- Pegunungan Meratus menyimpan banyak temuan prasejarah. Riset yang berlangsung sejak 1990-an bahkan menemukan jejak eksplorasi manusia purba sejak ribuan tahun yang lalu.
- Bambang Sugiyanto, salah satu penulis buku Budaya di Kawasan Pegunungan Meratus dalam Perspektif Arkeologi terbitan Balai Arkeologi Banjarmasin, menyebut, bukti awal keberadaan mereka berdasarkan temuan di Desa Awangbangkal, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, pada 1938.
- Penelitian lain tentang keberadaan manusia pada masa lalu, terdapat kawasan karst di sisi sebelah timur Pegunungan Meratus. Tandanya, penemuan sisa kubur di Liang Bangkai 10.
- Temuan lain berasal dari survei arkeologi Hartatik, peneliti BRIN yang fokus pada kajian etnoarkeologi, dan kawan-kawannya. Mereka menemukan situs gua berlukis (rock art) di jajaran pegunungan karst di Desa Hampang, Kabupaten Kotabaru.
Pegunungan Meratus menyimpan banyak temuan prasejarah. Riset yang berlangsung sejak 1990-an bahkan menemukan jejak eksplorasi manusia purba sejak ribuan tahun yang lalu.
Bambang Sugiyanto, penulis buku Budaya di Kawasan Pegunungan Meratus dalam Perspektif Arkeologi terbitan Balai Arkeologi Banjarmasin, menyebut, bukti awal keberadaan mereka berdasarkan temuan di Desa Awangbangkal, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, pada 1938.
Wilayah Meratus bagian barat itu, katanya, merupakan daratan yang relatif landai hingga memungkinkan orang hidup menetap dengan pola hunian terbuka (open settlement), memanfaatkan ranting-ranting pohon sebagai peneduh.
“Di area bantaran sungai tersebutlah manusia mendirikan gubuk-gubuk sederhana yang cukup nyaman untuk berteduh,” katanya, di Kantor Kerja Bersama (KKB) Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Banjarmasin.
Lingkungan sekitar, katanya, juga menyediakan bebatuan yang potensial manusia olah, terbukti dengan temuan alat batu kasar khas Zaman Batu Tua (Paleolitikum) yang penggunaannya dengan cara genggam langsung tanpa tangkai.
Sayangnya, bentang alam Awangbangkal ini sudah banyak berubah sejak pemerintah tenggelamkan pada 1963. Menyusul kemudian pembuatan waduk besar “Riam Kanan” sebagai pembangkit listrik tenaga air (PLTA) untuk hajat orang banyak.
Periode berikutnya, hunian bergeser dari pemukiman terbuka di sepanjang aliran sungai ke ruang-ruang alami yang terlindungi di kawasan perbukitan. Manusia mulai memanfaatkan gua atau ceruk pada bukit-bukit karst sebagai tempat berlindung.
Iyan, sapaan akrabnya, bilang, orang zaman dulu sengaja memilih gua-gua kering dan terang, serta berukuran cukup luas sebagai hunian baru. Juga tempat berlindung dari panas, hujan, maupun binatang buas.
Secara khusus, dia menyebut penelitian Harry Widianto pada 1995-2000 di Bukit Batu Buli, Desa Randu, Kecamatan Muara Uya, Kabupaten Tabalong, yang menemukan dua situs, memperkuat periode ini.

Di dalam situs Gua Babi, misal, terdapat sisa-sisa kehidupan manusia, mulai dari berupa makanan, cangkang kerang, fragmen tulang hewan bekas terbakar, hingga gigi manusia.
Di Gua Tengkorak yang ukurannya lebih kecil, peneliti menemukan tulang-belulang manusia yang terkubur dengan posisi terlipat miring. Berjenis kelamin perempuan, suai sekitar 40-60 tahun.
Dia perkirakan, budaya prasejarah di dua lokasi tersebut dikembangkan manusia ras Australomelanesoid sekitar 6.000 tahun lalu.
Kelompok ras ini sejak ribuan tahun mendiami wilayah Australia, Papua, dan sebagian Melanesia, serta pernah menyebar ke beberapa kawasan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Ciri fisiknya meliputi kulit gelap, rambut keriting atau bergelombang, serta bentuk tengkorak yang khas.
Dalam kajian arkeologi dan antropologi, ras ini berkaitan dengan populasi awal yang hidup di masa prasejarah di wilayah timur Nusantara.
“Jadi senior kami dulu Harry Widianto yang menemukannya. Itulah rangka manusia pertama yang ditemukan di Kalimantan Selatan.”

Temuan di Timur
Penelitian lain tentang keberadaan manusia pada masa lalu, terdapat kawasan karst di sisi sebelah timur Pegunungan Meratus. Tandanya, penemuan sisa kubur di Liang Bangkai 10.
Sisa kubur langsung (primer) di Kecamatan Mentewe, Kabupaten Tanah Bumbu itu kemungkinan berupa dua rangka manusia. Satu masih berupa kumpulan fragmen tulang tengkorak, dan lainnya berupa sisa rangka manusia dengan posisi terlentang lurus.
Ras yang mendiami kawasan timur sejak 4.000 tahun lalu ini diperkirakan berjenis Mongoloid. Kelompok manusia ini berasal dari Asia Timur dan Asia Tenggara, dengan ciri umum kulit kuning hingga sawo matang, rambut lurus, dan mata agak sipit.
Menganalisa penguburan manusia dengan posisi terlipat dan terlentang biasanya memiliki budaya yang berbeda. “Yang terlipat melambangkan manusia percaya asalnya seperti berada di dalam kandungan,” imbuh Iyan.
Sedangkan yang terkubur terlentang pada bagian kepala diarahkan ke tempat dia berasal, misalnya gunung atau laut.
“Jadi di Pegunungan Meratus terdapat dua jenis manusia, yaitu Australomelanesoid (utara) dan Mongoloid (selatan). Hanya saja, kita belum mengetahui apakah mereka pernah bertemu atau tidak.”

Gua bergambar
Sampai sekarang, peneliti meyakini kawasan karst di sisi timur Pegunungan Meratus memiliki situs-situs prasejarah yang lebih banyak ketimbang sisi baratnya.
Temuan lain berasal dari survei arkeologi Hartatik, peneliti BRIN yang fokus pada kajian etnoarkeologi, dan kawan-kawannya. Mereka menemukan situs gua berlukis (rock art) di jajaran pegunungan karst di Desa Hampang, Kabupaten Kotabaru.
Salah satu yang mereka temukan adalah Liang Batu Batulis, yang hingga kini masyarakat sekitar keramatkan. Pada langit-langit gua terdapat gambar berwarna hitam dengan berbagai motif, antara lain binatang berkaki empat, matahari, dan perahu.
Temuan gambar berwarna hitam juga ada di gua-gua di lereng Bukit Bangkai, Desa Dukuhrejo, Kecamatan Mantewe, Kabupaten Tanah Bumbu.
“Warna hitam itu dengan arang,” katanya pada Mongabay.
Kondisi ini menunjukkan pengetahuan masyarakat saat itu tentang bahan pewaran masih terbatas dan belum mengenal hematit, sejenis batuan yang kerap jadi pigmen merah.
Di Bukit Bangkai terdapat sedikitnya 26 situs gua dan ceruk yang dia duga menjadi hunian manusia prasejarah. Beberapa yang dia teliti antara lain Liang Bangkai 1, Liang Bangkai 10, dan Ceruk Bangkai 3.
Hasil penelitian menunjukkan Liang Bangkai 1 pernah menjadi tempat tinggal manusia prasejarah pada masa budaya Mesolitik. Tanda budaya ini dari banyaknya temuan serpih bilah, batu inti, fragmen serpih, serta serpihan batu yang merupakan sisa pembuatan alat.
Temuan ribuan serpihan batu itu terdapat di enam kotak ekskavasi di Liang Bangkai 1. Ini menunjukkan aktivitas pembuatan alat batu yang cukup intensif pada masa lalu.
Serpih bilah tersebut bercampur dengan fragmen tulang, cangkang kerang, serta fragmen gerabah, baik polos maupun berhias.
Fragmen gerabah peneliti temukan hingga kedalaman sekitar 60 cm, sedangkan pada lapisan di bawahnya didominasi serpihan batu, cangkang kerang, dan fragmen tulang hewan.
Selain sisa aktivitas pembuatan alat batu, di Liang Bangkai 1 juga terdapat peninggalan seni prasejarah. Gambar-gambar itu terdapat pada dinding ceruk kecil dan sempit di sekitar gua.
“Sampai sekarang (gambar) masih terjaga karena lokasinya di langit-langit gua relatif tinggi.”
Motifnya juga dibuat dengan warna hitam. Antara lain menggambarkan manusia dengan posisi kangkang, perahu, serta beberapa bentuk lain yang tidak lagi jelas.
Temuan gambar pada dinding gua ini merupakan yang kedua di Kalimantan Selatan setelah penemuan di Liang Batu Batulis, Desa Hampang, Kabupaten Kotabaru.
Para peneliti melihat adanya kecenderungan tradisi gambar gua dengan warna hitam berkembang di kawasan karst di sisi timur Pegunungan Meratus. Penelitian lain juga mencatat temuan serupa di gua-gua perbukitan karst di Desa Sukadamai, yang masih berada di Kecamatan Mantewe.
Tatik, panggilan akrabnya, memprediksi jalur migrasi manusia dari utara membuat temuan-temuan itu hanya ada di bagian timur.
“Migrasi tersebut diperkirakan bergerak dari Filipina menuju Sulawesi, kemudian ke Kalimantan, dan berlanjut ke wilayah Indonesia timur.”

*****