Seribu Luka di Hari Bumi

Setiap tanggal 22 April, dunia berhenti sejenak; menanam pohon, membentangkan spanduk, mengucapkan janji. Namun ketika perayaan usai, bumi tetap menanggung luka yang sama: hutan-hutan Kalimantan yang diratakan, pesisir Makassar yang terkikis, perairan NTB yang meluap, burung laut yang perutnya penuh plastik, dan pari gergaji yang hampir punah sebelum kebanyakan orang tahu ia pernah ada. Dari ujung Sulawesi hingga Bali, hingga hari ini, krisis lingkungan Nusantara bukan sekadar angka dalam laporan, melainkan kehidupan sehari-hari jutaan orang di pesisir, di hutan, dan di kampung-kampung yang namanya jarang masuk halaman depan. Di tengah semua itu, selalu ada tangan-tangan yang tidak menyerah; yang memilih untuk menanam ketika yang lain menebang, memungut ketika yang lain membuang, dan bersuara ketika yang lain berpaling. Catatan-catatan dari penjuru Nusantara ini bukan hanya kesaksian atas luka, tetapi juga pengingat bahwa merawat bumi adalah pilihan yang harus dibuat setiap hari.

Ketika Generasi Muda Desak Perbaikan dan Permulihan Bumi

Bagaimana Kondisi Hutan dan Satwa Liar Indonesia?

Opini: Nasib Pari Gergaji di Hari Bumi

Ketika Solusi Hadapi Krisis Bumi Malah Berisiko

Merawat Laut, Menjaga Bumi Tetap Layak Huni

Refleksi di Hari Bumi, Meratapi Nasib Hutan Indonesia

Opini: Menjaga Harapan Tersisa di Bumi

Hari Bumi 2025: Energi Bersih untuk Masa Depan Umat Manusia

Mengenang Rachel Carson, Penulis Buku “Musim Semi Yang Sunyi” Pencetus Hari Bumi

Seribu Harapan di Hari Bumi

Semua Spesial

Jelajahi situs Mongabay lainnya...

Earth HQ
Data Studio
Conservation Effectiveness
Mongabay Latam
Reforestation App
Mongabay Indonesia

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam