<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=taufik-wijaya-oku-selatan&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/taufik-wijaya-oku-selatan/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Sat, 15 Aug 2026 06:40:00 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.4</generator>
				<item>
					<title>Bitis gabonica, Ular Berbisa dengan Taring Terpanjang di Dunia yang Menghasilkan Bisa Terbanyak</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/15/bitis-gabonica-ular-berbisa-dengan-taring-terpanjang-di-dunia-yang-menghasilkan-bisa-terbanyak/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/15/bitis-gabonica-ular-berbisa-dengan-taring-terpanjang-di-dunia-yang-menghasilkan-bisa-terbanyak/#respond</comments>
					<pubDate>15 Agu 2026 04:14:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/15041542/Bitis_gabonica_fangs-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131982</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bitis gabonica, yang dikenal umum sebagai Gaboon viper, merupakan spesies ular berbisa yang mendiami hutan hujan tropis dan kawasan savana di Afrika Sub-Sahara. Spesies ini memegang dua rekor sekaligus di antara seluruh spesies ular berbisa: taring terpanjang dan volume produksi bisa terbanyak. Panjang taringnya, menurut sejumlah sumber, berkisar antara 4 hingga 5,5 sentimeter, tergantung metode [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/15/bitis-gabonica-ular-berbisa-dengan-taring-terpanjang-di-dunia-yang-menghasilkan-bisa-terbanyak/">Bitis gabonica, Ular Berbisa dengan Taring Terpanjang di Dunia yang Menghasilkan Bisa Terbanyak</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bitis gabonica, yang dikenal umum sebagai Gaboon viper, merupakan spesies ular berbisa yang mendiami hutan hujan tropis dan kawasan savana di Afrika Sub-Sahara. Spesies ini memegang dua rekor sekaligus di antara seluruh spesies ular berbisa: taring terpanjang dan volume produksi bisa terbanyak. Panjang taringnya, menurut sejumlah sumber, berkisar antara 4 hingga 5,5 sentimeter, tergantung metode pengukuran dan spesimen yang diteliti. Adapun hasil pemerahan bisanya pernah tercatat melebihi 2 gram bisa kering dalam satu kali pemerahan, jumlah tertinggi yang pernah dilaporkan pada ular berbisa mana pun. Secara taksonomi, bandotan gabon ini merupakan anggota terbesar dari genus Bitis, yang mencakup 18 spesies viper di kawasan Sub-Sahara Afrika dan sebagian Semenanjung Arab. Panjang tubuh dewasa umumnya berkisar 120 hingga 175 sentimeter, dengan berat mencapai 8 hingga 11 kilogram, menjadikannya salah satu ular berbisa terberat di Afrika. Dua kelompok yang secara historis dianggap subspesies, yaitu Bitis gabonica gabonica di Afrika Timur dan Selatan serta Bitis rhinoceros di Afrika Barat, kini diperlakukan sebagai dua spesies berbeda oleh sebagian peneliti berdasarkan bukti genetik. International Union for Conservation of Nature (IUCN) mencatat status konservasi Gaboon viper sebagai Vulnerable, meski data populasi yang mendasari penilaian ini masih terbatas di sejumlah wilayah jelajahnya. Struktur Rahang dan Mekanisme Taring Taring Gaboon viper menempel pada tulang maksila yang bersifat fleksibel, bagian dari struktur rahang solenoglyphous yang umum ditemukan pada famili Viperidae. Saat mulut tertutup, taring terlipat ke belakang sejajar dengan langit-langit mulut. Struktur ini memungkinkan ular menyimpan taring sepanjang itu tanpa melukai jaringan mulutnya sendiri. Gaboon viper (Bitis gabonica) berkamuflase di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/15/bitis-gabonica-ular-berbisa-dengan-taring-terpanjang-di-dunia-yang-menghasilkan-bisa-terbanyak/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/15/bitis-gabonica-ular-berbisa-dengan-taring-terpanjang-di-dunia-yang-menghasilkan-bisa-terbanyak/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Tambang Emas Ilegal di Pohuwato jadi &#8216;Kuburan Massal&#8217;</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/15/ketika-tambang-emas-ilegal-di-pohuwato-jadi-kuburan-massal/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/15/ketika-tambang-emas-ilegal-di-pohuwato-jadi-kuburan-massal/#respond</comments>
					<pubDate>15 Agu 2026 03:11:23 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Sarjan Lahay]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/15014516/Sarjan-tambang-emas-ilegal-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131929</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo dan sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Puluhan orang tertimbun setelah satu situs tambang emas ilegal di Desa Hulawa, Kecamatan Buntuhila, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, longsor, Rabu (12/8/26) pukul 19.00. Data sementara lima orang meninggal dunia dan puluhan lain belum ditemukan. Video amatir yang beredar memperlihatkan detik-detik tebing longsor menimpa sejumlah penambang yang berada tepat di bawahnya. Lokasi kejadian berada jauh dari permukiman, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/15/ketika-tambang-emas-ilegal-di-pohuwato-jadi-kuburan-massal/">Ketika Tambang Emas Ilegal di Pohuwato jadi &#8216;Kuburan Massal&#8217;</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Puluhan orang tertimbun setelah satu situs tambang emas ilegal di Desa Hulawa, Kecamatan Buntuhila, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, longsor, Rabu (12/8/26) pukul 19.00. Data sementara lima orang meninggal dunia dan puluhan lain belum ditemukan. Video amatir yang beredar memperlihatkan detik-detik tebing longsor menimpa sejumlah penambang yang berada tepat di bawahnya. Lokasi kejadian berada jauh dari permukiman, dengan medan berbukit dan minim akses jalan. Belum ada informasi pasti jumlah korban tertimbun tetapi  lebih dari 20 orang. Seorang warga  menyebut, malam sebelum peristiwa itu  lokasi cukup ramai. Puluhan lampu senter terlihat menerangi lokasi itu.  Saat longsor menerjang, terang lampu senter itu hilang. “Pada malam sebelum longsor, banyak penambang berada di lokasi. Setelah longsor , lampu-lampu senter yang terlihat di kawasan tambang tiba-tiba menghilang. Kami menduga banyak penambang tertimbun,” katanya. Tim pencari baru mengevakuasi lima korban sudah meninggal dunia. Dari kelima korban itu, empat  dari Desa Bendungan, Kecamatan Mananggu, Boalemo. Mereka adalah Miman, Pandra, Sandi,  dan Fiki. Satu korban lain, Andi Otoluwa,  warga Desa Bongonol,  Boalemo. Keterangan yang Mongabay himpun, longsor terjadi ketika para korban bersama puluhan penambang  tengah mencari  emas secara manual di  pertambangan di Desa Hulawa. Para penambang sempat melihat ada tanda-tanda pergerakan tanah di lokasi. Namun, mereka tetap melanjutkan aktivitasnya. Nahas, sekitar pukul 19.00 WITA tebing  di lokasi ambrol dan menimpa para penambang. Kamis (13/8/26), sekitar pukul 03.30, warga dan tim pencari kelima korban dan membawa ke RSUD Bumi Panua, Pohuwato. Mus Yasin, Kepala Desa Bendungan, akui keempat warganya jadi korban meninggal dalam longsor di tambang Dam Pohuwato. “Memang selama ini&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/15/ketika-tambang-emas-ilegal-di-pohuwato-jadi-kuburan-massal/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/15/ketika-tambang-emas-ilegal-di-pohuwato-jadi-kuburan-massal/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Setelah 70 Tahun, Auman Harimau Kembali ke Asia Tengah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/setelah-70-tahun-auman-harimau-kembali-ke-asia-tengah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/setelah-70-tahun-auman-harimau-kembali-ke-asia-tengah/#respond</comments>
					<pubDate>15 Agu 2026 03:09:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/10021610/Harimau-Umit1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131927</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Begitu pintu kerangkeng dibuka, Ümit berlari menuju tepian Danau Balkhash, Kazakhstan. Pelepasliaran pada Jumat, 31 Juli 2026, itu bukan sekadar pembebasan seekor harimau. Langkah tersebut menjadi awal kembalinya predator puncak ke wilayah yang telah kehilangan aumannya selama sekitar 70 tahun. Ümit adalah harimau amur betina (Panthera tigris altaica). Ia merupakan satu dari empat harimau yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/setelah-70-tahun-auman-harimau-kembali-ke-asia-tengah/">Setelah 70 Tahun, Auman Harimau Kembali ke Asia Tengah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Begitu pintu kerangkeng dibuka, Ümit berlari menuju tepian Danau Balkhash, Kazakhstan. Pelepasliaran pada Jumat, 31 Juli 2026, itu bukan sekadar pembebasan seekor harimau. Langkah tersebut menjadi awal kembalinya predator puncak ke wilayah yang telah kehilangan aumannya selama sekitar 70 tahun. Ümit adalah harimau amur betina (Panthera tigris altaica). Ia merupakan satu dari empat harimau yang mengikuti program reintroduksi di Kazakhstan. Tiga lainnya adalah Amur, harimau jantan dewasa, serta dua anakan bernama Turan dan Ussuri yang masih menjalani adaptasi dan evaluasi. Reintroduksi berarti mengembalikan suatu satwa ke wilayah tempat jenisnya pernah hidup, tetapi kemudian menghilang. Program ini telah dirancang sekitar sepuluh tahun lalu. Pada 2018, Cagar Alam Ile Balkhash mulai disiapkan sebagai pusat reintroduksi. Bagian hilir Sungai Ili dan selatan Danau Balkhash dahulu menjadi habitat alami harimau. Kawasan ini menyediakan tiga kebutuhan utama predator besar: air, tempat berlindung, dan mangsa. Namun, harimau menghilang dari Kazakhstan pada 1948. Kerusakan dan terpecahnya hutan, penurunan jumlah ungulata atau satwa berkuku, peningkatan aktivitas manusia, serta perburuan tak terkendali membuat harimau kehilangan habitat dan sumber makanan. Ümit sebenarnya bukan harimau endemik Kazakhstan. Ia didatangkan dari Khabarovsk, Rusia. Lalu, mengapa harimau amur dipilih untuk hidup di Asia Tengah? Jawabannya terletak pada hubungan genetik. Harimau amur memiliki kemiripan DNA dengan harimau turan, atau harimau kaspia, yang dahulu hidup di Asia Tengah. Kemiripan ini membuat harimau amur dipilih untuk mengisi kembali peran ekologis kerabatnya yang telah hilang. Sebagai predator puncak, harimau membantu menjaga keseimbangan jumlah satwa mangsa. Kehadirannya diharapkan dapat memulihkan keseimbangan ekologi Danau Balkhash. Namun, mengembalikan predator besar&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/setelah-70-tahun-auman-harimau-kembali-ke-asia-tengah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/setelah-70-tahun-auman-harimau-kembali-ke-asia-tengah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mencermati Subsidi Program Biodiesel</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/14/mencermati-subsidi-program-biodiesel/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/14/mencermati-subsidi-program-biodiesel/#respond</comments>
					<pubDate>14 Agu 2026 23:39:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Della Syahni]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/08/21043424/Gundukan-tandan-sawit-hasil-panen-warga-Toro.-Foto-Suryadi-Mongabay-Indoensia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131968</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, politik dan hukum, sawit, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Mulai Juli lalu, Pemerintah Indonesia luncurkan Program Biodiesel B50. Klaim pemerintah program ini untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar impor, meningkatkan konsumsi minyak sawit domestik, dan memperkuat ketahanan energi nasional. Kajian Traction Energy Asia bersama Universitas Padjajaran menemukan B50 menyimpan banyak biaya tersembunyi yang harus jadi perhitungan. “B50 hanya dapat dipertanggungjawabkan apabila kebijakan di belakangnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/14/mencermati-subsidi-program-biodiesel/">Mencermati Subsidi Program Biodiesel</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Mulai Juli lalu, Pemerintah Indonesia luncurkan Program Biodiesel B50. Klaim pemerintah program ini untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar impor, meningkatkan konsumsi minyak sawit domestik, dan memperkuat ketahanan energi nasional. Kajian Traction Energy Asia bersama Universitas Padjajaran menemukan B50 menyimpan banyak biaya tersembunyi yang harus jadi perhitungan. “B50 hanya dapat dipertanggungjawabkan apabila kebijakan di belakangnya direformasi. Karena mandat B50 sudah berjalan, reformasi menjadi keharusan,” kata Yayan Satyakti, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjajaran dalam diskusi di Jakarta, akhir Juli lalu. Kajian mereka menemukan, Indonesia merugi di setiap tahun untuk setiap skenario dan kerugian itu makin dalam selama B50 berjalan tanpa reformasi. Seluruh dampak kerugian tahunan kebijakan B50 bisa mencapai Rp273 triliun pada 2035. Dengan reformasi penuh, kerugian bisa turun jadi Rp95 triliun. Dia bilang, B50 menggantikan sekitar Rp200 triliun solar impor per tahun. Ini lebih besar dari klaim pemerintah sendiri. Namun biaya produksi biodiesel lebih tinggi daripada biaya impor solar, hingga setiap liter campuran perlu subsidi. “Ketahanan energi itu nyata, tapi bahan bakarnya tidak murah,” kata Yayan. Selain itu, katanya, peluncuran B50 tahun ini adalah jebakan. Harga minyak tinggi pada 2026 mempersempit selisih antara solar dan biodiesel, hingga program ini nyaris impas. Hilmy, menunjukan jelantah yang masih hitam dan produksi biodisel yang sudah jernih. Foto: dokumentasi GenOil Ketika harga minyak kembali normal, biaya yang sesungguhnya muncul sekitar Rp80-Rp100 triliun per tahun. Menurut Yayan, rencana anggaran yang tersusun berdasarkan angka tahun peluncuran akan meleset jauh. Dia juga menilai program ini  menggerus anggaran sendiri karena pengelola dana yang membayar subsidi biodiesel,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/14/mencermati-subsidi-program-biodiesel/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/14/mencermati-subsidi-program-biodiesel/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Warga Alami Krisis Air Bersih Ketika Hutan Penyangga Padang Rusak</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/14/warga-alami-krisis-air-bersih-ketika-hutan-penyangga-padang-rusak/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/14/warga-alami-krisis-air-bersih-ketika-hutan-penyangga-padang-rusak/#respond</comments>
					<pubDate>14 Agu 2026 16:42:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Novia Harlina]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/12074651/Aliran-sungai-di-hulu-DAS-Kuranji-di-Batu-Busuk-Padang-yang-berubah-alur-pascabanjir-bandang.-Novia-Harlina-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131858</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera barat]]>
						</locations>
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Rosi tengah sibuk mencuci pakaian di Batang (Sungai) Kuranji. Satu baskom penuh pakaian kotor dia angkut dengan sepeda motor dari rumahnya di Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Padang, Sumatera Barat (Sumbar) sejauh sekitar satu kilometer. Sejak sumur di rumahnya mengering, sungai itu menjadi tempat mencuci sekaligus mandi keluarganya. Setiap pagi, sebelum matahari terlalu terik, perempuan 45 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/14/warga-alami-krisis-air-bersih-ketika-hutan-penyangga-padang-rusak/">Warga Alami Krisis Air Bersih Ketika Hutan Penyangga Padang Rusak</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Rosi tengah sibuk mencuci pakaian di Batang (Sungai) Kuranji. Satu baskom penuh pakaian kotor dia angkut dengan sepeda motor dari rumahnya di Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Padang, Sumatera Barat (Sumbar) sejauh sekitar satu kilometer. Sejak sumur di rumahnya mengering, sungai itu menjadi tempat mencuci sekaligus mandi keluarganya. Setiap pagi, sebelum matahari terlalu terik, perempuan 45 tahun itu membawa pakaian ke tepi sungai, sementara air bersih yang dahulu mengalir dari keran rumah kini tinggal kenangan. Kekeringan mulai mereka rasakan setelah banjir bandang menerjang kawasan itu, akhir November 2025. Meski sudah delapan bulan berlalu, tetapi sumur mereka belum juga pulih. “Sumur kering sejak banjir akhir tahun lalu itu. Kami sudah coba gali lebih dalam, tetap tidak keluar air,” kata Rosi, Sabtu (25/7/26). Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, suaminya harus mencari air ke sumber mata air di perbukitan dan membawa pulang menggunakan jeriken. Air itu untuk memasak, mandi, dan kebutuhan anak-anak mereka sebelum berangkat sekolah. “Kalau anak sekolah, kami usahakan tetap ada air bersih. Jangan sampai gara-gara air, sekolahnya terganggu,” katanya. Sisa-sisa potongan kayu terbawa banjir di Sumbar tersangkut di jembatan di jembatan. Foto: Jaka Hendra Baittri/Mongabay Indonesia. Krisis air bersih, bergantung bantuan pemerintah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Padang memang mendistribusikan air kepada warga. Namun mobil tangki tidak datang setiap harihingga tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Evi, warga lainnya ceritakan hal serupa. Sebelum banjir bandang,  tak pernah membayangkan harus mengatur penggunaan air sedemikian ketat karena air bersih selalu tersedia di rumahnya. Kini, dia harus menghemat untuk setiap tetesnya. Untuk mencuci, dia kerap&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/14/warga-alami-krisis-air-bersih-ketika-hutan-penyangga-padang-rusak/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/14/warga-alami-krisis-air-bersih-ketika-hutan-penyangga-padang-rusak/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jepitan Udang Pistol Diklaim Hasilkan Panas Seperti Matahari, Ini Faktanya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/14/jepitan-udang-pistol-diklaim-hasilkan-panas-seperti-matahari-ini-faktanya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/14/jepitan-udang-pistol-diklaim-hasilkan-panas-seperti-matahari-ini-faktanya/#respond</comments>
					<pubDate>14 Agu 2026 10:38:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/14102723/7213807522_02b441e2a0_k-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131950</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Terumbu karang menyimpan banyak organisme kecil yang perannya sering terlewat, salah satunya udang pistol (famili Alpheidae, dengan Alpheus sebagai genus yang paling banyak diteliti). Krustasea ini banyak ditemukan di perairan tropis, termasuk Indonesia, dan biasanya hidup berkelompok di sela-sela batu karang, pasir, atau reruntuhan cangkang di dasar laut. Udang pistol dikenal karena cara berburunya yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/14/jepitan-udang-pistol-diklaim-hasilkan-panas-seperti-matahari-ini-faktanya/">Jepitan Udang Pistol Diklaim Hasilkan Panas Seperti Matahari, Ini Faktanya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Terumbu karang menyimpan banyak organisme kecil yang perannya sering terlewat, salah satunya udang pistol (famili Alpheidae, dengan Alpheus sebagai genus yang paling banyak diteliti). Krustasea ini banyak ditemukan di perairan tropis, termasuk Indonesia, dan biasanya hidup berkelompok di sela-sela batu karang, pasir, atau reruntuhan cangkang di dasar laut. Udang pistol dikenal karena cara berburunya yang tidak lazim. Alih-alih mengandalkan gigitan atau racun seperti kebanyakan predator kecil lainnya, udang pistol memanfaatkan gerakan capit yang sangat cepat untuk melumpuhkan mangsa. Mekanisme ini sudah lama menarik perhatian peneliti, baik dari bidang biologi kelautan yang ingin memahami perilaku berburunya, maupun dari bidang fisika yang tertarik pada proses fisik di balik jepitannya. Bagaimana Jepitannya Bekerja Udang pistol memiliki sepasang capit yang tidak sama besar. Salah satu capit tumbuh jauh lebih besar dibanding capit lainnya, bahkan bisa mencapai separuh dari ukuran tubuhnya sendiri. Capit besar ini bekerja seperti pegas mekanis. Udang akan mengunci ototnya lebih dulu untuk menyimpan tenaga, lalu melepaskannya secara tiba-tiba. Saat kunci otot itu dilepas, capit menutup dalam waktu sangat singkat, dengan kecepatan lebih dari 96 kilometer per jam. Gerakan menutup yang sangat cepat ini mendorong air ke depan dengan kekuatan besar, menciptakan semburan air yang bergerak lebih cepat dibanding kemampuan air di sekitarnya untuk mengisi kembali ruang yang ditinggalkan. Akibatnya, muncul ruang kosong bertekanan sangat rendah tepat di belakang semburan air tersebut, semacam gelembung berisi uap air yang terbentuk hanya karena perubahan tekanan, bukan karena panas dari luar. Tampilan dorsal (A) dan lateral (B) Alpheus cedrici, salah satu spesies udang pistol dari&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/14/jepitan-udang-pistol-diklaim-hasilkan-panas-seperti-matahari-ini-faktanya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/14/jepitan-udang-pistol-diklaim-hasilkan-panas-seperti-matahari-ini-faktanya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Tapir Penting bagi Kelestarian Hutan Sumatera?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/mengapa-tapir-penting-bagi-kelestarian-hutan-sumatera/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/mengapa-tapir-penting-bagi-kelestarian-hutan-sumatera/#respond</comments>
					<pubDate>14 Agu 2026 09:28:29 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/11095550/Tapirus-indicus-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131944</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, politik dan hukum, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tapir asia atau tapir malaya (Tapirus indicus) merupakan satu-satunya spesies tapir yang hidup di luar Amerika. Di Indonesia, satwa ini hanya ditemukan di Pulau Sumatera. Tubuhnya mudah dikenali melalui pola hitam-putih yang menyerupai pelana, sedangkan anak tapir memiliki corak garis dan bintik yang membantu menyamarkannya di lantai hutan. Meski termasuk mamalia besar Sumatera, tapir belum [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/mengapa-tapir-penting-bagi-kelestarian-hutan-sumatera/">Mengapa Tapir Penting bagi Kelestarian Hutan Sumatera?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tapir asia atau tapir malaya (Tapirus indicus) merupakan satu-satunya spesies tapir yang hidup di luar Amerika. Di Indonesia, satwa ini hanya ditemukan di Pulau Sumatera. Tubuhnya mudah dikenali melalui pola hitam-putih yang menyerupai pelana, sedangkan anak tapir memiliki corak garis dan bintik yang membantu menyamarkannya di lantai hutan. Meski termasuk mamalia besar Sumatera, tapir belum mendapat perhatian konservasi sebesar harimau, gajah, badak, atau orangutan. Padahal, keberadaannya terus terdesak oleh penyusutan dan fragmentasi habitat, perburuan, jerat, kecelakaan di jalan, serta konflik dengan manusia. Daftar Merah IUCN menempatkan tapir asia dalam kategori Genting atau Endangered. Populasinya diperkirakan terus menurun, sementara informasi mengenai jumlah dan persebarannya di Indonesia masih terbatas. Sifat tapir yang pemalu, aktif pada malam hari, dan hidup menyendiri membuat satwa ini sulit ditemukan serta dipelajari di alam. Tapir umumnya menghuni hutan dataran rendah, kawasan rawa, serta wilayah yang dekat dengan sumber air. Moncongnya yang lentur membantu satwa ini mengambil daun, ranting muda, dan buah-buahan. Dalam ekosistem hutan, tapir berperan sebagai penyebar biji. Biji dari buah yang dimakannya dapat terbawa dan dikeluarkan bersama kotoran di tempat lain, membantu proses regenerasi tumbuhan. Rusaknya habitat membuat tapir semakin sering keluar dari hutan dan memasuki perkebunan, jalan raya, atau permukiman. Salah satu kasus yang menyita perhatian terjadi di Mesuji, Lampung, pada Juli 2026. Seekor tapir yang terlihat di sekitar Jalan Lintas Timur Sumatera kemudian ditemukan mati setelah dibunuh dan tubuhnya dipotong-potong oleh warga. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa ancaman terhadap tapir bukan hanya kehilangan habitat, tetapi juga rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai status perlindungan dan peran&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/mengapa-tapir-penting-bagi-kelestarian-hutan-sumatera/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/mengapa-tapir-penting-bagi-kelestarian-hutan-sumatera/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kearifan Masyarakat Dayak Pitap Menjaga Hutan Meratus</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kearifan-masyarakat-dayak-pitap-menjaga-hutan-meratus/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kearifan-masyarakat-dayak-pitap-menjaga-hutan-meratus/#respond</comments>
					<pubDate>14 Agu 2026 06:00:47 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/04/22003157/dayak-pitap-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131661</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kalimantan, kalimantan selatan, komunitas lokal, dan Masyarakat Adat]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi masyarakat Dayak Pitap di Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, berladang bukan sekadar cara mendapatkan makanan. Kegiatan ini merupakan tradisi yang menghubungkan manusia dengan alam, Tuhan, dan leluhur. Karena itu, setiap tahap berladang memiliki aturan dan ritual tersendiri. Padi menempati posisi penting. Bagi Dayak Pitap, padi dianggap sakral dan dipercaya sebagai karunia Sang Pencipta untuk kemakmuran [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kearifan-masyarakat-dayak-pitap-menjaga-hutan-meratus/">Kearifan Masyarakat Dayak Pitap Menjaga Hutan Meratus</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi masyarakat Dayak Pitap di Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, berladang bukan sekadar cara mendapatkan makanan. Kegiatan ini merupakan tradisi yang menghubungkan manusia dengan alam, Tuhan, dan leluhur. Karena itu, setiap tahap berladang memiliki aturan dan ritual tersendiri. Padi menempati posisi penting. Bagi Dayak Pitap, padi dianggap sakral dan dipercaya sebagai karunia Sang Pencipta untuk kemakmuran manusia. Hampir setiap keluarga menjalankan tradisi behuma atau berladang. Mereka yang tidak dapat melakukannya karena alasan tertentu harus menjalankan ritual adat. Sebelum membuka ladang, masyarakat terlebih dahulu mencari lahan yang dianggap subur. Sebagian rumput dibersihkan, kemudian dibuat sangkar dari pohon mahang dan akar kayu. Dalam prosesi batirau, seorang balian atau tokoh spiritual mengambil segumpal tanah dari lokasi tersebut. Tanah dibacakan mantra, dibawa pulang, lalu diletakkan di bawah bantal. Mimpi yang muncul dipercaya menjadi petunjuk apakah tempat tersebut baik untuk dijadikan ladang. Jika mendapat pertanda buruk, masyarakat akan mencari lokasi lain. Setelah lokasi ditentukan, dimulailah betabas, betilah, dan betabang: membersihkan tumbuhan, menebang bambu, dan menebang pohon. Ketiganya tidak dilakukan bersamaan. Setelah itu, kayu dibiarkan selama puluhan hari sebelum dibakar dalam proses menyelukut. Pembakaran memiliki aturan. Masyarakat memperhatikan cuaca dan arah angin, membuat sekat bakar, serta menjaga api bersama-sama agar tidak merembet. Jika api sampai membakar lahan orang lain, pelakunya harus membayar sanksi adat. Abu hasil pembakaran kemudian digunakan sebagai pupuk alami. Tahap berikutnya adalah manugal, yaitu menanam padi secara gotong royong. Laki-laki membuat lubang menggunakan kayu berujung lancip, sementara perempuan memasukkan benih. Prosesi ini disertai sesajen dan pembacaan mantra oleh balian. Ketika padi mulai bertunas dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kearifan-masyarakat-dayak-pitap-menjaga-hutan-meratus/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kearifan-masyarakat-dayak-pitap-menjaga-hutan-meratus/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sampah Alat Tangkap Ikan Bahayakan Ekosistem Laut Indonesia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/14/sampah-alat-tangkap-ikan-bahayakan-ekosistem-laut-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/14/sampah-alat-tangkap-ikan-bahayakan-ekosistem-laut-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>14 Agu 2026 05:00:23 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/05/22013458/Nelayan1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131918</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, jawa, Kelautan perikanan, dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sampah alat penangkapan ikan (API) merupakan ancaman laut Indonesia, selain sampah plastik. Sampah yang dikenal dengan sebutan Abandoned, Lost, or otherwise Discarded Fishing Gear atau Alat Tangkap yang Ditinggalkan, Hilang, atau Dibuang (ALDFG) ini, dinilai sudah membahayakan ekosistem laut. Hanif Arzaq, Indonesia Plastics Project Coordinator dari Environmental Justice Foundation (EJF) Indonesia, menyebut pengelolaan sampah yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/14/sampah-alat-tangkap-ikan-bahayakan-ekosistem-laut-indonesia/">Sampah Alat Tangkap Ikan Bahayakan Ekosistem Laut Indonesia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sampah alat penangkapan ikan (API) merupakan ancaman laut Indonesia, selain sampah plastik. Sampah yang dikenal dengan sebutan Abandoned, Lost, or otherwise Discarded Fishing Gear atau Alat Tangkap yang Ditinggalkan, Hilang, atau Dibuang (ALDFG) ini, dinilai sudah membahayakan ekosistem laut. Hanif Arzaq, Indonesia Plastics Project Coordinator dari Environmental Justice Foundation (EJF) Indonesia, menyebut pengelolaan sampah yang disebut ghost gear itu menjadi tantangan berat. “ Bukan hanya karena pengelolaannya yang belum ideal, namun juga pelaku usaha perikanan didominasi nelayan skala kecil dan tradisional,” jelasnya, Jumat (7/8/26). Merujuk data KKP pada 2024, nelayan kecil jumlahnya mencapai 90 persen atau sekitar 2,91 juta orang. Sementara, nelayan kategori bukan skala kecil sekitar 323 ribu orang. Bank Dunia sudah menetapkan gilnet nomor satu dan purse seine nomor dua sebagai API yang berbahaya dan bisa menjadi ALDFG. Indonesia pemakai gilnet sangat besar. Nelayan kecil dan tradisional biasa menggunakannya untuk menangkap rajungan yang memiliki karakteristik cangkang yang sangat keras. “Potensi menjadi sampah ALDFG juga semakin tinggi.” Nelayan tradisional Aceh tunduk pada aturan adat laut yang dipimpin Panglima Laot. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. Jaring insang Gilnet yang digunakan nelayan kecil dan tradisional di Indonesia bentuknya berupa jaring insang dan cocok untuk kapal kecil di bawah 5 gros ton (GT). Cara kerjanya, ikan berenang masuk ke mata jaring dan tertahan/terjerat di bagian insang atau tubuhnya. Gilnet biasanya ditebar manual dari kapal, dengan ukuran menyesuaikan target ikan. Jaring dibentangkan memanjang seperti dinding vertikal, dengan bagian atas mengapung, sedangkan bagian bawah diberi pemberat sehingga berdiri tegak. Biasanya, targetnya rajungan dan tongkol. “Untuk&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/14/sampah-alat-tangkap-ikan-bahayakan-ekosistem-laut-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/14/sampah-alat-tangkap-ikan-bahayakan-ekosistem-laut-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Lutung Jawa: Satwa Endemik Jawa di Ujung Tanduk</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/08/lutung-jawa-satwa-endemik-jawa-di-ujung-tanduk/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/08/lutung-jawa-satwa-endemik-jawa-di-ujung-tanduk/#respond</comments>
					<pubDate>14 Agu 2026 03:25:17 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/03/22004242/Lutung-Jawa-5-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=131926</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Lutung Jawa: Satwa Endemik Jawa di Ujung Tanduk]]>
						</reporting-project>
					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ancaman multidimensional kian mengencet keberadaan Trachypithecus auratus (Lutung Jawa) di habitat aslinya, mulai dari maraknya perburuan liar, modus perdagangan ilegal yang merambah platform digital, hingga fragmentasi lahan di berbagai titik Pulau Jawa. Sorotan atas realitas kelam tersebut berjalan berdampingan dengan rekam jejak penyelamatan, proses rehabilitasi, serta aksi pelepasliaran di wilayah konservasi seperti Taman Nasional Bromo [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/08/lutung-jawa-satwa-endemik-jawa-di-ujung-tanduk/">Lutung Jawa: Satwa Endemik Jawa di Ujung Tanduk</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ancaman multidimensional kian mengencet keberadaan Trachypithecus auratus (Lutung Jawa) di habitat aslinya, mulai dari maraknya perburuan liar, modus perdagangan ilegal yang merambah platform digital, hingga fragmentasi lahan di berbagai titik Pulau Jawa. Sorotan atas realitas kelam tersebut berjalan berdampingan dengan rekam jejak penyelamatan, proses rehabilitasi, serta aksi pelepasliaran di wilayah konservasi seperti Taman Nasional Bromo Tengger Semeru hingga kawasan pesisir. Pentingnya variasi genetika, perlindungan ruang aman yang tersisa, dan kolaborasi nyata antara masyarakat serta lembaga lingkungan menjadi pilar utama untuk memastikan keberlanjutan ekosistem sekaligus menyelamatkan warisan hayati Indonesia dari krisis kepunahan. The post Lutung Jawa: Satwa Endemik Jawa di Ujung Tanduk appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/08/lutung-jawa-satwa-endemik-jawa-di-ujung-tanduk/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/08/lutung-jawa-satwa-endemik-jawa-di-ujung-tanduk/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kasus Penyelundupan Merkuri Lewat Tanjung Perak ke Afrika, Usut sampai ke Akarnya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/14/kasus-penyelundupan-merkuri-lewat-tanjung-perak-ke-afrika-usut-sampai-ke-akarnya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/14/kasus-penyelundupan-merkuri-lewat-tanjung-perak-ke-afrika-usut-sampai-ke-akarnya/#respond</comments>
					<pubDate>14 Agu 2026 02:36:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Eko Widianto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/13155858/bea-cukai-3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131904</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan surabaya]]>
						</locations>
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bea Cukai Tanjung Perak, Surabaya dan Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur (Jatim) menyita  3,4 ton merkuri senilai Rp17,5 miliar, Jumat (24/7/26). Merkuri ini  akan mereka bawa ke Burkina Faso, Afrika Barat. Dalam aksinya, pelaku menyembunyikan cairan kimia itu di antara tumpukan karton keramik. “Hasil analisis intelijen dan ada ketidaksesuaian antara dokumen dengan bobot kontainer,” kata [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/14/kasus-penyelundupan-merkuri-lewat-tanjung-perak-ke-afrika-usut-sampai-ke-akarnya/">Kasus Penyelundupan Merkuri Lewat Tanjung Perak ke Afrika, Usut sampai ke Akarnya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bea Cukai Tanjung Perak, Surabaya dan Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur (Jatim) menyita  3,4 ton merkuri senilai Rp17,5 miliar, Jumat (24/7/26). Merkuri ini  akan mereka bawa ke Burkina Faso, Afrika Barat. Dalam aksinya, pelaku menyembunyikan cairan kimia itu di antara tumpukan karton keramik. “Hasil analisis intelijen dan ada ketidaksesuaian antara dokumen dengan bobot kontainer,” kata Agus Cahyono, Kepala Bea Cukai Tanjung Perak, Senin (10/8/26). Kecurigaan petugas makin kuat setelah dipindai dengan x ray, terdeteksi ada botol di antara tumpukan karton keramik.   Pelaku menggunakan modus concealment, yakni,  menyembunyikan merkuri cair di dalam botol plastik dan jeriken di sela-sela palet keramik. Kemudian mereka lapisi aluminium foil agar sulit terdeteksi mesin pemindai. Dari pemeriksaan terhadap isi kontainer berkapasitas 20 feet itu, petugas temukan ketidaksesuaian antara dokumen ekspor dengan isi kontainer. Dokumen ekspor menyatakan,  muatan berupa 900 karton keramik dengan berat 11.000 kilogram.  Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan 826 karton. Selain itu, petugas juga temukan 251 botol plastik dan 71 jeriken berisi cairan berwarna perak (silver) yang tersembunyi di dalam palet keramik dengan berlapis aluminium foil. Bea Cukai mengecek cairan di dalam botol dan jeriken ke Balai Laboratorium Bea Cukai Surabaya. Hasilnya, cairan itu ternyata merkuri. Berdasarkan dokumen ekspor, barang akan pelaku kirim ke Burkina Faso, salah satu negara penghasil emas. Kuat dugaan, merkuri jadi sebagai bahan pendukung aktivitas pertambangan emas di negara yang menempatkan sektor pertambangan sebagai penyumbang utama nilai ekspor nasional itu. Merkuri yang dikemas dalam botol bekas air kemasan. Foto: Bea Cukai Tanjung Perak, Surabaya. Rusman Hadi, Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/14/kasus-penyelundupan-merkuri-lewat-tanjung-perak-ke-afrika-usut-sampai-ke-akarnya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/14/kasus-penyelundupan-merkuri-lewat-tanjung-perak-ke-afrika-usut-sampai-ke-akarnya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kenali Orangutan Tapanuli dan Ancamannya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/14/kenali-orangutan-tapanuli-dan-ancamannya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/14/kenali-orangutan-tapanuli-dan-ancamannya/#respond</comments>
					<pubDate>14 Agu 2026 02:00:29 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Kadek Dian Dwiyanti H.*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Mongabay]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/04/21232836/orangutan-tapanuli-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131880</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Pertahanan Terakhir Orangutan Tapanuli]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, infrastruktur, Pertambangan, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Yuk, segera ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Pada tahun 2017, orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) resmi menjadi spesies yang baru dan terpisah dari taksonomi orangutan sumatera. Penelitian oleh Nater dkk. (2017) menemukan bahwa orangutan Tapanuli sudah berpisah jalur evolusi dari orangutan sumatera sejak sekitar 3,38 juta tahun lalu karena letusan supervolcano [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/14/kenali-orangutan-tapanuli-dan-ancamannya/">Kenali Orangutan Tapanuli dan Ancamannya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Yuk, segera ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Pada tahun 2017, orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) resmi menjadi spesies yang baru dan terpisah dari taksonomi orangutan sumatera. Penelitian oleh Nater dkk. (2017) menemukan bahwa orangutan Tapanuli sudah berpisah jalur evolusi dari orangutan sumatera sejak sekitar 3,38 juta tahun lalu karena letusan supervolcano Gunung Toba di masa lampau. Akibat bencana alam itu, habitat kedua populasi ini terpisah selama jutaan tahun. Orangutan tapanuli merupakan garis keturuan tertua yang masih bertahan dalam genus Pongo. Habitatnya hanya ada di kawasan Batang Toru, Sumatera Utara. Populasinya terbagi menjadi tiga metapopulasi, yaitu Batang Toru Barat, Batang Toru Timur, dan Sitandang-Sibualbuali. Ketiganya terpisah oleh jalan, lahan pertanian, dan berbagai bentang alam lain, sehingga perpindahan individu maupun aliran gen antarpopulasi jadi sulit terjadi. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh A.N. Hadi dkk. (2021-2023), jumlah orangutan Tapanuli diperkirakan hanya mencapai 716 individu, dengan kisarab 645 hingga 792 individu. Batang Toru Barat menjadi rumah bagi populasi terbanyak, sekitar 514 individu, disusul Batang Toru Timur dengan 159 individu, dan Sitandang-Sibualbuali yang hanya dihuni sekitar 43 individu. Berikut beberapa fakta tentang orangutan ini: 1. Ciri dan fakta orangutan tapanuli Keberadaan orangutan tapanuli yang selama ini hanya ada di hutan Batang Toru, ternyata ditemukan di hutan gambut Desa Lumut Maju, Kecamatan Lumut, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia Secara fisik, orangutan tapanuli punya tengkorak dan tulang rahang lebih kecil, rambut lebih tebal dan keriting dibandingkan kerabatnya. Jantan dewasa punya bantalan pipi besar dan datar, sedangkan betina punya rambut&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/14/kenali-orangutan-tapanuli-dan-ancamannya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/14/kenali-orangutan-tapanuli-dan-ancamannya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini:  UU Anti Deforestasi Uni Eropa, Ancaman atau Peluang?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/13/opini-uu-anti-deforestasi-uni-eropa-ancaman-atau-peluang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/13/opini-uu-anti-deforestasi-uni-eropa-ancaman-atau-peluang/#respond</comments>
					<pubDate>13 Agu 2026 23:49:40 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Doddy S. Sukadri*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[admin]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Opini]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/04004029/Muara-tae-warga-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131910</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, politik dan hukum, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Sampai akhir Desember 2026, Indonesia harus mempersiapkan diri untuk menghadapi aturan perdagangan baru anti deforestasi Uni Eropa (European Union Deforestation Regulation/EUDR). Ini adalah UU di Uni Eropa yang melarang komoditi masuk ke kawasan itu dari hasil merusak  hutan setelah 31 Desember 2020. Sekitar 50 negara produsen utama dunia yang memiliki hutan luas akan terdampak aturan baru [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/13/opini-uu-anti-deforestasi-uni-eropa-ancaman-atau-peluang/">Opini:  UU Anti Deforestasi Uni Eropa, Ancaman atau Peluang?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Sampai akhir Desember 2026, Indonesia harus mempersiapkan diri untuk menghadapi aturan perdagangan baru anti deforestasi Uni Eropa (European Union Deforestation Regulation/EUDR). Ini adalah UU di Uni Eropa yang melarang komoditi masuk ke kawasan itu dari hasil merusak  hutan setelah 31 Desember 2020. Sekitar 50 negara produsen utama dunia yang memiliki hutan luas akan terdampak aturan baru ini. Negara itu antara lain adalah Indonesia. Malaysia, Brazil, Argentina, Kamerun, Kamboja, dan puluhan negara berkembang lain. EUDR akan berdampak terhadap tujuh komoditi ekspor hasil pertanian, perkebunan, kehutanan Indonesia, yaitu, sawit (crude palm oil/CPO, minyak inti sawit, dan turunannya), kopi, coklat dan produk turunannya, karet dan produk jadi seperti ban. Lalu, kayu (pulp, kertas, dan furnitur, kedelai dan minyak kedelai, serta daging sapi dan semua produk turunannya. Salah satu masalah krusial EUDR adalah ketelusuran rantai pasok dari hulu sampai ke hilir. Buah sawit baru panen di Tesso Nilo. Foto: Suryadi/Mongabay Indonesia Government-private data sharing sektor perkebunan Pada dasarnya, Uni Eropa hanya ingin melihat apakah produk ekspor ke negara-negara Uni Eropa itu bukan produk dari hasil membabat hutan. Untuk itu,  perlu ada bukti dukumen penelusuran dari mulai hulu sampai ke hilir, dan ini bergantung pada baik buruknya Sitem Ketelusuran Nasional (SKN) di Indonesia. Indonesia saat ini sedang mempercepat pengembangan sistem ketertelusuran nasional (National Traceability System) yang terintegrasi untuk menghadapi EUDR. Platform utama yang dibangun pemerintah dinamakan Sistem Dasbor Nasional Data dan Informasi Komoditas Berkelanjutan. Dalam hal berbagi data antara pemerintah dan swasta, maka data sektor swasta (produsen, distributor, logistik) harus terintegrasi dengan basis data pemerintah. Tanpa kerangka kerja data sharing&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/13/opini-uu-anti-deforestasi-uni-eropa-ancaman-atau-peluang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/13/opini-uu-anti-deforestasi-uni-eropa-ancaman-atau-peluang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Api Membara di Gunung Gede Pangrango, Warga Berjibaku Angkut Air</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/api-membara-di-gunung-gede-pangrango-warga-berjibaku-angkut-air/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/api-membara-di-gunung-gede-pangrango-warga-berjibaku-angkut-air/#respond</comments>
					<pubDate>13 Agu 2026 10:48:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/13054443/IMG_20260813_104318_644-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131902</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Data dan Statisik, hutan indonesia, jawa, dan Jawa Barat]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jumat, 7 Agustus 2026, sekitar pukul 04.00 WIB, Acep melihat cahaya merah dari belakang rumahnya di Kampung Ading, Desa Sindangjaya, Kecamatan Cipanas, Cianjur, Jawa Barat. Kepulan asap membubung dari arah Kawah Wadon di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Warga segera berkumpul dan bergerak menuju sumber api. Sebagian berangkat sekitar pukul 07.00 dan 09.00 WIB, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/api-membara-di-gunung-gede-pangrango-warga-berjibaku-angkut-air/">Api Membara di Gunung Gede Pangrango, Warga Berjibaku Angkut Air</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jumat, 7 Agustus 2026, sekitar pukul 04.00 WIB, Acep melihat cahaya merah dari belakang rumahnya di Kampung Ading, Desa Sindangjaya, Kecamatan Cipanas, Cianjur, Jawa Barat. Kepulan asap membubung dari arah Kawah Wadon di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Warga segera berkumpul dan bergerak menuju sumber api. Sebagian berangkat sekitar pukul 07.00 dan 09.00 WIB, sementara Acep bersama warga lainnya berangkat selepas salat Jumat. Kampung Ading merupakan permukiman tertinggi di kaki Gunung Gede. Dari sana, Kawah Wadon dapat dicapai dengan berjalan kaki sekitar dua jam. Rombongan Acep yang terdiri dari 15 orang tiba menjelang sore. Mereka menemukan warga lain sudah berusaha memadamkan api menggunakan peralatan sederhana, seperti pacul, cangkul, dan air. Sumber air yang jauh menyulitkan pemadaman. Warga harus berjalan sekitar satu jam ke Kandang Badak dan mengangkut air dengan botol lima liter. Api sempat padam, tetapi kembali membesar pada Sabtu, 8 Agustus 2026, pukul 02.00 WIB. Sebagian warga bermalam di lokasi, bahkan ada yang membutuhkan oksigen karena kelelahan. Warga lain membantu dengan mengirim tenda, makanan, obat-obatan, dan perlengkapan pemadam. Hingga Rabu malam, 12 Agustus 2026, api masih ditangani. Kobaran dan bau terbakar tercium hingga permukiman, memicu kekhawatiran api menjalar ke perkebunan warga. Penyebab kebakaran di Kawah Wadon masih diselidiki. Dalam keterangan tertulis pada Rabu, 12 Agustus 2026, Kepala Balai Besar TNGGP, Sadtata Noor Adirahmanta, mengatakan pemantauan awal mengarah pada faktor alam. Kawah Wadon berada di zona inti yang tidak digunakan untuk kegiatan wisata maupun pendakian sehingga aktivitas manusia sangat minim. Kamera pengawas milik Pos Pengamatan Gunung Api Gede di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/api-membara-di-gunung-gede-pangrango-warga-berjibaku-angkut-air/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/api-membara-di-gunung-gede-pangrango-warga-berjibaku-angkut-air/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Kebakaran Landa Taman Nasional Gunung Gede Pangrango</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/13/ketika-kebakaran-landa-taman-nasional-gunung-gede-pangrango/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/13/ketika-kebakaran-landa-taman-nasional-gunung-gede-pangrango/#respond</comments>
					<pubDate>13 Agu 2026 09:00:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/13054443/IMG_20260813_104318_644-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131892</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, dan hutan indonesia]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Acep kaget melihat cahaya merah dari belakang rumahnya di Kampung Ading, Desa Sindangjaya, Kecamatan Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, Jumat (7/8/26) sekitar pukul 04.00 WIB. Kepulan asap pun terlihat membumbung. Dia langsung menduga ada kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar Kawah Wadon, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Sontak, warga Kampung Ading subuh itu pada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/13/ketika-kebakaran-landa-taman-nasional-gunung-gede-pangrango/">Ketika Kebakaran Landa Taman Nasional Gunung Gede Pangrango</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Acep kaget melihat cahaya merah dari belakang rumahnya di Kampung Ading, Desa Sindangjaya, Kecamatan Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, Jumat (7/8/26) sekitar pukul 04.00 WIB. Kepulan asap pun terlihat membumbung. Dia langsung menduga ada kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar Kawah Wadon, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Sontak, warga Kampung Ading subuh itu pada berkumpul. Mereka bergerak cepat ke atas gunung untuk mengecek sumber api. Dia bilang, sebagian warga berangkat pagi, lainnya selepas salat Jumat. “Ada yang jalan jam 7.00, jam 9.00 pagi. Kalau saya, mah, jalan abis jumatan,” katanya, kepada Mongabay. Kampung Ading merupakan pemukiman tertinggi di kaki Gunung Gede. Hanya butuh dua jam jalan kaki untuk mencapai Kawah Wadon. Rombongan Acep berjumlah 15 orang itu sampai menjelang sore. Di sana, dia melihat warga lain sudah berjibaku memadamkan api di sekitar kawah. “Warga padamkan pakai alat seadanya. Ada yang bawa pacul, cangkul, ada yang pakai air.” Sumber air yang jauh membuat warga kesulitan menjangkau air saat memadamkan api. Mereka mesti berjalan kaki hingga satu jam ke Kandang Badak untuk mengambil air. Dia mengatakan, warga hanya bisa mengangkut air dengan wadah botol mineral lima liter bekas. Mereka bergantian memikul air dari Kandang Badak hingga ke titik api. Perlu waktu berjam-jam hingga api padam. Namun, api kembali berkobar pukul 02.00 WIB. Akibatnya, sebagian warga bermalam di sekitar lokasi sambil terus berusaha padamkan api. “Nyala lebih besar. Makanya pas malam itu (warga) enggak ada yang tidur. Ada juga yang mungkin enggak kuat, alhamdulillah dikasih oksigen,” ujarnya. Warga Kampung Gunung Putri juga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/13/ketika-kebakaran-landa-taman-nasional-gunung-gede-pangrango/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/13/ketika-kebakaran-landa-taman-nasional-gunung-gede-pangrango/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa &#8216;Motif&#8217; Kucing Ada yang Bergaris dan Berbintik?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/mengapa-motif-kucing-ada-yang-bergaris-dan-berbintik/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/mengapa-motif-kucing-ada-yang-bergaris-dan-berbintik/#respond</comments>
					<pubDate>13 Agu 2026 06:00:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/12/21234456/Serval_3077007722-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131865</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Macan tutul memiliki bintik, harimau tampil dengan garis-garis, sedangkan singa terlihat polos. Pola serupa juga ditemukan pada kucing domestik dan berbagai kucing liar Indonesia, seperti kucing kuwuk, macan dahan, dan kucing emas. Namun, bagaimana pola tersebut terbentuk? Para ilmuwan belum menemukan jawaban lengkapnya. Meski begitu, penelitian telah mengidentifikasi dua gen penting yang memengaruhi bentuk dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/mengapa-motif-kucing-ada-yang-bergaris-dan-berbintik/">Mengapa &#8216;Motif&#8217; Kucing Ada yang Bergaris dan Berbintik?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Macan tutul memiliki bintik, harimau tampil dengan garis-garis, sedangkan singa terlihat polos. Pola serupa juga ditemukan pada kucing domestik dan berbagai kucing liar Indonesia, seperti kucing kuwuk, macan dahan, dan kucing emas. Namun, bagaimana pola tersebut terbentuk? Para ilmuwan belum menemukan jawaban lengkapnya. Meski begitu, penelitian telah mengidentifikasi dua gen penting yang memengaruhi bentuk dan ukuran pola pada bulu kucing, yaitu Taqpep dan Dkk4. Gen Taqpep berperan besar dalam pembentukan garis dan bercak. Kucing domestik yang memiliki satu atau dua salinan normal gen ini cenderung mempunyai bulu bergaris. Namun, jika kedua salinannya mengalami mutasi—satu diwarisi dari induk betina dan satu dari induk jantan, pola bulunya dapat berubah menjadi bercak atau pusaran. Pengaruh mutasi tersebut juga terlihat pada “king citah”. Citah umumnya mempunyai bintik-bintik hitam dengan latar bulu kuning kecokelatan. Namun, king citah yang mengalami mutasi pada kedua salinan gen Taqpep memiliki bercak lebih besar serta pola menyerupai garis di sepanjang tulang belakangnya. Meski demikian, Taqpep bukan satu-satunya penentu pola. Egyptian mau, ras kucing domestik berbintik, ternyata memiliki gen Taqpep normal. Dalam sebuah penelitian, Egyptian mau dikawinkan dengan kucing bercak. Beberapa keturunannya justru memiliki garis-garis. Temuan itu menunjukkan kemungkinan adanya satu atau lebih gen lain yang mengubah pola garis menjadi bintik. Namun, gen tambahan tersebut belum berhasil dikenali. Gen kedua yang diketahui berperan adalah Dkk4. Pengaruhnya dapat diamati pada kucing Abyssinian. Sekilas, bulu ras ini tampak berwarna cokelat atau kayu manis. Jika diperhatikan lebih dekat, permukaannya dipenuhi bintik-bintik hitam berukuran kecil. Abyssinian memiliki satu atau dua salinan gen Dkk4 yang mengalami&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/mengapa-motif-kucing-ada-yang-bergaris-dan-berbintik/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/mengapa-motif-kucing-ada-yang-bergaris-dan-berbintik/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ikan Laut Dalam Ini Berevolusi jadi Berkulit Ultra-Hitam untuk Bersembunyi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/13/ikan-laut-dalam-ini-berevolusi-jadi-berkulit-ultra-hitam-untuk-bersembunyi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/13/ikan-laut-dalam-ini-berevolusi-jadi-berkulit-ultra-hitam-untuk-bersembunyi/#respond</comments>
					<pubDate>13 Agu 2026 05:30:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/13052451/071520_eg_ultrablackfish_feat_rev-768x512.webp" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131887</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sejumlah spesies ikan yang hidup di kedalaman laut telah berevolusi memiliki kulit yang disebut ultra-black, sebuah adaptasi yang membantu mereka menghindari predator sekaligus menyergap mangsa tanpa terdeteksi. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Current Biology mengidentifikasi setidaknya 16 spesies ikan laut dalam dengan tingkat kegelapan kulit yang menyerap lebih dari 99,5 persen cahaya yang mengenainya. Penelitian ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/13/ikan-laut-dalam-ini-berevolusi-jadi-berkulit-ultra-hitam-untuk-bersembunyi/">Ikan Laut Dalam Ini Berevolusi jadi Berkulit Ultra-Hitam untuk Bersembunyi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sejumlah spesies ikan yang hidup di kedalaman laut telah berevolusi memiliki kulit yang disebut ultra-black, sebuah adaptasi yang membantu mereka menghindari predator sekaligus menyergap mangsa tanpa terdeteksi. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Current Biology mengidentifikasi setidaknya 16 spesies ikan laut dalam dengan tingkat kegelapan kulit yang menyerap lebih dari 99,5 persen cahaya yang mengenainya. Penelitian ini dipimpin oleh Alexander Davis, mahasiswa doktoral biologi di Duke University, bersama Karen Osborn, zoolog peneliti di Smithsonian National Museum of Natural History. Tim peneliti mengumpulkan sampel ikan menggunakan jaring trawl dan kendaraan bawah air di perairan Gulf of Mexico dan Monterey Bay, California, pada kedalaman hingga sekitar 1.000 kaki saat malam hari, dan lebih dari satu mil saat siang hari, ketika ikan-ikan tersebut cenderung berada lebih dalam. Ketertarikan pada topik ini bermula dari kesulitan Osborn saat mencoba memotret salah satu ikan hitam yang ditangkap timnya. Menurut Osborn, tidak peduli bagaimana kamera atau pencahayaan diatur, ikan tersebut tetap menyerap seluruh cahaya yang diarahkan padanya. Pengamatan inilah yang mendorong analisis lebih lanjut terhadap struktur kulit ikan-ikan tersebut. Kulit yang Menyerap Hampir Semua Cahaya Berdasarkan hasil analisis, seluruh sampel yang diperiksa memiliki kulit yang memantulkan kurang dari 0,6 persen cahaya, dan 16 spesies di antaranya memantulkan kurang dari 0,5 persen, ambang batas yang digunakan peneliti untuk mengklasifikasikan kulit sebagai ultra-black . Sebagai perbandingan, kertas hitam biasa memantulkan sekitar 10 persen cahaya, sehingga kulit ikan-ikan ini sekitar 20 kali lebih gelap. Spesies paling gelap yang ditemukan dalam penelitian ini adalah sejenis anglerfish kecil yang disebut dreamer, dengan panjang tidak&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/13/ikan-laut-dalam-ini-berevolusi-jadi-berkulit-ultra-hitam-untuk-bersembunyi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/13/ikan-laut-dalam-ini-berevolusi-jadi-berkulit-ultra-hitam-untuk-bersembunyi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Lutung Jawa di Muara Gembong, Minim Data dan Bertahan di Hutan Mangrove</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/13/lutung-jawa-di-muara-gembong-minim-data-dan-bertahan-di-hutan-mangrove/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/13/lutung-jawa-di-muara-gembong-minim-data-dan-bertahan-di-hutan-mangrove/#respond</comments>
					<pubDate>13 Agu 2026 04:32:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/13042546/Lutung-jawa-Falahi-Mubarok-Mongabay-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131882</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Lutung Jawa: Satwa Endemik Jawa di Ujung Tanduk]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, infrastruktur, Lahan Basah, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kemana lutung jawa akan pergi saat hutan tempat mereka hidup menyusut? Pertanyaan ini jadi kegelisahan masyarakat di Desa Pantai Ceria, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Bagi mereka, Trachypithecus auratus bukan hanya satwa liar yang terlihat di hutan mangrove. Melainkan, bagian sejarah panjang bentang alam tersisa di pesisir utara Jawa. Beberapa tahun terakhir, isu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/13/lutung-jawa-di-muara-gembong-minim-data-dan-bertahan-di-hutan-mangrove/">Lutung Jawa di Muara Gembong, Minim Data dan Bertahan di Hutan Mangrove</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kemana lutung jawa akan pergi saat hutan tempat mereka hidup menyusut? Pertanyaan ini jadi kegelisahan masyarakat di Desa Pantai Ceria, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Bagi mereka, Trachypithecus auratus bukan hanya satwa liar yang terlihat di hutan mangrove. Melainkan, bagian sejarah panjang bentang alam tersisa di pesisir utara Jawa. Beberapa tahun terakhir, isu perburuan primata ini juga mencuat. Ahmad Qurtubi (48), Sekretaris Desa Pantai Ceria, mengatakan perburuan secara khusus menyasar lutung jawa sudah tak ditemukan lagi. “Hal yang kami ketahui sejak 10 tahun terakhir sudah tidak ada perburuan. Namun, bukan berarti aman. Eksistensi mereka sekarang terganggu aktivitas manusia,” katanya, Sabtu (1/8/26). Ancaman terbesar datang dari menyempitnya habitat. Kawasan mangrove yang dulu jadi rumah berbagai satwa perlahan menjadi tambak. Sementara, bantaran Sungai Citarum di kawasan muara mulai disesaki permukiman. “Lutung biasanya mencari air tawar di lantai hutan atau sungai. Disaat kemarau sumber air mengering sehingga beberapa kali mereka masuk ke permukiman warga untuk mengambil air. Sebagian masyarakat membantu ketimbang mengusir budeng ini, agar tidak terjadi konflik.” Lutung jawa yang hanya hidup di Jawa, memerlukan hutan sebagai habitat hidupnya. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Praktik perburuan Sekitar dua tahun lalu, warga memergoki sekelompok pemburu menggunakan perahu dan kendaraan patroli. Mereka mengaku berburu biawak (Varanus). Namun, setelah diperiksa, karung yang mereka bawa berisi berbagai jenis Aves, termasuk jenis yang dilindungi seperti elang bondol (Haliastur indus). “Warga menghalau mereka, karena curiga yang diburu bukan hanya burung biasa.” Bagi masyarakat Muara Gembong, primata yang dilindungi undang-undang ini hanyalah satu dari sekian banyak satwa yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/13/lutung-jawa-di-muara-gembong-minim-data-dan-bertahan-di-hutan-mangrove/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/13/lutung-jawa-di-muara-gembong-minim-data-dan-bertahan-di-hutan-mangrove/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Korupsi Dana Pakan, Bagaimana Kondisi Satwa di Kebun Binatang Surabaya?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/13/korupsi-dana-pakan-bagaimana-kondisi-satwa-di-kebun-binatang-surabaya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/13/korupsi-dana-pakan-bagaimana-kondisi-satwa-di-kebun-binatang-surabaya/#respond</comments>
					<pubDate>13 Agu 2026 02:26:31 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Petrus Riski]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/12042840/Harimau-sumatera-koleksi-KBS-saat-berada-di-kandang-luar-dengan-parit-Foto-Petrus-Riski-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131842</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan surabaya]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[politik dan hukum dan satwa liar]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur (Jatim) menetapkan Choirul Anwar, mantan direktur Kebun Binatang Surabaya (KBS) sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengadaan pakan satwa selama periode 2016-2024. Total perkiraan kerugian negara dalam kasus ini capai Rp10,2 miliar. I Gede Punia Atmaja, Asisten Tindak Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Jatim, katakan, dugaan atas tersangka menggunakan anggaran pakan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/13/korupsi-dana-pakan-bagaimana-kondisi-satwa-di-kebun-binatang-surabaya/">Korupsi Dana Pakan, Bagaimana Kondisi Satwa di Kebun Binatang Surabaya?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur (Jatim) menetapkan Choirul Anwar, mantan direktur Kebun Binatang Surabaya (KBS) sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengadaan pakan satwa selama periode 2016-2024. Total perkiraan kerugian negara dalam kasus ini capai Rp10,2 miliar. I Gede Punia Atmaja, Asisten Tindak Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Jatim, katakan, dugaan atas tersangka menggunakan anggaran pakan KBS untuk kepentingan pribadi dan hal lain yang tak sesuai peruntukan. “Bahwa CA secara melawan hukum atau menyalahgunakan kewenangan telah menggunakan uang anggaran PD TS KBS guna pengeluaran yang tidak sesuai dengan peruntukannya dan,atau fiktif, serta kepentingan pribadi saudara CA,” kata Gede, mengutip CNN Indonesia, Selasa (11/8/26). Atta Verin, pegiat satwa dari Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia (FOKSI) menilai, mencuatnya kasus ini mencerminkan ada kesalahan dalam pengelolaan dan manajemen KBS. Seharusnya  kasus itu  tak  terjadi jika monitoring dalam pengadaan pakan berjalan maksimal. “Jika secara kasat mata satwa-satwa mereka tampak baik-baik saja, maka sistem monev mereka yang bermasalah. Sekelas KBS seharusnya lebih baik lagi melakukan monitoring dan evaluasi,” kata  Atta. Sebagai pemilik KBS, Pemerintah Kota  Surabaya,  perlu memperbaiki sistem perekrutan dan pengawasan. Hal itu agar pandangan sebagian masyarakat yang menganggap kebun binatang hanya menjadi tempat eksploitasi satwa tidak terbukti. Satwa watusi koleksi KBS. Foto: Petrus Riski/Mongabay Indonesia. Paham konservasi satwa Tony Sumampau, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI), mengatakan,  kesejahteraan satwa bukan hanya dari kecukupan pakan juga memastikan kandungan gizi di dalammya. “Karnivora seperti harimau, singa, dan macan tutul, kalau setiap hari diberi daging ayam, karena murah, akibatnya kurang baik karena pakan mereka di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/13/korupsi-dana-pakan-bagaimana-kondisi-satwa-di-kebun-binatang-surabaya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/13/korupsi-dana-pakan-bagaimana-kondisi-satwa-di-kebun-binatang-surabaya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Kita Dilarang Konsumsi Satwa Liar? Ini Alasan Ilmiahnya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/mengapa-kita-dilarang-konsumsi-satwa-liar-ini-alasan-ilmiahnya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/mengapa-kita-dilarang-konsumsi-satwa-liar-ini-alasan-ilmiahnya/#respond</comments>
					<pubDate>13 Agu 2026 01:09:53 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/07/22012304/Monyet2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131837</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Mengonsumsi satwa liar mungkin dianggap sebagian orang sebagai pengalaman kuliner yang tidak biasa. Namun, di baliknya terdapat ancaman serius bagi kesehatan manusia, kelestarian satwa, dan keseimbangan alam. Seperti sebuah video berjudul “Cara Buat Rendang Monyet” sempat beredar dan menjadi perbincangan di media sosial. Meski pertama kali diunggah pada 29 Oktober 2024, video berdurasi 16 detik [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/mengapa-kita-dilarang-konsumsi-satwa-liar-ini-alasan-ilmiahnya/">Mengapa Kita Dilarang Konsumsi Satwa Liar? Ini Alasan Ilmiahnya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Mengonsumsi satwa liar mungkin dianggap sebagian orang sebagai pengalaman kuliner yang tidak biasa. Namun, di baliknya terdapat ancaman serius bagi kesehatan manusia, kelestarian satwa, dan keseimbangan alam. Seperti sebuah video berjudul “Cara Buat Rendang Monyet” sempat beredar dan menjadi perbincangan di media sosial. Meski pertama kali diunggah pada 29 Oktober 2024, video berdurasi 16 detik itu hingga kini telah mengumpulkan 118 ribu tanda suka dan 13,3 ribu komentar. Karena menampilkan konten yang mengganggu, pembaca yang sensitif disarankan untuk tidak menontonnya. Monyet ekor panjang memang berstatus tidak dilindungi. Namun, mengambil satwa liar dari kawasan hutan tanpa izin tetap dilarang. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan melarang orang mengeluarkan, membawa, dan mengangkut tumbuhan maupun satwa liar yang tidak dilindungi dari kawasan hutan tanpa izin. Ketentuan ini dikecualikan bagi masyarakat adat atau mereka yang secara turun-temurun tinggal di hutan. Masalah lainnya adalah risiko penularan penyakit dari satwa kepada manusia atau zoonosis. Penularan tidak hanya dapat terjadi ketika daging satwa liar dimakan. Manusia bisa terpapar sejak proses memburu, memegang, memotong, mengolah, hingga mengkonsumsinya. Risiko tersebut semakin besar pada primata karena secara biologis kelompok satwa ini sangat dekat dengan manusia. Sejumlah penyakit dan parasit dapat berpindah dari monyet kepada manusia. Seperti Ebola yang berkaitan dengan kebiasaan mengkonsumsi daging satwa liar atau bushmeat. Bakteri Salmonella dan cacar monyet juga perlu diwaspadai. Ketika penyakit dari satwa berhasil menular dan menyebar antarmanusia, dampaknya dapat berkembang lebih luas. Perilaku mengkonsumsi daging atau produk satwa liar bukan hanya menempatkan satu orang dalam bahaya, tetapi juga berpotensi memicu wabah yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/mengapa-kita-dilarang-konsumsi-satwa-liar-ini-alasan-ilmiahnya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/mengapa-kita-dilarang-konsumsi-satwa-liar-ini-alasan-ilmiahnya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>