang Riza kepada Mongabay, awal Mei 2025.
Selain itu, sebanyak 53 titik cakaran juga berhasil didokumentasikan, dengan panjang berkisar antara 20 hingga 45 sentimeter dan lebar antara 13 hingga 22 senitmeter.
Jejak kaki, lanjut Riza, menjadi indikator kedua terbanyak, ditemukan di 17 lokasi berbeda dengan ukuran rata-rata sekitar 8×6 sentimeter.

Habitat macan tutul harus dijaga
Penelitian Riza menunjukkan bahwa areal ini merupakan wilayah penting jalur perlintasan macan tutul jawa.
“Macan tutul yang mempunyai jenis kelamin sama, biasanya saling menghindar atau bertarung untuk mempertahankan wilayahnya. Koridor ini sangat penting sebagai perluasan habitat dan saluran pertukaran genetik.”
Dalam riset tersebut, Riza mengumpulkan data melalui kamera jebak (camera trap) serta survei lapangan. Beberapa parameter utama dalam analisis habitat yang digunakan mencakup kelerengan, ketinggian, tutupan lahan, keberadaan satwa mangsa, juga jarak terhadap gangguan seperti permukiman atau jalur motor trail.
“Selama penelitian, saya berhasil mengidentifikasi empat individu macan tutul jawa yang aktif melintasi areal koridor.”

Ada 18 jenis satwa mangsa potensial yang terpantau yaitu babi hutan (Sus scrofa), kijang (Muntiacus), ayam hutan (Gallus), dan beberapa jenis primata kecil. Ini menjadi indikator penting kelayakan ekosistem sebagai habitat predator besar.
“Dalam peta kesesuaian habitat yang kami susun, diketahui bahwa 49% area koridor mempunyai kesesuaian tinggi, sedangkan 40% tergolong sedang. Artinya, sebagian besar wilayah ini masih sangat mungkin menunjang keberadaan macan tutul secara alami.”
Habitat ini perlu dijaga konsisten mengingat sifat teritorial macan tutul.
“Jika terfragmentasi, individu yang ada akan kesulitan bertemu pasangan dan itu bisa menurunkan keanekaragaman genetik. Selain itu, pengawasan dan pendekatan komunitas untuk meminimalisasi gangguan habitat perlu dilakukan agar wilayah ini bebas kerusakan,” ujarnya.

Fokus utama konservasi macan tutul
Erwin Wilianto, Founder Yayasan SINTAS Indonesia dan anggota Cat Specialist Group IUCN SSC mengatakan, pada 2018 pihaknya telah memetakan distribusi habitat potensial macan tutul jawa.
Hasil pemodelan distribusi itu mengidentifikasi 29 blok habitat yang tersebar di berbagai penjuru Jawa. Namun, hanya sebagian kecil yang mempunyai data populasi memadai.
“Sebanyak 5 lanskap diketahui mampu mendukung lebih dari 50 individu macan tutul, namun 7 blok belum ada data yang cukup,” terangnya, pertengahan Mei 2025.
Bahkan dalam banyak lokasi, laporan keberadaan macan tutul hanya berdasarkan konflik atau pengamatan visual singkat yang tidak terverifikasi.

Erwin menekankan pentingnya edukasi dan publikasi ilmiah sebagai bagian dari upaya konservasi. Menurutnya, tanpa literasi publik yang baik, sulit berharap ada dukungan jangka panjang dari masyarakat dan pemerintah.
“Publikasi itu bukan sekadar pamer hasil. Ini bagian dari advokasi dan diplomasi konservasi. Kita harus tunjukkan kepada dunia bahwa Jawa punya keanekaragaman hayati luar biasa yang layak diselamatkan.”
Program JWLS (Java-Wide Leopard Survey) yang tengah dijalankan saat ini, menurut Erwin, melibatkan pelatihan kapasitas bagi para mitra lokal, termasuk mahasiswa, warga dan aparat pemerintah.
“Harapanya, akan tumbuh aktor-aktor baru yang bisa meneruskan inisiatif konservasi macan tutul secara mandiri,” tegasnya.