Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Berita utama

Nelayan Menanti Keseriusan Pemerintah Setop Tambang Timah di Teluk Kelabat

Ketika Masyarakat Adat Gugat UU Konservasi ke Mahkamah Konstitusi

Yulia Adiningsih 15 Jul 2026

9 Orang Tertimbun Longsor di Tambang Emas Ilegal Mandailing Natal

Ayat S Karokaro 14 Jul 2026
Perempuan adat Enggros, Petronela Merauje membawa bibit pohon Mangrove menggunakan Speed untuk menanam di hutan mangrove, di Kampung Enggros, Kota Jayapura, Papua. Foto: Dokumentasi Petronela Merauje.

Para Perempuan Adat Kampung Enggros Jaga Hutan Mangrove di Tengah Keterancaman

Larius Kogoya 14 Jul 2026

Polusi Udara Bisa Bahayakan Kesehatan Fisik dan Mental

Ignatius Dwiana 14 Jul 2026
Hasil panen kangkung warga Kelompok Wanita Tani Hijau Daun Pulau Kelapa pada Oktober 2025. Foto: Dokumentasi pulauseribu.jakarta.go.id

Upaya Para Perempuan Wujudkan Kedaulatan Pangan di Pulau Kelapa

Indah Suci Safitri 13 Jul 2026

Petani Hutan Wonoasih Makmur Waswas Tambang Emas Masuk Gunung Salakan

RZ. Hakim dan Zuhana A. Zuhro 13 Jul 2026

Usul Proyek PLTU Batubara Mangkrak Riau jadi Pembangkit Surya dan Mini Hidro

Suryadi 12 Jul 2026

Biarkan Siamang Hidup Liar di Hutan [3]

Junaidi Hanafiah 12 Jul 2026

Bencana Terus Datang Ketika Hutan Siberut Hilang

Novia Harlina 11 Jul 2026

Terbaru

Ternyata Bekantan Punya Kebiasaan Memamah Biak

Christopel Paino 15 Jul 2026

17 Hari Bawa Bangkai Anaknya Sejauh 1.600 Km, Orca Betina Ini Jadi Simbol Krisis Populasinya

Akhyari Hananto 15 Jul 2026
Cerita fitur

Nelayan Menanti Keseriusan Pemerintah Setop Tambang Timah di Teluk Kelabat

Yogi Eka Sahputra 15 Jul 2026
Cerita fitur

Ketika Masyarakat Adat Gugat UU Konservasi ke Mahkamah Konstitusi

Yulia Adiningsih 15 Jul 2026

Populasi Orangutan Sumatera Berkurang 2.700 Individu dalam Satu Dekade?

Junaidi Hanafiah 14 Jul 2026
Cerita fitur

9 Orang Tertimbun Longsor di Tambang Emas Ilegal Mandailing Natal

Ayat S Karokaro 14 Jul 2026

Tikus Ini Hidup di Ketinggian Ekstrem Nyaris 7.000 Meter, Hidup di Tanah Vulkanik yang Penuh Racun

Akhyari Hananto 14 Jul 2026
Cerita fitur

Para Perempuan Adat Kampung Enggros Jaga Hutan Mangrove di Tengah Keterancaman

Larius Kogoya 14 Jul 2026
Cerita fitur

Polusi Udara Bisa Bahayakan Kesehatan Fisik dan Mental

Ignatius Dwiana 14 Jul 2026
Cerita fitur

Upaya Para Perempuan Wujudkan Kedaulatan Pangan di Pulau Kelapa

Indah Suci Safitri 13 Jul 2026
Semua berita

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Baca topik artikel selanjutnya hutantransisi energikelapa sawitperikanan kelautanhidupan liar semua topik

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Mengapa Kucing Rumahan Bisa Jinak? Jawabnya Ada pada Kucing Liar Ini

Editor 15 Jul 2026

Hampir setiap rumah mengenal kucing. Hewan ini tidur di sofa, berburu serangga di halaman, atau meringkuk di pangkuan pemiliknya. Namun, jauh sebelum menjadi hewan peliharaan yang akrab dengan manusia, nenek moyang kucing rumahan hidup bebas di padang rumput, gurun, dan semak belukar Afrika hingga Asia. Spesies itu adalah Felis lybica, atau kucing liar Afro-Asia, yang hingga kini masih berkeliaran di alam liar dan menyimpan banyak misteri.

Ironisnya, meski menjadi leluhur langsung kucing domestik (Felis catus), Felis lybica justru termasuk salah satu kucing liar yang paling sedikit dipelajari. Sebarannya sangat luas, mulai dari Afrika, Timur Tengah, Asia Tengah, hingga India, Mongolia, dan Tiongkok. Namun, para ilmuwan mengakui pengetahuan tentang perilaku, jumlah populasi, bahkan tren keberadaannya masih sangat terbatas.

Secara fisik, Felis lybica memang sangat mirip dengan kucing rumahan. Ukurannya hampir sama, tetapi kakinya lebih panjang, telinganya berwarna jingga kemerahan, dan warna bulunya menyesuaikan lingkungan, mulai dari cokelat pasir hingga keabu-abuan. Kemiripan inilah yang membuat keduanya mudah kawin silang, sehingga sering kali sulit dibedakan hanya dari penampilan luar.

Hubungan antara manusia dan Felis lybica diperkirakan dimulai sekitar 10 ribu tahun lalu, ketika manusia mulai bertani di kawasan Bulan Sabit Subur (suatu wilayah yang terbentang dari Turki hingga Irak saat ini). Lumbung penyimpanan hasil panen menarik tikus, sementara tikus mengundang kucing liar. Hubungan yang awalnya saling menguntungkan itu perlahan berkembang menjadi proses domestikasi. Kucing yang paling toleran terhadap kehadiran manusia memperoleh keuntungan berupa makanan melimpah, sedangkan manusia terbantu mengendalikan hama. Dari proses evolusi yang berlangsung ribuan tahun itulah lahir kucing rumahan yang kini tersebar hampir di seluruh dunia.

Meski telah melahirkan salah satu hewan peliharaan paling sukses di dunia, Felis lybica tetap mempertahankan sifat liarnya. Mereka hidup soliter, aktif malam hari dan merupakan pemburu ulung. Mangsa utamanya adalah hewan pengerat, tetapi mereka juga memangsa burung, reptil, hingga serangga. Kemampuan beradaptasi menjadi salah satu keunggulan terbesar spesies ini. Di habitat yang subur mereka dapat hidup di wilayah jelajah yang relatif kecil, sedangkan di daerah gurun yang miskin sumber daya mereka sanggup menjelajah puluhan kilometer persegi untuk mencari makanan.

Sayangnya, karena dianggap tersebar luas, Felis lybica kurang mendapat perhatian konservasi. Statusnya masih dikategorikan Risiko Rendah (Least Concern) oleh IUCN, tetapi para peneliti menilai penilaian tersebut belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya karena minimnya data populasi. Ancaman terbesar saat ini bukan hanya hilangnya habitat, melainkan perkawinan silang dengan kucing rumahan. Kawin silang terus-menerus dapat menghilangkan kemurnian genetik spesies liar yang telah berevolusi selama ratusan ribu tahun.

Para ilmuwan mendorong langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat, yaitu mensterilkan kucing peliharaan dan mencegahnya berkeliaran di kawasan yang berbatasan dengan habitat kucing liar. Upaya ini bukan hanya mengurangi populasi kucing terlantar, tetapi juga membantu menjaga warisan genetik nenek moyang seluruh kucing rumahan.

Setiap kali seekor kucing mengeong di depan pintu rumah atau meringkuk di sofa, sebenarnya kita sedang melihat hasil dari perjalanan evolusi yang dimulai ribuan tahun lalu.

Foto utama: Kucing liar afro-asia sangat mampu beradaptasi dengan berbagai ekosistem, tetapi terancam oleh perkawinan silang dengan kucing domestik. Foto: Marna Herbst.

Jangan Sentuh, Burung Endemik Papua Ini Beracun

Editor 15 Jul 2026

Di alam, warna mencolok sering menjadi tanda bahaya. Pada pitohui, burung endemik Papua, peringatan itu bukan sekadar isyarat. Kulit dan bulunya benar-benar mengandung racun yang dapat mengusir predator maupun parasit. Ironisnya, kemampuan bertahan hidup yang unik ini tidak membuat pitohui aman dari ancaman manusia. Dalam beberapa tahun terakhir, burung “beracun” tersebut justru semakin sering ditemukan di pasar burung dan platform jual beli daring.

Keunikan pitohui terletak pada racun yang terdapat di kulit dan bulunya. Burung ini mengandung neurotoksin kuat yang membantu melindungi tubuhnya dari parasit, seperti kutu dan caplak, sekaligus menghalau predator. Saat disentuh manusia, racun tersebut dapat menyebabkan iritasi pada hidung dan menimbulkan sensasi seperti reaksi alergi. Meski demikian, racun ini tidak menghalangi minat para kolektor, karena pitohui memiliki suara kicauan yang keras dan merdu.

Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam Bird Conservation International (Desember 2024) menunjukkan perubahan cukup mencolok. Selama dua dekade, antara 1994 hingga 2014, pitohui nyaris tidak pernah ditemukan dalam perdagangan burung kicau. Namun sejak 2015, spesies ini mulai bermunculan di pasar burung dan media sosial. Hingga 2023, peneliti mencatat sedikitnya 113 individu dijual di 12 pasar burung serta 199 individu diperdagangkan secara daring. Dari jumlah itu, 54 individu merupakan pitohui kepala hitam (Pitohui dichrous), spesies yang dikenal paling beracun.

Mengapa pitohui tiba-tiba diminati? Salah satu penyebabnya adalah krisis burung kicau di Indonesia. Banyak spesies favorit penghobi semakin langka akibat perburuan berlebihan, sehingga pasar terus mencari “pengganti” baru. Pitohui kemudian dipasarkan dengan nama dagang yang lebih menarik, seperti “cucakrawa Papua”, memanfaatkan popularitas cucakrawa asli yang kini semakin sulit ditemukan di alam.

Fenomena ini mencerminkan pola yang telah lama diamati para peneliti. Ketika satu spesies menjadi langka akibat eksploitasi, perdagangan akan beralih ke spesies lain yang sebelumnya kurang diminati. Pergeseran tersebut membuat tekanan terhadap satwa liar terus berpindah tanpa pernah benar-benar berhenti. Di Pulau Jawa sendiri, hobi memelihara burung sangat populer, dengan puluhan juta burung diperkirakan dipelihara di sangkar. Sebagian besar, berasal dari tangkapan alam liar, sehingga perdagangan burung menjadi penyebab utama penurunan populasi berbagai spesies di Indonesia.

Sebagian besar pitohui yang diperdagangkan berasal dari Papua dan masuk ke Pulau Jawa melalui Surabaya, lalu dijual dengan harga sekitar Rp1-5 juta per individu. Laporan TRAFFIC menunjukkan meningkatnya penyitaan pitohui dalam beberapa tahun terakhir, mengindikasikan bahwa perdagangan ilegal spesies ini terus berkembang. Namun, para ahli mengingatkan bahwa jumlah penyitaan kemungkinan hanya menggambarkan sebagian kecil dari perdagangan yang sebenarnya.

Meski seluruh spesies pitohui saat ini masih berstatus Least Concern menurut Daftar Merah IUCN, namun tidak ada kuota resmi yang mengizinkan perdagangan satwa ini di Indonesia. Artinya, penjualannya dapat dikategorikan ilegal. Para konservasionis menilai pemerintah perlu memperkuat pemantauan pasar burung dan perdagangan daring sebelum permintaan meningkat lebih jauh dan mulai mengancam populasi pitohui di alam liar.

Foto utama: Pitohui waigeo (P. cerviniventris). Tidak ada spesies pitohui terdaftar sebagai spesies yang dilindungi di Indonesia, namun tidak ada kuota resmi untuk perdagangan mereka, yang menjadikan penjualannya ilegal. Foto: Marcthibault via iNaturalist (CC-BY-NC 4.0).

Pitohui waigeo (P. cerviniventris). Tidak ada spesies pitohui yang terdaftar sebagai spesies yang dilindungi di Indonesia namun tidak ada kuota resmi untuk perdagangan mereka, yang menjadikan penjualannya ilegal. Foto: marcthibault via iNaturalist (CC-BY-NC 4.0).

Perairan Taman Nasional Komodo, Benteng Terakhir Pari Manta Karang

Editor 14 Jul 2026

Di tengah tekanan perikanan, pariwisata, dan perubahan iklim, Taman Nasional Komodo menjadi salah satu tempat paling penting bagi kelangsungan hidup pari manta karang (Mobula alfredi). Sebuah penelitian terbaru tahun 2022, mencatat sedikitnya 1.085 individu pari manta karang hidup di kawasan ini, menjadikannya populasi terbesar yang pernah didokumentasikan di dunia.

Pari manta memilih perairan Komodo karena kaya plankton, sumber makanan utama mereka. Selain mencari makan, kawasan ini juga menjadi lokasi berkembang biak dan “stasiun pembersihan”, tempat ikan-ikan kecil membersihkan parasit dari tubuh pari manta. Menurut peneliti utama riset tersebut, Elitza Germanov dari Marine Megafauna Foundation, jumlah ini kemungkinan masih belum mencakup seluruh individu yang menghuni seluruh kawasan.

Temuan ini memberi secercah harapan bagi spesies yang kini berstatus Rentan menurut Daftar Merah IUCN. Para ilmuwan menyebut populasi besar seperti di perairan TN Komodo dapat menjadi benteng terakhir yang menjaga spesies ini dari kepunahan lokal di berbagai wilayah lain.

Meski Indonesia telah melarang penangkapan dan perdagangan pari manta sejak 2014, ancaman belum sepenuhnya hilang. Penangkapan ikan ilegal masih terjadi, sementara pari manta juga kerap menjadi tangkapan sampingan yang tidak disengaja. Dalam penelitian tersebut, 56 individu ditemukan memiliki luka yang diduga berasal dari alat tangkap perikanan.

Tekanan juga datang dari sektor pariwisata. Meningkatnya aktivitas wisata bahari berpotensi mengganggu perilaku alami pari manta. Satwa ini dapat tertabrak kapal atau baling-baling, serta sensitif terhadap kebisingan dan kehadiran manusia yang berlebihan. Jika berlangsung terus-menerus, gangguan tersebut dikhawatirkan mempengaruhi kesehatan hingga keberhasilan reproduksi mereka.

Di luar aktivitas manusia, krisis iklim memperumit keadaan. Kenaikan suhu laut, pengasaman laut, dan pencemaran, termasuk sampah plastik, dapat mengurangi kualitas habitat dan ketersediaan plankton yang menjadi sumber makanan utama pari manta.

Kerentanan spesies ini diperparah siklus reproduksinya yang sangat lambat. Pari manta baru mencapai kematangan seksual sekitar usia 10 tahun dan umumnya hanya melahirkan satu anak setiap dua tahun. Artinya, kehilangan beberapa individu saja dapat memerlukan waktu puluhan tahun untuk dipulihkan.

Penelitian ini sendiri memanfaatkan teknik identifikasi foto berdasarkan pola unik di bagian bawah tubuh setiap pari manta. Menariknya, data tidak hanya dikumpulkan oleh peneliti, tetapi juga operator selam dan masyarakat melalui program ilmuwan warga. Kolaborasi tersebut memungkinkan pemantauan populasi secara lebih luas dan berkelanjutan.

Para peneliti berharap keberhasilan konservasi di perairan TN Komodo dapat diperkuat dengan pengawasan terhadap perikanan ilegal, pengelolaan wisata yang lebih bertanggung jawab, serta perlindungan habitat di perairan sekitarnya. Jika ancaman-ancaman tersebut dapat ditekan, populasi pari manta di Indonesia berpeluang pulih dan tetap menjadi simbol sehatnya ekosistem laut Nusantara.

Catatan: artikel asli Bahasa Inggris berjudul: “For reef mantas, Indonesi’s Komodo National Park is a ray of hope”, diterjemahkan oleh Akita Verselita.

Foto utama: Pari manta yang rentan terhadap ancaman kepunahan telah menemukan tempat berlindung yang aman di Taman Nasional Komodo. Foto: Simon Pierce.

Mau Buat Mie, Donat, atau Pizza? Tepungnya Tersedia di Hutan Mangrove

Editor 14 Jul 2026

Bagi banyak orang, hutan mangrove identik dengan benteng alami penahan abrasi atau tempat hidup beragam satwa pesisir. Padahal, bagi banyak masyarakat pesisir Indonesia, mangrove juga merupakan dapur alami. Di dalam ekosistem inilah ikan, kepiting, kerang, hingga buah-buahan tumbuh dan menjadi sumber pangan yang menopang kehidupan sehari-hari.

Kekayaan itu masih dapat dijumpai di Kampung Friwen, Raja Ampat, Papua Barat Daya. Bagi masyarakat setempat, mangrove bukan sekadar hutan yang harus dijaga, tetapi lumbung pangan yang menyediakan beragam bahan makanan. Saat air surut, warga mencari bia atau kerang di sela-sela akar mangrove. Kepiting bakau juga menjadi hasil tangkapan bernilai ekonomi tinggi, sementara berbagai jenis ikan memanfaatkan kawasan ini sebagai tempat memijah, mencari makan, dan membesarkan anak sebelum berpindah ke laut lepas. Tak heran, kondisi mangrove yang sehat berbanding lurus dengan melimpahnya hasil tangkapan nelayan.

Namun, ada satu sumber pangan mangrove yang mungkin belum banyak dikenal: buah mangrove.

Di Friwen, masyarakat mengenalnya sebagai buah aibon, yang berasal dari kelompok mangrove Bruguiera. Dahulu, buah ini menjadi salah satu bahan pangan penting masyarakat pesisir Raja Ampat. Para tetua di kampung ini, mengisahkan bahwa tepung dari buah aibon kerap dibawa sebagai bekal perjalanan karena dapat disimpan dalam waktu lama. Seiring perubahan pola konsumsi dan masuknya bahan pangan dari luar, tradisi tersebut perlahan menghilang, hingga hanya sedikit orang yang masih menguasai cara mengolahnya.

Mengolah buah mangrove memang membutuhkan kesabaran. Buah aibon tidak bisa langsung dimakan karena mengandung tanin yang membuat rasanya pahit. Setelah dipanen, kulit buah dikupas, lalu direbus untuk mengurangi kandungan tanin. Selanjutnya buah ditumbuk hingga menjadi tepung. Dari sekitar lima kilogram buah dapat dihasilkan sekitar dua kilogram tepung yang kemudian diolah menjadi berbagai makanan, mulai dari mie, donat, kue kering, hingga pizza. Inovasi ini menunjukkan bahwa bahan pangan lokal dapat diolah menjadi produk yang akrab dengan lidah masyarakat masa kini tanpa kehilangan nilai tradisionalnya.

Di balik upaya menghidupkan kembali pangan mangrove tersebut, perempuan memegang peran sentral. Mama-mama Kampung Friwen menjadi penggerak rehabilitasi mangrove sejak 2014, setelah melihat sekitar 60 hektar kawasan mangrove rusak akibat penebangan. Mereka menanam kembali mangrove, menjaga kawasan dari perusakan, sekaligus mewariskan pengetahuan tentang pemanfaatan buah mangrove kepada generasi muda.

Apa yang dilakukan masyarakat Friwen memperlihatkan bahwa menjaga mangrove bukan hanya soal melindungi garis pantai atau penyimpan karbon. Hutan pesisir ini juga merupakan fondasi ketahanan pangan. Selama ekosistemnya tetap sehat, mangrove akan terus menyediakan ikan, kepiting, kerang, hingga buah yang dapat diolah menjadi berbagai makanan. Dengan kata lain, ketika mangrove dipulihkan, yang tumbuh bukan hanya pepohonan, tetapi juga ketersediaan pangan, pengetahuan lokal, dan kemandirian masyarakat pesisir.

Foto utama: buah aibon (Bruguiera sp.) jenis mangrove yang secara tradisional dapat diolah sebagai bahan pangan. Foto: Ridzki R Sigit/Mongabay Indonesia.

Tidak Semua Spesies Badak Bernasib Sama, Apa yang Membedakan?

Editor 13 Jul 2026

Dua spesies badak mulai pulih, tiga lainnya justru menyusut. Itulah gambaran terbaru kondisi badak dunia yang diungkap dalam laporan TRAFFIC dan IUCN (2025). Meski perburuan badak secara global sedikit menurun dalam tiga tahun terakhir, ancaman terhadap satwa bercula ini belum berakhir. Bagi sebagian spesies, tekanan justru semakin kompleks, mulai dari krisis iklim hingga populasi yang terlalu kecil untuk dapat bertahan dalam jangka panjang.

Selama lebih dari dua dekade, konservasionis berupaya melindungi badak dari pemburu liar. Pendorong utamanya masih sama: tingginya permintaan cula badak di Asia Timur. Cula diperdagangkan sebagai simbol status dan digunakan dalam pengobatan tradisional, meski berbagai penelitian telah membantah manfaat medisnya. Nilai jualnya di pasar gelap bahkan dilaporkan dapat melampaui emas atau berlian. Berbagai strategi konservasi pun diterapkan, mulai dari patroli bersenjata, pemotongan cula (dehorning), hingga penelitian reproduksi berbantu. Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil, tetapi belum cukup untuk mengamankan seluruh spesies badak.

Laporan terbaru tersebut memperlihatkan bahwa kondisi lima spesies badak kini berkembang ke arah berbeda. Badak bercula satu besar (Rhinoceros unicornis) di India dan Nepal berhasil menunjukkan pemulihan populasi signifikan. Badak hitam (Diceros bicornis) di Afrika juga mengalami peningkatan, dengan jumlah populasi diperkirakan naik sekitar 10 persen, dari 6.195 individu pada 2021 menjadi 6.788 individu pada 2024.

Sebaliknya, tiga spesies lainnya masih berada dalam tren penurunan. Populasi badak putih (Ceratotherium simum) di Afrika turun dari 15.942 menjadi 15.752 individu dan kini mencapai titik terendah dalam hampir dua dekade. Menurut para peneliti, ancaman terhadap badak putih tidak lagi hanya berasal dari perburuan. Kekeringan berkepanjangan yang diperparah krisis iklim membuat habitatnya di Afrika Timur dan Selatan semakin kering sehingga mengurangi ketersediaan pakan. Selain itu, populasi yang terfragmentasi menjadi kelompok-kelompok kecil membuat badak lebih rentan terhadap penyakit, kehilangan habitat, dan perkawinan sedarah.

Indonesia menghadapi tantangan yang lebih berat. Dua spesies badak tersisa, yakni badak jawa (Rhinoceros sondaicus) dan badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), masih berstatus Kritis (Critically Endangered/CR) dan berada di ambang kepunahan. Laporan tersebut menempatkan keduanya sebagai spesies yang belum menunjukkan tren pemulihan, meskipun berbagai upaya perlindungan terus dilakukan.

Meski begitu, laporan ini juga membawa secercah optimisme. Angka perburuan badak di Afrika dilaporkan menurun, dari 540 kasus terdokumentasi pada 2021 menjadi 516 kasus pada 2024. Negara-negara juga mulai memperkuat penegakan hukum, menjatuhkan hukuman lebih berat kepada pelaku, serta meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam perlindungan badak. Di bidang sains, tahun 2024 bahkan mencatat tonggak penting ketika ilmuwan berhasil mendokumentasikan kehamilan pertama badak hasil fertilisasi in vitro (IVF), yang diharapkan dapat menjadi salah satu alat konservasi di masa depan.

Namun, para ahli menegaskan bahwa menyelamatkan badak tidak cukup hanya dengan menjaga satwa di lapangan. Diperlukan peningkatan intelijen untuk membongkar jaringan perdagangan satwa liar lintas negara, kerja sama internasional yang lebih erat, penegakan hukum yang konsisten, serta hukuman yang memberikan efek jera. Tanpa upaya tersebut, penurunan perburuan saja belum tentu mampu menghentikan laju kepunahan tiga spesies badak yang populasinya terus menurun.

Foto utama: Seekor badak sumatera dengan anaknya yang  berusia empat hari. Foto: International Rhino Foundation/FunkMonk melalui Wikimedia Commons (CC BY 2.0)

Logam Berat pada Daging Hiu Ancam Perkembangan Janin dan Anak

Editor 13 Jul 2026

Di balik reputasinya sebagai predator puncak yang gagah di lautan, hiu menyimpan sebuah rahasia sains mengerikan di dalam jaringan tubuhnya. Banyak orang masih menganggap daging atau sup sirip hiu sebagai hidangan mewah menyehatkan.

Di balik kandungan proteinnya, para ilmuwan mengingatkan adanya ancaman tidak kasatmata: logam berat yang terakumulasi di dalam tubuh hiu. Kelompok yang paling berisiko mengalami dampaknya bukanlah orang dewasa sehat, melainkan ibu hamil, janin yang sedang dikandung, serta anak-anak yang sistem sarafnya masih berkembang.

Ancaman ini berawal dari posisi hiu sebagai predator puncak di lautan. Sepanjang hidupnya, hiu memangsa berbagai ikan dan hewan laut lain yang telah menyerap polutan dari lingkungan. Merkuri, arsenik, kadmium, dan timbal menumpuk di tubuh hiu melalui proses bioakumulasi. Akibatnya, kadar logam berat pada hiu jauh lebih tinggi dibandingkan banyak jenis ikan lainnya.

Di antara berbagai logam berat tersebut, merkuri dalam bentuk metilmerkuri menjadi perhatian utama karena mampu menyerang sistem saraf manusia. Para peneliti menggunakan indikator yang disebut Target Hazard Quotient (THQ) untuk memperkirakan risiko kesehatan akibat paparan logam berat sepanjang hidup. Nilai THQ di bawah satu umumnya dianggap masih dapat ditoleransi, sedangkan di atas satu menunjukkan adanya potensi risiko kesehatan. Pada beberapa spesies hiu yang banyak dikonsumsi, nilai THQ bahkan mencapai puluhan kali di atas batas tersebut, sehingga para peneliti tidak lagi merekomendasikan mengkonsumsinya.

Risiko terbesar muncul pada masa kehamilan. Berbeda dengan banyak zat lain yang dapat disaring tubuh, metilmerkuri mampu menembus plasenta. Artinya, ketika seorang ibu hamil mengkonsumsi daging hiu yang mengandung metilmerkuri, zat tersebut tidak hanya masuk ke tubuh sang ibu, tetapi juga mencapai janin yang sedang berkembang.

Hal ini menjadi sangat mengkhawatirkan, karena masa kehamilan merupakan periode penting pembentukan otak dan sistem saraf janin. Paparan metilmerkuri pada fase ini dikaitkan dengan meningkatnya risiko kehamilan yang berakhir tidak baik, termasuk aborsi spontan, gangguan kesuburan pada perempuan usia subur, hingga gangguan perkembangan janin. Dampaknya, tidak selalu langsung terlihat saat bayi lahir, tetapi dapat mempengaruhi perkembangan anak dalam jangka panjang.

Anak-anak juga, termasuk kelompok paling rentan terhadap paparan logam berat. Dibandingkan orang dewasa, otak dan sistem saraf mereka dalam masa pertumbuhan sehingga lebih sensitif terhadap zat beracun. Selain itu, ukuran tubuh yang lebih kecil membuat paparan logam berat menjadi lebih besar untuk jumlah makanan yang sama.

Akibatnya, merkuri dapat mengganggu perkembangan saraf yang berujung pada penurunan fungsi kognitif, perubahan perilaku, serta terganggunya kemampuan belajar. Penelitian lain yang dikutip dalam artikel juga menunjukkan bahwa paparan logam berat dari produk hiu dan pari dapat meningkatkan risiko bayi lahir cacat, kerusakan otak, keterbelakangan mental, gangguan menelan, kebutaan, hingga ketulian.

Temuan ilmiah menunjukkan bahwa risiko mengkonsumsi daging hiu bukan sekadar teori. Penelitian di Korea menemukan kadar merkuri dalam darah meningkat signifikan setelah mengonsumsi daging hiu.

Di Indonesia seluruh sampel hiu dan pari asap yang diteliti mengandung merkuri, bahkan sebagian melebihi batas aman konsumsi nasional. Mengingat sekitar 31–35 juta orang Indonesia masih mengonsumsi produk hiu, para peneliti menekankan perlunya perhatian khusus terhadap ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak

Foto utama: Seorang nelayan mengangkat hiu hasil tangkapannya di sekitar Pulau Semujur, Kepulauan Bangka Belitung. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Podcast

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.