Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua
  • Tentang
  • Tim
  • Kontak
  • Donasi
  • Halaman berlangganan
  • Panduan Kontributor
  • Kebijakan Privasi
  • Panduan Publikasi
  • Periklanan
  • Madagaskar liar
  • Dampak
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Berita utama

Nyoman Poni meletakkan ikan ke keranjang dan menaburkan garam di atas ikan. Foto: I Gusti Ayu Septiari/ Mongabay Indonesia

Tangkapan Nelayan Tak Menentu, Pemindangan Tongkol Kusamba Terancam Hilang

Opini: Konflik Manusia dan Satwa Liar Tak Bisa Selesai dengan Solusi Tunggal

Muhamad Muslich* 4 Sep 2026

Antrean SPBU di Luar Jawa Mengular, Bukti Ketimpangan Energi?

Achmad Rizki Muazam, Richaldo Hariandja 4 Sep 2026

Karhutla Jawa Timur, Potret Buruknya Tata Kelola Hutan?

Eko Widianto, Zuhana A. Zuhro dan RZ. Hakim 4 Sep 2026

Nestapa Warga Kalimantan Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan dan Gambut

Irfan Maulana dan Krismes Santo Haloho 3 Sep 2026

Asap Kepung Kota Biak, Karhutla Papua Meluas

Larius Kogoya 3 Sep 2026

Menyoal Putusan PTUN Serang Kasus Gugatan Warga Rancapinang

Anggita Raissa 2 Sep 2026

Batubara di Bawah Harga Pasaran Rugikan Ekonomi dan Lingkungan

Riyad Dafhi Rizki 2 Sep 2026

Konflik Lahan Tak Kunjung Usai di Rempang

Yogi Eka Sahputra 1 Sep 2026

Kebakaran Gambut Kalbar Tak Kunjung Padam

Dedek Putri Mufarroha 31 Agu 2026

Terbaru

Nyoman Poni meletakkan ikan ke keranjang dan menaburkan garam di atas ikan. Foto: I Gusti Ayu Septiari/ Mongabay Indonesia
Cerita fitur

Tangkapan Nelayan Tak Menentu, Pemindangan Tongkol Kusamba Terancam Hilang

I Gusti Ayu Septiari 4 Sep 2026
Cerita fitur

Opini: Konflik Manusia dan Satwa Liar Tak Bisa Selesai dengan Solusi Tunggal

Muhamad Muslich* 4 Sep 2026

Ular Kepala Tembaga Tetap Melahirkan Tanpa Kawin, Meski Pejantan Tersedia di Habitatnya

Akhyari Hananto 4 Sep 2026
Cerita fitur

Antrean SPBU di Luar Jawa Mengular, Bukti Ketimpangan Energi?

Achmad Rizki Muazam, Richaldo Hariandja 4 Sep 2026

Agustus 2026, Karhutla di Sumatera Selatan Banyak Terjadi di Lahan Mineral

Taufik Wijaya 4 Sep 2026
Cerita fitur

Karhutla Jawa Timur, Potret Buruknya Tata Kelola Hutan?

Eko Widianto, Zuhana A. Zuhro dan RZ. Hakim 4 Sep 2026
Cerita fitur

Nestapa Warga Kalimantan Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan dan Gambut

Irfan Maulana dan Krismes Santo Haloho 3 Sep 2026

Akibat Karhutla, 7 Orangutan Kalimantan Diselamatkan di Ketapang

Rendy Tisna 3 Sep 2026

Mencari Solusi Pengelolaan Sampah di Pulau-pulau Kecil

Wahyu Chandra 3 Sep 2026

Dua Kali Dinyatakan Punah, Populasi Ular Paling Langka di Dunia Kini Hanya 20 Ekor, Semuanya di Satu Pulau

Akhyari Hananto 3 Sep 2026
Semua berita

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Baca topik artikel selanjutnya hutantransisi energikelapa sawitperikanan kelautanhidupan liar semua topik

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Karhutla di Konsesi Perusahaan, Siapa Bertanggung Jawab?

Editor 4 Sep 2026

Penanganan kebakaran hutan dan lahan di Riau kembali menjadi sorotan. Sepanjang 2026, kepolisian menetapkan 40 orang sebagai tersangka dalam kasus yang mencakup 904 hektar lahan terbakar. Namun, hingga laporan Mongabay terbit pada 30 Agustus 2026, belum ada perusahaan yang ditetapkan sebagai tersangka.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kelanjutan pemeriksaan kebakaran di konsesi perusahaan. Walhi Riau telah menyerahkan temuan dan kajian mengenai empat perusahaan kepada Polda Riau pada penghujung Juli.

Keempatnya adalah PT Sekato Pratama Makmur (SPM), PT Meskom Agro Sarimas (MAS), PT Arara Abadi (AA), serta PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP).

Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup membenarkan adanya indikasi kebakaran di konsesi tersebut. Berdasarkan penghitungan kementerian, luas areal terbakar mencakup 103,4 hektar di SPM, 146,2 hektar di MAS, 66,8 hektar dalam konsesi AA, serta 71 hektar di RAPP. Sebanyak 510,3 hektar lainnya tercatat di luar konsesi AA.

Rizal Irawan, Deputi Bidang Penegakan Hukum KLH/BPLH, mengatakan pemeriksaan terhadap keempat perusahaan masih berlangsung. “Untuk keempat perusahaan itu sedang verifikasi lapangan,” katanya.

Kepolisian menyatakan proses hukum dilakukan berdasarkan bukti ilmiah. Penyidikan tidak hanya menelusuri orang yang berada di lokasi kebakaran, tetapi juga asal api, motif, pihak yang bertanggung jawab, serta kemungkinan keterlibatan pihak lain.

Meski demikian, organisasi lingkungan mendesak agar pemeriksaan segera menghasilkan perkembangan yang jelas. Kebakaran di dalam konsesi perlu ditindaklanjuti melalui pembuktian pertanggungjawaban, bukan berhenti pada identifikasi lokasi dan penyegelan.

Boy Jerry Even Sembiring, Direktur Eksekutif Walhi Nasional, mempertanyakan keseriusan penegakan hukum terhadap korporasi. “Tinggal keberanian dan kemauan penegak hukum. Jangan hanya penegakan hukum suka-suka.”

Desakan serupa datang dari Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau atau Jikalahari. Okto Yugo Setiyo, Koordinator Jikalahari, meminta kepolisian menuntaskan penyelidikan dan cermat memilih ahli pidana. Menurutnya, pendapat ahli memiliki peran penting dalam penanganan perkara karhutla.

Jikalahari mengingatkan pengalaman kasus 2015, ketika proses hukum berhenti dengan alasan antara lain lahan dikuasai masyarakat dan perusahaan telah melakukan upaya pemadaman.

Dari pihak perusahaan, APRIL Group menyatakan perusahaan dan mitra pemasok mematuhi regulasi pencegahan serta penanganan karhutla. Mereka juga menyebut terus berkoordinasi dengan pemerintah dan merespons kebakaran di dalam maupun sekitar konsesi. Sementara itu, jawaban tertulis APP Sinar Mas belum diterima Mongabay hingga artikel terbit.

Penetapan tersangka terhadap perusahaan tetap membutuhkan pembuktian. Namun, bagi organisasi lingkungan, proses yang masih berlangsung harus disertai kejelasan tindak lanjut. Penanganan puluhan tersangka perorangan belum menjawab pertanyaan mengenai pertanggungjawaban atas kebakaran yang ditemukan di konsesi perusahaan.

Foto utama: Penanaman akasia baru di gambut bekas terbakar sekitar PT Arara Abadi. Foto Suryadi/Mongabay Indonesia.

Bukan Pembawa Petaka, Burung Hantu Justru Bantu Petani Jaga Lahan Pertanian

Editor 4 Sep 2026

Muncul dalam gelap dan terbang nyaris tanpa suara membuat burung hantu sering dianggap menyeramkan. Padahal, kemampuan itu bukan tanda kekuatan gaib, melainkan hasil adaptasi untuk berburu. Sayangnya, ketakutan justru membuat satwa ini menjadi korban kekerasan.

Pada Januari 2026, seekor burung hantu jenis Tyto alba ditembak mati di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, karena dianggap mengganggu. Pada Agustus, kekerasan kembali terjadi. Tiga pria di Manggarai Barat memukul dan membakar burung yang diduga celepuk flores (Otus alfredi).

Para pelaku mengaku percaya burung tersebut membawa pertanda buruk dan berkaitan dengan ilmu hitam. Mereka meyakini pembakaran dapat menghilangkan ancaman sihir.

“Tindakan kekerasan terhadap satwa tidak dapat dibenarkan. BBKSDA NTT menyampaikan keprihatinan dan menyayangkan tindakan yang dilakukan terhadap satwa tersebut,” ujar Adhi Nurul Hadi, Kepala BBKSDA NTT, Kamis (13/8/26).

Lantas, apa yang membuat burung hantu begitu piawai beraktivitas dalam gelap?

Studi genom terhadap 11 spesies yang dipublikasikan dalam Genome Biology and Evolution pada 2020 mengungkap adaptasi pada penglihatan dan pendengaran. Penelitian tersebut menemukan pengemasan DNA yang tidak lazim pada sel retina, yang membantu menyalurkan lebih banyak cahaya menuju fotoreseptor.

Wajah berbentuk piringan dan posisi telinga tidak simetris juga membantu mendeteksi keberadaan mangsa. Gemerisik kecil dapat menjadi petunjuk lokasi makanan, bahkan ketika cahaya sangat terbatas.

Kemampuan terbang senyap memiliki rahasia lain. Tinjauan ilmiah dalam Interface Focus pada 2017 menjelaskan tiga struktur bulu yang membantu meredam suara: gerigi halus di tepi depan, permukaan menyerupai beludru, dan rumbai lembut di tepi belakang.

Perpaduan tersebut membuat kepakan sayap sulit terdengar. Penampilan yang terasa misterius sebenarnya merupakan perlengkapan berburu yang terbentuk melalui evolusi.

Manfaat burung hantu pun dekat dengan kehidupan manusia. Serak jawa, yang berwajah putih berbentuk hati, merupakan predator tikus. Riset yang dikutip dalam artikel menyebut seekor burung dewasa dapat memangsa 1.000-1.300 tikus setiap tahun.

Di beberapa perkebunan yang menjalankan program rumah burung hantu, kerusakan tanaman akibat tikus dilaporkan turun dari 12 persen menjadi 2 persen.

Namun, setiap jenis burung hantu memiliki habitat berbeda. Celepuk flores, misalnya, menghuni hutan pegunungan Flores dan dikategorikan Genting atau Endangered oleh IUCN. Identitas burung yang menjadi korban di Manggarai Barat sendiri masih disebut sebagai dugaan.

Kepercayaan terhadap burung hantu juga tidak selalu melahirkan kekerasan. Di Minahasa, manguni dihormati sebagai pembawa pesan leluhur. Penghormatan tersebut justru membantu melindunginya dari perburuan.

Burung hantu bukan pembawa petaka. Memahami cara hidup dan perannya membantu kita melihat bahwa satwa yang ditakuti itu justru layak dilindungi.

Foto utama: Pungguk wengi [Ninox rudolfi] beraktivitas malam hari. Foto: Muhammad Soleh/Sumba Wildlife.

Memberi Makan Monyet Liar, Niat Baik yang Membawa Penyakit

Editor 3 Sep 2026

Memberikan roti, biskuit, atau camilan kepada monyet liar sering dianggap sebagai pengalaman menyenangkan. Pengunjung dapat melihat satwa itu dari dekat, sementara monyet memperoleh makanan tanpa harus mencarinya. Namun, tindakan yang terlihat baik ini justru dapat mengganggu kesehatan, mengubah perilaku alami, dan meningkatkan risiko penularan penyakit.

Secara alami, sistem pencernaan monyet dirancang untuk mengolah buah hutan, dedaunan, serangga, serta makanan berserat lainnya. Mikroorganisme di dalam ususnya membantu mengubah makanan tersebut menjadi energi sekaligus menjaga sistem kekebalan tubuh.

Masalah muncul ketika makanan alaminya digantikan camilan manusia yang tinggi gula dan lemak, tetapi rendah serat. Perubahan pola makan dapat mengacaukan komunitas mikroorganisme di dalam usus. Kondisi ketidakseimbangan ini disebut disbiosis.

Penelitian terhadap beruk (Macaca nemestrina) di Perak, Malaysia, membandingkan dua populasi dengan tingkat interaksi manusia berbeda. Kelompok pertama hidup di Lumut Mangrove Park, kawasan perkotaan tempat monyet sering diberi makan. Kelompok kedua berada di Segari Melintang Forest Reserve, habitat dengan paparan manusia lebih rendah.

Hasilnya, monyet yang sering berinteraksi dengan manusia memiliki keragaman mikrobiota usus lebih rendah. Disbiosis berpotensi melemahkan sistem imun serta membuat satwa lebih rentan terhadap penyakit.

Peneliti juga mendeteksi antigen Giardia, parasit penyebab diare, pada sekitar 20 persen sampel kotoran monyet di kawasan mangrove perkotaan. Selain itu, ditemukan Helicobacter macacae, bakteri yang berkaitan dengan infeksi usus.

Kedekatan manusia dan monyet menciptakan ruang bagi perpindahan patogen antarspesies. Penyakit dapat bergerak dari satwa ke manusia maupun sebaliknya. Karena itu, persoalan memberi makan monyet bukan hanya menyangkut kesehatan satwa, tetapi juga kesehatan masyarakat.

Dampaknya turut terlihat pada perilaku. Monyet yang terbiasa menerima makanan kehilangan ketertarikan terhadap pakan alami. Mereka kemudian mendekati pengunjung, kendaraan, atau permukiman untuk mencari makanan. Sebagian bahkan menjadi agresif ketika tidak memperoleh apa yang diharapkan.

Kerusakan habitat memperburuk masalah. Ketika makanan alami berkurang, monyet memasuki permukiman, mengambil bahan makanan warga, bahkan masuk ke rumah. Perilaku tersebut memicu keresahan dan memperbesar konflik antara manusia dan satwa.

Salah satu solusi yang ditawarkan adalah memulihkan persediaan makanan di habitatnya. Di Desa Sempor, Kebumen, penanaman pohon jambu biji di hutan dilakukan untuk menyediakan pakan alami agar monyet tidak lagi bergantung pada makanan manusia.

Pendekatan ini lebih tepat dibandingkan menangkap atau mengusir satwa. Menjaga habitat dan menyediakan pohon pakan membantu monyet mempertahankan pola hidup alaminya.

Tidak memberi makan bukan berarti tidak peduli. Justru dengan menjaga jarak, tidak menawarkan camilan, dan membiarkan monyet mencari makan sendiri, manusia membantu melindungi kesehatan serta perilaku alaminya. Monyet liar seharusnya tetap liar, bukan dibuat bergantung pada pemberian pengunjung.

Foto utama: Monyet ekor panjang yang juga menyukai makanan manusia. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia.

Mengenal Lielaphis slashi, Ular Tanah Bernama Gitaris Band Rock Legendaris

Editor 3 Sep 2026

Nama Slash identik dengan gitar, rambut keriting, dan Guns N’ Roses. Namun, kini nama panggung musisi bernama asli Saul Hudson itu juga melekat pada seekor ular tanah yang baru dikenali dari Papua Nugini.

Ular tersebut diberi nama ilmiah Lielaphis slashi. Spesies baru ini diumumkan oleh tim peneliti dari Amerika Serikat, Australia, Papua Nugini, dan Inggris melalui jurnal Zootaxa pada Agustus 2026. Identifikasinya dilakukan dengan menggabungkan data temuan lama dan analisis DNA modern.

Pemberian nama itu berawal dari pengalaman Sara Ruane, salah satu peneliti dalam studi tersebut. Guns N’ Roses telah menjadi band favoritnya sejak kecil. Ia juga pernah melihat foto Slash sedang memegang ular piton dalam sebuah majalah reptil.

Slash dipilih bukan hanya karena terkenal sebagai gitaris. Dia diketahui memiliki ketertarikan terhadap ular, museum, kebun binatang, dan sejarah alam. Selama bertahun-tahun, dia juga mempromosikan serta membela keberadaan ular melalui berbagai media.

Secara fisik, L. slashi tidak memiliki warna atau pola mencolok. Punggungnya berwarna cokelat polos kemerahan, sedangkan bagian bawah tubuhnya putih hingga krem. Bentuk kepalanya sederhana dan panjang tubuhnya sekitar 60-70 sentimeter.

Spesimen yang diteliti berasal dari Desa Utai di Provinsi Sanduan dan Tanjung Kalibobo di Provinsi Madang, Papua Nugini. Sebagian spesimen dikumpulkan oleh herpetolog Chris Austin saat melakukan penelitian lapangan pada 2006.

Ular tanah ini aktif pada malam hari. Ia biasanya ditemukan sesaat setelah matahari terbenam di pangkal pohon besar ketika sedang mencari mangsa. Warna tubuh yang menyatu dengan tanah dan kemampuannya bergerak cepat membuatnya sulit diamati di alam.

Pengetahuan mengenai perilaku spesies ini masih terbatas. Namun, ular dalam genus Lielaphis memiliki gigi besar di bagian belakang mulut. Gigi tersebut kemungkinan digunakan untuk menangkap kadal kecil bersisik licin dan memakan telur reptil lain.

Lielaphis slashi tidak berbisa dan tidak mengancam manusia. Meski begitu, pengamat tetap harus berhati-hati karena beberapa ular berbisa di Papua Nugini memiliki penampilan serupa.

Sejauh ini, spesies tersebut diketahui hidup di hutan sekunder yang relatif belum terganggu di sebelah utara pegunungan tengah Papua Nugini. Persebarannya diperkirakan mencakup Provinsi Sanduan, East Sepik, dan Madang. Peneliti menduga ular ini mungkin juga hidup di wilayah Papua, Indonesia, khususnya di utara pegunungan tengah.

Ancaman justru datang dari aktivitas manusia. Pertambangan dan budidaya kopi berpotensi merusak hutan sekunder yang menjadi habitatnya. Meski bukan hutan primer, kawasan tersebut tetap menyediakan ruang hidup penting bagi berbagai spesies endemik. Penemuan Lielaphis slashi menunjukkan bahwa masih banyak kekayaan hayati Papua yang belum dikenali.

Foto utama: Inilah ular jenis baru dari Papua yang diberi nama Lielaphis slashi. Foto: Chris Austin/Zootaxa.

Inilah Stiphodon annieae, Ikan Unik yang Menghubungkan Sungai dan Laut Halmahera

Editor 2 Sep 2026

Stiphodon annieae merupakan ikan gobi air tawar yang memiliki siklus hidup unik. Ikan ini ditemukan pertama kali di Sungai Wosea, Desa Sawai, Weda Tengah, Halmahera Tengah, Maluku Utara, pada 22 Januari 2010. Penemuan tersebut merupakan hasil riset bersama BRIN dan Muséum National d’Histoire Naturelle Paris, Prancis.

Secara fisik, S. annieae memiliki 14 jari-jari sirip dada dan sembilan jari-jari sirip punggung. Kepala serta lehernya tidak memiliki sisik. Individu jantan dapat dikenali dari warna merah cerah dengan bintik dan pola biru di bagian punggung.

Keunikan utama ikan ini terletak pada siklus hidupnya yang disebut amfidromus. Telur menetas di sungai, kemudian larvanya terbawa arus menuju laut. Setelah berkembang, ikan kembali ke perairan tawar dan hidup hingga dewasa untuk berkembang biak. Artinya, kelangsungan hidupnya bergantung pada hubungan yang tidak terputus antara sungai dan laut.

Perairan Maluku Utara merupakan salah satu wilayah penting bagi persebaran ikan gobi. Sejumlah sungai di Halmahera Tengah, seperti Sungai Sagea, Ake Sawai, DAS Kobe, dan Muara Sungai Waibulen, menjadi habitat berbagai ikan endemik Halmahera, termasuk S. annieae.

Namun, keberadaan ikan ini disebut mulai berkurang. Iwan Kader, Dosen Fakultas Perikanan Universitas Khairun Ternate, mengatakan bahwa S. annieae semakin sulit dijumpai. “Jenis ikan ini makin langka ditemukan,” ujarnya.

Awalnya, S. annieae dianggap memiliki wilayah persebaran sangat sempit karena hanya diketahui berada di Halmahera. Namun, penelitian berikutnya menemukan ikan ini di Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah, sekitar 500-600 kilometer di sebelah barat Halmahera.

Tim peneliti mengumpulkan 23 spesimen dari tiga sungai pesisir yang tidak saling terhubung di Luwuk Banggai. Temuan tersebut menunjukkan bahwa S. annieae mampu menyebar melintasi perairan laut, sebagaimana ikan lain dalam genus Stiphodon.

Identifikasi individu betina masih menjadi tantangan. Ikan jantan dan betina dalam kelompok ini memiliki perbedaan fisik atau dimorfisme seksual. Perbedaannya dapat terlihat pada jumlah sisik, jari-jari sirip punggung, sirip dada, dan bagian insang.

Identifikasi individu betina Stiphodon memang relatif sulit, karena genus ini dan genus-genus Sicydiine biasanya menunjukkan perbedaan fisik sistematis antara jantan dan betina dalam satu spesies yang sama (dimorfisme seksual). Terutama, pada karakter ikan yang dapat dihitung seperti jumlah sisik, jari-jari pada sirip punggung, dada, insang dan sebagainya.

“Studi lebih komprehensif tentang betins dari genus ini perlu dilakukan,” jelas tim riset.

Foto utama: Inilah ikan gobi jenis baru bernama Stiphodon annieae yang hidup di sungai dan laut. Foto: Dok Abdul Gani dkk/Check List.

Seni dan Musik Jadi Perlawanan Kaum Muda Dadap Hadapi Kerusakan Lingkungan Pesisir

Editor 2 Sep 2026

Kerusakan ekosistem pesisir mengubah kehidupan masyarakat Dadap, Kabupaten Tangerang, Banten. Nelayan semakin sulit memperoleh hasil laut, sementara perempuan harus bekerja lebih keras untuk menjaga ekonomi keluarga. Di tengah kondisi tersebut, generasi muda menyuarakan persoalan kampung melalui musik dan seni.

Dadap dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kerang hijau di Jabodetabek. Dahulu, nelayan dapat mencari kerang langsung di alam. Kini, perubahan lanskap pesisir, reklamasi Teluk Jakarta, hilangnya mangrove, serta pencemaran laut membuat kerang semakin sulit ditemukan.

Budidaya kemudian beralih menggunakan keramba jaring apung yang dapat dipindahkan saat kualitas air memburuk. Namun, investasi awalnya mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Mayoritas keramba pun dimiliki pemodal dari luar, sedangkan warga Dadap menjadi buruh budidaya dan pengupas kerang.

Ida, salah seorang perempuan Dadap, mampu mengupas 12–15 kilogram kerang per hari. Dengan upah Rp4.000 per kilogram, penghasilannya berkisar Rp50.000–Rp60.000 sehari.

Fatimah, Ketua Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia Tangerang, mengatakan perempuan harus mencari berbagai cara agar kebutuhan keluarga terpenuhi. Mereka bekerja sebagai pengupas kerang, asisten rumah tangga, pengemudi ojek, pedagang keliling, hingga pengolah hasil laut. Ikan yang kurang diminati pasar diolah menjadi kerupuk dan produk UMKM lain.

Sebagian keluarga nelayan juga terjerat pinjaman bank keliling dan rentenir. Kesulitan ekonomi semakin berat karena banjir rob membawa lumpur dan sampah ke rumah hampir setiap hari. Perempuan yang seharusnya dapat mencari penghasilan harus menghabiskan waktu membersihkan rumah. Kelelahan fisik dan emosional itu turut memengaruhi hubungan mereka dengan anak. “Ketika anak nangis, tambah ruwet karena saya sudah lelah. Jadi akhirnya dampaknya ke anak juga.”, kata Imah.

Kerusakan pesisir juga menekan pendapatan nelayan. Rico Saputra dahulu dapat memperoleh Rp500.000 hingga Rp1 juta per hari. Kini, mendapat Rp300.000 saja sudah sulit. Hasil tangkapan rajungan yang pernah mencapai 10 kilogram turun menjadi paling banyak lima kilogram. Nelayan juga harus melaut lebih jauh sehingga kebutuhan bahan bakar meningkat.

Di tengah kondisi tersebut, generasi muda Dadap membangun ruang perlawanan melalui Festival Dadap. Festival yang berlangsung sejak 2020 itu kembali digelar pada 18–19 Juli 2026 dengan tema “Swasembada Pesisir End Climate Corruption”. Kegiatannya meliputi pertunjukan musik, pengamatan burung pesisir, serta video mapping di tanggul laut.

Inisiator Festival Dadap, Deddy Sopian, mengatakan kegiatan tersebut menjadi sarana menyuarakan kerusakan lingkungan dan pembangunan yang tidak melibatkan masyarakat. Festival juga mengajak anak muda memahami persoalan kampungnya sendiri. “Kita akan semampu mungkin terus bersuara sampai kita mendapatkan keadilan.”

Upaya perempuan dan anak muda memperlihatkan daya lenting masyarakat Dadap. Namun, perjuangan mereka tetap membutuhkan tata kelola pesisir yang adil, pemulihan ekosistem, pelayanan publik yang layak, serta keterlibatan warga dalam setiap keputusan pembangunan.

Foto utama: Kerang hijau yang merupakan sumber penghasilan andalan nelayan Dadap. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Nyoman Poni meletakkan ikan ke keranjang dan menaburkan garam di atas ikan. Foto: I Gusti Ayu Septiari/ Mongabay Indonesia
Artikel
Podcast

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.