<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=riyad-dafhi-rizki-kotabaru&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/riyad-dafhi-rizki-kotabaru/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Sun, 03 May 2026 05:00:55 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
				<item>
					<title>Batu Berkamar, Jejak Peradaban Megalitik di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/03/batu-berkamar-jejak-peradaban-megalitik-di-taman-nasional-bogani-nani-wartabone/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/03/batu-berkamar-jejak-peradaban-megalitik-di-taman-nasional-bogani-nani-wartabone/#respond</comments>
					<pubDate>03 Mei 2026 05:00:55 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christopel Paino]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/03020446/Situs-Batu-Berkamar3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127291</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, Satwa, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di balik lebatnya hutan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW), tersembunyi warisan budaya megalitik berusia ribuan tahun bernama kubur tebing Situs Binuanga. Situs ini memiliki 17 ruang pahatan di dinding tebing andesit, yang pernah menjadi tempat persemayaman terakhir para leluhur. Untuk menuju lokasi ini, perjalanan dimulai dari Desa Toraut, Kecamatan Dumoga Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/03/batu-berkamar-jejak-peradaban-megalitik-di-taman-nasional-bogani-nani-wartabone/">Batu Berkamar, Jejak Peradaban Megalitik di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di balik lebatnya hutan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW), tersembunyi warisan budaya megalitik berusia ribuan tahun bernama kubur tebing Situs Binuanga. Situs ini memiliki 17 ruang pahatan di dinding tebing andesit, yang pernah menjadi tempat persemayaman terakhir para leluhur. Untuk menuju lokasi ini, perjalanan dimulai dari Desa Toraut, Kecamatan Dumoga Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Uara. Setelah menempuh sekitar dua jam perjalanan darat dari Kotamobagu, perjalanan dialanjutkan berjalan kaki kurang lebih tiga jam menyusuri perkebunan jagung, kelapa, dan nilam milik warga, lalu melewati jalan setapak ke kawasan taman nasional. Kita harus menyeberangi Sungai Kosinggolan sekali dan melewati sepuluh penyeberangan aliran Sungai Binuanga. Setelah semua rute itu dilalui, situs akan terlihat yang posisinya menempel di sisi tegak sebuah bukit, menghadap ke selatan. Berdasarkan pemuktahiran data yang dilakukan Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara pada April 2026, dinding-dinding situs nyaris tertutup tumbuhan merambat dan pakis yang membalut hampir seluruh permukaan tebing batuan andesit tersebut. Sisanya, sedikit celah yang memperlihatkan wajah asli batu di baliknya yakni 17 rongga pahatan berbentuk persegi panjang yang dipahat langsung ke dinding batu. Ini merupakan sebuah kompleks pemakaman prasejarah yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai &#8220;batu berkamar Binuanga&#8221;. Situs megalitik batu berkamar di dalam kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Foto: Dok. Hari Suroto Hari Suroto, arkeolog dari Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara, menyebut temuan ini sebagai ekspresi budaya megalitik yang khas dari wilayah Sulawesi Utara. Setiap rongga pahatan di situs ini memiliki ukuran tidak kecil. Panjang umumnya lebih dari 200 sentimeter, bahkan ada yang mendekati 300 sentimeter.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/03/batu-berkamar-jejak-peradaban-megalitik-di-taman-nasional-bogani-nani-wartabone/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/03/batu-berkamar-jejak-peradaban-megalitik-di-taman-nasional-bogani-nani-wartabone/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Selama 400 Tahun, Pohon ini Bertahan Hidup Sendirian di Tengah Padang Pasir</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/03/selama-400-tahun-pohon-ini-bertahan-hidup-sendirian-di-tengah-padang-pasir/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/03/selama-400-tahun-pohon-ini-bertahan-hidup-sendirian-di-tengah-padang-pasir/#respond</comments>
					<pubDate>03 Mei 2026 04:54:54 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/06/21230747/1024px-Tree_of_Life_in_Bahrain-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127299</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di tengah gurun Bahrain yang panas dan sunyi, berdiri satu pohon yang menolak mati. Tidak ada sungai, tidak ada rumput, dan tidak ada pohon lain dalam radius bermil-mil. Namun pohon ini tetap hidup dan terus tumbuh lebih dari empat abad lamanya. Pohon ini adalah Prosopis cineraria setinggi 9,75 meter yang usianya sudah melewati 400 tahun, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/03/selama-400-tahun-pohon-ini-bertahan-hidup-sendirian-di-tengah-padang-pasir/">Selama 400 Tahun, Pohon ini Bertahan Hidup Sendirian di Tengah Padang Pasir</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di tengah gurun Bahrain yang panas dan sunyi, berdiri satu pohon yang menolak mati. Tidak ada sungai, tidak ada rumput, dan tidak ada pohon lain dalam radius bermil-mil. Namun pohon ini tetap hidup dan terus tumbuh lebih dari empat abad lamanya. Pohon ini adalah Prosopis cineraria setinggi 9,75 meter yang usianya sudah melewati 400 tahun, berdiri sendirian di atas bukit kecil di gurun Arabia, sekitar 6 kilometer dari Jebel Dukhan, titik tertinggi di Bahrain, dan sekitar 40 kilometer dari ibu kota Manama. Dalam bahasa Arab, ia disebut Shajarat al-Hayat, yang berarti Pohon Kehidupan. Dengan curah hujan tahunan hanya sekitar 80 mm, hampir tidak ada tanaman yang bisa bertahan di sini, namun pohon ini bukan hanya bertahan melainkan benar-benar subur. Pohon Kehidupan di gurun pasir Bahrain, sebuah pohon tua yang menghijau sendirian  | Public Domain Pertanyaan yang paling mendasar selalu sama: dari mana airnya berasal? Satu teori menyebut akarnya menembus sekitar 50 meter ke bawah tanah untuk mencapai sumber air tersembunyi, sementara ada pula yang meyakini pohon ini telah beradaptasi untuk menyerap kelembaban langsung dari butiran pasir. Secara ilmiah, Prosopis cineraria adalah jenis pohon phreatophyte, yakni pohon yang akarnya tumbuh sangat panjang untuk memanfaatkan air dari akuifer bawah tanah. Bahrain sendiri memiliki lapisan batuan berpori di bawah permukaan gurunnya yang menyimpan air dalam kantong-kantong tersembunyi, dan akar pohon ini diduga kuat mampu menjangkau lapisan tersebut Sementara pertumbuhan bagian atasnya tergolong lambat, akar Prosopis cineraria menembus sangat dalam untuk mencari air tanah, dengan akar tunggang yang dilaporkan bisa mencapai kedalaman hingga 35&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/03/selama-400-tahun-pohon-ini-bertahan-hidup-sendirian-di-tengah-padang-pasir/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/03/selama-400-tahun-pohon-ini-bertahan-hidup-sendirian-di-tengah-padang-pasir/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Generasi Muda Desak Perbaikan dan Permulihan Bumi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/03/ketika-generasi-muda-desak-perbaikan-dan-permulihan-bumi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/03/ketika-generasi-muda-desak-perbaikan-dan-permulihan-bumi/#respond</comments>
					<pubDate>03 Mei 2026 02:30:40 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/02184428/20260424_155603-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127270</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Seribu Luka di Hari Bumi]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>“Pemerintah bicara di podium..Mengklaim penanganan sudah aman, sudah 100%. Namun di tenda-tenda itu, aman hanyalah mimpi yang belum tiba. Bencana ini bukan hanya reruntuhan. Ia adalah ujian keadilan. Apakah negara hadir di jalan yang terputus? Apakah tangan kekuasaan menjangkau tenda-tenda di sungai pelosok sana? Hari bumi mengingatkan kita, Menjaga alam berarti menjaga manusia. Menjaga rakyat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/03/ketika-generasi-muda-desak-perbaikan-dan-permulihan-bumi/">Ketika Generasi Muda Desak Perbaikan dan Permulihan Bumi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[“Pemerintah bicara di podium..Mengklaim penanganan sudah aman, sudah 100%. Namun di tenda-tenda itu, aman hanyalah mimpi yang belum tiba. Bencana ini bukan hanya reruntuhan. Ia adalah ujian keadilan. Apakah negara hadir di jalan yang terputus? Apakah tangan kekuasaan menjangkau tenda-tenda di sungai pelosok sana? Hari bumi mengingatkan kita, Menjaga alam berarti menjaga manusia. Menjaga rakyat berarti menjaga manusia&#8230; Menjaga bumi.” Begitu puisi  Ahmad Syafiq, anak muda dari Aceh Tengah, mengungkapkan kekecewaan, ketika aksi di Hari Bumi. Dia bergabung bersama muda mudi dari berbagai daerah ikut aksi di Jakarta. Siang itu, 24 April lalu, sekelompok muda menyusuri Jalan Gatot Subroto, Jakarta, siang, sambil membawa nisan. Bukan ke tempat pemakaman umum, mereka justru bergerak ke Gedung DPR di Senayan. &#8220;RIP Hak Atas Kehidupan&#8221; &#8220;RIP Hak Atas Lingkungan yang Baik &amp; Sehat’&#8221; &#8220;RIP Hak Atas Pangan dan Air&#8221; Begitu  antara lain tulisan tertera di nisan. Spanduk pun terbentang. &#8220;Bumi Hanya Satu&#8221; Mereka tiba di depan Gedung DPR sekitar 15.17 WIB. Bagi mereka, kondisi bumi yang kian hari memburuk membuat sulit merayakan Hari Bumi yang jatuh pada 22 April. Karena itu, aksi simbolik di depan DPR untuk menuntut keadilan iklim jadi pilihan. “Kami, anak muda adalah korban dari kebijakan,” kata Muhammad Iqbal, peserta aksi. Menurut dia, suhu di Indonesia makin panas, bahkan pernah 36 derajat. Cuaca yang ekstrem dan tidak menentu membuatnya harus panas-panasan saat ke kampus di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Kondisi ini, katanya, tidak tercipta secara alami tetapi  hasil serangkaian kebijakan dan ulah manusia, seperti alih fungsi lahan, penggundulan hutan masif hingga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/03/ketika-generasi-muda-desak-perbaikan-dan-permulihan-bumi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/03/ketika-generasi-muda-desak-perbaikan-dan-permulihan-bumi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nasib Warga Pesisir Demak di Tengah Ambisi KSN Jateng</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/02/nasib-warga-pesisir-demak-di-tengah-ambisi-ksn-jateng/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/02/nasib-warga-pesisir-demak-di-tengah-ambisi-ksn-jateng/#respond</comments>
					<pubDate>02 Mei 2026 15:00:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Wulan Yanuarwati]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[perikanan kelautan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/02044125/20250219_104212-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127241</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan semarang]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pemandangan rumah-rumah yang tenggelam di pesisir utara Pulau Jawa, tepatnya di Kecamatan Sayung, Demak, Jawa Tengah (Jateng) sudah tak asing lagi. Hanya dalam kurun tiga dekade, hamparan pertanian yang membentang luas tergantikan oleh air laut. Era kurun 1990-an, rob datang hanya sejengkal dan sesekali.  Lambat laun, air laut terus merangsek hingga menenggelamkan sawah, tambak, hingga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/02/nasib-warga-pesisir-demak-di-tengah-ambisi-ksn-jateng/">Nasib Warga Pesisir Demak di Tengah Ambisi KSN Jateng</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pemandangan rumah-rumah yang tenggelam di pesisir utara Pulau Jawa, tepatnya di Kecamatan Sayung, Demak, Jawa Tengah (Jateng) sudah tak asing lagi. Hanya dalam kurun tiga dekade, hamparan pertanian yang membentang luas tergantikan oleh air laut. Era kurun 1990-an, rob datang hanya sejengkal dan sesekali.  Lambat laun, air laut terus merangsek hingga menenggelamkan sawah, tambak, hingga rumah-rumah penduduk. Di Timbul Sloko, satu lokasi terparah,  dari ratusan keluarga , kini  tersisa 70-an. Mereka yang memiliki biaya dan lahan di tempat lain, bisa merelokasi rumahnya  mandiri tetapi  tak semua bisa pindah.  Himpitan ekonomi memaksa mereka menjual murah lahan bekas tambak yang kini  berubah menjadi laut. Salah satunya Baharuddin, yang terpaksa menjual bekas tambak pada 2023.  Dia jual hanya Rp20.000 per meter persegi. “Karena memang sudah tak bisa produktif. Sudah benar-benar tenggelam, rata oleh air laut. Kalau pun dibikin tambak, pasti ludes tersapu gelombang,” katanya. Begitu juga dengan Zaini, warga lain  yang  menjual bekas tambak Rp15.000 per meter persegi. Uang dari hasil penjualan itu  dia manfaatkan untuk merenovasi di rumah anaknya dan modal usaha. “Awal 2024-an-lah. Tenggelam gak bisa diapa-apain, mending jual ta, laku berapa aja buat modal jualan di pasar.&#8221; Sebagian perkampungan di pesisir Sayung yang tenggelam air laut  memicu kehadiran para makelar tanah. Memanfaatkan ketidakberdayaan warga, mereka berseliweran menawar tanah warga dengan harga murah. Rohmad, warga Desa Bedono, misal, menjual murah tanah  ke  makelar dengan harga Rp8.000 per meter persegi pada 2015. Karena butuh uang, dia tak berpikir panjang. Apalagi saat itu dia sedang relokasi di tempat baru, perlu biaya untuk membangunnya.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/02/nasib-warga-pesisir-demak-di-tengah-ambisi-ksn-jateng/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/02/nasib-warga-pesisir-demak-di-tengah-ambisi-ksn-jateng/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hidup 5.000 Meter di Atas Laut, Inilah Ular Beludak Penjaga Lereng Himalaya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/02/hidup-5-000-meter-di-atas-laut-inilah-ular-beludak-penjaga-lereng-himalaya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/02/hidup-5-000-meter-di-atas-laut-inilah-ular-beludak-penjaga-lereng-himalaya/#respond</comments>
					<pubDate>02 Mei 2026 12:22:40 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/07033229/himalaya-sud-avion-320c1e-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127261</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pada ketinggian yang nyaris menyentuh 5.000 meter di atas permukaan laut, di mana oksigen begitu tipis dan suhu bisa berubah menjadi beku dalam hitungan menit, terdapat sebuah kehidupan yang menantang batas biologi. Ia adalah Gloydius himalayanus atau pit viper Himalaya. Ular berbisa ini bukan sekadar penghuni, melainkan sosok &#8220;penjaga&#8221; sunyi di salah satu wilayah paling [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/02/hidup-5-000-meter-di-atas-laut-inilah-ular-beludak-penjaga-lereng-himalaya/">Hidup 5.000 Meter di Atas Laut, Inilah Ular Beludak Penjaga Lereng Himalaya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pada ketinggian yang nyaris menyentuh 5.000 meter di atas permukaan laut, di mana oksigen begitu tipis dan suhu bisa berubah menjadi beku dalam hitungan menit, terdapat sebuah kehidupan yang menantang batas biologi. Ia adalah Gloydius himalayanus atau pit viper Himalaya. Ular berbisa ini bukan sekadar penghuni, melainkan sosok &#8220;penjaga&#8221; sunyi di salah satu wilayah paling ekstrem di muka bumi. Penelitian filogenetik terbaru hingga April 2026 mengungkap sejarah migrasi kuno yang mengejutkan. Berbeda dengan kerabatnya di Asia Timur, leluhur ular ini diduga melintasi koridor subtropis Paleo-Tibet sekitar 14,5 juta tahun lalu. Isolasi geografis yang sangat lama ini akhirnya membentuk garis keturunan yang sangat berbeda jauh (divergent) dari semua spesies lain dalam marga Gloydius. Ular beludak Himalaya (Gloydius himalayanus) di habitat pegunungan tinggi, berjemur di atas batu di bawah langit Himalaya. Spesies ini dikenal hidup hingga hampir 5.000 meter di atas permukaan laut. Photo by: Rohit Giri CC BY-NC 4.0 Penemuan Spesies Baru di Atap Dunia Bagi manusia, berada di ketinggian 5.000 meter memerlukan persiapan fisik yang berat, namun bagi ular beludak Himalaya, wilayah ini adalah rumah. Habitat mereka membentang dari padang rumput alpine hingga tebing berbatu yang terisolasi di mana sinar matahari menjadi sumber energi utama. Sebuah studi perilaku mencatat untuk pertama kalinya fenomena dikhromatisme atau perbedaan warna tubuh serta perilaku kawin spesies ini di alam liar. Warna tubuhnya yang cokelat keabu-abuan memberikan kamuflase sempurna di antara tebing granit untuk melindunginya dari predator langit sekaligus memudahkan mereka mengintai mangsa. Peneliti mencatat bahwa ular ini memiliki metabolisme yang sangat efisien, sebuah kunci&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/02/hidup-5-000-meter-di-atas-laut-inilah-ular-beludak-penjaga-lereng-himalaya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/02/hidup-5-000-meter-di-atas-laut-inilah-ular-beludak-penjaga-lereng-himalaya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nasib Petani Ketika Program Tanam Jagung Masuk Mentawai</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/02/nasib-petani-ketika-progam-tanam-jagung-masuk-mentawai/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/02/nasib-petani-ketika-progam-tanam-jagung-masuk-mentawai/#respond</comments>
					<pubDate>02 Mei 2026 08:30:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Jaka Hendra Baittri]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/01060436/Lahan-Jagung-Desa-Bojakan-SIberut-terkubur-endapan-banjir-dari-sungai-yang-letaknya-5-meter-di-bawah-saat-surut_Jaka-HBP1199385-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127206</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[mentawai dan sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Program pangan dengan tanam jagung di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat,  hampir setahun berlalu. Alih-alih membawa hasil maksimal, petak-petak jagung yang petani  tanam gagal  panen karena lokasi lahan tak cocok. Berdasar informasi yang Mongabay himpun, ada beberapa desa di Mentawai terpilih sebagai proyek percontohan  program ini.Antara lain di Pagai, Sipora dan Siberut. Tanpa ada pilihan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/02/nasib-petani-ketika-progam-tanam-jagung-masuk-mentawai/">Nasib Petani Ketika Program Tanam Jagung Masuk Mentawai</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Program pangan dengan tanam jagung di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat,  hampir setahun berlalu. Alih-alih membawa hasil maksimal, petak-petak jagung yang petani  tanam gagal  panen karena lokasi lahan tak cocok. Berdasar informasi yang Mongabay himpun, ada beberapa desa di Mentawai terpilih sebagai proyek percontohan  program ini.Antara lain di Pagai, Sipora dan Siberut. Tanpa ada pilihan, masing-masing desa pemerintah wajibkan untuk menanam jagung sejak 2025. Fransiskus Xaverius, Kepala Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Taraet Borsa, Sipora mengatakan,  baru menanam jagung setelah pemerintah mewajibkannya. Semula, mereka merencanakan untuk menanam di tiga lokasi. Namun, karena pertimbangan efektivitas, dia putuskan di satu lokasi. “Rencananya satu hektar di Betumonga, satu hektar di Maktutungan, dan satu hektar di tempat lain. Tapi setelah dipertimbangkan, pengurus bisa kewalahan kalau tersebar di banyak lokasi. Akhirnya diputuskan di satu tempat saja,” katanya. Total ada tiga hektar lahan dia siapkan untuk program ini. Setiap hektar dia perkirakan bisa menghasilkan 8-10 ton. Namun, karena lokasi lahan  tak sesuai, jagung-jagung yang terlanjur ditanam amblas terkena banjir. Xaverius katakan, ada dua hehktar lahan yang BUMDes sewa untuk program ini. Saat proses penanaman berlangsung, sekitar 30-40 orang terlibat dengan upah masing-masing Rp125.000 per hari. Dia sayangkan minimnya petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) terlibat dalam program ini. Bahkan, selama pelaksanaan program, tak sekalipun petugas datang ke lokasoi. “Itu yang membuat kami seperti berjalan tanpa arah. Kami tidak tahu tahapan masa tanam, setelah berapa hari harus melakukan apa, dan seterusnya,” katanya. Fransiskus Xaverius, Kepala BUMDes Taraet Borsa, Sipora di lokasi lahan tanam jagung yang masih tergenang air.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/02/nasib-petani-ketika-progam-tanam-jagung-masuk-mentawai/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/02/nasib-petani-ketika-progam-tanam-jagung-masuk-mentawai/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dinyatakan Punah 66 Juta Tahun Silam, Ikan Purba ini Ada di Laut Indonesia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/02/dinyatakan-punah-66-juta-tahun-silam-ikan-purba-ini-ada-di-laut-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/02/dinyatakan-punah-66-juta-tahun-silam-ikan-purba-ini-ada-di-laut-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>02 Mei 2026 02:53:58 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/06/21231102/Coelacanth-L-manadoensis_Chappuis-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127233</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Data dan Statisik, jawa, Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, Satwa, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Indonesia menjadi rumah kedua yang nyaman bagi spesies laut yang sempat dinyatakan punah selama 66 juta tahun. Rumah pertamanya, adalah Benua Afrika, tepatnya perairan Afrika Selatan yang menghadap langsung ke Samudra Hindia. Ikan raja laut, spesies purba ini, menarik perhatian dunia pada 1997 atau 29 tahun lalu. Hewan tersebut menjadi yang kedua ditemukan di dunia, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/02/dinyatakan-punah-66-juta-tahun-silam-ikan-purba-ini-ada-di-laut-indonesia/">Dinyatakan Punah 66 Juta Tahun Silam, Ikan Purba ini Ada di Laut Indonesia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Indonesia menjadi rumah kedua yang nyaman bagi spesies laut yang sempat dinyatakan punah selama 66 juta tahun. Rumah pertamanya, adalah Benua Afrika, tepatnya perairan Afrika Selatan yang menghadap langsung ke Samudra Hindia. Ikan raja laut, spesies purba ini, menarik perhatian dunia pada 1997 atau 29 tahun lalu. Hewan tersebut menjadi yang kedua ditemukan di dunia, yang sebelumnya diketahui hidup dan menetap di perairan Afrika Selatan. Coelacanth Sulawesi (Latimeria menadoensis), nama internasional ikan tersebut, ditemukan pertama kali di perairan Manado, Sulawesi Utara. Penemuan itu menggemparkan dunia, karena fisiknya sangat mirip dengan nenek moyangnya dari periode Cretaceous. Morfologi ikan tersebut memang sangat unik, berbeda dari kebanyakan ikan moderen yang saat ini ada. Di Indonesia, warnanya cenderung cokelat keemasan, berbeda dengan saudara tuanya di Afrika, Latimeria chalumnae yang tubuhnya didominasi biru keabu-abuan. Keduanya adalah ikan bersirip lobus (sarcopterygians) ukuran besar yang biasa menghuni gua-gua laut di kedalaman sekitar 150-200 meter. Ukurannya terbilang besar, karena bisa mencapai panjang dua meter dengan berat sekitar 100 kilogram. Peneliti yang berada satu meter di belakang ikan coelacanth pada kedalaman 144 m di bawah permukaanlaut di Maluku Utara.Tim penyelam menggunakan trimix (gas penyelaman campuran oksigen, helium, dan nitrogen yang dikhususkan untuk penyelaman laut dalam. Foto: © Alexis Chappuis/Scientific Reports Jarak usia penemuan keduanya juga sangat jauh, karena terpisah 59 tahun. Ikan spesies Afrika pertama kali ditemukan pada 1938 di atas kapal pukat ikan lokal, milik seorang kurator museum. Selain bersirip lobus, keunikan Coelacanth adalah mereka kerabat terdekat tetrapoda dan memiliki beberapa ciri morfologi-anatomi yang tidak ditemukan pada vertebrata&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/02/dinyatakan-punah-66-juta-tahun-silam-ikan-purba-ini-ada-di-laut-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/02/dinyatakan-punah-66-juta-tahun-silam-ikan-purba-ini-ada-di-laut-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Laporan Sebut Fenomena Bunuh Diri sampai Mati Mendadak Buruh di Kawasan Nikel Teluk Weda</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/01/laporan-sebut-fenomena-bunuh-diri-sampai-mati-mendadak-buruh-di-kawasan-nikel-teluk-weda/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/01/laporan-sebut-fenomena-bunuh-diri-sampai-mati-mendadak-buruh-di-kawasan-nikel-teluk-weda/#respond</comments>
					<pubDate>01 Mei 2026 23:58:17 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rabul Sawal]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/01235158/IWIP-Supryadi-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127226</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Demam Nikel]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[halmahera dan maluku utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bahaya, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, pencemaran, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Puluhan ribu buruh di kawasan industri nikel PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) bekerja dalam bayang-bayang risiko yang tak kasat mata. Di tengah ambisi hilirisasi nikel untuk transisi energi, mereka justru menjadi kelompok paling rentan menghadapi bahaya. Laporan investigasi Tiga Wajah Kematian di Teluk Weda: Karoshi, Bunuh Diri, dan Kecelakaan Kerja Berulang oleh Sembada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/01/laporan-sebut-fenomena-bunuh-diri-sampai-mati-mendadak-buruh-di-kawasan-nikel-teluk-weda/">Laporan Sebut Fenomena Bunuh Diri sampai Mati Mendadak Buruh di Kawasan Nikel Teluk Weda</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Puluhan ribu buruh di kawasan industri nikel PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) bekerja dalam bayang-bayang risiko yang tak kasat mata. Di tengah ambisi hilirisasi nikel untuk transisi energi, mereka justru menjadi kelompok paling rentan menghadapi bahaya. Laporan investigasi Tiga Wajah Kematian di Teluk Weda: Karoshi, Bunuh Diri, dan Kecelakaan Kerja Berulang oleh Sembada Bersama Indonesia pada 2026 mengungkap,  tiga pola kematian berulang; kematian mendadak, bunuh diri, dan kecelakaan kerja fatal. Ketiga pola kematian itu disebut bukanlah suatu peristiwa satu dua kali, melainkan terjadi terus menerus dan berulang di kawasan industri IWIP. “Cerita-cerita kematian mendadak cukup sering beredar di kalangan buruh, baik lewat percakapan langsung maupun tersebar lewat pesan singkat antara sesama pekerja,” kata Azhar Irfansyah, peneliti Sembada Bersama Indonesia. Tepat hari ini juga, 1 Mei 2026, mereka memperingati Hari Buruh Sedunia atau May Day. Tetapi hak-hak terkait kesehatan, kesejahteraan, dan keselamatan masih belum terpenuhi, termasuk di kawasan industri nikel. IWIP adalah salah satu kawasan industri nikel terbesar yang pemerintah Indonesia resmikan pada 2018. Perusahaan pertambangan sekaligus pengolahan bijih nikel untuk bahan baku baterai kendaraan listrik ini merupakan patungan investor dari Tiongkok, Tsingshan Holding Group, Huayou Group, dan Zhenshi Holding Group. Kawasan industri IWIP yang dituding berkontribusi terhadap paparan merkuri dan arsenik. Foto: Garry Latulung. Kematian mendadak Kematian mendadak atau Karoshi dalam istilah Jepang, menjadi salah satu temuan utama dalam laporan Sembada imi. Dari 23 buruh yang diwawancarai, 19 orang mengaku pernah mendengar kabar kematian mendadak rekan kerja mereka. Dua orang lain pernah melihat langsung kejadian itu. Sekitar 10&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/01/laporan-sebut-fenomena-bunuh-diri-sampai-mati-mendadak-buruh-di-kawasan-nikel-teluk-weda/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/01/laporan-sebut-fenomena-bunuh-diri-sampai-mati-mendadak-buruh-di-kawasan-nikel-teluk-weda/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Warga Transmigran Kotabaru Waswas Lubang Tambang Batubara</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/01/ketika-warga-transmigran-kotabaru-waswas-lubang-tambang-batubara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/01/ketika-warga-transmigran-kotabaru-waswas-lubang-tambang-batubara/#respond</comments>
					<pubDate>01 Mei 2026 08:00:48 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/29060202/file_000000002188720b8ae47cb0af0fae83-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127035</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, komunitas lokal, Pertambangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Chandra, warga Rawa Indah, Desa Bekambit, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan (Kalsel), tidak bisa menyembunyikan kekagetan saat melihat lubang tambang batubara menganga di kawasan eks transmigran, sebelah selatan desanya, tepatnya, di koordinat -3.510633, 116.239397. Padahal, citra satelit Google Maps menunjukkan lahan itu masih berupa tambak ikan air payau. “Kami masyarakat di sini tidak pernah melihat lubang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/01/ketika-warga-transmigran-kotabaru-waswas-lubang-tambang-batubara/">Ketika Warga Transmigran Kotabaru Waswas Lubang Tambang Batubara</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Chandra, warga Rawa Indah, Desa Bekambit, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan (Kalsel), tidak bisa menyembunyikan kekagetan saat melihat lubang tambang batubara menganga di kawasan eks transmigran, sebelah selatan desanya, tepatnya, di koordinat -3.510633, 116.239397. Padahal, citra satelit Google Maps menunjukkan lahan itu masih berupa tambak ikan air payau. “Kami masyarakat di sini tidak pernah melihat lubang tambang itu,” kata  pria 48 tahun itu setelah melihat rekaman drone, pertengahan Maret 2026. Dia pun segera melihat berkas pengelolaan lahan dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang dia peroleh tahun 2020. Hasil tumpang susun menunjukkan posisi lubang tepat berada di hak penggunaan lahan (HPL). Lubang tambang batubara itu dari aktivitas PT Sebuku Sejaka Coal (SSC). Di pemberitaan sebelumnya, izin perusahaan ternyata menimpa lahan transmigran yang secara sepihak Kantor Wilayah ATR/BPN Kalsel cabut pada 2019. Saat ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) membekukan sementara status izinnya. Ratusan alat berat terparkir di sekitar luabang tambang. Lubang tambang batubara dikeruk berlapis lapis PT SSC. Foto: Rendy Tisna/ Mongabay Indonesia. Suherman, warga transmigran, melihat langsung delapan dump truk yang terparkir di lahan kakeknya, puluhan alat berat juga tersusun rapi di lahan milik warga lain. Padahal, seluruh area itu punya sertifikat hak milik (SHM) sah. Para ahli waris, katanya, belum menerima kompensasi, sedang lahan sudah jadi area parkir perusahaan. Temuan lain, lahan usaha satu yang masih atas nama kakeknya juga berubah fungsi menjadi jalan hauling. Harusnya, lahan yang terdiri dari pekarangan, lahan usaha I, dan lahan usaha II yang masing-masing keluarga transmigran dapat  akhir 1980-an itu semula &hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/01/ketika-warga-transmigran-kotabaru-waswas-lubang-tambang-batubara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/01/ketika-warga-transmigran-kotabaru-waswas-lubang-tambang-batubara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Waspada Kebakaran Hutan dan Lahan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/05/waspada-kebakaran-hutan-dan-lahan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/05/waspada-kebakaran-hutan-dan-lahan/#respond</comments>
					<pubDate>01 Mei 2026 06:04:40 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/09/20064132/Petugas-memadamkan-kebakaran-lahan-di-Kecamatan-Landasan-Ulin-Banjarbaru.-Foto_-Riyad-Dafhi-Rizki_Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=127207</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Waspada Kebakaran Hutan dan Lahan]]>
						</reporting-project>
					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Setiap tahun Indonesia selalu cemas karena bencana terus terjadi sepanjang tahun. Pada musim penghujan, banjir dan longsor di mana-mana. Ketika musim kemarau, kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan pun bak jadi langganan terulang setiap tahun. Indonesia pernah mengalami beberapa kali karhutla parah.  Seperti 1997 beberapa catatan menyebutkan lebih 9 juta hektar, pada 2015 sekitar 2 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/05/waspada-kebakaran-hutan-dan-lahan/">Waspada Kebakaran Hutan dan Lahan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Setiap tahun Indonesia selalu cemas karena bencana terus terjadi sepanjang tahun. Pada musim penghujan, banjir dan longsor di mana-mana. Ketika musim kemarau, kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan pun bak jadi langganan terulang setiap tahun. Indonesia pernah mengalami beberapa kali karhutla parah.  Seperti 1997 beberapa catatan menyebutkan lebih 9 juta hektar, pada 2015 sekitar 2 jutaan hektar dan 2019  sekitar 1,6 jutaan hektar hutan dan lahan terbakar. Meski begitu, setiap tahun karhutla terus terjadi. Tahun ini dari perkiraan BMKG akan ada fenomena iklim El Nino Godzilla. Kondisi ini bisa menyebabkan peningkatan suhu signifikan di Indonesia dan berbagai wilayah dunia dalam beberapa bulan ke depan. Keadaan makin mengkhawatirkan melihat proyeksi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang menyatakan, El Nino ini akan terjadi bersamaan dengan fase positif Indian Ocean Dipole (IOD). Dampaknya, bisa memperpanjang musim kemarau. Para pihak dari pemerintah, pelaku usaha maupun masyarakat harus waspada dan bersiap  menghadapi  serta mengantisipasi dampak iklim ini, salah satu kerentanan tinggi kebakaran hutan dan lahan. &nbsp; &nbsp; The post Waspada Kebakaran Hutan dan Lahan appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/05/waspada-kebakaran-hutan-dan-lahan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/05/waspada-kebakaran-hutan-dan-lahan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: Kehancuran Pesisir dan Runtuhnya Peradaban Dampak Nikel</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/05/01/opini-nikel-hancurnya-pesisir-dan-runtuhnya-peradaban/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/05/01/opini-nikel-hancurnya-pesisir-dan-runtuhnya-peradaban/#respond</comments>
					<pubDate>01 Mei 2026 03:09:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Abdul Matolib AngkotasanParid Ridwanuddin*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[perikanan kelautan]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/06/21230853/WhatsApp-Image-2025-06-09-at-17.25.23-2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127062</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, Perikanan Kelautan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ambisi besar Indonesia dalam mendorong hilirisasi nikel kerap dipuji sebagai langkah strategis menuju transisi energi global. Sebagai bahan baku penting kendaraan listrik, nikel diklaim lebih ramah lingkungan. Di balik narasi besar itu, terdapat ironi yang jarang disorot: kerusakan ruang hidup masyarakat pesisir di Maluku Utara (Malut). Di wilayah ini, aktivitas pertambangan nikel tidak hanya mengubah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/01/opini-nikel-hancurnya-pesisir-dan-runtuhnya-peradaban/">Opini: Kehancuran Pesisir dan Runtuhnya Peradaban Dampak Nikel</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ambisi besar Indonesia dalam mendorong hilirisasi nikel kerap dipuji sebagai langkah strategis menuju transisi energi global. Sebagai bahan baku penting kendaraan listrik, nikel diklaim lebih ramah lingkungan. Di balik narasi besar itu, terdapat ironi yang jarang disorot: kerusakan ruang hidup masyarakat pesisir di Maluku Utara (Malut). Di wilayah ini, aktivitas pertambangan nikel tidak hanya mengubah bentang daratan, juga merambah hingga ke pesisir dan laut. Ruang ekologi yang selama ini menjadi penopang kehidupan masyarakat perlahan menyusut, bahkan hilang. Laut yang dulu menjadi sumber pangan kini berubah warna. Sementara kawasan pesisir penuh sedimentasi material tambang. Masalah ini bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan krisis ruang hidup. Lebih jauh, kehancuran pesisir Malut yang didominasi wilayah kepulauan adalah gambaran nyata kehancuran peradaban kita akibat eksploitasi alam atas nama kemajuan. Pertambangan nikel dan berbagai agenda hilirisasinya tidak akan benar-benar menjadi juru selamat menuju energi terbarukan. Ia tak ubahnya wajah baru dari kolonialisme energi yang menempatkan lingkungan hidup dan masyarakat pesisir sebagai korban. Mereka yang mereguk untung dari situasi ini adalah para oligarki,  industri otomotif skala besar di berbagai negara, terutama Cina, Eropa, dan Amerika. Sungai pun terdampak nikel. Foto: Irfan Maulana/Mongabay Indonesia Perampasan ruang ekologi Ekspansi industri nikel di Malut telah mendorong alih fungsi kawasan pesisir secara masif. Reklamasi untuk kawasan industri, pembukaan hutan, serta konversi mangrove menjadi bagian dari lanskap baru yang terbentuk dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah studi menunjukkan perubahan signifikan pada garis pantai di kawasan seperti Teluk Weda. Aktivitas reklamasi dan pembangunan industri menyebabkan perubahan bentang pesisir yang berdampak langsung pada ekosistem laut.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/05/01/opini-nikel-hancurnya-pesisir-dan-runtuhnya-peradaban/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/05/01/opini-nikel-hancurnya-pesisir-dan-runtuhnya-peradaban/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Segel Satgas Tak Bendung Sawit Ilegal Tesso Nilo Terus Ngalir ke Pabrik</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/30/segel-satgas-tak-bendung-sawit-ilegal-tesso-nilo-terus-ngalir-ke-pabrik/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/30/segel-satgas-tak-bendung-sawit-ilegal-tesso-nilo-terus-ngalir-ke-pabrik/#respond</comments>
					<pubDate>30 Apr 2026 23:51:06 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Suryadi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/01015236/Suryadi-Tesso-Nilo-masuk-GSL--768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127066</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Benahi dan Pulihkan Tesso Nilo]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[riau dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, politik dan hukum, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Suasana sekitar gerbang keluar Dusun IV Toro Jaya lengang hari itu. Hanya ada dua truk penuh muatan tandan buah segar (TBS) sawit, parkir di bahu jalan tanah kuning, 7 Agustus 2025. Kendaraan itu bersiap mengantar buah sawit hasil panen dari Toro ke pabrik. Dusun Toro, Desa Lubuk Kembang, Kecamatan Ukui, Pelalawan, berada di dalam Taman [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/30/segel-satgas-tak-bendung-sawit-ilegal-tesso-nilo-terus-ngalir-ke-pabrik/">Segel Satgas Tak Bendung Sawit Ilegal Tesso Nilo Terus Ngalir ke Pabrik</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Suasana sekitar gerbang keluar Dusun IV Toro Jaya lengang hari itu. Hanya ada dua truk penuh muatan tandan buah segar (TBS) sawit, parkir di bahu jalan tanah kuning, 7 Agustus 2025. Kendaraan itu bersiap mengantar buah sawit hasil panen dari Toro ke pabrik. Dusun Toro, Desa Lubuk Kembang, Kecamatan Ukui, Pelalawan, berada di dalam Taman Nasional Tesso Nilo, kawasan konservasi di Riau, yang tersisa kurang dari 20% dari luas sekitar 81.000 hektar. Sebagian kawasan berubah jadi kebun sawit. Toro, salah satunya. Sejak puluhan tahun lalu, secara perlahan kebun sawit ‘menguasai’ rumah satwa kunci Sumatera, antara lain gajah dan harimau di taman nasional ini. Pada 21 Januari 2025, setelah keluar Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 5/2025 tentang Penertiban Kawasan Hutan , Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) pun terbentuk. Satgas yang berisi lintas unsur ini, mulai penyegelan kebun-kebun sawit dalam kawasan hutan, termasuk di Tesso Nilo pada 10 Juni 2025. Pasca satgas sita kebun  sawit di TNTN, buah sawit dari sana terus panen. TBS sawit pun masih mengalir ke pabrik-pabrik yang berada di sekitar kawasan konservasi ini. “Hampir semua PKS (pabrik sawit) kita masuki. Mana kena (tinggi harga), kita masukin. Tiap PKS beda harga. Ada harga tinggi, tapi potongan tinggi juga. Harga rendah, potongan juga rendah. Tinggal kita lihat mana cocok dari kriteria buah kita,” kata Roben Surbakti, pengumpul atau pemilik peron buah sawit di Toro. Mongabay, mengikuti truk dari Toro untuk mengetahui mengalir ke pabrik mana buah-buah sawit itu. Truk pertama berkelir kuning tua. Plat kendaraan hanya terpasang di kepala mobil.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/30/segel-satgas-tak-bendung-sawit-ilegal-tesso-nilo-terus-ngalir-ke-pabrik/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/30/segel-satgas-tak-bendung-sawit-ilegal-tesso-nilo-terus-ngalir-ke-pabrik/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Suara dan Perjuangan Warga Untuk Keadilan Iklim</title>
					<link>https://mongabay.co.id/podcast/2026/04/suara-dan-perjuangan-warga-untuk-keadilan-iklim/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/podcast/2026/04/suara-dan-perjuangan-warga-untuk-keadilan-iklim/#respond</comments>
					<pubDate>30 Apr 2026 07:29:30 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Karen Anastasia Surbakti*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/31104604/Birute-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=podcasts&#038;p=127087</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, produk kelautan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Musim makin sulit ditebak. Udara panas musim kemarau makin terasa, namun beberapa daerah masih mengalami hujan hingga puting beliung. Peringatan dari ilmuan terkait El-Nino pun bisa menjadi upaya adaptasi bersama untuk menghadapi kemarau yang panjang. Di berbagai daerah di Indonesia, ancaman terhadap [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/04/suara-dan-perjuangan-warga-untuk-keadilan-iklim/">Suara dan Perjuangan Warga Untuk Keadilan Iklim</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Musim makin sulit ditebak. Udara panas musim kemarau makin terasa, namun beberapa daerah masih mengalami hujan hingga puting beliung. Peringatan dari ilmuan terkait El-Nino pun bisa menjadi upaya adaptasi bersama untuk menghadapi kemarau yang panjang. Di berbagai daerah di Indonesia, ancaman terhadap alam tak hanya datang secara alami, tapi lebih akibat dari aktivitas manusia. Banyak lokasi yang dulunya menjadi penyangga kehidupan, kini berubah cepat hingga dampaknya pun datang bersamaan. Ada beragam peristiwa di bulan April yang perlu kamu tahu. Mulai dari Jawa Tengah hingga Kalimantan Selatan, semua berbicara tentang relasi manusia dengan lingkungan sekitarnya. Mulai dari kisah inspiratif masyarakat Desa Colo dengan buah parijotonya hingga ditemukannya pelanggaran HAM pada proyek panas bumi. Cerita itu menunjukkan bagaimana upaya masyarakat untuk dapat terus hidup berdampingan dengan alam di tengah tantangan krisis iklim dan korporasi yang merusak lingkungan. Ada suara kelompok rentan yang tak didengar padahal sangat berperan dalam keberlangsungan hidup hingga potongan realitas kerusakan lingkungan. Dari lereng gunung hingga pesisir, tiap cerita membawa sudut pandang yang beragam. Yuk, dengarkan ceritanya dalam artikel pilihan untuk bulan ini dalam Mongabays Snaps! &nbsp; 1. Saat buah parijoto menjadi identitas masyarakat Kudus Tumbuhan parijoto yang menjadi simbol konservasi Gunung Muria. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia Tak sekadar tanaman, parijoto menjadi identitas daerah bagi masyarakat Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Khususnya, di lereng Gunung Muria. Para petani membudidayakan tumbuhan semak ini dengan memanfaatkan naungan pohon besar agar tidak terkena sinar matahari langsung.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/04/suara-dan-perjuangan-warga-untuk-keadilan-iklim/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/podcast/2026/04/suara-dan-perjuangan-warga-untuk-keadilan-iklim/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hidupi Warga Pesisir Lombok, Mengapa Kepiting Bakau Minim Perhatian?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/30/hidupi-warga-pesisir-mengapa-kepiting-bakau-minim-perhatian/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/30/hidupi-warga-pesisir-mengapa-kepiting-bakau-minim-perhatian/#respond</comments>
					<pubDate>30 Apr 2026 02:27:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ahmad H Ramdhani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[produk laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/25053856/Salah-satu-indukan-kepiting-bakau-di-di-Hatchery-Instalasi-Guntung-yang-banyak-berasal-dari-wilayah-mangrove-tersisa-di-pesisir-timur-Pulau-Bangka.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127056</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[lombok dan nusa tenggara barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, Kelautan perikanan, komunitas lokal, politik dan hukum, dan produk laut]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Angin berhembus pelan di pesisir Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Selasa (14/4/26). Cahaya matahari sore yang melemah memantul di permukaan air tambak milik Jamil. Lelaki 63 tahun itu berdiri di bibir kolam sambil menenteng ember berisi ikan rucah dan kepala ayam yang sudah dicacah kecil-kecil. Dia menebar pakan ke beberapa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/30/hidupi-warga-pesisir-mengapa-kepiting-bakau-minim-perhatian/">Hidupi Warga Pesisir Lombok, Mengapa Kepiting Bakau Minim Perhatian?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Angin berhembus pelan di pesisir Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Selasa (14/4/26). Cahaya matahari sore yang melemah memantul di permukaan air tambak milik Jamil. Lelaki 63 tahun itu berdiri di bibir kolam sambil menenteng ember berisi ikan rucah dan kepala ayam yang sudah dicacah kecil-kecil. Dia menebar pakan ke beberapa sudut tambak. Sesekali riak air pecah. Sejumlah kepiting bakau keluar dari persembunyian dengan capit yang muncul lebih dulu sebelum tubuh gelap kehijauan menyusul ke permukaan. “Kalau jam segini mereka mulai aktif makan. Paginya lebih banyak diam di lubang,” kata Jamal sambil memperhatikan gerak air. Di tambak sederhana itu, Jamil membesarkan kepiting hasil tangkapan nelayan yang masih kecil atau belum layak jual. Setelah beberapa bulan, kepiting akan tumbuh besar, berat bertambah, yang itu berarti harganya naik. Cara ini menjadi salah satu strategi warga pesisir untuk mendapat nilai lebih tinggi dari komoditas yang kian diminati pasar itu. Tidak jauh dari tambak Jamil, di rumah sederhana berdinding batako, Eli Ernawati sedang memilah kepiting yang baru suaminya panen. Sebagian akan dijual ke pengepul, sebagian lagi dipesan pembeli tetap. Dari aktivitas kecil di rumah itu, Eli mampu biayai kebutuhan harian keluarga, mulai dari beras, listrik, hingga ongkos sekolah anak-anaknya. “Kalau lagi ramai, bisa cukup untuk semua kebutuhan rumah. Kalau sepi ya harus pintar mengatur,” ujar ibu tiga anak itu. Hamparan mangrove di pesisir Sugian, Lombok Timur yang menjadi habitat penting kepiting bakau. Foto: Ahmad H. Ramdhani/Mongabay Indonesia. Budidaya dan konservasi mangrove Selama ini kepiting bakau lebih dikenal sebagai hasil tangkapan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/30/hidupi-warga-pesisir-mengapa-kepiting-bakau-minim-perhatian/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/30/hidupi-warga-pesisir-mengapa-kepiting-bakau-minim-perhatian/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Komitmen Jumawan Jaga Kelestarian Penyu di Cilacap</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/30/komitmen-jumawan-jaga-kelestarian-penyu-di-cilacap/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/30/komitmen-jumawan-jaga-kelestarian-penyu-di-cilacap/#respond</comments>
					<pubDate>30 Apr 2026 01:56:17 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/30014629/Penyu-lekang-di-konservasi-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127070</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, komunitas lokal, sains dan Teknologi, Satwa, dan tokoh]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jumawan (33) mengangkat ember berisi ikan segar seukuran empat ruas jari orang dewasa, untuk diberikan kepada seekor penyu sisik (Eretmochelys imbricata). Patrick, nama penyu tersebut, yang dikarantina di Konservasi Penyu Nagaraja, Cilacap, Jawa Tengah. Tiga tahun lalu, Jumawan menerima sebanyak 90 telur penyu sisik dari nelayan. Dia meneteskannya, lalu sebagian tukik dilepasliarkan, termasuk si Patrick [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/30/komitmen-jumawan-jaga-kelestarian-penyu-di-cilacap/">Komitmen Jumawan Jaga Kelestarian Penyu di Cilacap</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jumawan (33) mengangkat ember berisi ikan segar seukuran empat ruas jari orang dewasa, untuk diberikan kepada seekor penyu sisik (Eretmochelys imbricata). Patrick, nama penyu tersebut, yang dikarantina di Konservasi Penyu Nagaraja, Cilacap, Jawa Tengah. Tiga tahun lalu, Jumawan menerima sebanyak 90 telur penyu sisik dari nelayan. Dia meneteskannya, lalu sebagian tukik dilepasliarkan, termasuk si Patrick di Pantai Sodong, Desa Karangbenda, Kecamatan Adipala. Namun, selang sehari, Patrick kembali ke pantai. Jumawan memutuskan mengkarantina, hingga ia benar-benar siap dikembalikan ke alam. “Penyu hasil pembesaran itu tidak sembarang dilepasliarkan,” ujar Jumawan yang merupakan Ketua Kelompok Konservasi Penyu Nagaraja, kepada Mongabay, Sabtu (11/4/2026). Penyu sisik merupakan satu dari tujuh spesies penyu di dunia. Bentuk tubuhnya datar; dewasa dapat tumbuh sampai satu meter dengan berat 80 kilogram. Umumnya, hidup di perairan tropis Samudra Hindia, Pasifik, dan Atlantik –termasuk di pesisir selatan Asia dan Asia Tenggara, seperti selatan Pulau Jawa. Populasi penyu sisik secara global diperkirakan tersisa sekitar 15-25 ribu individu betina yang bersarang setiap tahun. Sejumlah enelitian mennjelaskan, populasinya menurun akibat krisis iklim dan ulah tangan manusia, seperti perburuan ilegal, pencurian telur, hingga pencemaran laut. Penyu lekang di area Konservasi Penyu Nagaraja, Cilacap, Jawa Tengah. Foto: Achmad Rizki Muazam/Mongabay Indonesia. Jumawan juga membesarkan satu penyu lekang (Lepidochelys olivacea) dan dua penyu hijau (Chelonia mydas), sejak netas tahun lalu. Menurut Daftar Merah Badan Konservasi Global (IUCN), penyu lekang berstatus Rentan (Vulnerable/VU) sementara penyu hijau digolongkan Risiko Rendah (Least Concern/LC). Di pesisir Cilacap, Jumawan kerap menemukan telur penyu lekang ketika patroli malam dan pagi hari. Ia mengidentifikasi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/30/komitmen-jumawan-jaga-kelestarian-penyu-di-cilacap/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/30/komitmen-jumawan-jaga-kelestarian-penyu-di-cilacap/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dela Mawar Bahagia Merawat Bayi Orangutan Kalimantan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/29/dela-mawar-bahagia-merawat-bayi-orangutan-kalimantan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/29/dela-mawar-bahagia-merawat-bayi-orangutan-kalimantan/#respond</comments>
					<pubDate>29 Apr 2026 13:26:53 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yovanda]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/29131757/Bayi-orangutan1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127050</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Masa Depan Orangutan]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Kalimantan Timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kalimantan, kera besar, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dela Mawar (20) bukan hanya keeper di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam, di Desa Merasa, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Dia adalah penjaga harapan orangutan yang nyaris kehilangan masa depan. Tugasnya mulia. Setiap hari, dia merawat, memberi makan, hingga memantau perkembangan bayi-bayi orangutan yang menjalani rehabilitasi. “Ada empat bayi orangutan, yaitu Lukas, Hannes, Jack, dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/29/dela-mawar-bahagia-merawat-bayi-orangutan-kalimantan/">Dela Mawar Bahagia Merawat Bayi Orangutan Kalimantan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dela Mawar (20) bukan hanya keeper di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam, di Desa Merasa, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Dia adalah penjaga harapan orangutan yang nyaris kehilangan masa depan. Tugasnya mulia. Setiap hari, dia merawat, memberi makan, hingga memantau perkembangan bayi-bayi orangutan yang menjalani rehabilitasi. “Ada empat bayi orangutan, yaitu Lukas, Hannes, Jack, dan yang baru datang Panji,” terangnya di PPS Long Sam, Minggu (12/4/2026). Sebelum menangani bayi-bayi orangutan, Mawar lebih dulu mengurus kandang owa. Setelah itu, rutinitasnya dimulai. Dia menyiapkan makanan, lalu menggendong mereka menuju sekolah hutan. Di sana, Mawar berperan sebagai pengasuh sekaligus guru; mengajarkan cara memanjat, mengenalkan pohon, hingga melatih insting liar yang sempat hilang. “Seperti bayi manusia, mereka juga takut melihat orang selain pengasuhnya. Mereka sering menangis dan rebutan makan. Setiap hari, selalu ada tingkah lucu dan itu membuat kami para perawat tidak pernah bosan mengurus mereka,” ujarnya. Dela Mawar tersentuh hatinya merawat bayi-bayi orangutan yang kehilangan induk di PPS Long Sam, Berau, Kalimantan Timur. Foto: Yovanda/Mongabay Indonesia Kearifan Suku Dayak Mawar merupakan warga asli Desa Merasa, yang wilayahnya dikelilingi hutan tropis lebat. “Saya asli Suku Dayak. Kalau ditanya masalah hutan, itu rumah kami. Jadi kalau memilih jalan konservasi sebagai pekerjaan, tentu buat saya ini pilihan tepat. Bersama hutan dan segala isinya, kami tidak mengenal lelah.” Mawar tumbuh dengan nilai bahwa hutan bukan hanya tempat tinggal, melainkan sumber kehidupan yang harus dijaga. Dia melihat langsung orangutan kehilangan habitat, akibat deforestasi dan perburuan. “Pertama kali saya melihat bayi orangutan itu Lukas. Kulitnya merah, matanya sayu dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/29/dela-mawar-bahagia-merawat-bayi-orangutan-kalimantan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/29/dela-mawar-bahagia-merawat-bayi-orangutan-kalimantan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ilmuwan Menguak Misteri Makhluk Hidup yang Tidak Pernah Menua, dan Mungkin Bisa Hidup Selamanya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/29/ilmuwan-menguak-misteri-makhluk-hidup-yang-tidak-pernah-menua-dan-mungkin-bisa-hidup-selamanya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/29/ilmuwan-menguak-misteri-makhluk-hidup-yang-tidak-pernah-menua-dan-mungkin-bisa-hidup-selamanya/#respond</comments>
					<pubDate>29 Apr 2026 11:30:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/05/22013257/Hydra-700x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127046</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di kolam air tawar yang tenang, tersembunyi di antara tanaman air, hidup makhluk mungil bernama Hydra. Polip transparan sepanjang satu sentimeter ini tampak menentang hukum alam karena tidak pernah menunjukkan tanda-tanda penuaan. Tidak ada kerutan, tidak ada penurunan fungsi organ, dan tidak ada pelemahan tubuh seiring waktu. Dalam kondisi lingkungan yang mendukung, Hydra seolah memiliki [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/29/ilmuwan-menguak-misteri-makhluk-hidup-yang-tidak-pernah-menua-dan-mungkin-bisa-hidup-selamanya/">Ilmuwan Menguak Misteri Makhluk Hidup yang Tidak Pernah Menua, dan Mungkin Bisa Hidup Selamanya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di kolam air tawar yang tenang, tersembunyi di antara tanaman air, hidup makhluk mungil bernama Hydra. Polip transparan sepanjang satu sentimeter ini tampak menentang hukum alam karena tidak pernah menunjukkan tanda-tanda penuaan. Tidak ada kerutan, tidak ada penurunan fungsi organ, dan tidak ada pelemahan tubuh seiring waktu. Dalam kondisi lingkungan yang mendukung, Hydra seolah memiliki kemampuan biologis untuk hidup tanpa batas waktu. Klaim ini diperkuat oleh penelitian bertahun-tahun di laboratorium yang menunjukkan bahwa tingkat kematian mereka tidak pernah meningkat seiring bertambahnya usia, sebuah fenomena yang sangat langka di dunia hewan. Rahasia utama keawetmudaan Hydra terletak pada strategi regenerasi seluler yang sangat agresif. Berdasarkan pemetaan sel tunggal (single-cell RNA sequencing) yang dipublikasikan di jurnal Science, ilmuwan menemukan bahwa Hydra memiliki tiga lini sel induk mandiri: ektodermal, endodermal, dan interstisial. Ketiga lini ini memastikan bahwa seluruh sel dalam tubuh Hydra diganti sepenuhnya kira-kira setiap 20 hari. Dengan kata lain, Hydra yang Anda lihat hari ini secara fisik adalah individu yang berbeda dalam tiga minggu ke depan. Proses pembaruan konstan ini mencegah akumulasi kerusakan seluler yang biasanya menjadi penyebab utama penuaan pada makhluk hidup lain. Hydra, organisme dengan kemampuan luar biasa bertahan hidup. Sumber: Wikimedia Commons/Green Hydra [Hydra viridissima]/Frank Fox/CC BY-SA 3.0 Germany/free media repository Sel induk interstisial (ISC) dalam tubuh Hydra bahkan memiliki kemampuan multipoten yang luar biasa. Sel-sel ini bertindak sebagai &#8220;pabrik&#8221; yang terus-menerus memproduksi sel saraf, sel kelenjar, hingga sel penyengat (nematosista) yang kompleks. Penelitian tahun 2019 tersebut berhasil mengidentifikasi sinyal genetik yang mengatur bagaimana sel-sel induk ini &#8220;memutuskan&#8221; nasibnya.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/29/ilmuwan-menguak-misteri-makhluk-hidup-yang-tidak-pernah-menua-dan-mungkin-bisa-hidup-selamanya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/29/ilmuwan-menguak-misteri-makhluk-hidup-yang-tidak-pernah-menua-dan-mungkin-bisa-hidup-selamanya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Para Pihak Ingatkan Risiko Proyek Energi Sampah Pemerintah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/29/para-pihak-ingatkan-risiko-proyek-energi-sampah-pemerintah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/29/para-pihak-ingatkan-risiko-proyek-energi-sampah-pemerintah/#respond</comments>
					<pubDate>29 Apr 2026 06:00:16 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[infrastruktur]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/28140517/20230524_135555-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127015</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, infrastruktur, pencemaran, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pemerintah terus dorong proyek pengolahan sampah jadi energi listrik (PSEL) di sejumlah daerah. Berbagai organisasi masyarakat sipil mengkritik dan mengingatkan berbagai risiko dari proyek sampah jadi energi ini. Pemerintah targetkan bangun PSEL mulai Juni 2026 di lima  lokasi, yakni, Kota Bekasi, Bogor Raya, Bandung Raya, Denpasar Raya, dan Yogyakarta. Dalam pembangunan, pemerintah menggandeng Danantara dan  [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/29/para-pihak-ingatkan-risiko-proyek-energi-sampah-pemerintah/">Para Pihak Ingatkan Risiko Proyek Energi Sampah Pemerintah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pemerintah terus dorong proyek pengolahan sampah jadi energi listrik (PSEL) di sejumlah daerah. Berbagai organisasi masyarakat sipil mengkritik dan mengingatkan berbagai risiko dari proyek sampah jadi energi ini. Pemerintah targetkan bangun PSEL mulai Juni 2026 di lima  lokasi, yakni, Kota Bekasi, Bogor Raya, Bandung Raya, Denpasar Raya, dan Yogyakarta. Dalam pembangunan, pemerintah menggandeng Danantara dan  swasta. Kepala daerah di tiga lokasi tahap pertama pembangunan PSEL yakni Kota dan Kabupaten Bogor serta Bali menandatangani kerjasama dengan badan usaha, Selasa (21/4/26) di Kantor Kementerian Koordinator bidang Pangan. Di Bekasi, PT Wangneng Bekasi Environment Nusantara akan menggarapnya, PT Welming Nusantara Bogor New Energy untuk PSEL di Bogor, lalu PT Welming Nusantara Bali New Energy  di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung. Zulkifli Hasan, Menko Pangan menargetkan groundbreaking terlaksana kurun waktu tujuh minggu. Dia bilang, proyek pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) sangat mendesak, karena Indonesia darurat sampah. “Ini perintah bapak (presiden) langsung. Kalau dalam tujuh minggu enggak selesai, terpaksa kita ambil alih. Kita ini sudah masuk darurat sampah, sudah menggunung, kemarin ada bencana di Bantargebang,” ucapnya saat penandatanganan kerjasama. Pemerintah, katanya, menargetkan PSEL di 31 lokasi atau aglomerasi yang mencakup 86 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia. ia mengacu Peraturan Presiden (Perpres) 12/2025 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), yang menargetkan 100% sampah terkelola pada 2029. Saat ini, timbulan sampah nasional mencapai 144.839 ton per hari, sedang kapasitas tempat pemrosesan akhir (TPA) terbatas. Pemerintah targetkan PSEL mampu kurangi timbulan sampah hingga sekitar 40.000 ton per hari, atau 22,48% dari total timbulan nasional pada 2029.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/29/para-pihak-ingatkan-risiko-proyek-energi-sampah-pemerintah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/29/para-pihak-ingatkan-risiko-proyek-energi-sampah-pemerintah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: Data Emisi PLTU Batubara Bukan Informasi Rahasia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/29/opini-data-emisi-pltu-batubara-bukan-informasi-rahasia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/29/opini-data-emisi-pltu-batubara-bukan-informasi-rahasia/#respond</comments>
					<pubDate>29 Apr 2026 02:12:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Bondan Andriyanu*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Opini]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/06/21230703/IMG_3607-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=127021</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, bencana, komunitas lokal, pencemaran, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 13 April 2026 menandai satu babak penting dalam perjuangan panjang keterbukaan informasi publik di sektor energi. Setelah hampir tiga tahun berproses, gugatan Greenpeace Indonesia terhadap PT PLN (Persero) akhirnya membuahkan hasil,  data emisi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara sebagai informasi publik yang wajib dibuka. Putusan ini tidak sekadar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/29/opini-data-emisi-pltu-batubara-bukan-informasi-rahasia/">Opini: Data Emisi PLTU Batubara Bukan Informasi Rahasia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 13 April 2026 menandai satu babak penting dalam perjuangan panjang keterbukaan informasi publik di sektor energi. Setelah hampir tiga tahun berproses, gugatan Greenpeace Indonesia terhadap PT PLN (Persero) akhirnya membuahkan hasil,  data emisi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara sebagai informasi publik yang wajib dibuka. Putusan ini tidak sekadar kemenangan prosedural. Ia adalah koreksi atas praktik lama yang menempatkan data lingkungan sebagai wilayah gelap, tertutup oleh dalih “rahasia dagang” atau “rahasia negara.” Pengadilan tegas membatalkan putusan Komisi Informasi Pusat Nomor 155/XI/KIP-PSI/2023 yang sebelumnya justru mengamini penutupan informasi itu. Padahal, sejak awal perkara ini sederhana, publik berhak tahu apa yang mereka hirup. Perjalanan menuju putusan ini mencerminkan problem mendasar tata kelola energi di negeri ini. Pada 2023, Greenpeace Indonesia mengajukan sengketa informasi untuk membuka data emisi dan peta jalan pemantauan emisi PLTU. Namun dalam sidang di Komisi Informasi pada 2025, PLN menyatakan tidak menguasai data emisi  ini. Jika itu pengakuan jujur justru mengkhawatirkan daripada penutupan informasi itu sendiri. Jika operator pembangkit tidak memiliki data emisi, bagaimana pengawasan lingkungan dijalankan? Jika data ada namun tidak dibuka, bagaimana publik dapat menilai kepatuhan? Putusan Komisi Informasi kala itu memperparah situasi dengan mengecualikan data pemantauan emisi dan membatasi informasi perubahan izin lingkungan atas nama kepentingan bisnis dan negara. Di titik ini, transparansi tidak hanya tertunda, juga dilemahkan secara sistematis. Melalui putusan terbarunya, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan mengembalikan prinsip dasar keterbukaan, bahwa informasi lingkungan adalah milik publik. Hakim memerintahkan PLN untuk membuka seluruh informasi yang diminta dalam waktu paling lambat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/29/opini-data-emisi-pltu-batubara-bukan-informasi-rahasia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/29/opini-data-emisi-pltu-batubara-bukan-informasi-rahasia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nestapa Warga NTT Terdampak Pembangkit Panas Bumi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/28/nestapa-warga-ntt-terdampak-pembangkit-panas-bumi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/28/nestapa-warga-ntt-terdampak-pembangkit-panas-bumi/#respond</comments>
					<pubDate>28 Apr 2026 12:03:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ebed de Rosary]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/11/18044728/4A-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=123123</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Andi Nawa dan  yang lain bergantian menceritakan dampak kehadiran Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Mataloko. Tepatnya di Dusun Turetogo, Desa Wogo, Kecamatan Golewa, Nusa Tenggara Timur (NTT). Andi mengenang, sebelum pembangkit itu ada, hasil panen kopinya bisa mencapai 350 kilogram. Sejak dua tahun ini, hasilnya terus berkurang hingga hanya dapat 50 kilogram. “Dulu kami [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/28/nestapa-warga-ntt-terdampak-pembangkit-panas-bumi/">Nestapa Warga NTT Terdampak Pembangkit Panas Bumi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Andi Nawa dan  yang lain bergantian menceritakan dampak kehadiran Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Mataloko. Tepatnya di Dusun Turetogo, Desa Wogo, Kecamatan Golewa, Nusa Tenggara Timur (NTT). Andi mengenang, sebelum pembangkit itu ada, hasil panen kopinya bisa mencapai 350 kilogram. Sejak dua tahun ini, hasilnya terus berkurang hingga hanya dapat 50 kilogram. “Dulu kami disini sering tanam sayur untuk dijual ke pasar, sekarang kami harus beli sayur di pasar,” sebut Andi saat ditemui di rumahnya, Kamis (28/5/2025). Andi sempat mengajak Mongabay melihat semburan lumpur panas dari lubang-lubang yang berada sekitar 300 meter sebelah utara rumahnya. Dulu, lahan dimana semburan itu berada adalah kebun warga. Namun, dua tahun belakangan ini keluar lumpur panas dengan aroma menyengat dari lubang-lubang yang bermunculan. Pihak perusahaan kemudian membeli lahan tersebut dan memagarinya dengan bambu. “Kalau ada perbedaan, ada warga yang menolak dan menerima kehadiran geothermal bukan urusan kami. Kami warga yang merasakan dampak langsung dari kehadiran proyek ini,” ungkapnya. Pengembangan panas bumi di lokasi yang berada 15 kilometer sisi timur Bajawa, ibu kota Ngada itu berlangsung sejak 1984. Tahun 1997-2002, Direktorat Vulkanologi dan Jepang (GSJ, West JEC, MRC dan NEDO) kemudian bersama-sama melakukan eksplorasi. Kerjasama itu menghasilkan dua sumur, yakni MT-1 dan MT-2. Sementara MT-3 dan MT-4 pengeboran berlangsung pada 2003 oleh Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral. Sumur semi eksplorasi MT-5 dan sumur reinjeksi MT-6 berhasil terselesaikan pada tahun 2005. Sedangkan pada 2007, pemasangan pipa menuju lokasi Steam Gathering (SG). Di tahun itu pula berlangsung uji coba gabungan berlangsung. Secara total, PLTP Mataloko berada&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/28/nestapa-warga-ntt-terdampak-pembangkit-panas-bumi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/28/nestapa-warga-ntt-terdampak-pembangkit-panas-bumi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>