- Kacamata enggano merupakan burung endemik yang ada di Pulau Enggano, Bengkulu.
- Hilangnya burung ini akibat diburu berdampak pada gagal panennya jagung di Enggano. Selain memakan buah-buahan kecil, kacatama enggano adalah pemangsa serangga. Termasuk ulat yang menjadi hama di tanaman jagung petani setempat.
- Walau berstatus endemik, kacamata enggano belum masuk daftar satwa dilindungi secara nasional.
- Sejauh ini, kacamata enggano masih dipandang sebagai bagian dari spesies yang tersebar luas di Sumatera, sehingga populasinya dianggap besar.
Apakah burung kacamata enggano masih aman di rumahnya sendiri, Pulau Enggano? Ataukah sejarah perburuan satu dekade lalu terulang?
Sebuah pulau kecil di Samudra Hindia yang secara administratif masuk Provinsi Bengkulu, memiliki burung khas bernama kacamata enggano. Burung kecil bermata cincin putih ini pernah berada di ambang krisis akibat perburuan.
Zulfan Zafiery, konservasionis lokal Pulau Enggano, masih ingat saat Zosterops salvadorii perlahan menghilang dari ladang jagung dan semak-semak sekitar rumah warga.
“Habitatnya hampir di seluruh tempat, paling gampang dijumpai,” jelasnya, Kamis (5/2/2026).
Karakternya yang adaptif, membuat burung dari famili Zosteropidae ini mudah diamati, dan ironisnya mudah ditangkap. Secara morfologi, kacamata enggano punya ciri berbeda dari kerabatnya di luar pulau.
“Badannya lebih besar, warnanya juga lebih cerah.”

Fungsi ekologis terganggu
Selain memakan buah-buahan kecil, kacatama enggano adalah pemangsa serangga. Termasuk ulat yang menjadi hama di tanaman jagung petani setempat.
“Ketika belum diganggu, tongkol-tongkol jagung itu banyak sekali dihinggapi kacamata. Bukan makan jagungnya, tapi ulat.”
Zulfan ingat sekitar 2014-2015, saat demam burung peliharaan melanda berbagai daerah di Indonesia, khususnya pleci. Kacamata enggano terseret dalam arus perburuan tersebut. Jaring dipasang di pekarangan, suara pemikat diputar, dan ratusan burung terjerat setiap hari.
Dampaknya, tak hanya dirasakan burung, namun juga para petani. Di beberapa Desa di Enggano, sejumlah petani gagal panen.
“Hama berkembang tanpa kendali, sementara predator alaminya sudah lebih dulu ditangkap dan dijual. Satu hari, bisa sebanyak 700-1.000 individu ditangkap.”

Kondisi kian mengkhawatirkan itu mendorong Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu melakukan penertiban. Penangkapan dan pengiriman burung dari Enggano dalam jumlah besar berhasil ditekan.
“Sekarang sudah normal. Kalau pun ada yang nangkap, mungkin hanya satu atau dua individu, bukan jadi target,” katanya.
Meski berstatus endemik, kacamata enggano belum masuk daftar satwa dilindungi secara nasional, di pulau dengan panjang garis pantai mencapai 112 km.

Konservasi
Achmad Ridha Junaid, Biodiversity Conservation Officer Burung Indonesia, menjelaskan selama kacamata enggano masih dipandang sebagai bagian dari spesies yang tersebar luas di Sumatera, maka populasinya dianggap besar.
Ridha merujukan taksonomi yang digunakan Birdlife International dan Handbook of the Birds of the World (HBW), yang menempatkan kacamata enggano sebagai subpesies dari kelompok kacamata yang sebarannya meliputi dataran Sumaetra.
Dengan pendekatan ini, penilaian status konservasi dilakukan pada level spesies, bukan pada populasi lokal di pulau kecil seperti Enggano.
“Kalau kita melihatnya di tingkat spesies, populasinya cukup besar, sehingga status keterancamannya belum dianggap mengkhawatirkan,” ujarnya, Jum’at (6/2/2026).
Namun, pendekatan ini menyisakan realitas lapangan yang tidak sepenuhnya tercermin dalam penilaian global. Sebagai pulau kecil terisolasi, Enggano hanya menopang populasi burung kacamata dengan sebaran sangat terbatas dan ketergantungan tinggi terhadap kondisi habitat.
Dalam konteks ini, tekanan perburuan punya dampak lebih besar dibandingkan populasi di daratan Sumatera.
“Berbicara skala pulau, ancamannya jadi berbeda.”

Solusi perlindungan kacamata enggano tak hanya pada penilaian status konservasi global atau pendekatan hukum semata. Langkah paling mendesak justru di tingkat tapak, terutama di pulau-pulau kecil seperti Enggano. Pendekatan konservasi berbasis komunitas merupakan kunci utama pencegahan perburuan.
“Burung Indonesia tak selalu melihat perlindungannya site, itu berarti menetapkan kawasan konservasi baru.”
Hal lebih penting adalah penguatan kapasitas masyarakat lokal agar mampu menjadi penjaga pertama biodiversitas di wilayahnya sendiri. Penyadartahuan tentang jasa ekosistem jadi faktor penting. “Masyarakat perlu memahami bahwa burung tak hanya satwa liar yang hidup di hutan, melainkan bagian sistem yang menopang kehidupan mereka sehari-hari.”
*****
Celepuk Enggano, Jenis Endemik yang Terancam Perubahan Habitat