- Prigen Conservation Breeding Ark (PCBA) berdiri di Kaki Gunung Arjuna, Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, dengan kondisi iklim yang mendukung. PCBA seluas 360 hektar, terdiri atas 255 kandang.
- Pada akhir 2022, PCBA melepasliarkan 40 individu Jalak Suren (Sturnus contra) di sekitar TSI Prigen, Jawa Timur. Sebelum dilepasliarkan, burung diperiksa kesehatannya. Memastikan burung sehat dan tak menularkan penyakit dari dalam kandang saat diintroduksikan ke alam.
- Diawali dengan penangkaran burung jenis ekek geling Jawa (Cissa thalassina), poksai Sumatera (Garrulax bicolor), dan jalak putih (Acridotheres melanopterus) di Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor pada 2016. Kemudian dibangun pula 26 kandang di Bali Safari and Marine Park khusus untuk curik Bali (Leucopsar rothschildi) yang endemik Bali.
- Rahmat Shah, Ketua Umum Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI) mendorong Lembaga Konservasi (LK) ex-situ untuk mereplikasi konservasi satwa model PCBA. PKBSI beranggotakan 60 LK, untuk menyesuaikan dengan daerah dan satwa masing-masing.
Suara burung kicau di sekitar Prigen Conservation Breeding Ark (PCBA) menjadi hiburan Jochen Klaus Menner saban pagi. Kurator PCBA, pria berkewarganegaraan Jerman ini memang mendedikasikan hidupnya untuk konservasi satwa, khususnya burung.
Jochen tinggal di area PCBA yang berada di dalam Taman Safari Indonesia (TSI) Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur (Jatim). Dia tinggal bersama istrinya yang juga dokter hewan dan anaknya yang balita.
Dedikasi Jochen muncul setelah ratusan burung pleci flavus (kacamata Jawa (Zosterops flavus) dalam satu sangkar yang semua hasil tangkapan dari alam. Burung ini, kata Jochen, sebelumnya jamak ditemukan di kebun-kebun warga. Namun, kompetisi burung berkicau memicu penangkapan besar-besaran.
“Pasti ada dampak akibat menurunnya populasi alami di dalam ekosistem,” kata Jochen.
Dia juga mengamati murai maratua (Copsychus barbouri) berstatus terancam punah atau endangered/ mulnerable berdasarkan International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List. Murai Maratua dari Maratua, pulau kecil di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
“Di penangkaran nggak ada. Saya datang ke Indonesia 2018, ternyata ketemu beberapa individu dijual di Facebook,” katanya.
Ada akun Facebook yang mengunggah dan memperdagangkan murai Maratua. Beruntung dia berhasil menyelamatkan delapan individu terdiri atas tiga jantan, dan lima betina. Hasilnya, kini berkembang menjadi 95 murai.
“Sehingga butuh konservasi ex-situ. Kalau tidak, bakal punah. Tidak ada pilihan lain,” katanya.

PCBA berdiri di Kaki Gunung Arjuna, wilayah dengan kondisi iklim mendukung. Dengan luas 360 hektar, terdiri atas 255 kandang. PCBA menjadi pusat pengembangbiakan satwa terancam punah dan endemik Indonesia. Fokus spesies terlupakan (forgotten species) dan tidak terperhatikan. Berbeda dengan lembaga lain yang menyelamatan satwa karismatik (charismatic megafauna).
Satwa karismatik adalah satwa besar atau ikonik yang sering digunakan kampanye konservasi untuk melindungi ekosistem, seperti gajah, orang utan dan harimau. Selain burung, PCBA juga konservasi mamalia, reptil dan ikan, seperti ikan, PCBA fokus dengan dua kelompok., antara lain berasal dari Indonesia Timur, yang berada di hutan gambut, dan air hitam.
“Satu lagi di Papua Barat. Dua-duanya kelompok ikan yang sangat terancam, karena habitatnya sangat kecil,” katanya.
Konservasi satwa terancam punah, katanya, dengan kerja sama multi pihak. PCBA melakukan penangkaran, sedangkan pemerintah dan lembaga lain menjamin kelestarian habitat. Tujuannya, memastikan satwa yang dilepasliarkan tetap terjaga dan memiliki ruang hidup memadai.
Lembaga konservasi lain, kata Jochen, bisa melakukan konservasi dengan fasilitas yang tersedia dahulu. Tak harus sebesar PCBA. Minimal fokus menangani satu ata dua jenis satwa endemik setempat.
“Kalau di Sumatera, bisa fokus menangani babi berjenggot Sumatera,” ujarnya.

Kolaborasi multi pihak
PCBA membentuk tim edukasi untuk melakukan pendidikan konservasi bagi warga. Salah satunya tim di Pulau Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Utara. Mereka bertugas berkampanye dan melakukan pendidikan yang berfokus melakukan konservasi Pleci Wangi-wangi (Zosterops flavissimus). Tujuannya mencegah warga melakukan perburuan di alam.
Pleci Wangi-wangi pertama kali ditemukan pada 2003 dan belum dideskripsikan secara ilmiah. Burung endemik pulau Wangi-wangi jarang ditemukan di habitatnya. Wilayah distribusi terbatas, hanya di Pulau Wangi-wangi. Populasi di alam liar berkurang akibat habitat rusak dan perburuan.
Jochen berharap semua jenis satwa yang terancam punah dilestarikan di PCBA. Kemudian dikembalikan ke alam liar dan bisa berkembang di sana.
“Jalak Suren ini kasus yang sangat luar biasa. Burung endemik Jawa yang sudah puluhan tahun tidak ada populasi yang berkembang di habitat alami, di alam. Tapi ternyata 1,1 juta individu berada di dalam sangkar, dan peternakan komersial,” kata Jochen.
Penangkaran komersial bertujuan mencari keuntungan hingga penangkar terkadang mengawinkan silang dengan jalak lain untuk menghasilkan keunikan pada anakan. Di pasaran harga lebih mahal.
“Jadi, tidak memperhatikan kemurnian genetik, dan perilaku alaminya.”
Akhir 2022, PCBA melepasliarkan 40 jalak auren (Sturnus contra) di sekitar TSI Prigen. Sebelum itu, PCBA pemeriksaan guna memastikan burung sehat dan tak menularkan penyakit dari dalam kandang saat diintroduksikan ke alam.
PCBA juga memastikan perilaku burung tetap alamiah agar bisa beradaptasi dengan kehidupan di alam liar. Tiga tahun setelah dilepasliarkan populasinya terus berkembang.
Di alam, jalak suren memakan serangga dan cacing dari top soil atau lapisan tanah atas. Selain itu juga memakan buah-buahan.
“Amankan dulu, ternak dan kembangkan secara terkontrol. Melindungi satwa, baru kembalikan ke tempat asal,” katanya mengutip konservasionis, Gerald Malcolm Durrell.

Berawal dari tantangan
Semua bermula dari Asian Songbird Crisis Summit di Jurong Bird Park Singapore 2015, yang menyoroti krisis atas populasi burung berkicau di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Pendiri sekaligus Komisaris Taman Safari Indonesia (TSI) Tony Sumampau hadir dalam pertemuan tersebut mengaku tertantang. “Singapore Zoo akan membangun 100 kandang. Kita gak mau kalah, Indonesia tak boleh kalah sama negara kecil Singapura. Kita bilang 150 kandang,” kata Tony.
Diawali dengan penangkaran burung jenis ekek geling Jawa (Cissa thalassina), poksai Sumatera (Garrulax bicolor), dan jalak putih (Acridotheres melanopterus) di TSI Bogor 2016. Kemudian dibangun pula 26 kandang di Bali Safari and Marine Park khusus untuk curik Bali (Leucopsar rothschildi), endemik Bali.
Ekek geling Jawa merupakan salah satu burung endemik Jawa yang terancam punah. Berstatus kritis (critically endangered). Menurut Jochen, burung ini tinggal puluhan di beberapa pegunungan Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Ekek geling Jawa menjadi ikon silent forest campaign di European Association for Zoos and Aquaria (EASA). EASA kampanye untuk melestarikan burung-burung berkicau di Asia Tenggara, terutama Indonesia karena memiliki keterancaman burung berkicau paling parah.

Setelah berkunjung ke Brigham Conservation Breeding Hub 2017, Tony menggagas mendirikan PCBA. Dia memilih Prigen karena memiliki lahan yang luas dibanding TSI Bogor dan Bali Safari and Marine Park. Konservasi dan penangkaran burung berkicau dia pilih karena tingginya laju kepunahan akibat perdagangan burung secara ilegal.
Apalagi, tak jauh dari Prigen, ada pasar burung Splendid di Malang yang cukup besar. Mayoritas burung yang diperdagangkan hasil tangkapan di alam.
Tony menyebut TSI menyisihkan keuntungan usaha dan dana operasional untuk konservasi.
“Konservasi itu nilainya mahal. Tapi jangan lupa, lebih mahal apabila satwa menjadi punah,” katanya.
Rahmat Shah, Ketua Umum Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI) mendorong lembaga konservasi (LK) ex-situ untuk mereplikasi konservasi satwa model PCBA. PKBSI beranggotakan 60 lembaga konservasi. Dia sarankan upaya konservasi merujuk pada kebutuhan masing-masing daerah.
“Sesuaikan dengan skala prioritas dan disesuaikan dengan kondisi daerahnya,” katanya.
Satwa, katanya, merupakan titipan buat anak cucu jadi harus dijaga dari ancaman kepunahan.
Dia mengingatkan kepunahan harimau untuk menjadi pelajaran sekaligus tak terulang kembali. “Kita dulu punya tiga jenis harimau. Harimau Bali, Jawa, dan Sumatera. Sekarang harimau Bali, dan Jawa sudah punah.”
*****