Elang Bondol: Sang Pemangsa Tersingkir oleh Hutan Beton Jakarta

Elang bondol (Haliastur indus). Foto: Eko Prastio Ramadhan/ Burung Indonesia
Elang bondol (Haliastur indus). Foto: Eko Prastio Ramadhan/ Burung Indonesia

Elang bondol (Haliastur indus) merupakan burung gagah yang telah tersingkir dari kehidupan belantara beton Jakarta. Maskot DKI Jakarta yang ditetapkan melalui Keputusan Gubernur No. 1796 Tahun 1989 ini pindah karena makanan favoritnya berupa ikan yang berada di perairan bersih sudah tidak tersedia lagi di Jakarta.

Dahulu, saat Jakarta masih ditumbuhi banyak pohon dan sungainya bersih, ia begitu mudah dilihat. Namun, semua berubah kala Jakarta mulai disesaki manusia. Wilayah hijaunya yang luas perlahan berkurang karena diubah menjadi kawasan perumahan, perkantoran, dan industri. Pepohonannya perlahan menghilang dan berganti dengan gedung pencakar langit. Akibatnya, burung berukuran 45 cm ini kesulitan mencari pakan. Menu kesukaannya berupa ikan segar pelan-pelan susah didapat karena sungainya telah tercemar.

Bahkan, agar tidak kelaparan, elang bondol ini harus belajar makan bangkai hewan pengerat yang mati tertabrak kendaraan bermotor. Padahal, ia sama sekali tidak menyukai jenis makanan ini sebelumnya. Kejadian ini diperkirakan mulai berlangsung pada 1980-an.

Walaupun termasuk satwa dilindungi berdasarkan PP Nomor 7 Tahun 1999, elang bondol senantiasa diburu dan diperdagangkan secara ilegal. Selain itu, habitatnya terusik karena bertambahnya jumlah penduduk. Burung yang dianggap mewakili karakter masyarakat Jakarta yang dinamis dan selalu bergerak ini, harus bertahan di pulau-pulau kecil di Kepulauan Seribu terutama di Pulau Kotok dan Pulau Pramuka.

Burung pemangsa ini berkembang biak pada bulan Januari-Agustus, dan Mei-Juli. Dierami selama 28-35 hari. Anakan mulai belajar terbang dan meninggalkan sarang umur 40-56 hari, menjadi dewasa mandiri setelah 2 bulan kemudian.

Silakan unduh kalender digital bulan Agustus 2013 dengan fitur elang bondol dari Burung-Indonesia di link ini: http://burung.org/Wallpaper/wallpaper-burung-indonesia-bulan-agustus-2013.html

agu_1280_800_cal

Kredit

Topik

Jejak Buaya Muara dan Habitat yang Terkikis

Fenomena meningkatnya konflik antara manusia dan buaya muara di berbagai wilayah Indonesia mencerminkan kerusakan serius pada ekosistem pesisir dan daerah aliran sungai. Aktivitas pertambangan, konversi lahan, hingga pencemaran lingkungan telah mengikis batas alami yang selama ini memisahkan ruang hidup masyarakat dengan habitat predator purba tersebut. Peristiwa yang terjadi mulai dari Bangka Belitung, NTT, hingga Aceh […]

Artikel terbaru

Semua artikel