Bentang alam hutan hujan tropis di Semenanjung Vogelkop (Kepala Burung), Papua Barat Daya, baru saja mengungkap rahasia besar yang tersimpan selama ribuan tahun. Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Records of the Australian Museum berjudul Found alive after 6,000 years: modern records of an ‘extinct’ Papuan marsupial, Dactylonax kambuayai (Marsupialia: Petauridae) mengonfirmasi keberadaan dua spesies marsupial yang sebelumnya hanya dianggap sebagai catatan fosil.
Temuan ini dikategorikan sebagai Lazarus taxon. Sebuah istilah yang merujuk pada spesies yang muncul kembali dalam keadaan hidup setelah sebelumnya hanya dikenal dari sisa-sisa material purba. Kedua hewan ini merupakan penyintas dari masa transisi pasca Zaman Es yang sempat diyakini telah punah dari muka bumi sekitar 6.000 hingga 7.500 tahun yang lalu. Hilangnya jejak mereka dalam catatan fosil diduga kuat dipicu oleh dampak jangka panjang dari perubahan iklim global yang drastis, terutama setelah peristiwa pendinginan bumi cepat atau Osilasi Misox yang terjadi sekitar 8.200 tahun lalu akibat pencairan massal gletser sisa Zaman Es.
Kusu Kerdil dengan Jari yang Luar Biasa
Spesies pertama adalah kusu kerdil jari panjang atau pygmy long-fingered possum (Dactylonax kambuayai). Hewan mungil ini memiliki ukuran tubuh sekitar 17,6 sentimeter dengan ekor sepanjang 18 sentimeter. Secara visual, kepalanya memiliki corak garis hitam dan putih yang tegas, mirip dengan sugar glider (possum).

Keunikan utamanya terletak pada anatomi tangan. Jari keempat pada mamalia ini memiliki panjang dua kali lipat dibandingkan jari lainnya. Alat tubuh alami ini berfungsi secara mekanis untuk merogoh dan mengekstraksi larva kumbang penggerek kayu dari dalam batang pohon. Spesialisasi ini sangat langka dan mengingatkan para ahli pada cara primata Aye-aye di Madagaskar mencari makan.

Sejarah penemuan ini sebenarnya cukup berliku. Spesimen kusu ini sempat dikoleksi pada tahun 1992 di Desa Nenei, Pegunungan Arfak, namun selama puluhan tahun salah diidentifikasi di dalam stoples koleksi museum. Mendiang zoologis Kenneth Aplin, yang juga menjadi penulis dalam studi ini, sudah mencurigai spesimen tersebut sejak lama.
Namun, penelitian ini baru bisa diselesaikan setelah laporan terbaru muncul dari para pengamat mamalia di dekat Desa Klalik, bagian barat laut Semenanjung Vogelkop.
Tous: Genus Baru dari Masa Lalu
Kejutan taksonomi yang lebih besar muncul melalui identifikasi kusu layang ekor cincin (Tous ayamaruensis). Spesies ini tidak hanya mewakili penemuan kembali satwa yang hilang, tetapi juga penetapan genus baru yang diberi nama Tous. Dalam klasifikasi biologi, penemuan genus baru pada kelas mamalia di abad ke-21 adalah peristiwa yang sangat luar biasa.

Tous memiliki ciri fisik mata yang menonjol, menyerupai lemur suportif dari Madagaskar. Sebagai hewan nokturnal, ia sangat lincah melompat di antara tajuk pohon dan menggunakan cakarnya untuk menyayat kulit pohon guna mengambil getah yang telah mengental.
Catatan Barat sebelumnya hanya mengenal hewan ini dari fragmen rahang berusia 6.000 tahun yang ditemukan di Gua Kria pada tahun 1999. Para ilmuwan menduga hewan ini berevolusi jutaan tahun lalu saat pegunungan tengah Papua mulai terangkat akibat tumbukan lempeng tektonik Australia dan Pasifik.
Sinergi Sains dan Pengetahuan Adat
Keberhasilan ekspedisi yang melibatkan Universitas Papua (UNIPA) dan peneliti internasional ini berakar kuat pada kolaborasi dengan masyarakat adat klan Tambrauw dan Maybrat. Warga lokal sebenarnya telah mengenal satwa ini secara turun-temurun dengan nama Tous wan atau Tous wansai.
Bagi masyarakat lokal, satwa ini memiliki kedudukan sakral dalam kosmologi mereka. Wilayah hutan tempat Tous tinggal dianggap sebagai pusat alam semesta atau tempat asal mula segala makhluk hidup. Di beberapa area, saking sakralnya, masyarakat dilarang berburu bahkan pantang untuk sekadar menyebutkan namanya.
Para tetua adat seperti Barnabas Baru dan Carlos Yesnat berperan besar dalam membantu ilmuwan menghubungkan foto-foto terbaru dengan pengetahuan tradisional mengenai perilaku satwa tersebut.

Meskipun penemuan ini membawa kegembiraan, status konservasi kedua satwa ini masih menyisakan kekhawatiran besar. Tim Flannery, peneliti utama dari Museum Australia yang telah mempelajari marsupial Papua selama puluhan tahun, menekankan pentingnya perlindungan kawasan. Di beberapa titik di Vogelkop, masyarakat lokal melaporkan bahwa kusu layang ini mulai menghilang dari area yang telah terjamah aktivitas penebangan kayu skala besar.
Kedua spesies ini adalah penghuni hutan primer yang sangat bergantung pada pohon-pohon tua bertajuk tinggi untuk tempat bersarang. Fragmentasi hutan akibat industri ekstraktif dan ekspansi lahan perkebunan dapat memutus jalur jelajah mereka. Selain itu, ancaman perdagangan satwa liar ilegal menjadi alasan mengapa lokasi koordinat pasti penemuan ini tetap dirahasiakan oleh para ilmuwan.
Para ilmuwan memutuskan untuk merahasiakan lokasi koordinat pasti penemuan ini. Langkah preventif tersebut diambil untuk mencegah ancaman perdagangan satwa liar yang marak di media sosial. Mengingat tingkat reproduksi marsupial kecil ini yang cenderung rendah, hilangnya beberapa individu dari alam dapat berdampak fatal bagi populasi mereka.
Referensi:
Flannery et al., 2026. Found alive after 6,000 years: modern records of an ‘extinct’ Papuan marsupial, Dactylonax kambuayai (Marsupialia: Petauridae), with a revision of the systematics and zoogeography of the genus Dactylonax. Records of the Australian Museum 78(1): 17–34. DOI:10.3853/j.2201-4349.78.2026.3003
*****