Sistem gua Mammoth di Kentucky merupakan labirin bawah tanah raksasa yang membentang lebih dari 675 kilometer di bawah permukaan bumi. Hingga memasuki Februari 2026, para ahli paleontologi dan penjelajah gua masih terus melakukan pemetaan intensif untuk mengungkap lorong-lorong baru yang masih tersembunyi di dalam sistem gua terpanjang di dunia ini. Selain keindahan formasi kristal dan stalaktitnya, kawasan karst ini kini diakui sebagai salah satu situs warisan dunia yang menyimpan rahasia samudra purba yang luar biasa. Eksplorasi terbaru di dalam kegelapan abadi tersebut berhasil menemukan fosil dari dua spesies hiu baru yang pernah menguasai perairan pesisir dangkal sekitar 325 juta tahun silam.
John Paul Hodnett, seorang ahli hiu purba yang berafiliasi dengan Maryland National Capital Parks and Planning Commission (MNCPPC), memimpin penelitian besar ini bersama tim ahli dari National Park Service. Temuan mereka membuka jendela lebar ke masa lalu yang sangat berbeda, yaitu saat wilayah daratan Amerika Utara masih tenggelam di bawah laut tropis yang jernih dan hangat. Jauh sebelum dinosaurus pertama menginjakkan kaki di bumi atau mamalia mulai berkembang, hiu-hiu ini sudah lebih dulu berevolusi menjadi penguasa puncak di ekosistem perairan tersebut. Penemuan ini membuktikan bahwa gua bukan hanya sekadar struktur geologi, melainkan juga lemari arsip biologi yang menyimpan jejak kehidupan yang telah lama hilang.
Predator Pesisir Seukuran Mobil
Dua spesies hiu purba yang baru diidentifikasi ini diberi nama Troglocladodus trimblei dan Glikmanius careforum. Keduanya diklasifikasikan ke dalam kelompok hiu ctenacanth, yaitu garis keturunan hiu kuno yang memiliki ciri khas berupa duri tajam dan kuat di bagian punggung mereka untuk pertahanan diri. Berdasarkan analisis detail pada temuan gigi dan fragmen tulang rahang, para ilmuwan memperkirakan panjang tubuh mereka mencapai 3 hingga 3,6 meter. Ukuran ini kira-kira sebesar mobil keluarga kecil, atau hampir setara dengan dimensi hiu sirip putih yang saat ini masih dapat kita temukan di samudra modern.

Fosil-fosil berharga ini ditemukan tertanam kuat di dalam dinding batu kapur gua yang sangat keras. Salah satu temuan yang paling membanggakan bagi tim peneliti adalah bagian rahang bawah dari individu Glikmanius careforum yang masih muda. Secara biologis, tulang rawan hiu sangat sulit bertahan dalam waktu lama karena sifatnya yang lunak dan mudah hancur dibandingkan tulang sejati. Namun, kondisi lingkungan di dalam gua Mammoth yang sangat stabil, minim oksigen ekstrem, dan terlindungi dari cuaca luar bertindak seperti peti kemas alami yang menjaga fosil tersebut tetap utuh selama ratusan juta tahun tanpa mengalami kerusakan berarti.

Proses evakuasi dan pengumpulan data di lapangan bukanlah tugas yang mudah bagi para peneliti. Direktur Taman Nasional Mammoth Cave, Barclay Trimble, menceritakan bahwa tim ilmuwan bersama para sukarelawan harus berjuang melawan medan yang sangat berat dan berbahaya. Mereka seringkali harus menyelam ke dalam sungai bawah tanah yang dingin atau merangkak di lorong-lorong sempit yang hanya setinggi tubuh manusia demi menemukan kepingan gigi kecil yang tersembunyi. Kerja keras ini menunjukkan betapa besarnya dedikasi yang dibutuhkan untuk menyusun kembali sejarah alam yang tercecer di lokasi-lokasi yang sulit dijangkau manusia.

Gigi hiu T. trimblei sendiri memiliki struktur morfologi yang unik karena bentuknya yang menyerupai garpu bercabang banyak. Desain gigi yang kompleks ini dirancang secara evolusioner untuk mencengkeram mangsa yang licin dan gesit di dalam air yang mungkin agak keruh karena sedimen pesisir. Di masa jayanya, hiu ini merupakan pemburu yang sangat efisien, memangsa ikan-ikan bertulang sejati serta orthocones. Makhluk ini adalah nenek moyang cumi-cumi purba yang memiliki cangkang keras berbentuk kerucut panjang dan dapat tumbuh hingga ukuran yang cukup besar.
Jejak Pergeseran Benua di Dalam Gua
Data yang dikumpulkan dari fosil-fosil ini sangat membantu ilmuwan dalam memahami bagaimana kehidupan laut berubah secara drastis saat daratan di bumi mulai menyatu menjadi satu benua raksasa yang disebut Pangea. Pergerakan lempeng tektonik ini mengubah arus laut dan distribusi nutrisi secara global. Menariknya, jenis hiu yang ditemukan di Kentucky ini ternyata memiliki kemiripan genetik dengan temuan fosil di wilayah yang sekarang menjadi daratan Eropa dan Afrika Utara. Hal ini menunjukkan adanya koneksi laut purba yang sangat luas pada masa itu.
Hubungan tersebut membuktikan bahwa ratusan juta tahun lalu, hiu-hiu purba ini mampu melakukan perjalanan migrasi yang sangat jauh melintasi samudra luas yang kini telah menghilang seluruhnya akibat proses geologi. Suhu gua Mammoth yang selalu stabil sepanjang tahun membantu menjaga integritas kapsul waktu biologis ini agar tetap bisa dipelajari oleh generasi mendatang. Penemuan ini kembali mengingatkan kita bahwa di bawah pijakan kaki kita, masih tersimpan sejarah bumi yang sangat panjang dan menakjubkan, menunggu untuk diungkap melalui kesabaran dan ilmu pengetahuan yang tepat.
Studi ini tersedia di Journal of Vertebrate Paleontology berjudul New ctenacanth sharks (Chondrichthyes; Elasmobranchii; Ctenacanthiformes) from the Middle to Late Mississippian of Kentucky and Alabama