- Babi kutil jawa (Sus verrucosus) merupakan 1 dari 7 spesies babi endemik Indonesia yang berstatus terancam punah berdasarkan IUCN Red List. Satwa liar khas Pulau Jawa ini menurun populasinya di alam, disebabkan perburuan liar maupun kerusakan habitat alami.
- Babi kutil jawa memiliki ukuran tubuh dan tulang lebih besar, dengan surai berbulu panjang di tengkuk, sepanjang tulang belakang hingga pantat. Kakinya ramping, ekor panjang dengan seikat kecil bulu. Kepalanya besar, berat, dan tampak sedikit cembung jika dilihat dari samping, serta berwajah panjang dengan telinga besar.
- Menurunnya jumlah populasi babi kutil dipengaruhi faktor dari dalam dan luar. Faktor dari dalam yakni reproduksi yang tergolong rendah, sifatnya cenderung soliter, sehingga kalah berkompetisi dengan babi hutan biasa.
- Ada enam tantangan konservasi babi kutil jawa dan babi kutil bawean. Sebut saja hibridisasi dengan babi hutan biasa (Sus scrofa) yang dapat mengancam kemurnian genetik spesies, kerusakan dan hilangnya serta terfragmentasinya habitat, kompetisi dengan babi hutan biasa, anggapan sebagai hama dan banyak diburu, upaya konservasi yang masih terbatas karena bukan satwa prioritas, serta ancaman zoonosis dan epizootik.
Babi kutil jawa (Sus verrucosus) merupakan 1 dari 7 spesies babi endemik Indonesia yang berstatus terancam punah berdasarkan IUCN Red List. Satwa liar khas Pulau Jawa ini menurun populasinya di alam, disebabkan perburuan liar maupun kerusakan habitat alami. Selain babi kutil jawa, spesies babi kutil bawean (Sus verrucosus blouchi) juga bernasib terancam punah.
Tony Sumampau, Sekjen Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI), mengatakan perlu rencana strategis program in-situ maupun ex-situ untuk pelestarian satwa ini.
“Konservasi telah dilakukan, perlu lebih terkoordinir dan terintegrasi,” jelasnya, Kamis (12/2/2026).
Dua spesies ini sepintas terlihat sama, tapi sejatinya memiliki perbedaan karakteristik pada tubuh mereka. Babi kutil jawa memiliki ukuran tubuh dan tulang lebih besar, dengan surai berbulu panjang di tengkuk, sepanjang tulang belakang hingga pantat. Kakinya ramping, ekor panjang dengan seikat kecil bulu. Kepalanya besar, berat, dan tampak sedikit cembung jika dilihat dari samping, serta berwajah panjang dengan telinga besar.
Spesies ini dapat dijumpai di hutan sekunder di bawah 800 m dpl. Perkembangannya dipengaruhi peradaban manusia dan keberadaan tanaman pertanian yang mengambil alih sebagian besar ruang hidupnya.
Hariyawan Agung Wahyudi, Indonesia Program Leader Copenhagen Zoo, mengatakan, masyarakat masih banyak yang belum mengetahui peran babi kutil jawa bagi ekologi, sehingga konflik dengan manusia kerap terjadi. Babi kutil dapat merehabilitasi lahan kritis dan menjaga kesehatan ekosistem.
“Kalau babinya tidak ada, regenerasi pohonnya rusak,” tuturnya, Kamis (12/2/2026).
Populasi babi kutil jawa, khususnya di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur, sudah sulit dijumpai setelah tahun 2000-an. Karnivora pemangsa babi, salah satunya ajak (Cuon alpinus), diduga turut menyebakan menurun populasinya.
“Dulu di savana Bekol juga banyak babi. Tetapi setelah itu tidak dijumpai sama sekali, dan akhirnya kami menyimpulkan punah secara lokal.”
Wahyudi mengatakan, langkah mengembalikan populasi babi kutil jawa telah dimulai sejak 2018 melalui program penyelamatan (rescue), maupun pelepasliaran oleh lembaga konservasi atau ex-situ. Beberapa kasus kematian babi kutil saat berada di dalam kandungan, cukup menyulitkan program pengembangbiakan konservasi.
“Masalah kematian terbesar adalah mati di kandungan,” ujarnya.

Berkonflik
Yudi Irawan, Program Manager Javan Species Recovery Program (JaSpeR) menambahkan, babi kutil jawa memiliki fungsi ekologis yang hampir sama dengan babi hutan pada umumnya, yakni mengaerasi tanah, menebar benih, hingga menjaga keseimbangan ekosistem di alam.
“Sayangnya, babi kutil jawa dan babi hutan umumnya, dianggap sebagai hama yang tinggal di sekitar kawasan hutan.”
Menurunnya jumlah populasi babi kutil dipengaruhi faktor dari dalam dan luar. Faktor dari dalam yakni reproduksi yang tergolong rendah, sifatnya cenderung soliter, sehingga kalah berkompetisi dengan babi hutan biasa.
“Perburuan tidak terkontrol dan kerusakan habitat menjadi alasan faktor utama.”
Babi kutil sebagian besar hidup di hutan dataran rendah, perkebunan, semak, hutan jati, dan hutan sekunder di Pulau Jawa. Diperkirakan dari seluruh populasinya, 60 persen sering berkonflik dengan manusia.
“Javan warty pig ini salah satu yang paling urgent.”
JaSpeR telah melakukan penelitian dengan memasang kamera jebak dan melakukan wawancara dengan pemburu. Hasilnya, ada penurunan populasi di alam setiap tahunnya, meski tidak diketahui jumlahnya secara umum.
“Ketika kami monitoring di hutan lindung, yang banyak ditemui adalah babi liar biasa, berkelompok dan banyak di Cigugur, Pangandaran. Hasil survei hanya ada 1 individu,” imbuh Yudi.

Tantangan konservasi
Ahmad Munawir, Direktur Konservasi Spesies dan Genetik, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Ditjen KSDAE) Kementerian Kehutanan, mengatakan ada enam tantangan konservasi babi kutil jawa dan babi kutil bawean. Sebut saja hibridisasi dengan babi hutan biasa (Sus scrofa) yang dapat mengancam kemurnian genetik spesies, kerusakan dan hilangnya serta terfragmentasinya habitat, kompetisi dengan babi hutan biasa, anggapan sebagai hama dan banyak diburu, upaya konservasi yang masih terbatas karena bukan satwa prioritas, serta ancaman zoonosis dan epizootik.
Di Indonesia, catatan Kementerian Kehutanan menunjukkan penyakit AFS telah menyebar di 33 Provinsi di Indonesia. Berkurangnya populasi babi hutan liar, dikhawatirkan juga disebabkan penyakit ini.
“Tantangan sangat serius yaitu demam babi Afrika atau African Swine Fiver (AFS), terlebih bagi babi kutil yang populasinya kecil dan terisolasi,” jelasnya, Kamis (12/2/2026).
Johanna Rode-White, Ketua Wild Pig Specialist Group (WPSG), mengatakan stigma babi liar harus diperbaiki agar tidak terus diburu. Para pemangku kebijakan di Indonesia maupun lintas negara dapat merumuskan sejumlah kerangka kerja yang konkrit, untuk meningkatkan status kedua jenis babi liar endemik ini menjadi satwa dilindungi hukum Indonesia.
“Tidak mudah melakukan konservasi satwa liar ini, yang sering menimbulkan konflik dengan manusia. Terlebih, keberadaannya sering tidak dianggap atau tidak sepopuler harimau maupun satwa eksotis lainnya,” ujar Johanna.

Status perlindungan
Terkait status babi kutil jawa yang belum dilindungi secara hukum di Indonesia, Wahyudi menekankan pentingnya keberadaan satwa ini. Namun, dia juga menyadari situasi konservasi satwa liar saat ini, belum menjadi program yang didukung politik nasional yang kuat.
Penetapan status dilindungi, dapat menimbulkan dilema karena di satu sisi mengakibatkan harga jual satwa meningkat di pasar gelap, sementara situasi dan kondisi di lapangan seringkali memerlukan respons cepat.
“Respon cepat itu berhasil menyelamatkan indukan yang secara genetik value-nya luar biasa. Bila spesies dilindungi kami harus minta izin ke menteri, tapi kalau belum dilindungi bisa ke kepala balai,” terangnya.
Wahyudi menekankan pentingnya sinergi para pihak, terutama pemerintah sebagai pemegang otoritas dengan kebijakan yang dihasilkan dapat mendukung konservasi di lapangan. Selain itu, peran para pihak baik ex-situ dan in-situ diharapkan dapat mengarahkan visi strategi program pada kebutuhan ideal in-situ.
“Jadi, antara masyarakat lokal, praktisi konservasi, dan dimoderasi pemerintah, diharapkan memiliki jalan tengah untuk melindungi babi kutil jawa dan spesies satwa liar lainnya,” tandasnya
*****
Beragam Ancaman, Bagaimana Upaya Konservasi Babi Kutil Bawean?