- Sejak lama, kepiting bakau telah menjadi sumber pangan dan ekonomi penting bagi masyarakat di Kepulauan Bangka Belitung. Namun, sejauh ini produksi kepiting bakau masih sepenuhnya bergantung pada penangkapan dari alam.
- Sejak tahun 2024, Pilot Project Hatchery (pembenihan) kepiting bakau diinisiasi untuk membangun hulu hingga hilir proses budidaya kepiting bakau. Termasuk pendederan, pembesaran, dan pengolahan hasil (hilirisasi).
- Jika teknologi pembenihan kepiting bakau telah berhasil dan stabil secara teknis, maka pelibatan masyarakat akan dilakukan melalui beberapa skema, dan 30 persen dari hasil budidaya akan dilepasliarkan ke alam.
- Pemerintah setempat juga berkomitmen untuk melindungi ekosistem mangrove di tengah berbagai ancaman antropogenik, sebagai salah satu upaya pengelolaan terpadu budidaya kepiting bakau.
Sudah sejak lama masyarakat di pesisir Kepulauan Bangka Belitung (Babel) budidaya kepiting bakau. Tren produksi pun terus menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun.
Pada 2024, misal, merujuk data Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Babel, produksi kepiting bakau Babel mencapai 6,56 ton senilai Rp623, 350 juta, meningkat dari 2023 mencapai 5,8 ton dan 3,4 ton pada 2022. Sedangkan pada 2021, produksi kepiting bakau hanya 0,6 ton.
Namun, produksi kepiting bakau budidaya ini meninggalkan persoalan karena benih kepiting sepenuhnya mengambil dari alam di sekitar kawasan mangrove.
Untuk memitigasi ini, sejak 2024, Universitas IPB bekerjasama dengan pemerintah daerah itu, menginisiasi pilot project hatchery (pembenihan) kepiting bakau di Desa Guntung, Kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah.
Saat Mongabay ke lokasi pembenihan yang berada tidak jauh dari garis pantai, Celvyn Gustiandi, penjaga sekaligus teknisi Hatchery Instalasi Guntung mengajak berkeliling.
Dia menunjukkan kepiting bakau jantan sedang melindungi betinanya dari pejantan lain di sebuah kolam fiber.
Celvyn bilang, ini baru tahapan awal. Proses kawin kepiting bakau terjadi saat betina berganti kulit (molting). Di mana pejantan akan memeluk dan menjaga betina selama beberapa hari agar aman dari predator, hingga cangkangnya mengeras kembali setelah proses transfer sperma selesai.
“Kami menjaga proses kawin terjadi sealami mungkin dengan meletakkan satu jantan lainnya sebagai pemicu,” katanya.
Pembenihan kepiting bakau bukan perihal mudah. Khusus di Pulau Bangka, upaya ini mungkin jadi yang pertama. Celvyn mengatakan, perubahan suhu menjadi tantangan tersendiri selama proses pembenihan ini.
“Suhu di sini berubah-ubah, ditambah cuaca ekstrem.”
Pada percobaan pertama, pembenihan gagal pada proses penetasan telur. Dugaannya karena menggunakan subtrat pasir sebagai media penetasan. Karena itu, kali ini mereka berencana menggunakan media lumpur.
“Dari semua proses, yang paling sulit sebenarnya saat anakan kepiting mulai menetas, mereka sangat rentan dan harus dirawat secara hati-hati. Proses pembenihan hingga siap panen memakan waktu sekitar dua hingga tiga bulan.”

Rantai produksi
Tidak hanya terbatas pada pembenihan. Mereka juga merancang pengembangan komoditas kepiting bakau ini berbasis pemberdayaan masyarakat pesisir melalui model segmentasi rantai produksi yang berkelanjutan dan inklusif.
“Semua sedang dipersiapkan secara bertahap,” kata Imam Soehadi, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Bangka Tengah, melalui keterangan tertulisnya kepada Mongabay, Senin (20/1/26).
Secara teknis, budidaya kepiting bakau terbagi dalam empat segmen utama, yakni pembenihan, pendederan, pembesaran, dan pengolahan hasil (hilirisasi).
Apabila teknologi pembenihan kepiting bakau telah berhasil dan stabil secara teknis, maka pelibatan masyarakat akan dilakukan melalui beberapa skema.
Pertama, penyediaan dan pengelolaan indukan. Masyarakat, khususnya nelayan penangkap kepiting, terlibat sebagai penyedia indukan terpilih dengan standar ukuran dan kualitas tertentu.
Harapannya, skema ini menjadi sumber pendapatan tambahan sekaligus menjaga keberlanjutan setok indukan.
Kedua, pendederan berbasis kelompok masyarakat. Benih hasil hatchery akan didistribusikan kepada kelompok masyarakat pesisir untuk kegiatan pendederan skala kecil–menengah, dengan pendampingan teknis dari pemerintah dan mitra akademik.
Ketiga, pembesaran (grow-out). Menurut Soehadi, tahapan ini akan menjadi domain utama masyarakat, baik melalui sistem tambak, keramba, maupun teknologi sederhana seperti crab box, yang relatif mudah diterapkan dan berbiaya terjangkau
Keempat, pengolahan dan hilirisasi. Pada tahap hilir, masyarakat didorong terlibat dalam pengolahan produk turunan kepiting bakau, seperti kepiting segar siap konsumsi, kepiting beku, hingga produk olahan, guna meningkatkan nilai tambah dan memperkuat ekonomi lokal.
“Sebesar 30% hasil program budidaya kepiting bakau akan dialokasikan untuk pelepasliaran ke alam sebagai upaya menjaga dan memulihkan populasi kepiting di habitat aslinya,” katanya.
Selama ini, katanya, pesisir timur di Pulau Bangka, terkenal sebagai daerah utama penghasil kepiting bakau. Misal, Desa Batu Beriga, Lubuk Lingkuk, Kurau, dan Desa Kurau Barat.
“Kawasan-kawasan tersebut menjadi modal ekologis dan ekonomi yang penting untuk pengembangan kepiting bakau secara berkelanjutan, baik melalui pengelolaan berbasis konservasi maupun penguatan budidaya dan pemberdayaan masyarakat pesisir.”

Mangrove menyusut
Saat ini, sumber indukan kepiting bakau di Hatchery Instalasi Guntung berasal dari pesisir timur Bangka Tengah, terutama Desa Kurau Barat dan Kurau.
Berdasarkan penelitian Savira dan kolega (2018), terdapat perubahan luasan hutan mangrove dalam rentang tahun 2002–2017. Pada 2002–2014, terjadi penurunan luasan 176,3 hektar atau sekitar 15,95% dari luasan 2002.
Pada 2014–2017, luasan mangrove mengalami kenaikan 36,27 hektar atau sekitar 3,9% karena reboisasi.
Dalam jurnal yang sama, berdasarkan penelitian Haba (2013), penurunan luasan mangrove di Bangka Belitung berkaitan dengan penebangan untuk industri arang dan tambang laut.
“Akibatnya, populasi kepiting, rajungan, dan hewan-hewan yang habitatnya di mangrove berkurang. Padahal kepiting dan rajungan merupakan komoditas utama nelayan lokal. Laju perusakan tidak seimbang dengan gerakan reboisasi hutan dan lahan,” tulis jurnal itu.
Menurut Mudiyarso dan kolega (2015) dalam penelitian Farhaby & Anwar (2022), tailing atau limbah dari aktivitas penambangan timah dapat menutupi akar nafas mangrove yang akhirnya menyebabkan dieback (kematian dalam kondisi tegak).
“Mangrove tersebut mati karena ketidakmampuan sistem jaringannya untuk beradaptasi pada perubahan lingkungan yang terjadi. Batang dan ranting, kering kehilangan kelembaban hingga berwarna abu-abu, tidak ada daun yang menempel di batang, serta ditemukan anakan dalam jumlah kecil yang hidup dari jenis tersebut di sekitarnya.”
Secara umum, mengutip Dokumen Informasi Kinerja Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Bangka Belitung yang terbaru (Pemerintah Babel, 2024), luasan mangrove primer di Bangka Belitung tersisa 27.382 hektar (2022), dari sebelumnya 33.797,41 hektar (2018).
Dalam tulisan Mongabay sebelumnya, disebutkan Bangka Belitung kehilangan sekitar 240.467,98 hektar mangrove.

Ancaman lain
Arthur M Farhaby, peneliti mangrove dari Universitas Bangka Belitung mengatakan, ancaman kerusakan mangrove tidak hanya datang dari aktivitas penambangan timah, juga pertambakan udang skala besar, perkebunan monokultur skala besar, dan pembangunan infrastruktur.
“Ancaman ini harus segera diantisipasi oleh pemerintah jika ingin memajukan sumber ekonomi alternatif seperti budidaya kepiting dan lain sebagainya,” katanya kepada Mongabay, Senin (19/1/26).
Soehadi bilang, tantangan utama dalam menghidupkan ekonomi kepiting bakau meliputi keterbatasan setok dan keanekaragaman kepiting di alam, degradasi habitat mangrove di beberapa lokasi, serta ketergantungan benih dari tangkapan alam yang bersifat musiman.
“Kondisi ini menegaskan perlunya pengelolaan terpadu yang mengkombinasikan penguatan budidaya, peningkatan kapasitas pelaku usaha, perlindungan ekosistem mangrove, serta penataan rantai nilai secara berkelanjutan,” katanya.
Referensi:
Farhaby, A. M., & Anwar, M. S. (2022). Analisis kondisi kesehatan ekosistem mangrove di Pantai Takari Kabupaten Bangka. Bioma: Berkala Ilmiah Biologi, 24(2), 147–154.
Pemerintah Provinsi Babel. (2024). DIKPLHD. https://dlhk.babelprov.go.id/content/dikplhd-2023-dan-2024
Sapanli, K., Kusumastanto, T., Effendi, I., Trilaksani, W., Wisudo, S. H., Kurniawan, F., & Asfarian, A. (2024). Strategi Pengembangan Usaha Budidaya Kepiting Bakau Berkelanjutan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Policy Brief Pertanian, Kelautan, Dan Biosains Tropika, 6(3), 972–976.
Savira, N., Hartoko, A., & Adi, W. (2018). Perubahan luasan mangrove pesisir timur Kabupaten Bangka Tengah menggunakan citra Satelit ASTER. Akuatik: Jurnal Sumberdaya Perairan, 12(1), 53–60.
*****